Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label lajur kiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lajur kiri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2009

Mendahului dari Sebelah Kiri Berisiko Tinggi?


foto:edo




SEORANG kolega saya harus menderita luka retak tulang setelah sepeda motor yang ditumpanginya disenggol mobil. Kolega saya kebetulan adalah pembonceng. Ia bercerita bahwa sang pengendara sepeda motor berupaya mendahului mobil di depannya melalui sisi kiri.

Kisah itu masih belum seberapa. Nurohimin (45) lebih tragis. Ia meregang nyawa ketika hendak mendahului truk kontainer di Jl Raya Cacing, Jakarta Utara. Sepeda motor Jupiter B 6214 UFI yang dikendarai Nurohimin terselip lubang sehingga ia terjatuh dan terlindas truk. Lagi-lagi, sang korban mendahului dari sisi kiri.

Lain lagi kasus pasangan suami isteri M Basori Alwi (57) dan Ny Musriana (49) warga Desa Medalem, Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, yang tewas seketika setelah tubuh mereka digilas roda kiri belakang truk gandeng di Jl Raya Jati Sidoarjo, Kamis (23/7) sekitar pukul 21.30 WIB. Basori yang berniat mendahului truk dari sisi kiri, menyenggol sepeda kayuh. Ironis, sepeda kayuh terjatuh ke kiri jalan, Basori dan isterinya terjatuh ke kanan jalan yang pada saat bersamaan truk melintas. Terjadilah kecelakaan.
Tiga kasus itu memberi pelajaran amat berharga bagi para pengguna jalan yang lain yakni mendahului dari sisi kiri jalan berpotensi menimbulkan kecelakaan?


Aturan
Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengatur cara melewati kendaraan. Selain itu, ditegaskan tentang penggunaan lajur jalan. Lihat saja pasal 108 ayat (2) yang menyebutkan bahwa penggunaan jalur jalan sebelah kanan hanya dapat dilakukan jika; a. pengemudi bermaksud akan melewati kendaraan di depannya; atau b. diperintahkan oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk digunakan sementara sebagai jalur kiri.

Sementara itu, terkait cara melewati kendaraan di depan kita, pasal 109 ayat (1) menegaskan, pengemudi kendaraan bermotor yang akan melewati kendaraan lain harus menggunakan lajur atau jalur jalan sebelah kanan dari kendaraan yang akan dilewati, mempunyai jarak pandang yang bebas, dan tersedia ruang yang cukup.

Lalu, ayat (2) menyatakan bahwa dalam keadaan tertentu, pengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menggunakan lajur jalan sebelah kiri dengan tetap memperhatikan keamanan dan keselamatan lalu lintas dan angkutan jalan.

Dan, ayat (3) menyebutkan bahwa jika kendaraan yang akan dilewati telah memberi isyarat akan menggunakan lajur atau jalur jalan sebelah kanan, pengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang melewati kendaraan tersebut.

Apa yang dimaksud dengan keadaan tertentu? Penjelasan untuk pasal 109 ayat (2) menguraikan, yang dimaksud dengan “keadaan tertentu” adalah jika lajur sebelah kanan atau paling kanan dalam keadaan macet, antara lain akibat kecelakaan lalu lintas, pohon tumbang, jalan berlubang, genangan air, Kendaraan mogok, antrean mengubah arah, atau kendaraan bermaksud berbelok kiri.

Jika UU LLAJ sudah demikian rinci mengatur tatacara melewati, artinya ada problem cukup serius terkait melewati kendaraan dari sebelah kiri. Semoga tak perlu lagi bertambah Basori-Basori lain. Mari lebih waspada. (edo rusyanto)

Kamis, 15 Oktober 2009

Aturan Soal Kecepatan Maksimal


foto:edo

PERNAHKAH Anda berpapasan dengan sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi? Selain itu, sang pengendara (bikers) beraksi dengan bonus zig zag alias meliuk-liuk bak sedang di sirkuit.
Lalu, berapa sih kecepatan yang dimaksud tinggi? Nah ini dia, pasti menimbulan perdebatan. Tergantung ruang dan waktunya. Jika di tengah kemacetan dan antrean panjang, kecepatan 60 kilometer per jam (kpj) pun terasa tinggi. Sementara itu, ketika kondisi jalan lengang alias kosong melompong, biasanya di malam hari, kecepatan 60 kpj menjadi terasa rendah oleh laju di atasnya mulai dari 70 kpj hingga 90 kpj. Pasalnya, kalau sudah menyentuh angka ratusan kpj, gak perlu kita bahas lagi.
Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengamanatkan agar kecepatan laju kendaraan dibatasi. Tentu dengan alasan demi keselamatan para pengguna jalan.
Coba saja kita lihat isi pasal 21 yang memuat lima ayat. Pada ayat (1) ditegaskan bahwa setiap jalan memiliki batas kecepatan paling tinggi yang ditetapkan secara nasional. Lalu, ayat (2) nya menyebutkan bahwa batas kecepatan paling tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan berdasarkan kawasan permukiman, kawasan perkotaan, jalan antarkota, dan jalan bebas hambatan. Sedangkan di ayat (3) dituliskan atas pertimbangan keselamatan atau pertimbangan khusus lainnya, pemerintah daerah dapat menetapkan batas kecepatan paling tinggi setempat yang harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas. Pada ayat (4) batas kecepatan paling rendah pada jalan bebas hambatan ditetapkan dengan batas absolut 60 (enam puluh) kilometer per jam dalam kondisi arus bebas. Dan, pada ayat (5) disebutkan ketentuan lebih lanjut mengenai batas kecepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan pemerintah.
Hingga Oktober 2009, peraturan pemerintah (PP) untuk UU No 22/2009 masih belum rampung. Paling banter, pada 2010 aturan itu bisa diwujudkan. Demikian juga dengan aturan dari pemda.
Belum cukup soal aturan kecepatan, pada pasal 106 UU LLAJ ditegaskan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan, tentunya termasuk bikers, wajib mematuhi ketentuan tentang kecepatan maksimal atau minimal. Pasal 115 bahkan lebih tegas yakni dilarang melebihi batas kecepatan
paling tinggi yang diperbolehkan (ayat 1) dan dilarang berbalapan di jalan (ayat 2).
Nah, berapa batasannya, kita tunggu saja PP ataupun perda maupun peraturan kapolri (Perkap).

Lajur Kiri dan Sanksi
Aturan yang paling menarik seperti yang tertera di pasal 108 ayat (3) yang menegaskan bahwa sepeda motor, kendaraan bermotor yang kecepatannya
lebih rendah, mobil barang, dan kendaraan tidak bermotor berada pada lajur kiri jalan. Hal itu mengingat pada lajur kanan, diatur dalam ayat (4), hanya diperuntukkan bagi kendaraan dengan kecepatan lebih tinggi, akan membelok kanan, mengubah arah, atau mendahului kendaraan lain.
Bagaimana jika bikers melanggar aturan UU No 22/2009? Kita bisa menengok pasal 287 ayat (5) yang menyebutkan bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang melanggar aturan batas kecepatan paling
tinggi atau paling rendah bisa dipidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu. Nggak kapok ngebut di jalan? (edo rusyanto)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian