Tampilkan postingan dengan label kopdarling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopdarling. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 Juni 2009
Rabu, 06 Mei 2009
Secuil Catatan Kopdarling RSA Mei 2009
BANYAK pengendara sepeda motor (bikers) lupa, kesabaran berpengaruh penting guna cegah kecelakaan. Kesabaran terbangun dari perilaku dan kesadaran diri kita. Mengejar waktu yang menyeret perilaku berkendara ceroboh membuka peluang kecelakaan di jalan raya. Padahal, ”Jumlah bikers yang tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya, sepanjang tiga bulan pertama 2009 jumlahnya naik sekitar 82% dibandingkan rentang waktu sama 2008,” tutur Edo, kepala divisi litbang Road Safety Association (RSA), di kawasan Mid Point, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5).Edo memaparkan data RSA seputar kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya di hadapan 30-an bikers yang hadir dalam kopi darat keliling (kopdarling) RSA. Pertemuan itu digelar sebulan sekali berkeliling di antara kelompok sepeda motor yang tergabung dalam RSA. Hingga kin ada 70-an kelompok yang bernaung di organisasi yang dibesut 15 Desember 2007 itu. RSA semula bernama Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ).
Kembali soal perilaku sebagai kunci mencegah kecelakaan. Menurut Pak Yani, dari Direktorat Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Dephub), yang utama adalah kesadaran diri kita. ”Safety adalah kebutuhan, untuk diri sendiri, keluarga, dan negara,” papar dia, saat didaulat bicara dalam kopdarling yang kali ini digelar oleh Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC).

Peserta kopdarling kali ini dari beragam kelompok sepeda motor yakni Barac, YVC Tangerang, YVC Indonesia, Tirec, HTML Yogyakarta, Hornet, Independent Bikers Club (IBC), Ever Community, HOC, KHCC, HCST, Detic, S2W, HSJ, SC 225, Milys, YJOC, dan YJOC Jogya
Selain membangun kesadaran tiap individu bikers, kepatuhan terhadap regulasi yang ada seperti undang-undang dan peraturan pemerintah terkait pengaturan lalulintas jalan raya, juga menjadi mutlak. ”Setiap orang punya hak dan kewajiban oleh karena itu diatur supaya nyaman dan tertib yang bermuara ke keselamatan,” papar Syamsul, pendiri RSA.
Ya. Tanpa kepatuhan terhadap peraturan lalulintas mustahil ketertiban bisa tercipta. Mulai dari berhenti di belakang garis setop, tidak naik ke trotoar, tidak menggunakan sirene dan strobo serta tidak menggunakan lampu jarak jauh yang terlalu terang. ”Kita mengacu kepada peraturan, bukan atas suatu kesepakatan belaka. Landasannya adalah aturan hukum,” ujar Rio, sang koordinator RSA.
Dalam situasi berkendara secara kelompok, bagi Syamsul, setiap bikers harus lebih waspada lagi. ”Group riding berpotensi lebih besar menimbulkan kecelakaan ketimbang solo riding,” tukas Agus, dari Depok Tiger Club (Detic).
Karena itu, pengaturan jarak dan penempatan bikers dalam suatu group riding menjadi amat penting. ”Pengendara yang memiliki skill lebih baik diposisikan pada barisan belakang, yang skill di bawahnya ditempatkan di barisan depan,” papar Syamsul.
Kopdarling yang digelar mulai 20.18 WIB itu ditutup 21.34 WIB. Jadwal yang semula ditetapkan 18.30 WIB molor karena permasalahan teknis kelistrikan. Belum lagi miss understanding antara satuan petugas keamanan (satpam) gedung KONI dengan gedung Mid Point. Kopdarling ditutup dengan penyerahan buku karya Edo kepada Pak Yani dan Master YJOC Shasya 249. Satu persatu peserta meninggalkan arena kopdarling. (edo)
Selain membangun kesadaran tiap individu bikers, kepatuhan terhadap regulasi yang ada seperti undang-undang dan peraturan pemerintah terkait pengaturan lalulintas jalan raya, juga menjadi mutlak. ”Setiap orang punya hak dan kewajiban oleh karena itu diatur supaya nyaman dan tertib yang bermuara ke keselamatan,” papar Syamsul, pendiri RSA.
Ya. Tanpa kepatuhan terhadap peraturan lalulintas mustahil ketertiban bisa tercipta. Mulai dari berhenti di belakang garis setop, tidak naik ke trotoar, tidak menggunakan sirene dan strobo serta tidak menggunakan lampu jarak jauh yang terlalu terang. ”Kita mengacu kepada peraturan, bukan atas suatu kesepakatan belaka. Landasannya adalah aturan hukum,” ujar Rio, sang koordinator RSA.
Dalam situasi berkendara secara kelompok, bagi Syamsul, setiap bikers harus lebih waspada lagi. ”Group riding berpotensi lebih besar menimbulkan kecelakaan ketimbang solo riding,” tukas Agus, dari Depok Tiger Club (Detic).
Karena itu, pengaturan jarak dan penempatan bikers dalam suatu group riding menjadi amat penting. ”Pengendara yang memiliki skill lebih baik diposisikan pada barisan belakang, yang skill di bawahnya ditempatkan di barisan depan,” papar Syamsul.
Kopdarling yang digelar mulai 20.18 WIB itu ditutup 21.34 WIB. Jadwal yang semula ditetapkan 18.30 WIB molor karena permasalahan teknis kelistrikan. Belum lagi miss understanding antara satuan petugas keamanan (satpam) gedung KONI dengan gedung Mid Point. Kopdarling ditutup dengan penyerahan buku karya Edo kepada Pak Yani dan Master YJOC Shasya 249. Satu persatu peserta meninggalkan arena kopdarling. (edo)
Label:
edo,
ibc,
kopdarling,
rsa,
safety riding,
yjoc
Sabtu, 31 Januari 2009
Kopdarling RSA di Pulsarian (Bagian kedua-Habis)

Terkait soal latah mengatur barisan atau konvoy, bagi pria yang bekerja di BUMN itu, perlu ditegakkan disiplin diri para peserta konvoy. Sudah wajib penerapan prosedur standar berkonvoy yakni membentuk kepanitian dan petugas konvoy. Mulai dari yang memimpin (road captain) hingga petugas sapu bersih (sweeper) yang menjaga barisan dari belakang. Prosedur standar haru diikuti oleh seluruh peserta, termasuk oleh senior.
Persiapan yang matang sebelum konvoy juga bakal membantu barisan menjadi lebih tertib. Perencanaan mencakup tujuan, rute, dan agenda apa yang akan dilakukan ketika tiba di tempat tujuan konvoy. Ia mengingatkan agar pengaturan waktu tidak terlalu mepet. Harus ada pengaturan jadwal istirahat yang cukup, terlebih jika menempuh perjalanan jauh hingga ratusan kilometer. Pemimpin rombongan juga diupayakan agar orang yang mampu membuat keputusan demi keamanan dan kenyamanan grup. Terkait perlu tidaknya memberi sinyal ketika di tikungan jalan. Syamsul menuturkan, setiap pengendara harus mampu membuat prediksi. Bisa saja mengurangi kecepatan, selanjutnya kembali ke kecepatan normal. Karena itu, dalam konvoy perlu dipertimbangkan keahlian berkendara (skill). Upaya menghindari accident ketika menemui tikungan terlebih yang berlubang, salah satunya adalah dengan memberi jarak di antara anggota konvoy. Upayakan konsentrasi tetap penuh terhadap jalan yang akan dilintasi, karena itu jangan memaksakan diri memberi sinyal tangan maupun kaki jika ternyata mengganggu konsentrasi berkendara yang justeru membahayakan diri. Sangat mutlak bagi tiap pengendara untuk mampu membaca kondisi sekitar. Ada baiknya sebelum bepergian mempelajari kondisi jalan yang bakal dilewati. Bikers juga harus mencaritahu tipikal pengguna jalan lainnya area itu dan mencermati rambu yang ada. Intinya, kata Syamsul, jaga jarak dalam konvoy dan kenali kondisi jalan.
Sharing dari Syamsul disimak secara antusias oleh peserta kopdarling. Waktu telah memasuki pukul 21.07 WIB. Gerimis masih saja turun. Bahkan ada indikasi bakal membesar.
Lampu Menyilaukan
Sang moderator, Rio mempersilakan peserta kopdarling menyimpulkan sendiri sharing yang terlontar dalam forum malam itu. Sekaligus mengajak, para bikers yang hadir dari berbagai komunitas di antaranya adalah Pulsarian, Thunder Riders Community (TRC). AN TV Riders Club (ARC), Yamaha Vixion Club (YVC), dan Yamaha Jupiter Owners Club (YJOC), untuk kembali sharing.
Bikers dari Pulsarian melontarkan topik mengenai lampu bercahaya terang atau lampu high intensity discharge (HID). Lampu jenis itu, kini kita temui dalam beragam warna cahaya yakni putih, biru, dan ungu. Ironisnya, lampu tersebut cenderung menyilaukan mata pengendara lainnya. Sang bikers meminta input bagaimana menghadapi lampu yang menyilaukan mata tersebut. Topik itu ditimpali Meli dari Pulsarian. Menurut dia, pemakai lampu yang terang mestinya di barisan depan saat berkonvoy di malam hari. Sedangkan untuk mengatasi kebosanan berkonvoy yang bisa membuat ngantuk, Meli milih di posisi barisan belakang.
Nde Siswandhi menimpali, bahwa dirinya sangat membenci lampu HID yang menyilaukan mata. Ia menyarankan, agar bikers tidak memasang di sepeda motornya. Terkait soal mengatasi rasa kantuk, bagi pria lajang itu, kecepatan jangan melebih 70 kpj. Dan, road captain harus bisa membaca kondisi sehingga tahu kapan mempercepat atau memperlambat konvoy.
Anggota Pulsarian lainnya menimpali bahwa dirinya memakai lampu HID karena pernah terjatuh gara-gara lampu standar sepeda motornya tidak mampu menerangi jalan sehingga ia tidak melihat separator jalan di kala hujan.Dalam berkonvoy, ia minta ditempatkan di bagian belakang dan jaraknya tidak terlalu rapat. Ia mengaku, tidak ingin arogan dalam berkonvoy dan bukan bertujuan gaya-gayaan dalam memakai HID.
Suasana malam kian dingin ketika rintik gerimis kian membesar. Bro Eko dari RSA menimpali bahwa penggunaan lampu sebenarnya sudah diatur dalam peraturan pemerintah. Intinya, lampu tidak boleh menyilaukan pengguna jalan. Pria pengendara sepeda motor Yamaha RX King itu, mengajak para bikers menggunakan lampu standar yang dibuat oleh pabrikan sepeda motor. Sedangkan soal mengatasi rasa kantuk saat berkonvoy, intinya ia mengajak agar para bikers membuat manajemen yang efektif ketika memutuskan untuk berkonvoy. Salah satu solusi adalah, ketika kantuk menyerang, konvoy harus berhenti untuk beristirahat. Atau, jika kondisi jalan memungkinkan seperti kondisi jalan yang lurus, bisa saja menambah kecepatan sepeda motor. Terkait penggunaan lampu bagi kendaraan, PP No 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi, telah mengaturnya dan melarang penggunaan lampu yang menyilaukan mata. Aturan itu termaktub dalam pasal 29 hingga 31 PP tersebut.
Terkait istirahat dalam mengatasi kantuk, Roki dari komunitas vespa Partisi juga punya pengalaman serupa. Ia membeberkan bagaimana menjadi pengawal konvoy touring kelompok sepeda motor Inuk Lady Bikers Club (ILBC). Menurut dia, tiap 45 menit, konvoy berhenti untuk beristirahat mengingat dalam rombongan terdapat anggota yang belum memiliki pengalaman bepergian jauh menggunakan sepeda motor. Soal permen, termasuk permen karet, dinilai cukup membantu untuk menghalau rasa kantuk.
Di sela sharing, ketika jarum jam memasuki pukul 21.26 WIB, tiba-tiba rombongan ARC dan TRC.
Sontak, sang moderator, Rio, meminta peserta yang baru datang untuk memperkenalkan diri.
Kenmada, penasihat ARC langsung membuka dengan ucapan terimakasih atas kesempatan untuk bisa hadir dalam kopdarling RSA. Ia juga memperkenalkan rombongan yang dipimpinnya termasuk ketua baru ARC. Menurut dia, kelompoknya memang baru berdiri dan harus banyak belajar mengenai berkonvoy dan safety riding. ARC mengandalkan anggotanya yang telah aktif di komunitas di luar ARC.Kenmada melontarkan sejumlah pertanyaan yakni apakah diperbolehkan blocking? Dan penggunaan lampu strobo dan sirene.
Sebelum sharing mengenai hal itu, Zulham YVC 180 yang datang bersama YVC 182 menyuarakan soal safety riding yang bersifat kejam. Menurut dia, YVC yang masih awam soal safety riding menerapkan sikap bahwa safety riding harus dimulai dari diri sendiri lalu orang lain. Terkait soal penggunaan sinyal bagi dia, harus dikomandoi oleh road captain sedangkan anggota konvoy sebisa mungkin menghindari lubang yang ada.
Rio yang sedari awal memoderatori kopdarling kali ini, rupanya tidak bisa memendam hasrat berbicara. Ia tergelitik soal perilaku blokir dan penggunaan sirene dan strobo oleh para bikers. Bahkan, Rio bertanya soal adanya anggota Pulsarian yang memperoleh izin menggunakan strobo dan sirene dari aparat di Yogyakarta. Menurut dia, hal itu bisa menjadi bahan diskusi di RSA maupun ketika berinteraksi dengan aparat berwenang. Soal blokir, kata pria yang juga aktif di komunitas roda empat daihatsu itu, aturannya sudah jelas yakni hanya bisa dilakukan oleh aparat yang berwenang. Masyarakat sipil tidak boleh. Salah satu solusi untuk menghindari penumpukan konvoy adalah dengan membuat pemberangkatan bertahap atau kelompok touring (klotur).
Di sela sharing soal safety riding, bro Ikbal, TRC 325 mengundang para bikers untuk ikut turnamen futsal yang digelar dalam rangka hari jadi ke 4 TRC pada Maret 2009. Ia yang mengaku salut melihat kekompakan bikers yang masih bertahan di tengah gerimis, mengundang 60-80 komunitas untuk berpartisipasi dalam lomba yang memperebutkan hadiah total Rp 6 juta. Komunitas atau klub yang ikut turnamen dikenai biaya Rp 125 ribu per tim. Satu kelompok hanya diperkenankan mengirim satu tim.
Di penghujung sharing, bro Tasha dari YJOC menuturkan, soal lampu hazard dan flip flop setiap klub hendaknya mengimbau anggota tidak menggunakan lampu tersebut. YJOC, kata dia, menertibkan dengan mengiimbau kepada anggota agar melepas lampu tersebut.
Rio menegaskan, lampu hazard hanya diperkenankan untuk kendaraan roda empat atau lebih. Kecuali memang ada produk tertentu dari ATPM sepeda motor seperti pada produk Kymco.
Gerimis makin membesar ketika jarum jam memasuki 21.48 WIB. Sebelum pertemuan ditutup Rio, bro Edo membagikan buku karyanya kepada perwakilan klub atau komunitas yang hadir. Sepuluh buku yang dibawa bro Edo terasa kurang karena masih ada yang belum kebagian. (edo rusyanto)
Persiapan yang matang sebelum konvoy juga bakal membantu barisan menjadi lebih tertib. Perencanaan mencakup tujuan, rute, dan agenda apa yang akan dilakukan ketika tiba di tempat tujuan konvoy. Ia mengingatkan agar pengaturan waktu tidak terlalu mepet. Harus ada pengaturan jadwal istirahat yang cukup, terlebih jika menempuh perjalanan jauh hingga ratusan kilometer. Pemimpin rombongan juga diupayakan agar orang yang mampu membuat keputusan demi keamanan dan kenyamanan grup. Terkait perlu tidaknya memberi sinyal ketika di tikungan jalan. Syamsul menuturkan, setiap pengendara harus mampu membuat prediksi. Bisa saja mengurangi kecepatan, selanjutnya kembali ke kecepatan normal. Karena itu, dalam konvoy perlu dipertimbangkan keahlian berkendara (skill). Upaya menghindari accident ketika menemui tikungan terlebih yang berlubang, salah satunya adalah dengan memberi jarak di antara anggota konvoy. Upayakan konsentrasi tetap penuh terhadap jalan yang akan dilintasi, karena itu jangan memaksakan diri memberi sinyal tangan maupun kaki jika ternyata mengganggu konsentrasi berkendara yang justeru membahayakan diri. Sangat mutlak bagi tiap pengendara untuk mampu membaca kondisi sekitar. Ada baiknya sebelum bepergian mempelajari kondisi jalan yang bakal dilewati. Bikers juga harus mencaritahu tipikal pengguna jalan lainnya area itu dan mencermati rambu yang ada. Intinya, kata Syamsul, jaga jarak dalam konvoy dan kenali kondisi jalan.
Sharing dari Syamsul disimak secara antusias oleh peserta kopdarling. Waktu telah memasuki pukul 21.07 WIB. Gerimis masih saja turun. Bahkan ada indikasi bakal membesar.
Lampu Menyilaukan
Sang moderator, Rio mempersilakan peserta kopdarling menyimpulkan sendiri sharing yang terlontar dalam forum malam itu. Sekaligus mengajak, para bikers yang hadir dari berbagai komunitas di antaranya adalah Pulsarian, Thunder Riders Community (TRC). AN TV Riders Club (ARC), Yamaha Vixion Club (YVC), dan Yamaha Jupiter Owners Club (YJOC), untuk kembali sharing.
Bikers dari Pulsarian melontarkan topik mengenai lampu bercahaya terang atau lampu high intensity discharge (HID). Lampu jenis itu, kini kita temui dalam beragam warna cahaya yakni putih, biru, dan ungu. Ironisnya, lampu tersebut cenderung menyilaukan mata pengendara lainnya. Sang bikers meminta input bagaimana menghadapi lampu yang menyilaukan mata tersebut. Topik itu ditimpali Meli dari Pulsarian. Menurut dia, pemakai lampu yang terang mestinya di barisan depan saat berkonvoy di malam hari. Sedangkan untuk mengatasi kebosanan berkonvoy yang bisa membuat ngantuk, Meli milih di posisi barisan belakang.
Nde Siswandhi menimpali, bahwa dirinya sangat membenci lampu HID yang menyilaukan mata. Ia menyarankan, agar bikers tidak memasang di sepeda motornya. Terkait soal mengatasi rasa kantuk, bagi pria lajang itu, kecepatan jangan melebih 70 kpj. Dan, road captain harus bisa membaca kondisi sehingga tahu kapan mempercepat atau memperlambat konvoy.
Anggota Pulsarian lainnya menimpali bahwa dirinya memakai lampu HID karena pernah terjatuh gara-gara lampu standar sepeda motornya tidak mampu menerangi jalan sehingga ia tidak melihat separator jalan di kala hujan.Dalam berkonvoy, ia minta ditempatkan di bagian belakang dan jaraknya tidak terlalu rapat. Ia mengaku, tidak ingin arogan dalam berkonvoy dan bukan bertujuan gaya-gayaan dalam memakai HID.
Suasana malam kian dingin ketika rintik gerimis kian membesar. Bro Eko dari RSA menimpali bahwa penggunaan lampu sebenarnya sudah diatur dalam peraturan pemerintah. Intinya, lampu tidak boleh menyilaukan pengguna jalan. Pria pengendara sepeda motor Yamaha RX King itu, mengajak para bikers menggunakan lampu standar yang dibuat oleh pabrikan sepeda motor. Sedangkan soal mengatasi rasa kantuk saat berkonvoy, intinya ia mengajak agar para bikers membuat manajemen yang efektif ketika memutuskan untuk berkonvoy. Salah satu solusi adalah, ketika kantuk menyerang, konvoy harus berhenti untuk beristirahat. Atau, jika kondisi jalan memungkinkan seperti kondisi jalan yang lurus, bisa saja menambah kecepatan sepeda motor. Terkait penggunaan lampu bagi kendaraan, PP No 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi, telah mengaturnya dan melarang penggunaan lampu yang menyilaukan mata. Aturan itu termaktub dalam pasal 29 hingga 31 PP tersebut.
Terkait istirahat dalam mengatasi kantuk, Roki dari komunitas vespa Partisi juga punya pengalaman serupa. Ia membeberkan bagaimana menjadi pengawal konvoy touring kelompok sepeda motor Inuk Lady Bikers Club (ILBC). Menurut dia, tiap 45 menit, konvoy berhenti untuk beristirahat mengingat dalam rombongan terdapat anggota yang belum memiliki pengalaman bepergian jauh menggunakan sepeda motor. Soal permen, termasuk permen karet, dinilai cukup membantu untuk menghalau rasa kantuk.
Di sela sharing, ketika jarum jam memasuki pukul 21.26 WIB, tiba-tiba rombongan ARC dan TRC.
Sontak, sang moderator, Rio, meminta peserta yang baru datang untuk memperkenalkan diri.
Kenmada, penasihat ARC langsung membuka dengan ucapan terimakasih atas kesempatan untuk bisa hadir dalam kopdarling RSA. Ia juga memperkenalkan rombongan yang dipimpinnya termasuk ketua baru ARC. Menurut dia, kelompoknya memang baru berdiri dan harus banyak belajar mengenai berkonvoy dan safety riding. ARC mengandalkan anggotanya yang telah aktif di komunitas di luar ARC.Kenmada melontarkan sejumlah pertanyaan yakni apakah diperbolehkan blocking? Dan penggunaan lampu strobo dan sirene.
Sebelum sharing mengenai hal itu, Zulham YVC 180 yang datang bersama YVC 182 menyuarakan soal safety riding yang bersifat kejam. Menurut dia, YVC yang masih awam soal safety riding menerapkan sikap bahwa safety riding harus dimulai dari diri sendiri lalu orang lain. Terkait soal penggunaan sinyal bagi dia, harus dikomandoi oleh road captain sedangkan anggota konvoy sebisa mungkin menghindari lubang yang ada.
Rio yang sedari awal memoderatori kopdarling kali ini, rupanya tidak bisa memendam hasrat berbicara. Ia tergelitik soal perilaku blokir dan penggunaan sirene dan strobo oleh para bikers. Bahkan, Rio bertanya soal adanya anggota Pulsarian yang memperoleh izin menggunakan strobo dan sirene dari aparat di Yogyakarta. Menurut dia, hal itu bisa menjadi bahan diskusi di RSA maupun ketika berinteraksi dengan aparat berwenang. Soal blokir, kata pria yang juga aktif di komunitas roda empat daihatsu itu, aturannya sudah jelas yakni hanya bisa dilakukan oleh aparat yang berwenang. Masyarakat sipil tidak boleh. Salah satu solusi untuk menghindari penumpukan konvoy adalah dengan membuat pemberangkatan bertahap atau kelompok touring (klotur).
Di sela sharing soal safety riding, bro Ikbal, TRC 325 mengundang para bikers untuk ikut turnamen futsal yang digelar dalam rangka hari jadi ke 4 TRC pada Maret 2009. Ia yang mengaku salut melihat kekompakan bikers yang masih bertahan di tengah gerimis, mengundang 60-80 komunitas untuk berpartisipasi dalam lomba yang memperebutkan hadiah total Rp 6 juta. Komunitas atau klub yang ikut turnamen dikenai biaya Rp 125 ribu per tim. Satu kelompok hanya diperkenankan mengirim satu tim.
Di penghujung sharing, bro Tasha dari YJOC menuturkan, soal lampu hazard dan flip flop setiap klub hendaknya mengimbau anggota tidak menggunakan lampu tersebut. YJOC, kata dia, menertibkan dengan mengiimbau kepada anggota agar melepas lampu tersebut.
Rio menegaskan, lampu hazard hanya diperkenankan untuk kendaraan roda empat atau lebih. Kecuali memang ada produk tertentu dari ATPM sepeda motor seperti pada produk Kymco.
Gerimis makin membesar ketika jarum jam memasuki 21.48 WIB. Sebelum pertemuan ditutup Rio, bro Edo membagikan buku karyanya kepada perwakilan klub atau komunitas yang hadir. Sepuluh buku yang dibawa bro Edo terasa kurang karena masih ada yang belum kebagian. (edo rusyanto)
foto:dokumen rio
Label:
kopdarling,
pulsarian,
rsa
Kopdarling RSA di Pulsarian (Bagian pertama)
UDARA dingin merambat pelan menyelusup tangan, kaki, dan wajah. Maklum, malam itu, gerimis menerpa Jakarta. Perjalanan dari kantor di gedung Aryadutta Suites, Jl Jend Sudirman ke Taman Surapati, Jakarta Pusat, meski tidak lebih dari 10 kilometer, harus menemui beberapa genangan air di jalan beraspal. Jakarta masih berlubang.
Sepeda motor ku pacu agak cepat selepas fly over Casablanca yang mengarah ke Jl Mas Mansyur, persisnya ketika melintas di depan Hotel Le Meridien, di Jl Jend Sudirman. Laju sepeda motor sebelum kawasan itu hanya bergerak rata-rata 40 kilometer per jam (kpj). Kepadatan lalulintas (lalin) mencapai puncaknya. Jumat (30/1), pukul 20.01 WIB, menjadi pilihan para pencari nafkah di Jakarta, baik warga Jakarta maupun para urban untuk meninggalkan kantor untuk kembali ke temat tinggal mereka di Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek).
Di ujung Jl Jend Sudirman, persisnya di bundaran Hotel Indonesia, kepadatan kendaraan mulai menumpuk, berbelok kanan menuju Jl Tanjung lalu ke Jl Teuku Umar hingga akhirnya memasuki kawasan Taman Surapati. Taman yang dibangun tahun 1926 oleh penjajah Belanda itu terlihat temaram. Usai mencari pintu masuk ke areal taman, akhirnya menemui trotoar yang diganjal paving block sehingga motor bisa melewati trotoar taman yang bentuknya lebih tinggi sekitar 5 cm dari jalan aspal.
Waktu memasuki pukul 20.20 WIB ketika rampung melepas helm, body protector di siku dan kaki. Rintik gerimis masih mendera. Lampu taman temaram. Di sisi taman tampak berjejer rapih terparkir puluhan sepeda motor Bajaj Pulsar. Ya. Malam ini, merupakan acara kopi darat keliling (kopdarling) Road Safety Association (RSA). Komunitas pengendara sepeda motor yang beranggotakan sekitar 70-an klub/komunitas sepeda motor di Jabodetabek. RSA fokus peduli kepada permasalahan keselamatan berkendara (safety riding) di jalan raya.
Kopdarling kali ini giliran Pulsarian, komunitas pengguna sepeda motor Pulsar, untuk menjadi tuan rumah. Komunitas pengguna Pulsar 180 dan 200 cc itu, didirikan pada 1 Maret 2007. Hingga kini, anggotanya sudah lebih dari 350 bikers.
Suasana di taman yang sebelumnya bernama Bisschoplein itu, layaknya taman-taman kota. Di sudut-sudut bangku taman tampak pasangan muda-mudi yang asyik bercengkerama, lalu para penjaja minuman ringan, rokok, dan permen asyik mengais rezeki. Namun, Taman Surapati malam ini terasa ’sesak’ oleh bikers. Walau, pada malam-malam tertentu di kawasan itu memang menjadi tempat kopdar komunitas sepeda motor. Selain Pulsarian, ada juga komunitas pengguna sepeda motor Kawasaki Ninja dan Honda Tiger yang mangkal di taman yang berhadapan dengan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta.
Malam terus berlalu. Jadwal kopdarling yang tercantum pukul 19.00 WIB, ternyata belum dimulai sama sekali. Tampak anggota Pulsarian asyik berbincang-bincang. Setelah celingukan mencari pengurus RSA, akhirnya melihat bro Ecko, Syamsul, dan Sontul. Mereka juga sibuk sendiri dengan perbincangannya. Usai bersalam-salaman ala bikers, ikut nimbrung dengan mereka. Rasa haus mendorong untuk memanggil pedagang asongan. Usai meneguk air kemasan dan lenyapnya rasa haus, sebatang rokok mulai dinyalakan. Sama dengan Ecko dan Syamsul. Melanjutlah perbincangan ngalor-ngidul. Sekitar pukul 20.32 WIB berdatanganlah pengurus RSA lainnya yakni Rio bersama nyonya, Eddy, Ridwan, Rieza, dan Boyke.
Di sela perbincangan tuan rumah menyajikan cemilan bolu, risol plus sambal dan aqua gelas. Perbincangan masih kangen-kangenan. Misal soal rute menuju ke Taman Surapati, masalah kerjaan kantor, hingga soal jual beli motor dan mobil.
Barulah ketika jam menunjukkan pukul 20.41 WIB, Nde Siswandhi, pengurus Pulsarian membuka kopdarling. Lewat pengeras suara (toa), Nde mengucapkan rasa terimakasih Pulsarian kepada RSA. Setelah sedikit menyinggung keberadaan RSA yang peduli pada masalah safety riding, Ndee meminta perwakilan RSA membuka kopdarling kali ini. Saya selaku salah satu bagian RSA didaulat menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai prolog. Meluncurlah ucapan terimakasih RSA kepada Pulsarian yang berkenan menjadi lokasi kopdarling. Saya juga menyinggung sedikit mengenai RSA yang terbuka bagi siapa saja untuk mendiskusikan masalah safety riding. RSA merupakan komunitas nirlaba yang secara bergiliran keliling ke tempat kopdar anggotanya. Perbincangan saat kopdarling bertemakan soal safety riding. Sebelum di tempat Pulsarian, bulan sebelumnya kopdarling di tempat Honda Riders on Internet (Hornet) di Bulungan, Jakarta Selatan. Kebetulan saat itu, topik kopdarling salah satunya adalah membahas program safety riding goes to school (SRGTS) yang digagas Independent Bikers Club (IBC) menggandeng RSA.
Usai saya melontarkan kata pembuka, Rio selaku Dewan Pengarah RSA melanjutkan dengan memperkenalkan siapa saja jajaran RSA yang hadir dalam kopdarling kali ini.
Pola Berkendara Dalam Konvoy
Waktu sudah bergulir masuk pukul 20.46 WIB ketika Rio mulai membuka sharing mengenai berkendara dalam kelompok (group ride) alias berkonvoy. Rio mengajak sekitar 50-an bikers yang hadir malam itu, khususnya anggota Pulsarian untuk sharing saat berkonvoy termasuk soal jatuh dari motor.
Setelah tunjuk-tunjukkan, siapa yang harus bicara, muncullah Pitung anggota Pulsarian. Ia menceritakan soal pengalamannya touring bersama. Pitung menuturkan soal perilaku latah ikut mengatur barisan konvoy. Sikap itu mencuat dari anggota rombongan yang merasa cukup berpengalaman atau senior di komunitas tersebut.Meski sesungguhnya sudah ada petugas yang ditentukan dalam konvoy. Senior itu menjadi petugas seperti dalam membuka jalan dan blocking. Ironisnya, petugas yang sudah ditunjuk kesulitan untuk mengingatkan sang senior agar instruksi tidak overlapping. Pitung minta advise, bagaimana menghadapi hal seperti itu.
Perbincangan mengalir. Yopie dari Pulsarian melanjutkan sharing. Ia meminta input mengenai group riding yang sebenarnya agar peserta konvoy bisa saling menghargai pengguna jalan.
Sharing ketiga dalam sessi pertama mencuat dari Boggy, anggota Pulsarian. Pria yang berperawakan tinggi besar itu melontarkan soal bagaimana ketika berbelok di tikungan dan menemui lubang, apakah perlu memberi sinyal atau tidak kepada barisan di belakang kita? Bagaimana sebaiknya agar tidak membahayakan konvoy.
Suasana sharing yang mengasyikan kerap diselingi deru mesin sepeda motor dan mobil yang melintas di kawasan jantung Jakarta itu.
Rio selaku moderator perbincangan meminta Syamsul dari RSA untuk berbagi pengalaman. Syamsul yang juga pelopor safety riding di komunitas Honda Tiger Mailing List (HTML) itu membuka sharing dengan ungkapan rasa senang bisa bertemu komunitas Pulsarian. Pria berkacamata yang banyak memakan asam garam soal safety riding itu, beranggapan jika berbicara mengenai teori dalam pertemuan kali ini ibarat mengajari ikan berenang.
Bagi Syamsul yang populer dengan sebutan Allan itu, komunitas atau klub ketika berkonvoy (group riding) sesungguhnya sedang melakukan praktik marketing bagi kelompoknya. Masyarakat bisa menilai suatu kelompok saat berkonvoy dari atribut yang dikenakan, seperti jaket atau stiker yang melekat di kendaraan. Di tengah pergerakan masyarakat yang kian kritis, ketika melihat perilaku menyebalkan dari iring-iringan kelompok sepeda motor bakal menyuarakan ketidaksukaannya melalui media massa. Karena itu, bagi Syamsul, pelaku konvoy harus menjaga citra. Saling menghargai di antara sesama pengguna jalan dan tidak arogan. Pernyataan Syamsul diamini peserta kopdarling yang berseru setuju. (edo rusyanto/bersambung)
Sepeda motor ku pacu agak cepat selepas fly over Casablanca yang mengarah ke Jl Mas Mansyur, persisnya ketika melintas di depan Hotel Le Meridien, di Jl Jend Sudirman. Laju sepeda motor sebelum kawasan itu hanya bergerak rata-rata 40 kilometer per jam (kpj). Kepadatan lalulintas (lalin) mencapai puncaknya. Jumat (30/1), pukul 20.01 WIB, menjadi pilihan para pencari nafkah di Jakarta, baik warga Jakarta maupun para urban untuk meninggalkan kantor untuk kembali ke temat tinggal mereka di Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek).
Di ujung Jl Jend Sudirman, persisnya di bundaran Hotel Indonesia, kepadatan kendaraan mulai menumpuk, berbelok kanan menuju Jl Tanjung lalu ke Jl Teuku Umar hingga akhirnya memasuki kawasan Taman Surapati. Taman yang dibangun tahun 1926 oleh penjajah Belanda itu terlihat temaram. Usai mencari pintu masuk ke areal taman, akhirnya menemui trotoar yang diganjal paving block sehingga motor bisa melewati trotoar taman yang bentuknya lebih tinggi sekitar 5 cm dari jalan aspal.
Waktu memasuki pukul 20.20 WIB ketika rampung melepas helm, body protector di siku dan kaki. Rintik gerimis masih mendera. Lampu taman temaram. Di sisi taman tampak berjejer rapih terparkir puluhan sepeda motor Bajaj Pulsar. Ya. Malam ini, merupakan acara kopi darat keliling (kopdarling) Road Safety Association (RSA). Komunitas pengendara sepeda motor yang beranggotakan sekitar 70-an klub/komunitas sepeda motor di Jabodetabek. RSA fokus peduli kepada permasalahan keselamatan berkendara (safety riding) di jalan raya.
Kopdarling kali ini giliran Pulsarian, komunitas pengguna sepeda motor Pulsar, untuk menjadi tuan rumah. Komunitas pengguna Pulsar 180 dan 200 cc itu, didirikan pada 1 Maret 2007. Hingga kini, anggotanya sudah lebih dari 350 bikers.
Suasana di taman yang sebelumnya bernama Bisschoplein itu, layaknya taman-taman kota. Di sudut-sudut bangku taman tampak pasangan muda-mudi yang asyik bercengkerama, lalu para penjaja minuman ringan, rokok, dan permen asyik mengais rezeki. Namun, Taman Surapati malam ini terasa ’sesak’ oleh bikers. Walau, pada malam-malam tertentu di kawasan itu memang menjadi tempat kopdar komunitas sepeda motor. Selain Pulsarian, ada juga komunitas pengguna sepeda motor Kawasaki Ninja dan Honda Tiger yang mangkal di taman yang berhadapan dengan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta.
Malam terus berlalu. Jadwal kopdarling yang tercantum pukul 19.00 WIB, ternyata belum dimulai sama sekali. Tampak anggota Pulsarian asyik berbincang-bincang. Setelah celingukan mencari pengurus RSA, akhirnya melihat bro Ecko, Syamsul, dan Sontul. Mereka juga sibuk sendiri dengan perbincangannya. Usai bersalam-salaman ala bikers, ikut nimbrung dengan mereka. Rasa haus mendorong untuk memanggil pedagang asongan. Usai meneguk air kemasan dan lenyapnya rasa haus, sebatang rokok mulai dinyalakan. Sama dengan Ecko dan Syamsul. Melanjutlah perbincangan ngalor-ngidul. Sekitar pukul 20.32 WIB berdatanganlah pengurus RSA lainnya yakni Rio bersama nyonya, Eddy, Ridwan, Rieza, dan Boyke.
Di sela perbincangan tuan rumah menyajikan cemilan bolu, risol plus sambal dan aqua gelas. Perbincangan masih kangen-kangenan. Misal soal rute menuju ke Taman Surapati, masalah kerjaan kantor, hingga soal jual beli motor dan mobil.
Barulah ketika jam menunjukkan pukul 20.41 WIB, Nde Siswandhi, pengurus Pulsarian membuka kopdarling. Lewat pengeras suara (toa), Nde mengucapkan rasa terimakasih Pulsarian kepada RSA. Setelah sedikit menyinggung keberadaan RSA yang peduli pada masalah safety riding, Ndee meminta perwakilan RSA membuka kopdarling kali ini. Saya selaku salah satu bagian RSA didaulat menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai prolog. Meluncurlah ucapan terimakasih RSA kepada Pulsarian yang berkenan menjadi lokasi kopdarling. Saya juga menyinggung sedikit mengenai RSA yang terbuka bagi siapa saja untuk mendiskusikan masalah safety riding. RSA merupakan komunitas nirlaba yang secara bergiliran keliling ke tempat kopdar anggotanya. Perbincangan saat kopdarling bertemakan soal safety riding. Sebelum di tempat Pulsarian, bulan sebelumnya kopdarling di tempat Honda Riders on Internet (Hornet) di Bulungan, Jakarta Selatan. Kebetulan saat itu, topik kopdarling salah satunya adalah membahas program safety riding goes to school (SRGTS) yang digagas Independent Bikers Club (IBC) menggandeng RSA.
Usai saya melontarkan kata pembuka, Rio selaku Dewan Pengarah RSA melanjutkan dengan memperkenalkan siapa saja jajaran RSA yang hadir dalam kopdarling kali ini.
Pola Berkendara Dalam Konvoy
Waktu sudah bergulir masuk pukul 20.46 WIB ketika Rio mulai membuka sharing mengenai berkendara dalam kelompok (group ride) alias berkonvoy. Rio mengajak sekitar 50-an bikers yang hadir malam itu, khususnya anggota Pulsarian untuk sharing saat berkonvoy termasuk soal jatuh dari motor.
Setelah tunjuk-tunjukkan, siapa yang harus bicara, muncullah Pitung anggota Pulsarian. Ia menceritakan soal pengalamannya touring bersama. Pitung menuturkan soal perilaku latah ikut mengatur barisan konvoy. Sikap itu mencuat dari anggota rombongan yang merasa cukup berpengalaman atau senior di komunitas tersebut.Meski sesungguhnya sudah ada petugas yang ditentukan dalam konvoy. Senior itu menjadi petugas seperti dalam membuka jalan dan blocking. Ironisnya, petugas yang sudah ditunjuk kesulitan untuk mengingatkan sang senior agar instruksi tidak overlapping. Pitung minta advise, bagaimana menghadapi hal seperti itu.
Perbincangan mengalir. Yopie dari Pulsarian melanjutkan sharing. Ia meminta input mengenai group riding yang sebenarnya agar peserta konvoy bisa saling menghargai pengguna jalan.
Sharing ketiga dalam sessi pertama mencuat dari Boggy, anggota Pulsarian. Pria yang berperawakan tinggi besar itu melontarkan soal bagaimana ketika berbelok di tikungan dan menemui lubang, apakah perlu memberi sinyal atau tidak kepada barisan di belakang kita? Bagaimana sebaiknya agar tidak membahayakan konvoy.
Suasana sharing yang mengasyikan kerap diselingi deru mesin sepeda motor dan mobil yang melintas di kawasan jantung Jakarta itu.
Rio selaku moderator perbincangan meminta Syamsul dari RSA untuk berbagi pengalaman. Syamsul yang juga pelopor safety riding di komunitas Honda Tiger Mailing List (HTML) itu membuka sharing dengan ungkapan rasa senang bisa bertemu komunitas Pulsarian. Pria berkacamata yang banyak memakan asam garam soal safety riding itu, beranggapan jika berbicara mengenai teori dalam pertemuan kali ini ibarat mengajari ikan berenang.
Bagi Syamsul yang populer dengan sebutan Allan itu, komunitas atau klub ketika berkonvoy (group riding) sesungguhnya sedang melakukan praktik marketing bagi kelompoknya. Masyarakat bisa menilai suatu kelompok saat berkonvoy dari atribut yang dikenakan, seperti jaket atau stiker yang melekat di kendaraan. Di tengah pergerakan masyarakat yang kian kritis, ketika melihat perilaku menyebalkan dari iring-iringan kelompok sepeda motor bakal menyuarakan ketidaksukaannya melalui media massa. Karena itu, bagi Syamsul, pelaku konvoy harus menjaga citra. Saling menghargai di antara sesama pengguna jalan dan tidak arogan. Pernyataan Syamsul diamini peserta kopdarling yang berseru setuju. (edo rusyanto/bersambung)
Label:
kopdarling,
pulsarian,
rsa
