Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jakarta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 November 2009

Jakarta Punye Kite


foto:edo



JAKARTA punya siapa? Ada yang nyeletuk...”Ya, punya semua penduduk Indonesia.”

Gak salah, kalau kemudian stasiun televisi ANTV mengulik rubrik Jakarta Punye Kite, setiap Senin-Jumat, pukul 21.30-22.30 WIB. Lalu, apa kaitannya dengan keselamatan berkendara di jalan?

Ceritanya begini. Pada edisi, Jumat (27/11), topik yang dibahas adalah seputar transportasi. Duduk sebagai pembicara Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Lulung AL, Wakil Kepala Dishub DKI Jakarta Riza Hasyim, dan Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin. Talkshow yang dipandu Ronal dan Anya Dwinov itu juga menampilkan sosok Ahmad Dhani, sang penyanyi kondang. Tak lupa disisipi Lena, sang presenter ayu sebagai wakil warga Jakarta. Walah...serius amat yah obrolan jelang tengah malam.

“Untuk mengurai kemacetan di Jakarta akan diterapkan sistem ganjil genap,” seloroh Riza Hasyim. Maksudnya, ada hari-hari tertentu kendaraan yang boleh beroperasi di Jakarta adalah yang memiliki pelat nomor ganjil atau sebaliknya.

Namun, ia juga buru-buru menyebutkan bahwa faktor mentalitas juga berpengaruh terhadap penciptaan keruwetan di jalan. “Karena itu, kami lakukan penyuluhan ke sopir angkutan umum termasuk bekerja sama dengan kepolisian untuk lakukan penindakan,” katanya. Hemmm....

Sang presenter, Anya Dwinov, tak henti menyinggung soal pentingnya implementasi dari aturan yang ada. “Kalau peraturannya sudah bagus, implementasinya juga harus bagus,” papar sang dara ayu itu.

Sontak, Lulung menyatakan, yang dibutuhkan oleh Jakarta saat ini adalah transportasi publik yang aman dan nyaman. “Tapi harus ada aturan yg memaksa untuk pemanfaatan transportasi publik itu,” tutur dia.

Peliknya transportasi Jakarta juga dibayangi oleh tingginya angka kecelakaan di jalan. Tahun 2008, kasus kecelakaan yang tercatat oleh Polda Metro Jaya sebanyak 16 kasus per hari dengan korban jiwa mencapai rata-rata 3 orang per hari.

Riza mengaku, untuk mewujudkan sistem transportasi yang nyaman harus ada sinergi semua pihak terkait. “Pemerintah pusat juga mesti ikut. Dan, tahun 2010, insyaallah MRT akan dibangun,” tambahnya.

Bagi, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jakarta, Tri Tjahjono, “Pemerintah harus berani memberi subsidi untuk transportasi yang saat ini tidak memadai. Selain itu,
fasilitas pejalan kaki dan pesepeda juga harus disediakan,” urai Tri yang disisipkan dalam liputan di tengah talkshow tersebut.

Sayangnya, talkshow yang mengulas fasilitas publik itu ‘gagal’ memberi ruang interaksi dengan pemirsa. No telepon yang disedikan sulit dihubungi. Semoga ke depan lebih baik. (edo rusyanto)

Selasa, 20 Oktober 2009

24% Korban Kecelakaan Motor Berujung Kematian


foto:edo


SEPANJANG Januari-September 2009, sebanyak 24,49% korban kecelakaan sepeda motor di Jakarta, berujung kepada kematian. Selebihnya mengalami luka ringan dan luka berat.
Potensi kecelakaan yang memicu kematian tersebut lebih tinggi dibandingkan risiko kecelakaan mobil yang hanya 20,76%.

Risiko yang menimbulkan kematian akibat kecelakaan sepeda motor itu naik jika dibandingkan periode sama 2008. Tahun lalu, risiko yang menimbulkan kematian sebesar 22,58%. Apakah artinya kualitas kecelakaan sepeda motor meningkat? Butuh penelitian lebih intensif.

Pastinya, sepanjang sembilan bulan 2009, pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas akibat kecelakaan di jalan juga meningkat. Total korban meningkat sekitar
58,06%, korban luka naik 54,16%, dan korban tewas meningkat paling tinggi yakni 71,42%.

Hingga triwulan ketiga 2009 dari 188 kasus kecelakaan yang melibatkan bikers, sebanyak 60 orang harus meregang nyawa di jalan. Lalu, korban luka dan berat sebanyak 185 atau 75,51% dari total korban kecelakaan yang mencapai 245 orang.

Ironisnya, korban kecelakaan yang melibatkan bikers masih mayoritas dibandingkan korban yang melibatkan jenis kendaraan lain. Januari-September 2009, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sebanyak 188 kasus atau 57,84%, sedangkan mobil sebanyak 137 kasus atau 42,16% dari total 325 kasus kecelakaan di Jakarta. Korban tewas karena kecelakaan mobil sebanyak 54 orang, sedangkan korban luka 206 orang.


Sekadar informasi, selama sembilan bulan, korban yang tewas di jalan Jakarta mencapai 114 orang atau 22,57% dari total korban kecelakaan yang mencapai 505 korban, sebagian besar 77,43% atau 391 orang adalah korban luka ringan dan luka berat.


Pemicu Sepeda Motor


Kecelakaan yang menimpa bikers sepanjang Januari-September 2009, ternyata mayoritas akibat tertabrak mobil yakni 42,93%. Kecelakaan sesama sepeda motor menjadi pemicu timbulnya korban terbesar kedua yakni 15,22%. Pengendara sepeda motor yang menabrak mobil jauh lebih rendah yakni 10,87%. Namun, hal ini menyiratkan bahwa pengendara sepeda motor harus lebih waspada.

Sementara itu, pengendara yang lepas kontrol sehingga terjadi kecelakaan tunggal mencapai 14,13%. Sementara itu, infrastruktur yang buruk seperti jalan berlubang dan jalan bergelombang memicu kecelakaan sebesar 2,72% terhadap bikers.

Sebagian besar waktu kecelakaan terjadi rentang waktu 06.01 hingga 12.00 WIB yakni mencapai 38,83%. Hal tersebut dimungkinkan karena mobilitas warga Jakarta dan sekitarnya cukup tinggi di rentang tersebut. Baik untuk menuju sekolah, kantor, tempat usaha, atau tempat aktifitas lainnya. Maklum, hampir enam juta sepeda motor yang tercatat di wilayah tersebut. Belum lagi, populasi mobil yang mencapai sekitar tiga juta unit.

Rentang waktu yang berisiko tinggi adalah kebalikannya, yakni saat waktu pulang kantor atau pulang aktifitas yaitu 18.01 hingga 00.00 WIB. Pada area waktu ini, berkontribusi hingga 22,87% dari total kecelakaan di Jakarta.

Kawasan yang cukup tinggi tingkat kecelakaannya tercatat adalah Jakarta Selatan (45,74%), Jakarta Pusat (19,15%), Jakarta Barat (17,55%), Jakarta Timur (8,51%), dan Jakarta Utara (4,79%), serta seputar Jakarta (4,26%).

Dari data kecelakaan yang menimbulkan korban seperti dipublikasikan situs resmi Polda Metro Jaya, www.lantas.metro.polri.go.id, tercatat pula bahwa sekitar 67,39% korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor adalah berasal dari usia produktif yakni 20-39 tahun. Amat memilukan, jika ternyata mereka adalah tiang ekonomi keluarga. Lenyaplah sudah sumber penghasilan keluarga sang korban. (edo rusyanto)

Selasa, 29 September 2009

Sistem ERP di Jakarta Terganjal UU



Pemprov DKI Jakarta dipastikan gagal menerapkan pembatasan kendaraan pribadi menggunakan mekanisme kontrol Electronic Road Pricing (ERP). Menurut rencana, pembatasan kendaraan tersebut akan diterapkan mulai 2010 mendatang.

”Tidak bisa diterapkan, karena landasan hukumnya tidak ada,” ungkap Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Transportasi Sutanto Soehodho di Jakarta, belum lama berselang.
Sejak disahkannya UU tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) pada 18 Agustsu 2009, dipastikan penerapan ERP tak bisa dilakukan. Sebab, DPR tidak menyetujui item ERP masuk dalam UU tersebut. DPR menilai tidak cukup kuat alasan daerah untuk menerapkan ERP.
Dalam UU itu ditegaskan, pajak yang boleh dipungut pemerintah provinsi (pemprov) ada lima jenis, tapi tidak termasuk ERP. Kelima pajak yang diperbolehkan dipungut Pemprov adalah pajak kendaraan bermotor (PKB), bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB), pajak bahan bakar kendaraan bermotor, pajak air permukaan, dan pajak rokok. Khusus pajak rokok, hasilnya akan dibagi-bagi ke pemerintah kabupaten/kota (pemkab/pemkot).

Sedangkan, jenis pajak yang diperbolehkan dipungut oleh pemkab/pemkot ada 11 jenis, yakni pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan logam dan buatan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang burung walet, pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan, dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan.
Lebih lanjut Sutanto mengatakan, apabila ERP dimasukkan dalam item UU PDRD, implementasinya akan diserahkan kepada masing-masing daerah. Untuk selanjutnya menunggu aturan teknis seperti perpres dan kepmen, serta dijabarkan lagi dalam bentuk perda yang masing-maisng wilayah berbeda implikasinya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Rekayasa Teknik dan Lalu Lintas Dishub DKI Mohammad Akbar mengatakan, pelaksanaan ERP masih dalam proses basic design pengerjaan fisik. Selain itu, persiapan studi tentang kisaran tarif, penyediaan kawasan dan teknologi yang tepat digunakan. Demikian juga masih membutuhkan acuan dasar hukum yang jelas karena sampai sekarang belum disahkan oleh DPRD. Aturan tersebut nantinya untuk menentukan road pricing yang efektif dari aspek teknis bagi masyarakat.
Di lain sisi, setiap warga dipaksa untuk membayar sehingga harus memilih menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Sebagai contoh untuk penerapan kota besar dunia seperti di Singapura atau London, untuk penerapan pertama dilakukan di jalan yang telah diberlakukan sistem three in one. “ Negara tersebut berhasil menurunkan kemacetan hingga 30%,”ungkap M Akbar.
Ditolaknya ERP oleh DPR, demikian kata Ketua Pansus RUU PDRD Harry Azhar Azis, karena pajak ERP akan lebih membebani warga. Harry mengatakan, DPR belum melihat sisi penting penerapan ERP di tengah kota, kecuali memberatkan masyarakat. Karena itu, di dalam RUU yang telah disahkan menjadi UU tersebut, tidak mengakomodasi pajak ERP. “Awalnya prinsipnya setuju, tetapi dalam pembahasan kecewa karena dinilai hanya tambah beban saja,” tuturnya.
Menurut Harry, jika DKI ingin menerapkan ERP, harus mengacu pada UU lainnya, yaitu UU Lalu Lintas, dan angkutan Jalan (LLAJ). Atau, kata Harry, UU PDRD perlu diamandemen. “Diharapkan juga dengan penambahan pajak BBM bermotor sebesar 10% dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan layanan umum,” kata anggota Fraksi Partai Golkar ini.

Cara Lain Atasi Macet
Sutanto berpendapat, ERP memang merupakan mekanisme cukup baik untuk mengurangi kepadatan lalulintas serta mensubsidi prasarana umum. “Semestinya ERP bisa meringankan masyarakat tidak malah memberatkan masyarakat,” ujarnya.
Prasarana ERP pun tidak dapat dipasang di pinggiran kota tetapi harus di pusat kota. Prasarana harus dipasang karena pengumpulan restribusi tidak mungkin dilaksanakan secara manual, karena justru akan menimbulkan masalah baru, termasuk memicu kemacetan.
Alternatif lain untuk mengurai kemacetan di Jakarta selain ERP, juga bisa menerapkan pembatasan kendaraan bermotor nomor ganjil genap. Saat ini masih dalam kajian Dinas Perhubungan (Dishub). Dishub harus mampu memberikan batasan dengan hari bahkan batasan melalui evaluasi per jam lalu lintas. “ Jadi tidak hanya nomor yang jadi instrumen, tetapi juga waktu jamnya, harus dikendalikan. Jam sibuk dibatasi, jam sepi dibebaskan,” tutur wakil rektor UI ini. (har)

Sumber: Investor Daily

Sabtu, 22 Agustus 2009

Andai Setiap Hari Ada Operasi Lalu Lintas


foto:edo

RUWETNYA lalu lintas jalan di Jakarta selalu terjadi setiap hari. Terlebih pada hari kerja. Antrean kendaraan yang memanjang di jalan arteri dan jalan tol dalam kota membuat pengguna jalan nelongso alias suntuk. Tak heran jika ongkos sosial menjadi lebih mahal, meski biaya ekonomi juga ditaksir tak tanggung-tanggung yakn Rp 42 triliun per tahun.
Soal lain yang membuat bulu bergidik adalah angka kecelakaan. Dua tahun berturut-turut, yakni 2007 dan 2008, jumlah korban meninggal di jalan Jakarta dan sekitarnya setiap hari rata-rata tiga nyawa melayang. Kondisi serupa masih terjadi sepanjang Januari-Juli 2009. Data Ditlantas Polda Metro Jaya menyebutkan, 246 korban meninggal dunia atau setara dengan tiga nyawa melayang per hari. Data Polda juga menyebutkan rata-rata ada 18 kasus kecelakaan per hari sepanjang tujuh bulan 2009. Mengerikan.
"Masih menjadi keprihatinan bagi kita semua karena masih banyak nyawa yang melayang di jalan raya," ujar Wakil Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Yaya Ahmudiarto, seperti dilansir Antara, Kamis (20/8).
Rasa prihatin tak menuntaskan problem. Karena itu Polda Metro Jaya menggelar Operasi Zebra Jaya 2009 yang berlangsung 10-19 Agustus 2009. Hasilnya? Angka kecelakaan lalu lintas turun 42,49% yakni dari 306 kasus menjadi 176 kasus.
Penurunan itu hanya selama 10 hari? Boleh jadi, karena setelah operasi itu, perilaku melanggar aturan lalin kambuh lagi di kalangan pengguna jalan, termasuk para bikers.
Padahal, korban kecelakaan selama 10 hari saja sudah amat menyeramkan. Tengok saja berikut ini, jumlah korban tewas 25 orang. Itupun sudah turun 34% dari periode sebelumnya yang mencapai 38 orang. Lalu korban luka berat saat operasi sebanyak 60 orang atau turun 58% dari periode sebelumnya yang mencapai 143 orang. Korban luka ringan juga menjadi 156 orang atau turun 20% dari periode sebelumnya yang mencapai 378 orang. ”Sebaiknya operasi seperti ini dilakukan setiap hari dan kalau perlu hukuman badan agar ada efek jera sebab melihat kedisiplinan pengendara sekarang sudah sangat memprihatinkan,” ujar Dhany Lee, seorang bikers.
Maklum jumlah bikers yang melanggar peraturan selama 10 hari mencapai 18.247 orang, bandingkan dengan mikrolet (3.518), mini bus (2.303), dan bus (1.270). Tak heran, jika fokus Operasi Zebra 2009 pada perilaku bikers dan angkutan umum.
Operasi tahun ini Polda Metro Jaya melibatkan sebanyak 3.206 personel dari jajaran Lantas Polda Metro Jaya. Sementara itu, anggaran yang dikucurkan untuk operasi di 60 titik itu mencapai sekitar Rp 1,1 miliar. Lokasi operasi tersebut mencakup, 40 lokasi penertiban untuk angkutan umum dan untuk sepeda motor penertiban dilakukan di 20 lokasi. (edo rusyanto)

Minggu, 02 Agustus 2009

Bikers Tewas Naik 19,04%


foto:edo

JULI baru saja berlalu. Angka kecelakaan di jalan Jakarta bukan mereda malah bertambah. Sebanyak 99 jiwa melayang sia-sia, sebanyak 50 di antaranya adalah melibatkan pengendara sepeda motor (bikers).
Lagi-lagi, angka itu adalah baru yang tercatat dan dipublikasikan situs resmi Polda Metro Jaya. Bisa dibayangkan jumlah yang tidak tercatat. Pasti lebih besar. Memprihatinkan.
Sepanjang Januari-Juli 2009, jumlah bikers yang tewas naik 19,04%, sedangkan korban yang luka parah dan luka ringan turun 18,34% menjadi 138 orang dari 169 orang. Secara akumulasi jumlah korban menurun 10,9% dari 211 menjadi 188 orang.
Namun, kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor sepanjang Januari-Juli 2009 menurun 5,73% menjadi 148 kasus dari 157 kasus pada periode sama 2008.

Mayoritas Ditabrak Mobil
Apa yang menyebabkan kecelakaan sepeda motor? Dari total kasus Januari-Juli 2009 paling dominan adalah sepeda motor ditabrak mobil yakni 41,22%. Hal ini menunjukkan bahwa sepeda motor yang bentuknya lebih kecil dari kendaraan roda empat atau lebih, rentan terhadap kecelakaan. Jenis mobil yang menabrak sepeda motor beragam. Mulai dari angkutan perkotaan, sedan, bus, hingga truk trailer.
Sepeda motor yang hanya memiliki dua roda juga rentan tergelincir. Penyebab kecelakaan kedua adalah karena bikers lepas kontrol yakni 13,51%. Sedangkan sepeda motor yang menabrak mobil menempati posisi ketiga penyebab kecelakaan yakni 12,84%, di belakangnya adalah motor menabrak motor yakni 12,16%. Ulah bikers yang menabrak pejalan kaki pun cukup tinggi yakni 6,76%.
Ironisnya, mayoritas korban kecelakaan adalah dari kelompok usia produktif yakni 20-39 tahun yang mencapai 65%. Bisa dibayangkan jika sang korban adalah tulang punggung ekonomi keluarga. Uang yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan menjadi pengeluaran yang memberatkan ekonomi keluarga. Belum lagi jika sang korban meninggal dunia. Hilang sudah sumber ekonomi keluarga.
Sementara itu, kelompok usia yang menjadi korban lainnya adalah 10-19 tahun (20%) dan 40-69 tahun (15%).
Rentang waktu yang sering terjadi kecelakaan di wilayah Jakarta adalah 06.00-12.00 WIB. Jam-jam tersebut adalah area dimana aktifitas masyarakat untuk bergerak untuk mencari nafkah maupun belajar. Bayangkan jika populasi sepeda motor yang kini mencapai sekitar enam juta unit di Jakarta, keluar serempak sudah pasti memenuhi jalan-jalan di Jakarta. Taruhlah hanya 1/8 saja sepeda motor yang bergerak, sebanyak 750 ribu roda dua menderu di atas aspal Jakarta. Rentang waktu kedua yang rawan adalah saat aktifitas masyarakat hendak pulang menuju rumah yakni 18.00-24.00 WIB (25%).
Jumlah korban kecelakaan dari segi gender mayoritas adalah pria yakni 85,71%, sedangkan wanita 14,29%.
Menjadi tugas berat bagi para petugas kepolisian, dinas perhubungan, dan instansi lain untuk menertibkan pengendara sepeda motor. Beban berat juga menggayut di pundak para penggiat berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Jangan lelah menyebarluaskan kesadaran berkendara yang santun dan bersahabat. (edo rusyanto)

Selasa, 28 Juli 2009

Sudah 96 Tewas Akibat Kecelakaan


foto:istimewa

KORBAN kecelakaan terus berjatuhan. Januari hingga 28 Juli 2009, tercatat 96 korban tewas di jalan raya. Sebanyak 50 korban tersebut dari kalangan bikers. Sekali lagi, itu baru yang tercatat.
Mereka yang menderita luka ringan, luka berat, hingga cacat tetap jumlahnya lebih banyak lagi, 312 orang.
Data di atas baru catatan kecelakaan yang terjadi di kawasan jalan Jakarta. Korban tewas lebih banyak dibandingkan korban flu babi. Mengerikan.
Pemicu kecelakaan beragam. Mulai dari pengendara yang mengantuk, kelelahan, tidak konsentrasi, kondisi infrastruktur jalan yang buruk, hingga perilaku pengendara yang ugal-ugalan.
Tahun lalu, 18 ribu orang menderita akibat kecelakaan di jalan raya. Tahun ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafi'i Djamal, pada 23 Juni 2009, memprediksi, bisa naik menjadi 19 ribu orang. Walahhh...kok malah bertambah yah? Apakah karena jumlah kendaraan yang terus bertambah?
Apa yang bisa kita lakukan? Para penggiat keselamatan berkendara yang aman dan selamat bagi sepeda motor (safety riding) menyerukan peningkatan disiplin berkendara. Patuhi aturan lalu lintas dan menekan emosi agar berperilaku berkendara yang santun dan bersahabat. Pak Polisi juga menyerukan pentingnya kesadaran masyarakat agar taat pada rambu dan marka jalan. Para aparat pemerintah beramai-ramai meneriakkan slogan, masalah kecelakaan adalah tanggungjawab bersama. Semua unsur masyarakat harus peduli atas keamanan dan keselamatan berkendara.
Apa artinya itu semua? UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahkan memuat puluhan ancaman sanksi pidana dan denda bagi para pelanggar lalu lintas. Terlebih bagi pemicu kecelakaan lalu lintas. Sanksi denda terrendah Rp 100 ribu, sedangkan tertinggi Rp 12 juta. Bagaimana sanksi kurungan? Sedikitnya bagi pelaku pelanggaran ringan dikurung satu bulan, lalu bagi mereka yang memicu kecelakaan hingga menimbulkan korban jiwa diancam kurungan enam tahun. Masih nekat ugal-ugalan di jalan? (edo rusyanto)

Rabu, 22 Juli 2009

Bikers Siap-siap Kena Pajak


foto:edo rusyanto

PENGENDARA sepeda motor (bikers) dan mobil di Jakarta bakal kena pajak. Tentu saja, saat melintas di jalan-jalan protokol. Selain Jakarta, kota yang layak memajaki pengguna jalan adalah Surabaya, Medan, dan Makassar.
Uang jago modern berbasis elektronik alias electronic road pricing (ERP) itu bakal dipungut oleh pemerintah daerah (pemda). Khusus di Jakarta, saat ini dalam persiapan design engineering detail (DED). “Sistem road pricing untuk menghindari macet,” kata Direktur Keselamatan Transportasi Darat Ditjen Perhubungan Darat Dephub Suripno, seperti dilansir Investor Daily, Rabu (22/7).
Tahun lalu, hasil studi Pacific Consultants International (PCI) menyebutkan, tarif ERP di Jakarta diusulkan sebesar Rp 15 ribu per mobil dan sepeda motor Rp 5 ribu sekali lewat. Sebagai pilot project, pada tahap pertama ERP ini direncanakan akan diterapkan di ruas antara Blok M-Kota, mengikuti rute busway koridor I.
Lalu lintas Jakarta memang terkenal dengan kesemrawutannya. Kemacetan jadi makanan sehari-hari. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan, kerugian akibat kemacetan Jakarta menimbulkan kerugian sekitar Rp 42 triliun per tahunnya. Luarrrr biasa!
Payung hukum untuk menggolkan uang jago di jalan protokol adalah UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
Di mata Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, ERP belum tentu sahih mengurai kemacetan lalu lintas jalan. Ia menilai, butuh kebijakan transportasi pendukung lainnya.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno mewanti-wanti pentingnya pembangunan sistem transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau konsumen. Walau, kata dia, Pemprov DKI Jakarta cukup mampu membangun infrastruktur ERP yang di Singapura saja menghabiskan biaya sekitar Rp 1,5 triliun.
Populasi kendaraan di Jakarta saat ini sekitar sembilan juta unit terdiri atas sekitar enam juta sepeda motor dan tiga juta kendaraan roda empat dan lebih. Populasi penduduk sekitar 8,5 juta jiwa dengan panjang jalan sekitar 39 ribu kilometer. (edo rusyanto)

Minggu, 05 Juli 2009

Berbagi SR Dengan HBC Jakarta



foto:istimewa/hbc jakarta


Rumah bercat hijau di bilangan Ceger, Cipayung, Jakarta Timur, cukup asri. Rumah itu memiliki dua bagian utama. Satu di bagian bawah, satunya lagi bagian atas. Sebuah tangga menghubungkan kedua ruang itu.
Di pelataran parkir, terlihat beberapa sepeda motor skuter otomatis (skutik) besutan PT Astra Honda Motor (AHM) yakni Honda Beat. Di luar area halaman rumah, jumlah Honda Beat yang parkir lebih banyak lagi. Mencapai belasan.
Minggu (5/7) sekitar pukul 13.00 WIB, para anggota Honda Beat Club (HBC) Jakarta sedang menggelar hajat. ”Sharing soal safety riding,” ujar Imel, sekretaris jenderal HBC Jakarta.
Saat menjejakan kaki di lantai atas rumah itu, terlihat belasan anggota HBC Jakarta sedang asyik menyimak penjelasan Bro Doni soal group riding dan safety riding. ”Kita wajib memakai sepatu yang melindungi mata kaki,” ujar Bro Doni. Sesekali ada tawa canda dan sebagian menghebuskan asap rokok di ruang yang berventilasi cukup baik itu. Diskusi sambil lesehan membuat suasana informal. Komunikasi menjadi cair. Termasuk saat Bro Doni mempersilakan saya ke bagian depan ruangan berdiskusi. Siang itu, saya memaparkan soal pentingnya kepedulian untuk mengimplementasikan safety riding. ”Muaranya, berkendara yang santun dan bersahabat,” papar saya.
Suasana menjadi lebih hidup saat saya putar beberapa video mengenai kecelakaan sepeda motor. Hampir seluruh mata tertuju ke laptop Acer wide yang saya bawa. Sesekali terdengar desis kengerian melihat adegan tabrakan.
Perbincangan mengalir seputar fakta-fakta kecelakaan di jalan seputar Jakarta. ”Tahun lalu, di Jakarta setiap hari tiga orang tewas akibat kecelakaan. Saat ini, hingga akhir Juni sedikitnya 83 nyawa melayang sia-sia,” tutur saya.
Sontak, angka-angka itu membelalakan mata para peserta diskusi yang umumnya berusia muda di bawah tiga puluh tahun. Pentingnya berkendara yang santun diamini oleh para anggota HBC Jakarta. ”Kita jangan terpancing emosi saat ada bikers lain yang menyalip,” tutur Bro Hendra.
Emosi dan keteledoran saat berkendara menjadi pembuka peluang kecelakaan bagi bikers. Karena itu, selain mengurangi emosi, tiap bikers juga mesti mampu menganalisis situasi saat berkendara. Termasuk saat mendahului kendaraan yang ada di depan.
Suasana berbagi pengalaman soal safety riding juga dihiasi dengan saling bertukar pengalaman. ”Saya pernah tabrakan, kaki saya patah. Tapi diobati dengan diurut di kawasan Cibubur,” ujar seorang ladybikers, saat saya bertanya siapa yang pernah terlibat kecelakaan.
Hampir seluruh peserta diskusi setuju soal perlunya berkendara yang saling menghargai pengguna jalan lain. Sekitar pukul 14.30 WIB, saya pamit karena harus berangkat ke kantor. Rasanya diskusi masih kurang. Wakut sekitar 90 menit terasa belum cukup. Terimakasih untuk rekan-rekan HBC Jakarta. (edo rusyanto)

Minggu, 21 Juni 2009

Jakarta 482

foto: edo rusyanto

Sebuah catatan bikers

FALATEHAN atau Fatahillah dan Jan Pieterszoon Coen pasti terkaget-kaget melihat kota Jakarta di usia ke 482 tahun. Fatahillah selaku pendiri Jayakarta (Jakarta) tak bisa membayangkan bahwa lima abad kemudian, Jakarta penuh hutan beton dan ratusan ribu kendaraan lalulalang setiap hari.
Jan Pieterszoon Coen yang menjabat Gubernur Jenderal Batavia pada usia 31 tahun, barangkali tak membayangkan, pada Januari 2009, penduduk Jakarta sekitar 8,51 juta jiwa dengan populasi sepeda motor sekitar 5,1 juta unit.
Maklum, saat Fatahillah berjaya pada 1527 dan JP Coen berkuasa pada 1619-1623 dan 1627-1629, wajah Jayakarta atau Batavia masih dihiasi hutan lebat dan jernihnya kali Ciliwung. Alat transportasi populer adalah perahu dan sado alias delman. Alat transportasi massal yang cukup populer yakni trem baru dikenal pada 1869, itupun baru pada 1881 menggunakan mesin uap.
Jakarta pada 2009 adalah kota dengan seabreg persoalan sosial. Sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta berhias sedemikian rupa. Termasuk soal transportasi darat. Mulai dari infrastrukturnya seperti jalan arteri, jalan tol, rel kereta api, jembatan layang, underpass, hingga angkutan laut dan sungai. Moda transportasinya paling lengkap di Indonesia. Mulai dari bus kota, minibus, angkutan kota, kereta api, taksi, bajaj, bemo, ojek sepeda dan motor, perahu, hingga angkutan carteran, termasuk carteran helikopter.

Semrawut dan Kecelakaan
Meski demikian, wajah kesemrawutan lalu lintas jalan tak pernah terpecahkan.
Gubernur DKI Jakarta saat ini, Fauzi Bowo yang populer disapa Foke menuding sepeda motor sebagai salah satu biang kemacetan lalu lintas jalan. Para penggede Jakarta merujuk pada data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. Saat ini pengguna sepeda motor di DKI Jakarta tercatat 5.136.619 unit. Dan pertambahannya setiap hari mencapai 1.035 unit. Boleh jadi karena pertumbuhan ekonomi Jakarta tergolong cukup tinggi dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Pada 2009, Foke memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,5-5,6%. Bahkan sempat menembus 10,17% pada 1994, namun sempat minus ketika kerusuhan membakar Jakarta, yakni -17,49% pada 1998. Ketika itu, Jakarta membara seiring lengsernya Presiden Soeharto dan meruyaknya krisis ekonomi di regional.
Di sisi lain, saat ini infrastruktur jalan yang ada hanya 6% atau 39 kilometer persegi dari luas wilayah DKI Jakarta yang mencapai 650 kilometer per segi. Pertumbuhannya? Ternyata hanya 0,01% per tahun sehingga idealnya peredaran sepeda motor di DKI Jakarta sekitar satu juta unit. Maklum, data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9% per tahun. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, tahun 2014 Jakarta diperkirakan macet total.
Jakarta dikepung kota satelit di sekitarnya seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang. Warga keempat kota tersebut cukup banyak yang mencari nafkah di Jakarta. Para urban bergerak masuk Jakarta menjelang matahari terbit dan kembali ke peraduan menjelang petang dan tengah malam. Terus berputar setiap hari.
Serbuan para urban itu ikut menambah beban jalan Jakarta. Meski sudah dipelototi sekitar 500 kamera cctv, upaya mengurai kesemrawutan lalu lintas jalan masih tersendat-sendat.
Usut punya usut, faktor lain yang punya andil terjadinya kemacetan lalu lintas jalan adalah mentalitas pengendara. Baik itu pengendara sepeda motor (bikers), pengendara mobil pribadi, maupun pengendara angkutan umum. Mentalitas mencari jalan pintas menyebabkan para pengendara saling mendahului, naik trotoar, naik penyeberangan jalan, bahkan menerabas lampu merah. Para penggguna jalan seakan tak pernah jera. Padahal, menurut data Dirlantas Polda Metro Jaya, kasus kecelakaan pada 2008 tercatat 5.965 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.080 orang tewas, 2.443 luka berat dan 4.029 ringan. Kasus kecelakaan naik 9,71% (528 kasus) dibandingkan 2007 sebanyak 5.437 kasus.
Pada 2007 rata-rata yang tewas sepanjang hari di Jakarta 2,97 jiwa, pada 2008 sebanyak 2,95 jiwa, turun 0,46%. Justru korban luka naik 6,41% menjadi 6.472 orang dari 6.082 korban pada 2007. Bagaimana pada 2009? Sejak 1 Januari hingga 21 Juni 2009 jumlah korban sudah sebanyak 347 orang, sebanyak 79 di antaranya tewas. Sedangkan kasus kecelakaan yang menimbulkan korban mencapai 211 kasus kecelakaan, sebanyak 120 melibatkan sepeda motor.
Khusus mengenai ulah pengendara sepeda motor (bikers), Jakarta seakan tak pernah tertidur. Bayangkan, saat ini ada ribuan komunitas atau kelompok sepeda motor di Jakarta. Belasan lokasi dijadikan arena balap liar setiap akhir pekan.
Aksi sejumlah kelompok sepeda motor maupun aktifis berkendara yang aman dan selamat (safety riding) bak bisikan di tengah gemuruh mesin para pelanggar lalu lintas maupun bergelimpangannya korban di jalan.

Basis produksi
Sejak awal tahun 1970-an, Jakarta dikenal sebagai basis produksi sepeda motor paling banyak. Dari total kapasitas produksi sepeda motor di Tanah Air yang mencapai 7,5 juta unit per tahun, sekitar 5,2 juta unit tersebar di Jakarta. Di antaranya adalah sekitar 2,1 juta milik PT Astra Honda Motor (AHM) yakni tersebar di Sunter dan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Total kapasitas AHM mencapai 3 juta unit per tahun, sebanyak 900 ribu unit terpasang di pabrik ketiga AHM di Cikarang, Jawa Barat.
Selain itu, PT Yamaha Motor Manufacturing Indonesia (Yamaha) yang memiliki kapasitas terpasang 3,2 juta unit per tahun, sebanyak 2,8 juta unit berada di Pulogadung, Jakarta Timur.
Itulah Jakarta. Di usianya ke 482 tahun hari ini, Senin, 22 Juni 2009, Jakarta juga memiliki Gubernur yang gemar menaiki motor gede (moge). Bang Foke mengendarai motor Harley Davidson tipe Sportster Nightster 1200 cc berpelat B 6363 BWO. Selamat ulang tahun Jakarta! (edo rusyanto)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian