Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label kopdar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kopdar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Agustus 2009

Asyiknya Bahas Perilaku Bikers di Senayan



KAWASAN Senayan, Jakarta Pusat cukup terkenal sebagai area kopi darat (kopdar) para bikers. Di sudut Jl Asia Afrika, sekitar 100 meter dari Hotel Mulia, persisnya di bawah Patung Panahan, setiap malam Sabtu dan malam Minggu, ratusan bikers dengan beragam jenis sepeda motor tumpah ruah di sana. Tentu saja berbaur dengan pedagang makanan dan pedagang rokok asongan.
Para bikers yang sepanjang siang sibuk dengan aktifitas kerja atau kuliah melepas rasa kangen atau bertatap muka sambil membahas beragam topik. Salah satunya soal berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Umumnya mereka telah berinteraksi via internet, sebelum kopdar.
Salah satu komunitas yang bertengger di kawasan Jl Asia Afrika adalah Karisma Honda Cyber Community (KHCC). Komunitas yang berdiri pada 30 Juli 2003 itu, kini memiliki 2.000-an anggota mailing list (milist). Para pengguna sepeda motor Honda Karisma itu, kopdar satu bulan sekali pada Jumat malam di awal bulan.
Jumat (7/8), sekitar pukul 20.00 WIB bro Dhanes, salah seorang pengurus KHCC membuka kopdar. ”Mari kita bersama-sama memanjatkan doa untuk kesembuhan orang tua bro Peter, ketum kita, yang hari ini dirawat di rumah sakit,” ujar Dhanes. Dua puluhan anggota KHCC yang hadir secara khusyu berdoa. Malam itu, bro Peter tak bisa hadir kopdar karena harus berjaga di rumah sakit.
”Selain syukuran hari jadi yang jatuh 30 Juli, kita juga akan bahas hal lain pada kopdar kali ini,” papar bro Dhanes lagi. Ia mempersilakan bro Edo Rusyanto untuk memimpin bincang-bincang safety riding.
Pria yang sehari-hari juga aktif di Road Safety Association (RSA) itu membagikan hard copy kepada peserta kopdar. ”Tapi jumlahnya terbatas, hanya 10 kopi, jadi satu paper dibaca berdua,” seloroh Edo.

Ubah Perilaku
Edo mengajak anggota KHCC introspeksi soal perilaku berkendara bikers. ”Data Polda Metro Jaya menyebutkan, 642 orang tewas akibat kecelakaan di jalan sepanjang Januari-juli 2009,” papar dia. Artinya, lanjut Edo, tiga orang tewas setiap hari akibat kecelakaan. Ironis.
Perbincangan mengalir soal penyebab kecelakaan yang menimpa bikers di Jakarta. ”Dari kajian RSA, mayoritas penyebab kecelakaan bikers yakni 41,22% akibat ditabrak mobil,” sergah Edo yang juga ketua Independent Bikers Club (IBC).
Ia menilai, persoalan perilaku berkendara menjadi pokok persoalan kecelakaan di jalan. ”Perilaku yang ugal-ugalan dari pengguna jalan memicu kecelakaan, selain populasi kendaraan yang cukup tinggi,” urai Edo.
Karena itu, kemampuan menjaga konsentrasi, menganalisis medan jalan, serta pengambilan keputusan yang tepat untuk bermanuver saat berkendara menjadi kunci dalam berlalu lintas. Terlebih, lanjutnya, saat ini UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, telah menyiapkan sanksi denda dan kurungan badan bagi bikers yang ugal-ugalan. ”Denda paling ringan adalah Rp 250 ribu dan kurungan satu bulan, namun denda tertinggi Rp 12 juta dan kurungan 6 tahun,” tukas Edo.
Pentingnya para bikers melatih group riding yang aman juga menjadi topik bahasan. ” Group riding harus memperhatikan keselamatan anggota kelompok saat berkendara dan pentingnya berdisiplin saat berkendara,” tutur bro Bodats.
Hampir semua peserta kopdar sepakat pentingnya mengubah perilaku menjadi lebih santun dan bersahabat yang taat pada aturan lalin. ”Untuk itu, kita mulai dari diri kita sendiri,” ajak bro Dhanes.
Bagi bro Andry, anggota KHCC yang juga aktif di JDDC, penting bagi para bikers untuk menerapkan konsep search, evaluate, and execute (SEE). ” Mengendarai motor butuh konsentrasi. SEE menjadi penting dan jangan malu disebut bikers yang gak berani, terpenting adalah selamat sampai tujuan,” papar Andry.
Meski ngobrol santai soal safety riding diwarnai hingar bingar musik dari ajang pameran industri kreatif di sebelah Patung Panahan, para anggota KHCC cukup antusias. ” Trim's atas sharing-nya. Sangat bermanfaat untuk kami yang masih hijau,” tutur bro Danz Karimut Juanz, usai kopdar yang sontak ditimpali Andik Wirawan. ”Bener banget. Apalagi dapet info UU 22 tahun 2009,” tuturnya.
Usai bincang-bincang, Bro Dhanes pun melanjutkan dengan syukuran hari jadi KHCC ke-6. ”Kita berdoa dan memotong kue sebagai rasa syukur atas persahabatan dan kelanggengan KHCC,” tutur dia.
Jarum jam merangkak ke 21.15 WIB saat satu persatu anggota KHCC beranjak meninggalkan lokasi kopdar. Jalan Jakarta masih ramai dipadati kendaraan warga yang menikmati malam panjang di akhir pekan. (edo rusyanto)

Jumat, 17 Juli 2009

Kekerasan di Mega Kuningan



foto: istimewa


Kekerasan di Mega Kuningan

KALI kedua, kawasan tempat para bikers kumpul di mega Kuningan, Jakarta Selatan, dilanda kekerasan bom. Jumat (17/7), sekitar 07.40 WIB, menorehkan catatan kelam bagi Indonesia. Dua ledakan mengguncang Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Hotel. Keduanya tempat yang ramai dikunjungi warga negara asing. Lima puluhan korban luka-luka dan sembilan orang tewas, termasuk Presiden Direktur Holcim Indonesia Timothy David Mackay (60), sedangkan korban luka di antaranya adalah komisaris PT Freeport Indonesia Adrianto Machribi.
Wikipedia mencatat kali pertama pengeboman terjadi pada 5 Agustus 2003 sekitar pukul 12.45 WIB. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Ledakan tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang. Akibat peristiwa itu, Hotel JW Marriott ditutup selama lima minggu dan beroperasi kembali tanggal 8 September 2003.
Kawasan Mega Kuningan kerap menjadi tempat kopi darat (kopdar) para bikers. Maklum kawasan tersebut memiliki tanah lapang yang bisa menjadi tempat parkir para bikers, khususnya di Jl Mega Kuningan Timur IV. Kelompok sepeda motor yang kopdar di kawasan itu di antaranya adalah Minerva Riders Community (MRC) dan Suzuki 2 Wheels.
MRC yang merupakan komunitas pengguna motor sport 150 cc sudah sekitar dua tahun kopdar di Mega Kuningan. Mereka kopdar pada Sabtu sekitar pukul 15.00-20.00 WIB. Terkait ledakan Jumat ini, Ketua MRC Jakarta Lukman Hakim menuturkan, pihaknya tetap berniat menggelar kopdar di kawasan itu.”Kalaupun ada pemindahan lokasi sementara kemungkinan di Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat tetapi kumpul dulu di sekitar MKT4, klo bisa kopdar di tempat biasa ya lanjut tapi klo ga bisa masuk ya kita berangkat bareng ke Taman Suropati jam 4.30 sore, ” tutur Lukman dalam pesan elektroniknya, Jumat siang.
MRC memiliki sekitar 500-an anggota di seluruh Indonesia, sekitar separuhnya adalah anggota region Jakarta.
Sejumlah komunitas sepeda motor pun mengutarakan rasa duka atas kekerasan bom di kawasan Mega Kuningan. ”Mewakili segenap pengurus dan juga seluruh member Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC) mengucapkan bela sungkawa atas tragedi bom di Hotel Ritz Carlton dan juga JW Marriot pagi ini, semoga seluruh korban yang meninggal dapat di terima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi musibah ini. Untuk korban yang di rawat semoga lekas sembuh,” tulis Bro Ipank dalam sebuah milis.
Tak ketinggalan, para penggiat safety riding yang tergabung dalam Road Safety Association (RSA) juga turut prihatin. Maklum, kelompok tersebut juga memilih kawasan Mega Kuningan untuk deklarasi setahun lalu. ”Kami turut berduka cita atas terjadinya peledakan bom di Ritz Carlton dan JW Marriot pada hari ini. Semoga amal ibadah almarhum dan almarhumah dapat diterima di sisi Tuhan YME dan bagi keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan ketabahan. Semoga situasi bisa cepat kondusif kembali demi kenyamanan dan ketentraman masyarakat yang tinggal di Indonesia,” tulis Eko, wakil ketua RSA, Jumat.
Ungkapan keprihatinan juga meruyak. ” Pengebom terus merusak nama bangsa, padahal hotel itu akan di pakai utk menginap kesebelasan MU pada 20Juli,” tutur Ferdy, anggota MRC dalam pesan elektroniknya.
Ya! Ledakan yang menimbulkan korban jiwa mencoreng nama bangsa. Kita pun berduka. (edo rusyanto)

Minggu, 01 Februari 2009

Trophy Pernikahan Untuk Nasier






SOLIDARITAS di tubuh Independent Bikers Club (IBC) tetap teruji. Di tengah cuaca mendung, diselingi gerimis, saya tiba di depan Masjid At Tin, TMII, Jakarta Timur, sekitar pukul 10.45 WIB. Tampak bro Tata sedang menyantap ketoprak dan air minuman dalam kemasan. Di warung yang posisinya persis di sudut bagian luar masjid agung tersebut, juga terdapat beberapa pengunjung yang menikmati teh manis hangat dan gorengan.
Masjid tersebut menjadi titik kumpul (tikum) rombongan IBC yang hendak menuju ke rumah bro Nasir, IBC 054. Minggu (1/2) itu, rencananya bakal digelar penyerahan Trophy Bergilir Pernikahan IBC dari bro Aan ke bro Nasir. Trophy tersebut merupakan simbol ungkapan rasa gembira IBC atas pernikahan anggota. Nama anggota dan pasangannya tertera di trophy yang mengambil bentuk velg motor dengan logo IBC di bagian tengahnya. Hingga kini, sudah tujuh anggota IBC yang namanya tertera di sana, terakhir adalah pasangan Nasir-Rika.
Sambil memesan segelas teh manis panas untuk sekadar menghangatkan perut karena cuaca yang cenderung dingin, saya coba mengontak beberapa teman yang berniat kumpul di lokasi tersebut. Beberapa pengurus IBC menyampaikan permohonan maaf via SMS. Mereka tidak bisa hadir karena beragam alasan. Bro Ari sedang mendampingi Bapak Mertuanya di kawasan Cilember, Bogor. Bro Rio, mendadak bertemu petinju Chris John, sedangkan bro Hadi sedang acara keluarga di Depok. Bro Alam sudah sejak beberapa hari sebelumnya menyampaikan ketidakhadirannya karena ada acara keluarga. Belakangan, setelah tiba di kantor, beberapa anggota menyampaikan alasan ketidakhadirannya. Bro Irfan mengaku ketiduran karena baru memejamkan mata pukul 08.00 WIB, bro Indra hampir sama namun ditambah alasan hujan. Sedangkan bro Ogenk tidak bisa hadir karena ke tempat teman yang tertimpa musibah kecelakaan. Selebihnya tidak ada kabar. Hemmm...
Setelah berkoordinasi via telepon dengan bro Heru yang sudah di kawasan dekat bro Nasir, serta meminta Heru menginformasikan kepada bro Aan agar langsung ke rumah bro Nasir, saya dan bro Tata serta bro Bani dan kedua anaknya, meluncur menuju rumah bro Nasir. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.46 WIB. Saya dan bro Tata menunggu bro Bani yang baru tiba sekitar pukul 11.40 WIB.

Perjalanan menuju Vila Nusa Indah (VNI) 5 di kawasan Jatiasih, Bekasi itu tergolong lancar. Dari TMII melintas Jl Hankam, Bambu Apus, Setu, Jl Pasar Kecapi, Jl Kodau, melintas Jl Tol Lingkar Luar, memasuki perkampungan yang jalannya berlubang dengan kumbangan air berwarna coklat, kemudian masuk Jl Jatiluhur, Wibawa Bhakti 2, hingga akhirnya ke Jl Ciangsana, VNI 5. Niatnya melalui jalur pintas bisa memangkas waktu tempuh, namun yang justeru menjadi agak lama karena rutenya membingungkan. Harus bertanya sebanyak 5 kali. Sekitar pukul 13.00 WIB baru tiba di rumah bro Nasier. Di VNI 5 yang merupakan karya pengembang PT Kentanix Supra Internasional (KSI), tampak aktifitas pembangunan rumah yang belum rampung. Ratusan rumah telah berdiri megah.
Sekitar 15 menit kemudian bro Heru tiba. Kami langsung menyantap asinan buah yang dibawa bro Edo. Sekitar 20 menit kemudian tiba bro Aan. Usai sholat dzuhur bersama, sekitar pukul 14.20 wib, penyerahan trophy dilakukan yang ditutup dengan makan siang.
Saya selaku ketua IBC menjelaskan kepada pasangan Nasir-Rika mengenai makna trophy tersebut. Usai penyerahan trophy dan diselingi menyantap buah-buahan seperti duku dan jeruk, perbincangan mengalir soal safety riding. Mulai dari penggunaan body protector, pemilihan helm yang tepat bagi pengendara, hingga pengalaman menghadapi kecelakaan lalulintas. Perbincangan yang bermakna.

Selain itu, perbincangan juga menyinggung soal rencana touring ke Lembang, Bandung pada 6-8 Maret. Mencuat harapan agar tikum kedua saat menuju Bandung memilih pelataran masjid sebagai tempat istirahat agar rombongan bisa sholat subuh. Harapannya, tikum tersebut di sekitar Padalarang, agar masuk ke kota Bandung sudah menjelang matahari terbit, untuk selanjutnya menuju Lembang. Bro Nasir bahkan mengusulkan agar kegiatan kopdar yang bertujuan mempererat solidaritas anggota IBC tidak semata ketika ada penyerahan trophy. Ia mengusulkan agar digelar arisan anggota. Saya menimpali agar dikombinasikan dengan arisan safety gear, mulai dari helm, body protector hingga sepatu touring.
Usai sholat ashar berjamaah, tiba-tiba Rika mengeluarkan kue tart coklat dengan lilin berbentuk angka 28. Rupanya, tart itu adalah kejutan bagi suami tercinta untuk merayakan ulang tahunnya yang jatuh pada 31 Januari. Jadilah kami menikmati potongan kue tart sebelum akhirnya meninggalkan VNI 5 menuju kantor. Saya, bro Aan, bro Bani, bro Tata, dan bro Heru meluncur ketika waktu menunjukkan pukul 15.35 WIB.
Rute yang ditempuh adalah rute normal yakni via pasar Pondok Gede, Lubang Buaya, Halim, dan TMII. Saya memisahkan diri di perempatan Keramik untuk selanjutnya menuju kantor di Aryaduta Suites. Sedangkan keempat lainnya menuju Tanjung Barat untuk mengantar dua anak bro Bani sebelum akhirnya ke kantor juga. (edo rusyanto)

Sabtu, 06 Desember 2008

Kopdar RSA di Hornet

Lokasi : Tempat Kopdar Hornet, Bulungan, Jaksel
Waktu : Pkl 22.10-23.45 Wib
Peserta; IBC, Depresi RSA, Hornet, HSJ, S2W, Milys, Spinner, Pulsarian, dan YJOC.
Notulen: Edo
=====================================================

Kopdar dibuka oleh bro Sontul selaku tuan rumah. Ia juga menjelaskan soal tradisi RSA yang menggelar kopdar keliling ke anggota-anggota RSA yang kini mencapai sekitar 70 klub. Selanjutnya Sontul yang belakangan pamit duluan karena ada keperluan, mempersilakan Edo IBC untuk memaparkan rencana program safety riding goes to school (SRGTS).
Bro Edo memaparkan rencana SRGTS pada Selasa (9/12) di SMK 10, Jaktim dan Selasa (16/12) di SMK 28 Jaksel. Kegiatan tersebut adalah rangkaian dari kegiatan hari jadi IBC yang kedua pada 2008. Dalam dua kegiatan SRGTS, IBC menyampaikan peran komunitas dan klub dalam sosialisasi safety riding (SR) berdasarkan pengalaman IBC. Sementara itu, tim RSA menyampaikan materi Tips Aman Berkendara dan Tata Tertib Lalulintas. Selain materi kelas, kata bro Edo, kepada para siswa/siswi juga diberikan contoh peragaan berkendara yang aman dan selamat.
Terkait kegiatan tersebut, Bro Rieza, mengimbau anggota RSA yang bisa hadir agar muncul di dua kegiatan tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa pelaksanaan kegiatan yang berbarengan dengan hari kerja agak menyulitkan bagi yang harus masuk kantor.
Sementara itu, materi SRGTS yang bakal disampaikan tim RSA, menurut Bro Syamsul, bakal menyentuh aspek-aspek berkendara yang aman dan nyaman. Syamsul juga bakal membantu dengan menyiapkan materinya.
Kopdar kali ini juga digiring menjadi diskusi interaktif. Bro Syamsul membukanya dengan menjelaskan fungsi helm yang mampu melindungi kepala akibat benturan. Bagi pengendara sepeda motor, guna melindungi diri dari risiko kecelakaan harus memiliki tiga aspek yakni skill, kemudian perlengkapan yang mencakup jaket, helm, sarung tangan, dan sepatu. Ketiga, doa. Pria yang juga pendiri HTML itu menggaris bawahi mengenai perilaku bikers dalam memacu kendaraannya agar tidak terlalu tinggi. Tentu saja hal ini terkait dengan meminimalisir risiko dari kecelakaan.

Peran komunitas
Peran komunitas dalam menyebarluaskan SR amat penting. Bro Benny dari Pulsarian memaparkan pola yang dianut komunitasnya. Menurut dia, Pulsarian menggugah anggotanya untuk menghargai diri sendiri. Jika ada yang pakai sendal jepit saat berkendara atau datang ke tempat kopdar, anggota tadi akan tegur. Saat ditanya kenapa memakai sendal jepit, jawabannya karena jarak tempuh dekat sehingga ribet kalo pakai sepatu. Pola menegur ternyata mampu menimbulkan kesadaran dari dalam diri anggota Pulsarian.
Menurut Bro Ipang YJOC, penerapan SR saat kopdar sebuah komunitas/klub cenderung efektif. Namun, bagaimana implementasinya saat di jalan raya masih harus terus dibangun kesadaran bahwa SR amat penting. Karena itu, sosialisasi tidak hanya via milist dan kopdar semata.
Membangun kesadaran ternyata harus diimbangi dengan sanksi. Bro Kiki HSJ menyebutkan pola di kelompoknya. Di HSJ, selain ditegur, pelanggar SR yakni seperti tidak memakai helm bakal dikenai sanksi sanksi push up. Teguran dilontarkan saat kopdar. Di jalan, jika ditemui perilaku ugal-ugalan, juga bakal tegur.
Bro Syamsul mengingatkan, budaya masyarakat kita membutuhkan lebih dari sekadar imbauan. Butuh sanksi dan penghargaan serta aturan/mekanisme yang tegas. Ia mencontohkan apa yang diterapkan HTML. Komunitas ini menerapkan pendekatan sakan dimasukkan dalam milist sehingga yang bersangkuta malu dan selanjutnya menimbulkan kepedulian (aware). Selain itu, butuh ada keteladanan dari pengurus klub/komunitas. HTML menerapkan reward yakni berupa stiker khusus yang menyebutkan sebagai pionir SR dan menraktir makan bersama. Syamsul mengingatkan dalam mensosialisasikan SR, komunitas adalah ujung tombak dan RSA harus diberdayakan.
Komunitas/klub harus jadi pionir. Bro Rio IBC mengingatkan soal beragamnya pemahaman masyarakat soal SR. Bahkan, tiap klub ada kendala, ada resistensi. Komunitas dan RSA mendapat tantangan untuk bagaimana mengingatkan masyarakat yang ugal-ugalan di jalan. Bro Syamsul mengakui bahwa RSA masih sangat terbatas. Sebuah klub/komunitas, harus solid dahulu di internal mengenai pemahaman dan implementasi SR. Barulah masuk ke masyarakat luas. Misal, IBC yang bakal gelar SRGTS, harus solid dahulu di internalnya. Demikian juga dengan KCDJ yang mau bikin sosialisasi ke RT/RW.

Group Riding
Bro Sontry IBC/Milys mempertanyakan bagaimana dengan perilaku komunitas yang suka ngeblok jalan saat konvoy serta upaya sweeper menyalip guna merapihkan barisan konvoy (group riding). Bro Syamsul mengingatkan agar dalam group riding dibuat kesepakatan yakni pertama, bagi barisan yang tertinggal bakal ditunggu. Kedua, barisan yang bergerak lebih cepat karena lolos dari kemacetan atau lampu merah, harus memperlambat laju motor. Kepanikan dari barisan yang tertinggal bakal menimbulkan risiko kecelakaan jika memacu kendaraan tanpa kendali guna mengejar barisan terdepan.
Dalam berkonvoy bagi yang boncengan dan tidak tahu jalan hendaknya ditempatkan di kelompok depan. Penting juga disosialisasikan kepada anggota konvoy mengenai rute yang akan dilalui, termasuk titik berhenti. Bro Edo mengingatkan pentingnya alat komunikasi/radio saat berkonvoy. Sedangkan Bro Ipang mengingatkan pentingnya peranan service officer, road captain, dan sweeper. Sweeper harus tegas dan tahu jalan. Walau, kata bro Syamsul, di HTML saat ini diterapkan konsep setiap peserta konvoy bertugas menertibkan dirinya sendiri.
Paradigma berkonvoy harus diubah bahwa selama ini rombongan konvoy selalu meminta perhatian pengguna jalan lain, kini kelompok konvoy harus peduli kepada masayrakat pengguna jalan lainnya.

Kecelakaan
Di sisi lain, diskusi kali ini juga menyoroti soal tingginya angka kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Bro Hery IBC mengimbau agar RSA menggandeng kepolisian untuk menegakkan aturan lalin untuk mengurangi kecelakaan lalin. Menurut Bro Syamsul yang juga pendiri RSA, saat ini RSA belum secara resmi menggandeng Polri untuk penegakan SR. Terlebih, kini Polisi fokus pada menciptakan kelancaran lalin, sedangkan penegakan hukum menjadi nomor dua. Hal itu terlihat saat pagi hari dimana ada yang tidak pakai helm, namun tidak ditilang, polisi memprioritaskan kelancaran. Kecelakaan dan kemacetan akibat suatu sistem. Bukan suatu masalah tapi akibat persoalan yg lebih luas yakni sistem kemasyarakatan seperti masalah ekonomi. Misal, sistem penggajian bagi sopir angkutan umum. Jika di gaji, cenderung perilakunya lebih tertib. Di sisi lain produksi sepeda motor terus melesat karena sistem pembiayaan yang mudah dan murah. Butuh sistem transportasi massal yang aman dan nyaman. Ada sistem ekonomi terkait industri yang sulit diurai karena ada masalah politik. Bukan semata sistem.
Terkait kecelakaan, penerapan lajur motor yang bakal digabung dengan angkutan umum, bro Rio mempertanyakan konsep SR seperti apa yang pas digunakan. Lajur kiri untuk motor memang baik. Bahkan, workshop yang digelar Dephub beberapa waktu lalu yang diikuti Bro Edo dan Bro Ecko, terkesan melegitimasi lajur kiri untuk motor.
Bro Syamsul menawarkan pola kuota produksi guna menekan populasi motor. Walau, menurut dia, hal itu amat sulit karena terkait banyak kepentingan.
Di sisi lain, ujar Bro Rio, guna menekan jumlah kecelakaan, konsep SR harus juga disosialisasikan kepada pengguna jalan lain, terlebih pengemudi angkutan umum.
Diskusi yang cukup mendapat respons bagus dari peserta kopdar juga diselingi dengan pemutaran video kecelakaan lalulintas. Video yang dibawa Bro Edo diputar di laptop mencairkan suasana sekaligus mengingatkan agar lebih berhati-hati dalam berkendara.
Bro Sontry mengajukan agar kopdar selanjutnya digelar di komunitas Milys Scorpio.
Sebagai pamungkas, bro Heru ’Kopral’ Hornet, selaku tuan rumah kopdar kali ini mengucapkan terimakasih sekaligus permohonan maaf kalau jamuannya kurang dan anggota Hornet yang hadir tidak terlalu banyak. Menurut dia, Hornet senantiasa menyebarkan SR, tapi tidak memberi sanksi kepada anggota yang mengabaikan SR melainkan dengan saling mengingatkan*


Catatan:
Notulensi ini diharapkan disebarluaskan di milist anggota RSA.
Kopdar selanjutnya di Milys Scorpio.
Untuk riset kecil-kecilan mengenai ketepatan speedometer juga hendaknya disharing di milist.
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian