Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label rsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rsa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Januari 2010

Pengguna Jalan di Jakarta Sulit Disiplin?


AWAL pekan ini, saya dan Ketua Road Safety Association (RSA) Rio Octaviano diterima oleh Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Wakadishub) DKI Jakarta Riza Hashim, untuk sharing mengenai problem transportasi di Jakarta.

Dialogpun mengalir termasuk soal pentingnya aparat Dishub menertibkan disiplin para pengemudi angkutan umum.

“Selama ini sulit meningkatkan disiplin pengguna jalan. Karena itu, pendekatan kami adalah dengan pembangunan fisik. Misalnya, pembangunan busway. Ternyata bisa membuat disiplin penumpang yakni hanya naik dan turun di halte tertentu. Kami tidak bisa menegakkan hukum dengan menjaga ruas jalan tertentu dalam waktu 24 jam terus menerus,” kata Riza Hashim.

Ia pun membocorkan sedikit soal rencana aksi Dishub menata sistem transportasi Jakarta yang terkenal semrawut alias gak pernah lepas dari kemacetan. ”Salah satunya, kami akan membuat tempat khusus bagi mikrobus, lajur dan ketinggian pintunya akan kami atur,” papar Wakadishub.

Tingkat kedisiplinan pengguna jalan memang menjadi sorotan utama. Maklum, perilaku berkendara ternyata menjadi biangkerok alias penyebab kecelakaan lalu lintas jalan. Di Jakarta, sedikitnya setiap hari terjadi belasan kasus kecelakaan yang merenggut setidaknya tiga nyawa per hari.

Populasi kendaraan memang cukup tinggi di Jakarta. Data termutakhir pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya menyebutkan, ada sekitar 7,3 juta sepeda motor dan sedikitnya 3 juta mobil. ”Setiap hari ada pembuatan 300 surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan sekitar 500-an kalau digabung dengan Botabek,” tutur Riza.

Pergerakan warga, kata dia, sedikitnya sekitar 20,7 juta pergerakan setiap hari. Dan ironisnya, ”Angkutan umum hanya sekitar 88 ribu unit yang artinya hanya mampu melayani 1,5% kebutuhan transportasi warga,” tutur Wakadishub.

Tak aneh, jika kemudian warga Jakarta mencari alternatif transportasi, selain roda empat, kendaraan paling favorit adalah sepeda motor. Selain harganya terjangkau, sepeda motor dinilai lincah mensiasati kemacetan lalu lintas jalan.

Ruwetnya Pengadaan

Salah satu aspek penting dari sistem transportasi adalah rambu dan marka jalan. Jangan berfikir mudah mengatur soal yang satu ini. ”Untuk pengadaan barang untuk mengganti rambu atau lampu yang rusak, kami harus sabar menunggu pergantian APBD. Misal, kerusakan terjadi di pertengahan 2010, maka penggantian yang rusak baru bisa pada anggaran tahun depan,” keluh Riza.

Hal ini mengusik kita sebagai pengguna jalan. Bagaimana bisa lebih tertib dan lancar lalu lintas Jakarta jika rambu atau lampu pengatur lalin rusak. Ketatnya sistem keuangan pemerintah memang tak terlepas dari upaya mencegah terjadinya kebocoran keuangan negara. Tapi, apakah jika terkait keselamatan jalan tidak ada kelenturan birokrasi? Itu masih menjadi pertanyaan kita semua.

Riza mengakui, bahwa rambu atau lampu lalin bisa membantu pengguna jalan. ”Bahkan bisa membuat disiplin pengguna jalan,” papar dia.

Ia mencontohkan pemakaian perangkat hitung (counter) di setiap perempatan lampu merah. Alat yang menunjukkan berapa lama lampu merah itu, bisa membuat pengguna jalan menghitung waktu saat berhenti. ”Jika ada yang rusak, laporkan kepada kami ke no 021-3844022 dan 021-3457471 atau 021-3520778 untuk posko kami,” paparnya. (edo rusyanto)

Kamis, 28 Januari 2010

Azis Gagap Ngomong Safety Riding

Azis Gagap (foto:kapanlagi.com)

TIGA orang pemain organ tunggal ricuh. Mereka memperebutkan uang saweran. Baku hantam tak terelakkan. Sang penonton yang nyawer dan penyanyi organ tunggal kelihatan kebingungan. ”Mestinya yang ribut itu penonton, ini malah pemain organnya, bisa sopan gak?!” Sergah sang penonton itu.

Sejumlah orang yang ada di depan peristiwa itu bukannya melerai, mereka malah bertepuk tangan, senyum-senyum, bahkan tertawa lebar. Ada apa dengan masyarakat kita?

Pantas saja...., itu hanya penggalan dari shooting Opera Van Java (OVJ), sebuah tayangan komedi yang disiarkan Trans7 setiap Senin-Jumat pukul 20.00 WIB. Adegan tawuran tadi adalah scene ketiga atau terakhir dari shooting, Rabu (27/1), pukul 21.45 WIB, di Studio Guet, Perdatam Pancoran Timur, Jakarta Selatan.

Sang pemain organ, Andre, Azis, dan Sule kerap mengocok perut para penonton shooting maupun penonton siaran tv. Terlebih sang penonton, Parto Patrio yang berperan sebagai sang dalang dalam OVJ. Shooting malam itu juga dipermanis oleh sang penyanyi organ tunggal yang diperankan oleh artis ayu, Rini. Lalu, siapa sejumlah orang yang ada di depan panggung OVJ?

Ini dia....puluhan pengendara sepeda motor alias bikers yang dikoordinasikan oleh Road Safety Association (RSA). Sedikitnya yang tercatat ada 48 bikers, mereka berbaur dengan penonton lain. Dari atribut yang dikenakan terlihat di antaranya dari Komunitas Suzuki Thunder (Koster), Honda Supra Jakarta (HSJ), Yamaha Jupiter Owner Community (YJOC), SRC Depok, dan TRC 125. Bikers pun tertawa lepas. ”Seru dan menghibur,” ujar Bro Shasya, dari YJOC.
Sebagian bikers RSA usai nonton shooting OVJ (foto:hary)


Perilaku Bikers

Di tengah itu semua, Azis gagap, sang bintang OVJ mengaku, prihatin atas maraknya kecelakaan lalu lintas jalan di Jakarta. Maklum, di Jakarta rata-rata korban tewas mencapai tiga orang per hari, belum lagi belasan yang luka ringan dan luka berat. ”Tidak aneh terjadi kecelakaan karena pengguna jalan ugal-ugalan,” ujar Azis saat bincang dengan saya di sela shooting OVJ.

Azis yang kini juga sibuk menjadi host di Beauty and Azis (B&A), besutan Trans7, melihat faktor ekonomi dan sosial yang mendorong bikers tidak disiplin. ”Ada yang alasannya dikejar-kejar waktu untuk ke tempat kerja. Untuk yang seperti ini, menurut saya lebih baik berangkat lebih awal,” seloroh Azis yang malam itu naik Suzuki X-Over putih, B 1458 BFV dengan masa berlaku pelat nomor hingga 2014.

Saat saya singgung pentingnya lawakan atau candaan dalam OVJ maupun B&A diselipi dengan ajakan agar penonton lebih disiplin saat berkendara di jalan, Azis antusias. ”Bikinin aku bahannya, nanti aku bacakan dalam B&A,” tukas komedian itu.

Terkait pentingnya bersepeda motor yang aman dan selamat (safety riding), Azis juga mengingatkan agar pengendara jalan lebih tertib karena jumlah polisi lalu lintas jumlahnya tidak imbang dengan pengguna jalan. ”Selain itu, harus banyak bersabar,” katanya.
Sekadar penyegaran, di Jakarta saat ini sedikitnya terdapat 7,3 juta sepeda motor dan sekitar lima juta mobil.

Tayangan seperti OVJ yang kerap mengocok perut penonton bagi saya bisa menjadi salah satu pintu masuk mengajak pemirsa berlaku santun saat di jalan. Sebuah ajakan yang masuk tanpa menggurui dengan gaya rileks banyolan pelawak, bisa masuk ke alam bawah sadar pemirsa. Muaranya, diharapkan pemirsa lebih sadar bahwa berkendara yang tertib bisa membahagiakan banyak orang, termasuk orang tercinta yang menunggu di rumah. (edo rusyanto)

Minggu, 06 Desember 2009

Sharing Safety Riding di Ultah HSJ


foto:benny


HARI ulang tahun (ultah) Honda Supra Jakarta (HSJ) ke-6, Minggu (6/12) siang, menjadi terasa berbeda. Tidak melulu diisi pesta meriah seperti alunan musik dangdut atau atraksi keterampilan bersepeda motor (free style). Syukuran di Gedung Dinas Kelautan, Bambu Apus, Jakarta Timur itu, juga diisi dengan berbagi mengenai keselamatan bersepeda motor (sharing safety riding).

Tim Road Safety Association (RSA) tampil penuh dipimpin Bro Rio Octaviano selaku ketua. Tampak hadir Edo Rusyanto, Benny, Ecko Gibrant, Ipank, Ndhee, Yudhi, Lusi, Imel, dan tentu saja Riezha, yang juga Ketua Harian HSJ selaku tuan rumah. Sedangkan dari jajaran Penasihat RSA, hadir bro Syamsul.

Tak pelak, dalam suasana hari jadi yang dihadiri ratusan bikers itu, meluncurlah berbagai topik yang dibawakan dengan santai, kekeluargaan, dan tetap kritis dengan analisis mengenai aturan lalu lintas. Bahkan, guna mencairkan suasana digelar beberapa kuis dengan hadiah mulai dari kaos, tas, hingga helm.

Topik yang termasuk hangat adalah soal larangan penggunaan knalpot bising. ”Aturan soal knalpot tidak boleh bising masih rancu karen gak ada keterangan berapa decibel yang diperbolehkan. Hal itu merugikan para pengendara,” tukas bro Yudi dari Kompac.

Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 22 Juni 2009 mengatur sanksi untuk bikers yang memakai knalpot bising. Tengok saja pasal 285 ayat (1) yang intinya memberi sanksi kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Sontak bro Rio Octaviano, sang ketua RSA mengamini. “RSA memang tergerak mensosialisasikan aturan baru soal lalu lintas, namun juga akan mengkritisi aturan yang tidak sesuai,” papar Rio.

UU tersebut memang hingga awal Desember 2009 belum memiliki peraturan yang merinci perundangan, baik itu peraturan pemerintah (PP) maupun peraturan Kepala Kepolisian RI (Perkap).

“Itu berarti belum bisa dipraktikan dong,” tanya bro Arya, dari Ding Dam Community.

Faktanya, di beberapa tempat sudah mengimplementasikan hal itu. “Kepolisian memang bisa melakukan razia jika suatu aktifitas dianggap mengganggu masyarakat,” jelas Rio.

Bro Yoyo, dari Supra Anjing Surabaya (SAS) membeberkan razia soal knalpot bising dan pemakaian spion satu di sepeda motor. “Di Surabaya, spion satu ditilang dan knalpot bising dipotong langsung di tempat jika terkena razia polisi,” paparnya.

Sharing mengenai UU No 22 tahun 2009 juga menyinggung soal larangan berboncengan lebih dari satu orang, artinya, satu sepeda motor hanya untuk mengangkut maksimal dua orang. “Kalau tidak punya mobil, apakah anak kita harus ditinggal di rumah? Sedangkan kita ingin pergi sekeluarga,” ujar Bro Wawan.

foto:benny

Bagi Bro Syamsul, penasihat RSA, setiap bikers harus memprioritaskan keselamatan saat berkendara. “Kalau tidak memungkinkan, lebih baik naik angkot saja,” ujarnya.

Maklum, sanksi untuk bersepeda motor lebih dari dua orang seperti tertera dalam pasal 292, cukup merepotkan yakni kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.


Lampu Isyarat dan Sirene


Topik yang juga menyita perhatian adalah sharing mengenai pemakaian lampu isyarat dan sirene. “Menurut saya, jika pemakaiannya cukup bijaksana, semestinya tidak apa-apa. Bijaksana artinya tidak mengganggu orang lain,” tutur Bro Wossy, ketua Jakarta Motorcycle Community (JMC).


foto:benny

Bro Rio dan Bro Syamsul tergelitik. “Makna pemakaian secara bijak itu relatif. Bisa saja ditafsirkan orang lain sebagai sesuatu yang mengganggu. Karena itu, menurut saya pertimbangkan kembali pemakaiannya,” tukas Syamsul.

UU No 22 tahun 2009 khususnya pasal 59 mengatur tentang pemakaian lampu isyarat dan sirene. Pertama, untuk lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk kendaraan bermotor petugas kepolisian negara Republik Indonesia.

Kedua, lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk kendaraan bermotor tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, rescue, dan jenazah.

Ketiga, lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk kendaraan bermotor patroli jalan tol, pengawasan sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Peserta diskusi sepakat bahwa aturan melarang pemakaian lampu isyarat dan sirene oleh pihak yang di luar ketiga kelompok tersebut.

Seluruh aturan itu bagian dari upaya mengatur lalu lintas jalan agarr lebih aman, nyaman, dan selamat. Maklum, menurut bro Edo Rusyanto, korban akibat kecelakaan sudah amat memprihatinkan. Di Jakarta, pada 2008, rata-rata per hari tiga orang tewas, tujuh orang luka berat, dan 11 orang luka ringan, akibat kecelakaan di jalan. ”Secara nasional, setiap hari 50 orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas dan ironisnya sekitar 70% adalah pengendara sepeda motor,” kata Edo.

Karena itu, ujar Bro Benny, para pengguna jalan, khususnya bikers, harus memperhatikan tiga aspek yakni skill, rules, dan attitude. Menurut Benny, amat penting untuk mengikuti peraturan dan berkendara yang saling menghargai. ”Biasakan yang benar, jangan membenarkan yang biasa,” katanya. (edo rusyanto)

Rabu, 02 Desember 2009

Delta untuk Road Safety




WAJAH Raynia Atmadja terperanjat. Ia tak menduga kehadiran dua sosok pria menyodorkan angka-angka fantastis. Malam itu, mungkin menjadi hari yang berbeda bagi wanita berparas ayu yang sehari-hari beraktifitas di lantai 19 kompleks perbelanjaan Ratu Plasa, Jakarta.

Ya. Angka itu adalah 3711. Apa artinya? Begini, sepanjang 2008, korban kecelakaan di Jakarta setiap harinya rata-rata menelan 3 korban jiwa, 7 korban luka berat, dan 11 korban luka ringan.

Belum habis keterkejutan Raynia, dua penggiat Road Safety Association (RSA) Edo Rusyanto dan Benny menambahkan angka keramat lainnya. "Tiap satu jam, dua orang menjadi korban kecelakaan jalan di seluruh dunia," papar Edo, yang Rabu (2/12) malam itu bersama Benny dan Rio Octaviano didaulat bincang-bincang di studio Delta 99,1 FM, Jakarta.

”Wah..tiap hari di Indonesia korban yang tewas akibat kecelakaan di jalan sampai 50 orang,” seloroh Raynia, di sela break siaran.

Selama 60 menit, perbincangan seputar keselamatan berkendara di jalan bergulir dengan sesekali diselingi canda tawa. Perbincangan kian serius ketika menyinggung perilaku pengendara di jalan. ”Perilaku pengendara sudah di luar ambang batas. Karena itu RSA galakkan peraturan. Kalau sudah dipahami yang lain jadi pelengkap keselamatan di jalan,” tutur Rio yang sehari-hari menunggang Thunder 125.

Hal itu juga terlontar dari pendengar Delta FM yang dimintai komentarnya oleh crew radio tersebut. ” Pengendara sepeda motor tidak menghargai pejalan kaki. Mereka suka naik trotoar karena macet,” kata seorang pendengar.

Raynia selaku pembawa acara siaran malam itu sempat menanyakan tentang peran agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor dalam mengkampanyekan keselamatan berkendara. ” Meski ATPM memberi solusi atas belum terwujudnya sistem transportasi yang aman dan terjangkau, lewat produk mereka, namun ATPM kurang peduli untuk mengubah perilaku pengendara motor,” tukas Benny.

Tahun 2008, penjualan para ATPM di pasar domestik ditaksir sekitar 6,2 juta unit. Dengan asumsi harga rata-rata Rp 10 juta per unit, omzet di bisnis ini mencapai sedikitnya sekitar Rp 62 triliun. ”Namun, anggaran untuk kampanye safety riding saya perkirakan tidak lebih 1% dari pendapatan tiap ATPM,” papar Edo.

Di sisi lain, ujar Rio, RSA mendorong agar pemerintah mewujudkan sistem transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau. ”Penjualan otomatif yang tinggi menunjukkan sistem transportasi massal yang buruk,” katanya.

Perbincangan di ketinggian sekitar 50 meter dari bumi malam itu terus menerobos mindset pengguna jalan. Menyemburkan semangat tertib berkendara, termasuk saling berbagi jalan. Hingga ludes jatah waktu 60 menit, terasa baru secuil yang disampaikan kepada para pendengar Delta FM.
”RSA menekankan kepada peningkatan kepatuhan kepada aturan lalu lintas dan pentingnya saling menghargai serta berbagi jalan di antara sesama pengguna jalan,” kata Edo.
Tepat pukul 20.00 WIB, tiga serangkai RSA harus menyudahi siaran malam itu. Di luar sana, di sekitar Jl Sudirman, lalu lintas jalan masih dipadati oleh kendaraan roda empat dan sepeda motor. Malam terus bergulir, semoga kecelakaan di jalan kian menurun. (edo rusyanto)

Kamis, 22 Oktober 2009

RSA Berkunjung ke Pabrik Helm


foto:edo

Road Safety Association (RSA) bersama sejumlah anggota kelompok sepeda motor berkunjung ke pabrik helm PT Dinaheti Motor Industri (DMI), Cikarang, Jawa Barat, Selasa (20/10). Kunjungan tersebut bertujuan guna menambah wawasan tentang proses produksi helm, termasuk kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib untuk helm.

Helm merupakan kelengkapan bersepeda motor yang wajib dipakai oleh setiap pengendara atau penumpang sepeda motor. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 57 ayat 2 menegaskan bahwa setiap pengendara sepeda motor wajib memakai helm sesuai standar nasional Indonesia. Siapa saja yang melanggar aturan ini bisa dikenai sanksi kurungan maksimal satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu. Tujuan aturan ini jelas untuk melindungi pengendara sepeda motor terhindar dari risiko kecelakaan. “Luka paling fatal yang dialami pengendara sepeda motor adalah akibat cedera di kepala, ini terkait dengan budaya indisipliner pengguna sepeda motor terhadap peraturan lalu lintas,” tutur Rio Octaviano, ketua RSA.

Menurut dia, tujuan dari kunjungan ke pabrik DMI juga untuk sosialisasi kepada para pengendara sepeda motor, khususnya klub/komunitas pengguna sepeda motor yang berhimpun di RSA. Perwakilan klub/komunitas pengguna sepeda motor yang ikut kunjungan antara lain DeNyut RC, HSJ, Barac, Hornet, YJOC, Everbikers, Milys, Pulsarian Community, HTML, dan YVC Depok. "Klub/komunitas pengguna sepeda motor ini adalah agen penyebar virus road safety, diharapkan mereka dapat membagikan pengetahuannya ke masyarakat pengguna sepeda motor di lingkungan masing-masing anggotanya" tandas Eko Cahyo Wibowo, wakil ketua RSA.

Manajemen PT DMI menjelaskan soal proses produksi helm. Mulai dari pembuatan tempurung helm yang terbuat dari thermal polymer, pembuatan emblem SNI yang langsung di-emboss pada saat pencetakan, hingga pemasangan bagian dalam helm. Seluruh proses produksi harus memenuhi standar mutu ISO 14000 tahun 2008 dan produknya harus lolos uji standardisasi SNI 1811 tahun 2007. Dalam presentasinya GM Manufacturing Operation PT DMI Thomas Lim menjelaskan tiga macam jenis helm yaitu full face, open face dan half face. "Helm Half Face itu adalah helm cetok yang hanya melindungi bagian atas kepala, sedangkan helm Open Face melindungi bagian atas dan samping kepala sehingga lebih aman," jelas Thomas Lim.

RSA juga memperoleh penjelasan mengenai uji laboratorium SNI helm. Beberapa fase pengujian mencakup uji penyerapan energi kejut (impact energy), dilanjutkan uji penetrasi, uji chin strap, dan uji EPS shell. ”Tiap negara mempunyai kriteria sendiri-sendiri, tidak semuanya bisa disamakan standarnya. Pemerintah memiliki tim teknis yaitu Badan Sertifikasi Nasional (BSN) yang merumuskan standar kualifikasi SNI, bahkan standar SNI diakui lebih ketat dari standar DOT (Amerika) yang masih mengizinkan pemakaian helm half face (cetok)” papar Henry Tedjakusuma, direktur PT DMI.

Ketentuan SNI wajib untuk helm tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/Per/6/2008 tanggal 25 Juni 2008. Semula, ketentuan itu berlaku mulai 25 Maret 2009, namun diundur menjadi 25 Maret 2010 karena ada permintaan dari sejumlah produsen helm.

SNI mengacu kepada standar Japan International Standard dan standar Eropa Saat ini, produksi helm di Tanah Air berkisar 9-10 juta unit per tahun. Sebagian produsen juga telah mengekspor produk mereka ke pasar Eropa dan Amerika.

Henry juga menjelaskan bahwa helm produksi di atas April 2009 harus sudah mengikuti sertifikasi SNI. Adanya sertifikasi SNI ini selain menjaga kualitas produk juga mencegah kemungkinan importir pemasok helm impor yang kadaluarsa atau cacat produksi untuk mengedarkan produk gagal tersebut di pasaran Indonesia.

Berdasarkan data Depperin, selama ini hanya 7 dari 15 perusahaan helm skala besar yang mengajukan Sertifikat Produk Pengguna Tanda (SPPT) SNI. Ketujuh perusahaan itu antara lain PT Tara Citra Kusuma, PT Dinaheti Motor Industri (DMI), dan PT Tara Kusuma Indah (TKI).

RSA menilai, SNI cukup mumpuni untuk melindungi para pengguna helm di Tanah Air. Konsep perlindungan terhadap pengendara sepeda motor, khususnya terkait helm, juga telah disiapkan oleh pemerintah. Proses produksi helm akan diawasi oleh Departemen Perindustrian, lalu peredarannya diawasi Departemen Perdagangan, dan Departemen Perhubungan akan membuat regulasi pemakaian helm, sedangkan Kepolisian Republik Indonesia berperan selaku penegak hukum. “Sayangnya, ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka bila tidak diiringi dengan niat baik dan konsistensi dari berbagai instansi tersebut,” ujar Rio Octaviano.

Ia menambahkan, kegiatan penegakan aturan di lapangan masih tidak karuan. ”Masih banyak penyimpangan dan inkonsistensi” tuturnya. (edo rusyanto)

Jumat, 04 September 2009

Mudik Pakai Motor, Jangan Abaikan Kondisi Tubuh

Kamis, 3 September 2009 - 16:37 wib

Prasetyo Adhi - Okezone
Foto: okezone


JAKARTA - Sejak beberapa tahun belakangan, mudik menggunakan sepeda motor menjadi pilihan beberapa masyarakat untuk pulang kampung. Tapi perlu diingat, perhatikan kondisi tubuh.

Mudik menggunakan sepeda motor tentu berbeda dengan menggunakan mobil. Hembusan angin kencang selama perjalanan, dan juga berjibaku dengan kendaraan lain yang lebih besar seperti truk atau bus, tentu dibutuhkan stamina serta konsentrasi yang tinggi.

Karena itu, bagi pemudik yang hendak menggunakan roda dua, sebaiknya jangan abaikan stamina tubuh Anda. "Upayakan agar beristirahat minimal setiap dua jam perjalanan," pesan punggawa Road Safety Assosiation (RSA), Edo Rusia kepada okezone.

Selama waktu istirahat tersebut, gunakanlah waktu untuk melemaskan otot-otot tangan, kaki dan pinggang. "Sekira 10-15 menit cukup untuk istirahat," tambah pria yang aktif kampanye safety riding ke sejumlah bikers ini.

Dengan beristirahat, kata dia, bisa kembali melemaskan otot-otot yang tegang dan juga membuat tubuh kembali lebih segar setelah menempuh perjalanan jauh. Dengan begitu, diharapkan konsentrasi tidak akan menurun.

Apabila Anda berpuasa, Edo berpesan, sebaiknya jangan makan makanan berlemak terlalu banyak termasuk mie instan. Makanlah makanan bergizi agar bisa menampung energi yang dibutuhkan selama perjalanan mudik. "Perbanyak sayuran, buah, ikan, minum susu dan vitamin secukupnya," kata dia.

Dengan begini, badan akan tetap fit ketika diajak menempuh jarak jauh menuju kampung halaman. (uky)

Minggu, 09 Agustus 2009

Polisi Razia Bikers Ugal-ugalan


Sasaran Operasi Zebra Jaya 2009

foto:edo



Operasi Zebra Jaya 2009 mulai digelar besok (Senin, 10/8) hingga Rabu (19/8). Operasi Polda Metro Jaya (PMJ) yang mengerahkan sekitar 3.206 personel Lantas PMJ itu, menyasar pengendara sepeda motor (bikers) dan angkutan umum.
Khusus untuk bikers, polisi menitikberatkan pada tiga hal. Pertama, pengendara sepeda motor yang melawan arus, zig zag, dan memacu sepeda motor dengan kecepatan tinggi. Kedua, pengendara atau pembonceng sepeda motor yang tidak memakai helm. Ketiga, pengendara sepeda motor yang melanggar lampu merah.
Perwira Siaga Traffic Management Control (TMC) AKP Sugeng Budiono, mengatakan, pelaksanaan Operas Zebra Jaya 2009 mengedepankan tindakan penegakan hukum secara tegas. ”Namun humanis yang diawali dengan proses sosialisasi dan tindakan edukasi serta teguran tertulis (tilang),” ujar Sugeng, seperti dilansir, http://www.lantas.metro.polri.go.id, Minggu (9/8).
Situs tersebut memberitakan, Minggu, Ditlantas PMJ menggelar rapat kordinasi dalam rangka operasi tersebut. Pertemuan itu dihadiri oleh seluruh para Kasat Lantas DKI Jakarta dan pejabat teras Ditlantas PMJ, dipimpin oleh Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Condro Kirono.
Terkait pemakaian helm, dalam UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) termaktub sanksi kurungan badan satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu bagi bikers yang tidak mengenakan helm Standar Nasional Indonesia (SNI). Kita lihat saja, dalam operasi besok Polisi menerapkan UU yang diteken 23 Juni 2009 itu atau UU No 14 tahun 1992 tentang LLAJ.
Terkait operasi besok, kepolisian menyebutkan sasaran operasi adalah pelanggaran yang berpotensi menimbulkan kemacetan dan kemacetan lalu lintas khususnya kendaraan umum dan sepeda motor. ”(Operasi) ini dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat di bidang lalu lintas guna menciptakan Kamseltibcar Lantas,” tulis situs resmi polisi.
Sementara itu, sasaran untuk angkutan umum juga ada tiga, yakni, pertama, menaikkan dan menurunkan penumpang tidak pada tempat yang sudah ditentukan. Kedua, menurunkan penumpang tidak sampai terminal. Dan, ketiga, mobil pribadi yang digunakan untuk angkutan umum.
Di tempat terpisah, Ketua Road Safety Association (RSA) Rio Octaviano mengimbau, kepada seluruh lapisan masyarakat untuk membantu kelancaran operasi tersebut, dengan tetap menjaga kultur tertib dan disiplin berlalu lintas. Selain itu, ”Kita turut membantu memantau kinerja aparat di lapangan,” tulis Rio dalam pernyataan terbukanya, Minggu.
RSA membuka jalur untuk memberikan semua jenis testimonial atas fakta yang dilihat oleh seluruh pengguna jalan di DKI Jakarta. ”Testimonial dapat dikirimkan melalui e-mail ke sekretariat@rsa.or.id,” jelas Rio. (edo rusyanto)

Kamis, 16 Juli 2009

Belok Sembarangan Dikurung Satu Bulan




KERAP kita dibuat jengkel jika kendaraan di depan kita tiba-tiba berbelok tanpa memberi isyarat. Kalau sekadar jengkel masih bagus, andai saja berbuah benturan, yakinlah kedua pihak sama-sama dirugikan. Kalau dibumbui emosi, jadilah tarik urat leher yang tidak tertutup kemungkinan jadi tarik otot lengan. Memalukan.
Road Safety Association (RSA), sebuah LSM yang peduli soal keselamatan berkendara menyarakan beberapa tips untuk kita sesaat sebelum berbelok. Tips ini juga penting bagi bikers agar selamat dalam perjalanan.
Pengemudi yang bermaksud untuk membelok harus terlebih dahulu memperhatikan hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan ketertiban lalu lintas jalan:
a. Mengamati dengan cara menoleh dan/atau dengan mempergunakan kaca spion.
b. Sebelum memulai gerakan mengubah arah harus terlebih dahulu memberikan isyarat lampu penunjuk arah.
c. Menempatkan posisi kendaraannya pada lajur atau bagian mendekati luar lajur jalan.
d. Peringatan dengan alat penunjuk arah harus diberikan terus menerus selama berlangsungnya gerakan itu dan segera diberhentikan setelah gerakan itu selesai.
Sekadar informasi, pengendara yang berbelok atau berbalik arah tanpa memberi isyarat lampu penunjuk arah atau isyarat tangan bakal diganjar pidana. UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 294 menegaskan, ancaman pidana penjara satu bulan atau denda Rp 250 ribu.
Masih nekat belok tiba-tiba? (edo rusyanto)

Sabtu, 11 Juli 2009

RSA Gelar Safety Riding Course Untuk DNP




SEJUMLAH karyawan berseragam warna telur asin berdatangan memasuki gedung pabrik di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Sabtu (11/7) waktu baru saja menunjukan pukul 07.26 WIB. Para petugas satpam sibuk menyorotkan alat pendeteksi suhu tubuh ke retina para pekerja pabrik percetakan kemasan produk consumer goods milik penanaman modal asing (PMA) Jepang.
“Jika suhu tubuh mencapai 38 derajat celcius atau lebih, tidak diperkenankan masuk. Mereka diminta berobat atau beristirahat,” papar Wasis, satpam PT DNP Indonesia, saat ditanya kenapa para pekerja harus diperiksa suhu tubuhnya. Pemeriksaan suhu tubuh itu muncul saat kasus flu burung merebak, terlebih ketika mencuat lagi kasus flu babi yang sudah mencapai 52 kasus di Indonesia. Rupanya kedua penyakit flu itu dinilai bakal menghambat produktifitas para pekerja. Sang satpam yang memakai masker itu sibuk mengawasi pekerja yang masuk melalui dua pintu masuk pabrik yang sudah beroperasi sejak 35 tahun lalu itu. Sebagian karyawan berkendara sepeda motor untuk mencapai pabrik tersebut. PT DNP Indonesia memiliki 2.500 pekerja yang tersebar di dua pabrik. Satu pabrik lainnya berada di Karawang, Jawa Barat. “Sekitar 1.800 karyawan berada di pabrik Pulogadung,” ujar Prihono Adhi Nugroho, staff Kaizen Section alias HRD Department DNP.
Pagi itu, aktifis Road Safety Association (RSA) menjejakan kaki di pabrik tersebut guna menjalankan misi safety riding course (SRC) untuk sekitar 30-an karyawan DNP. Mereka dipilih secara acak berdasarkan jarak tempuh dari rumah ke pabrik. “Sebanyak 10 orang dari pabrik di Karawang dan 20-an dari Pulogadung,” jelas Adhi.
Tim RSA yang dipimpin Rio Octaviano membawa delegasi yang meliputi Edo Rusyanto, Benny, Ipank, Yudhi, Riezha, Imel, Lusy, Ndhee, Sontul, dan Lucky. Materi yang disajikan RSA disampaikan oleh Edo, Benny, dan Yudhi, sedangkan Rio berperan selaku moderator. RSA menyampaikan materi Fakta Kecelakaan, Persiapan Berkendara, Basic Riding Skill, Strategi Berkendara, dan Group Riding. Selain itu, RSA juga menggandeng LSM Kompos untuk materi Upaya Pertolongan Saat Terjadi Kecelakaan yang disampaikan oleh Zaenal. Sebagai pelengkap RSA menggandeng Kepolisian RI untuk Sosialisasi UU No 22 tahun 2009, tampil sebagai pembicara adalah AKBP Subono, Kasilat Subdit Dikmas Ditlantas Polri.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.55 WIB itu, cukup mendapat respons antusias dari para peserta. ”Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini dapat lebih safety lagi saat touring,” ujar Tedy, ketua DNP Motor Club yang asyik mendengarkan ceramah para pemberi materi.
Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja DNP Mahmud mengaku, usai pelatihan kali ini para peserta diharapkan menjadi pionir yang mampu menularkan pengetahuan soal safety riding kepada karyawan lainnya. ”Ini adalah latihan safety riding yang pertamakali digelar PT DNP,” papar Mahmud saat memberikan sambutan pembukaan.
Bagi RSA, seperti dituturkan Rio, program pelatihan seperti ini adalah upaya untuk menyebarluaskan pemahaman safety riding sehingga para bikers tidak harus memikul risiko kecelakaan di jalan raya. ”Kecelakaan tidak saja merugikan sang korban, tapi juga kepada keluarga dan lingkungannya,” tutur Rio.
Dalam pemaparannya, Edo menyodorkan fakta bahwa di Jakarta pada 2008 rata-rata korban meninggal akibat kecelakaan mencapai tiga orang. ”Secara nasional, 32 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan,” papar dia. Benny menuturkan, kecelakaan dapat diminimalisir dengan menerapkan konsep berkendara yang benar. ”Termasuk dalam berkendara secara berkelompok atau group riding,” ujar Benny.
Antusiasme peserta berbuah. Dari hasil penilaian materi pre dan post test, terjadi peningkatan. ”Nilai rata-rata pre test 49,5, sedangkan nilai rata-rata post test mencapai 69,5,” jelas Yudhi.
Sementara itu, peserta juga dibuka wawasannya terkait upaya menolong korban kecelakaan. Mulai dari cara mengangkat korban hingga upaya pertolongan pertama jika korban mengalami gangguan pernafasan. Terkait penegakan hukum, AKBP Subono mengaku, pihaknya tidak memberi toleransi kepada pelanggar lalin. ”Karena itu, jangan coba-coba menyuap Polantas,” tegasnya. Ia membeberkan aneka sanksi denda dan pidana bagi kasus kecelakaan lalin.
”Denda Rp 12 juta jika penyebab kecelakaan menimbulkan kematian atau kurungan 6 tahun,” ungkap Subono. (edo rusyanto)

Minggu, 14 Juni 2009

Pekik Safety Riding di Pantai Ancol

RIBUAN orang memadati pantai Carnaval, Ancol, Jakarta Utara. Minggu (14/6), sekitar pukul 12.55 WIB, mereka menatap panggung berukuran raksasa sekitar 30x20 meter. Terik matahari seakan tak meruntuhkan semangat mereka menyimak ‘ceramah’ tentang berkendara yang aman dan selamat (safety riding/SR).
Ya. Diterpa sepoi angin pantai laut Jawa, para karyawan perusahaan ekspress yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspress Indonesia (Asperindo) masih asyik menyimak. Walau, dari sekitar 11 ribu yang diperkirakan hadir dalam Gebyar Asperindo 2009, mayoritas sudah beringsut dari areal seputar panggung. Sebagian menikmati rekreasi pantai dan fasilitas lain di kawasan wisata tersebut. Mereka telah dihibur aneka rasa musik, mulai dari pop barat seperti lagu-lagu The Beatles, hingga pop nasional serta beberapa lagu rock. Tak lupa selingi pengundian doorprize dan diiming-imingi doorprize utama nonton MotoGP di Jerman.
Hemmm...apa masih menarik materi SR di tengah terik matahari? Sempat bertanya-tanya dalam hati, ketika tim Road Safety Association (RSA) yang dipimpin sang ketua Rio Octaviano, dewan pembina Syamsul Maarif, ketua dan divisi litbang RSA Edo Rusyanto dan Benny, serta divisi humas Yudhi Bewok, memasuki pelataran pantai Carnaval.
Pertanyaan itu terbantahkan, ketika Syamsul membuka ‘ceramah’ dari atas panggung tentang keberadaan RSA sebagai LSM yang peduli kepada SR. Ia memperkenalkan tim yang datang siang itu.
Edo membuka materi penyuluhan seputar tingginya angka kecelakaan yang diderita pengendara sepeda motor (bikers). “Kenapa terjadi kecelakaan?” Pertanyaan pembuka dilontarkan Edo ke para penonton yang sontak dijawab dengan riuh. “Karena tidak pakai helm” ada juga yang menjawab lantang, “Helmnya tidak diklik dan hanya memakai helm cetok.”
Sepintas, peserta siang itu memahami pentingnya perlindungan diri saat berkendara. Edo melanjutkan dengan pemaparan data sepanjang Januari hingga 13 Juni 2009. “Sudah 39 jiwa bikers yang tewas di jalan Jakarta dan sekitarnya,” papar Edo. Pria yang juga ketua Independent Bikers Club (IBC) itu juga memaparkan jumlah korban luka berat dan ringan.
“Secara total, baik itu bikers, driver maupun pejalan kaki, korban yang luka dan tewas mencapai 311 korban, 77 diantaranya tewas,” jelas Edo.

PERAGAAN
Syamsul yang dedengkotnya RSA menyambung materi dengan pemaparan teknis SR. Mulai dari cara mendahului yang aman, cara pengereman, hingga pentingnya memeriksa kondisi sepeda motor sebelum berkendara. “Jangan sampai kita menambah jumlah korban kecelakaan,” papar pria yang juga penggiat SR di Honda Tiger Mailing List (HTML) itu. Bagi Syamsul, mengingat kecelakaan berpotensi merugikan secara ekonomi terhadap korban terlebih jika korban adalah tiang ekonomi keluarga, maka sebagai lelaki yang bertanggung jawab, sudah semestinya bikers berkendara dengan menerapkan kaidah SR.
Pemaparan Syamsul mengenai teknis berkendara diperagakan oleh Benny dan Yudhi. Benny dengan Yamaha 400cc-nya meliuk bersama Yudhi yang memakai Yamaha V-ixion 150cc. Mereka memperagakan cara mendahului yang salah dan yang benar. Juga cara berputar serta pengereman yang efektif.
Sebelum usai, Rio melontarkan harapan agar bikers lebih peduli kepada SR.
“Materinya tidak membosankan, hanya terlalu cepat,” ujar Boeray, salah seorang panitia yang juga menyimak ‘ceramah’ RSA.
Sementara itu, panitia sekaligus peserta lainnya, Teddy bahkan memiliki ide agar dibuat suatu forum yang lebih intens. “Kita bisa rancang kegiatan pelatihan yang lebih serius bagi anggota Asperindo,” ujarnya.
Matahari masih di ubun-ubun saat tim RSA meninggalkan Pantai Carnaval, Ancol. Tiga puluh lima menit waktu yang terpakai siang itu terasa amat singkat. Setidaknya, satu lagi virus SR tertanam di benak masyarakat, khususnya warga Asperindo yang hari itu merayakan ulang tahunnya ke dua puluh tiga tahun. (edo rusyanto)

Selasa, 09 Juni 2009

Kopdarling RSA di BikersMagz Juni 2009


Catatan Menyongsong Pekan Keselamatan Nasional

Adegan sinetron naik motor tanpa helm dan hanya helm cetok (foto:edo)





Melawan Kultur Yang Tak Mau Berubah

MEMASUKI rumah bercat putih dengan pagar besi di kawasan perumahan Pulo Mas, Jakarta Timur, terasa teduh. Di halaman tampak parkir dua motor gede besutan Harley Davidson. Ada beberapa motor lain, termasuk keluaran Happy trail. Sedangkan satu buah jeep putih juga tampak nongkrong di garasi.
Senin (8/6) sekitar pukul 20.10 WIB, sang empunya rumah, Drs H Indrodjojo Kusumonegoro alias Indro Warkop, belum datang.
Barulah pada 20.35 WIB, sang maestro komedian Indonesia itu nongol. Malam itu, tokoh yang terkenal sebagai bikers penunggang Harley-Davidson itu, usai ’kerja’ di Soraya Film, rumah produksi yang memasangnya untuk sinetron dan film.
Setelah menyapa dan menyalami kami dari Road Safety Association (RSA), Indro mempersilakan kami memasuki ruang tamu yang didiaminya sejak awal 80-an itu. Terdapat dua sofa kulit merah marun tua, selain dua bangku kulit tunggal. Di meja sudut terdapat patung kepala harimau belang, sedang di sisi sofa lainnya, berdiri tegar macan hitam yang diawetkan. Sementara itu, di sebelah pintu masuk terdapat kura-kura besar yang juga diawetkan. Mana pernak-pernik Harley-Davidsonnya? Jangan salah, di dinding terpasang lukisan besar terbuat dari kuningan sebuah motor besar dengan tulisan Harley-Davidson, sedangkan lima buah bantal sofa juga bertuliskan Harley-Davidson Motor Cycle. Untuk yang ini, di baliknya tertulis made in cina.
Ya! Anak pensiunan jenderal polisi ini memang menggandrungi motor besar di atas 500 cc besutan produsen asal Amerika Serikat (AS) itu. Bahkan, dalam pertemuan malam itu yang sejatinya ingin mengajak Indro masuk jajaran Dewan Pembina RSA, kental diwarnai perbincangan seputar Harley-Davidson. Mulai dari soal produk, sejarah organisasi pengguna Harley-Davidson di dunia dan di Indonesia, hingga soal mengurus perizinan motor tersebut. Maklum, mayoritas motor gede yang beredar di Tanah Air tidak memiliki surat alias bodong.

Membentur Tembok
Sulitnya membentuk perilaku yang tertib berkendara di jalan harus membongkar tembok kerancuan sistematis yang berdiri kokoh. Tembok yang tercipta di segala ini masyarakat, mulai dari aparatur, pengusaha, hingga masyarakat. ”Kita melawan sebuah kultur yang terlihat tidak mau berubah. Itu yang aku rasakan. Aparatnya bisa berkendara melanggar ketentuan yang ada. Perjuangan harus sabar dan pelan-pelan, mulai dari keluarga dan teman-teman kita,” ujar Indro yang pernah menjadi polisi dalam film Cara Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial (Chips, tahun 1983).
Ia bertutur bagaimana peliknya perilaku aparat penegak hukum yang memiliki ego sektoral saat bertugas di jalan raya. Belum lagi perilaku pengusaha seperti dunia hiburan yang tidak mementingkan keselamatan berkendara dalam karya sinetron dan film-nya. ”Mereka takut ratingnya gak bagus, sehingga tidak peduli dengan idealisme,” papar pria kelahiran tahun 1958 itu. Indro menyoroti itu terkaitt dengan banyaknya sinetron yang menayangkan adegan naik motor namun tidak memakai helm. Padahal, kewajiban memakai helm tertuang dalam Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) maupun dalam RUU LLAJ yang telah disahkan pada 26 Mei 2009. Sanksi bagi pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm juga cukup tegas. Ada sanksi denda sebanyak-banyaknya Rp 250 ribu dan sanksi kurungan badan selama-lamanya 1 (satu) bulan.
Jika sinetron yang memiliki kemampuan mempengaruhi masyarakat secara luas menyebarkan pemahaman seolah-olah membenarkan naik sepeda motor tanpa helm, berarti para produser dan pemilik modalnya membenarkan sesuatu yang keliru. Mengenaskan.
Meskipun, Ketua Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia Giri Suseno menyangsikan implementasi aturan yang cukup kuat tadi dapat berjalan mulus. ”Koordinasi antar instansi terkait harus diperbaiki,” papar dia suatu ketika.
Mantan menteri perhubungan itu menyoroti bahwa kesadaran berkendara yang aman dan selamat harus terus digelorakan oleh masyarakat. Di sisi lain, kata dia, butuh juga sebuah gerakan yang menasional. ”Butuh sebuah kesepakatan seluruh instansi yang terkait, mulai dari kepolisian maupun birokrasi bahkan termasuk kementeri negara BUMN yang membawahi perusahaan-perusahaan milik negara,” ujar Giri.
Dalam kondisi masyarakat permisif dan aparat yang terbatas jumlah dan kesadarannya menegakkan hukum, gerakan moral menyuarakan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) menjadi sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Meski terkesan sekadar berbisik di tengah gemuruh mesin keangkuhan, upaya menggulirkan untuk saling menghargai sesama pengguna jalan suatu ketika bakal membuahkan hasil. Terlebih, fakta menyebutkan sebanyak tiga nyawa melayang sia-sia setiap hari sebagai korban tewas di jalan.
”Tidak ada toleransi dalam penegakan hukum. Untuk memperbaiki citra suatu bangsa dan citra polisi adalah benahi etalasenya yakni polantas. Tindak tegas pelanggar lalin,” tegas Indro.
Pemerintah bakal menggelar seremonial Pekan Keselamatan Nasional Ketiga pada 17 Juni 2009. Pada kesempatan itu kabarnya bakal digelar deklrasi seluruh instansi terkait untuk mengatasi meruyaknya kecelakaan sistem transportasi di Tanah Air. Sebuah deklarasi yang membutuhkan tindaklanjut lebih konkret. Bukan seremonial belaka yang lenyap ketika ’pesta’ usai. (edo rusyanto)

Senin, 01 Juni 2009

Program Kerja Ala RSA

foto:dok RSA

PENAT masih menggila. Seharian tubuh rasanya pegal-pegal. Gejala flu? Walauhuwallam.
Suasana kantin Nyi Ageng Serang, Jl HR Rasuna Said, Senin (1/6) malam, lumayan ramai. Saat kaki menjejak, sudah tampak Rio Octaviano, ketua Road Safety Association (RSA), Syamsul (Pembina), Eko (wakil ketua), dan sejumlah rekan divisi RSA seperti Ndee Siswandhi, Benny, Ridwan, Ditto, dan Yudhi Bewok. Di belakang deretan tempat duduk aktifis RSA berkumpul, tampak istri Rio. Wanita yang setia menemani hidup Rio termasuk dalam aktifitas di RSA. Suasana kantin diterangi lampu neon. Aneka panganan dan minuman dijajakan dalam bentuk kios-kios di kanan kiri kantin yang mirip lorong. Deretan bangku panjang dan meja memadati lorong tersebut. Setiap hari, di tempat tersebut tempat istirahat sejumlah polisi lalu lintas (Polantas) lengkap dengan motor 1.000 cc-nya. Di sebelah kiri kantin, terdapat lapangan Planet Futsal, sedang tak jauh dari situ adalah Gedung Pusat Perfilman nasional dan Pasar Festival, Kuningan, termasuk Gelanggang Olahraga Brojosumantri.
Malam itu, aktifis RSA sedang menggodok sejumlah program kerja. Di antaranya, program pelatihan safety riding (SR) untuk PT DNP dan program kampanye SR bekerja sama dengan Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia.
Bukan lantaran RSA tidak punya sekretariat jika pembahasan program kerja digelar di kantin umum. ”Di sini mencerminkan bahwa RSA memang berasal dari akar rumput,” ujar bro Syamsul yang juga pentolan komunitas Honda Tiger Mailing List (HTML).
Tidak ada perdebatan sengit seperti saat menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) RSA beberapa waktu lalu. Obrolan soal program kerja mengalir begitu saja, sesekali diselingi canda tawa.
RSA baru saja bermetamorfosa menjadi lembaga swada masyarakat (LSM), dari wujud semula sebuah organisasi yang dicitrakan menaungi klub atau komunitas sepeda motor di Jakarta. Cairnya sistem organisasi serta organisasi yang nirlaba membuat aktifitas orang di dalamnya mengandalkan kesukarelaan. ”Motivasi menjadi kunci karena kita tidak ada yang dibayar,” ujar bro Rio yang juga pengurus di Daihatsu Taruna Club (DTC).
Ya. LSM berbasis pada komitmen dan tanggungjawab. Namun demikian, tetap harus ada rambu dan aturan yang jelas sebagai pemandu aktifitas. Sehingga, tak ada lagi rencana besar dengan aktifitas kecil. Lebih elok jika rencana kecil bermanfaat besar bagi sekitar.
Malam merayap kian cepat. Menjelang tengah malam, saat segambreng program kerja disepakati untuk dijalankan, rapat ditutup oleh Rio. Tersisa sejumlah asa, bisakah RSA terus menggulirkan karya bermanfaat bagi para pengguna jalan. Waktu yang bisa menjawab. (edo)

Kamis, 21 Mei 2009

RSA Menjelma Jadi LSM



Suasana rapat RSA, Kamis (21/5), di Jakarta. (foto:edo)


REINKARNASI hal yang lumrah. Bagi sebuah organisasi hal itu merupakan bagian dari dinamika. Hal itu juga terjadi pada Road Safety Association (RSA). Lembaga nirlaba yang concern terhadap kampanye keselamatan berkendara di Indonesia itu, akhirnya merampungkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), Kamis (21/5) sore, di Jakarta.

“Akhirnya rampung sudah AD/ART RSA, semoga kita semua semakin bersemangat,” tutur Rio Octaviano, yang sore itu juga dinobatkan sebagai Ketua RSA untuk periode 2009-2010.

Pembahasan Kamis sore merupakan pertemuan kali ketiga sepanjang April-Mei 2009. Pertemuan pertama dilaksanakan di tempat yang sama dan pertemuan kedua 19 April 2009 di Pasar Motor, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Pertemuan ketiga yang dihadiri 7 anggota RSA yakni Rio, Ecko, Edo, Benny, Lucky, Riezha, dan Syamsul, berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 15.30 WIB.

Struktur Baru

AD/ART RSA memastikan organisasi yang didirikan pada 15 Desember 2007 di Jakarta itu, memiliki struktur baru yakni Dewan Pembina dan Dewan Pengurus. Dewan Pengurus terdiri atas Rio Octaviano (Ketua), Eko Cahyo Wibowo (Wakil Ketua), Irfan Susanto (Sekretaris), dan Lusi Pujihastuti Oktaviani (Bendahara). Selanjutnya Dewan Pengurus dilengkapi dengan lima divisi yang meliputi; Edo Rusyanto, Benny Novianugroho, dan Edy Cahyono (Litbang), Yudhi Dharma (Kesekretariatan), Nurdiansyah E Siswandhi dan Riezha Agus Susanto (Humas), M Sadaturrachman, M Ridwan, dan M Rahmat Faizal (Kegiatan), serta Lucky Junan Subiakto (Umum).

Sementara itu, dalam jajaran Dewan Pembina terdapat nama Syamsul Ma’arif dan RH Wibisono alias Cak Sontul. “Tiga nama lagi akan dicari nanti, saya sih berharap dari luar RSA saat ini,” papar Syamsul yang juga instruktur safety riding.

RSA yang sebelumnya bernama Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ) bertujuan menciptakan masyarakat pengguna jalan yang santun, saling menghargai, serta mentaati peraturan dan/atau perundangan lalu-lintas jalan.

Guna menindaklanjuti pertemuan Kamis itu, rapat RSA juga menetapkan tiga orang sebagai perumus untuk peraturan organisasi (PO) yakni Rio, Edo, dan Benny. “Pengesahannya nanti pada 30 Juni,” tutur Rio. (edo)

Rabu, 06 Mei 2009

Secuil Catatan Kopdarling RSA Mei 2009

BANYAK pengendara sepeda motor (bikers) lupa, kesabaran berpengaruh penting guna cegah kecelakaan. Kesabaran terbangun dari perilaku dan kesadaran diri kita. Mengejar waktu yang menyeret perilaku berkendara ceroboh membuka peluang kecelakaan di jalan raya. Padahal, ”Jumlah bikers yang tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya, sepanjang tiga bulan pertama 2009 jumlahnya naik sekitar 82% dibandingkan rentang waktu sama 2008,” tutur Edo, kepala divisi litbang Road Safety Association (RSA), di kawasan Mid Point, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5).
Edo memaparkan data RSA seputar kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya di hadapan 30-an bikers yang hadir dalam kopi darat keliling (kopdarling) RSA. Pertemuan itu digelar sebulan sekali berkeliling di antara kelompok sepeda motor yang tergabung dalam RSA. Hingga kin ada 70-an kelompok yang bernaung di organisasi yang dibesut 15 Desember 2007 itu. RSA semula bernama Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ).
Kembali soal perilaku sebagai kunci mencegah kecelakaan. Menurut Pak Yani, dari Direktorat Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Dephub), yang utama adalah kesadaran diri kita. ”Safety adalah kebutuhan, untuk diri sendiri, keluarga, dan negara,” papar dia, saat didaulat bicara dalam kopdarling yang kali ini digelar oleh Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC).

Peserta kopdarling kali ini dari beragam kelompok sepeda motor yakni Barac, YVC Tangerang, YVC Indonesia, Tirec, HTML Yogyakarta, Hornet, Independent Bikers Club (IBC), Ever Community, HOC, KHCC, HCST, Detic, S2W, HSJ, SC 225, Milys, YJOC, dan YJOC Jogya
Selain membangun kesadaran tiap individu bikers, kepatuhan terhadap regulasi yang ada seperti undang-undang dan peraturan pemerintah terkait pengaturan lalulintas jalan raya, juga menjadi mutlak. ”Setiap orang punya hak dan kewajiban oleh karena itu diatur supaya nyaman dan tertib yang bermuara ke keselamatan,” papar Syamsul, pendiri RSA.
Ya. Tanpa kepatuhan terhadap peraturan lalulintas mustahil ketertiban bisa tercipta. Mulai dari berhenti di belakang garis setop, tidak naik ke trotoar, tidak menggunakan sirene dan strobo serta tidak menggunakan lampu jarak jauh yang terlalu terang. ”Kita mengacu kepada peraturan, bukan atas suatu kesepakatan belaka. Landasannya adalah aturan hukum,” ujar Rio, sang koordinator RSA.
Dalam situasi berkendara secara kelompok, bagi Syamsul, setiap bikers harus lebih waspada lagi. ”Group riding berpotensi lebih besar menimbulkan kecelakaan ketimbang solo riding,” tukas Agus, dari Depok Tiger Club (Detic).
Karena itu, pengaturan jarak dan penempatan bikers dalam suatu group riding menjadi amat penting. ”Pengendara yang memiliki skill lebih baik diposisikan pada barisan belakang, yang skill di bawahnya ditempatkan di barisan depan,” papar Syamsul.
Kopdarling yang digelar mulai 20.18 WIB itu ditutup 21.34 WIB. Jadwal yang semula ditetapkan 18.30 WIB molor karena permasalahan teknis kelistrikan. Belum lagi miss understanding antara satuan petugas keamanan (satpam) gedung KONI dengan gedung Mid Point. Kopdarling ditutup dengan penyerahan buku karya Edo kepada Pak Yani dan Master YJOC Shasya 249. Satu persatu peserta meninggalkan arena kopdarling. (edo)

Selasa, 21 April 2009

Redzone Ganti Ketum

Siang ini saat membuka mailing list (milist) Road Safety Association (RSA) menemui sebuah pemberitahuan yang menarik. Email yang dikirim bro Haryo Widodo itu mengabarkan bahwa telah terjadi pergantian ketua di tubuh kelompok pengguna sepeda motor berwarna merah itu.

Selengkapnya email itu seperti dikutip berikut ini.

Sehubungan dengan adanya perkembangan internal, maka bersama surat ini kami beritahukan bahwa REDZONE: Red Moto Society telah memiliki kepengurusan baru yang secara sah diresmikan dalam forum kopdar 20 April 2009 yang dihadiri oleh sejumlah anggota dan 8 orang pendiri / founder.

Kepengurusan REDZONE yang baru dipimpin oleh bro Haryo Widodo #Redzer 011, menggantikan bro Agung Welaksono #Redzer 030 (terpilih saat Mubes 8 Maret 2009) yang dianggap telah mengundurkan diri secara tidak langsung, karena pasca terpilih hingga kopdar 20 April 2009 lalu yang bersangkutan tidak pernah ada kejelasan kabar, interaksi, dan informasi dalam bentuk apapun terkait dengan keberadaan diri dan tanggungjawabnya secara organisasi.

Maka terhitung sejak dikeluarkannya pemberitahuan resmi ini, segala urusan yang terkait dengan institusi REDZONE berada di bawah kendali dan tanggungjawab bro Haryo selaku Ketua Umum periode 2009/2010. Dan segala urusan yang terkait dengan nama dan eksistensi bro Agung, kini menjadi urusan pribadi dari yang bersangkutan, bukan dan tidak pernah menjadi urusan REDZONE secara institusi.

Demikian kami sampaikan pemberitahuan ini, agar dapat dipahami dan dimaklumi oleh semua pihak. Tetap jaga silaturahmi dan persaudaraan antar kita semua.

Atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih. Wassalam..

-Haryo Widodo-
Ketum REDZONE
2009/2010

Jumat, 27 Maret 2009

7 Jam di Gunung Bunder

"BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?" Lalu..."Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?"

Lantas..."Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?"

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.

Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.

Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?


***

Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.

Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm...hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.

Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.

Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.

Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.

Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.


* * *

Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute baru menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.

Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.

Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.


Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.

Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.

Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.

Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.

Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.

Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,

Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.

Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.





Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

foto-foto: rio octaviano

Minggu, 15 Maret 2009

Selamat Ulang Tahun Boeaya Motor

foto:dok rio


BOEAYA Motor. Sekilas mencerminkan kumpulan pengguna motor yang garang. Karena boeya atau buaya, adalah tergolong hewan yang ganas. Pemakan daging.

Ternyata persepsi itu keliru. Komunitas sepeda motor yang dirikan pada 4 Maret 2005 itu, justru memiliki kepedulian yang tinggi kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan lewat kegiatan sosial. Mereka memiliki tujuan menjaga perdamaian antar manusia dan lingkungan. Mulia.

Terkait hal itu, dalam mensyukuri ulang tahun ke-4 yang digelar pada 14-15 Maret 2009 di Pamulang Square, Kabupaten Tangerang, Banten, Boeaya Motor (BM), menggelar beberapa program sosial.

Menurut Ketua Panitia Acara Ultah BM dan Launching BISOF, Kastoebi Jr, mereka menggelar donor darah, menggalang pengumpulan buku-buku cerita anak, serta pakaian bekas layak pakai dan pakaian baru. “Kami juga akan meluncurkan (launching) Bikers Social Forum (Bisof),” tutur Kastoebi.

Forum tersebut, jelas dia, dibentuk oleh tiga komunitas di Jakarta Selatan yaitu Bintaro Tigers Club (Bintic), Big Shafa Riders Community (BSRC), dan BM.

Pria yang juga ketua umum BM itu, menjelaskan, ide Bisof mencuat ketika mereka menggalang bantuan kemanusiaan bagi korban kebakaran di Kamal Muara, Jakarta Utara pada 2008. Saat itu, ada tujuh kelompok sepeda motor. Mereka menggalang pengobatan gratis untuk 300 jiwa, menghimpun 1.200 buku tulis anak, dan ribuan alat tulis sekolah yang disumbangkan ke Sekolah Kamal Muara yakni sekolah swadaya dari masyarakat setempat untuk tingkat TK dan play group. Namun, dari tujuh kelompok tadi, mengerucut menjadi hanya tiga kelompok sepeda motor.

Selain itu, BM yang mengesahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) di Gunung Bunder, Bogor, pada 12-13 Mei 2007 itu, menggelar diskusi mengenai berkendara motor yang aman dan selamat (safety riding). “Acaranya kami gelar di Lt.2 Indoor food court Pamulang Square,” tutur Kastoebi.

Acara yang dimulai pukul 10.30 hingga 11.30 WIB itu, diikuti anggota BM dan beberapa bikers lainnya.

“Diskusi berjalan dengan sangat kooperatif dan sangat aktif, kamipun terlena dengan suasana tersebut, jarang ada klub yang sedemikian tertarik dengan masalah peraturan dan attitude berkendara,” ujar Rio Octaviano, koordinator Road Safety Association (RSA) selaku narasumber dalam diskusi yang digelar Sabtu (14/3).

Menurut Rio, seperti dikutip dari http://digitalmbul.com, diskusi diisi dengan sharing mengenai safety riding yang didominasi oleh sosialisasi peraturan dan attitude berkendara.

BM yang mengambil filosofi buaya sebagai hewan setia dan mampu beradaptasi di dua alam itu, tampaknya tetap solid dalam menekuni safety riding dan kegiatan sosial. Selamat ulang tahun bro. (ed)

Selasa, 10 Februari 2009

Notulensi RSA-HM Sampoerna

Agenda : Sharing Mengenai Kegiatan Safety Riding
Hari/Tanggal : Senin/9 Februari 2009
Tempat : Bakul Koffie, Jl Senopati No 92, Jaksel
Waktu : 19.50-21.30 WIB
Peserta : Tim RSA (Rio, Edo, dan Dito)
Tim HMSP (Jojo, Jessica, Bowo, dan Edwin)

===============================================================

Pertemuan Tim Road Safety Association (RSA) dan Tim PT HM Sampoerna Tbk pada kali ini merupakan yang pertamakali di sepanjang 2009.
Nuansa pertemuan bersifat semi formal. Pertemuan dibuka dengan saling memperkenalkan diri.

Jessica menerangkan bahwa dalam pertemuan kali ini, pihaknya ingin sharing dan mencari input mengenai kegiatan yang selama ini telah digelar oleh mereka yakni U Mild Bikers.
Jojo menambahkan, sebagai pertemuan anjangsana, diharapkan pihak mereka memperoleh input mengenai apa sih kebutuhan bikers mengenai keselamatan berkendara?
Sebelum masuk lebih jauh, Rio selaku Koordinator RSA membuka dialog dengan memperkenalkan aktifitas RSA. Mencuatlah berbagai program yang sudah digelar RSA seperti kopdarling ke anggota, terlibat dalam penyuluhan ke sekolah, hingga menyebarluaskan semangat berkendara yang aman dan selamat bagi para pemudik.
Selain itu, Rio juga memaparkan bahwa RSA tidak sekadar pada tataran wacana dalam mengkritisi perilaku pengendara di jalan raya yang tidak peduli keselamatan. RSA tak segan mengutarakan langsung kritik dan saran kepada lembaga terkait seperti Kepolisian, Dinas Perhubungan, hingga Departemen Perhubungan.
Rio menekankan bahwa sepak terjang RSA tidak semata soal keselamatan berkendara (safety riding) yang mengedepankan penguasaan teknik berkendara. LSM ini focus kepada road safety yakni penyebarluasan aturan atau perundangan yang menaungi keselamatan berkendara.
Edo menambahkan bahwa konsep yang bakal dikampanyekan RSA kedepan adalah bagaimana mengubah perilaku berkendara yang ugal-ugalan dan tidak menghiraukan keselamatan, menjadi perilaku yang santun dan bersahabat terhadap sesama pengguna jalan raya.
Rio juga menuturkan bahwa pihaknya bakal menggelar program SR dalam kerangka memperluas road safety, hingga ke pelosok akar rumput. Sasarannya adalah pengguna sepeda motor di tingkat RT/RW, karang taruna, hingga ormas dan orsospol.

Tim HMSP menegaskan bahwa konsep U Mild Bikers yang sudah digelar sepanjang tiga tahun terakhir, membutuhkan inovasi. Konsep yang sudah ada yakni safety riding course (SRC) yang diikuti 50 bikers per kegiatan, kemudian basic life support, games, atraksi freestyle sepeda motor, serta pembagian stiker sudah selaras dengan target marketing mereka yakni diikuti oleh peserta dalam jumlah besar. Bisa mencapai ribuan peserta di berbagai kota.
Mereka mengaku terbatasi oleh aturan yang menyebutkan bahwa kegiatan tidak boleh melibatkan usia di bawah 18 tahun, karena itu yang terlibat kegiatan U Mild Bikers harus menunjukkan KTP. Lalu, audiens adalah para perokok. Mereka tidak masuk jajaran ormas dan orsospol.
Pihak HMSP mengaku belum bisa menselaraskan kegiatan U Mild Bikers dengan program kerja RSA. Mereka mengakui idelisme yang diusung RSA belum sinkron dengan konsep marketing yang diemban produsen rokok itu.
Namun mereka mengisyaratkan, program yang dirancang RSA bisa saja dikawinkan dengan produsen rokok itu, namun di luar acara U Mild Bikers.
Namun Jojo dan Bowo mengisyaratkan, dalam konsep U Mild Bikers yang eksisting bisa saja memasukan materi yang sesuai dengan idealisme RSA.
Dalam konsep SR, program U Mild Bikers menerapkan strategi 80% soal teknis berkendara, sedangkan 20% nya adalah soal aturan dan perilaku.

Tim RSA menyatakan, konsep atau idealisme RSA tidak senantiasa dilakukan oleh RSA. Artinya, jika penyebarluasan pesan keselamatan berkendara gerakannya makin cepat, hal itu sudah cukup memuaskan. Sikap RSA dalam SR adalah 80% soal aturan dan perilaku, sisanya 20% soal teknis berkendara. (edo rusyanto)

Minggu, 08 Februari 2009

Berganti Jubah di TK Cempaka (bagian 2, habis)


Menurut Syamsul, RSA kehilangan kepercayaan dari pengurusnya sendiri, RSA berjalan tertatih-tatih dan hanya bertumpu pada energi dan semangat individu tertentu bukan sebagai organisasi. Ia menilai, semakin lama kondisi ini semakin parah sehingga akhirnya komunikasi, tindakan manajerial, ikatan di antara pengurus semakin hilang, yang jika hal ini tidak diatasi akan mengancam keberadaan RSA itu sendiri.
Dalam kacamata Reza, struktur Dewan Presidium mengakibatkan tiap anggota Depresi saling menggantungkan diri.
Argumentasi demi argumentasi meluncur dalam rapat, yang meminjam istilah Syamsul, rapat luar biasa. Mengenai figur pemimpin akhirnya disepakati Rio Octaviano. Sebelumnya, Edo sempat melontarkan nama Syamsul, namun buru-buru disanggah yang bersangkutan karena ingin lebih terlibat di belakang layar. ”Saya tetap hadir di RSA dalam aktifitas-aktifitasnya,” papar pria yang juga aktif di LSM Trotoar.
Cak Sontul, yang juga pendiri Honda Riders on Internet (Hornet) buka suara bahwa Syamsul lebih tepat di belakang layar. Jadilah, Syamsul yang sempat dicalonkan menjadi anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) pada 2007 itu, menjadi the man behind the scene.
Rapat yang dipandu Cak Sontul akhirnya memunculkan nama Eko Cahyo Wibowo sebagai wakil koordinator, mendampingi Rio. Eko yang juga Humas Internal dan External Bikers Aston Rasuna Community (Barac) tergolong getol dalam mengikuti kegiatan-kegiatan RSA. Pria pengguna Yamaha RX King itu bahkan rela untuk ‘membolos’ kerja demi aktifitasnya di RSA.
Setelah figur pemimpin terpilih, Syamsul yang membantu Cak Sontul memimpin rapat mengajak peserta rapat untuk menyusun divisi-divisi untuk RSA versi baru sekaligus menentukan figur kepala divisi (kadiv) nya. Muncullah Kadiv Litbang Edo di-backup Syamsul, kemudian Kadiv, Kadiv Kegiatan Dito dengan timnya Ridwan dan Rocky. Selain itu, Kadiv Administrasi dan Sekretariat yakni Fordy dibantu Bewok. Terakhir, Kadiv Humas Reza.
Malam kian larut, pertemuan yang dimeriahkan oleh cemilan kacang rebus, pisang goreng, dan minuman ringan fanta merah 200 ml itu, melaju mulus. Komitmen membara untuk terus mengibarkan bendera RSA di belantara dunia otomotif dan penyebarluasan keselamatan di jalan, terlihat menyala-nyala. Meski di luar ruangan, cuaca kian gelap karena Jakarta dirundung mendung. Kontras dengan pembentuk pengurus setahun sebelumnya yang berlangsung di SMPN 58 Jakarta. Pertemuan di sekolah lanjutan itu berlangsung pada siang hari.
Dalam pesan emailnya, Rio menulis, ”Terus terang, gue tadi malam itu speachless. Selain lagi gak enak badan, juga karena jumlah peserta yang hadir.
Gue kagum...karena ternyata jumlah jari di tangan ini tidak lagi merepresentasikan jumlah pengurus RSA. Terharu? Iya...karena ternyata masih banyak yang concern.”
Syamsul menuturkan, kepengurusan RSA akan berakhir pada 31 Desember 2009, jika struktur baru yang dirumuskan malam itu dianggap tetap valid untuk digunakan dalam menjalankan roda organisasi RSA dimasa datang, maka akan diteruskan untuk selanjutnya. ”Tapi jika diperlukan perubahan yang lebih signifikan maka akan ditentukan oleh mubes RSA tahun 2010,” ujar dia.
Waktu terus bergulir, sedangkan sayup-sayup terdengar suara halilintar di langit Jakarta. Cak Sontul menutup pertemuan sekitar pukul 23.00 WIB. Tepat pukul 23.22 WIB, 10 peserta rapat, kecuali Fordi yang memang pemilik rumah, meluncur ke kediaman masing-masing. Beruntunglah Rio dan Dito yang malam itu menggunakan angkutan umum. Pasalnya, sepanjang jalan hujan deras menerpa sekujur tubuh. Dalam perjalanan pulang terlintas harapan, semoga jubah baru dari TK Cempaka membawa RSA lebih menggeliat dan dirasakan manfaatnya oleh anggota. Selamat bekerja. (edo rusyanto)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian