Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Minggu, 06 Maret 2011

Nasibmu Trotoar Jalan

 Trotoar di sekitar Kalibata dilintasi oleh kendaraan umum. (foto:edo)

SENGATAN matahari Jakarta menembus jaket. Padatnya kendaraan membuat arus lalu lintas menjadi tersendat. Sepanjang Jl Syahdan menuju Jl Pal Merah, Jakarta Barat, tak hentinya menemui ketersendatan. Mulai dari aktifitas pasar, kendaraan yang putar arah, mobil parkir di tepi jalan, hingga angkutan umum yang berhenti seenaknya.
Saat saya melintas di kawasan itu, Senin (28/2/2011) Siang menuju sore, aura kemacetan kian menjadi ketika berhenti di perempatan Slipi, Jakarta Barat. Persimpangan itu merupakan titik temu kendaraan dari berbagai arah. Tak heran, suasana demikian padat.

Situasi lalu lintas di Jl Gatot Subroto, menuju Semanggi, Jakarta Selatan, tak berbeda jauh dengan di Slipi. Terlebih ketika melintas di depan Hotel Sultan menjelang Jembatan Semanggi. Kemacetan kian menggila karena sebagian kendaraan hendak berbelok ke kiri, sedangkan sebagian melaju lurus. Praktis, antrean panjang pun tak bisa dihindari.
Di tengah itu semua, puluhan pemotor mencari alternatif. Ironis, pilihannya adalah trotoar jalan. Trotoar yang semestinya untuk pejalan kaki, ramai-ramai dipakai oleh pemotor. Padahal, trotoar di area itu cukup tinggi. Artinya, ketika pemotor akan melintas disitu harus berjuang ekstra keras, demikian juga saat hendak turun. Seakan tak kehilangan akal, sudah disiapkan seonggok batu untuk naik dan turun dari trotoar. Entah siapa yang menaruh di sana.
Trotoar. Semestinya bukan untuk pemotor. Namun, tak jarang kita jumpai aksi merampas hak pejalan kaki. Kenapa pemotor melintas di trotoar?
”Kalau antre di jalur arteri lama banget pak,” ujar seorang pemotor, suatu ketika saat berbincang dengan saya soal alasan melintas di trotoar.
Namun, ketika disinggung bahwa tindakannya itu sama dengan merampas hak pejalan kaki, dia bilang, saya sih hanya ikut motor yang di depan. ”Yang depan naik ya saya ikut aja pak,” katanya.
Di bagian Jakarta yang lain, seperti misalnya di depan Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional, Kalibata, Jakarta Selatan, aksi rampas trotoar tak hanya dilakukan pemotor. Angkutan umum, angkutan barang, bahkan kendaraan pribadi ikut menjarah. Mereka tak sudi antre.
Di sinilah kuncinya. Rela untuk antre. Siapa pun, pasti ingin selamat tiba di tujuan. Ketika memilih melintas di trotoar jalan, praktis membuka risiko peluang kecelakaan lalu lintas jalan. Selain potensi terperosok, boleh jadi berpotensi menyenggol pejalan kaki. ”Saya gak suka pemotor yang naik ke trotoar, udah gitu nyalain klakson lagi, nyuruh kita minggir,” ujar seorang mahasiswi Binus, saat saya berbagi soal road safety, Senin siang.
Trotoar tak hanya dilibas oleh pemotor. Ada juga pemandangan trotoar digunakan untuk pedagang berjualan. Atau, dipakai untuk ruang parkir.
Hemmm…nasibmu trotoar jalan. (edo rusyanto)

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan sahabat ke blog ini, Silahkan tinggalkan komentar,kritik dan saran dibawah ini. Untuk menghindari SPAM mohon isi kata verifikasi sebelumnya,trims.

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian