Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label tewas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tewas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2009

Mau Berangkat Kerja, Marleni Dilindas Truk


foto ilustrasi;edo

NIAT berangkat bekerja malah terlindas truk. Oktavia Marleni (24), karyawati PT Nikomas Gemilang, Kamis (8/10) pagi, seperti biasa berangkat bekerja mengendarai sepeda motor Honda Beat A 3022 BM. Namun, entah firasat apa, hari ini menjadi berbeda dengan biasanya.
Ia yang mencoba mendahului truk AG 9001 UR di Jalan Raya Serang-Jakarta justru lepas kontrol. ”Dari arah berlawanan datang angkutan kota (angkot). Diduga Oktavia tersenggol oleh angkot tersebut sehingga sepeda motornya oleng dan jatuh tepat ke kolong truk,” kata Kasat Lantas Polres Serang, AKP Iin Maryadi, seperti dilansir Poskota.
Marleni tewas mengenaskan di kawasan desa Kaserangan, Ciruas Serang. Ia terlindas truk yang dikemudikan oleh Sugino (45), Kamis, sekitar 05.30 WIB.
Peristiwa yang menimpa Marleni bukan satu-satunya. Kecelakaan saat hendak menyalip lalu senggolan dengan kendaraan lain dan pengendara sepeda motor terjatuh selanjut dilindas roda mobil, kerap terjadi. Seorang penggiat safety riding menyerukan agar saat hendak mendahului seorang bikers melakukan observasi secara akurat. Artinya, adakah ruang untuk mendahului dan bisa dipastikan tidak ada kendaraan dari arah berlawanan yang kemungkinan menutup ruang tersebut.
Risiko pengendara sepeda motor cukup tinggi saat di jalan. Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal mengatakan, jika pada 2004 setiap 4.000 gerakan motor ada satu kejadiaan kecelakaan, pada 2007 setiap 1.600 gerakan motor ada kejadian kecelakaan.
"Jadi, selama kurang lebih empat tahun itu, ada 2,5 kali peningkatan kejadian kecelakaan,” ujar Menhub, sesaat sebelum membuka Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Bidang Perhubungan Darat Seluruh Indonesia 7-9 Oktober di Batam, Rabu (7/10) malam.
Sebagaimana dilansir kompas.com, Menhub menuturkan, dari 340.499 kali kecelakaan sepanjang 2004-2008, sebanyak 99% adalah kecelakaan angkutan jalan. (edo rusyanto)

Minggu, 06 September 2009

Sepasang Bikers Tewas Saat Menyalip


foto:edo


NAAS benar nasib Bambang Soetrisno (62) dan Ahmad Priyo R (56). Kakak beradik warga Kabupaten Brebes, Jawa Tengah itu, meregang nyawa saat sepeda motornya ringsek dihajar truk. Penabrak melarikan diri.
"Pengendara sepeda motor berboncengan itu menyalip saya, tapi tak beberapa lama kemudian ditabrak truk dari arah berlawanan, truknya melarikan diri," kata Satrio yang mengemudikan mobil pengangkut elpiji, yang menjadi saksi atas peristiwa itu, di Brebes, Kamis (3/9).
Seperti dilansir Antara, tabrak lari pada Kamis siang itu terjadi di Jalan Raya Desa Kajen, Brebes, sekitar 50 meter dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Desa Kajen.
Korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Soeselo Slawi untuk otopsi.
Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Tegal, AKP Valentinus Virasandy Asmoro, mengatakan, pihaknya masih menyelidiki kasus tabrak lari itu. "Kami akan menyelidiki kasus ini dan ini murni kecelakaan tabrak lari," katanya.

Ragu-ragu Tunggu
Perilaku bikers saat mendahului kendaraan (menyalip) kerap memicu kecelakaan. Awal tahun ini, adik dari rekan saya harus menemui ajal saat menyalip sedan Honda Jazz di kawasan Ciputat, Jaksel. Malang nian nasib sang adik itu, saat menyalip dari arah berlawanan ada pick up Suzuki Carry yang tidak memberinya ruang sehingga terjadi benturan.
Karena itu, upayakan ketika menyalip kepastian ruang yang tersedia cukup memadai bagi sepeda motor. Selain ruang, pastikan dari arah berlawanan tidak ada kendaraan yang menutup ruang tersebut. Saat menyalip hendaknya dari arah kanan kendaraan di depan kita dan berilah kode lampu isyarat bahwa kita akan mendahului kendaraan tersebut. Kondisi gigi sepeda motor dalam posisi dua atau tiga, jangan terlalu tinggi misalnya empat atau lima. Dengan posisi gigi dua, sepeda motor relatif bisa ditambah kecepatannya jika kondisi memaksa.
Apabila hasil analisis medan atau ruang di depan kendaraan yang akan disalip masih membingungkan, atau membuat ragu-ragu, tidak ada salahnya menunggu di belakang kendaraan tersebut. (edo rusyanto)

Selasa, 01 September 2009

42% Bikers Tewas Ditabrak Mobil


foto:edo

ISMANTO harus berpulang dengan cara yang tak seorang pun menginginkannya. Tewas tertabrak truk. Pria berusia 25 tahun itu, meregang saat sepeda motornya dihajar truk trailer di Jl Latumenten arah Pluit, Jakarta Barat. Hari baru saja beringsut memasuki pukul 07.30 WIB, Sabtu (22/8), ketika Ismanto bersimbah darah dan terbujur kaku di RS Sumber Waras, Jakarta Barat.
Potret buram Ismanto merupakan salah satu dari mayoritas korban kecelakaan di jalan Jakarta. Sepanjang Januari-Agustus 2009, mayoritas pengendara sepeda motor (bikers) yang menjadi korban kecelakaan di jalan Jakarta akibat ditabrak mobil yakni 42,68%. Selebihnya disebabkan oleh lepas kontrolnya bikers, motor menabrak motor, hingga motor ditabrak kereta api.
Selama delapan bulan 2009, sekitar 25,94% korban kecelakaan bikers harus menemui ajal di atas aspal, selebihnya menderita luka ringan dan luka berat.
Secara fisik, sepeda motor menjadi subordinasi kendaraan roda empat seperti jenis multi purpose vehicle (MPV), apalagi bus dan truk. Sudah menjadi takdir, sikecil bakal mudah ditaklukan oleh siempunya tubuh besar. Saling serobot, sikecil pun tersungkur. Hukum jalan raya, yang kuat yang menang.
Di tengah itu semua, kita rindu penegakkan aturan yang mendorong terwujudnya rasa aman dan nyaman berlalu lintas. Aturan termutakhir UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), menyiapkan segudang sanksi yang tergolong berat dari sisi denda maupun pidana. Tengok saja misalnya, hukuman denda Rp 12 juta dan kurungan enam tahun. Kedua sanksi itu ancaman bagi pengendara yang menimbulkan kecelakaan sehingga korbannya meninggal dunia.

Menurun
Angka kecelakaan yang melibatkan bikers sepanjang Januari-Agustus 2009 menurun 21,2% yakni dari 257 menjadi 212 orang.
Pada 2008, total korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sebanyak 257 orang terdiri atas tewas 63 dan luka 194. Sedangkan 2009, total korban sebanyak 212 orang terdiri atas 55 tewas dan 157 luka-luka.
Berdasarkan data yang dipublikasikan http://www.lantas.metro.polri.go.id, sepanjang delapan bulan 2009, jumlah korban tewas turun 15,5% dan korban luka turun 23,6%.
Dari total 164 kasus kecelakaan sepeda motor yang dipublikasikan, sekitar 65,12% korbannya adalah usia produktif yakni 20-39 tahun. Sementara itu, rentang waktu yang paling sering terjadi kecelakaan di Jakarta adalah pukul 06.00-12.00 WIB yakni mencapai 37,20%. Di Jakarta, rentang waktu tersebut adalah saat warga berangkat menuju tempat aktifitas seperti kuliah, bekerja, maupun berwiraswasta. Dengan populasi sepeda motor sekitar 6 juta unit, jalan Jakarta bagai kolam es cendol. (edo rusyanto)

Minggu, 02 Agustus 2009

Bikers Tewas Naik 19,04%


foto:edo

JULI baru saja berlalu. Angka kecelakaan di jalan Jakarta bukan mereda malah bertambah. Sebanyak 99 jiwa melayang sia-sia, sebanyak 50 di antaranya adalah melibatkan pengendara sepeda motor (bikers).
Lagi-lagi, angka itu adalah baru yang tercatat dan dipublikasikan situs resmi Polda Metro Jaya. Bisa dibayangkan jumlah yang tidak tercatat. Pasti lebih besar. Memprihatinkan.
Sepanjang Januari-Juli 2009, jumlah bikers yang tewas naik 19,04%, sedangkan korban yang luka parah dan luka ringan turun 18,34% menjadi 138 orang dari 169 orang. Secara akumulasi jumlah korban menurun 10,9% dari 211 menjadi 188 orang.
Namun, kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sepanjang Januari-Juli 2009 menurun 5,73% menjadi 148 kasus dari 157 kasus pada periode sama 2008.

Mayoritas Ditabrak Mobil
Apa yang menyebabkan kecelakaan sepeda motor? Dari total kasus Januari-Juli 2009 paling dominan adalah sepeda motor ditabrak mobil yakni 41,22%. Hal ini menunjukkan bahwa sepeda motor yang bentuknya lebih kecil dari kendaraan roda empat atau lebih, rentan terhadap kecelakaan. Jenis mobil yang menabrak sepeda motor beragam. Mulai dari angkutan perkotaan, sedan, bus, hingga truk trailer.
Sepeda motor yang hanya memiliki dua roda juga rentan tergelincir. Penyebab kecelakaan kedua adalah karena bikers lepas kontrol yakni 13,51%. Sedangkan sepeda motor yang menabrak mobil menempati posisi ketiga penyebab kecelakaan yakni 12,84%, di belakangnya adalah motor menabrak motor yakni 12,16%. Ulah bikers yang menabrak pejalan kaki pun cukup tinggi yakni 6,76%.
Ironisnya, mayoritas korban kecelakaan adalah dari kelompok usia produktif yakni 20-39 tahun yang mencapai 65%. Bisa dibayangkan jika sang korban adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Uang yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan menjadi pengeluaran yang memberatkan ekonomi keluarga. Belum lagi jika sang korban meninggal dunia. Hilang sudah sumber ekonomi keluarga.
Sementara itu, kelompok usia yang menjadi korban lainnya adalah 10-19 tahun (20%) dan 40-69 tahun (15%).
Rentang waktu yang sering terjadi kecelakaan di wilayah Jakarta adalah 06.00-12.00 WIB. Jam-jam tersebut adalah area dimana aktifitas masyarakat untuk bergerak untuk mencari nafkah maupun belajar. Bayangkan jika populasi sepeda motor yang kini mencapai sekitar enam juta unit di Jakarta, keluar serempak sudah pasti memenuhi jalan-jalan di Jakarta. Taruhlah hanya 1/8 saja sepeda motor yang bergerak, sebanyak 750 ribu roda dua menderu di atas aspal Jakarta. Rentang waktu kedua yang rawan adalah saat aktifitas masyarakat hendak pulang menuju rumah yakni 18.00-24.00 WIB (25%).
Jumlah korban kecelakaan dari segi gender mayoritas adalah pria yakni 85,71%, sedangkan wanita 14,29%.
Menjadi tugas berat bagi para petugas kepolisian, dinas perhubungan, dan instansi lain untuk menertibkan pengendara sepeda motor. Beban berat juga menggayut di pundak para penggiat berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Jangan lelah menyebarluaskan kesadaran berkendara yang santun dan bersahabat. (edo rusyanto)

Selasa, 28 Juli 2009

Sudah 96 Tewas Akibat Kecelakaan


foto:istimewa

KORBAN kecelakaan terus berjatuhan. Januari hingga 28 Juli 2009, tercatat 96 korban tewas di jalan raya. Sebanyak 50 korban tersebut dari kalangan bikers. Sekali lagi, itu baru yang tercatat.
Mereka yang menderita luka ringan, luka berat, hingga cacat tetap jumlahnya lebih banyak lagi, 312 orang.
Data di atas baru catatan kecelakaan yang terjadi di kawasan jalan Jakarta. Korban tewas lebih banyak dibandingkan korban flu babi. Mengerikan.
Pemicu kecelakaan beragam. Mulai dari pengendara yang mengantuk, kelelahan, tidak konsentrasi, kondisi infrastruktur jalan yang buruk, hingga perilaku pengendara yang ugal-ugalan.
Tahun lalu, 18 ribu orang menderita akibat kecelakaan di jalan raya. Tahun ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafi'i Djamal, pada 23 Juni 2009, memprediksi, bisa naik menjadi 19 ribu orang. Walahhh...kok malah bertambah yah? Apakah karena jumlah kendaraan yang terus bertambah?
Apa yang bisa kita lakukan? Para penggiat keselamatan berkendara yang aman dan selamat bagi sepeda motor (safety riding) menyerukan peningkatan disiplin berkendara. Patuhi aturan lalu lintas dan menekan emosi agar berperilaku berkendara yang santun dan bersahabat. Pak Polisi juga menyerukan pentingnya kesadaran masyarakat agar taat pada rambu dan marka jalan. Para aparat pemerintah beramai-ramai meneriakkan slogan, masalah kecelakaan adalah tanggungjawab bersama. Semua unsur masyarakat harus peduli atas keamanan dan keselamatan berkendara.
Apa artinya itu semua? UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahkan memuat puluhan ancaman sanksi pidana dan denda bagi para pelanggar lalu lintas. Terlebih bagi pemicu kecelakaan lalu lintas. Sanksi denda terrendah Rp 100 ribu, sedangkan tertinggi Rp 12 juta. Bagaimana sanksi kurungan? Sedikitnya bagi pelaku pelanggaran ringan dikurung satu bulan, lalu bagi mereka yang memicu kecelakaan hingga menimbulkan korban jiwa diancam kurungan enam tahun. Masih nekat ugal-ugalan di jalan? (edo rusyanto)

Rabu, 22 Juli 2009

50 Bikers Tewas


foto:istimewa

BERGIDIK membaca angka statistik. Sepanjang Januari hingga 20 Juli 2009 jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas 50 orang. Jauh lebih besar dari pengendara mobil yang tewas akibat kecelakaan yakni 42 jiwa.
Angka-angka itu baru untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Itu pun baru yang tercatat. Artinya, angka tersebut bisa membesar jika semua peristiwa kecelakaan yang melibatkan sepeda motor tercatat dengan baik. Hemmm...fenomena apakah ini?
Pemicu kecelakaan yang melibatkan sepeda motor beragam. Mulai dari bikers yang lepas kontrol sehingga masuk lubang atau menabrak pembatas jalan maupun trotoar, lalu minimnya analisis medan sehingga saat mendahului kendaraan di depannya malah menyerempet atau ditabrak kendaraan dari arah berlawanan, hingga ditabrak mobil dari belakang.
Jika korban tewas saja 50 orang, tentu saja korban luka jumlahnya lebih besar. Data yang diolah dari situs http://www.lantas.metro.polri.go.id/ menyebutkan korban luka mencapai 135 orang. Korban luka mulai dari yang sekadar lecet di jari tangan, patah tulang, hingga gegar otak.
Sepanjang sekitar tujuh bulan 2009, total korban luka dan tewas mencapai 185 bikers. Lebih besar dari kasus flu babi yang hingga kini 172 kasus di seluruh Indonesia. Hemmm...sudah saatnya, setop perilaku ugal-ugalan di jalan. (edo rusyanto)

Kamis, 04 Juni 2009

Lagi, Tiga Nyawa Bikers Melayang

Juni baru saja memasuki hari keempat, tapi bikers yang tewas di jalan raya Jakarta dan sekitarnya, sudah tiga jiwa. Satu luka-luka. Mengerikan!!
Haruskah kita menambah angka statistik tersebut. Yuk kita semua kian waspada. Bikers, mari perkuat kehati-hatian dan rasa sabar. Jalan raya masih menjadi mesin pembunuh paling biadab buat kita.
Kejadian paling gres, saat Muhadi, pengendara Yamaha Vega meregang nyawa di Jl Ciputat Raya, persisnya depan Sepolwan, Ciputat. Peristiwa Kamis (4/6), pukul 05.00WIB itu, menjadi fakta bahwa berkendara sepeda motor memikul risiko tinggi jika mengabaikan safety riding. Nasib memang tak kuasa ditolak. Tapi sebagai manusia kita bisa berjaga-jaga. Salah satunya, tetap berkendara yang aman dan selamat.
Rasa duka dan prihatin bagi para korban. (edo)

Bikers yang tewas Juni 2009
Kusmin, ditabrak TransJakarta, Jl Panjang, Jakbar
Sari, ditabrak bus di Jl Alternatif Cibubur
Muhadi, ditabrak mobil boks, Ciputat

Rabu, 20 Mei 2009

Mengerikan, Bikers Tewas Naik 55,5%

foto:edo

JALAN raya menjadi mesin pembunuh. Jalan raya Jakarta dan sekitarnya bak rimba belantara yang berisi hewan buas. Siap menerkam sang rusa yang lengah, letih, dan ceroboh. Tak percaya?
Tengok saja jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas di Jakarta dan sekitarnya naik 55,5%. Angka itu tercatat sepanjang Januari-April 2009 dibandingkan periode sama 2008. Menyedihkan!
Dari total korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor yakni 106 orang, sebanyak 28 orang tewas atau sekitar 26,42%, sebanyak 78 orang luka berat dan ringan (73,58%).
Rusa yang letih menjadi santapan harimau kota yang mengendap di balik belantara aspal Jakarta. Lihat saja, 36,14% korban kecelakaan yang menimpa bikers justeru akibat ditabrak mobil. Mengerikan.
Kecerobohan yang membuat bikers lepas kontrol memicu 18,07% kecelakaan.
Jika pada tiga bulan pertama mayoritas kecelakaan terjadi pada rentang waktu pukul 18.00-24.00 WIB, pada Januari-April 2009, rentang waktu kecelakaan hampir merata 06.00-24.00 WIB. Hanya sebanyak 20,48% yang terjadi pada rentang waktu 00.00-06.00 WIB.

Luka Turun

Agak melegakan, korban yang luka parah dan luka ringan turun sekitar 21,2%.
Dari jumlah kasus kecelakaan terjadi penurunan 2,4%. Pada empat bulan pertama 2009 tercatat 83 kasus kecelakaan yang menimbulkan korban, sedangkan dalam rentang waktu yang sama 2008, jumlah kasus kecelakaan sebanyak 85 kasus.
Angka-angka itu baru dari data yang muncul di http://www.lantas.metro.polri.go.id/ dan diolah penulis. Bagaimana dengan fakta yang tidak tercatat? Wallahuallam bisawab.
Fakta data yang tersaji menunjukkan 84,78% korban akibat kecelakaan adalah para pria, sebanyak 15,22% wanita. Ironisnya, korban kecelakaan yang menimpa usia produktif 20-39 tahun, masih dominan yakni 76,92%. Usia remaja, 10-19 tahun dan rentang usia 40-69 tahun sama-sama sebanyak 11,54%.
Jika melongok sisi usia, mereka yang usia produktif tersebut bisa berefek kepada finansial keluarga yang ditinggalkan. Artinya, terbuka peluang hilangnya sumber pendapatan suatu keluarga. Tentunya jika sang korban adalah tiang ekonomi keluarga. Jika itu yang terjadi, bukan mustahil, laju pemiskinan akibat kecelakaan di jalan raya semakin kencang.
Kawasan jalan di Jakarta Selatan menjadi lokasi kecelakaan yang paling banyak yakni 49,40%, wilayah lainnya mengikuti di belakang yaitu Jakarta Pusat (16,87%), Jakarta Barat (15,66%), Jakarta Timur (7,23%), Jakarta Utara (6,02%), dan lainnya (4,82%).
Jumlah korban kecelakaan yang menimpa bikers selama Januari-April 2009 memang lebih sedikit dibandingkan korban yang melibatkan kendaraan roda empat atau lebih. Pada empat bulan pertama 2009, korban kecelakaan yang melibatkan jenis kendaraan tersebut mencapai 136 orang, sebanyak 30 jiwa tewas sia-sia. (edo)

Sabtu, 04 April 2009

Sepekan, 4 Nyawa Bikers Melayang!

foto: edo

EMPAT nyawa melayang akibat kecelakaan di jalan raya. Belum cukup, tiga pengendara sepeda motor (bikers) lainnya harus menderita luka-luka. Jalan raya di Jakarta tidak ramah?
Korban yang berjatuhan tersebut bak tak bisa mengelak dari beringasnya belantara Ibukota. Kecelakaan yang terekam oleh Traffict Management Control (TMC) Polda Metro Jaya sepanjang 29 Maret-4 April 2009 itu, menambah deretan kengiluan para bikers di Jakarta.
Situs http://www.lantas.metro.polri.go.id/ membeberkan, bikers yang luka maupun yang meregang nyawa di jalan raya harus menanggung nasib karena beragam sebab. Seperti kejadian yang menimpa dua bikers di Plumpang, Jakarta Utara pada Selasa (31/3). Keduanya berpulang dengan tragis. Polisi menduga, gara-gara melaju dengan kecepatan tinggi, pengendara yang tidak membawa identitas apapun itu, tidak mampu mengendalikannya dan terjerembab ke dalam selokan pada pukul 03.30 WIB. Sedangkan yang dibonceng diketahui bernama Ahmad Rafiki Panuli (19), warga Boyolali, Jawa Tengah.
Nasib kelam juga menimpa Hermansyah (32 thn) yang berboncengan dengan Rohanda (24 thn). Keduanya tertabrak bus Trans Jakarta, di TL Kwitang Jl. Prapatan, Senen Jakarta Pusat, Sabtu (4/4), sekitar pukul 12.20 WIB. Dari informasi yang dihimpun, Sepeda motor Hermansyah B 6268 KHM menabrak separator busway, terjatuh, lalu tertabrak bus.
Walau sama menderita, nasib Randy Maruli Sibuea masih lebih bagus. Ketika Honda Tiger B 6225 UGK terjatuh dan terbakar di sekitar Patung Bundaran Kuda, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, ia hanya luka ringan. Lukanya bisa diatasi tim medis RS Tarakan, Jakarta Barat. Kejadian Selasa (31/3), sekitar pukul 23.45 WIB itu, memang tergolong langka. Motor Randy yang terjatuh terseret hingga belasan meter dan menimbulkan percikan api yang akhirnya membakar sang motor.
Dua kejadian lain yang menimbulkan korban bikers luka adalah akibat ditabrak Kijang Innova dan truk TNI AD. (edo)

Sabtu, 10 Januari 2009

Sepekan, Sepeda Motor Renggut 4 Nyawa


Mengerikan! Sepanjang 1-10 Januari 2009, empat nyawa melayang sia-sia akibat kecelakaan sepeda motor di Jakarta. Sementara itu, korban luka berat dan ringan mencapai tujuh orang.
Dua nyawa yang melayang adalah pengendara sepeda motor (bikers) dan dua lainnya adalah pejalan kaki. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari http://www.lantas.metro.polri.go.id/, dari delapan kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, mayoritas penyebab timbulnya korban adalah bikers menabrak pejalan kaki (37,5%). Dalam kasus ini, dua korbannya meninggal dunia.
Ironisnya, dalam salah satu kasus, yakni kejadian yang menyebabkan Rosiati (37 thn) meninggal dunia, di Jl Pemuda, depan toko keramik Candra, Jakarta Timur, sang bikers yang menabrak Rosiati langsung kabur.
Faktor pemicu kecelakaan lainnya masing-masing berkontribusi 12,5% adalah motor nabrak motor, motor ditabrak mobil, bikers lepas kontrol, dan motor nabrak separator serta satu kasus belum diketahui pemicunya.
Dari sisi waktu kejadian, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor mayoritas terjadi pada petang hingga tengah malam yakni 18.00-24.00WIB sebanyak 50%. Kemudian tengah malam hingga pukul 06.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, jumlah kecelakaan mencapai 37,5%. Sementara itu, pukul 06.00-12.00 WIB hanya berkontribusi 12,5%.
Diperkirakan, pada rentang waktu yang dominan menimbulkan kecelakaan tersebut, bikers dalam kondisi lelah sehingga kurang kontrol dalam berkendara. (edo)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian