Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label safety. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label safety. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2009

Tiap Hari Bertambah 16 Ribu Motor


SETIAP hari sepeda motor yang bisa dibikin oleh produsen kita mencapai 20.574 unit. Luarrrr biasaaa!
Tahun 2008, penjualan sepeda motor di Tanah Air sebanyak 6,2 juta unit atau 16.986 unit per hari. Bandingkan dengan produksi mobil yang mencapai 1.663 unit per hari atau sekitar 607 ribu unit pada 2008.
Sepanjang Januari-Mei 2009, jumlah motor yang terjual mencapai 13.856 unit per hari, sedangkan penjualan mobil sebanyak 1.066 unit per hari.

Rata-rata pertumbuhan penjualan mobil dan motor setiap tahun bisa menembus 20%. Fantastis!
Tak heran jika populasi sepeda motor bisa mencapai 50 juta unit pada saat ini. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia, setelah Cina dan India.
Apa artinya itu semua? Mari kita tengok yang paling dekat. Jalan-jalan di Indonesia makin penuh oleh motor dan mobil. Maklum, pertumbuhan pembangunan jalan rata-rata per tahun di bawah 5%. Bahkan, khusus di Jakarta, pertumbuhan jalan di bawah 1%. Tak pelak, pengamat memprediksi pada 2015, lalu lintas jalan Jakarta kian amburadul.
Universitas Indonesia menaksir, kemacetan Jakarta menimbulkan kerugian sekitar Rp 43 triliun per tahun.
Selain kemacetan, problem lain yang membuat miris adalah meruyaknya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, luka ringan, dan luka parah.
Angkanya? Korban jiwa rata-rata 3 orang per hari. Mengerikan. Kecelakaan masuk dalam 10 besar penyebab kematian di Indonesia. Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan, 65% korban kecelakaan di Indonesia adalah para pengendara sepeda motor (bikers).
Sebagian orang menilai, makin bertambah kendaraan maka kasus kecelakaan ikut merangkak naik. Pararel.
Apakah artinya jika dibatasi volume produksi kendaraan jumlah kecelakaan juga ikut berkurang? (edo rusyanto)

Sabtu, 11 April 2009

Tiga Orang Meninggal Setiap Hari

foto:istimewa

TIAP hari tiga nyawa melayang sia-sia di jalan raya. Mereka adalah korban kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor (bikers). Angka tersebut baru untuk wilayah kepolisian Polda Metro Jaya. Belum data tingkat nasional.
Data yang penulis himpun, sekitar 3,2 orang meninggal dunia setiap hari pada 2008 akibat kecelakaan sepeda motor di Jakarta. Kecelakaan lalulintas yang melibatkan sepeda motor di wilayah hukum Kepolisian Daerah Metro Jaya (Polda Metro Jaya) sepanjang 2008 mencapai 5.898 kasus yang mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 1.169 orang. Kemudian yang menderita luka berat sebanyak 2.597 orang serta yang luka ringan 4.317 orang.
Jumlah hari pada tahun lalu sebanyak 366. Dengan demikian setiap hari terdapat 7 orang luka berat dan 11,7 orang luka ringan akibat kecelakaan sepeda motor.
Pada 2007, di Jakarta terjadi sekitar 3.099 kasus kecelakaan sepeda motor dengan korban meninggal dunia 719 jiwa. Artinya, sekitar 2 orang meninggal setiap hari karena kecelakaan sepeda motor.
Sedangkan yang menderita luka berat 1.703 dan luka ringan 2.454 orang, atau setara dengan 5 orang luka berat per hari dan 7 orang luka ringan per hari.
Angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sekitar 88% dari total kecelakaan yakni 3.522 kasus.
Total kerugian, menurut data Polda Metor Jaya, ditaksir sekitar Rp 4,27 miliar.

Safety Riding
Melongok angka-angka itu, sudah tak bisa dibendung lagi penyebarluasan berkendara yang aman dan selamat (safety riding).
Beberapa aspek yang menjadi fokus adalah, pertama, penggunaan atribut pelindung seperti helm, jaket, sarung tangan, dan sepatu. Kedua, peningkatan kemampuan berkendara (skill). Ketiga, memahami aturan lalulintas. Keempat, senantiasa menggunakan komponen yang berkualitas bagus bagi sepeda motor.
Penyebarluasan safety riding harus masuk ke seluruh elemen masyarakat. Tanpa itu, jalan raya menjadi belantara yang ganas. Mesin pembunuh paling sadis di metropolitan. Sekaligus pemicu kemiskinan di tengah masyarakat kita. (edo)

Jumat, 27 Maret 2009

7 Jam di Gunung Bunder

"BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?" Lalu..."Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?"

Lantas..."Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?"

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.

Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.

Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?


***

Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.

Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm...hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.

Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.

Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.

Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.

Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.


* * *

Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute baru menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.

Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.

Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.


Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.

Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.

Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.

Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.

Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.

Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,

Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.

Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.





Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

foto-foto: rio octaviano

Senin, 16 Maret 2009

Kampanye vs Safety Riding

MULAI hari ini, (Senin, 16/3), jalan-jalan di kota besar Indonesia bakal dipadati konvoy simpatisan partai politik. Ratusan bahkan ribuan pengendara sepeda motor dan mobil, termasuk bus, berseliweran di jalan raya. Maklum, pemilu 2009 diikuti oleh 36 parpol.

Ada aroma arogansi. Makin menyemut konvoy, makin eksis sebuah parpol. Kita tak mempermasalahkan hal itu selama berlangsung damai.

Kampanye terbuka yang melahirkan konvoy itu, juga menyajikan pemandangan mengiris hati. Terdapat peserta konvoy bermotor yang tidak menggunakan helm. Sekalipun menggunakan, bukan helm standar. Pemandangan seperti itu terlihat di Jl KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat, Senin siang. Simpatisan salah satu parpol itu, bahkan memasang bendera di bagian belakang motor mereka dengan ukuran yang lebih besar dari sepeda motornya. Ironis.

Pada sisi lain, stasiun televisi menyajikan gambar konvoy simpatisan di Jakarta dan Makassar.

Memang belum dijumpai kasus pelanggaran marka jalan dan aksi terabas lampu merah maupun naik trotoar jalan.

Simpatisan parpol yang mengendarai sepeda motor tanpa helm, bukan saja berpotensi mencelakakan dirinya sendiri. Tapi juga bakal merugikan keluarga mereka. Kecelakaan yang menimbulkan korban luka, apalagi korban jiwa, tentu bakal menyedot biaya tidak sedikit. Pada tingkat yang lebih fatal, sumber pendapatan keluarga bisa hilang sama sekali ketika korban kecelakaan meninggal dunia. Kecelakaan memiskinkan rakyat.

Lantas, dapat apa sang simpatisan dari parpol yang didukungnya? (ed)

Minggu, 01 Maret 2009

Dekati Pelajar SMA


Independent Bikers Club (IBC)

Sabtu, 28 Februari 2009 - 12:04 wib
Prasetyo Adhi - Okezone


SEDIKIT komunitas sepeda motor yang menyisihkan waktu untuk berkeliling ke sekolah-sekolah demi berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai berkendara yang aman dengan pelajar sekolah menengah atas (SMA).Adalah Independent Bikers Club (IBC), komunitas pengguna sepeda motor yang lahir dari rahim para jurnalis media massa pada 30 Desember 2006 lalu."Kami mencoba menularkan pemahaman mengenai berkendara yang aman dan selamat kepada teman-teman di SMA," papar Edo Rusyanto, ketua IBC, kepada okezone.Menurut Edo, siswa SMA adalah kelompok pengguna sepeda motor yang cenderung mudah terprovokasi saat berkendara sehingga membuka peluang berkendara kebut-kebutan. "Hal itu bisa memicu terjadinya kecelakaan di jalan raya," paparnya.IBC yang kini anggota dan simpatisannya tersebar di berbagai media cetak dan elektronik seperti di Investor Daily, Kontan, Koran Jakarta, Bisnis Indonesia, Neraca Indonesia, dan Radio Ramako, pada 2008 menggelar Safety Riding Goes To School (SRGTS) ke SMU Negeri 90 Jakarta Selatan dan SMK Negeri 10 Jakarta Timur."Kegiatan tersebut memang baru digelar pada Desember 2008. Baru dua sekolah, karena kami mengandalkan kas organisasi, tidak ada donatur," tambah Rio Winto, wakil ketua IBC. Lalu tahun ini, lanjutnya, IBC berniat menggelar SRGTS ke beberapa sekolah di Jakarta. "Ada yang mengusulkan ke Bekasi, Depok, dan Bogor," ujar Edo.Sesungguhnya, kegiatan komunitas yang beranggotakan sekitar 70-an praktisi media massa ini mencakup aspek seputar sepeda motor maupun non-sepeda motor seperti diskusi, bakti sosial, dan touring. IBC sejak berdiri hingga kini telah menggelar delapan kali touring, bhakti sosial, seminar soal berkendara, hingga kegiatan lain seperti partisipasi aktif pada Indonesia Consummunity Expo (ICE) 2008."Pada awal Maret mendatang, yakni 6-8 Maret 2009, kami bakal menggelar aksi bersih Tangkuban Perahu (Aksi Tahu)," papar Edo. Menurut dia, kegiatan tersebut digelar bersamaan dengan touring ke sembilan IBC. Pada Aksi Tahu tersebut, anggota IBC menggelar aksi simpatik membagikan stiker dan pamflet mengenai ajakan menjaga kebersihan dan kampanye safety riding. "Selain itu, kami juga akan melakukan aksi simpatik memunguti sampah di area gunung tersebut," tambah Rio. (ton)

Selasa, 17 Februari 2009

Kenapa Kita Harus Santun Dalam Berkendara?


Wabah berkendara yang aman dan Selamat (safety riding) terus meluas. Tapi, kenapa angka kecelakaan di jalan raya yang melibatkan sepeda motor masih tinggi? Sebagaimana kita ketahui, jumlah korban jiwa dan luka akibat kecelakaan sepeda motor grafiknya tak pernah menurun. Dalam satu tahun, angka kematian akibat kecelakaan di jalan raya di Indonesia mencapai sekitar 30 ribu jiwa.

Bagi para pengendara sepeda motor (bikers) ada beberapa hal yang bisa dilakukan guna mengurangi risiko kecelakaan. Salah satunya adalah mengimplementasikan safety riding dalam berkendara.

Beberapa tips di bawah ini barangkali bisa diimplementasikan para bikers saat berkendara guna mengurangi risiko dari kecelakaan.

  1. Berdoa sebelum berkendara.
  2. Persiapkan kondisi fisik. Berkendara dalam kondisi sakit bakal mengganggu konsentrasi pengendara baik saat berbelok, memacu kendaraan, hingga dalam menganalisis medan jalan.
  3. Atribut perlindungan diri. Helm, jaket, sarung tangan, dan sepatu merupakan atribut wajib bagi bikers. Selain membuat pengendara nyaman, atribut kelengkapan berkendara tadi meminimalisir risiko benturan atau gesekan jika terjadi kecelakaan. Khusus penggunaan helm, setidaknya gunakanlah helm half face yakni helm yang melindungi separuh wajah kita. Dalam penggunaannya, jangan lupa mengaitkan tali helm secara pas hingga berbunyi klik.
  4. Periksa kondisi kendaraan. Biasakan memeriksa kondisi kendaraan sebelum berkendara. Beberapa bagian penting adalah kondisi rem, kondisi ban, spion, bahan bakar, lampu depan, hingga lampu sign. Jika salah satu dari item tadi dalam tidak bagus, misalnya, rem blong atau ban kempes, niscaya ancaman menghadapi kecelakaan lebih besar lagi.
  5. Ketika berkendara, perhatikan isyarat-isyarat penting. Ketika berbelok, baik ke kanan maupun ke kiri, upayakan memberi isyarat lampu sign. Berbelok secara tiba-tiba tanpa isyarat membuka peluang tabrak belakang.
  6. Patuhi rambu lalulintas (lalin). Aturan lalin bukan untuk dilanggar. Hal sepele, ketika berhenti di lampu merah, usahakan tetap di belakang garis putih sebelum zebra cross. Selain itu, hindari perilaku menerabas lampu merah.
  7. Terkait kepatuhan pada rambu dan marka jalan, upayakan agar tidak memaksakan diri menaiki trotoar ketika kondisi lalulintas sedang macet total.
  8. Dari keseluruhan tips tersebut, bikers harus menanggalkan sikap egois dan temperamental dalam berkendara. Tidak perlu terpancing untuk berperilaku ugal-ugalan atau memacu kendaraan di atas kecepatan rata-rata, misalnya hingga 90 kilometer per jam (kpj). Emosi yang tidak terkendali berbahaya terhadap kemampuan menganalisis medan jalan.

Tips di atas berporos pada satu prinsip berkendara yakni bersahabat, santun di jalan. Dengan kunci disiplin. Alangkah indahnya jika setiap pengguna jalan saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing pengguna jalan. Kalau tidak dimulai dari saat ini, kapan lagi kita mau tertib. Salam (edo)

Sabtu, 13 Desember 2008

IBC Gelar Safety Riding ke SMA 90

Jakarta - Tingginya angka kecelakaan sepeda motor yang menimpa usia muda di Indonesia mendorong Independent Bikers Club (IBC) menggelar penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) ke beberapa sekolah menengah atas (SMA).
"Kami menganggap pelajar SMA merupakan kelompok masyarakat yang bisa secara cepat memaparkan pemahaman safety riding ke sesama remaja," ujar Edo Rusyanto, Ketua Umum IBC, Sabtu (13/12), di sela Safety Riding Goes To School (SRGTS) IBC, di SMA 90 Jakarta Selatan.
Kepala SMA Negeri 90 Tri Sugiareno mengaku gembira atas kedatangan tim IBC. "Siswa SMA sering tidak memperhatikan keselamatan diri mereka sendiri ketika berkendara, ada yang tidak pakai helm bahkan ada yang tidak memiliki SIM," kata Tri, di hadapan sekitar 50 siswa/siswi SMA 90.
Penyuluhan di SMA tersebut merupakan yang kedua pada Desember ini. Menurut Edo, penyuluhan pertama digelar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 10, Jakarta Timur, Selasa (9/12).
Ia menjelaskan, dalam program SRGTS, pihaknya menggandeng Road Safety Association (RSA). "Materi yang kami berikan adalah peran klub/komunitas dalam menyebarkan safety riding," papar Edo.

Selain itu, tambahnya, tim dari RSA menyampaikan materi tips aman berkendara motor dan aturan seputar lalu lintas jalan.
Selain memberikan materi, kegiatan SRGTS juga dilengkapi dengan penayangan audiovisual berkendara yang aman dan selamat, serta video kecelakaan sepeda motor. “Selain itu, kami juga memberikan pre and post test mengenai pemahaman siswa/siswi mengenai safety riding,” tukas Edo.
Kegiatan SRGTS, ujar Rio Winto, wakil ketua IBC,merupakan rangkaian kegiatan hari jadi IBC kedua yang jatuh pada 30 Desember 2008. (edo)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian