Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Jumat, 27 Maret 2009

7 Jam di Gunung Bunder

"BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?" Lalu..."Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?"

Lantas..."Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?"

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.

Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.

Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?


***

Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.

Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm...hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.

Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.

Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.

Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.

Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.


* * *

Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute baru menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.

Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.

Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.


Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.

Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.

Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.

Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.

Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.

Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,

Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.

Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.





Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

foto-foto: rio octaviano

2 komentar:

ciblex mengatakan...

luar biasa, mantaf pak edo ...
perjalanan yg ckp melelahkan ya, harus naik turun tangga hehe...
kapan2 ke malimping yukkk... ;)
privateer aja pak ...

Edo Rusyanto mengatakan...

iya nih, capek. btw, trims buat supporting dari MRC Bogor ya pak. soal malingping, menarik tuh, bgm kalo tgl 9-11 april? he he he...

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan sahabat ke blog ini, Silahkan tinggalkan komentar,kritik dan saran dibawah ini. Untuk menghindari SPAM mohon isi kata verifikasi sebelumnya,trims.

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian