Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Sabtu, 27 Juni 2009

Sinetron Anti Safety Riding?

foto:edo


Dira, mahasiswi di Jakarta, awalnya gadis pendiam dan kutu buku. Penampilan berambut sebahu dan berkacamata, membuatnya cupu (culun punya), dalam bahasa remaja metropolis Jakarta berarti tidak menarik. Belakangan Dira lebih agresif memikat pria teman kuliahnya. Namun, hanya sekadar pacar. Ia pun berhasil menggandeng pacar, teman kampusnya.
Potret kehidupan Dira adalah roh dari sinetron Cara Cari Pacar, yang ditayangkan SCTV, sekitar pukul 10.57 WIB, Sabtu (18/4/2009).
Kisah Dira bergulir hingga suatu ketika diceritakan, ia sedang berjalan kemudian berpapasan dengan dua pengendara sepeda motor sport. Pengendara pertama menunggangi motor sport 150 cc warna hitam, lengkap dengan perlindungan keselamatan berkendara (safety gear) seperti helm, jaket, dan sepatu. Pengendara kedua, sama-sama anak muda, dengan tambahan boks di sepeda motor warna merah miliknya. Namun, ia tidak menggunakan helm. Hanya menggunakan ikat kepala dari semacam syal.
Baju Dira kotor, ia marah-marah. Dia menganggap klub dan genk motor sama saja.
Pelaku adalah anggota klub motor Peace Brotherhood yang kebetulan saat itu berdua dengan Doni, sang ketua klub yang langsung meminta maaf sekaligus saling berkenalan. Belakangan digambarkan Dira dan Doni keliling naik motor sport. Dira tidak memakai helm bahkan Doni melepas helmnya dipegang Dira.

Potret Masyarakat
Sinetron Cara Cari Pacar, baru satu dari ratusan sinetron yang ditayangkan stasiun televisi kita. Padahal, seperti diakui banyak kalangan, sinetron bisa mempengaruhi para pemirsanya. Bahkan, pemirsa meniru perilaku dalam adegan sinetron.
Itukah persepsi sineas kita terhadap kehidupan kelompok sepeda motor? Kenapa para pemilik stasiun TV tidak peduli terhadap pentingnya pemakaian helm saat berkendara motor? Padahal, UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) mewajibkan pemakaian helm saat bersepeda motor. Sanksinya? Denda sebanyak-banyaknya Rp 250 ribu dan sanksi kurungan badan satu bulan.
Persoalan paling mendasar adalah, kenapa stasiun televisi dan rumah produksi menyebarluaskan pelanggaran hukum sebagai hal yang biasa?
Seorang aktor senior yang dimintai komentarnya mengaku bahwa para aktor dan aktris tak berdaya karena tuntutan skenario. Jika sudah diminta sutradara agar berkendara tanpa helm, maka sang aktor tak kuasa menolak. ”Tapi hal itu karena tuntutan stasiun televisi agar ratingnya terdongkrak,” ujar dia.
Aktor lainnya mengaku, ”Supaya wajah pemain terlihat oleh penonton.”
Walah...masalah bisnis dan estetika sinetron ternyata menggerus kepentingan berkendara yang aman dan selamat. Helm, sebagai pelindung kepala, dianggap menghalangi kepentingan para pemodal meraup keuntungan dari tayangan sinetron? Sampai kapan? (edo rusyanto)

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan sahabat ke blog ini, Silahkan tinggalkan komentar,kritik dan saran dibawah ini. Untuk menghindari SPAM mohon isi kata verifikasi sebelumnya,trims.

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian