Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label touring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label touring. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2010

Touring Gaya Penunggang Moto Italiano



APA yang terlintas di benak Anda saat mendengar kata Piaggio?

Ya. Italia. Negeri dengan segudang pesepakbola kondang dunia itu melahirkan banyak inspirasi di bidang otomotif. Paling mutakhir tentu saja soal sang kampiun MotoGP, Valentino Rossi.

Saat ini, tipe Piaggio yang diedarkan distributor Piaggio, PT Sentra Kreasi Niaga (SKN) di antaranya adalah Beverly Cruiser 250, Fly 150, MP3, dan X-Evo 250.

Tak heran jika komunitas para penunggang sepeda motor asal Italia alias Moto Italiano juga sudah merebak. Sebut saja misalnya Piaggio Club Indonesia (PCI) dan komunitas Piaggio Fly Indonesia (PFI). ”Kami sudah berdiri sejak tiga tahun lalu, sedangkan jumlah anggota sekitar 30 orang,” papar Singgih, ketua PFI.

Fly ada tipe Piaggio bermesin Single cylinder, four-stroke Piaggio L.E.A.D.E.R dengan harga jual Rp 30 juta per unit. Ini tipe paling murah, bandingkan dengan Piaggio Piaggio X-Evo 250 yang dibanderol Rp 84 juta, atau Piaggio Piaggio MP3 yang dilego Rp 110 juta. Wow!!!


Touring Gathering

Akhir pekan lalu, Sabtu (16/1), saya berkesempatan menjajal ikut touring kecil bareng para penunggang moto italiano rute Jakarta-Puncak, Bogor. Jarak tempuh sekitar 115 kilometer (km) pulang pergi.



Saya dengan sejumlah anggota Komunitas Blogger Otomotif Indonesia (Koboi) seperti Rudy Triatmono, Haryo, Andry Berlianto, Pringgo, Taufik, dan Adhi Nugroho beriringan dengan rombongan penunggang Piaggio. Bahkan, empat di antara anggota Koboi sempat menjajal produk yang dipasarkan SKN. Rudy menjajal Gilera-Runner 200, Haryo (Aprilia RS 125), Pringgo (Aprilia-Scarabeo 200), dan Andry (Tril-Husqvarna).

Keempat anggota Koboi tersebut berangkat bersama rombongan dari Jl DI Panjaitan, Jakarta Timur. Sedangkan saya bergabung dari Cibubur, Jl Raya Bogor, sementara Adhi menunggu di Bogor.

Di bawah guyuran hujan saat melintas kota Bogor, konvoy touring gathering kali ini berjalan mulus nyaris tanpa hambatan. Keakraban tersirat kian menguat saat tiba di lokasi yakni Waroeng Gumati, Gadog. Selain diisi dengan makan siang bersama juga ada sejumlah games dan doorprize.

”Kami support komunitas karena penyebaran pelanggan wilayahnya cukup luas. Komunitas sangat penting. Bahkan, kami ada rencana merangkul komunitas para pengguna Vespa lama,” papar Presiden Direktur SKN, Nugroho Tjandrakusuma, di sela gathering.

Sebagai wujud kebersamaan, Nugroho bahkan ikut konvoy dengan menunggang Piaggio MP3 pulang pergi Jakarta-Puncak.

Ia merasa, program touring gathering menjadi perekat keakraban di antara komunitas penunggang Piaggio. ” Kegiatan seperti ini bagus untuk galang persatuan di antara PCI. Selain itu, kegiatan rutin seperti trouring ini juga bisa berpengaruh ke penjualan,” kata Singgih.

Sementara itu, Evi Nursanti, promotion SKN mengaku, pihaknya juga merencanakan touring lain ke Bandung dengan dibalut bakti sosial. ”Namun, sebelum itu, pada Februari 2010, kita mendukung program safety riding yang digelar PCI,” ujar Evi.

Saking pentingnya, menurut Nugroho, pihaknya akan menggelar program serupa secara berkala tiap dua bulan sekali. Kita tunggu pak Nugroho. (edo rusyanto)

Senin, 21 Desember 2009

Penyegaran di IBC

SUDAH lama ndak melahap tikungan dan tanjakan kawasan Puncak, Bogor. Sabtu (19/12) dinihari, dinginnya udara Puncak menusuk hingga ke tulang. Gelap malam menemani vixy merah meliuk-liuk dengan kecepatan 80-90 kpj. Sesekali berpapasan dengan mobil pribadi, bus, dan rombongan sepeda motor. Lumayan.

Vixy merah gak sendiri. Kami bertiga, ada sist Fatiyah dengan Honda Bladenya dan bro Ade Jun dengan Pulsar 180 DTS-nya. Ini adalah rombongan terakhir dari rangkaian konvoy 12 sepeda motor anggota Independent Bikers Club (IBC).

IBC yang lahir 30 Desember 2006 itu, menjadwalkan penyegaran di internal. Mulai soal keselamatan berkendara (safety riding), kepengurusan, atribut organisasi, hingga struktur pengurus. Semuanya dibalut dalam touring Jakarta-Cibodas, 18-20 Desember 2009.

Malam minggu biasanya dipakai anak muda berkencan. Jalan-jalan ke mall atau asyik mahsyuk sambil nonton film di bioskop. Ada juga yang berseronok dengan gempita musik di sudut cafe atau diskotik. Malam minggu IBC di Cibodas justru diisi sesuatu yang berbeda. Belasan anak muda anggota dan simpatisan IBC asyik merancang sepak terjang memasuki fajar 2010. Menyongsong tahun yang lebih bergairah.

Klub pengguna sepeda motor yang digagas oleh sejumlah jurnalis Investor Daily itu, terus melenggang di dengan beragam aktifitas. Mulai dari seminar, safety riding goes to school, touring, hingga bakti sosial.

Selaku Ketua, saya kerap mengajak agar para anggota muda IBC tak pernah lelah untuk berbagi. Dalam rapat di Cibodas malam itu, mencuat soal pentingnya komitmen. “Komitmen harus terus dibangun,” seloroh Nury Sibli, sang simpatisan yang gemar fotografi.

Ya. Komitmen menjadi isu penting bagi para anggota kelompok sepeda motor. Tak jarang hal itu malah bikin runyam. Istilah anak muda saat ini, maaf, anget-anget tai ayam. Sewaktu-waktu penuh antusias, selebihnya lenyap ditelan bumi. Komitmen yang kerap mencuat adalah mentaati aturan soal iuran. Berapa pun jumlahnya, kadang dirasakan memberatkan. Padahal, jumlah itu sudah disepakati bersama. IBC menerapkan iuran Rp 20 ribu per bulan. ”Pemanfaatan uang iuran harus disosialisasikan terus agar iuran lancar,” tukas bro Acoy, anggota IBC yang baru saja tukar guling Vixy dengan Kawa RR 150.

Setelah berembuk cukup alot, besaran iuran diubah menjadi Rp 5.000 per bulan. ”Tapi kalau ada yang mau ngasih lebih ya silakan,” papar Nury.


Penyegaran seputar pengurus juga bergulir. Struktur IBC semula terdiri atas, ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan sejumlah divisi yakni pemberdayaan organisasi, pemberdayaan anggota, humas, usaha. Masing-masing divisi diisi oleh satu penanggung jawab yakni Tata, Alam, Euis, dan Hadi. Sejak malam itu, muncul nama-nama pelapis divisi yakni Irfan, Acoy, Sontry, dan Fatiyah.

Tekankan Safety

Memasuki penyegaran pemahaman safety riding sejumlah tayangan audio visual mengajak peserta touring IBC malam itu kian antusias. Sejumlah materi pun bergulir yakni tentang group riding, analisis medan jalan, hingga pentingnya pemahaman mengenai aturan baru lalu lintas yakni UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

Saya tetap terus mengajak agar seluruh anggota dan simpatisan IBC menerapkan perilaku dan ketaatan pada aturan lalin. Urusan keterampilan berkendara hanya menjadi landasan saat kita berlalu lintas di jalan. Maklum, perilaku menjadi batu sandungan utama dalam mewujudkan lalu lintas jalan yang aman, nyaman, dan selamat.

Walau, tanpa sistem transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau, jumlah kecelakaan sulit untuk direduksi secara optimal.

Penyegaran di IBC secara harfiah dijalankan pada Sabtu siang.Air terjun Cibodas menjadi latar belakang. Momentum bermandi ria jadi rangkaian penyerahan Trophy Bergilir Pernikahan IBC. Trophy ini diberikan kepada anggota IBC yang menikah selama menjadi anggota. Nama pasangan, tempat dan tanggal pernikahan digoreskan dalam trophy yang bersimbol pelek sepeda motor dengan logo IBC.

Tak ayal, rasa segar percikan air terjun dan segarnya udara pegunungan Gede Pangrango, menyeruak di tengah keceriaan. Kepenatan bekerja di Jakarta seakan lenyap tak berbekas. Segarnya tubuh dan pikiran menjadi modal untuk kembali menjalani rutinitas di Jakarta. (edo rusyanto)

Selasa, 18 Agustus 2009

Diskusi Safety Riding dan Renungan Kemerdekaan

Touring Merdeka 2 MRC





KESEJUKAN udara pegunungan Puncak, Bogor, Jawa Barat, merambat perlahan. Menelusup ke seantero kulit tubuh. Rasa dingin mulai tertepis hangatnya persahabatan puluhan bikers MRC yang bersimpuh di halaman Villa Anne, Puncak. Mereka berdatangan dari Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Bandung, dan Serang, Banten.
Terlihat antusiasme mereka mengikuti Touring Merdeka, 16-17 Agustus 2009. Itu adalah touring kedua yang kedua kali digelar MRC untuk memperingati 64 tahun kemerdekaan Indonesia.
Villa Anne terletak di sisi kanan jalan dari arah Ciawi menuju Cianjur. Persisnya jelang Gunung Mas atau sekitar 93 kilometer (km) dari Jakarta. Villa tersebut memiliki empat bangunan dan kolam renang. Area parkir bisa menampung sekitar 100 motor dan halaman berumput hijau mengelilingi areal villa tersebut. MRC memasang sebuah tenda dengan layar berukurang 2x2 meter untuk latar belakang infocus di halaman belakang. Lokasi tersebut selain dipakai untuk memutar video kecelakaan juga untuk presentasi Buku Panduan. Selebihnya dipakai juga untuk area renungan memperingati Kemerdekaan serta hiburan organ tunggal dengan dua artis local.


Diskusi Safety Riding
Sebelum memasuki puncak acara, perwakilan ATPM yakni PT Minerva Motor Indonesia (MMI) Pak Enjang menyampaikan terimakasih dan pemaparan mengenai ATPM tersebut. "Kami membuka diri untuk masukan dan saran serta siap melayani kebutuhan konsumen, khususnya para anggota MRC," ujar Enjang. Tanya jawab pun meluncur, termask soal kehadiran bengkel di wilayah masing-masing anggota MRC berada.
Acara menjadi lebih istimewa karena dibumbui diskusi keselamatan berkendara sepeda motor (safety riding) oleh bro Edo Rusyanto, penggiat safety riding Road Safety Association (RSA). Diskusi yang digelar pada Minggu (16/8) malam juga disisipi tayangan audiovisual kecelakaan.
"Penekanan lebih kepada perilaku berkendara para bikers agar lebih saling menghargai di antara pengguna jalan," urai Edo. Selain itu, ulasan mengenai Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU tersebut pengganti UU No 14 tahun 1992 tentang hal yang sama.
Meluncurlah berbagai ulasan terkait perilaku buruk bikers seperti berkendara naik trotoar, merokok dan menelepon saat berkendara, melanggar garis putih dan zebra cross, serta blocking saat berkonvoy.
"Tapi bagaimana kalau polisi menyuruh kita maju melewati garis putih?" Tanya bro Deni, ketua region MRC Serang. Ia yang mengaku suka mengabaikan permintaan polisi itu berdalih takut membahayakan pengguna jalan lain. Bro Edo menjelaskan, polisis memiliki wewenang diskresi yakni keputusan yang bertolak belakang dengan peraturan demi keselamatan di jalan.
"Materinya top abis, menjadi kita lebih menghargai sesama," papar bro Ian, wakil ketua umum MRC.
Diskusi menjelang tengah malam di bawah alam terbuka dan dinginnya Puncak, Bogor juga disisipi dengan fakta-fakta angka kecelakaan di jalan Jakarta sepanjang Januari-Juli 2009. "Tiap hari di Jakarta 3 orang tewas atau secara total 642 orang dan rata-rata 18 kasus kecelakaan," papar bro Edo yang juga Penasihat MRC. Ia menekankan pentingnya persepsi memprioritaskan keselamatan ketika berkendara.
"Ya, setiap berkendara penting untuk menanamkan persepsi selamat sampai tujuan," kata bro Unang, ketua Region MRC Depok.

Bagi Dessy, salah seorang peserta wanita, diskusi mengenai safety riding membuat pencerahan agar para bikers tidak ugal-ugalan berkendara. "Anak muda kadang tidak memikirkan kepentingan orang lain,
bahkan dirinya sendiri," ujar gadis berparas ayu itu.

Panduan dan Renungan
Bro Irsan, ketua MRC memaparkan bahwa MRC telah mematangkan Buku Panduan organisasi yang menjadi acuan kiprah komunitas tersebut. “Panduan ini memberikan arahan bagaimana struktur organisasi, keuangan, tujuan, visi misi hingga sanksi bagi anggota,” ujar Irsan di hadapan puluhan anggota MRC.
Buku Panduan tersebut sudah terlontar ketika Bro Ery memimpin MRC pada periode 2008-2009. Menurut Irsan, usai Touring Merdeka 2009 Buku Panduan akan didistribusikan via surat elektronik kepada para pengurus region yang kini jumlahnya ada Sembilan yakni Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Sukabumi, Bandung, Serang, Mataram, dan Medan.
Usai diskusi dan presentasi Buku Panduan, peserta touring dihibur oleh dua artis lokal dengan iringan organ. Hampir semua peserta touring larut dalam irama riang sang artis lokal yang sesekali meliuk sensual dengan alunan lagu dangdut. Sebagai pamungkas, jelang dinihari tanggal 17 Agustus, bro Edo memimpin renungan Kemerdekaan. “Mari kita sejenak menggandengkan tangan dan menundukkan kepala untuk mengenang arwah para pahlawan yang mengantarkan kita ke kehidupan yang merdeka saat ini,” ujar Edo.
Keesokan hari, selain menggelar lomba kelompok layaknya outbond, bro Mul selaku koordinator acara menggelar pertandingan futsal. Acara ditutup dengan lomba mencari kunci di kolam renang yang memiliki kedalaman 2,5 meter. Jelang pukul 14.00 WIB, peserta touring meluncur kembali ke kota masing-masing. Bravo MRC. (edo rusyanto)

Kamis, 23 Juli 2009

Touring ke-11 IBC di Mata Media



DALAM usia yang beranjak tiga tahun pada 30 Desember 2009 nanti, Independent Bikers Club (IBC) terus menggeliat. Layaknya kelompok sepeda motor lain, IBC yang diawaki para jurnalis, menggelar kegiatan touring ke berbagai kawasan wisata di Jawa Barat dan Banten.
Pekan lalu, 17-19 Juli 2009, touring ke-11 IBC diarahkan ke Anyer, Banten. Di kawasan wisata pantai itu, IBC menyelipkan diskusi soal keselamatan berkendara (safety riding). Lima belas orang peserta touring yang berasal dari IBC, Minerva Riders Community (MRC) region Serang, dan Indonesia Bajaj Bikers Club (IBBC) asyik mahsyuk berdiskusi sambil diterpa hembusan angin pantai yang menyegarkan. "Materi diskusi seputar maraknya kecelakaan yang melibatkan sepeda motor hingga soal pentingnya menjaga jarak dalam berkendara," tutur bro Edo Rusyanto, ketua IBC.
Jarak Jakarta-Anyer sekitar 169 kilometer ditempuh dengan penuh kehati-hatian. "Maklum berkendara di malam hari," ujar bro Ardy, sekjend IBBC dalam situsnya. Ya, perjalanan ke Anyer harus menyaksikan empat kali kecelakaan sepeda motor. Salah satunya melibatkan konvoy IBC. Walau tidak menimbulkan luka serius, tak pelak kecelakaan itu memberi shock therapy kepada peserta touring.
Hingga akhir 2009, IBC menjadwalkan satu kali lagi touring. Beberapa lokasi wisata pun masuk dalam daftar seperti Pantai Pamengpeuk, Garut dan Pantai Pangandaran, Ciamis. Keduanya ada di Jawa Barat. (edo rusyanto)

Selasa, 21 Juli 2009

Empat Kecelakaan Iringi Konvoy


Touring ke-11 IBC (2):

GERIMIS mendera konvoy touring tanpa lelah. Roda sepeda motor berbenturan dengan lubang dan permukaan jalan yang baru dilapisi aspal. Konvoy tak gentar menerobos gelapnya dinihari.
Rombongan 15 sepeda motor dari Jakarta menuju Anyer, Banten itu, bak tak peduli meski terus diguyur hujan. “Target kita pagi sudah sampai di Anyer,” ujar bro Arie Fiantisca, bendahara Independent Bikers Club (IBC), Sabtu (19/7).
Beberapa ruas jalan di kawasan perbatasan Tangerang-Serang rusak cukup parah. Sepeda motor harus super hati-hati jika tidak ingin tergelincir. Sedangkan kendaraan berat seperti truk kontainer dan bus besar sewaktu-waktu bisa memangsa sepeda motor. Benar saja, saat perjalanan baru separuh jalan, David salah satu anggota konvoy tergelincir karena selip. “Permukaan aspal licin dan salah satu sisinya lebih tinggi karena baru dilapis ulang,” ujar bro Edo Rusyanto, ketua IBC.
Setelah dievakuasi dan ditangani klinik 24 jam di Jl Raya Serang KM 18, David bisa melanjutkan perjalanan namun harus dibonceng. Sepeda motornya dititipkan di klinik tersebut.
Baru saja bergerak sekitar 20 menit, iring-iringan menuju pantai Anyer itu menyaksikan benturan antara vespa dengan mobil boks yang melaju ugal-ugalan. Bruakkkk!!! Sang vespa pun oleng, beberapa bagian kendaraan itu terlihat rusak. Bersyukur, penumpangnya tak cedera serius.
Ternyata tidak hanya perjalanan malam atau dinihari yang diincar sang maut di jalan raya. Ketika rombongan touring ke-11 IBC pulang kembali ke Jakarta, Minggu (19/7), selepas kota Serang, menyaksikan dua kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Kecelakaan pertama terlihat amat serius. “Stang motornya sampai mental dan bannya ringsek,” papar bro Rino. Sedangkan kecelakaan kedua terlihat juga menimbulkan kerusakan serius pada sepeda motor korban.
Rute sepanjang 169 kilometer dari Jakarta-Anyer yang ditempuh rombongan touring memang tak mudah dilalui. Setidaknya ada dua kawasan industri yang harus dilintasi oleh pengendara motor. Tak aneh jika harus berpapasan dengan truk kontainer ukuran besar. “Sepanjang beberapa tahun terakhir, sudah 17 teman saya yang tewas dilindas kontainer,” papar bro Dhirex, anggota MRC region Serang. (edo rusyanto)

Bincang Safety Riding di Bibir Pantai Anyer


Touring ke-11 IBC




BANYAK lagu yang diciptakan dengan latar belakang pantai. Tak sedikit pula kisah romantis yang bergulir di pasir putih. Gemuruh ombak, sepoi-sepoinya angin laut, nyiur yang melambai, dan fenomena terbit serta tenggelamnya matahari, menjadi harmoni kehidupan yang membawa inspirasi banyak insan manusia.
Lantas, bagaimana rasanya berdiskusi soal keselamatan berkendara (safety riding) sambil dibelai sepoi-sepoi angin pantai? Dan bagaimana serunya jika diskusi dilengkapi dengan testimoni langsung korban kecelakaan dengan luka memerah sisa insiden beberapa jam sebelumnya?
Independent Bikers Club (IBC) Jakarta mencoba nuansa baru dalam berdiskusi soal safety riding. Lokasi yang dipilih adalah tepi pantai Anyer, Banten, pada Sabtu (18/7). Di penghujung pekan itu, peserta touring yang baru saja menempuh perjalanan sekitar 169 kilometer (km) dari Jakarta, bersimpuh di teras vila sederhana berdinding gedek dan beratap daun kelapa.
Tidak mudah bagi rombongan yang berangkat dari Jakarta, Sabtu (18/7) pukul 01.02 WIB. Setelah menembus hujan deras, rusaknya aspal jalan, lalulalangnya kontainer, truk, dan bus besar, serta ‘ugal-ugalannya’ pengguna jalan yang bermuara pada kecelakaan, konvoy aneka jenis sepeda motor itu baru tiba sekitar pukul 09.21 WIB di vila yang berjarak sekitar 19 km dari Marbella Hotel, Anyer itu. Maklum, perjalanan harus melintasi kawasan industri serta proyek pelapisan jalan.
Keasyikan diskusi dilengkapi kudapan kacang kulit dan segarnya kelapa muda yang baru saja dipetik dari pohonnya. ”Selain agar lebih rileks, diskusi di sela touring ke-11 IBC ini, untuk menyegarkan kembali pemahaman teman-teman soal safety riding,” tutur bro Edo Rusyanto, sang ketua IBC.
Hal paling baru dalam diskusi santai kali ini, kata Edo, adalah terkait sanksi denda dan sanksi pidana yang mengintai bikers seperti tertuang dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang lalu Lintas dan Angkutan jalan (UU LLAJ) yang diteken presiden pada 23 Juni 2009 atau sehari sebelum perayaan Pekan Nasional Keselamatan Jalan 2009 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.
Peserta diskusi tidak hanya anggota IBC. Tampak hadir juga bikers dari Indonesia Bajaj Bikers Club (IBBC), Jakarta dan Minerva Riders Community (MRC) Region Serang.
“Senang sekali bisa sharing soal safety riding.Kita bisa belajar dari sesama komunitas sepeda motor,” ujar Sekjend IBBC Ardy, yang siang itu antusias menyimak pemaparan bro Edo.
“Perlu kita saling mengingatkan pentingnya perilaku berkendara yang santun,” tegas Edo yang juga Kepala Divisi Litbang Road Safety Association (RSA) itu.
Selain membahas tentang pentingnya alat pelindung diri seperti helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan, obrolan Sabtu siang itu juga mengupas tentang pentingnya kemampuan menghitung jarak aman dalam berkendara sepeda motor.

Testimoni
Bro David Sender yang terjatuh akibat selip di kawasan Industri Cikupa, Tangerang beberapa jam sebelum diskusi menuturkan, dirinya kian meyakini pentingnya helm. “Saat jatuh saya hanya menyebut nama Tuhan,” tukas pria gempal itu. Ia harus terjungkal dari sepeda motor bersama sang kekasih, ketika sepeda motor bebeknya selip saat mendahului sebuah truk. Luka ringan harus diderita pria berkacamata itu. Sedangkan luka cukup besar terlihat di dengkul sebelah kanan.
Maklum, data Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Banten mencatat, per Februari 2009, sepanjang 379,2 kilometer dari 889,01 kilometer ruas jalan provinsi di Banten rusak. Di antaranya ruas jalan Cikande-Lebak, yang dipakai untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Labuan Pandeglang dan Teluk Naga Tanggerang.
Pernyataaan David diamini Heriyono, anggota IBC. Pria yang sehari-hari sebagai jurnalis itu berbagi pengalaman soal kecelakaan yang ia alami beberapa waktu lalu. “Luka mengenai dagu saya karena hanya memakai helm half face, sejak itu saya beli helm full face,” tutur Heriyono.
Para peserta diskusi santai yang terdiri atas 15 bikers itu pun larut dalam interaksi yang sesekali diselingi canda tawa dan kepulan asap rokok.
“Pemahaman safety riding akan saya kembangkan pada anak MRC region Serang, supaya lebih safety lagi dalam mengendara sepeda motor,” ujar bro Dadoz, sekretaris MRC region Serang.
Maklum, ancaman sanksi pidana dan denda kini cukup ketat. Misal, berbelok tanpa memberi lampu isyarat bakal dikurung satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu. Manteb to? (edo rusyanto)

Senin, 11 Mei 2009

21 Jam ke Ujung Genteng


HAMPARAN pasir putih menggoda mata. Riak ombak menerpa sang pasir. Kala kaki menapak, ombak mengejar bak ingin menyapa. Hemmm....rona senja pantai Ujung Genteng selalu menggelora seiring deburan gemuruh di rongga dada.

Perjalanan sejauh 243 kilometer (km) dari Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat ke Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, amat melelahkan. Kantuk menggelayut di pelupuk mata. Maklum, perjalanan dimulai kala jarum jam menunjukkan pukul 00.12 WIB, Jumat (8/5/2009).
Dinginnya udara malam kian menelusup ketika derai gerimis mengguyur bumi. Roda Yamaha V-ixion merah terasa agak licin ketika melintas di aspal sepanjang Jl Raya Bogor hingga ke Cibadak, Sukabumi. Butuh waktu 9 jam 18 menit untuk menjangkau obyek wisata berpasir putih yang juga terkenal karena penyu hijau-nya.
Konvoy 12 sepeda motor dari beragam merek dan kapasitas mesin meluncur mulus. Satu-persatu titik kumpul (tikum) terlewati. Mulai dari Jl Juanda, Depok saat menjemput Tino dan Wisnu, lalu Jl Raya Bogor, Cimanggis tikum penjemputan Bani, stasiun pompa bensin umum (SPBU) Warung Jambu, Bogor, hingga SPBU 3443113 Cikembang, Sukabumi. Jarak Jakarta-Cikembang sekitar 104 km. SPBU ini menjadi tempat peristirahatan sebelum mengarah ke Pelabuhan Ratu. Udara cerah. Saat jarum jam menunjukkan pukul 04.42 WIB, konvoy yang melintasi jalan berkelok, sesekali berlubang, hutan jati, hutan karet, dan pemukiman, akhirnya memilih mesjid Jami Al-Qudsiyyah Cangehgar, Palabuhan Ratu untuk sholat subuh.
Jalan masih sepi ketika meninggalkan mesjid. Sempat kesulitan mencari pertigaan mengarah ke Ujung Genteng. ”Masih jauh, sekitar tiga jam lagi,” ujar seorang jamaah masjid, saat ditanya waktu tempuh ke Ujung Genteng.
Cuaca gelap menyulitkan pandangan. Setelah ’nyasar’ sekitar 3 km, akhirnya ketemu juga persimpangan itu. Ada dua jembatan, pertama Jembatan Kuning yang kini sudah tidak dipakai lagi dan jembatan baru yang aktif sebagai penghubung Citarik menuju Ujung Genteng.
Hasrat mengunjungi wisata pantai Ujung Genteng sudah menggelora sejak awal 2009.
Eksotiknya pantai dengan karang dan pasir putih, membuat kenikmatan tak pernah henti saat mata memandang. Belum lagi penyu hijau dan kehidupan nelayan dengan segala pernak-perniknya. ”Ujung Genteng bak Bali kecil,” tukas Acoy, ketua Panitia Touring ke-10 Independent Bikers Club (IBC).
Karena itu pula, perjalanan melintasi jalan berkelok dan berlubang sepanjang Kiara Dua menuju Jampang Kulon dan Surade, seakan tak melelahkan. Meski ada jurang di kanan kiri, namun pemandangan hutan dan kebun teh menjadi pengobat mujarab. Setelah bermotor hampir tiga jam, memasuki pukul 09.00 WIB, singgah di mulut Jl Surade Kota. Melepas penat dengan menikmati bubur kacang hijau dan segelas teh manis panas. Istirahat sepanjang 20 menit cukup memulihkan stamina. Aroma pantai terasa sudah mengelayut di seisi kepala, walau jarak Surade-Ujung Genteng masih sekitar 25 km. Pedal gas ditancap terus. Kecepatan bisa dipacu hingga 90 per km per jam. Maklum, jalan lurus dan mulus hingga ke ’gerbang’ kawasan Ujung Genteng.
Usai membayar restribusi Rp 2.000 per orang dan Rp 1.000 per motor, laju V-ixion pun dipacu lagi. Rimbunnya pohon kelapa di sisi jalan, seakan memberi isyarat, pantai sudah dekat. Aroma udara laut menyengat di hidung.
Tak sulit mencari letak Deddy Losmen. Di ujung Jl Ujung Genteng, kami berbelok ke kanan. Memasuki jalan conblock sekitar 300 meter dan jalan berpasir putih, serta sesekali melintasi genangan air keruh berpasir. Di kanan jalan, terlihat beragam penginapan. Sedangkan di kiri jalan, laut biru menghampar.
Deddy Losmen adalah penginapan sederhana. Pengunjung dikenai tarif Rp 350 ribu per malam per satu rumah yang berisi dua kamar. Kapasitas kamar bisa menampung maksimal 4 orang. Memili kamar mandi, ruang pertemuan dan beranda. Deddy Losmen memiliki tiga bangunan, termasuk satu aula. Halaman parkirpun lumayan luas, bisa menampung sekitar 100 motor. Dari beranda losmen, terlihat hamparan pasir putih pantai Ujung Genteng.
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, saat memutuskan untuk istirahat tidur sekitar tiga jam.

Air Terjun Cikaso
Kabupaten Sukabumi memiliki segudang obyek wisata air terjun. Semuanya terletak di pegunungan. Namun, yang tergolong unik adalah Curug Cikaso atau Air Terjun Cikaso. Jaraknya sekitar 33 km dari Ujung Genteng. Arahnya, kembali menuju jalan masuk Ujung Genteng. Waktu tempuh sekitar 40 menit. Keunikan obyek wisata yang gencar dipromosikan sejak 2002 itu, adalah para pengunjung harus naik perahu untuk menjangkau air terjun. Kawasan ini dikelola oleh pemuda sekitar. ”Namun, kalau retribusi Rp 2.000 per orang masuk kas Koperasi Warga Laksana,” ujar Rizal, pemuda yang ikut mengelola sejak 2007.
Untuk sewa perahu bermesin yang berkapasitas maksimal 10 orang penumpang plus 3 awak itu, setiap pengunjung dikenai tarif Rp 70 ribu per 3 jam. Ada sekitar 25 perahu yang beroperasi setiap hari melayani pengunjung. Berapa lama waktu tempuh berperahu? Ternyata tidak lebih dari 6 menit.
Tiga air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 30 meter itu benar-benar memberi pemandangan tak membosankan. Air di bawah air terjun berwarna hijau jernih. ”Dalamnya sekitar dua meter,” kata seorang pemandu.
Usai melantik dua calon anggota IBC yakni Supri dan Nasir, kami pun memutuskan untuk menikmati segarnya air terjun. Byurrr mandi bersama. Segar.
Udara panas pantai seakan lenyap di bawah air terjun. Maklum, sepanjang Mei ini, merupakan musim angin selatan. Ombak agak besar. ”Nelayan tidak melaut sejak 5 hingga 25 Mei,” jelas Kusnaidi, seorang pengepul ikan di pantai bagian barat Ujung Genteng. Rasanya masih kurang walau telah menghabiskan sekitar 75 menit bermain air di Curug Cikaso. Bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor agar berhati-hati. Jalan berbatu cadas akan menjamu bikers. Jalan yang memasuki areal parkir itu memanjang sekitar 100 meter. Jika tidak waspada, alih-alih bisa tersungkur. Sedangkan aspal sepanjang 8 km dari pertigaan memasuki kawasan PTPN VIII Cikaso tergolong mulus. Sekitar 1 km jelang curug, agak menurun dan sesekali berlubang. Tak pelak, ban roda depan motor Honda Revo milik Supri harus menjadi korban. ”Ban luar dan ban dalam saya sobek, terpaksa harus ganti baru,” papar Supri yang baru saja dilantik.
Jelang petang. Matahari masih gagah menyinari permukaan laut. Pemandangan matahari terbenam bak goresan maestro pelukis. Banyak wisatawan menghabiskan waktu bermanja-manja di tepi pantai. Ada yang berjalan kaki, bercengkerama dengan pasangan, hingga asyik berenang. Dan tentu saja, tak sedikit yang asyik memotret. Termasuk berpose untuk kenang-kenangan saat kembali ke kota. ”Pantainya indah banget. Asyik untuk dipotret,” ujar Mei Mei Riyanto, seorang pengunjung asal Jakarta. Gadis kelahiran Palembang itu seperti tak bosan berpose di bibir pantai. Bahkan, sambil dibenam pasir. Sesekali ia menyibak rambutnya yang sebahu guna menepis air yang luluh di wajahnya. Hemmm....
Hidangan malam dah tersedia saat usai mandi petang hari. ”Udah dipesenin menu ikan tuh,” ujar Nury, wartawati freelance yang hobby fotografi. Ia menjadi salah satu dari 3 lady boncenger yang ikut ke Ujung Genteng. Wanita berparas ayu itu memang ingin bener menikmati renyahnya ikan laut. ”Tapi agak susah mencari ikan saat ini,” ujar Deddy, sang pemilik losmen yang dimintai mencari menu ikan.
Kusnaidi memang sempat berujar, kebanyakan nelayan menjual ikannya kepada para pengumpul. ”Setelah itu, saya jual ke pabrik pengolahan ikan atau dijual ke Muara Angke, Jakarta,” paparnya. Para pengumpul untung besar. Bayangkan, beli ikan Rp 25 ribu per kg dari nelayan, mereka jual sekitar Rp 60 ribu per kg ke pabrik pengolahan. ”Harga ikan tergantung turun naiknnya dolar AS,” kata Kusnaidi lagi.
Usai santap malam. Niat mengunjungi kawasan konservasi penyu hijau pun digeber. Apa daya, baru saja melaju sekitar 50 meter dari penginapan, hujan deras menerpa kami. Segera semua berbalik arah. Nunggu hujan reda di penginapan. ”Killing time, kita ngobrol yuk,” ajak saya kepada beberapa teman. Jadilah perbincangan sana-sini mengalir sambil menikmati penganan kecil. Hujan tak jua reda. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Barulah setengah jam kemudian reda. Tapi semangat menuju lokasi penyu sudah luluh. Mungkin juga karena lelah.
Sekitar pukul 00.00 WIB, Eva dan Mei Mei saya minta istirahat tidur. Nury sudah lebih dulu. Para pria lain sedang asyik bercengkerama sambil menikmati sebatang rokok. Ada juga yang asyik bermain domino.
Lelap membawa saya ke peraduan. Hingga keesokan hari. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 08.00 WIB, saat tukang nasi uduk menjajakan dagangannya di depan pintu penginapan. Lumayan buat ganjel. Harganya Rp 6.000 per bungkus dengan menu telur bulat bersambal.
Masih sempat bermandi pasir dan menikmati segarnya air laut. Namun, sebelumnya jalan-jalan melihat pemukiman nelayan. Ternyata, angin selatan menggoyang perahu nelayan yang diparkir di sisi pantai. ”Hal ini sudah rutin, setiap bulan Mei, ombaknya cukup tinggi,” papar Kusnaidi.
Sekira pukul 12.50 WIB, Sabtu (9/5), konvoy IBC bergegas meninggalkan penginapan. Kembali ke Jakarta. Awan hitam terlihat menggumpal di langit. Baru berjalan sekitar 30 km, Alam selaku sweeper menginformasikan sebagian anggota harus mengisi bensin dan singgah di SPBU setempat. Selaku road captain, saya putuskan berhenti seraya sholat dzuhur di mesjid Ciparay, Jampang Kulon. Waktu menunjukkan pukul 13.50 WIB. Baru saja bergerak sekitar 1 km, hujan pun turun. Tidak ada pilihan. Berhenti menggunakan jas hujan. Hujan rupanya tak henti hingga kami harus singgah di sebuah mesjid untuk menjalankan sholat Maghrib, pukul 18.20 WIB, di kawasan Warung Kiara, Sukabumi. Atau sekitar 90-an km dari Jampang Kulon. Dingin menusuk tulang.
Ganti formasi, Acoy memimpin rombongan. Ironis, kondisi jalan yang licin dan kendaraan yang tidak fit membuat Supri terseok-seok. Tertinggal hampir 5 km di belakang konvoy. Kali ini, saya menemani selaku sweeper. Perjalanan yang melelahkan.
Hujan baru berhenti ketika kami tiba di kawasan Lido, di Jl Raya Sukabumi.
Sesekali bertemu konvoy bikers mengarah ke sukabumi. Mereka memakai light stick, sirene, bahkan strobo. Sabtu itu merupakan hari libur nasional yakni perayaan Waisak, hari besar umat Buddha, tak heran ramai bikers yang berangkat touring.
Perjalanan sepanjang Lido hingga SPBU Padjajaran, Bogor berlangsung mulus. Sesekali tersendat karena keramaian lalulintas di beberapa perempatan jalan, seperti di Cicurug dan Cijeruk. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika masuk SPBU Padjajaran. Kami briefieng ulang untuk rute. Maklum, sebagian anggota konvoy ada yang berbeda arah pulang. Alam dan Irfan menuju arah Parung, sebagian mengarah ke jalan baru Depok, dan sisanya menelusuri Jl Raya Bogor menuju arah Jakarta. Rasa penat terasa membelenggu tubuh ketika memasuki pintu rumah sekitar pukul 23.15 WIB. Lega rasanya, touring ke-10 IBC kali ini rampung dengan selamat. (edo)



foto: by tino dan bani




Jumat, 27 Maret 2009

7 Jam di Gunung Bunder

"BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?" Lalu..."Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?"

Lantas..."Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?"

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.

Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.

Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?


***

Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.

Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm...hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.

Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.

Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.

Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.

Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.


* * *

Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute baru menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.

Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.

Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.


Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.

Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.

Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.

Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.

Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.

Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,

Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.

Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.





Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

foto-foto: rio octaviano

Selasa, 27 Januari 2009

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian keempat-habis):











SUARA dering telepon di kamar hotel membangunkan kami. Suara di ujung telepon menyebutkan jadwal sarapan dan jadwal keluar hotel. Minggu (25/1), pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB, badan terasa lebih ringan. Segar rasanya walau tidur sekitar 5 jam. Maklum, sehari sebelumnya hanya tidur 2 jam. Setelah cuci muka dan menyantap pisang goreng sisa semalam, saya dan Jun meluncur menuju restoran Koi, Grand Seriti. Kami memasuki ruangan restoran yang tergolong luas itu tepat pukul 08.30 WIB dan nantinya keluar pada pukul 09.50 WIB. Menu sarapan di restoran bervariasi, mulai dari menu Indonesia, Eropa, hingga menu Asia. Saya memilih menikmati omelet (telur dadar dengan isi aneka sayuran dan daging), sosis, mie goreng, dan nasi goreng plus jus punch. Usai makan, sambil menghabiskan dua batang rokok, kami ngobrol dengan seorang teman dari Jakarta.
Matahari kian meninggi saat kami meninggalkan hotel. Sempat berpose sebelum meluncur. Seorang satpam menjadi korban kami untuk memotretkan dua bikers narsis dari Jakarta. Kami melenggang meninggalkan hotel pada 11.15 WIB. Dari Jl Hegarmanah kami melintasi Cihampelas, niatnya menuju Gedung Sate, gedung pusat pemerintahan kota Bandung. Gedung yang dibangun pada 27 Juli 1920 oleh penjajah Belanda itu menjadi ikon kota Bandung yang kini berpopulasi sekitar 2,3 juta jiwa.
Sepanjang Cihampelas yang terkenal dengan pusat jeans, lalin macet total. Kecepatan motor kami hanya 20/kpj. Harus cermat meliuk-liuk di sela beragam kendaraan pribadi yang didominasi pelat B. Puluhan bahkan ratusan kendaraan parkir di sisi jalan yang berjajar aneka toko, mulai factory outlet, resto, kerajinan hingga jeans. Terlihat juga kendaraan bus pariwisata pelat A (Banten) parkir sambil menurunkan wisatawan domestik (wisdom). maklum pekan ini libur panjang karena Senin (26/1) libur nasional Imlek, hari tahun baru Cina.
Perjalanan menuju Gedung Sate macet. Persis di atas jembatan Pasupati, Jun memberitahu bahwa Minggu pagi hingga pukul 12.00 WIB di sekitar gedung tersebut digelar pasar kaget. Praktis jalan di sekitarnya macet total. Jadilah niat kami batal ke sana dan balik kanan menuju Lembang.
Memasuki Jl Setiabudi menuju Lembang lalin macet. Lagi-lagi kendaraan wisdom memadati jalan yang menuju kawasan rekreasi Lembang. Kali ini mobil berpelat B juga mendominasi namun ada juga pelat A,E (Cirebon), KB (Kalimantan),bahkan BK (Sumatera). Cuaca cerah bahkan cenderung terik. Hingga jelang Jl Raya Lembang kemacetan masih terasa. Di kiri kanan jalan aneka spanduk kampanya calon legislatif (caleg) untuk DPRD dan DPR, ramai menghiasi trotoar demikian juga aneka bendera partai.
Lepas Rumah Sosis, pusat jajanan aneka sosis, jalan ramai lancar, motor kami bisa berpacu 40-60 kpj. Terlihat satu-dua delman melintas mengangkut penumpang dari dan menuju pasar. Angkutan tradisional itu harus bersaing dengan angkutan perkotaan yang bertenaga mesin.
Kami melepas penat di alun-alun diklat Lembang. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk membeli rokok, panganan kecil, dan air mineral. Pukul 12.45 WIB kami berangkat lagi menyusuri Lembang menuju gunung berapi, Tangkuban Perahu. Sekitar 16 menit, persisnya pukul
13.01 WIB, kami tiba di gerbang tempat rekreasi populer tersebut. Sempat berfoto-foto sebentar. Kami dikenai tarif tiket masuk Rp 33 ribu terdiri atas Rp 12.500 untuk masing-masing pengunjung dan Rp 4 ribu untuk tiap motor.



Di sela berfoto, kami melihat rombongn calon karyawan PT Perumka Bandung yang sedang digembleng latihan dasar militer oleh anggota TNI dari Pusdik Bandung. Menurut seorang instruktur, latihan di bawah rerimbunan hutan pinus di dekat gerbang itu ada 300 calon karyawan dari total 600 calon karyawan lapangan Perumka. Petugas di pintu gerbang mengatakan, jarak dari gerbang menuju kawah sekitar 5 km. Hampir 14 menit kami istirahat. Persis pukul 13.15 WIB, kami berangkat menuju kawah.
Jalan berkelok menanjak sepanjang 5 km. Sekitar 3 km berlubang dan berbatu, sesekali kami juga menemui kumbangan air berwarna coklat. Sempat kami berpapasan dengan beberapa wisatawan yang berjalan kaki dari arah kawah dan beberapa pengunjung yang berpose mengambil gambar di tengah jalan. Kecepatan hanya bisa dipacu 20/kpj. Kanan kiri jalan dipenuhi pohon pinus. Pucuknya meliuk-liuk ditiup angin di sela semerbak belerang yang meluncur dari atas kawah. Jelang 2 km ke kawah semerbak belerang kian menyengat di tengah sejuknya udara pegunungan.
Sementara itu, di pelataran parkir bus wisata yakni sekitar 1,2 km ke kawah, tampak terlihat belasan bus sedang parkir. Penumpang bus harus berjalan kaki menuju kawah. Jalan setelah lokasi parkir lebih mulus. Jalan tetap menanjak dan berkelok. Saat itu sudah mulai turun kabut. Terlihat antrean kendaraan pribadi mengekor skitar 1 km jelang parkiran kawah Upas, Ratu, dan Baru. Tampak petugas areal wisata sibuk mengatur kendaraan yang hendak naik maupun turun dari kawah.



Domas yang aktif
Setelah mencari tempat parkir yang nyaman, tepat 13.45 WIB, kami tiba di parkiran menuju kawah Domas, di bawah kawah Ratu. Kabut yang turun sudah berubah jadi gerimis. Di sekitarnya marak pohon mangarasa. Tumbuhan yang mirip pohon bakau itu pucuknya yang berwarna merah muda bisa menjadi lalapan dan obat sakit perut. Ribuan pengunjung tampak terlihat. Mereka sibuk menikmati pemandangan dan ada juga yang membeli cindera mata seperti topi bulu dan kalung batu.



Tangkuban Perahu memang cukup populer. Hal itu terlihat dari banyaknya wisatawan mancanegara (wisman) yang asyik menikmati pemandangan nan indah di gunung yang terletak sekitar 30 sebelah utara kota Bandung. Gunung yang wujudnya merupai perahu terbalik itu berada di ketinggian 2.084 meter dari atas permukaan laut. Menurut hikayat, Tangkuban Perahu terbentuk karena kesaktian Sangkuriang. Pria yang mencintai Dayang Sumbi gagal memenuhi permintaan calon pasangan hidupnya itu yakni membuat perahu dalam satu malam. Belum rampung perahunya, kokok ayam dah berbunyi yang berarti sang fajar bakal hadir. Karena marah, perahu tadi ditendang dan akhirnya menjadi gunung. Pastinya, gunung berapi yang terakhir meletus pada 1910 itu, memiliki 9 kawah baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif. Kawah-kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Upas, Domas, Baru, Jurig, Badak, Jurian, Siluman, dan Pangguyungan Badak. Kawah Ratu merupakan yang terbesar.
Menurut Esih alias ibu Meri, pemilik warung di depan kami memarkir motor, pengunjung Tangkuban Perahu amat ramai di hari libur. Kawasan yang dibuka untuk umum sejak pukul 6 pagi dan tutup jam 5 sore ini memang sudah terkenal.
Ia mengaku mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp 50-100 ribu per hari. Sedangkan biaya operasi tergolong lumayan besar yakni uang sewa lahan sekitar Rp 2 juta per tahun dan pungutan kebersihan dan keamanan yang jumlahnya Rp 2 ribu dan Rp 10 per hari. Di warungnya, Esih menjual aneka minuman ringan dan bir, mie instan, telur, dan sendal jepit. Warung itu beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Esih yang sudah berdagang sekitar 18 tahun di areal itu menyebutkan bahwa para pengunjung datang dari berbagai kota.
Niat untuk menyambangi kawah Domas, kawah paling eksotik karena masih aktif dan bisa memasak telur di atas kawah, terpaksa diurungkan karena turun hujan. Terlebih, waktu tempuh menuju kawah membutuhkan sekitar 30 menit dengan jalan yang cukup terjal. Akhirnya, kami memutuskan segera meninggalkan Tangkuban Perahu karena khawatir hujan kian deras sehingga perjalanan memikul risiko yang lebih tinggi. Tepat 15.00 WIB, ketika dingin kian menusuk, meninggalkan parkiran kawah Domas, menuju Jakarta.
Sekitar 25 menit dari Tangkuban Perahu, curah hujan kian deras. Kami memutuskan merapat ke warung di sisi jalan mengarah Subang.Sekitar 10 menit kami beristirahat sambil mampir ke toilet untuk buang air kecil.
Istirahat di warung pinggir jalan tanjakan Emen, tanjakan sepanjang 10 km dari arah Sariater, kami sempat menghirup segelah teh dan kopi hangat dengan ditemani sebatang rokok. Sementara itu, hujan kian deras. Di jalan, berlalu lalang motor dan kendaraan lain. Jalan licin, sesekali terlihat sepeda motor yang tersendat sehingga harus didorong. Sedangkan kebun teh di sisi kanan jalan tampak berkilau mendapat siraman segar air hujan.
Saat meninggalkan warung, hujan kian deras. Jadilah perjalanan diiringi curah hujan. Kondisi jalanan menurun dan cukup panjang, berliku. Jalan mulus, namun kecepatan hanya 20-40 kpj. Melihat jejeran nanas di warung pinggir jalan, hati kami tergoda. Setelah menawar, kami membeli 6 nanas seharga Rp 30 ribu.
Laju perjalanan kami tidak masuk ke kota Subang, melainkan belok kiri di pertigaan Wanayasa. Lalin di rute ini tidak seramai jalan utama. Bahkan cenderung sepi. Jalan mulus, berkelok, dengan pematang sawah di kanan kiri jalan. Dalam kondisi hujan kami masih mampu memacu motor di kecepatan 40-70 kpj.
Perjalanan kali ini cukup melelahkan. Guyuran hujan membuat perut kian keroncongan. Pukul 17.36 WIB, kami singgah di rumah makan Soto Sadang Asli, Purwakarta. Mengingat hujan sudah reda, kami istirahat melepas jas hujan kemudian makan soto ayam. Tepat pukul 19.01 WIB kami meluncur menuju Cikampek. Sempat tertipu rambu lalin karena posisi penempatan yang menurut kami tak lazim. Dari arah pertigaan Cikampek sebelum rel KA, kami melihat rambu lalin yang terbuat dari papan. Rambu tersebut tertulis arah Jakarta belok kiri, namun belokan ke kiri ada dua, mengingat rambu itu berada di tengah-tengah kedua belokan itu, kami memilih belokan yang kedua setelah menyeberang rel KA. Namun, ternyata itu keliru. Terpaksa balik kanan lagi.
Perjalanan dari Cikampek menuju Bekasi cukup mulus, walau sebagian ada yang bergelombang dan tidak memiliki penerangan jalan. Di ruas jalan ini agak banyak bus sedang dan truk yang melintas. Setelah sekitar dua jam berpacu, pada 21.01 WIB kami tiba di pertigaan Kalimalang menuju ke arah Bekasi Barat. Kami akhirnya menelepon bro Rio yang memang sudah janjian untuk singgah. Bro rio tinggal di perumahan Mutiara Gading Timur, Bekasi Timur. Kami disuguhi air jeruk hangat di kedai pecel lele di ruko depan kompleks Mutiara Gading Timur. Selanjutnya kami mampir ke rumah bro Rio. Sang nyonya ikut menyambut kedatangan kami. Meluncurlah kopi hangat dan kacang garing. Di sela perbincangan soal perjalanan duo touring, melintas tukang mie tek tek. Jun dan rio pesan mie tek tek goreng, sedangkan saya versi rebus. Sekitar 23.15, kami berpamitan. Saya menuju rumah di Cibubur, sedangkan Jun ke Pasar Hek, Jakarta Timur, tempat tongkrongan teman-temannya. Jarum jam tepat pukul 00.10 wib, ketika saya memarkir motor di rumah. (edo rusyanto)

Senin, 26 Januari 2009

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian pertama):

MALAM masih pekat. Mata masih berat karena kantuk menggelayut di pelupuk mata. Maklum, baru sekitar dua jam mata terpejam. Meski sudah tiba di rumah pukul 23.00 WIB, namun seperti malam-malam lainnya, mata sulit terpejam. guna mengundang kantuk, terpaksa membuka notebook dan menghidupkan internet speedy-nya Telkom. Sempat membalas beberapa email dan browsing sejumlah informasi, akhirnya kantuk datang juga.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 02.00 WIB ketika Ade Jun, reporter Koran Investor Daily yang bertugas di desk bursa, menelepon ke ponsel saya. Namun, belum sempat terjawab sudah keburu mati. Sontak saya telepon balik. Rupanya dia ingin memastikan titik ketemu dan jam pertemuan.
Sabtu (24/1), pukul 03.00 WIB rencananya saya dan Ade Jun meluncur ke Bandung, Jawa Barat. Inilah perjalanan pertama saya menggunakan sepeda motor ke kota yang berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta itu.
Semula, perjalanan menuju Bandung itu akan ditempuh sendirian. Setelah mencari teman perjalanan tidak kunjung dapat, tiba-tiba sekitar pukul 22.30 WIB, Ade Jun menawarkan diri untuk menemani. Rupayanya, dia juga ingin ngetes Pulsar hitam 180 cc. Motor teknologi India itu masih berumur beberapa bulan dalam tunggangan Ade Jun yang berperawakan tinggi besar.
Sekira pukul 02.50 WIB kami bertemu di kawasan Arundina, Cibubur, Jakarta Timur. Titik kumpul (tikum) itu hanya berjarak sekitar 2 km dari rumah saya. Ade Jun sedang asyik menikmati sebatang rokok dengan ditemani segelas kopi, ketika saya dengan Yamaha V-ixion merah 150 cc menghampiri dia yang duduk di rombong rokok pinggir jalan.
Kami berkoordinasi mengenai rute dan titik istirahat. Usai konsolidasi dan menetapkan rute yakni Jl Raya Bogor-Cisalak-Simpang Depok-Cilodong-Cibinong-Kedung Halang-Wr Jambu-Baranang Siang-Tajur-Ciawi-Cibogo, kami langsung meluncur sekitar pukul 03.05 WIB.
Di tengah udara malam yang menusuk tulang, terlebih Ade Jun belum sempat tidur sepanjang hari itu, perjalanan dua sepeda motor itu melaju dengan tenang. Baru sekitar 2 km dari tikum, persisnya di lampu merah (lamer) Cibubur, yakni pertigaan Cibubur-Jl Raya Bogor, kami terhalang oleh puluhan para pembalap liar. Puluhan sepeda motor dengan suara knalpot bising menutup jalan raya tersebut. Para pengguna jalan lainnya harus bersabar menunggu mereka start untuk saling balapan. Motor yang terlibat bervariasi mulai jenis bebek hingga sport. Para pesertanya mayoritas anak muda. Ironisnya, mayoritas tidak menggunakan helm, jaket, apalagi sarung tangan. Bahkan, ada yang memakai sandal.
Setelah tersendat oleh kerumuman pembalap liar tadi, kami memacu kecepatan penuh yakni sekitar 80-90 kilometer per jam (kpj).
Selepas Cibubur menuju Pasar Cisalak, perjalanan agak tersendat, karena dinihari itu aktifitas di pasar sayur-sayuran Cisalak sudah berdenyut. Melewati kawasan itu, kondisi jalan amat mulus dengan aspal jalan yang baru dilapis ulang serta ada pelebaran jalan. Sedangkan garis pembatas juga masih terlihat putih cemerlang karena tampaknya baru dicat oleh Dinas PU Pemda Bogor. Praktis sepeda motor bisa dipacu antara 80-90 kpj.

Cakar Ayam Masih Ada
Dari Cibubur ke Cibogo, Bogor, suasana jalan lengang, kendaraan bisa dipacu 80-100/km. Namun, menjelang Ciluar, Bogor, masih ditemui kondisi aspal yang sedang dirapihkan yakni dikeruk dengan alat berat menyerupai tanah yang dicakar oleh ayam makanya disebut cakar ayam. Ada dua cakar ayam yakni di Ciluar dan Kedung Halang. Sepeda motor yang melintas di atas cakar ayam harus memperlambat lajunya jika tidak ingin tergelincir. Kami pun memperlambat dan coba konsentrasi penuh agar tidak oleng. Maklum, sebelum menemui cakar ayam, laju kami masih cukup tinggi. Saat melintas di Baranang Siang, terminal bus Bogor, kami berpapasan dengan konvoy touring asal Jakarta. Selintas terlihat tulisan komunitas sepeda motor matic yang diproduksi PT Astra Honda Motor (AHM). Kami saling memberi salam via klakson dan lambaian tangan. Maklum, kecepatan kami mampu dipacu tinggi karena hanya dua motor, sedangkan mereka saya taksir sedikitnya 15 motor.
Laju sepeda motor agak dikurangi ketika mendekati simpangan Ciawi-Sukabumi. Dari arah Jl Tajur, kami menemui jalan yang bergelombang. Akibatnya, laju motor dikurangi guna menghindari guncangan yang terlalu mengganggu posisi duduk. Hikmahnya, rasa kantuk jadi sedikit terusir karena guncangan tadi.
Sekitar pukul 04.05 kami tiba di stasiun pompa bensin umum (SPBU) nomor 34.16706, Cibogo, Bogor. Kami mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax yang harganya Rp 5.925 per liter. V-ixion merah diisi sekitar 6 liter karena sisa sebelumnya masih ada. Kapasitas tangki 12 liter kini telah terisi penuh. Demikian pula Pulsar hitam. Full tanki.
Guna menghilangkan kepenatan, kami mampir ke toilet, menghisap sebatang rokok, dan minum air mineral. Istirahat dengan menikmati udara malam kami sempat menyasikan rombongan touring dari arah Jakarta maupun sebaliknya. Mulai dari jenis motor bebek, sport hingga choper (motor besar). Dinihari itu, suasana jalan lengang maklum jarum jam menunjukkan sekitar 04.20 WIB, ketika kami meninggalkan SPBU Cibogo. (edo rusyanto/bersambung)

Sabtu, 03 Januari 2009

Touring ke-8 IBC, Refleksi dan Penyegaran

KAWASAN Gunung Bunder, Bogor, masih gelap. Dua belas sepeda motor asyik meliuk-liuk di jalan aspal mulus menjelang kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani, Departemen Kehutanan. Dinihari jelang pukul 03.00 WIB, rombongan Independent Bikers Club (IBC) usai menempuh perjalanan hampir 72 kilometer (km) dari Jl Sudirman, Jakarta Pusat. Waktu tempuh hampir sekitar 3 jam melalui rute Jl Sudirman, Jl Gatot Subroto, Pancoran, Jl Raya Ps Minggu, Jl Margonda, KSU Depok, Jl Raya Bogor, Wr Jambu, Jl Raya Baru Parung, Yasmin, Darmaga, Cibatok, Pamijahan dan terakhir di Gn Bunder.
Tim yang mengendarai motor dipimpin Alam, ketua panitia touring ke-8 IBC, 26-28 Desember 2008. Di belakang alam terdapat Edo, Tata, Rio, Sontri, Ari, Irfan, Acoy, Rino, Hidayat, Indra, dan Ogenk. Sementara itu di mobil Bani, ikut serta Salma dan Euis serta Lau dan Kayo, putra putri Bani.
Setelah istirahat dan sarapan, sekitar pukul 09.00 WIB tim IBC bersiap-siap menempuh ritual berjalan menempuh air terjun. Sejak berdiri 30 Desember 2006 IBC telah menggelar 7 kali touring dan sudah 6 kali pula ritual berjalan ke air terjun dilakoni tim IBC. Selain penyegaran, saat di air terjun, IBC melakukan ritual pelantikan calon anggota menjadi anggota biasa IBC. Pelantikan dilakukan dengan penyematan pin. Selain itu, moment tersebut juga dipakai untuk penyerahan trophy bergilir pernikahan IBC. Trophy ini diberikan kepada anggota IBC yang menikah. Nama pasangan pengantin ditulis di trophy sekaligus lokasi dan tanggal pernikahan. Pemegang trophy akan digantikan jika ada anggota yang menikah selanjutnya.

Syukuran dan Refleksi
Pelantikan Sontri dan Rino berjalan mulus setelah menempuh perjalanan 500 meter dari lokasi villa Lokapurna, Gn Bunder. Lokapurna memiliki 3 villa dan 1 aula pertemuan. Perjalanan menuju air terjun Curug Ngumpet sempat tersendat karena tiba-tiba turun hujan, rombongan singgah di warung kopi di kawasan air terjun.
Usai pelantikan, rombongan menikmati makan siang di villa. Sebagaimana tradisi touring IBC, 15 anggota yang ikut touring kali ini terlibat dalam kegiatan aneka lomba kelompok. Hadiahnya beragam. Mulai dari yang terkait sepeda motor hingga flashdisc.
Aneka lomba menciptakan kesegaran bagi anggota. Jelang petang dan sholat maghrib, sebagian masih terlibat diskusi informal mengenai safety riding. Sebagian lagi mandi dan bersiap mengikuti refleksi akhir tahun IBC pada pukul 19.30 WIB.
Usai sholat isya, rombongan IBC satu per satu berkumpul di ruang tertutup villa seberang tempat menginap rombongan IBC. Edo sebagai ketua IBC mengajak seluruh anggota mengevaluasi kegiatan yang sudah dilakukan sepanjang 2008. Pada tahun itu, IBC menggelar 3 kali touring, 1 kali event ICE 2008, diskusi, bakti sosial, hingga 2 kali safety riding goes to school (SRGTS).
Refleksi kegiatan yang digelar selama satu tahun dan dua tahun IBC berdiri mendorong seluruh anggota untuk lebih solid dalam melakukan kegiatan pada 2009. Sedikitnya 13 kegiatan bakal digelar IBC pada 2009. Refleksi yang diselingi dengan penyerahan hadiah lomba dan pemutaran video safety riding ditutup dengan makan nasi tumpeng.
Pagi hari, skitar pukul 08.30 WIB, rombongan 11 motor IBC meninggalkan villa Lokapurna, maklum 1 motor yakni Rio, pulang lebih dulu sekitar pukul 04.00 WIB. Sebelas motor dan satu mobil turun menelusuri rute berbeda dibandingkan saat datang ke villa. Sempat dua kali, Alam yang memimpin rombongan keliru mengambil jalan. Untung segera diingatkan oleh Edo sang Ketua IBC.
Rombongan memutuskan untuk istirahat dan makan antara pagi dan siang di sebuah rumah makan di rute Gn Bunder-Curug Nangka. Usai makan, rombongan melaju menuju kota Bogor dan melintasi pertigaan Curug Nangka, tempat dideklarasikannya IBC dua tahun lalu. Jelang tengah hari, rombongan berpisah di Wr Jambu, Ari, Rino, dan Alam langsung pulang melalui rute Jl Baru Parung, selebihnnya menempuh jalur pergi yakni melalu jalan Pemda masuk dari Talang, Kedunghalang. Rombongan yang dipimpin Edo bersiap menuju Ragunan, Jakarta Selatan untuk menghadiri hari jadi ke-5 Honda Supra Jakarta (HSJ). Hanya Hidayat yang berpisah untuk langsung pulang ke Cibubur.
Jelang pukul 14.00 WIB, rombongan IBC yang menghadiri ultah HSC sudah berkumpul di Ragunan. Usai bersalam-salaman dengan ketum dan pengurus HSJ, Edo dan Tata, pulang lebih dulu. Selebihnya Sontri, Irfan, Ogenk, dan Indra masih bertahan. Sayup-sayup terdengar alunan musik dangdut dari lokasi perayaan hari jadi HSJ. (edo)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian