Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label kecelakaan sepeda motor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kecelakaan sepeda motor. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Januari 2010

Inilah Jam-jam Rawan Kecelakaan


foto:edo



WASPADALAH para pengendara sepeda motor alias bikers. Terlebih di rentang waktu 06.00-12.00 WIB. Alih-alih mau berangkat kuliah, kerja atau berwiraswasta, malah mencium aspal.

Peristiwa lebih buruk bisa menghinggapi para bikers seperti yang dialami oleh Herman (39 thn) dan Herlina (30 thn), pada awal Oktober 2009. Keduanya pada pagi itu yakni sekitar 07.30 WIB sedang melintas di Jl.RE Martadinata, Jakarta Utara. Namun, sepeda motor B 6406 PEH yang dikemudikan Herman terlibat kecelakaan dengan truk trailer B 9567 ZH. Naas, Herlina yang dibonceng oleh Herman tewas di tempat kejadian. Herman mengalami luka-luka.

Berdasarkan data yang diolah dari http://www.lantas.metro.polri.go.id rentang waktu kecelakaan lalu lintas jalan yang menimpa sepeda motor di Jakarta mayoritas pada pukul 06.00-12.00 WIB. Sepanjang 2009, prosentasenya meningkat yakni dari 38,95% pada 2008 menjadi 41,03%.

Tingginya kecelakaan pada periode jam-jam itu, tak terlepas dari pergerakan warga Jakarta dan sekitarnya yang hendak menuju tempat aktifitas masing-masing. Mulai dari yang hendak ke sekolah, kuliah, kerja, hingga wiraswasta.

Sementara itu, rentang waktu tertinggi kedua terjadinya kecelakaan jalan adalah di pukul 18.00-00.00 WIB, yakni mencapai 21,25% dari total kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Rentang waktu itu menurun dibandingkan 2008 yang berkontribusi 25,26% terhadap total kecelakaan.

Periode waktu tersebut kebalikan dari pagi hari yakni saat dimana para pengendara sepeda motor hendak kembali ke tempat tinggal setelah beraktifitas seharian. Faktor kelelahan bisa menimbulkan lepas kontrol yang bermuara kepada kecelakaan.

Rentang waktu ketiga terbanyak terjadi kecelakaan adalah pukul 12.00-18.00 WIB (20,51%) dan pukul 00.00-06.00 WIB (17,22%). Maklum, jelang dinihari volume sepeda motor menyusut drastis.

Sepeda motor masih mendominasi kecelakaan lalu lintas jalan yang terjadi di Jakarta pada 2009. Maklum, tahun lalu, populasi sepeda motor mencapai sekitar 7,3 juta unit atau meningkat dari 6 juta unit pada 2008.

Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Condro Kirono, beberapa waktu lalu menyebutkan, korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalulintas di Jakarta bisa mencapai 95-103 orang setiap bulan. Dengan asumsi 95 per bulan, artinya tahun lalu ada sekitar 1.140 jiwa melayang sia-sia.

Dari data yang diolah penulis, korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor mayoritas adalah berjenis kelamin laki-laki yakni 80,77% dari total korban, sedangkan wanita 19,23%.

Sementara itu, korban terbesar adalah dari kelompok usia produktif yakni 20-39 tahun yang mencapai 67,27%. Angka itu menurun jika dibandingkan 2008 yang kontribusinya mencapai 72,73% dari total korban kecelakaan. (edo rusyanto)

Senin, 30 November 2009

Waspada Berkendara di Gelap Malam


foto:istimewa


SATU lagi kisah memilukan. Saat asyik memejamkan mata, enam warga Nganjuk, Jawa Timur, justeru tergilas sepeda motor.

Kisah bermula ketika keenam orang tersebut usai memancing di Waduk Kalibening, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun. "Kami memancing semalaman karena capek, kami istirahat," kata Suminto yang tinggal di Desa Manggerejo, Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk, Senin (30/11), seperti dilansir Antara.

Suminto menuturkan, kejadiannya demikian cepat. Saat mereka asyik terlelap, sepeda motor yang ditunggangi Maji, warga Desa Balongan, Kecamatan Berbek, Nganjuk, Jawa Timur, melindas mereka. Buntutnya, Suminto dan rekannya Supriono, menderita luka serius di bagian kepala dan tangan. Meski keempat rekan lainnya luka ringan, kesemuanya harus dirawat di Rumah Sakit Umum Bhayangkara, Nganjuk.

Kenapa Maji melindas warga yang sedang tidur? "Saat itu, cuaca masih gelap, sehingga saya tidak tahu persis jika ada orang yang tidur di tepi jalan," kata Maji.

Meski demikian, Maji belum ditahan oleh kepolisian. "Kami masih melakukan penyelidikan kasus tersebut," jelas Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Kepolisian Resor Nganjuk AKP M Puji.

Mata Lelah
Bersepeda motor di gelap malam membutuhkan konsentrasi yang amat tinggi. Sekalipun cahaya lampu utama sepeda motor sudah cukup terang, indera mata kita harus bekerja ekstra keras. Maklum, ketika bersepeda motor, kita senantiasa dituntut melakukan analisis medan secara akurat.

Praktis, dalam kasus Maji yang melindas enam warga, rasa lelah mata sang bikers mempengaruhi keputusan untuk memacu pedal gas atau sebaliknya melakukan pengereman.

Walau demikian, rasanya baik Maji maupun Suminto cs, kedua pihak sama-sama berkontribusi atas insiden kecelakaan di jalan itu. Masak sih tidur di pinggir jalan raya, sedangkan yang satunya lagi masa nggak melihat ada tubuh manusia yang berjejer. Atau, jangan-jangan lampu sepeda motor Maji tidak berfungsi? (edo rusyanto)

Minggu, 08 November 2009

67% Korban Kecelakaan Motor Usia Produktif


foto:edo

Sepanjang Januari-Oktober 2009, korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di kawasan Jakarta mayoritas merenggut usia-usia produktif. Hampir 66,7% korban kecelakaan sepeda motor merupakan usia 20-39 tahun. Miris.

Korban dari sisi usia 10-19 tahun menempati posisi kedua terbanyak yakni 20,37% sedangkan usia 40-69 tahun di posisi ketiga sekitar 12,96%.

Data yang diolah dari www.lantas.metro.polri.go.id menyiratkan bahwa kecelakaan yang melibatkan sepeda motor masih dominan sepanjang 10 bulan 2009. Dari 228 kasus kecelakaan, sebanyak 36,84% terjadi pada kurun waktu 06.00-12.00. Area waktu ketika pengguna jalan bergerak untuk beraktifitas, mulai dari sekolah, kuliah, wiraswasta, hingga kerja kantoran.

Rentang waktu yang rawan kecelakaan juga di sekitar 18.01-00.00. Sepanjang 10 bulan 2009, kecelakaan sepeda motor di rentang waktu itu mencapai sekitar 23,25%. Di belakangnya rentang waktu 12.01-18.00 (21,93%) dan 00.01-06.00 (17,98%).

Dari 228 kasus kecelakaan sepeda motor, sebanyak 21,89% korban meninggal dunia dan selebihnya, 78,11% korban luka berat dan luka ringan.

Sementara itu, wilayah Jakarta yang sering terjadi kecelakaan sepeda motor adalah di Jakarta Selatan yakni sekitar 44,30%. Tidak berbeda jauh dengan kejadian sepanjang Januari-September 2009.

Bahkan, menurut catatan PT Jasa Raharja Kantor Perwakilan Jakarta Selatan, mayoritas korban kecelakaan di wilayah itu didominasi oleh kecelakaan sepeda motor. Sepanjang Januari-September 2009 dana santunan yang telah dibayarkan PT Jasa Raharja Perwakilan Jakarta Selatan mencapai Rp 5,13 miliar terhadap 148 orang korban meninggal dunia dan 253 orang korban luka-luka.
Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2008 terdapat kenaikan jumlah korban sebanyak 107 orang korban atau 36,39% dan jumlah santunan sebesar Rp 1,69 miliar atau 49,12%.

Jasa Raharja menyatakan, kenaikan jumlah korban tersebut disebabkan adanya kenaikan volume kendaraan yang tidak diimbangi dengan panjang dan ruas jalan, serta infrastruktur jalan. Lalu, adanya pembayaran santunan lintas batas (Jabodetabek ). Dan, yang memprihatinkan, pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm standar. Selain itu, human error dan pengendara yang tidak atau belum memiliki SIM.

BUMN tersebut bahkan menyimpulkan, hal tersebut menunjukan bahwa sepeda motor adalah moda transportasi yang tidak aman, sehingga perlu penanganan secara khusus atas penggunaan sepeda motor. Selain itu, perlu perhatian dari pihak yang berwenang untuk mensosialisasikan cara penggunaan sepeda motor yang aman, mulai dari persiapan fisik pengendara, pengecekan laik jalan kendaraan, penggunaan helm standar dan jaket warna terang, serta pengetahuan tata tertib berlalu lintas. (edo rusyanto)

Rabu, 21 Oktober 2009

Bahayanya Jalan Gelap dan Posisi ke Tengah


foto:tino

GAK percaya ama judul di atas. Baca aja laporan wartawan Antara di bawah ini.

Seorang pengendara sepeda motor tewas seketika setelah bertabrakan dengan sebuah truk di jalan raya Kalipucang, Dusun Empangsari, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Kabag Binamitra Kompol Yudi Saprudin, kepada wartawan, Minggu (18/10) membenarkan peristiwa tersebut terjadi Sabtu (17/10), sekitar pukul 23.00 WIB dengan korban Denis Berkam (16) seorang pelajar SMA di Ciamis warga Dusun Cimandeka Rt 02 Rw 03Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang Kabupaten Ciamis.

"Korban tewas setelah bis menabraknya hingga mengalami luka serius di kepala dan disekujur tubuhnya," katanya.

Dari saksi warga yang melihat peristiwa tersebut sepeda motor yang dikemudikan korban menuju arah timur atau Pangandaran dengan laju kendaraan berkecepatan tinggi.

Sepeda motor tersebut melaju terlalu ketengah badan jalan kemudian truk dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi menabrak sepeda motor hingga terpental sekitar 200 meter.

Peristiwa tabrakan tersebut dikarenakan penerangan kawasan jalan cukup gelap dan kedua pengguna jalan kurang berhati-hati.

"Dari saksi dan anggota kami menyebutkan pengemudi sepeda motor kurang hati-hati, sehingga terjadi kecelakaan," katanya.

Akibat peristiwa itu korban langsung dievakuasi ke puskesmas Pangandaran dengan kondisi tidak bernyawa dan keadaan tubuh mengenaskan.

Sementara itu Yudi mengimbau kepada pengguna jalan agar berhati-hati melintasi jalan yang menuju kawasan objek wisata di Kabupaten Ciamis.

Menurutnya kawasan tersebut jalannya banyak tikungan tajam dengan kondisi jalan cukup gelap karena disepanjang jalan belum terlalu banyak permukiman penduduk.

"Kami harap pengguna jalan agar selalu berhati-hati dengan kondisi jalan yang kurang penerangan," katanya.


Pentingnya Kewaspadaan

Tak ada pilihan bagi bikers ketika di jalan kecuali taat pada rambu dan marka jalan, serta senantiasa waspada. Sepeda motor yang secara fisik lebih kecil dibandingkan kendaraan roda empat atau lebih, kerap menjadi obyek yang ringkih terhadap benturan.
Berkendara dengan kecepatan di atas 80 kilometer per jam (kpj) rentan terhadap goyahnya konsentrasi sang bikers. Sekalipun pengendara profesional kadang tak luput dari bayang-bayang lepas kontrol. Selain butuh stamina yang memadai, bersepeda motor harus melengkapi diri dengan perlindungan yang maksimal. Mulai dari helm yang tahan benturan, jaket, sarung tangan, hingga sepatu. Tentu saja, jangan lupa senantiasa berdoa. Semoga kita selalu selamat saat di jalan. Amin. (edo rusyanto)

Selasa, 20 Oktober 2009

24% Korban Kecelakaan Motor Berujung Kematian


foto:edo


SEPANJANG Januari-September 2009, sebanyak 24,49% korban kecelakaan sepeda motor di Jakarta, berujung kepada kematian. Selebihnya mengalami luka ringan dan luka berat.
Potensi kecelakaan yang memicu kematian tersebut lebih tinggi dibandingkan risiko kecelakaan mobil yang hanya 20,76%.

Risiko yang menimbulkan kematian akibat kecelakaan sepeda motor itu naik jika dibandingkan periode sama 2008. Tahun lalu, risiko yang menimbulkan kematian sebesar 22,58%. Apakah artinya kualitas kecelakaan sepeda motor meningkat? Butuh penelitian lebih intensif.

Pastinya, sepanjang sembilan bulan 2009, pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas akibat kecelakaan di jalan juga meningkat. Total korban meningkat sekitar
58,06%, korban luka naik 54,16%, dan korban tewas meningkat paling tinggi yakni 71,42%.

Hingga triwulan ketiga 2009 dari 188 kasus kecelakaan yang melibatkan bikers, sebanyak 60 orang harus meregang nyawa di jalan. Lalu, korban luka dan berat sebanyak 185 atau 75,51% dari total korban kecelakaan yang mencapai 245 orang.

Ironisnya, korban kecelakaan yang melibatkan bikers masih mayoritas dibandingkan korban yang melibatkan jenis kendaraan lain. Januari-September 2009, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sebanyak 188 kasus atau 57,84%, sedangkan mobil sebanyak 137 kasus atau 42,16% dari total 325 kasus kecelakaan di Jakarta. Korban tewas karena kecelakaan mobil sebanyak 54 orang, sedangkan korban luka 206 orang.


Sekadar informasi, selama sembilan bulan, korban yang tewas di jalan Jakarta mencapai 114 orang atau 22,57% dari total korban kecelakaan yang mencapai 505 korban, sebagian besar 77,43% atau 391 orang adalah korban luka ringan dan luka berat.


Pemicu Sepeda Motor


Kecelakaan yang menimpa bikers sepanjang Januari-September 2009, ternyata mayoritas akibat tertabrak mobil yakni 42,93%. Kecelakaan sesama sepeda motor menjadi pemicu timbulnya korban terbesar kedua yakni 15,22%. Pengendara sepeda motor yang menabrak mobil jauh lebih rendah yakni 10,87%. Namun, hal ini menyiratkan bahwa pengendara sepeda motor harus lebih waspada.

Sementara itu, pengendara yang lepas kontrol sehingga terjadi kecelakaan tunggal mencapai 14,13%. Sementara itu, infrastruktur yang buruk seperti jalan berlubang dan jalan bergelombang memicu kecelakaan sebesar 2,72% terhadap bikers.

Sebagian besar waktu kecelakaan terjadi rentang waktu 06.01 hingga 12.00 WIB yakni mencapai 38,83%. Hal tersebut dimungkinkan karena mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi di rentang tersebut. Baik untuk menuju sekolah, kantor, tempat usaha, atau tempat aktifitas lainnya. Maklum, hampir enam juta sepeda motor yang tercatat di wilayah tersebut. Belum lagi, populasi mobil yang mencapai sekitar tiga juta unit.

Rentang waktu yang berisiko tinggi adalah kebalikannya, yakni saat waktu pulang kantor atau pulang aktifitas yaitu 18.01 hingga 00.00 WIB. Pada area waktu ini, berkontribusi hingga 22,87% dari total kecelakaan di Jakarta.

Kawasan yang cukup tinggi tingkat kecelakaannya tercatat adalah Jakarta Selatan (45,74%), Jakarta Pusat (19,15%), Jakarta Barat (17,55%), Jakarta Timur (8,51%), dan Jakarta Utara (4,79%), serta seputar Jakarta (4,26%).

Dari data kecelakaan yang menimbulkan korban seperti dipublikasikan situs resmi Polda Metro Jaya, www.lantas.metro.polri.go.id, tercatat pula bahwa sekitar 67,39% korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor adalah berasal dari usia produktif yakni 20-39 tahun. Amat memilukan, jika ternyata mereka adalah tiang ekonomi keluarga. Lenyaplah sudah sumber penghasilan keluarga sang korban. (edo rusyanto)

Senin, 28 September 2009

Masih Tingginya Kecelakaan Selama Arus Mudik


foto ilustrasi:edo

Minimnya Kedisiplinan dan Kerjasama



“Saya takut bawa (mengendarai) mobil terhadap ulah bikers yang ugal-ugalan. Ada pembiaran atau ketidakmampuan mengahadapi perilaku bikers yang ugal-ugalan.”


Pernyataan Arifin, dari Ciputat, terlontar dalam Diskusi Interaktif Elshinta 90,00 FM, Jakarta yang mengangkat topik "Mencermati Arus Mudik dan Arus Balik Lebaran 2009”. Diskusi, Senin (28/9), pukul 00.00-01.00 WIB itu, membahas fenomena jumlah kecelakaan yang meningkat sepanjang H-7 hingga H+7, Lebaran 2009 yang jatuh pada 20 September 2009.
Diskusi menampilkan narasumber Direktur Keselamatan Transportasi Ditjen Perhubungan Darat Dephub RI Suripno, Anggota Komisi V DPR Rahman Syagaf, dan Penggiat Safety Riding Center for Safety Riding Study (Ceras) Edo Rusyanto.
Rasa khawatir menyikapi ketidakdisiplinan bikers bukan monopoli Arifin. Pendengar lain dari Medan, Sumatera Utara, juga mengakui hal serupa. “Kecelakaan terjadi karena kurangnya kesadaran pengguna jalan, termasuk pengendara sepeda motor,” papar Soga.
Tudingan bahwa pengendara sepeda motor sebagai biang kerok kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan arus balik 2009 mencuat sesaat melihat sejumlah fakta. Hingga hari ke-13, Minggu (27/9), dari 1.437 kasus kecelakaan, sekitar 70,79% atau sebanyak 1.372 kasus merupakan kecelakaan yang melibatkan pengendara sepeda motor. Jumlah korban tewas mencapai 593 jiwa atau setara dengan 45 jiwa per hari. Memilukan.
Dibandingkan 2008, kasus selama 13 hari tahun ini, meningkat sekitar 5%. Data tersebut masih sementara, jika diakumulasikan kasus kecelakaan sepanjang H+7 atau Minggu (27/9), boleh jadi jumlah korban jiwa bakal melampaui 600 orang. Tahun lalu, korban jiwa 633, sedangkan korban luka berat dan luka ringan masing-masing 780 orang dan 1.336 orang.
Kembali soal perilaku bikers. Suripno menuturkan, penyebab kecelakaan bikers adalah karena faktor manusianya yakni faktor kelelahan dan ketidakdisiplinan. Bahkan untuk mencegah hal itu, ia sempat melontarkan ‘pemikiran panik’. “Penggunaan motor untuk jarak jauh sangat berisiko, mungkin gak, ada keputusan politik penggunaan sepeda motor hanya sampai nomor area polisinya, (alias) tidak boleh lintasi wilayah tertentu,” papar dia yang saat diskusi bersanding dengan Rahman.
Sontak, Anggota Komisi V DPR RI itu menimpali. “Pembatasan sepeda motor tidak mudah, tergantung political will pemerintah,” kata dia.
Hal tersebut, lanjutnya, terkait dengan grand design transportasi nasional. Ia menegaskan, perlu dibuat grand design mudik nasional. Mulai dari tata ruang dan urbanisasi hingga grand design transportasi nasional. “Juga mesti ada pembatasan kendaraan tertentu, tidak hanya sepeda motor, pembatasan juga bisa seperti bagi kendaraan yang boros energi. Hal ini terkait dengan kebijakan Departemen Perindustrian,” ujar Rahman.
Edo yang juga pengurus Road Safety Association (RSA) menilai, keselamatan di jalan merupakan tanggungjawab bersama. Pemerintah dan masyarakat. “Kalau transportasi nyaman dan aman serta terjangkau, secara alamiah manusia memilih moda transportasi tersebut untuk bepergian. Tidak akan memaksakan diri naik motor ratusan kilometer,” katanya.
Guna pencegahan kecelakaan, kata dia, butuh sosialisasi soal pentingnya keselamatan kepada pengguna jalan, seperti kepada bikers via komunitas/klub motor dan kantong-kantong masyarakat pemudik. “Dilakukan secara berkesinambungan mulai saat ini, jangan menunggu besok atau jelang Lebaran,” papar dia. Karena itu, lanjutnya, sudah saatnya dikampanyekan secara terus menerus tentang berkendara yang bertanggungjawab (responsible riding).
Termasuk menerapkan pengawalan oleh kepolisian untuk rombongan arus mudik dan arus balik. ”ATPM bisa diajak kerjasama untuk mengkoordinasikan hal tersebut,” ujar Edo.

Kerjasama Kurang
Masalah keselamatan di jalan memang tanggungjawab semua elemen masyarakat. Pemerintah, selaku penyelenggara kehidupan bernegara, bertanggungjawab untuk penyediaan infrastruktur jalan dan fasilitas moda transportasinya. Dalam UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan bahwa untuk mewujudkan keselamatan lalu lintas, pemerintah wajib menyelenggarakan manajemen keselamatan lalu lintas.
Karena itu, menurut Susilo, seorang pendengar dari Depok, Jawa Barat, Departemen Perhubungan harus mengevaluasi sistem transportasi yang ada. “Apakah Dephub pernah mengevaluasi subsistem yang kurang baik?” tanya Susilo. Menurut dia, pemerintah perlu mengidentifikasi permasalahan transportasi yang terdiri atas sub sistem yakni jalan, pengendara, kendaraan laik atau tidak, hingga fasilitas rambu jalan. “Apa penyebab kecelakaan? Dan subsistem mana yang kurang baik? Itulah yang harus diperbaiki termasuk mencermati perilaku pengendara,” tutur dia.
Suripno menegaskan, upaya meningkatkan keselamatan diperlukan kerjasama antar instansi yang konkret. “Memang upaya mengantisipasi kecelakaan belum maksimal, sedangkan upaya mencegah kecelakaan yang seharusnya membutuhkan kerjasama, saat ini rata-rata (instansi) berjalan masing-masing,” papar dia.
Karena itu, lanjutnya, harus dibentuk suatu forum. Semua upaya pencegahan dan manajemen keselamatan dibicarakan dalam suatu forum yang ouput-nya adalah keselamatan. “Segera direalisasikan forum itu dan persoalan keselamatan bukan hanya saat Lebaran,” tegas Suripno.
“Pemerintah harus meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat,” ujar Abah Udut, pendengar asal Bandung. (edo)

Senin, 24 Agustus 2009

Jalur Busway Makan Enam Korban Jiwa


foto:edo

KAMPANYE menempatkan lajur sepeda motor berada di sisi kiri jalan sempat meruyak beberapa waktu lalu. Kini, semua itu dah sirna. Pengendara sepeda motor di Jakarta sudah enggan menempati posisi tersebut. Mayoritas asyik saling kebut di semua sisi ruas jalan. Bahkan, masuk ke jalur mass rapid transportation (MRT) busway milik Trans Jakarta.
Lajur khusus untuk bus Trans Jakarta itu dianggap menjadi solusi di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta. Para pengendara sepeda motor memacu pedal gas di ruas tersebut. Terlebih, di ruas yang memang belum dipakai oleh Trans Jakarta, seperti ruas koridor VII, Pinang Ranti-Pluit.
Sepanjang Januari hingga pertengahan Agustus 2009, sedikitnya 6 pengendara sepeda motor yang tewas dilindas bus Trans Jakarta dan 3 korban luka-luka. Mayoritas korban karena melintas di jalur yang memang peruntukkannya bukan untuk sepeda motor. Jelas-jelas terpampang di mulut lajur busway larangan bagi kendaraan nonTrans Jakarta untuk melintas di situ.
Pengendara sepeda motor memang tidak sendirian, kerap kita jumpai kendaraan angkutan umum dan mobil pribadi seenaknya melintas di busway. Bahkan, sesekali memotong median lajur tersebut. Memalukan.
Beberapa pengendara sepeda motor yang ditemui kedapatan melintas di jalur busway mengaku ‘terpaksa’ masuk jalur tersebut karena malas terperangkap kemacetan di jalur arteri. “Saya buru-buru mas, mengejar waktu agar tidak telat masuk kerja,” papar Wagiman, seorang pengendara di Jakarta Timur.
Moralitas mencari jalan pintas guna mencapai tujuan masih merajalela. Ketidakdisiplinan subur karena mentalitas mencari jalan pintas. Perilaku tersebut buntutnya memicu kecelakaan di jalan, seperti yang terjadi di atas. Enam korban tewas sia-sia dan lainnya luka-luka.
Saking gemasnya terhadap ulah pengguna jalan yang ugal-ugalan masuk ke jalur busway, pengelola Trans Jakarta angkat bicara. Mereka menggelar pembersihan jalur busway dari kendaraan non-Trans Jakarta, di antaranya dengan slogan "Nyerobot Jalur Bus Way? No Way". Operasi gelar selama delapan hari sejak 19 Agustus 2009.
Sistem transportasi Trans Jakarta dibentuk guna mengurai kemacetan dan memberi kenyamanan bagi pengguna moda transportasi massal. Trans Jakarta memiliki jalur khusus dan halte tersendiri dengan sistem modern. Bahkan, pengemudi Trans Jakarta memperoleh gaji bulanan sekitar Rp 2,5 juta. Sistem yang dilahirkan ketika Gubernur DKI Jakarta dijabat Sutiyoso itu, ditargetkan mampu melayani seluruh rute di wilayah DKI Jakarta. Pengembangan busway yang dimulai sejak 2004 juga diharapkan mampu menyokong mobilisasi warga Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) menuju Jakarta. (edo rusyanto)

Rabu, 05 Agustus 2009

Kampanye Safety Riding Ala ATPM


foto:dokumen ibc

PARA agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor di Indonesia terus melenggang memenuhi pundit-pundinya. Sejak 30-an tahun lalu, sedikitnya 44 juta unit sepeda motor diserap oleh pasar Indonesia.
Produk sepeda motor merek Jepang masih mendominasi hingga kini. Lebih dari 90% pasar domestik dikuasai merek asal negeri Matahari Terbit itu. Siapa yang tak kenal Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki. Mereka asyik menggenggam pasar di segala segmen sepeda motor.
Setiap merek tersebut melenggang dengan satu ATPM. Sang pemimpin pasar, Honda, dibesut oleh PT Astra Honda Motor (AHM). Pemegang tampuk nomor dua, Yamaha, diusung oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), lalu Suzuki diawaki oleh PT Indomobil Niaga Indonesia (IMNI), sedangkan sibungsu, Kawasaki dikawal PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI).
Meski mereka adu otot merayu konsumen di Nusantara, bisa dipastikan mereka satu barisan di negeri asalnya. Bersatu menyerbu pasar nomor tiga terbesar di dunia setelah Republik Rakyat Cina (RRC) dan India. Tahun 2008, pasar Indonesia menyerap sedikitnya 6,2 juta unit sepeda motor. Tahun ini, diprediksi menurun menjadi sekitar 4,5 juta unit. Maklum, krisis finansial global yang bermula di Negeri Barrack Obama, AS, masih belum reda benar pada 2009. Konsumen banyak mengencangkan ikat pinggang. Terlebih, kebijakan suku bunga pinjaman perbankan yang masih tergolong tinggi untuk pembiayaan sepeda motor yakni berkisar 30-an% per tahun, belum mampu mendukung daya beli konsumen. Jadilah, penjualan 2009 lebih rendah dibandingkan 2008 yang memang merupakan puncak penjualan sepeda motor sepanjang sejarah Indonesia.
Selama konsumen Indonesia menganggap sepeda motor sebagai alat transportasi yang aman dan selamat, sepanjang itu pula penjualan sepeda motor bakal terus menggeliat. Rata-rata lajut pertumbuhannya bisa 20% per tahun. Luar biasa.
Citra sepeda motor sebagai alat transportasi alternatif untuk kegiatan sehari-hari masyarakat terus dipompa oleh para ATPM. Kini, di era menjamurnya kelompok sepeda motor, disadari atau tidak, kelompok tersebut menjadi perpanjangan tangan propaganda yang efektif bagi ATPM. Ada yang menjulukinya sebagai duta merek (brand ambassador) bahkan ada yang menyebutnya sebagai pemasar tidak langsung (soft marketer). Citra yang dibentuk oleh anggota kelompok sepeda motor minimal adalah soal ketangguhan dan kelebihan sepeda motor mereka. Tentu saja menjadi ajang pencitraan gratis bagi ATPM.

Kampanye ATPM

Terkait pencitraan sepeda motor sebagai alat transportasi yang aman dan selamat, tak heran jika para ATPM sejak pertengahan tahun 2000 mulai gencar mengkampanyekan berkendara sepeda motor yang aman dan selamat alias safety riding. Tidak saja ATPM, lewat jejaringnya, yakni para dealer utama maupun dealer di bawahnya, mereka bahu membahu menggelontorkan program safety riding.
Dengan bungkus untuk ikut menekan angka kecelakaan sepeda motor di jalan, program tersebut memperoleh sambutan hingar bingar dari masyarakat, anggota kelompok sepeda motor, kepolisian, departemen perhubungan, hingga kalangan sekolah serta kampus. Maklum, sejumlah ATPM, seperti PT AHM dan PT YMKI, cukup gencar menyasar siswa mulai tingkat dasar hingga lanjutan, bahkan perguruan tinggi.
Wajar saja para ATPM giat mendonasi program safety riding. Tengok saja kocek mereka yang dipenuhi dari hasil penjualan. Pada 2008, AHM mampu melego 2,87 juta unit. Berapa rupiah yang masuk? Dengan asumsi menggunakan rata-rata per unit Rp 10 juta, AHM sedikitnya meraup Rp 28,7 triliun. Fantastis. Bagaimana ATPM yang lainnya? YMKI menjual sekitar 2,46 juta unit (Rp 24,6 triliun), dan IMNI sekitar 793 ribu unit (Rp 7,9 triliun). Omzet sepeda motor tahun 2008 ditaksir sekitar Rp 62 triliun, naik 31,9% dibandingkan 2007 yang ditaksir sekitar Rp 47 triliun.
Andai 1% saja dari pendapatan para ATPM disisihkan untuk sosialisasi dan kampanye safety riding, berarti terkumpul sedikitnya Rp 620 miliar. Suatu angka yang dahsyat.

Perlu Peningkatan
Kembali soal aktifitas ATPM menggelorakan semangat safety riding, memang bukan semata melalui pelatihan atau program edukasi sesaat. Saat konsumen membeli sepeda motor, para ATPM bisa memberikan buku petunjuk mengenai motor yang dilengkapi petunjuk mengenai safety riding, termasuk membagikan helm berkualitas Standar Nasional Indonesia (SNI). Jika sekarang merebak wacana pemberian dua buah helm, rasanya tak berlebihan jika para ATPM menyetujui wacana tersebut. Meski pada ujungnya, bisa saja ATPM membebani biaya pembuatan helm ke dalam harga jual motor.
Langkah ATPM seperti PT AHM yang mendatangkan alat simulasi serta mendirikan pusat pelatihan safety riding, bisa ditiru oleh ATPM lainnya. Namun, dari kesemua program yang digulirkan ATPM baik edukasi, kampanye, pelatihan, dan hiburan musik yang disisipkan pesan safety riding, masih terasa perlunya peningkatan keseriusan. ATPM bisa membuat program yang lebih serius dengan melakukan observasi pascapelatihan atau workshop. Apakah materi yang diberikan diimplementasikan? Atau, lebih ekstrim lagi, tidak menjual sepeda motor kepada seseorang yang belum memiliki surat izin mengemudi (SIM).
Peran ATPM menjadi vital. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) membuka ruang besar bagi peran masyarakat untuk meningkatkan pemahaman akan berkendara yang aman dan selamat. Maklum, dua tahun terakhir, tiga orang tewas akibat kecelakaan di jalan Jakarta. (edo rusyanto)

Senin, 03 Agustus 2009

Kampanye Safety Riding Masih Lemah?




KEGIGIHAN para penggiat menyerukan keselamatan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) terus diuji. Segelintir orang mencibir bahwa upaya tersebut belum menghasilkan apa-apa?
Secara ekstrim, ukuran keberhasilan kampanye safety riding adalah menekan angka pertambahan kecelakaan di jalan yang melibatkan sepeda motor. Hal itu tidak ada yang menyangkal. Tapi apakah semuanya terbebani di pundak para penggiat safety riding?
Pemerintah menggaungkan kampanye bahwa masalah kecelakaan jalan adalah tanggung jawab bersama. Semua elemen bangsa ikut bertanggungjawab. Termasuk kalangan dunia usaha. Tak bisa membebani satu pihak atau hanya beberapa pihak.
Porsi pemerintah selaku pelayan masyarakat semestinya paling besar memikul tanggungjawab soal kecelakaan. Pemerintahlah penyedia infrastruktur, penegak hukum, dan pelayan kesehatan. Tentu saja, pemerintah bertanggungjawab menyebarluaskan kampanye safety riding. Gunakanlah media milik pemerintah secara maksimal dan anggarkan dana pemasukan dari pajak kendaraan untuk kampanye tersebut.
Tanpa keseriusan pemerintah, niscaya laju kampanye bak jalan di tempat.
Sebagian masyarakat memandang mengandalkan pemerintah semata akan sia-sia. Harus dibangkitkan kesadaran masyarakat. Harus diperkuat pemberdayaan masyarakat.
Salah satu kelompok masyarakat adalah komunitas atau kelompok pengguna sepeda motor (bikers). Ada ribuan kelompok sepeda motor di Tanah Air. Ada yang menaksir sedikitnya sekitar 6 ribu kelompok. Wajar saja, saat ini populasi sepeda motor di seluruh Indonesia mencapai 40 juta unit. Jika satu orang memiliki 2 unit, berarti ada 20 juta bikers. Luarr biasa.
Pemerintah mencatat bahwa jumlah korban kecelakaan yang melibatkan bikers mencapai sekitar 70% dari total korban kecelakaan yang pada tahun lalu saja mencapai 18 ribu orang. Bagaimana tahun ini? Departemen Perhubungan menaksir bakal terjadi lonjakan menjadi 19 ribu orang.
Lalu, apa artinya kampanye safety riding selama ini? Kampanye belum menjangkau seluruh pengguna jalan? Kampanye tak bisa mengubah perilaku pengguna jalan termasuk bikers?
Sebuah tantangan yang tidak ringan bagi para penggiat safety riding. Rasa lelah harus disingkirkan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli nasib bikers. (edo rusyanto)

Minggu, 02 Agustus 2009

Bikers Tewas Naik 19,04%


foto:edo

JULI baru saja berlalu. Angka kecelakaan di jalan Jakarta bukan mereda malah bertambah. Sebanyak 99 jiwa melayang sia-sia, sebanyak 50 di antaranya adalah melibatkan pengendara sepeda motor (bikers).
Lagi-lagi, angka itu adalah baru yang tercatat dan dipublikasikan situs resmi Polda Metro Jaya. Bisa dibayangkan jumlah yang tidak tercatat. Pasti lebih besar. Memprihatinkan.
Sepanjang Januari-Juli 2009, jumlah bikers yang tewas naik 19,04%, sedangkan korban yang luka parah dan luka ringan turun 18,34% menjadi 138 orang dari 169 orang. Secara akumulasi jumlah korban menurun 10,9% dari 211 menjadi 188 orang.
Namun, kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sepanjang Januari-Juli 2009 menurun 5,73% menjadi 148 kasus dari 157 kasus pada periode sama 2008.

Mayoritas Ditabrak Mobil
Apa yang menyebabkan kecelakaan sepeda motor? Dari total kasus Januari-Juli 2009 paling dominan adalah sepeda motor ditabrak mobil yakni 41,22%. Hal ini menunjukkan bahwa sepeda motor yang bentuknya lebih kecil dari kendaraan roda empat atau lebih, rentan terhadap kecelakaan. Jenis mobil yang menabrak sepeda motor beragam. Mulai dari angkutan perkotaan, sedan, bus, hingga truk trailer.
Sepeda motor yang hanya memiliki dua roda juga rentan tergelincir. Penyebab kecelakaan kedua adalah karena bikers lepas kontrol yakni 13,51%. Sedangkan sepeda motor yang menabrak mobil menempati posisi ketiga penyebab kecelakaan yakni 12,84%, di belakangnya adalah motor menabrak motor yakni 12,16%. Ulah bikers yang menabrak pejalan kaki pun cukup tinggi yakni 6,76%.
Ironisnya, mayoritas korban kecelakaan adalah dari kelompok usia produktif yakni 20-39 tahun yang mencapai 65%. Bisa dibayangkan jika sang korban adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Uang yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan menjadi pengeluaran yang memberatkan ekonomi keluarga. Belum lagi jika sang korban meninggal dunia. Hilang sudah sumber ekonomi keluarga.
Sementara itu, kelompok usia yang menjadi korban lainnya adalah 10-19 tahun (20%) dan 40-69 tahun (15%).
Rentang waktu yang sering terjadi kecelakaan di wilayah Jakarta adalah 06.00-12.00 WIB. Jam-jam tersebut adalah area dimana aktifitas masyarakat untuk bergerak untuk mencari nafkah maupun belajar. Bayangkan jika populasi sepeda motor yang kini mencapai sekitar enam juta unit di Jakarta, keluar serempak sudah pasti memenuhi jalan-jalan di Jakarta. Taruhlah hanya 1/8 saja sepeda motor yang bergerak, sebanyak 750 ribu roda dua menderu di atas aspal Jakarta. Rentang waktu kedua yang rawan adalah saat aktifitas masyarakat hendak pulang menuju rumah yakni 18.00-24.00 WIB (25%).
Jumlah korban kecelakaan dari segi gender mayoritas adalah pria yakni 85,71%, sedangkan wanita 14,29%.
Menjadi tugas berat bagi para petugas kepolisian, dinas perhubungan, dan instansi lain untuk menertibkan pengendara sepeda motor. Beban berat juga menggayut di pundak para penggiat berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Jangan lelah menyebarluaskan kesadaran berkendara yang santun dan bersahabat. (edo rusyanto)

Selasa, 28 Juli 2009

Sudah 96 Tewas Akibat Kecelakaan


foto:istimewa

KORBAN kecelakaan terus berjatuhan. Januari hingga 28 Juli 2009, tercatat 96 korban tewas di jalan raya. Sebanyak 50 korban tersebut dari kalangan bikers. Sekali lagi, itu baru yang tercatat.
Mereka yang menderita luka ringan, luka berat, hingga cacat tetap jumlahnya lebih banyak lagi, 312 orang.
Data di atas baru catatan kecelakaan yang terjadi di kawasan jalan Jakarta. Korban tewas lebih banyak dibandingkan korban flu babi. Mengerikan.
Pemicu kecelakaan beragam. Mulai dari pengendara yang mengantuk, kelelahan, tidak konsentrasi, kondisi infrastruktur jalan yang buruk, hingga perilaku pengendara yang ugal-ugalan.
Tahun lalu, 18 ribu orang menderita akibat kecelakaan di jalan raya. Tahun ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafi'i Djamal, pada 23 Juni 2009, memprediksi, bisa naik menjadi 19 ribu orang. Walahhh...kok malah bertambah yah? Apakah karena jumlah kendaraan yang terus bertambah?
Apa yang bisa kita lakukan? Para penggiat keselamatan berkendara yang aman dan selamat bagi sepeda motor (safety riding) menyerukan peningkatan disiplin berkendara. Patuhi aturan lalu lintas dan menekan emosi agar berperilaku berkendara yang santun dan bersahabat. Pak Polisi juga menyerukan pentingnya kesadaran masyarakat agar taat pada rambu dan marka jalan. Para aparat pemerintah beramai-ramai meneriakkan slogan, masalah kecelakaan adalah tanggungjawab bersama. Semua unsur masyarakat harus peduli atas keamanan dan keselamatan berkendara.
Apa artinya itu semua? UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahkan memuat puluhan ancaman sanksi pidana dan denda bagi para pelanggar lalu lintas. Terlebih bagi pemicu kecelakaan lalu lintas. Sanksi denda terrendah Rp 100 ribu, sedangkan tertinggi Rp 12 juta. Bagaimana sanksi kurungan? Sedikitnya bagi pelaku pelanggaran ringan dikurung satu bulan, lalu bagi mereka yang memicu kecelakaan hingga menimbulkan korban jiwa diancam kurungan enam tahun. Masih nekat ugal-ugalan di jalan? (edo rusyanto)

Rabu, 22 Juli 2009

50 Bikers Tewas


foto:istimewa

BERGIDIK membaca angka statistik. Sepanjang Januari hingga 20 Juli 2009 jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas 50 orang. Jauh lebih besar dari pengendara mobil yang tewas akibat kecelakaan yakni 42 jiwa.
Angka-angka itu baru untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Itu pun baru yang tercatat. Artinya, angka tersebut bisa membesar jika semua peristiwa kecelakaan yang melibatkan sepeda motor tercatat dengan baik. Hemmm...fenomena apakah ini?
Pemicu kecelakaan yang melibatkan sepeda motor beragam. Mulai dari bikers yang lepas kontrol sehingga masuk lubang atau menabrak pembatas jalan maupun trotoar, lalu minimnya analisis medan sehingga saat mendahului kendaraan di depannya malah menyerempet atau ditabrak kendaraan dari arah berlawanan, hingga ditabrak mobil dari belakang.
Jika korban tewas saja 50 orang, tentu saja korban luka jumlahnya lebih besar. Data yang diolah dari situs http://www.lantas.metro.polri.go.id/ menyebutkan korban luka mencapai 135 orang. Korban luka mulai dari yang sekadar lecet di jari tangan, patah tulang, hingga gegar otak.
Sepanjang sekitar tujuh bulan 2009, total korban luka dan tewas mencapai 185 bikers. Lebih besar dari kasus flu babi yang hingga kini 172 kasus di seluruh Indonesia. Hemmm...sudah saatnya, setop perilaku ugal-ugalan di jalan. (edo rusyanto)

Jumat, 03 Juli 2009

Tak ada lagi rasa malu?

foto; edo rusyanto

BUDAYA malu kian memalukan. Rasa malu sirna oleh egoisme. Tidak ada lagi rasa malu melabrak aturan, termasuk saat di jalan raya. Mana jatidiri bangsa timur yang mengagungkan kesopanan dan tatakrama? Mana rasa tenggang rasa itu?
Pertanyaan itu bertubi-tubi menghantui benak ini. Pertanyaan mencuat kala melihat ugal-ugalannya perilaku penggguna jalan di Jakarta. Kamis (2/7), setidaknya saya melihat tiga peristiwa ugal-ugalan. Pertama, seorang bikers dgn arogan menghidupkan klakson keras-keras meminta jalan kepada pengguna jalan lainnya. Padahal, tak ada yg membuatnya takmpak harus mendapat prioritas jalan. Kedua, dua bikers sundulan. Tabrak belakang. Bikers yg pertama dgn mendadak menghentikan laju motornya, sedangkan yg satunya terlalu mepet, tidak jaga jarak. Ketiga, bikers remaja, nangis sesengukan manakala kepalanya luka. Loh, knapa gak pake helm?
Semua itu ada aturannya. UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) mengatur soal siapa yg harus mendapat prioritas di jalan. Mereka di antaranya adalah pemadam kebakaran, ambulans,pemimpin dan tamu negara. Lalu, soal tatacara mendahului. Setidaknya diatur bahwa mendahului itu harus dari sebelah kanan dan hendaknya memberi tanda kepada kendaraan yg hendak didahului. Terakhir, soal helm. Tegas diatur. Bahkan, dendanya maksimal Rp 250 ribu atau kurungan badan satu bulan.
Lalu, kemana rasa malu kita sehingga melabrak aturan itu semua? (edo rusyanto)

Minggu, 28 Juni 2009

Bro Tommy MRC ‘Mencium’ Aspal

foto:istimewa

LANGIT cerah. Arus lalu lintas pada Minggu (28/6) di Jl Raya Bogor Pasar, sekitar ujung Jl Djuanda, Depok, cukup ramai. Baru saja usai mengisi Pertamax untuk Vixy merah. Harganya masih Rp 6.000 per liter. Pagi itu, sekitar pukul 09.50 WIB, solo riding menuju titik kumpul (tikum) rombongan Minerva Riders Community (MRC) di SPBU Warung Jambu, Bogor. “Kita masuk Warung Jambu sekitar jam 10.00,” tulis Bro Irsan, ketum MRC, menjawab pertanyaan via SMS dari saya.Tujuan akhir adalah MRC Sukabumi. Hari itu merupakan jadwal kopi darat keliling (Kopdarling) MRC yang kini memiliki sekitar 400-an anggota tersebar di belasan kota di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya ikut rombongan Pengurus Pusat MRC untuk roadshow ke pengurus MRC Bogor dan MRC Bandung. Selain berbincang mengenai dinamika organisasi pengguna motor besutan PT Minerva Motor Indonesia (MMI) itu, yang amat menarik buat saya adalah saat giliran membawakan materi berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Biasanya saya manfaatkan untuk bertukar pikiran mengenai bagaimana implementasi safety riding plus tetek bengek-nya. Hati agak berdebar setelah memeriksa ponsel. Ada panggilan tidak terjawab dari Bro Irsan. Sontak, saya telepon. “Pak Edo, kami kecelakaan, cukup parah. Sekarang ada di klinik Bidan Jenda, Lenteng Agung,” ujar Bro Irsan dengan nada cemas.Saya segera berputar arah. Belakangan saya dapat info, konvoy MRC Depok yang sedianya bergabung sudah tiba di tikum Warung Jambu. Tim MRC yang tertimpa musibah adalah konvoy MRC Jakarta dan Pengurus Pusat. Setelah menerabas ramainya Jl Djuanda pada Minggu pagi karena disesaki oleh pasar kaget di kanan kiri jalan, akhirnya saya melintasi Jl Margonda dan menikmati tersendat-sendatnya lalin di sekitar kampus Universitas Indonesia mengarah ke Jl Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Hampir sekitar 30 menit, akhirnya tiba juga di Klinik Bidan Jenda, itupun setelah bertanya ke seorang penjaga warung di sebelah kampus IISIP. Wajah Bro Irsan tampak semrawut. Ia tidak sendiri. Seingat saya ada Niko, Dani, Hendra, Jay, dan Ardian serta sepupu Niko. ”Bro Tommy dibawa ke RSUD Pasar Rebo, Jaktim,” ujar Bro Irsan.Ia menuturkan, kronologis terjadinya kecelakaan. Menurut Hendra, Bro Tommy ada diurutan ketiga. ”Urutan pertama Efan lolos, bro Ardian diurutan kedua juga lolos, tapi Tommy tidak sempat menghindar, ia terpelanting, melayang dan mencium aspal,” jelas Hendra. ”Padahal, konvoy kita pakai formasi zigzag,” tambah Irsan. Kecelakaan dipicu oleh munculnya dua penyeberang jalan yakni Ida dan seorang kerabatnya. Keduanya terserempet motor Tommy. ”Sekarang ditemani isteri Dani diantar tukang ojek untuk diurut,” jelas Irsan.Bro Tommy menderita lecet di tangan dan luka di wajah. ”Bibir sobek dan mengeluarkan darah, juga di pelipis,” jelas Hendra. Menurut Irsan, Klinik Bidan Jenda tak bisa menjahit luka di pelipis yang cukup dalam. Luka di bibir sempat dijahit klinik kecil tersebut.Setelah berkoordinasi, akhirnya saya dan bro Irsan menuju tukang urut tempat Ida dan kerabatnya mendapat pertolongan. Terlihat lebam di wajah Ida dan kerabatnya, sebagian lecet terlihat di tangan Ida. ”Sudah diurut dan engsel di lutut sudah dibetulkan oleh tukang urut,” tutur Kristi, isteri Dani yang menemani kedua wanita yang berniat ke Lebak Bulus tersebut.


Kualitas Helm

Luka yang diderita Bro Tommy tak akan serius apabila dilindungi oleh helm berkualitas. Saya lihat helm full face yang penuh bercak darah itu, rusak di bagian depan, terutama di sekitar bagian mulut. Kemudian di bagian atas pecah membentuk serpihan dan runcing. ”Bagian itu yang melukai pelipis,” sergah Bro Irsan.Helm menjadi vital bagi pengendara sepeda motor. Penelitian Kepolisian RI tentang kecelakaan menyebutkan, sekitar 90% korban meninggal akibat luka di kepala. Artinya, pengendara sepeda motor butuh helm yang mampu melindungi diri dari benturan ketika terjadi kecelakaan.”Padahal, semalam bro Tommy ingin membeli helm bagus di PRJ, tapi harus indent,” ujar Bro Irsan.”Tommy juga sebetulnya punya helm yang bagus, tapi hari ini ia pakai helm yang kualitasnya rendah,” ujar Bro Hadi, mantan ketua MRC Jakarta di RSUD Pasar Rebo. Bro Irsan akhirnya memutuskan untuk menunda kopdarling di Sukabumi. ”Anehnya, semalam kami juga dapat info rombongan MRC Bogor yang menuju Anyer juga terlibat kecelakaan. Konvoi menabrak penyeberang jalan yang tidak terlihat karena suasana gelap malam hari,” kata dia.Dalam waktu tidak terlalu lama, kecelakaan konvoi menabrak penyeberang jalan sudah terjadi beberapa kali. Sebelumnya, sejumlah pengendara dari HTML juga tertimpa musibah di sekitar kampus Gunadarma dan konvoi Milys di sekitar Tangerang, Banten. Ya! Helm berkualitas menjadi penting untuk melindungi kita. Semoga lekas pulih bro Tommy. (edo rusyanto)

Rabu, 24 Juni 2009

Diplomasi Sendratari, Tekan Kecelakaan?


"Tidakkah kamu lihat korban-korban bergelimpangan karena kecelakaan? Bukan lagi soal siapa salah dan benar. Seberapa besar di antara kita saling menghargai? Sejauhmana kebijaksaan kita berbenah diri ketika nyawa manusia menjadi taruhannya."

SUARA lantang itu mengalir dari seorang penari di Teater Tanah Air Ku, TMII, Jakarta. Sendratari berdurasi 46 menit yang dibiayai Departemen Perhubungan (Dephub) menghipnotis ratusan tamu Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) 2009 yang dibuka Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal, Rabu (24/6), pukul 09.34 WIB.

Gemuruh tepuk tangan dan sorak penonton terasa membahana di teater yang memiliki kelengkapan teknologi maju berstandar internasional itu.

Pada bagian lain, dialog menceritakan pentingnya menggunakan helm saat berkendara sepeda motor. Semua pesan keselamatan itu dikemas dalam sendratari yang menampilkan seni Jawa, Melayu, Aceh, Muslim, dan populer.

”Masalah keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama. Tak mungkin hanya bisa diselesaikan oleh satu instansi. Harus gerak bersama, sinergi, untuk membangun budaya keselamaatan,” ujar Menhub dalam sambutannya. Karena itu PNKJ kali ini mengambil motto ’Keselamatan jalan tanggung jawab kita semua.’

Ia mengaku, amat sulit menihilkan angka kecelakaan yang hingga kini menelan korban hampir 18 ribu orang pada 2008.

Pada PNKJ 2009 yang bertema ’Sedikit empati dapat menyelamatkan orang lain’, menurut Ketua Panitia PNKJ Giri Suseno, pihaknya merangkul lima instansi yakni Dephub, Depkes, Departemen PU, Kepolisian, dan Depdiknas. ”Perlu kebersamaan untuk mengggalang keselamatan di jalan,” papar mantan Menhub itu.

Giri yang juga ketua Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia itu menuturkan, seluruh kekuatan masyarakat dan pemerintah diharapkan bahu membahu menyebarluaskan pemahaman keselamatan berkendara. Gerakan itu juga merasuk ke generasi muda. ”Komunitas bikers (roda dua) dan komunitas pengguna kendaraan roda empat telah membentuk Road Safety Association (RSA). Mereka juga telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang membantuk tercapainya keselamatan di jalan,” tutur Giri saat menyampaikan laporan ketua panitia.

Seremonial yang semula diharapkan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, berlangsung meriah. ”Acaranya OK. Pesannya cukup bagus, tapi saya kecewa karena Presiden tidak hadir,” ujar Ardi, salah seorang peserta dari komunitas sepeda motor Indonesia Bajaj Bikers Community (IBBC).

Menurut Menhub, "Bapak Dr H Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan salam hormat dan maaf tidak dapat hadir karena kesibukan beliau menjalankan tugas-tugas kenegaraan lainnya."

Sumber di kalangan dekat Istana menyebutkan, hari itu Presiden berkunjung ke kantor Harian Kompas dan Kantor Majalah Tempo. Pada PNKJ 2007, SBY sempat membuka dan memberi sambutan, sedangkan PNKJ 2008 dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla.

Sulit Turunkan Kecelakaan

Kegiatan seremonial itu harus dilengkapi kegiatan nyata. ”Terpenting apa yang akan dilakukan setelah ini,” ujar Rio Octaviano, ketua RSA. Hal itu diamini oleh Ditto, pengguna sepeda motor yang hadir di acara tersebut. ”Kita butuh program nyata,” ujar pria yang gemar touring dengan sepeda motor itu.

Seremonial berbiaya ratusan juta rupiah itu memang belum mampu mengerem laju angka kecelakaan di jalan. "Tahun ini diperkirakan angka kecelakaan meningkat menjadi 19 ribu kasus,” ujar Jusman.

Terbukti, di tengah hingar-bingarnya seremonial PNKJ 2009, pada hari itu di luar gedung Teater Tanah Airku, sedikitnya ada lima kasus kecelakaan. Di Jakarta, seorang Polantas harus dirujuk ke RS Polri Kramat Jati karena kecelakaan tunggal di Jl Gatot Subroto, sedangkan sebuah mobil Suzuki Carry bermuatan kaca terguling di Jalan Tol Jakarta arah Tangerang KM 23. kecelakaan yang menelang korban jiwa terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Sebuah truk yang mengangkut bawang merah seberat lima ton, mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Tol ruas Jatingaleh, Semarang, menyebabkan satu orang tewas. Korban tewas dalam kecelakaan tersebut merupakan pemilik bawang merah, Warisno (37). Sementara itu, pengemudi truk, Muhammad Nizar (48), warga Jalan Perum Cendana Tulungagung, dan kernet truk, Mujiono (47), mengalami luka ringan.
Seremonial PNKJ yang ditutup sekitar pukul 11.40 WIB itu, diakhiri dengan pembagian helm gratis bagi para tamu. Helm untuk anak-anak itupun diserbu para tamu.”Helmnya sumbangan dari sponsor,” ujar seorang staf Dephub.(edo rusyanto)

Rabu, 10 Juni 2009

Belajar dari Mereka

foto:edo


HUJAN mengucur deras dari langit. Aspal menjadi licin. Angkutan umum terseok-seok, di bagian lain pengendara sepeda motor melamban. Jaga konsentrasi, daripada tergelincir mencium aspal? Tapi masih ada yang memacu bak melenggang di sirkuit. Konyol.

Siang ini, Jakarta hampir merata diguyur hujan. Sambil menanti hujan reda, vixy merah diparkirkan di depan warung kaki lima penjaja nasi uduk. Sebagian celana, jaket, helm, dan sepatu kuyup oleh air hujan saat melangkah masuk ke warung tenda di pinggir jalan itu.

Uppss...ternyata ada juga beberapa bikers berteduh. Mereka juga sudah kebasahan. Sebagian memilih menunggu sambil menyantap lele goreng, sebagian ayam goreng. Lumayan isi perut.
Pilihan saya jatuh pada segelas teh manis hangat. Sekadar mengurangi rasa dingin. Maklum siang itu sudah santap siang di rumah.

Hampir tak ada yang istimewa, hingga...."Bisa pinjam koreknya dik?" Suara lelaki setengah baya.

Kami pun sama-sama menikmati kepulan rokok kretek. Sebuah komoditas yang mampu menyumbang Rp 40 triliun untuk kas negara. Walau lebih dari 4.000 zat kimia beracun yang masuk ke tubuh perokok ketika mengisap sebatang kretek. Menimbulkan aneka penyakit.

"Nunggu ujan berhenti membosankan," tiba-tiba lelaki yang menunggang motor bebek itu bicara lagi.

"Iya," Jawabku sekenanya karena asyik mantau email dan pesan di face book dari nokia 9300.

"Pelindung kaki dan jaket septi-nya bagus dik," celoteh bapak itu. Rupanya orang ini memperhatikan safety gear yang saya kenakan. Rasanya tidak sopan jika menimpali omongan sambil mengetik di ponsel. Saya pun berpaling menatap wajah sang bapak yang saya taksir berusia lima puluhan tahun. Banyak kerut di keningnya. Cerminan memikul kerasnya beban hidup di Jakarta.

"Minggu lalu anak saya kecelakaan motor," seru lelaki itu lagi. Wah...menarik nih. Gumam dalam hati.

"Lalu," jawabku.

"Tak ada yang menolong karena takut, kejadiannya malam hari, orang Jakarta mending ngurusin dirinya sendiri daripada orang lain," kata dia. Tadinya ingin protes, tapi bapak itu keburu melanjutkan.

"Akhirnya ada yang menolong. Seorang pedagang asongan dan sopir angkot, mereka membawa anak saya ke rumah sakit," tatapan sang bapak menerawang. Terbersit rasa iba.

"Lantas?"

"Penjaga di ruang darurat awalnya enggan menolong sebelum ada jaminan," ujar lelaki itu sambil menyeruput kopi hitam dari gelas. Tangannya terlihat sedikit bergetar.

"Rumah sakit mahal. Tapi saya bersyukur pedagang asongan tadi dan sang sopir angkot berani bertanggung jawab," ceritanya lagi dengan intonasi sedikit bergetar.

"Berapa rumah sakit minta jaminan?" Tanya saya.

"Itulah dik, sang pedagang asongan mengeluarkan seluruh uang recehan yang ia dapat hari itu, ada Rp 143 ribu, sopir angkot ada Rp 215 ribu," paparnya.

Uang segitu mana cukup dan pasti pihak rumah sakit menolak. Namun, sela sang bapak, para penolong anaknya ngotot. Mereka minta rumah sakit menolong dulu sang korban, urusan biaya bisa dipikul belakangan. "Ini soal nyawa manusia!" Bentak mereka, ujar sang bapak menirukan dialog saat itu. Beruntung, lanjut si bapak, ada seorang ibu yang sedang menjenguk suaminya dirawat di situ mau membantu. Terkumpullah uang satu juta dua ratus ribu.

"Akhirnya anak saya yang berlumuran darah ditangani dik," kisah bapak itu. Sorot mata sang bapak terlihat sayu.

"Bagaimana kondisi anak bapak sekarang?" tanya saya penasaran.

Sang bapak tidak langsung menjawab, ia mengisap dalam-dalam sisa rokok kretek di jarinya."Meninggal. Karena terlambat ditangani petugas rumah sakit."

Tak mudah saya mengajukan pertanyaan lagi. Suasana senyap beberapa saat, walau di luar sana suara mobil dan motor lalulalang. Rintik hujan masih memainkan irama alam yang dramatis.

"Makanya saya bilang pelindung lutut, jaket dengan pelindung sikut, dan helm punya adik ini amat bagus buat perlindungan," tiba-tiba sang bapak angkat bicara lagi.

Ia pun bertutur, saat kecelakaan sang anak yang berusia 18 tahun, tidak memakai jaket, sepatu, dan helm. "Boro-boro pelindung lutut dan siku, kami gak mampu beli dik," ujar lelaki itu.

Saya cuma terdiam. Hingga sang bapak itu beringsut meninggalkan warung karena hujan tinggal sisa rintik-rintik. Langit Jakarta masih terlihat gelap. Sayup-sayup lagu U Rise Me Up, Josh Groban bak menyayat dari Ipod. (edo rusyanto)

Cililitan, 10 Juni 2009

Selasa, 02 Juni 2009

Naik 21%, Bikers Tewas Akibat Kecelakaan

foto: edo


INILAH tragedi di jalan raya Jakarta. Jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas sepanjang Januari-Mei 2009 naik 21,4%. Mengenaskan!
Kenaikan tersebut jika dibandingkan dengan korban tewas pada periode sama 2008.
Perlu diingat, angka-angka tersebut baru secuil dari kecelakaan yang tercatat. Penulis mengolah data yang dipublikasikan dalam berita terkini situs milik Polda Metro Jaya. Bagaimana dengan yang tidak tercatat? Boleh jadi angkanya bisa lebih besar. Mengerikan!
Pada periode lima bulan pertama 2009, jumlah yang tewas sebanyak 34 bikers, sedangkan periode sama 2008 sebanyak 28 jiwa. Korban meninggal dunia mencapai 25% dari total korban kecelakaan, sedangkan tahun lalu mencapai 19,3% dari total korban kecelakaan.
Lalu, bagaimana dengan korban luka parah dan luka ringan? Inilah angka-angkanya. Korban luka 102 (2009) dan 117 (2008). Total korban kecelakaan pada Januari-Mei 2009 sebanyak 136 bikers, menurun 6,2% dibandingkan 145 bikers pada periode serupa tahun lalu.
Dari keseluruhan korban kecelakaan di jalan, bikers yang meninggal sebanyak 49,2% dari total korban tewas sepanjang Januari-Mei 2009. Sedangkan bikers yang luka mencapai 102 orang atau setara dengan 42,3% dari total korban luka. Pada Januari-Mei 2009, total korban kecelakaan mencapai 310 orang dengan rincian 69 tewas dan 241 luka-luka.

Safety Riding

Haruskah kita berpangku tangan melihat kenyataan yang ada? Apa yang bisa kita perbuat?
Jika kecelakaan dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni sepeda motor sebagai obyek dan sepeda motor sebagai subyek kecelakaan, sepanjang Januari-Mei 2009, kontribusi sepeda motor sebagai obyek sekitar 36,54%, sedangkan selaku subyek kecelakaan mencapai 63,46%.
Pada lima bulan pertama 2009, kategori motor selaku obyek adalah ketika sepeda motor ditabrak mobil pribadi, angkutan umum, dan kereta api. Sementara itu, selaku subyek kecelakaan yakni dimana peran bikers menjadi dominan, misalnya adalah ketika sepeda motor menabrak sesama motor, menabrak separator, terjerembab ke dalam lubang, hingga menabrak mobil.
Pentingnya berkendara yang aman dan selamat (safety riding) tak terbantahkan. Tengok saja ketika kasus kecelakaan yang menyebabkan korban saat bikers memutuskan untuk menyalip kendaraan di depannya. Khususnya saat menyalip mobil terlebih truk. Akibat perhitungan yang kurang matang yakni analisis medan yang kurang jitu, saat menyalip justeru setang motor nyangkut mobil, bikers terpelanting dan terlindas kendaraan lain. Tewas.
Kemampuan menganalisis medan tidak hanya menghitung ruang untuk sepeda motor, tetapi juga apakah di depan sana ada kendaraan dari arah berlawanan atau ada lubang atau tidak. Jika analisis kita yang menggunakan indera mata menyimpulkan risiko lebih besar, lebih baik tidak menyalip kendaraan di depan, terlebih mendahului dari kiri jalan.

Usia Produktif
Kasus kecelakaan di Jakarta dan sekitarnya memakan korban bikers yang masuk kategori usia produktif yakni usia 20-39 tahun. Kelompok usia ini berkontribusi sekitar 72,72% dari total korban kecelakaan. Bayangkan jika korban tersebut adalah tiang ekonomi keluarga. Boleh jadi proses pemiskinan dari jalan raya kian melaju kencang.
Jika korban harus dirawat di rumah sakit atau pengobatan alternatif yang menghabiskan ratusan ribu, jutaan, atau bahkan belasan juta rupiah, artinya keuangan korban dan keluarganya terkuras. Barangkali uang tersebut bisa lebih bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari atau biaya sekolah sang anak. Kondisi finansial keluarga kian terganggu jika korban harus meninggal dunia. Hilang sudah sumber mata pencaharian. Maklum, dari mayoritas korban kecelakaan (82,46%) adalah pria dan 17,54% wanita.
Ketahanan fisik saat berkendara juga harus diperhatikan. Kondisi fisik yang lelah mempengaruhi kemampuan menganalisis medan. Menengok waktu yang sering terjadi kecelakaan, menurut data yang ada komposisinya mencakup 06.00-12.00 (28,85%), 18.00-00.00 (27,88%), lalu 12.00-18.00 (25%), dan 00.00-06.00 (18,27%).
Menilik lokasi kecelakaan, sepanjang Januari-Mei 2009, wilayah Jakarta Selatan menjadi favorit yakni sekitar 45,19%, di belakangnya Jakarta Barat dan Jakarta Pusat masing-masing 18,27%. Lalu Jakarta Timur (8,65%), Jakarta Utara (5,77%), dan lainnya (3,85%).
Haruskah kita rela terus menerus melihat korban sia-sia di jalan raya. Rasanya, kita semua setuju, harus disetop. (edo)

Rabu, 20 Mei 2009

Mengerikan, Bikers Tewas Naik 55,5%

foto:edo

JALAN raya menjadi mesin pembunuh. Jalan raya Jakarta dan sekitarnya bak rimba belantara yang berisi hewan buas. Siap menerkam sang rusa yang lengah, letih, dan ceroboh. Tak percaya?
Tengok saja jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas di Jakarta dan sekitarnya naik 55,5%. Angka itu tercatat sepanjang Januari-April 2009 dibandingkan periode sama 2008. Menyedihkan!
Dari total korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor yakni 106 orang, sebanyak 28 orang tewas atau sekitar 26,42%, sebanyak 78 orang luka berat dan ringan (73,58%).
Rusa yang letih menjadi santapan harimau kota yang mengendap di balik belantara aspal Jakarta. Lihat saja, 36,14% korban kecelakaan yang menimpa bikers justeru akibat ditabrak mobil. Mengerikan.
Kecerobohan yang membuat bikers lepas kontrol memicu 18,07% kecelakaan.
Jika pada tiga bulan pertama mayoritas kecelakaan terjadi pada rentang waktu pukul 18.00-24.00 WIB, pada Januari-April 2009, rentang waktu kecelakaan hampir merata 06.00-24.00 WIB. Hanya sebanyak 20,48% yang terjadi pada rentang waktu 00.00-06.00 WIB.

Luka Turun

Agak melegakan, korban yang luka parah dan luka ringan turun sekitar 21,2%.
Dari jumlah kasus kecelakaan terjadi penurunan 2,4%. Pada empat bulan pertama 2009 tercatat 83 kasus kecelakaan yang menimbulkan korban, sedangkan dalam rentang waktu yang sama 2008, jumlah kasus kecelakaan sebanyak 85 kasus.
Angka-angka itu baru dari data yang muncul di http://www.lantas.metro.polri.go.id/ dan diolah penulis. Bagaimana dengan fakta yang tidak tercatat? Wallahuallam bisawab.
Fakta data yang tersaji menunjukkan 84,78% korban akibat kecelakaan adalah para pria, sebanyak 15,22% wanita. Ironisnya, korban kecelakaan yang menimpa usia produktif 20-39 tahun, masih dominan yakni 76,92%. Usia remaja, 10-19 tahun dan rentang usia 40-69 tahun sama-sama sebanyak 11,54%.
Jika melongok sisi usia, mereka yang usia produktif tersebut bisa berefek kepada finansial keluarga yang ditinggalkan. Artinya, terbuka peluang hilangnya sumber pendapatan suatu keluarga. Tentunya jika sang korban adalah tiang ekonomi keluarga. Jika itu yang terjadi, bukan mustahil, laju pemiskinan akibat kecelakaan di jalan raya semakin kencang.
Kawasan jalan di Jakarta Selatan menjadi lokasi kecelakaan yang paling banyak yakni 49,40%, wilayah lainnya mengikuti di belakang yaitu Jakarta Pusat (16,87%), Jakarta Barat (15,66%), Jakarta Timur (7,23%), Jakarta Utara (6,02%), dan lainnya (4,82%).
Jumlah korban kecelakaan yang menimpa bikers selama Januari-April 2009 memang lebih sedikit dibandingkan korban yang melibatkan kendaraan roda empat atau lebih. Pada empat bulan pertama 2009, korban kecelakaan yang melibatkan jenis kendaraan tersebut mencapai 136 orang, sebanyak 30 jiwa tewas sia-sia. (edo)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian