Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label mrc. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mrc. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Februari 2010

MRC Ajak Yang Doyan Balap ke Sentul

Beberapa anggota MRC saat latihan di Sentul 2009 (foto:dok mrc)

RAUNGAN suara mesin sepeda motor sport bersahutan. Meski bukan di Sirkuit Sentul, Bogor, suara dari aneka knalpot Minerva R150 menggoda setiap orang yang mendengar untuk menoleh.
Itulah satu sisi suasana Sabtu (30/1), petang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, lokasi kopi darat (kopdar) Minerva Riders Community (MRC). Meski petang itu hujan deras mengguyur Kuningan, suasana menjadi hangat ketika dibalut keakraban para penunggang sepeda motor besutan PT Minerva Motor Indonesia (MMI) itu. Saling jabat tangan saat berjumpa dan lontaran canda menjadi warna tersendiri ketika kopdar. Kopdar pun bergeser dari sisi lapangan Mega Kuningan Timur (MKT) IV ke warung-warung di sekitar area tersebut.

MRC Pengurus Pusat atau Nasional, mematok jadwal kopdar dua minggu sekali di Kuningan. Kawasan itu merupakan salah satu tempat favorit para penunggang sepeda motor untuk kopdar di Jakarta, selain silang Monas, Jl Bulungan-Blok M, Gelora Senayan, Kalibata, Jl Sahardjo, sekitar Pamor, dan Tebet. Selain strategis, di sekitarnya juga terdapat aneka jajanan.

Komunitas itu kini tersebar di 12 kota itu yakni Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Bandung, Mataram, Medan, Surabaya, Serang, Sukabumi, dan Sulsel. ”Anggota kami sekitar 600-an orang dari beragam motor produk Minerva seperti R150, Sachs Madass dan Megelli,” papar Irsan, ketua umum MRC, Sabtu.

MRC memanfaatkan kopdar sebagai ajang temu kangen selain merancang kegiatan mereka. Pada 2010, komunitas yang lahir pada 20 April 2008 di Jakarta itu, merancang program kerja secara periodik tiga bulanan. ”Hal itu untuk memudahkan pengurus mengelola organisasi karena saat ini sejumlah pengurus tidak terlalu aktif,” tambah Irsan.

Karakter motor sport yang dekat dengan hobi balap merangsek dalam program kerja para pengurus MRC. Mereka pun menjadwalkan latihan bersama atau menyalurkan hobi adu kebut di Sirkuit Sentul. ”Pada 7 Maret 2010 kita akan gelar latihan balap di Sentul,” ujar Irsan, ketua umum MRC, Sabtu.

Latihan serupa pernah digelar pada 29 November 2009. Hasilnya? Para anggota MRC kian memahami aturan mengenai adu ngebut di sirkuit. ”Selain itu, meningkatkan keahlian berkendara sehingga bisa lebih aman dan selamat alias safety riding,” kata Irsan.

Menurut dia, pihak ATPM Minerva mendukung program rutin latihan balap di Sentul. Tak heran, jika iuran para anggota untuk ikut latihan hanya dipatok Rp 75 ribu karena ATPM membantu sisanya. Per 1 Februari 2010, tarif sewa latihan untuk sepeda motor di sirkuit itu berkisar Rp 250-450 ribu, tergantung cc motor dan hari sewa. Tarif sewa akhir pekan (Sabtu-Minggu) lebih besar Rp 50 ribu dibandingkan Senin-Jumat.

Kegiatan rutin MRC mengajak anggotanya yang doyan balap ke Sentul mendapat respons cukup antusias dari para anggotanya. ”Saya pingin ikut lagi, asyik soalnya,” ujar Bro Tommy yang kini menungang Megelli 250 warna kuning.

Ajang latihan balap bareng bisa meningkatkan kebersamaan anggota MRC. ”Latihan tahun lalu cukup fun, tapi kalau mau bikin race harus ada tropi. Paling penting dari kegiatan ini bisa mengasah skill berkendara,” ujar bro Hendra Bangketop.

Untuk kegiatan kali ini, jelas bro Irsan, MRC akan mengundang komunitas lain untuk latihan bareng. ”Walau untuk itu, undangan membayar tarif sesuai yang dibuat Sentul,” katanya. Kita lihat aja nanti, tarik gass pollll....dan tetap safety. (edo rusyanto)

Selasa, 18 Agustus 2009

Diskusi Safety Riding dan Renungan Kemerdekaan

Touring Merdeka 2 MRC





KESEJUKAN udara pegunungan Puncak, Bogor, Jawa Barat, merambat perlahan. Menelusup ke seantero kulit tubuh. Rasa dingin mulai tertepis hangatnya persahabatan puluhan bikers MRC yang bersimpuh di halaman Villa Anne, Puncak. Mereka berdatangan dari Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Bandung, dan Serang, Banten.
Terlihat antusiasme mereka mengikuti Touring Merdeka, 16-17 Agustus 2009. Itu adalah touring kedua yang kedua kali digelar MRC untuk memperingati 64 tahun kemerdekaan Indonesia.
Villa Anne terletak di sisi kanan jalan dari arah Ciawi menuju Cianjur. Persisnya jelang Gunung Mas atau sekitar 93 kilometer (km) dari Jakarta. Villa tersebut memiliki empat bangunan dan kolam renang. Area parkir bisa menampung sekitar 100 motor dan halaman berumput hijau mengelilingi areal villa tersebut. MRC memasang sebuah tenda dengan layar berukurang 2x2 meter untuk latar belakang infocus di halaman belakang. Lokasi tersebut selain dipakai untuk memutar video kecelakaan juga untuk presentasi Buku Panduan. Selebihnya dipakai juga untuk area renungan memperingati Kemerdekaan serta hiburan organ tunggal dengan dua artis local.


Diskusi Safety Riding
Sebelum memasuki puncak acara, perwakilan ATPM yakni PT Minerva Motor Indonesia (MMI) Pak Enjang menyampaikan terimakasih dan pemaparan mengenai ATPM tersebut. "Kami membuka diri untuk masukan dan saran serta siap melayani kebutuhan konsumen, khususnya para anggota MRC," ujar Enjang. Tanya jawab pun meluncur, termask soal kehadiran bengkel di wilayah masing-masing anggota MRC berada.
Acara menjadi lebih istimewa karena dibumbui diskusi keselamatan berkendara sepeda motor (safety riding) oleh bro Edo Rusyanto, penggiat safety riding Road Safety Association (RSA). Diskusi yang digelar pada Minggu (16/8) malam juga disisipi tayangan audiovisual kecelakaan.
"Penekanan lebih kepada perilaku berkendara para bikers agar lebih saling menghargai di antara pengguna jalan," urai Edo. Selain itu, ulasan mengenai Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). UU tersebut pengganti UU No 14 tahun 1992 tentang hal yang sama.
Meluncurlah berbagai ulasan terkait perilaku buruk bikers seperti berkendara naik trotoar, merokok dan menelepon saat berkendara, melanggar garis putih dan zebra cross, serta blocking saat berkonvoy.
"Tapi bagaimana kalau polisi menyuruh kita maju melewati garis putih?" Tanya bro Deni, ketua region MRC Serang. Ia yang mengaku suka mengabaikan permintaan polisi itu berdalih takut membahayakan pengguna jalan lain. Bro Edo menjelaskan, polisis memiliki wewenang diskresi yakni keputusan yang bertolak belakang dengan peraturan demi keselamatan di jalan.
"Materinya top abis, menjadi kita lebih menghargai sesama," papar bro Ian, wakil ketua umum MRC.
Diskusi menjelang tengah malam di bawah alam terbuka dan dinginnya Puncak, Bogor juga disisipi dengan fakta-fakta angka kecelakaan di jalan Jakarta sepanjang Januari-Juli 2009. "Tiap hari di Jakarta 3 orang tewas atau secara total 642 orang dan rata-rata 18 kasus kecelakaan," papar bro Edo yang juga Penasihat MRC. Ia menekankan pentingnya persepsi memprioritaskan keselamatan ketika berkendara.
"Ya, setiap berkendara penting untuk menanamkan persepsi selamat sampai tujuan," kata bro Unang, ketua Region MRC Depok.

Bagi Dessy, salah seorang peserta wanita, diskusi mengenai safety riding membuat pencerahan agar para bikers tidak ugal-ugalan berkendara. "Anak muda kadang tidak memikirkan kepentingan orang lain,
bahkan dirinya sendiri," ujar gadis berparas ayu itu.

Panduan dan Renungan
Bro Irsan, ketua MRC memaparkan bahwa MRC telah mematangkan Buku Panduan organisasi yang menjadi acuan kiprah komunitas tersebut. “Panduan ini memberikan arahan bagaimana struktur organisasi, keuangan, tujuan, visi misi hingga sanksi bagi anggota,” ujar Irsan di hadapan puluhan anggota MRC.
Buku Panduan tersebut sudah terlontar ketika Bro Ery memimpin MRC pada periode 2008-2009. Menurut Irsan, usai Touring Merdeka 2009 Buku Panduan akan didistribusikan via surat elektronik kepada para pengurus region yang kini jumlahnya ada Sembilan yakni Jakarta, Bekasi, Bogor, Depok, Sukabumi, Bandung, Serang, Mataram, dan Medan.
Usai diskusi dan presentasi Buku Panduan, peserta touring dihibur oleh dua artis lokal dengan iringan organ. Hampir semua peserta touring larut dalam irama riang sang artis lokal yang sesekali meliuk sensual dengan alunan lagu dangdut. Sebagai pamungkas, jelang dinihari tanggal 17 Agustus, bro Edo memimpin renungan Kemerdekaan. “Mari kita sejenak menggandengkan tangan dan menundukkan kepala untuk mengenang arwah para pahlawan yang mengantarkan kita ke kehidupan yang merdeka saat ini,” ujar Edo.
Keesokan hari, selain menggelar lomba kelompok layaknya outbond, bro Mul selaku koordinator acara menggelar pertandingan futsal. Acara ditutup dengan lomba mencari kunci di kolam renang yang memiliki kedalaman 2,5 meter. Jelang pukul 14.00 WIB, peserta touring meluncur kembali ke kota masing-masing. Bravo MRC. (edo rusyanto)

Jumat, 17 Juli 2009

Kekerasan di Mega Kuningan



foto: istimewa


Kekerasan di Mega Kuningan

KALI kedua, kawasan tempat para bikers kumpul di mega Kuningan, Jakarta Selatan, dilanda kekerasan bom. Jumat (17/7), sekitar 07.40 WIB, menorehkan catatan kelam bagi Indonesia. Dua ledakan mengguncang Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Hotel. Keduanya tempat yang ramai dikunjungi warga negara asing. Lima puluhan korban luka-luka dan sembilan orang tewas, termasuk Presiden Direktur Holcim Indonesia Timothy David Mackay (60), sedangkan korban luka di antaranya adalah komisaris PT Freeport Indonesia Adrianto Machribi.
Wikipedia mencatat kali pertama pengeboman terjadi pada 5 Agustus 2003 sekitar pukul 12.45 WIB. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Ledakan tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang. Akibat peristiwa itu, Hotel JW Marriott ditutup selama lima minggu dan beroperasi kembali tanggal 8 September 2003.
Kawasan Mega Kuningan kerap menjadi tempat kopi darat (kopdar) para bikers. Maklum kawasan tersebut memiliki tanah lapang yang bisa menjadi tempat parkir para bikers, khususnya di Jl Mega Kuningan Timur IV. Kelompok sepeda motor yang kopdar di kawasan itu di antaranya adalah Minerva Riders Community (MRC) dan Suzuki 2 Wheels.
MRC yang merupakan komunitas pengguna motor sport 150 cc sudah sekitar dua tahun kopdar di Mega Kuningan. Mereka kopdar pada Sabtu sekitar pukul 15.00-20.00 WIB. Terkait ledakan Jumat ini, Ketua MRC Jakarta Lukman Hakim menuturkan, pihaknya tetap berniat menggelar kopdar di kawasan itu.”Kalaupun ada pemindahan lokasi sementara kemungkinan di Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat tetapi kumpul dulu di sekitar MKT4, klo bisa kopdar di tempat biasa ya lanjut tapi klo ga bisa masuk ya kita berangkat bareng ke Taman Suropati jam 4.30 sore, ” tutur Lukman dalam pesan elektroniknya, Jumat siang.
MRC memiliki sekitar 500-an anggota di seluruh Indonesia, sekitar separuhnya adalah anggota region Jakarta.
Sejumlah komunitas sepeda motor pun mengutarakan rasa duka atas kekerasan bom di kawasan Mega Kuningan. ”Mewakili segenap pengurus dan juga seluruh member Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC) mengucapkan bela sungkawa atas tragedi bom di Hotel Ritz Carlton dan juga JW Marriot pagi ini, semoga seluruh korban yang meninggal dapat di terima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi musibah ini. Untuk korban yang di rawat semoga lekas sembuh,” tulis Bro Ipank dalam sebuah milis.
Tak ketinggalan, para penggiat safety riding yang tergabung dalam Road Safety Association (RSA) juga turut prihatin. Maklum, kelompok tersebut juga memilih kawasan Mega Kuningan untuk deklarasi setahun lalu. ”Kami turut berduka cita atas terjadinya peledakan bom di Ritz Carlton dan JW Marriot pada hari ini. Semoga amal ibadah almarhum dan almarhumah dapat diterima di sisi Tuhan YME dan bagi keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan ketabahan. Semoga situasi bisa cepat kondusif kembali demi kenyamanan dan ketentraman masyarakat yang tinggal di Indonesia,” tulis Eko, wakil ketua RSA, Jumat.
Ungkapan keprihatinan juga meruyak. ” Pengebom terus merusak nama bangsa, padahal hotel itu akan di pakai utk menginap kesebelasan MU pada 20Juli,” tutur Ferdy, anggota MRC dalam pesan elektroniknya.
Ya! Ledakan yang menimbulkan korban jiwa mencoreng nama bangsa. Kita pun berduka. (edo rusyanto)

Minggu, 28 Juni 2009

Bro Tommy MRC ‘Mencium’ Aspal

foto:istimewa

LANGIT cerah. Arus lalu lintas pada Minggu (28/6) di Jl Raya Bogor Pasar, sekitar ujung Jl Djuanda, Depok, cukup ramai. Baru saja usai mengisi Pertamax untuk Vixy merah. Harganya masih Rp 6.000 per liter. Pagi itu, sekitar pukul 09.50 WIB, solo riding menuju titik kumpul (tikum) rombongan Minerva Riders Community (MRC) di SPBU Warung Jambu, Bogor. “Kita masuk Warung Jambu sekitar jam 10.00,” tulis Bro Irsan, ketum MRC, menjawab pertanyaan via SMS dari saya.Tujuan akhir adalah MRC Sukabumi. Hari itu merupakan jadwal kopi darat keliling (Kopdarling) MRC yang kini memiliki sekitar 400-an anggota tersebar di belasan kota di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya ikut rombongan Pengurus Pusat MRC untuk roadshow ke pengurus MRC Bogor dan MRC Bandung. Selain berbincang mengenai dinamika organisasi pengguna motor besutan PT Minerva Motor Indonesia (MMI) itu, yang amat menarik buat saya adalah saat giliran membawakan materi berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Biasanya saya manfaatkan untuk bertukar pikiran mengenai bagaimana implementasi safety riding plus tetek bengek-nya. Hati agak berdebar setelah memeriksa ponsel. Ada panggilan tidak terjawab dari Bro Irsan. Sontak, saya telepon. “Pak Edo, kami kecelakaan, cukup parah. Sekarang ada di klinik Bidan Jenda, Lenteng Agung,” ujar Bro Irsan dengan nada cemas.Saya segera berputar arah. Belakangan saya dapat info, konvoy MRC Depok yang sedianya bergabung sudah tiba di tikum Warung Jambu. Tim MRC yang tertimpa musibah adalah konvoy MRC Jakarta dan Pengurus Pusat. Setelah menerabas ramainya Jl Djuanda pada Minggu pagi karena disesaki oleh pasar kaget di kanan kiri jalan, akhirnya saya melintasi Jl Margonda dan menikmati tersendat-sendatnya lalin di sekitar kampus Universitas Indonesia mengarah ke Jl Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Hampir sekitar 30 menit, akhirnya tiba juga di Klinik Bidan Jenda, itupun setelah bertanya ke seorang penjaga warung di sebelah kampus IISIP. Wajah Bro Irsan tampak semrawut. Ia tidak sendiri. Seingat saya ada Niko, Dani, Hendra, Jay, dan Ardian serta sepupu Niko. ”Bro Tommy dibawa ke RSUD Pasar Rebo, Jaktim,” ujar Bro Irsan.Ia menuturkan, kronologis terjadinya kecelakaan. Menurut Hendra, Bro Tommy ada diurutan ketiga. ”Urutan pertama Efan lolos, bro Ardian diurutan kedua juga lolos, tapi Tommy tidak sempat menghindar, ia terpelanting, melayang dan mencium aspal,” jelas Hendra. ”Padahal, konvoy kita pakai formasi zigzag,” tambah Irsan. Kecelakaan dipicu oleh munculnya dua penyeberang jalan yakni Ida dan seorang kerabatnya. Keduanya terserempet motor Tommy. ”Sekarang ditemani isteri Dani diantar tukang ojek untuk diurut,” jelas Irsan.Bro Tommy menderita lecet di tangan dan luka di wajah. ”Bibir sobek dan mengeluarkan darah, juga di pelipis,” jelas Hendra. Menurut Irsan, Klinik Bidan Jenda tak bisa menjahit luka di pelipis yang cukup dalam. Luka di bibir sempat dijahit klinik kecil tersebut.Setelah berkoordinasi, akhirnya saya dan bro Irsan menuju tukang urut tempat Ida dan kerabatnya mendapat pertolongan. Terlihat lebam di wajah Ida dan kerabatnya, sebagian lecet terlihat di tangan Ida. ”Sudah diurut dan engsel di lutut sudah dibetulkan oleh tukang urut,” tutur Kristi, isteri Dani yang menemani kedua wanita yang berniat ke Lebak Bulus tersebut.


Kualitas Helm

Luka yang diderita Bro Tommy tak akan serius apabila dilindungi oleh helm berkualitas. Saya lihat helm full face yang penuh bercak darah itu, rusak di bagian depan, terutama di sekitar bagian mulut. Kemudian di bagian atas pecah membentuk serpihan dan runcing. ”Bagian itu yang melukai pelipis,” sergah Bro Irsan.Helm menjadi vital bagi pengendara sepeda motor. Penelitian Kepolisian RI tentang kecelakaan menyebutkan, sekitar 90% korban meninggal akibat luka di kepala. Artinya, pengendara sepeda motor butuh helm yang mampu melindungi diri dari benturan ketika terjadi kecelakaan.”Padahal, semalam bro Tommy ingin membeli helm bagus di PRJ, tapi harus indent,” ujar Bro Irsan.”Tommy juga sebetulnya punya helm yang bagus, tapi hari ini ia pakai helm yang kualitasnya rendah,” ujar Bro Hadi, mantan ketua MRC Jakarta di RSUD Pasar Rebo. Bro Irsan akhirnya memutuskan untuk menunda kopdarling di Sukabumi. ”Anehnya, semalam kami juga dapat info rombongan MRC Bogor yang menuju Anyer juga terlibat kecelakaan. Konvoi menabrak penyeberang jalan yang tidak terlihat karena suasana gelap malam hari,” kata dia.Dalam waktu tidak terlalu lama, kecelakaan konvoi menabrak penyeberang jalan sudah terjadi beberapa kali. Sebelumnya, sejumlah pengendara dari HTML juga tertimpa musibah di sekitar kampus Gunadarma dan konvoi Milys di sekitar Tangerang, Banten. Ya! Helm berkualitas menjadi penting untuk melindungi kita. Semoga lekas pulih bro Tommy. (edo rusyanto)

Selasa, 26 Mei 2009

Bro Lukman Ketua MRC Jakarta

SUASANA temaram di kawasan Mega Kuningan Timur (MKT) IV Jakarta Selatan tak mengurangi semangat awak Minerva Riders Community (MRC) Jakarta. Meski sorenya mendung menggayut, petang itu, Sabtu (23/5), 40-an peserta kopdar tetap semangat untuk menggelar pemilihan ketua region (pilkereg) Jakarta.
“Kandidat yang berhak mengikuti pilkereg tersisa dua orang yakni bro Anjas dan bro
Lukman,” tutur Ian, ketua panitia pelaksana pilkereg, Sabtu.
Jadwal pemilihan yang semula pukul 15.00 WIB ngaret. Sekitar pukul 17.20 WIB baru dibuka. ”Bagi kandidat mesti siap kalah, siap menang. Bagi anggota, siapapun yang menang mari kita dukung agar MRC kian berkibar,” tukas bro Edo, penasihat MRC yang didaulat memberi sambutan.
Kedua kandidat mengaku kaget dan merasa senang mendapat amanah dari anggota MRC region Jakarta. ”Seandainya terpilih, mudah-mudahan saya bisa membuat MRC Jakarta kian solid,” tutur bro Anjas yang mendapat kesempatan pertama melakukan pemaparan visi dan misinya.
Lukman tidak mau kalah. “Saya ingin mencari tempat kopdar baru untuk bedakan kopdar Pusat dan Jakarta, selain itu, safety riding akan diperkuat,” kata dia.
Tanya jawab pun bergulir. Bro Hadi yang sebelumnya adalah Ketua Region Jakarta melontarkan sejumlah pertanyaan mulai dari soal mengembangkan MRC agar lebih maju hingga persoalan uang kas. Bro Ian yang menjadi pemimpin sidang kemudian menjelaskan persyaratan hak memilih. ”Hanya anggota yang memiliki nomor registrasi anggota (NRA) yang berhak memilih,” papar dia.
Dengan peralatan seadanya dan hari telah gelap karena memasuki pukul 18.30 WIB, satu persatu anggota MRC region Jakarta menuliskan pilihannya di atas kertas kecil. Hasilnya? Anjas mengantungi 14 suara dan Lukman 24 suara. Praktis, Lukman menjadi ketua region Jakarta. ” Trims atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Sehebat apapun pemimpin tidak akan jalan jika tidak ada dukungan. Tidak ada superman, yang ada super tim. Mohon bantuan. Semoga saya bisa menjalankan amanah ini,” harap Lukman dalam sambutan sebagai ketua terpilih.
Bro Ian menjelaskan, serah terima pengurus lama akan digelar pada 6 Juni. ”Susunan kabinet harus dah diserahkan ke Pengurus Puat pada 5 Juli, saat kopdar,” jelas Ian.
Inilah demokrasi. Walau total anggota MRC region Jakarta sebanyak 272 orang dan hanya 47 suara yang ikut memilih dalam penyaringan bakal calon, serta hanya 38 yang ikut memilih dua kandidat, sebuah langkah telah ditoreh komunitas sepeda motor besutan Minerva Motor Indonesia (MMI) itu. Selamat untuk bro Lukman dan seluruh MRC region Jakarta. (edo)

Senin, 25 Mei 2009

Roadshow Ala MRC

Kopdar di MRC region Bogor, Tajur.





SEMANGAT menyerap aspirasi anggota menjadi hal mutlak. Itu apabila pengurus organisasi peduli pada konstituennya. Pengurus yang bukan asyik dengan rancangan program tanpa mendeteksi hasrat anggota.
"Sudah saatnya, pengurus pusat menyambangi pengurus region," tukas Irsan, ketua umum (ketum) MRC, Sabtu (23/5) sore di bilangan Mega Kuningan Timur (MKT) IV, Jakarta Selatan.
Langkah awal kabinet Irsan menyambangi pengurus region dibuka dengan mengunjungi region Bogor dan Sukabumi, Sabtu (23/5) dan Minggu (24/5).
Rombongan touring roadshow kali ini melibatkan jajaran elit pengurus pusat yang dipimpin Bro Irsan (ketum), Ian (ketua 1), Rembang (ketua 2), Asep (bendahara), Hadi (humas), Hendra (art&design), Mulyadi (perlengkapan), Nico (kadiv touring), Bedil, dan Edo (Penasihat).
"Kegiatan ini juga jadi perekat silaturahmi," papar Ian, Ketua I MRC Pusat.
Konvoy 9 sepeda motor yang pulang pergi menempuh 371 kilometer (km) itu, membuahkan hasil. Aspirasi yang diutarakan via temu wajah mengalir dengan santai. Mulai soal atribut organisasi, rencana program kerja, hubungan MRC dengan agen tunggal pemegang merek (ATPM), hubungan dengan dealer, hingga penyebaran berkendara yang aman dan selamat (safety riding).
”Dealer komplain ke saya, kenapa anggota MRC tidak semuanya servis ke mereka,” tutur Januar, ketua MRC region Bogor, saat sharing mengenai aspirasi anggota. Menurut dia, hal itu tidak terlepas dari pelayanan dealer yang belum memuaskan riders minerva.
“Kemampuan teknisi dealer mesti ditingkatkan,” ujar Robin, anggota MRC region Bogor.
Pengurus MRC Pusat bersedia menjembatani komunikasi dengan ATPM dan selanjutnya diteruskan ke dealer yang bersangkutan.
Rasa lelah, accident, panasnya cuaca, dan kantuk yang mendera sirna oleh semangat dan
rasa kekeluargaan yang kental. Jamuan ala komunitas bikers sambil lesehan di pelataran parkir maupun kongkow di penginapan bergaya saung di Bandung, justeru kian mengakrabkan para bikers MRC.
MRC memiliki struktur organisasi pusat dan daerah itu yang memiliki beberapa region di antaranya Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Serang, Sukabumi, Bandung, Surabaya, Bali, dan Medan. Total anggota mencapai sekitar 700-an, walau baru berumur satu tahun.

Hapus Blocking
Saat dijemput tim MRC Bandung, konvoy pengurus MRC Pusat amat terbantu. Maklum, saat itu, waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB, padahal rombongan pengurus pusat tersebut belum sempat tidur. Konvoy tersebut menempuh perjalanan dari Jakarta sekitar pukul 19.35 WIB dan kopdar dengan MRC region Bogor di Tajur, Jawa Barat, Sabtu (23/5), pukul 21.30-23.45 WIB. Setelah itu, konvoy melaju ke Cibodas untuk beristirahat sekitar 90 menit.
Sekitar pukul 02.30 WIB, Minggu (24/5), konvoy yang dipimpin bro Irsan, tiba di Kota Baru Parahyangan, Padalarang sekitar pukul 04.30 WIB.
Tim MRC Bandung cukup cekatan mengawal barisan dari Jakarta. Jarak tempuh sekitar 39 km dilahap dalam waktu 40 menit. Luar biasa!
Prestasi itu ternyata harus dibayar dengan aksi memblokir jalan dan memacu kecepatan antara 70-80 kpj. Kecuali saat memasuki kawasan wisata Lembang karena pekatnya kabut yang menghalangi jarak pandang.
“Pola blokir sudah kita tinggalkan karena merampas hak pengguna jalan lainnya,” kata Bro Edo, penasihat MRC Pusat yang juga pengurus Road Safety Association (RSA).
Ungkapan yang dilontarkan saat sharing antara Pengurus Pusat MRC dengan MRC region Bandung di vila Ciateur, Bandung itu, sontak berbekas di benak MRC Bandung. Hal itu terbukti, saat mengawal pulang rombongan MRC Pusat hingga ke jalan Cagak, Subang, konvoy berjalan rapih. Tanpa blocking. Salut!
“Safety riding menjadi isu penting pengurus MRC saat ini, salah satunya adalah dengan mewajibkan melampirkan foto kopi SIM saat calon anggota ingin masuk ke MRC,” tutur Bro Irsan. (edo)

Sabtu, 25 April 2009

Kebersamaan di Dalam Perbedaan



HUT MRC Pertama




RATUSAN bikers tumpah ruah di area Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (25/4), mengikuti syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) Pertama Minerva Riders Community (MRC). Komunitas yang didirikan pada 20 April 2008 itu, mengusung tema Kebersamaan di Dalam Perbedaan.
MRC melihat, perbedaan jangan menjadi hambatan dalam kehidupan para bikers. Baik perbedaan jenis sepeda motor maupun perbedaan wilayah. ”Kebersamaan baru didapat jika kita dapat membuka diri dan selalu saling menghargai. Kita harus mampu menyatukan perbedaan,” tutur bro Ery Firman, ketua MRC periode 2008-2009, saat memberikan sambutan.
Sebagai komunitas penunggang sepeda motor sport R150 besutan PT Minerva Motor Indonesia (MMI), MRC terus berkiprah diberbagai bidang. Mulai dari touring, baksos, hingga penyebarluasan berkendara yang aman dan selamat. ”Kita para bikers harus mampu menekan angka kecelakaan di jalan raya, dengan berkendara yang santun dan menghargai pengguna jalan lainnya,” tutur bro Edo Rusyanto, penasihat MRC, saat memberikan materi safety riding di tengah para pengunjung HUT MRC.





Syukuran HUT MRC kali ini juga dihadiri jajaran manajemen PT MMI. ” Komunitas tidak bisa dipisahkan dengan agen tunggal pemegang merek (ATPM). Kami butuh masukan dari MRC,” ujar Kristianto, managing director PT MMI, yang disambut tepuk tangan riuh anggota MRC.
Sementara itu, bro Irsan, ketua umum MRC periode 2009-2011, berharap PT MMI tetap menjalin kerja sama dengan komunitas yang dipimpinnya. ” Saya berharap dukungan MMI tetap berlanjut,” tutur dia.
MRC yang berbasis di Jakarta itu, kini telah memiliki 450 anggota yang tersebar mulai dari Jakarta, Bogor, Depok, Serang, Sukabumi, Bandung, Kuningan, Surabaya, Lampung, hingga Medan.
Selain syukuran hari jadi, dalam kesempatan perayaan, juga dilakukan serah terima kepengurusan MRC dari bro Ery kepada bro Irsan.
HUT MRC yang dihadiri klub atau komunitas sepeda motor seperti Blackaholic, Independent Bikers Club (IBC), Yamaha Mio Club (YMC), Yahama Jupiter Owners Club (YJOC), Milys, MX Riders Community, dan NSR itu, juga diramaikan oleh aksi freestyle kelompok The Doctors. (edo)


foto: wisnu

Jumat, 10 April 2009

Minerva Masuk Bikers Magz


KOMUNITAS pengguna sepeda motor (bikers) Minerva juga mendapat perhatian awak redaksi Majalah Bikers Magz. Pada edisi April 2009, Minerva Riders Community (MRC) mendapat porsi dua halaman. Sepak terjang pengguna sepeda motor sport Minerva R 150 diulas panjang lebar. (edo)

Senin, 30 Maret 2009

Bikers Peduli Situ Gintung








BENCANA jebolnya tanggul Situ Gintung, Cireunde, Tangerang Selatan–Banten, Jumat (27/3), sekitar pukul 03.30 WIB, menelan hampir 100 jiwa penduduk di sekitar kawasan itu. Lebih dari 100 jiwa dikabarkan hilang dan puluhan lainnya luka-luka. Bencana menorehkan luka di sanubari kita.
Di tengah gelombang bantuan dan sumbangan dari partai politik, pejabat, serta masyarakat, sekelompok anggota kelompok pengguna sepeda motor (bikers), juga sibuk merapatkan barisan. Ikut andil membantu sesama yang sedang menderita.
“Alhamdulillah bantuan dan donasi sudah didistribusikan langsung kepada korban Situ Gintung,” tutur Lucky Junan Subiakto, pengurus Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC), seperti tertera dalam catatan dinding Face Book pria bertubuh gempal itu.
Menurut dia, walau tidak seberapa, ia berharap bantuan itu dapat berarti banyak bagi penerimanya. “Atas nama YJOC kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu,” kata dia.
Sementara itu, Minerva Riders Community (MRC) juga ikut ambil bagian. Puluhan kardus bantuan yang di antaranya adalah mie kemasan dan air mineral, terpaksa diangkut dengan gerobak. Sebagian barang yang dibawa dengan sepeda motor R 150 tidak bisa menerobos ke lokasi posko. ”Bantuan kami sebar ke dua posko bencana, yakni Posko Bencana Rakyat Peduli dan Posko Peduli PKS di belakang Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),” ujar Hadi W, wakil ketua MRC region Jakarta, mewakili keluarga besar MRC.
Ia mengaku trenyuh melihat keadaan Situ Gintung dan para korban bencana air bah tersebut. “Keadaan di Situ Gintung cukup memprihatinkan,” papar Hadi yang datang bersama sekitar 17 anggota MRC, Minggu (29/3) siang.
Pada bagian lain, bikers dari Komunitas Boeaya Motor, Jakarta Bikers Merah Putih (JBMP), dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) DKI Jakarta mendirikan Posko bantuan untuk korban di Situ Gintung. “Posko kami terletak di depan Ruko LIA Ciputat setelah jembatan Pasar Jumat,” tutur Indra dalam surat elektroniknya.
Menurut dia, posko tersebut menyalurkan bantuan dari warga yang ingin berderma. Ia menjelaskan, bantuan yang diperlukan dan sangat mendesak saat ini antara lain mie instan, air mineral, nasi bungkus, selimut, dan pakaian layak pakai.
Beberapa klub dan komunitas sepeda motor juga berancang-ancang. Independent Bikers Club (IBC) salah satunya. “Kami bakal masuk ke lokasi dan mengirim bantuan sepekan setelah kejadian karena saat ini sudah banyak yang membantu,” papar Edo Rusyanto, ketua IBC, Senin (30/3).
Ia menjelaskan, anggota IBC telah mengunjungi lokasi yang porak poranda tersebut dan menginventarisasi kebutuhan yang bisa dibantu. “Kemampuan kami juga terbatas, karena itu bantuan yang ingin disalurkan agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan penerima,” tegasnya.

Bencana jebolnya Situ Gintung meluluhlantakan ratusan rumah yang terletak di bawah danau tersebut. Bahkan, pemukiman yang berjarak sekitar 1-3 kilometer juga terkena banjir lumpur.
Tanggul buatan Belanda tahun 1932-1933 tersebut diperkirakan menghancurkan perumahan warga di Kampung Poncol dan Kampung Gintung. ”Sekitar 300 rumah yang ada di wilayah itu rusak dan hancur,” tulis Kompas (Sabtu, 28/3). Butuh miliaran bahkan triliunan rupiah untuk memperbaiki infrastruktur yang ada. Pemerintah berjanji memberikan bantuan Rp 15 juta untuk setiap rumah yang rusak terkena bencana.
Bencana menyisakan kepiluan bagi keluarga yang kehilangan sanak family. Hingga Minggu (29/3), sudah 99 korban meninggal dunia ditemukan. (edo)
foto: dok MRC

Jumat, 27 Maret 2009

7 Jam di Gunung Bunder

"BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?" Lalu..."Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?"

Lantas..."Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?"

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.

Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.

Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?


***

Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.

Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm...hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.

Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.

Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.

Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.

Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.


* * *

Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute baru menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.

Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.

Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.


Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.

Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.

Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.

Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.

Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.

Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,

Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.

Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.





Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

foto-foto: rio octaviano

Senin, 16 Februari 2009

Demokrasi 3,5 Jam






ANGIN berhembus kencang. Kertas yang berada di atas lantai beterbangan. Bahkan gelas plastik bekas air minum dalam kemasan (AMDK) juga tidak luput. Sejumlah anggota Minerva Riders Community (MRC) yang duduk lesehan di lantai anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB), TMII, Jakarta Timur, menimpali hembusan angin dengan celoteh beragam. ”AC nya kenceng banget,” cetus seorang anggota. Sedang apa di TMII? Piknik keluarga?
Hari itu, Sabtu (14/2), sekitar pukul 11.40 WIB, sebanyak 40 anggota komunitas sepeda motor buatan Cina itu, sedang menanti pelaksanaan pemilihan ketua umum MRC periode 2009-2011. ”Sejak dipilih secara aklamasi pada 13 April 2008, saya berkomitmen hanya menjadi ketua umum selama satu tahun. Hari ini merupakan sejarah bagi MRC untuk memilih ketua baru,” tutur bro Ery Firman, ketua umum (ketum) MRC, saat memberi sambutan pembukaan pemilihan ketua umum (pilketum) pertama MRC. Ery juga sekaligus menyatakan demisioner kepengurusan yang ia pimpin.
Bro Edo Rusyanto selaku ketua panitia pelakana pilketum 2009 selanjutnya memimpin jalannya sidang. Dibantu oleh bro Ana selaku notulensi dan belakangan oleh bro Hamasi selaku juru tulis penghitungan suara. Dua anggota panpel pilketum lainnya tidak bisa hadir karena kesibukan bekerja yang tidak bisa ditinggalkan yakni bro Ian dan bro Rembang.
Kegiatan hari itu bukan sekonyong-konyong. Sekitar dua bulan sebelumnya sudah disosialisasikan ke seluruh anggota via milis internal MRC. Bahkan, senantiasa diingatkan pada saat kopi darat (kopdar) termasuk kopdar keliling (kopdarling) MRC seperti ke region Depok dan Sukabumi.
Tiga kandidat ketum yang tersaring melalui mekanisme pengajuan bakal calon (balon) via SMS dan email terdiri atas bro Billy MRC#001, bro Irsan MRC#011, dan bro Makmur MRC#051. Proses pemilihan balon melibatkan 100 suara dari 285 anggota per awal Desember 2008.
Dari tiga kandidat ketum yang hadir di anjungan NTB, TMII hanya dua yakni Irsan dan Makmur, sedangkan Billy tidak bisa hadir karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Surat kuasa yang diberikan kepada bro Edo dibacakan di hadapan peserta forum pilketum.
Sebelum memasuki pemungutan suara, pembacaan rancangan tata tertib (tatib) forum pemilihan pilketum sempat diinterupsi bro Makmur. Ia yang juga ketua region Depok berpendapat bahwa pilketum kali ini seharusnya dihadiri oleh seluruh anggota MRC yang per awal Februari mencapai 344 anggota. Dalam rancangan tatib yang akhirnya disetujui forum, pilketum sah jika diikuti dan disetujui oleh ¾ anggota yang hadir.
Sudah menjadi fenomena komunitas sepeda motor. Sangat sulit mengumpulkan seluruh anggotanya dalam suatu kegiatan. Sekalipun sudah dijadwalkan satu atau dua bulan sebelumnya. Maklum, layaknya komunitas yang tidak memiliki aturan sanksi atas ketidakhadiran, membuat setiap individu di kelompok bisa berbuat ’suka-suka’. ”Ya namanya komunitas, tidak ada kata harus,” ujar bro Irsan. Memang butuh motivasi yang besar dan pengurus komunitas sulit memaksakan kehendak kepada anggotanya. Apalagi di MRC yang sedang proses menuju demokratisasi.
Kegiatan pilketum pun akhirnya terus bergulir. Visi dan misi kandidat pertama, bro Billy dibacakan oleh bro Edo. Sedangkan visi misi bro Irsan dilontarkan secara gamblang di hadapan peserta forum. Sedangkan visi misi bro Makmur juga dibacakan bro Edo karena yang bersangkutan enggan maju ke depan ruang pertemuan. Tanya jawab hanya berlangsung terhadap kandidat bro Irsan. Tidak ada yang terlalu istimewa. Pertanyaan bergulir seputar apa yang akan dilakukan oleh kandidat ketum jika terpilih. Mulai dari program kerja jangka pendek hingga jangka panjang. Mulai dari urusan internal MRC seperti memperkuat silaturahmi hingga bagaimana menggalang dana untuk kegiatan. Nyaris tidak ada program yang menyinggung soal safety riding.

Irsan Ketum Baru
Setelah diselingi dengan istirahat makan siang dan sholat dzuhur, pelakanaan pemungutan suarapun digelar. Hasil akhir pilketum MRC 2009 terdiri atas bro Billy (4 suara), bro Irsan (28 suara), dan bro Makmur (4 suara), sedangkan suara tidak sah mencapai 10 suara. Pemungutan suara dilakukan melalui penulisan nama dan nomor data base kandidat di kertas putih secara tertutup lalu dimasukkan ke dalam kotak kardus. Sementara itu, suara yang disampaikan melalui SMS mencapai 10 suara, sehingga total suara yang terlibat sebanyak 46 suara. Satu suara tidak digunakan, karena bro Makmur pulang sesaat jelang pemungutan suara.
Bro Irsan selaku ketum terpilih mengaku bahwa tantangan ke depan bagi MRC cukup besar. Baik dalam penataan internal MRC maupun pengembangan kegiatan-kegiatan MRC.
Pilketum ditutup dengan pesan penutup dari bro Ery sebelum akhirnya berdoa bersama dipimpin bro Edo. Sekitar pukul 15.24 WIB satu persatu anggota MRC meninggalkan TMII. Tidak lupa foto bersama di pelataran anjungan NTB.
Irsan diberi waktu sekitar 1 bulan untuk menyusun kabinetnya. Serah terima jabatan pengurus lama dan pengurus baru bakal digelar pada perayaan hari jadi MRC yang dijadwalkan pada 25 April 2009 di Kampung Artis, Cipayung, Jakarta Timur.
Pembelajaran demokrasi yang berlangsung sekitar 3,5 jam bagi MRC diharapkan kian mendewasakan komunitas sepeda motor Cina itu. Demokratis dalam memilih ketua, perbedaan pendapat sangat wajar, namun perdebatan yang berlebihan berpotensi pada perpecahan. Demokratisasi harus menjadi roh dalam menjalankan roda organisasi. Selamat. (edo rusyanto)

Minggu, 08 Februari 2009

MRC Berkunjung ke Motorrev



MENDUNG masih menggelayuti langit Jakarta. Sesaat keluar dari Gedung Departemen Perindustrian (Depperin), Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB.
Siang itu, asisten redaktur ku, Andryanto menikah dengan pujaan hatinya Uchi. Resepsi cukup meriah. Ratusan orang hadir. Mulai dari jurnalis kolega satu kantor hingga anggota Forum Wartawan Industri (Forwind) yang sehari-hari bermarkas di Gedung Depperin, hingga pejabat Depperin maupun kolega seperti dari PT Toyota Astra Motor, PT Astra International Tbk, dan PT Semen Gresik Tbk.
Di pelataran parkir, coba kontak bro Ery, ketum Minerva Riders Community (MRC). Gayung bersambut. Setelah menjelaskan ke bro Ery bahwa saya segera meluncur ke lokasi pertemuan MRC dengan redaksi majalah Motorrev di kawasan Pulogadung Trade Center (PTC), Pulogadung, Jakarta Timur, saya dan isteri bersiap-siap. Setelah mengenakan jaket kulit dan helm, saya berancang-ancang memacu si merah, Yamaha V-ixion. Jalan di Jakarta siang itu ramai lancar. Maklum, Sabtu (7/2), sebagian besar kantor swasta dan pemerintah libur. Imbasnya, lalulintas tidak terlalu padat. Ramai tapi lancar.
Sempat menemui banyak lubang dari Jl Gatot Subroto, Jl MT Haryono mengarah ke Cawang, hingga Jl By Pass menuju perempatan Jl Pemuda. Memasuki Jl Pemuda, masih juga terdapat lubang di tengah-tengah jalan. Hemmm...cukup berbahaya jika sepeda motor melaju dengan kecepatan 80 kilometer per jam (kpj) kemudian masuk lubang. Bisa-bisa terpelanting, jatuh, dan terlindas kendaraan lain.
Perjalanan menuju PTC agak tersendat. Bukan karena padatnya lalulintas. Karena lokasi persis kawasan perkulakan dan perkantoran itu masih belum akrab buat saya. Maklum, perjalanan menuju kawasan itu masih bisa dihitung jari. Setelah bertanya hingga tiga kali plus menelepon bro Ery, sampai juga di kawasan PTC.
Usai memarkir motor. Saya dan isteri naik ke lantai 3, lokasi pertemuan. Jarum jam persis di angka 13.28 WIB ketika memasuki ruang redaksi Motorrev. Terlihat bro Ery duduk lesehan beserta 11 anggota MRC lainnya. Tim redaksi Motorrev dipimpin Pak Rudi. Dua reporternya, Nandar dan Wisnu nampak berbaur. Demikian juga dengan awak redaksi lainnya.
Perbincangan mengalir seputar merawat sepeda motor, termasuk merawat rantai.
Ketum MRC juga asyik berbincang mengenai teknis mesin sepeda motor dan segala pernak perniknya. Bro Ery memperkenalkan saya sebagai penasihat MRC kepada Pak Rudi.
Memasuki sesi tanya jawab, saya sempat meminta penjelasan mengenai seluk beluk majalah Motorrev. Pak Rudi yang juga sesekali menunggangi Kawasaki Ninja 250 CC dengan lancar menjelaskan soal core business majalah yang dipimpinnya. ”Sebanyak 40% isi majalah kami adalah seputar kehidupan komunitas sepeda motor,” papar dia. Sedangkan bro Nandar menjelaskan kepada saya bahwa majalahnya melakukan pengujian produk sebelum menyajikannya dalam tulisan dalam setiap penerbitan.
Majalah yang memiliki tiras 25-30 ribu itu, tutur Rudi, ingin menyajikan tulisan yang bermanfaat bagi bikers. Karena itu, jelasnya, ia menerapkan konsep kunjungan redaksi bagi para kelompok sepeda motor. ”Rencananya satu bulan satu kali,” ujarnya, seraya mempersilakan tim MRC mencicipi cemilan dan segelas kopi dan teh manis hangat.
Saya sempat melontarkan gagasan agar Motorrev juga memiliki rubrik yang mengulas soal safety riding. Pasalnya, materi tersebut bakal bermanfaat bagi bikers untuk lebih hati-hati saat berkendara. Selain, tentunya mendorong agar lebih santun lagi saat di jalan raya. Pak Rudi dengan antusias menimpali usulan itu. ”Saya siap membuat 2 halaman untuk safety riding, apakah Anda siap membantu,” paparnya. Kontan saya iyakan. Hitung-hitung bagi ilmu dengan sesama bikers.
Bro Tomtim bahkan mengusulkan agar ada info mengenai kondisi jalan dan situasi lalulintas termutakhir.
Perbincangan dilanjutkan di pelataran parkir Motorrev. Maklum, siang jelang sore itu, Pak Rudi membawa tim Chain Wax, untuk peragaan membersihkan rante dengan produk chain wax. Jadilah pertemuan hari itu dengan aksi bersih
Rantai. Lumayan, kebetulan sudah hampir dua minggu rantai si merah belum diberi pelumas. Sebelum turun ke pelataran tim Motorrev membagikan souvenir berupa chain wax. Dan satu doorprize helm.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 15.31 WIB sesaat 11 motor tim MRC meninggalkan pelataran parkir Motorrev yang berada di ruko kawasan PTC. Sebelumnya, tuan rumah dan tamu berfoto bersama. Buat kenang-kenangan. Tim MRC selanjutnya meluncur ke Mega Kuningan Timur 4, untuk kopdar MRC Region Jakarta. (edo rusyanto)

Selasa, 27 Januari 2009

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian ketiga):


SUASANA kota Bandung malam itu diguyur hujan. Setelah sepanjang siang istirahat dan berputar-putar kota. Jun beli bahan celana panjang di Pasar Baru, Bandung. Malam itu saya dan Jun bersiap menuju tempat pertemuan (kopi darat/kopdar) Minerva Riders Community (MRC) Region Bandung di Jl Gatot Subroto.
Waktu menunjukkan pukul 20.05 WIB saat kami siap-siap meluncur. Hujan yang mengguyur Bandung membuat laju Vixy merah dan Srigala hitam berkisar di 40-60 kilometer per jam (kpj) saat menelusuri jalan-jalan di kota Bandung. Maklum ruas jalan dari Jl Hegarmanah ke Jl Gatot Subroto masih cukup ramai. Mobil berpelat B (nomor pelat Jakarta) berseliweran di tengah kota. Mobil-mobil itu berpenumpang tua dan muda, rombongan keluarga, pasangan kekasih, hingga sekumpulan teman kongkow, ramai memadati pusat kuliner hingga factory outlet (FO) yang menjajakan pakaian dan aksesoris.
Penelusuran V-ixion dan Pulsar melintas dari Hegarmanah, Sukajadi, Pasupati hingga akhirnya merapat di Bandung Super Mall (BSM) selaku titik kumpul (tikum) penjemputan oleh tim MRC region Bandung. Di tengah hujan yang sudah berubah menjadi gerimis, kami berteduh di depan pos polisi BSM. Sejumlah bikers juga berteduh disitu. Ada tiga petugas polisi yang duduk di pos itu. Peneduh ada yang asyik menghisap rokok, menyeruput minuman ringan bahkan ada yang asyik mahsyuk bercengkerama. Untuk yang ini tampaknya pasangan kekasih, terlihat dari posisi diri yang berhimpitan dan saling berpegangan tangan. Jadi iri.
Usai membuka helm dan membersihkan kacamata yang tersiram air hujan, saya telepon bro Budy, ketua MRC region Bandung. Setelah menyampaikan informasi bahwa posisi di tikum, selang lima menit muncul bro Sansan, menungang Minerva R 150 warna merah. Sansan menyalami saya dan selanjutnya memandu ke tempat kopdar yang sehari-harinya adalah dealer Trimitra Bandung. Penjualan motor Minerva di Bandung ditaksir sekitar 200 unit per bulan.
Jarum jam menunjukkan 20.35 WIB di pelataran parkir berjajar rapih lima minerva R 150, motor yang tongkrongannya mirip Honda CBR itu populasinya kian bertambah. Sepanjang 2008 sedikitnya terjual sekitar 80 ribu unit. Luar biasa. Maklum, motor yang dibanderol Rp 15,5 juta per unit itu, masih diimpor dari Cina.
Di sisi lain halaman dealer juga bertengger dua unit mobil khusus pengangkut motor. Usai melepas jas hujan, helm, jaket, dan safety gear body protector, kami memasuki ruangan lantai dasar dealer. Tampak berkumpul bro Asep dengan pacarnya, bro Sansan dan tiga bikers lainnya. Belakangan datang lagi satu bikers bersama pacarnya, mereka tampaknya sedang asyik membahas atribut MRC. Mereka berniat membuat jaket MRC Bandung. Belakangan, setelah dijelaskan bahwa MRC mengenal satu jenis atribut jaket, mereka mengurungkan niat membuat jaket dengan desain sendiri. Bro Budy memaparkan kondisi termutakhir region Bandung. Hingga sabtu (24/1), pionir MRC Bandung ada 8 orang dengan leader bro Budy. Pria asal Palembang yang sudah menetap sekitar 6 thn di Bandung itu mengaku gemas dengan riders minerva R 150. Menurut dia, banyak riders tapi sedikit yang mau berhimpun di MRC. Kemungkinan penyebabnya adalah ketidaktahuan dan belum ada inspirator yang memobilisasi.
Sisa-sisa udara dingin diguyur hujan menjadi hangat karena perbincangan yang mengasyikan mengenai kehidupan berkomunitas. mulai dari soal atribut, registrasi, HUT, hingga safety riding dan helm cetok. Perbincangan di selingi dengan makan malam berupa nasi timbel plus ayam dan tahu goreng. Kenikmatan bertambah dengan hadirnya lalapan dan sambal.
Perbincangan masih seru ketika jam memasuki pukul 23.30 dan kami berpamitan. Pasalnya, besok (Minggu, 25/1) perjalanan masih panjang. Kembali ke Jakarta. Kami meluncur kembali ke hotel. Hujan sudah reda, hanya gerimis kecil. Tanpa jas hujan, kami menelusuri jalan-jalan kota Bandung menuju hotel. Lumayan dingin. Jalanan kini lebih lengang dibandingkan saat pergi ke Jl Gatot Subroto.
Kami singgah ke Circle K Dago untuk membeli sebungkus rokok dan sebotol air mineral. Di halaman parkir jaringan convenience store yakni toko yang menjual makanan dan minuman untuk dikonsumsi di tempat milik Circle K Stores Inc. Amerika Serikat (AS) itu, tampak sejumlah pemuda yang sedang berteduh. Sementara itu, beberapa calon pembeli juga berdatangan dan silih berganti ke toko yang di Indonesia lisensinya dipegang PT Circleka Indonesia Utama itu. Eksterior dan interior Circle K memiliki satu standar di seantero jagat. Dari sekitar 5.900 toko di dunia, toko di Dago, Bandung itu juga memiliki penampilan yang bersih dan memiliki penerangan yang gemerlap. Maklum, toko yang buka 24 jam itu harus menimbulkan rasa nyaman dan aman. Meski, pada beberapa tahun lalu di Bandung sempat terjadi pengrusakan toko sejenis oleh gank motor yang mengejar lawannya. Saat itu, sang penyerang melihat lawan mereka masuk ke toko sehingga kemudian melempari toko tersebut dengan benda-benda keras.
Dari Circle K kami meluncur ke hotel dan tiba pukul 00.12 WIB. Tiba di pelataran hotel Gran Seriti gerimis masih menerpa wajah. Setelah membersihkan diri saya terlelap saat jam melewati pukul 02.00 WIB. (edo rusyanto/bersambung)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian