Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Senin, 19 Oktober 2009

Penanaman Perilaku Santun di Jalan Sejak Dini


foto:edo

APA yang terlintas di benak Anda? Melihat orang tua yang berboncengan dengan dua anaknya tanpa helm? Atau melihat teman kita yang masih di bawah 17 tahun mengendarai sepeda motor? Selain itu, berboncengan dengan teman-temannya, tanpa helm pula?
Sebagian dari kita pasti merasa risau. Sebagian lagi permisif. Akh kan gak jauh, cuma sekitar kompleks, cuma sekitar kampung.
Apa pun perasaan kita, fakta membeberkan, kecelakaan tak pernah mengenal jarak tempuh. Kecelakaan tak pernah membedakan usia sang korban. Bahkan, kecelakaan tak pernah mengenal jabatan.
Belasan ribu korban jiwa tewas di jalan setiap tahunnya. Hampir sekitar 70% melibatkan pengendara sepeda motor. Kecelakaan yang melibatkan sepeda motor pemicunya didominasi oleh perilaku sang pengendara. Mulai soal kemampuan berkendara alias skil seperti kemampuan menganalisis medan untuk mendahului, hingga emosi dalam berlalu lintas, bahkan perilaku ugal-ugalan. Siapa yang mencetak perilaku seperti itu? Dunia pendidikan kita kah? Atau masyarakat kita yang tidak disiplin saat di jalan?

Peran Keluarga
Komunikasi yang harmonis di dalam rumah diyakini mampu mencetak pribadi andal. Kasih sayang yang berlimpah bisa mendorong individu saling menghargai di antara sesama. Termasuk ketika di jalan.
Kita ingat kalimat orang tua saat kita hendak pamit sekolah, kuliah, atau kerja. ”Hati-hati di jalan.” Makna kalimat itu bukan pepesan kosong. Suatu pesan yang indah. Agar kita pergi dan pulang dengan selamat.
Ada baiknya jika pesan itu kita lengkapi menjadi, ”Hati-hati di jalan, jangan ugal-ugalan saat berkendara. Saling menghargai yah. Lebih baik sabar daripada emosi mendahului.”
Orang tua yang bijak memberi contoh taat aturan berlalu lintas. Mulai dari memakai helm, memiliki surat izin mengemudi (SIM), hingga tak ugal-ugalan saat di jalan.
Hindari untuk memberi izin anak di bawah umur untuk mengendarai sendiri sepeda motor. Maklum, pada usia seperti itu, stabilitas emosinya mayoritas masih rentan. Mudah terprovokasi untuk saling kebut-kebutan.
Contoh lain yang cukup bisa membekas pada ingatan sang anak adalah ketika berboncengan harus memakai helm. Tidak ada alasan hanya menempuh jarak dekat. Tidak ada alasan, anak kecil bisa diapit erat oleh orang tuanya. Tidak ada alasan belum punya helm. Itu semua gugur, jika kita memahami bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Kita sadar, kecelakaan tak pernah mengenal jarak.
Sudah saatnya, mulai saat ini, kita ajak anak kita, adik kita, saudara, bahkan teman kita, untuk menghargai kehidupan yang indah ini. Perilaku santun di jalan untuk mengeliminasi risiko kecelakaan di jalan. (edo rusyanto)

4 komentar:

adi mengatakan...

masih banyak orang tua yang acuh terhadap keselamatan anak2 nya, tapi ketika datang celaka baru mereka sadar tapi bisa jadi malah enggak sadar juga

Edo Rusyanto mengatakan...

ya mas adi, yuk kita sebarluaskan terus soal pentingnya keluarga sbg basis penanaman perilaku santun saat di jalan. salam

Hafid Blackzombie mengatakan...

kadang serba salah kita mengingatkan malah di bilang sok tau,tapi kalo tidak kita ingatkan kita rasanya juga akan bersalah jika terjadi sebuah kecelakaan sama mereka

aku sepakat,kita mulai semua perilaku santun dijalan dari keluarga kita dan orang2 di sekeliling kita"teman kerja,kuliah,sahabat,ataupun teman club kita"

semoga rakyat negri ini bisa semakin menghargai arti keselamatan di jalan

Edo Rusyanto mengatakan...

jgn pernah lelah yah bro kevit, masih panjang perjalanan mewujudkan lalin yg aman dan nyaman. trims yah

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan sahabat ke blog ini, Silahkan tinggalkan komentar,kritik dan saran dibawah ini. Untuk menghindari SPAM mohon isi kata verifikasi sebelumnya,trims.

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian