Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label edo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label edo. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2009

Pentingnya Komunitas Bagi Produsen





KOMUNITAS menjadi mitra bagi produsen. Bagi anggota komunitas, tempat kumpul menjadi ajang saling berbagi dan menyalurkan hobi.

Sabtu, 07 November 2009

Seruan Deklarasi Keselamatan Jalan Terus Bergulir


Kegiatan ICE 2008 (foto:edo)

Notulensi Rapat ke-5 Indonesia Consummunity Expo (ICE) 2009
Kampus Prasetiya Mulya Business School (PMBS), Jakarta

Zona : Otomotif sepeda motor
Tanggal : Sabtu, 7 November 2009
Waktu : 11.30-14.09 WIB
==============================================

Peserta:

PIC : Mario Pulsarian
Notulen : Edo IBC


Agenda:
1. Teknis Konvoy
2. Games zona motor
3. Deklarasi Keselamatan Jalan
4. Agenda Kegiatan


I. Teknis Konvoy Kampanye Safety Riding

1. Pengawalan:
• Konvoy akan dikawal oleh petugas tiga anggota polisi lalu lintas dan enam supeltas.
• Pengawalan bukan untuk blockir jalan, namun untuk pengaturan lalin saat pembagian stiker di lokasi yang sudah ditentukan.

2. Rute konvoy

Wilayah Jakarta Pusat;
• Rute: Senayan, Asia Afrika, Sudirman, HI, Thamrin, Monas, Kota Tua, Thamrin, Sudirman, Senayan.
• Titik henti: depan Stasiun BEOS.
• Peserta: MOC, Blackaholic, Denyut, dan TRC.
• PIC: Denny (MOC)


Wilayah Jakarta Barat;
• Rute: Senayan, S Parman, Jl Panjang, Permata Hijau, Daan Mogot, Senayan.
• Titik henti: ITC Permata Hijau
• Peserta: Pulsarian, IBC, YRC, dan Mylis.
• PIC: Mario (Pulsarian)

Wilayah Jakarta Selatan;
• Senayan, Pakubuwono, Radio Dalam, Arteri PI, TB Simatupang, Fatmawati,
Senayan.
• Titik henti: PI
• Peserta: KHCC, HSJ, TCI, Pride, dan HTML
• PIC: Arief (HTML)

Catatan:
• Demi kelancaran konvoy, peserta dibatasi perwakilan tiap kelompok sepeda motor dua (2) orang.
• Tidak ada blockir
• Tiap rute dibagi dalam dua klotur.
• Setiap peserta konvoy yang memiliki HT diharapkan membawa saat konvoy.
• Panitia sediakan spanduk
• Stiker 2.500 unit.



Tema kampanye; (untuk stiker dan spanduk)
• Gunakan helm standar
• Setop gunakan lampu rem mika putih.
• Data 50 orang tewas setiap hari di jalan


II. Games Zona Motor

1. Slalom dan lomba papan keseimbangan
• Perlengkapan kone dari DSS, main dealer Yamaha wilayah Jabotabek sebanyak 20 unit.
• Papan keseimbangan dari panitia ICE 2009.

2. Modifikasi sepeda motor
• Dibagi dalam beberapa kelas (lihat notulensi rapat ke-4).
• Tambahan; kelas khusus yakni modifikasi dengan biaya paling rendah namun menarik dan bisa dipakai aktifitas sehari-hari. Khusus kelas ini tidak dipungut biaya dan mendapat hadiah; hand phone black berry.

Catatan:
Hadiah untuk games dan modifikasi terdiri atas; helm dan uang (khusus tiga kelas modifikasi yang diambil dari uang iuran lomba).


III. Deklarasi Keselamatan Jalan

Zona otomotif sepeda motor menilai Deklarasi Keselamatan Jalan (DKJ) perlu dilontarkan sebagai kepedulian komunitas terhadap masalah keselamatan di jalan.

Substansi DKJ;
• Pertama, mengajak para pengguna jalan untuk lebih bertanggung jawab dengan saling menghargai serta santun dan bersahabat di jalan.
• Kedua, mendorong peningkatan ketaatan pada aturan lalu lintas serta mendesak polisi lebih tegas dan konsisten menegakkan peraturan lalu lintas.
• Ketiga, mendesak pemerintah menyediakan moda transportasi ublic yang aman, nyaman, dan terjangkau masyarakat luas.
Mekanisme;
• Semua peserta ICE 2009 diharapkan ikut menandatangani DKJ. Penandatanganan dilakukan saat rapat ke-6 pada Sabtu, 14 November 2009. sebelum penandatanganan didahului dengan penyebarluasan latar belakang DKJ kepada seluruh komunitas peserta ICE 2009 melalui email, selebaran hard copy, dan pemaparan oleh Bro Edo pada rapat ke-6.
• DKJ dibacakan oleh Panitia ICE 2009 saat penutupan kegiatan di hadapan pers dan selanjutnya dikirim ke empat instansi yakni; Dirlantas Kepolisian RI, Komisi V DPR RI, Menteri Perhubungan, dan Pemprov DKI Jakarta.
• Selain itu, dibuatkan press release untuk disebarluaskan ke media massa agar dibaca dan diketahui oleh public.

Catatan:
Respons awal berupa dukungan dari komunitas lain muncul dari; zona otomotif mobil dan komunitas sepeda.


IV. Agenda Kegiatan Zona Otomotif Sepeda Motor

Sabtu, 21 November 2009
08.00 upacara, perwakilan tiap kelompok 2 orang, bawa bendera klub 08.00-11.00 Rolling
13.00-16.00 Kontes modifikasi
13.00-16.00 Lomba slalom, papan keseimbangan

Minggu, 22 November 2009
• Free style
• Pengumuman lomba modifikasi
• Pengumuman lomba games/slalom


Catatan:
• Dukungan minuman ringan dari greensands sebanyak 10x35 kaleng.
• Dukungan helm half face 20 unit dari greensands.


Peserta Rapat:
1. Edo (IBC)
2. Mario (Pulsarian)
3. Peter (KHCC)
4. Tata (TRC 125)
5. Ardi A (AHJ/Denyut RC)
6. Decky Dwi (MOC Jakarta)
7. Denny P (MOC Jakarta)
8. Bures (Track)
9. Reza (HSJ)
10. Gatot (HSJ)
11. Badher (BMC Jakarta/Blackaholic)
12. Hendro (BMC Jakarta/Blackaholic)
13. Daniel Siregar (TCI)
14. Ibet Sitompul (TCI)
15. Putri (Yamahaholigan)
16. Icha (Yamahaholigan)
17. Togar (Yamahaholigan)
18. Nurhadi (Yamahaholigan)
19. Ponco (Yamahaholigan)
20. Arief (HTML)
21. Mate (YRC)
22. Roni (Yamahaholigan)
23. Daniel (PMBS)
24. Fariz (PMBS)
25. Tyo (PMBS)


* * *

Jumat, 04 September 2009

Mudik Pakai Motor, Jangan Abaikan Kondisi Tubuh

Kamis, 3 September 2009 - 16:37 wib

Prasetyo Adhi - Okezone
Foto: okezone


JAKARTA - Sejak beberapa tahun belakangan, mudik menggunakan sepeda motor menjadi pilihan beberapa masyarakat untuk pulang kampung. Tapi perlu diingat, perhatikan kondisi tubuh.

Mudik menggunakan sepeda motor tentu berbeda dengan menggunakan mobil. Hembusan angin kencang selama perjalanan, dan juga berjibaku dengan kendaraan lain yang lebih besar seperti truk atau bus, tentu dibutuhkan stamina serta konsentrasi yang tinggi.

Karena itu, bagi pemudik yang hendak menggunakan roda dua, sebaiknya jangan abaikan stamina tubuh Anda. "Upayakan agar beristirahat minimal setiap dua jam perjalanan," pesan punggawa Road Safety Assosiation (RSA), Edo Rusia kepada okezone.

Selama waktu istirahat tersebut, gunakanlah waktu untuk melemaskan otot-otot tangan, kaki dan pinggang. "Sekira 10-15 menit cukup untuk istirahat," tambah pria yang aktif kampanye safety riding ke sejumlah bikers ini.

Dengan beristirahat, kata dia, bisa kembali melemaskan otot-otot yang tegang dan juga membuat tubuh kembali lebih segar setelah menempuh perjalanan jauh. Dengan begitu, diharapkan konsentrasi tidak akan menurun.

Apabila Anda berpuasa, Edo berpesan, sebaiknya jangan makan makanan berlemak terlalu banyak termasuk mie instan. Makanlah makanan bergizi agar bisa menampung energi yang dibutuhkan selama perjalanan mudik. "Perbanyak sayuran, buah, ikan, minum susu dan vitamin secukupnya," kata dia.

Dengan begini, badan akan tetap fit ketika diajak menempuh jarak jauh menuju kampung halaman. (uky)

Senin, 15 Juni 2009

Moge dan Mocil

foto:edo


AWAL pekan ini mencuat lagi sorotan terhadap perilaku pengendara sepeda motor besar. Pengendara motor (bikers) mencacimaki dan memukuli seorang pengendara mobil, di kawasan Cisarua, Bogor. Kasusnya kini ditangani Polsek Cisarua, Bogor.

Di belantara persepedamotoran, ada istilah motor gede (moge). Istilah ini cukup kondang. Tampilannya amat mencolok. Dari segi tongkrongan, kapasitas mesin motor kelompok ini mulai dari 400 cc hingga 1.000 cc. Bentuknya yang tambun tentu amat mencolok mata jika berseliweran di jalan. Dari sisi pengguna, saat ini mayoritas dari mereka adalah masyarakat berkocek tebal. Maklum, harga moge, terlebih besutan Eropa dan Amerika Serikat (AS), paling murah Rp 300 juta. Hemmm...Tak heran penggunanya dari level pengusaha, pejabat, selebritas, hingga para pensiunan jenderal.

Di luar moge, populasi paling dominan di Tanah Air adalah sepeda motor berkapasitas mesin 100-250 cc. Jika 400 cc keatas dijuluki moge, semestinya kelompok ini dijuluki motor kecil (mocil). Dari populasi sepeda motor yang ditaksir sekitar 50 juta unit, kelompok ini bisa mencapai 99%.

Sinisme terhadap pengendara (bikers) moge beraroma kecemburuan sosial ekonomi. Tak pelak, sedikit saja perilaku menyimpang, seperti memukul pengendara mobil, mereka menjadi komoditas pemberitaan. Santapan empuk pers.

Dalam kasus arogansi pengguna jalan, sejatinya bukan monopoli bikers moge, bikers mocil pun amat meruyak. Termasuk pengendara mobil pribadi dan angkutan umum.

Arogansi mocil yang menimbulkan korban luka bahkan korban jiwa, sempat mencuat di pemberitaan media massa seperti yang terjadi di Bandung, Subang, dan Garut. Sedangkan arogansi mocil juga terlihat saat konvoy. Meminta prioritas jalan dan menutup jalan.

Emosi Tersulut

Persoalannya, kenapa emosi mudah disulut? Tekanan ekonomi, sulitnya hidup karena krisis finansial global menyeret anarkisme? Semrawutnya lalu lintas jalan membuat bikers tak sabaran, sehingga mencoba mencari jalan pintas menerbas aturan lalin? Lalu ketika terjadi benturan, menjadi api kecil yang menyulut bensin emosi terpendam?

Para psikolog dan ahli ilmu sosial mungkin bisa menjelaskan secara ilmiah.

Sebagai pengguna jalan yang sehari-hari menggunakan sepeda motor kecil, penulis menghirup aroma mudahnya para bikers terprovokasi. Tak heran jika angka korban kecelakaan di jalan di Jakarta dan sekitarnya terus membubung. Sepanjang Januari-Juni ini saja, sudah 77 korban jiwa dan 254 korban luka ringan dan parah. Itu baru angka yang tercatat.

Arogansi bersemayam di mana-mana, bikers mocil, moge, mobil pribadi, dan angkutan umum. Sampai kapan ini berlarut? (edo rusyanto)

Kejujuran Mengungkap Jejaring Sosial

Resensi Buku: Situs Gaul, Gak Cuma Buat Ngibul


MENULIS dengan jujur kadang sulit. Ada saja niatan membelokkan fakta dengan harapan dan opini pribadi. Lebih sulit lagi, menulis sesuatu yang ilmiah menjadi popular. Enak dibaca.
Merry Magdalena, punya bakat untuk menulis keduanya: Jujur dan Enak dibaca. Hal itu ia buktikan dalam buku terbarunya Situs Gaul, Gak Cuma buat Ngibul!
Ia dengan gamblang membuka sisi gelap dan sisi terang jejaring sosial dunia maya. Sebuah entitas yang kini mengoyak sedikitnya 10% aktifitas kehidupan masyarakat kota. Artinya, kalau 24 jam kehidupan sehari, maka paling gak 2,4 jam dihabiskan menggunakan fasilitas dunia maya untuk berinteraksi. Termasuk transaksi membeli buku, baju, bahkan (maaf) obat kuat.
Dunia maya bisa menjadi ajang interaksi dominan bagi sebagaian masyarakat kota yang ‘kesepian’ di tengah padatnya aktifitas mereka. Via dunia maya, seseorang merajut persahabatan, asmara, ekonomi bisnis, hingga interaksi politik. Seseorang yang mendapat kesulitan berinteraksi face to face untuk merajut asmara, tertolong oleh jejaring sosial. Ia bisa melatih untuk ’berbicara’ dengan calon sang kekasih. Walau saat kopi darat (kopdar) yakni istilah untuk bertemu face to face selain berkomunikasi via internet, latihan berbicara tadi seringkali tidak efektif. Walau, ada juga yang sukses. Penulis bahkan dengan jujur menyebut, dirinya mendapat pujaan hati tertolong dunia maya.
Urusan merintis bisnis dan urusan politik juga dibeberkan oleh Merry. Ia membeberkan lewat testimoni para tokoh-tokoh penting seperti Irfan Setiaputra, CEO Cisco Indonesia dan Nukman Luthfie, CEO Virtual.co.id. Soal Barack Hussein Obama juga diulas. Termasuk bagaimana Obama memiliki tiga juta teman di fasilitas jejaring Face Book-nya.
Sebenarnya, buku ini bisa lebih dahsyat lagi mengorek sebuah sisi interaksi masyarakat tertentu yang memanfaatkan internet atau jejaring sosial. Misal saja, komunitas atau klub sepeda motor yang kini meruyak di tengah kita. Pada 2008, setidaknya ada 900-an kelompok sepeda motor yang memanfaatkan internet sebagai ajang interaksi. Dari dunia maya mereka menggerakkan roda organisasi, menautkan silaturahmi, dan melahirkan ide besar. Termasuk memperluas berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Maklum, populasi sepeda motor kita sedikitnya mencapai 50 juta unit, alias hampir 25% populasi penduduk kita.

Perbedaan
Buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2009, juga mengulas perbedaan tiap situs jejaring sosial. Termasuk apa saja yang harus diperhatikan oleh setiap pengguna internet. Penulis dengan lugas membongkar kelemahan yang mungkin menimpa pengguna internet jika tidak berhati-hati. Bisa jadi korban pemerasan oknum penjahat.
Buku setebal 175 halaman dan dicetak di atas kertas koran itu, sedikitnya membuka pencerahan buat kita bahwa masa depan kehidupan masyarakat kita makin paper less. Bahkan, bisa jadi kian individu. Semua asyik di depan monitor pc, laptop, dan mobile phone.
Enak dibaca? Penulis meruntutkan penulisan dari mulai memperkenalkan apa saja itu situs jejaring sosial, lalu manfaatnya, kelemahannya, hingga testimoni. Beragam tips yang disodorkan juga bisa dijajal. Siapa tahu mujarab untuk cari jodoh. Testimoni dari beberapa tokoh dicoba memperkuat semua tips atau fakta yang diulas penulis. Walau mengambil contoh hanya dari beberapa bagian sisi kehidupan masyarakat, buku ini masih tergolong lumayan untuk dibaca. Pembaca cukup merogoh kocek Rp 30 ribu, sudah bisa mengantongi segudang tips bergaul di dunia maya. Mau? (edo rusyanto)

Jumat, 12 Juni 2009

2009, TVS Targetkan Lego 40 Ribu Unit

Pabrik TVS Indonesia di Karawang, Jawa Barat


PT TVS Motor Company Indonesia (TVS) menargetkan penjualan sepeda motor sebanyak 40 ribu unit sepanjang 2009. Sejak Desember 2007 hingga Mei 2009, agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor asal India itu berhasil melego 16 ribu unit sepeda motor.

“Sekitar 60% adalah produk sepeda motor bebek,” tutur Nurlida ‘Mieke’ Fatmikasari, Corporate Communications TVS Indonesia, kepada Investor Daily, di Jakarta, Jumat (12/6).

Optimisme tersebut, lanjut dia, disokong oleh peluncuran produk baru mereka yakni sepeda motor bebek 125 cc TVS Rockz. “Target untuk TVS Rockz pada 2009 sebanyak 10 ribu unit,” jelas Mieke.

Direktur Sales and Marketing TV Indonesia K Vijaya Kumar, saat peluncuran TVS Rockz di Kawasan Industri Suryacipta City di Karawang, Jawa Barat, Rabu (10/6), menuturkan, pihaknya optimis dengan segala kelebihan Rockz, produk tersebut dapat diterima dengan baik oleh konsumen di Indonesia.

Ia menjelaskan, pihaknya memfokuskan TVS Rockz 25 cc untuk pasar kawula muda dan para eksekutif muda yang sukses. Motor tersebut dilengkapi fitur Integrated Music System (IMS), Peredam Canister yang merupakan pionir di kategori 125 cc. TVS mematok harga Rp 13,7 juta untuk tipe TVS Rockz pelek racing dan Rp 12,7 juta untuk tipe pelek jari-jari.

Selain TVS Rockz 125 cc, produsen sepeda motor tersebut merangsek pasar Indonesia dengan dua produk andalan lainnya yakni TVS Neo 110 dan Apache RTR 160 cc. “Pada Juli 2009 kami juga berniat meluncurkan Apache versi facelift,” tegas Mieke.

Sampai saat ini TVS Indonesia memiliki 115 dealer di wilayah Jadetabek, Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu, TVS juga didukung oleh 350 bengkel kemitraan.

Terkait investasi, menurut Mieke, pihaknya telah menambah investasi sebesar US$ 40

juta, semula mereka telah menanamkan investasi US$ 50 juta. ”Sehingga total menjadi

US$ 90 juta,” papar dia. TVS Indonesia memiliki kapasitas produksi terpasang 300.000 unit

motor per tahun. (edo)

Rabu, 10 Juni 2009

Belajar dari Mereka

foto:edo


HUJAN mengucur deras dari langit. Aspal menjadi licin. Angkutan umum terseok-seok, di bagian lain pengendara sepeda motor melamban. Jaga konsentrasi, daripada tergelincir mencium aspal? Tapi masih ada yang memacu bak melenggang di sirkuit. Konyol.

Siang ini, Jakarta hampir merata diguyur hujan. Sambil menanti hujan reda, vixy merah diparkirkan di depan warung kaki lima penjaja nasi uduk. Sebagian celana, jaket, helm, dan sepatu kuyup oleh air hujan saat melangkah masuk ke warung tenda di pinggir jalan itu.

Uppss...ternyata ada juga beberapa bikers berteduh. Mereka juga sudah kebasahan. Sebagian memilih menunggu sambil menyantap lele goreng, sebagian ayam goreng. Lumayan isi perut.
Pilihan saya jatuh pada segelas teh manis hangat. Sekadar mengurangi rasa dingin. Maklum siang itu sudah santap siang di rumah.

Hampir tak ada yang istimewa, hingga...."Bisa pinjam koreknya dik?" Suara lelaki setengah baya.

Kami pun sama-sama menikmati kepulan rokok kretek. Sebuah komoditas yang mampu menyumbang Rp 40 triliun untuk kas negara. Walau lebih dari 4.000 zat kimia beracun yang masuk ke tubuh perokok ketika mengisap sebatang kretek. Menimbulkan aneka penyakit.

"Nunggu ujan berhenti membosankan," tiba-tiba lelaki yang menunggang motor bebek itu bicara lagi.

"Iya," Jawabku sekenanya karena asyik mantau email dan pesan di face book dari nokia 9300.

"Pelindung kaki dan jaket septi-nya bagus dik," celoteh bapak itu. Rupanya orang ini memperhatikan safety gear yang saya kenakan. Rasanya tidak sopan jika menimpali omongan sambil mengetik di ponsel. Saya pun berpaling menatap wajah sang bapak yang saya taksir berusia lima puluhan tahun. Banyak kerut di keningnya. Cerminan memikul kerasnya beban hidup di Jakarta.

"Minggu lalu anak saya kecelakaan motor," seru lelaki itu lagi. Wah...menarik nih. Gumam dalam hati.

"Lalu," jawabku.

"Tak ada yang menolong karena takut, kejadiannya malam hari, orang Jakarta mending ngurusin dirinya sendiri daripada orang lain," kata dia. Tadinya ingin protes, tapi bapak itu keburu melanjutkan.

"Akhirnya ada yang menolong. Seorang pedagang asongan dan sopir angkot, mereka membawa anak saya ke rumah sakit," tatapan sang bapak menerawang. Terbersit rasa iba.

"Lantas?"

"Penjaga di ruang darurat awalnya enggan menolong sebelum ada jaminan," ujar lelaki itu sambil menyeruput kopi hitam dari gelas. Tangannya terlihat sedikit bergetar.

"Rumah sakit mahal. Tapi saya bersyukur pedagang asongan tadi dan sang sopir angkot berani bertanggung jawab," ceritanya lagi dengan intonasi sedikit bergetar.

"Berapa rumah sakit minta jaminan?" Tanya saya.

"Itulah dik, sang pedagang asongan mengeluarkan seluruh uang recehan yang ia dapat hari itu, ada Rp 143 ribu, sopir angkot ada Rp 215 ribu," paparnya.

Uang segitu mana cukup dan pasti pihak rumah sakit menolak. Namun, sela sang bapak, para penolong anaknya ngotot. Mereka minta rumah sakit menolong dulu sang korban, urusan biaya bisa dipikul belakangan. "Ini soal nyawa manusia!" Bentak mereka, ujar sang bapak menirukan dialog saat itu. Beruntung, lanjut si bapak, ada seorang ibu yang sedang menjenguk suaminya dirawat di situ mau membantu. Terkumpullah uang satu juta dua ratus ribu.

"Akhirnya anak saya yang berlumuran darah ditangani dik," kisah bapak itu. Sorot mata sang bapak terlihat sayu.

"Bagaimana kondisi anak bapak sekarang?" tanya saya penasaran.

Sang bapak tidak langsung menjawab, ia mengisap dalam-dalam sisa rokok kretek di jarinya."Meninggal. Karena terlambat ditangani petugas rumah sakit."

Tak mudah saya mengajukan pertanyaan lagi. Suasana senyap beberapa saat, walau di luar sana suara mobil dan motor lalulalang. Rintik hujan masih memainkan irama alam yang dramatis.

"Makanya saya bilang pelindung lutut, jaket dengan pelindung sikut, dan helm punya adik ini amat bagus buat perlindungan," tiba-tiba sang bapak angkat bicara lagi.

Ia pun bertutur, saat kecelakaan sang anak yang berusia 18 tahun, tidak memakai jaket, sepatu, dan helm. "Boro-boro pelindung lutut dan siku, kami gak mampu beli dik," ujar lelaki itu.

Saya cuma terdiam. Hingga sang bapak itu beringsut meninggalkan warung karena hujan tinggal sisa rintik-rintik. Langit Jakarta masih terlihat gelap. Sayup-sayup lagu U Rise Me Up, Josh Groban bak menyayat dari Ipod. (edo rusyanto)

Cililitan, 10 Juni 2009

Yamaha Jagonya Motor Batangan


foto:edo

YAMAHA memang luarrrr biasssa. Sepanjang Januari-Mei 2009 masih mengangkangi penjualan di segmen sepeda motor backbone alias batangan. Penguasaan pangsa pasar Yamaha di pasar domestik sekitar 49,4% atau setara dengan 83.786 unit. PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) mengusung tiga merek untuk segmen ini yaitu RX King, V-ixion, dan Scorpio. Bagaimana dengan sang kompetitor?
PT Astra Honda Motor (AHM) menguasai 45,1% atau setara dengan 76.596 unit, sedangkan Suzuki sekitar 5,5% alias sebanyak 9.288 unit. Honda mengusung Megapro dan Tiger, sedangkan Suzuki menjagokan Thunder.
Total penjualan motor batangan milik anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) sepanjang lima bulan pertama 2009 sebanyak 169.760 unit, atau sekitar 8,3% dari total penjualan 2.061.685 unit.
Balik lagi soal Yamaha. Di segmen batangan, andalan mereka yakni Yamaha V-ixion meluncur dengan deras. Bayangin aja, motor 150 cc ini terjual rata-rata hampir 14.441 unit per bulan dengan total penjualan 72.206 unit. Honda Megapro menguntit dengan rata-rata 10.715 unit per bulan atau totalnya 53.578 unit.
Penampilan Yamaha V-ixion dinilai lebih menarik, ramping, futuristik, dan memiliki persepsi bisa dipacu lebih cepat dibandingkan pesaingnya, termasuk Honda Megapro yang memiliki daya 160 cc. Rasanya, kalau soal kecepatan, secara teknis Megapro lebih unggul. Hanya persoalan persepsi semata.
Bagaimana produk batangan Yamaha yang lainnya? Memang tidak terlalu bagus. Misalnya Scorpio. Jika pada 2008 rata-rata penjualan per bulannya mencapai 3.167 unit atau totalnya mencapai 38.015, saat ini, sepanjang Januari-Mei 2009, hanya 1.514 unit per bulan. Menurun drastis!!!
Terlebih Yamaha RX King, hanya terjual rata-rata per bulan 801 unit alias sebanyak 4.006 unit.
Tak heran jika YMKI dikabarkan ancang-ancang membesut Fazer 250 cc. Mungkinkah untuk menggantikan Scorpio yang mulai jenuh? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Untuk penjualan total seluruh tipe mulai dari motor bebek, sport, dan skutik, Honda masih merajai dengan penguasaan pangsa pasar 46% atau sebanyak 948.578 unit. Di belakangnya Yamaha dengan pangsa pasar 45,4% ( 935.627 unit), dan Suzuki dengan pangsa pasar 7,6% ( 155.691 unit). Di luar ketiga produsen itu, hanya memperebutkan sisa-sisa pasar. Termasuk produsen di luar Aisi, seperti motor Cina, India, Eropa, dan Amerika Serikat. (edo rusyanto)

Selasa, 09 Juni 2009

IBC Ujung Genteng di Bikersmagz Juni 2009


Kopdarling RSA di BikersMagz Juni 2009


Catatan Menyongsong Pekan Keselamatan Nasional

Adegan sinetron naik motor tanpa helm dan hanya helm cetok (foto:edo)





Melawan Kultur Yang Tak Mau Berubah

MEMASUKI rumah bercat putih dengan pagar besi di kawasan perumahan Pulo Mas, Jakarta Timur, terasa teduh. Di halaman tampak parkir dua motor gede besutan Harley Davidson. Ada beberapa motor lain, termasuk keluaran Happy trail. Sedangkan satu buah jeep putih juga tampak nongkrong di garasi.
Senin (8/6) sekitar pukul 20.10 WIB, sang empunya rumah, Drs H Indrodjojo Kusumonegoro alias Indro Warkop, belum datang.
Barulah pada 20.35 WIB, sang maestro komedian Indonesia itu nongol. Malam itu, tokoh yang terkenal sebagai bikers penunggang Harley-Davidson itu, usai ’kerja’ di Soraya Film, rumah produksi yang memasangnya untuk sinetron dan film.
Setelah menyapa dan menyalami kami dari Road Safety Association (RSA), Indro mempersilakan kami memasuki ruang tamu yang didiaminya sejak awal 80-an itu. Terdapat dua sofa kulit merah marun tua, selain dua bangku kulit tunggal. Di meja sudut terdapat patung kepala harimau belang, sedang di sisi sofa lainnya, berdiri tegar macan hitam yang diawetkan. Sementara itu, di sebelah pintu masuk terdapat kura-kura besar yang juga diawetkan. Mana pernak-pernik Harley-Davidsonnya? Jangan salah, di dinding terpasang lukisan besar terbuat dari kuningan sebuah motor besar dengan tulisan Harley-Davidson, sedangkan lima buah bantal sofa juga bertuliskan Harley-Davidson Motor Cycle. Untuk yang ini, di baliknya tertulis made in cina.
Ya! Anak pensiunan jenderal polisi ini memang menggandrungi motor besar di atas 500 cc besutan produsen asal Amerika Serikat (AS) itu. Bahkan, dalam pertemuan malam itu yang sejatinya ingin mengajak Indro masuk jajaran Dewan Pembina RSA, kental diwarnai perbincangan seputar Harley-Davidson. Mulai dari soal produk, sejarah organisasi pengguna Harley-Davidson di dunia dan di Indonesia, hingga soal mengurus perizinan motor tersebut. Maklum, mayoritas motor gede yang beredar di Tanah Air tidak memiliki surat alias bodong.

Membentur Tembok
Sulitnya membentuk perilaku yang tertib berkendara di jalan harus membongkar tembok kerancuan sistematis yang berdiri kokoh. Tembok yang tercipta di segala ini masyarakat, mulai dari aparatur, pengusaha, hingga masyarakat. ”Kita melawan sebuah kultur yang terlihat tidak mau berubah. Itu yang aku rasakan. Aparatnya bisa berkendara melanggar ketentuan yang ada. Perjuangan harus sabar dan pelan-pelan, mulai dari keluarga dan teman-teman kita,” ujar Indro yang pernah menjadi polisi dalam film Cara Hebat Ikut Penanggulangan Masalah Sosial (Chips, tahun 1983).
Ia bertutur bagaimana peliknya perilaku aparat penegak hukum yang memiliki ego sektoral saat bertugas di jalan raya. Belum lagi perilaku pengusaha seperti dunia hiburan yang tidak mementingkan keselamatan berkendara dalam karya sinetron dan film-nya. ”Mereka takut ratingnya gak bagus, sehingga tidak peduli dengan idealisme,” papar pria kelahiran tahun 1958 itu. Indro menyoroti itu terkaitt dengan banyaknya sinetron yang menayangkan adegan naik motor namun tidak memakai helm. Padahal, kewajiban memakai helm tertuang dalam Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) maupun dalam RUU LLAJ yang telah disahkan pada 26 Mei 2009. Sanksi bagi pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm juga cukup tegas. Ada sanksi denda sebanyak-banyaknya Rp 250 ribu dan sanksi kurungan badan selama-lamanya 1 (satu) bulan.
Jika sinetron yang memiliki kemampuan mempengaruhi masyarakat secara luas menyebarkan pemahaman seolah-olah membenarkan naik sepeda motor tanpa helm, berarti para produser dan pemilik modalnya membenarkan sesuatu yang keliru. Mengenaskan.
Meskipun, Ketua Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia Giri Suseno menyangsikan implementasi aturan yang cukup kuat tadi dapat berjalan mulus. ”Koordinasi antar instansi terkait harus diperbaiki,” papar dia suatu ketika.
Mantan menteri perhubungan itu menyoroti bahwa kesadaran berkendara yang aman dan selamat harus terus digelorakan oleh masyarakat. Di sisi lain, kata dia, butuh juga sebuah gerakan yang menasional. ”Butuh sebuah kesepakatan seluruh instansi yang terkait, mulai dari kepolisian maupun birokrasi bahkan termasuk kementeri negara BUMN yang membawahi perusahaan-perusahaan milik negara,” ujar Giri.
Dalam kondisi masyarakat permisif dan aparat yang terbatas jumlah dan kesadarannya menegakkan hukum, gerakan moral menyuarakan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) menjadi sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran. Meski terkesan sekadar berbisik di tengah gemuruh mesin keangkuhan, upaya menggulirkan untuk saling menghargai sesama pengguna jalan suatu ketika bakal membuahkan hasil. Terlebih, fakta menyebutkan sebanyak tiga nyawa melayang sia-sia setiap hari sebagai korban tewas di jalan.
”Tidak ada toleransi dalam penegakan hukum. Untuk memperbaiki citra suatu bangsa dan citra polisi adalah benahi etalasenya yakni polantas. Tindak tegas pelanggar lalin,” tegas Indro.
Pemerintah bakal menggelar seremonial Pekan Keselamatan Nasional Ketiga pada 17 Juni 2009. Pada kesempatan itu kabarnya bakal digelar deklrasi seluruh instansi terkait untuk mengatasi meruyaknya kecelakaan sistem transportasi di Tanah Air. Sebuah deklarasi yang membutuhkan tindaklanjut lebih konkret. Bukan seremonial belaka yang lenyap ketika ’pesta’ usai. (edo rusyanto)

Minggu, 07 Juni 2009

Semangat V-ixion dari Lenteng Agung

foto:dokumen yvaj


LANGIT cerah malam itu. Bulan bersinar penuh, cahaya berlomba dengan lampu penerang jalan yang berwarna kuning keemasan. Bising kendaraan dan kereta api (KA) tak mengusik sejumlah anak manusia yang sedang bercengkerama. Gelak tawa dan canda mencairkan suasana di mulut SPBU Petronas, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Di samping mereka, terparkir belasan sepeda motor Yamaha V-ixion. Kopdarnya siapa?
“Inilah basecamp kami, Yamaha V-ixion Adventure Jakarta (YVAJ),” tutur bro Wibie, sang ketua YVAJ.
Pintu masuk SPBU yang sudah tidak beroperasi sejak 8 bulan lalu itu, memang cukup strategis. Setidaknya bias menampung sekitar 30-an sepeda motor plus untuk tempat duduk lesehan para bikers. Sebenarnya tempat itu bukan monopoli YVAJ, di sisi lain mereka terparkir juga belasan sang Macan, Honda Tiger. “Kelompok tiger tadinya di pintu keluar SPBU, karena lokasi itu ditutup karena sedang dicor, mereka bergabung,” tutur Saptono, satpam SPBU.
Sabtu (6/6) sekitar pukul 21.40 WIB, YVAJ kedatangan kolega mereka yakni Yamaha V-ixion Club (YVC). “Tapi mereka ini kerap disebut barisan cangchuters,” jelas Wibie.
Rombongan yang dipimpin bro Hari itu, memang tampak beda. Dari enam motor yang hadir malam itu, umumnya sudah dimodifikasi, mulai dari ban, knalpot hingga pemakaian side box givi. “Ada juga yang standar, kami tidak melihat motornya yang penting persahabatan ridersnya,” papar bro Hari yang memiliki nomor YVC 089.
Perbincangan pun mengalir diselingi isapan rokok kretek dan bisingnya suara mobil dan motor yang lewat di Jl Raya Lenteng Agung itu. Sesekali terdengar klakson sebagai simbol persahabatan dari bikers lain yang melewati lokasi kopdar YVAJ. Ya, malam minggu biasanya dimanfaatkan oleh komunitas atau klub motor untuk kopdar, rolling atau touring keluar kota. Jalan Lenteng Agung menghubungkan Jakarta, Depok, dan Bogor. Tak heran jika ramai dilintasi para bikers.
“Kami mala ini juga berencana jalan ke Puncak, Bogor tapi singgah dulu ke YVAJ dan klub lain di Depok,” jelas bro Hari.
Kehadiran YVC ke YVAJ selain anjangsana juga saling sharing soal motor dan kehidupan bikers lainnya. “Kapan-kapan kita touring bareng nih,” ujar bro Wibie kepada bro Hari yang ditimpali dengan hangat.
Sekitar satu jam kongkow, rombongan cangchuters bergerak pamit. “Kami memang berhentinya gak lama, yang penting sudah tahu tempat kumpul teman-teman, selama ini komunikasinya lewat internet,” kata bro Hari yang siap-siap meluncur ke Depok.

Deklarasi YVAJ
Sepeninggalan bro Hari dan kawan-kawan, tim YVAJ asyik berdiskusi mengenai klub mereka yang tergolong masih bayi itu. YVAJ dilahirkan pada April 2009 dan berencana dideklarasikan pada Juni ini. ”Tapi tertunda karena anggota kami, bro Mario kecelakaan dan kini sedang dirawat di pengobatan alternatif Guru Singa, Pondok Kopi,” papar bro Wibie.
Menurut bro Boeray, untuk menunjukkan eksistensi kelompok mereka, deklarasi menjadi milestone penting. “Rencana awal kami akan deklarasikan di Gn Bunder, Bogor, tapi malam ini belum bisa kami putuskan karena harus dibahas lagi dengan tiga anggota kami yang lain,” papar dia.
Jadilah malam itu, YVAJ yang memiliki belasan anggota dan simpatisan itu ‘melantik’ satu anggota baru mereka yakni bro Bastian. “Dia (Bastian) mendapat nomor anggota ke sembilan, anggota kami memang baru segini,” ujar bro Wibie.
YVAJ berniat menjadi wadah para pengguna V-ixion untuk menyalurkan hoby petualangan seperti touring dan menjadi ajang bertukar informasi mengenai sepeda motor serta masalah lain di seputar hobi dan minat. “Kalau bias, YVAJ menguatkan dahulu solidaritas dan visinya sebelum menjaring anggota sebanyak-banyaknya,” papar bro Edo, yang sempat dibisiki bro Boeray untuk menjadi ‘penasihat’ YVAJ.
Bro Johar, selaku salah satu pentolan YVAJ urun rembug soal aturan yang bakal disepakati sebagai rambu organisasi. “Kalau bisa jangan ada aturan harus mengikuti sekian kali ikut kopdar dulu baru dapat nomor anggota,” ujar dia.
Bagi bro Boeray, yang pukul 00.00 Minggu bakal merayakan ultah itu, perlu ada moment bagi anggota baru untuk adaptasi dengan YVAJ, salah satunya, harus ikut kopdar minimal 3 kali. ”Kita harus saling kenal dan adaptasi dulu,”katanya.
Rencana YVAJ memperkuat struktur organisasi menjadi pekerjaan rumah ’pengurus’ yang ada saat ini. Mereka berniat menjadi rumah yang nyaman bagi pengguna V-ixion. Meski di luar sana ada YVC yang sudah memiliki ratusan anggota, bahkan tersebar di berbagai daerah di luar Jakarta. Selamat berkiprah dan berkonsolidasi bro! (edo)

Sabtu, 06 Juni 2009

Lintasi Suramadu, Bikers Disarankan Lari 40 Kpj

foto:www.pu.go.id
PERNAHKAH Anda membayangkan berkendara sepeda motor di atas jembatan Tol Suramadu? Berapa kecepatan ideal saat melintas di jembatan terpanjang di Indonesia itu? Berapa besar kecepatan angin yang bisa membahayakan pengendara sepeda motor (bikers)?
Bikers yang hendak melintas di jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Pulau Madura itu, harus super hati-hati. Alih-alih, bukannya mendapat kenyamanan melintas di jembatan sepanjang 5,48 kilometer (km), justeru cedera akibat celaka.
“Kecepatan ideal adalah 40 kilometer per jam, hal itu untuk mengantisipasi kecepatan angin,” jelas Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak di Surabaya, Sabtu (6/6).
Menurut Dirjen, dengan kecepatan tersebut, pengendara akan lebih santai dan terasa nyaman saat mengemudikan motornya. Selain itu, mereka dengan mudah bisa mengendalikan kecepatannya saat angin di laut dalam kecepatan tinggi. "Melalui lebar jalur sepeda motor yang mencapai tiga meter, kendaraan yang melintasi jalur tersebut masih bisa saling mendahului. Namun demikian, bukan berarti mereka bisa saling kebut-kebutan. Karena jalur tersebut berbeda dengan jalur jalan di darat dan kecepatan angin laut di jembatan tersebut juga harus diperhatikan," ujarnya, seperti dilansir Antara. Ia menjelaskan, kondisi badan jalan pada jalur motor di sisi Surabaya dan Madura berbeda dengan kondisi di bentang tengah. Di sisi Surabaya dan Madura, badan jalan terbuat dari struktur beton. Karena terbuat dari beton, unsur kerataan jalan tidak semulus dengan yang terbuat dari aspal. "Badan jalan yang terbuat dari beton lebih memiliki kecenderungan jalannya bergelombang, sedangkan di bentang tengah sepanjang 818 meter, lajur sepeda motor terbuat dari aspal," katanya. Adanya perbedaan bahan tersebut, kata dia, karena menyesuaikan dengan kondisi konstruksi jembatan. Di causeway sisi Surabaya dan Madura konstruksinya berasal dari pilar-pilar dengan struktur beton. Sementara itu, di bentang tengah tepatnya di Main Span struktur konstruksinya terbuat dari baja, sehingga lebih tepat menggunakan aspal pada badan jalan jalur motor. "Ketika melintas di jalur motor di bentang tengah, kecenderungan pengendara untuk menambah kecepatannya kemungkinan besar terjadi. Apalagi, jalannya lebih halus dan di lokasi tersebut mereka akan merasa seperti benar-benar di tengah laut, terutama dengan melihat indahnya pilar utama Jembatan Suramadu yang kokoh," katanya. Mengantisipasi hal itu, menurut dia, pelaksana proyek dan petugas yang nantinya sebagai operator jembatan, akan terus melakukan sosialisasi pada pengendara.

Kecepatan Angin Bahaya
Sesuai data uji coba yang dilakukan oleh konsultan pada 3 April 2009, kecepatan angin pada pagi hari dari antara pukul 07.00-09.00 WIB kecepatan angin berkisar 3,4 hingga 4,1 meter/detik dalam kondisi cuaca cerah. "Siang hari saat cuaca gerimis, sekitar pukul 13.00-14.00 WIB kecepatan angin berkisar 5,5-8,7 meter/detik. Sore hari antara pukul 17.00-18.00 WIB kecepatan angin berkisar 2,4-4,2 meter/detik dalam kondisi cuaca berawan, sedangkan pada malam hari antara pukul 20.00-21.00 WIB kecepatan angin berkisar 5,2-6 meter/detik dalam kondisi cuaca cerah," katanya. Ia menyarankan kepada pengendara agar waspada ketika kecepatan angin mencapai 11 meter/detik. Ini karena kecepatan angin itu sudah berbahaya, sehingga mereka bisa menunda perjalanannya saat akan melintas di sana. "Saat kecepatan angin mencapai nilai 11 meter/detik, jalur sepeda motor akan ditutup secara otomatis dan tidak boleh dilintasi," jelas dia. (edo)

Jumat, 05 Juni 2009

Kerugian Akibat Kemacetan Jakarta Rp 43 Triliun

BAYANGKAN! Kemacetan di Jakarta ternyata menimbulkan kerugian sekitar Rp 43 triliun per tahun. Kemacetan timbul karena lalu lintas di jalan Ibukota amat semrawut. Para pengguna jalan saling serobot. Jumlah lebar dan panjang jalan dan sebanding dengan pertumbuhan penjualan otomotif.

Apa saja unsur kerugian itu? Pengamat dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, menyebutkan, kerugian itu karena belanja boros akibat kemacetan. Belanja yang dimaksud adalah belanja onderdil yang meningkat, pembelian bahan bakar minyak (BBM) serta timbulnya penyakit fisik dan psikis.
Bikers boleh jadi kelompok pengguna jalan yang banyak ketimpa penyakit, setidaknya penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA), stress, dan penyakit kulit. Maklum, bikers harus menghirup debu dan asap dari knalpot mobil dan motor. Belum lagi sengatan cahaya matahari. Stress menjadi akrab bagi bikers.

Bagi Andrinof, walaupun secara statistik pendapatan mereka meningkat, tapi efek dari kemacetan membuat masyarakat menengah ke bawah harus terbebani pengeluaran tambahan. "Meningkatnya pendapatan masyarakat tidak serta-merta harus dicerna begitu saja, sebab justru mereka harus menanggung kerugian akibat kemacetan," ungkap dosen ilmu politik Universitas Indonesia tersebut.
seperti dilansir Antara, baru-baru ini, asumsi peningkatan pendapatan masyarakat yang banyak diklaim selama ini hanya sebatas retorika. "Dari segi ekonomi, memang terlihat pendapatan warga meningkat, tetapi jam kerja juga bertambah. Jadi, saya melihat, pendapatan masyarakat tidak meningkat," kata Andrinof.

Beban bikers masih ada lagi. Bahaya kecelakaan. Untuk yang satu ini, fakta membeberkan, jumlah bikers yang tewas sepanjang Januari-Mei 2009 di Jakarta meningkat 21,4% dibandingkan periode sama 2008. Belum lagi yang celaka. Wah, cilaka dua belas, sudah pengeluaran finansial digerogoti, eh...ancaman keselamatan selalu mengintai. (edo)

Kamis, 04 Juni 2009

Lagi, Tiga Nyawa Bikers Melayang

Juni baru saja memasuki hari keempat, tapi bikers yang tewas di jalan raya Jakarta dan sekitarnya, sudah tiga jiwa. Satu luka-luka. Mengerikan!!
Haruskah kita menambah angka statistik tersebut. Yuk kita semua kian waspada. Bikers, mari perkuat kehati-hatian dan rasa sabar. Jalan raya masih menjadi mesin pembunuh paling biadab buat kita.
Kejadian paling gres, saat Muhadi, pengendara Yamaha Vega meregang nyawa di Jl Ciputat Raya, persisnya depan Sepolwan, Ciputat. Peristiwa Kamis (4/6), pukul 05.00WIB itu, menjadi fakta bahwa berkendara sepeda motor memikul risiko tinggi jika mengabaikan safety riding. Nasib memang tak kuasa ditolak. Tapi sebagai manusia kita bisa berjaga-jaga. Salah satunya, tetap berkendara yang aman dan selamat.
Rasa duka dan prihatin bagi para korban. (edo)

Bikers yang tewas Juni 2009
Kusmin, ditabrak TransJakarta, Jl Panjang, Jakbar
Sari, ditabrak bus di Jl Alternatif Cibubur
Muhadi, ditabrak mobil boks, Ciputat

Selasa, 02 Juni 2009

Naik 21%, Bikers Tewas Akibat Kecelakaan

foto: edo


INILAH tragedi di jalan raya Jakarta. Jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas sepanjang Januari-Mei 2009 naik 21,4%. Mengenaskan!
Kenaikan tersebut jika dibandingkan dengan korban tewas pada periode sama 2008.
Perlu diingat, angka-angka tersebut baru secuil dari kecelakaan yang tercatat. Penulis mengolah data yang dipublikasikan dalam berita terkini situs milik Polda Metro Jaya. Bagaimana dengan yang tidak tercatat? Boleh jadi angkanya bisa lebih besar. Mengerikan!
Pada periode lima bulan pertama 2009, jumlah yang tewas sebanyak 34 bikers, sedangkan periode sama 2008 sebanyak 28 jiwa. Korban meninggal dunia mencapai 25% dari total korban kecelakaan, sedangkan tahun lalu mencapai 19,3% dari total korban kecelakaan.
Lalu, bagaimana dengan korban luka parah dan luka ringan? Inilah angka-angkanya. Korban luka 102 (2009) dan 117 (2008). Total korban kecelakaan pada Januari-Mei 2009 sebanyak 136 bikers, menurun 6,2% dibandingkan 145 bikers pada periode serupa tahun lalu.
Dari keseluruhan korban kecelakaan di jalan, bikers yang meninggal sebanyak 49,2% dari total korban tewas sepanjang Januari-Mei 2009. Sedangkan bikers yang luka mencapai 102 orang atau setara dengan 42,3% dari total korban luka. Pada Januari-Mei 2009, total korban kecelakaan mencapai 310 orang dengan rincian 69 tewas dan 241 luka-luka.

Safety Riding

Haruskah kita berpangku tangan melihat kenyataan yang ada? Apa yang bisa kita perbuat?
Jika kecelakaan dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni sepeda motor sebagai obyek dan sepeda motor sebagai subyek kecelakaan, sepanjang Januari-Mei 2009, kontribusi sepeda motor sebagai obyek sekitar 36,54%, sedangkan selaku subyek kecelakaan mencapai 63,46%.
Pada lima bulan pertama 2009, kategori motor selaku obyek adalah ketika sepeda motor ditabrak mobil pribadi, angkutan umum, dan kereta api. Sementara itu, selaku subyek kecelakaan yakni dimana peran bikers menjadi dominan, misalnya adalah ketika sepeda motor menabrak sesama motor, menabrak separator, terjerembab ke dalam lubang, hingga menabrak mobil.
Pentingnya berkendara yang aman dan selamat (safety riding) tak terbantahkan. Tengok saja ketika kasus kecelakaan yang menyebabkan korban saat bikers memutuskan untuk menyalip kendaraan di depannya. Khususnya saat menyalip mobil terlebih truk. Akibat perhitungan yang kurang matang yakni analisis medan yang kurang jitu, saat menyalip justeru setang motor nyangkut mobil, bikers terpelanting dan terlindas kendaraan lain. Tewas.
Kemampuan menganalisis medan tidak hanya menghitung ruang untuk sepeda motor, tetapi juga apakah di depan sana ada kendaraan dari arah berlawanan atau ada lubang atau tidak. Jika analisis kita yang menggunakan indera mata menyimpulkan risiko lebih besar, lebih baik tidak menyalip kendaraan di depan, terlebih mendahului dari kiri jalan.

Usia Produktif
Kasus kecelakaan di Jakarta dan sekitarnya memakan korban bikers yang masuk kategori usia produktif yakni usia 20-39 tahun. Kelompok usia ini berkontribusi sekitar 72,72% dari total korban kecelakaan. Bayangkan jika korban tersebut adalah tiang ekonomi keluarga. Boleh jadi proses pemiskinan dari jalan raya kian melaju kencang.
Jika korban harus dirawat di rumah sakit atau pengobatan alternatif yang menghabiskan ratusan ribu, jutaan, atau bahkan belasan juta rupiah, artinya keuangan korban dan keluarganya terkuras. Barangkali uang tersebut bisa lebih bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari atau biaya sekolah sang anak. Kondisi finansial keluarga kian terganggu jika korban harus meninggal dunia. Hilang sudah sumber mata pencaharian. Maklum, dari mayoritas korban kecelakaan (82,46%) adalah pria dan 17,54% wanita.
Ketahanan fisik saat berkendara juga harus diperhatikan. Kondisi fisik yang lelah mempengaruhi kemampuan menganalisis medan. Menengok waktu yang sering terjadi kecelakaan, menurut data yang ada komposisinya mencakup 06.00-12.00 (28,85%), 18.00-00.00 (27,88%), lalu 12.00-18.00 (25%), dan 00.00-06.00 (18,27%).
Menilik lokasi kecelakaan, sepanjang Januari-Mei 2009, wilayah Jakarta Selatan menjadi favorit yakni sekitar 45,19%, di belakangnya Jakarta Barat dan Jakarta Pusat masing-masing 18,27%. Lalu Jakarta Timur (8,65%), Jakarta Utara (5,77%), dan lainnya (3,85%).
Haruskah kita rela terus menerus melihat korban sia-sia di jalan raya. Rasanya, kita semua setuju, harus disetop. (edo)

Senin, 01 Juni 2009

Program Kerja Ala RSA

foto:dok RSA

PENAT masih menggila. Seharian tubuh rasanya pegal-pegal. Gejala flu? Walauhuwallam.
Suasana kantin Nyi Ageng Serang, Jl HR Rasuna Said, Senin (1/6) malam, lumayan ramai. Saat kaki menjejak, sudah tampak Rio Octaviano, ketua Road Safety Association (RSA), Syamsul (Pembina), Eko (wakil ketua), dan sejumlah rekan divisi RSA seperti Ndee Siswandhi, Benny, Ridwan, Ditto, dan Yudhi Bewok. Di belakang deretan tempat duduk aktifis RSA berkumpul, tampak istri Rio. Wanita yang setia menemani hidup Rio termasuk dalam aktifitas di RSA. Suasana kantin diterangi lampu neon. Aneka panganan dan minuman dijajakan dalam bentuk kios-kios di kanan kiri kantin yang mirip lorong. Deretan bangku panjang dan meja memadati lorong tersebut. Setiap hari, di tempat tersebut tempat istirahat sejumlah polisi lalu lintas (Polantas) lengkap dengan motor 1.000 cc-nya. Di sebelah kiri kantin, terdapat lapangan Planet Futsal, sedang tak jauh dari situ adalah Gedung Pusat Perfilman nasional dan Pasar Festival, Kuningan, termasuk Gelanggang Olahraga Brojosumantri.
Malam itu, aktifis RSA sedang menggodok sejumlah program kerja. Di antaranya, program pelatihan safety riding (SR) untuk PT DNP dan program kampanye SR bekerja sama dengan Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia.
Bukan lantaran RSA tidak punya sekretariat jika pembahasan program kerja digelar di kantin umum. ”Di sini mencerminkan bahwa RSA memang berasal dari akar rumput,” ujar bro Syamsul yang juga pentolan komunitas Honda Tiger Mailing List (HTML).
Tidak ada perdebatan sengit seperti saat menyusun anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) RSA beberapa waktu lalu. Obrolan soal program kerja mengalir begitu saja, sesekali diselingi canda tawa.
RSA baru saja bermetamorfosa menjadi lembaga swada masyarakat (LSM), dari wujud semula sebuah organisasi yang dicitrakan menaungi klub atau komunitas sepeda motor di Jakarta. Cairnya sistem organisasi serta organisasi yang nirlaba membuat aktifitas orang di dalamnya mengandalkan kesukarelaan. ”Motivasi menjadi kunci karena kita tidak ada yang dibayar,” ujar bro Rio yang juga pengurus di Daihatsu Taruna Club (DTC).
Ya. LSM berbasis pada komitmen dan tanggungjawab. Namun demikian, tetap harus ada rambu dan aturan yang jelas sebagai pemandu aktifitas. Sehingga, tak ada lagi rencana besar dengan aktifitas kecil. Lebih elok jika rencana kecil bermanfaat besar bagi sekitar.
Malam merayap kian cepat. Menjelang tengah malam, saat segambreng program kerja disepakati untuk dijalankan, rapat ditutup oleh Rio. Tersisa sejumlah asa, bisakah RSA terus menggulirkan karya bermanfaat bagi para pengguna jalan. Waktu yang bisa menjawab. (edo)

C H A O

CHAO punya impian. Hidupnya digelimangi kasih. Terus berlayar di samudera biru nan damai. Tak ada lagi telunjuk yang menudingnya sekadar hura-hura di belantara megapolitan Jakarta. Kota yang baru saja ia rintis menggapai cita-cita.

***
Krismanda masih termanggu di meja kerjanya. Setumpuk laporan yang tersisa belum ia sentuh pagi itu. Matanya masih terfokus pada lembaran laporan milik salah satu stafnya. Sebuah laporan yang masih semrawut.
Aneka keganjilan mewarnai lembaran itu. Kening Krismanda, pria berusia 41 tahun yang belasan tahun di bisnis travel wisata itu, tak hentinya berkerut.
"Sisca, tolong panggilkan Chao ke ruangan saya." Pinta Krismanda kepada sekretarisnya.
Selang tiga menit gadis baru lulus dari universitas ternama di Paris van Java itu masuk ruang berukuran 2x3 meter. Ada dua kursi berhadap-hadapan dengan satu meja. Di sudut ruangan terdapat almari kaca yang berisi sejumlah buku. Lantainya beralaskan karpet biru, selaras dengan cat dinding, biru muda.
Chao menjelaskan terbata-bata pertanyaan dari atasannya. Sedikit parau. Ya. Laporan perjalanan mendampingi wisatawan mancanegara (wisman) asal Eropa saat mengunjungi Kampung Naga di kawasan Tasikmalaya, masih belum sempurna. Walau telah mengikuti training, dunia yang dihadapinya berbeda dengan dunia kampus. Peluh pun mengucur. Ada rasa grogi. Walau akhirnya, sang atasan meminta ia memperbaiki laporannya. "Saya tunggu besok." Sergah Krismanda.

***

Uap belerang terasa memadati rongga hidung. Meski udara terasa sejuk, cuaca siang itu di ketinggian 2.000 di atas permukaan laut membuatnya gerah. Maklum, Chao harus menapaki jalan menuju Kawah Domas. Jarak kawah yang masih aktif di Gunung Tangkuban Perahu, Bandung, Jawa Barat itu, salah satu kawah favourit yang disingahi wisman. Jarak kawah dari lokasi parkir sekitar satu kilometer. Jalan menurun, bahkan ada yang nyaris vertikal 45 derajat. Banyak wisman yang bermandi lumpur belerang. Ada juga yang menikmati indahnya pemandangan sambil merebus telur yang dibungkus plastik.
Belum saja mendekati lokasi kawah, Chao tergelincir. Jemari lentiknya sempat meraih ranting kayu yang berjuntai di jalan setapak berbatu. Tapi ranting tak mampu menahan bobot Chao. Darah mengalir dari lecet di siku dan lututnya. Butiran pasir dan kerikil bertebaran di sekitar luka. Belum sirna rasa shock akibat jatuh, tiba-tiba ia dikagetkan
suara seorang pria. "Saya ada obat luka luar, sekilas sih gak berbahaya," seloroh suara tersebut.
Hampir jantung Chao berhenti berdenyut. Di hadapannya ada pria tampan, muda, dan energik. Bak terhipnotis, ia mengikuti saja gerakan pria itu. Sesekali Chao mencuri pandang. Usai memberi obat luka luar di lutut dan siku Chao. Pria itu bergegas. ”Terimakasih,” seru Chao.

***
Rombongan bule yang didampingi Chao bersiap-siap menaiki bus menuju kota Bandung setelah seharian berkubang di lumpur belerang Kawah Domas, Tangkuban Perahu. Tiba-tiba sudut mata Chao menangkap sosok yang membantunya mengatasi luka saat tergelincir. Ingin ia turun dari bus dan berkenalan. Tapi, sosok itu melaju di atas motor sport, lengkap dengan helm full face, sarung tangan, sepatu, dan jaket. Tertulis ”Brotherhood Forever” di bagian belakang jaketnya. ”Hemmm...andai aku bisa duduk di belakangnya,” gumam Chao.
Perjalanan menuju kota Bandung cukup lancar, hanya tersendat di sekitar pasar Lembang hingga ke Sukajadi.

***
Chao marah besar. Andyan, pujaan hatinya kembali ingkar. Kali kelima dalam pekan ini Andyan melupakan janji untuk mengantarnya ke toko buku. ”Mamah minta diantar ke rumah temannya.” Seru Andyan via ponsel, saat ditanya kenapa tidak jadi mengantar. Hari Minggu yang kelabu bagi Chao. Ia memacu City silvernya ke pusat perbelanjaan di tengah kota. Siang itu lalulintas cukup padat. Sekitar satu jam, ia baru tiba di parkiran.
Sebelum menuju toko buku, ia mampir mencari sepatu sport. Miliknya yang lama dah usang. Maklum, sering dipakai mengantar turis ke tempat wisata. ”Ada yang bisa dibantu kak?” Suara seorang pria membuyarkan lamunan Chao.
”Loh kamu ada di sini?” Seru Chao, kala menatap wajah yang sekitar tiga bulan lalu membantunya di Tangkuban Perahu.
”Hemmm...Ya, saya bekerja di sini.”
”Gak usah panggil kakak, rasanya usia kita sebaya.”
Usai membayar di kasir, Chao berniat menemui Sinto, pria atletis yang mencuri perhatiannya. ”Kapan-kapan boleh ketemuan?”
Sinto tersenyum hanya memberi secarik kertas berisi deretan angka, nomor telepon seluler.
Chao berbunga-bunga hingga lupa mau ke toko buku.

***
Tiga bulan sudah Chao berteman dengan Sinto. Ada sesuatu yang lain. Ada rasa nyaman saat berbincang. Ada rasa aman saat berjalan. Ada ruang hatinya yang kembali terisi. Ia khawatir jatuh cinta kepada pria yang gemar bepergian dengan sepeda motor itu. Walau kini statusnya jomblo, ia masih trauma atas perlakuan Andyan. Pria yang selama dua tahun melekat di hatinya. Sinto memiliki kepribadian yang lebih tegas. Wajah tampan, tubuh atletis. Sesekali suka egois.
Suatu sore Chao kangen. Ia pun meraih ponsel. Panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua. Barulah pada panggilan kelima.
”Apa kabar Sin?”
”Baik...” Ada nada berat dari seberang sana.
”Kamu sakit? Kok suaranya kayak lemas gitu,” cerocos Chao.
”Sudah tidak.”
”Berarti sebelumnya sakit?”
”Iya.”
”Aku boleh ketemu gak malam ini?”
”Boleh, mampir saja ke rumah ku. Tapi....” Suara itu terhenti.
”Tapi apa? Jangan bikin penasaran dong,” seru Chao.
”Aku boleh minta tolong?” Pinta Sinto.
”Ya boleh dong say. Apa nih yang bisa aku bantu?”
”Kamu ingat belokan jelang rumah ku, nanti temui aku dulu di situ sebelum ke rumah ku, memang agak gelap. Oh ya, aku minta tolong dibelikan obat maag dan pita kuning yah.”
Perbincangan terhenti. Chao sudah sangat senang. Pikirannya sudah sampai ke malam nanti.
Usai membeli pesanan Sinto, ia memacu City-nya. Tempat bertemu yang dimaksud Sinto terlihat gelap karena tidak penerangan jalan, di sisi kanannya ada pohon asem rindang. Hati kecilnya kecut juga. Ia hanya bertanya-tanya, apa-apaan sih Sinto. Bukannya langsung aja ke rumah dia yang berjarak sekitar 300 meter lagi. Chao turun dari mobilnya, berdiri di bawah pohon asem yang di sebelahnya ada sisa bangunan bekas pos hansip yangsudah tidak dipakai lagi. ”Hai...” Suara Sinto membuyarkan lamunan Chao.
”Hai juga, ngagetin aja,” seru Chao.
”Dah bawa pesanan ku, nanti tolong kasih mamah yah, pitanya pesanan Nyta.” belum lagi Chao menjawab, Sinto melengos di balik kegelapan. ”Aku ambil motor yah, kutunggu di rumah,” ujar pria itu kalem.
Rasa penasaran Chao kian menjadi. Apa-apaan sih anak ini? Apa mau bikin surprise.
Hati Chao campur aduk. Di pekarangan rumah Sinto banyak orang berkerumun. Duduk di atas kursi yang dijajarkan di halaman. Ada bendera kuning. Saat kakinya memasuki pintu ruang tamu, tubuhnya bergetar. Ada apa dengan mamah Sinto?
”Halo mbak Chao,” sapa Nyta, adik Sinto.
“Ada apa Nyt, ini aku bawakan obat maag dan pita pesanan kak Sinto.”
Tak ada yang menjawab, orang di sekitar Nyta saling berpandangan. Menatap aneh ke Chao.
”Mbak...kak Sinto sudah tiada.” Suara lirih Nyta terdengar kian mengecil.
Seketika kepala Chao pusing. Bumi terasa berputar lebih cepat. ”Tidak mungkin, tadi aku bertemu di belokan jalan sana, di bawah pohon asem,” sergah Chao yang terduduk lemas di kursi.
”Malahan dia titip obat maag dan pita.”
Tiba-tiba papahnya Sinto sudah di samping Chao. Ia menjelaskan, ”Sinto ditabrak truk di belokan itu. Ia tergelincir karena pasir dan kerikil, apes saat terjatuh datanglah truk itu. Sinto lupa tak memakai helm.”
Nyta menuturkan, ”Saat kecelakaan, kak Sinto hendak membeli obat maag untuk mamah dan pita untuk Nyta. Kedua barang itu tidak pernah sampai ke rumah, motornya terjatuh saat ia menuju apotek.” (edo)

Kamis, 28 Mei 2009

Mati Deh Gue...



KEMARIN sore ngobrol ngalor ngidul bersama sejumlah bikers. Topiknyaterkait Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).Seorang teman berseloroh,"Kalau semuanya dibayangi denda duit naikmotor jadi mahal yah."Yang kawan itu maksud ternyata soal ancaman denda yang di antaranajika tidak menyalakan lampu utama, tidak nyalakan lampu sign saat berbelok, tidak memakai helm hingga jika bikers menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan korban. Dendanya bervariasi, mulai Rp 250 ribu sampe Rp 12 juta. Nah loh!Teman satunya lagi berujar,"Bukan cuma mahal, loe gak liat, ada ancaman pidana kurungan badan juga."Serasa gak percaya, saya coba baca bolak-balik RUU LLAJ yang disahkan DPR RI di Jakarta, Selasa (26/5). Ehhh...ternyata bener. Segudang bayang-bayang ancaman pidana emang ada, mulai dari ancaman kurungan satu bulan sampe 6 tahun penjara.

Seorang bikers yang lebih muda sontak terperanjat, "Mati deh gue."

Gak tahu maksudnya apa, mungkin karena peliknya ancaman denda dan pidana, atau memang masih suka ugal-ugalan saat berkendara di jalan."Gue kan suka ngebut kalo naek motor," sergahnya lagi.

Buru-buru saya selipkan kelakar,"Tenang aja bro, kata om JK, LebihCepat Lebih Baik." (edo)

Rabu, 27 Mei 2009

Gak Pake Helm, Siap-siap Didenda Rp 250 Ribu

foto: edo

PARA pengendara sepeda motor (bikers) siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Jika kedapatan tidak memakai helm, bakal kena denda paling banyak Rp 250 ribu. Atau dikurung selama satu bulan. Pilih mana? Bayar denda aja kali yah.

Tunggu dulu, kalau pengendara memakai helm, sedangkan pemboncengnya tidak memakai helm, sang pengendara juga bisa kena sanksi itu.

Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) yang disahkan, Selasa (27/5), oleh DPR RI, dalam pasal 106 ayat (8) menegaskan, setiap orang yang mengendarai dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia.

Aturan sanksi bagi bikers yang melanggar pasal itu ada di pasal 291 ayat (1) dan ayat (2). Pada ayat (1) disebutkan setiap orang yang mengendarai sepeda motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Terkait boncengers, ada di ayat (2) yakni setiap orang yang mengendarai sepeda motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Sebagaimana lazimnya undang undang, pemberlakuan UU LLAJ setidaknya efektif setahun sejak diundangkan, sekaligus menunggu dibuatnya peraturan pemerintah (PP).

Bisa dibayangkan, berapa banyak uang denda yang masuk ke kas negara jika aturan ini diimplementasikan secara tegas. Atau, kata seorang teman, bisa saja terbuka peluang pungli baru. Maklum, populasi sepeda motor di Tanah Air saat ini sekitar 40 juta unit. Kita lihat aja nanti. (edo)

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian