Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label sepeda motor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepeda motor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 November 2009

Penjualan Sepeda Motor Naik 7%


foto:edo

Penjualan sepeda motor nasional pada Oktober 2009 diperkirakan meningkat 7% menjadi 450 ribu unit dibanding realisasi September sebesar 421.661 unit. Peningkatan pasar dipicu normalnya hari kerja pada bulan lalu.

“September hari kerja sedikit karena ada libur Lebaran, namun Oktober hari kerja sudah normal. Memang ini baru angka perkiraan karena data resminya belum keluar,” ujar Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata di Jakarta, Kamis (5/11).

Gunadi menjelaskan, pasar motor dipastikan akan melampaui lima juta unit pada 2009. Sebab, hingga Oktober, pasar motor sudah mencapai 4,6 juta unit. Dengan demikian target total pasar sebesar 5,6 juta unit diprediksi dapat tercapai.

"Target awal lima juta unit saya rasa akan dilampaui, karena sampai November saja penjualan mungkin bisa melewati lima juta unit. Suku bunga bank dan kredit leasing sudah bergairah sekarang," tukasnya.

Gunadi memperkirakan tren positif penjualan akan berlangsung hingga 2010. Hal ini didasari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6% seperti yang diproyeksikan pemerintah. Dengan demikian, pasar motor ditaksir meningkat minimal 2% karena biasanya pertumbuhan pasar motor dua kali lipat dibanding pertumbuhan ekonomi.

"Gambaran penjualan sepeda motor tahun 2010 cukup baik, karena permintaan suplier sudah ada kenaikan," katanya.

Kawasaki Ekspor Bebek
Sementara itu, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Kawasaki, akan mengekspor bebek terbaru mereka, Edge, ke Thailand mulai Januari 2010. Ekspor dilakukan dalam bentuk terurai (completely knock down/CKD).

"Pada Januari kita harap bisa meluncurkan Edge ke pasar domestik sekaligus mengekspor ke Thailand secara bersamaan. Karena dari sana memang sudah ada permintaan," ujar National Sales Manager KMI Freddy Basuki belum lama ini.

Freedy enggan menyebutkan berapa volume ekspor Edge. Ia berkilah keputusan volume ekspor baru akan keluar pada Desember tahun ini.

Menurut Freddy, implementasi perdagangan bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA) pada 2010 merupakan momen yang pas untuk ekspansi pasar. Sebab, bea masuk (BM) untuk beberapa produk manufaktur nantinya akan turun dari 5% menjadi 0%.

KMI akan melepas Edge awal 2010 atau molor dari jadwal awal pada Desember 2009. Langkah ini diambil untuk mengakomodasi karakteristik konsumen Indonesia yang menyukai motor produksi baru. KMI menargetkan dapat melego 3.000 unit Edge pada 2010. Per September 2009, total penjualan Kawasaki mencapai 43.578 unit. (coy)

sumber; investor daily

Selasa, 27 Oktober 2009

Ban Sepeda Motor Gundul Bisa Didenda


foto:edo

SEORANG teman bikers mengirimi saya pesan di jejaring sosial Face Book (FB). “Bro, apakah saya ditilang jika tidak memakai speedo meter (alat pengukur kecepatan) dan ban gundul?”

Jujur, lumayan bingung juga menjawab pertanyaan itu. Secara empiris, saya belum menemui para polisi lalu lintas (Polantas) menilang pengendara sepeda motor karena kasus itu.

Setelah menelusuri tiap pasal di dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), akhirnya ketemu juga.

Temuan itu justeru mencuat di pasal 285 ayat (1) yang berbunyi setiap orang yang mengemudikan sepeda motor di jalan yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan yang meliputi kaca spion, klakson, lampu utama, lampu rem, lampu penunjuk arah, alat pemantul cahaya, alat pengukur kecepatan, knalpot, dan kedalaman alur ban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (3) juncto Pasal 48 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu.

Lantas apa sih bunyi pasal 106 ayat tiga itu? Ternyata begini bunyinya. Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mematuhi ketentuan tentang persyaratan teknis dan laik jalan. Hal rinci mengenai itu diatur dalam pasal 48 ayat (2) yang menjelaskan bahwa persyaratan teknis laik jalan kendaraan bermotor meliputi: susunan, perlengkapan, ukuran, karoseri, dan rancangan teknis kendaraan sesuai dengan peruntukannya. Selain itu, pemuatan, penggunaan, penggandengan kendaraan bermotor dan/atau penempelan kendaraan bermotor.

Sementara itu, pada ayat (3) pasal itu disebutkan persyaratan laik jalan ditentukan oleh kinerja minimal kendaraan bermotor yang diukur sekurang-kurangnya terdiri atas emisi gas buang, kebisingan suara, efisiensi sistem rem utama, efisiensi sistem rem parkir, kincup roda depan, suara klakson, daya pancar dan arah sinar lampu utama, radius putar, akurasi alat penunjuk kecepatan, serta kesesuaian kinerja roda dan kondisi ban dan kesesuaian daya mesin penggerak terhadap berat kendaraan.

Namun, ketentuan pasal 48 juga mengisyaratkan bahwa ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan teknis dan laik jalan diatur dengan peraturan pemerintah (PP). Hingga kini belum ada tanda-tanda PP itu segera rampung dan diumumkan ke publik, kabarnya paling lambat pertengahan tahun 2010 harus sudah jadi. (edo rusyanto)

Kamis, 22 Oktober 2009

Honda (Masih) Mencengkeram Pasar Bebek


foto:edo

KEPERKASAAN Honda di pasar sepeda motor bebek tak tergoyahkan. Sepanjang Januari-September 2009, penguasaan pangsa pasar Honda sebesar 52,8%. Pada periode itu, penjualan Honda di pasar domestik mencapai 1,1 juta unit.

Di Indonesia, Honda diageni oleh PT Astra Honda Motor (AHM). Untuk segmen bebek, dari empat tipe yang dijagokan, otot Honda ada di Revo dan Supra X 125. Keduanya masing-masing menguasai 28% dan 19% pangsa pasar bebek domestik. Rival mereka yang terdekat adalah Yamaha Vega (17%) dan Yamaha Jupiter Z (15%).

Kedigjayaan Honda di segmen bebek dibayang-bayangi oleh Yamaha. Selama triwulan ketiga 2009, Yamaha menguasai 39,01% pasar domestik atau setara dengan 876 ribu unit.
Sementara itu, di posisi ketiga masih stabil dipegang Suzuki yakni dengan merengkuh 7,7% pangsa pasar.

Sepanjang sembilan bulan 2009, total pasar sepeda motor bebek anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) mencapai 2,24 juta unit. Penjualan tersebut menurun 30,52% dibandingkan periode sama 2008 yang mencapai 3,23 juta unit.

Sepeda motor jenis bebek masih menjadi primadona penjualan di pasar dalam negeri. Selain harganya terjangkau oleh sebagian besar konsumen, sepeda motor jenis ini dianggap paling ramah bagi konsumen. Artinya, bisa dipakai oleh seluruh anggota keluarga. Mulai dari bapak, ibu, hingga sang anak.

Selain anggota Aisi, pasar bebek domestik juga diramaikan oleh produsen lain. Namun, jumlah penguasaan pangsa pasar mereka ditaksir tidak melebihi 500 ribu unit per tahun. Bahkan, dua anggota Aisi yakni Piaggio dan Kymco sepanjang tahun ini sudah tidak berjualan lagi.


Bayang-bayang skutik

Meski segmen sepeda motor bebek masih dominan, nasib penjualan mereka ikut terimbas krisis finansial global. Seluruh penjualan agen tunggal sepeda motor (ATPM) diterpa penurunan penjualan. Secara akumulasi, penjualan jenis bebek turun 30,52% masih di bawah penjualan pasar secara nasional yang mencapai 33,4%.

Tak disangkal, penurunan segmen bebek membawa dampak pada penurunan penjualan sepeda motor secara nasional karena segmen bebek menguasai 54,3% pangsa pasar nasional. Kontributor terbesar kedua atas penjualan nasional adalah segmen skutik yakni 37,3%, lalu di bawahnya segmen sport yang hanya 8,4%.

Penurunan di segmen bebek karena pergeseran selera konsumen ke segmen scooter automatic alias skutik. Pasalnya, pada Januari-September 2009, hanya segmen skutik yang naik 31,45% menjadi 1,54 juta unit. Penguasaan pangsa pasarnya pun naik drastis yakni dari 24,4% menjadi 37,3%. Konsumen tergoda olah kemudahan sistem untuk mengendarai jenis skutik. Maklum, tipe ini bertransmisi otomatis alias tidak mengenal kopling maupun over gigi. (edo rusyanto)

Kamis, 15 Oktober 2009

2011, Produksi Honda Tembus 30 Juta Unit


foto:edo

Produksi sepeda motor Honda di Indonesia diperkirakan menembus 30 juta unit dalam dua tahun ke depan seiring tren peningkatan permintaan. Hingga Oktober 2009, produksi Honda mencapai 25 juta unit, tertinggi di Indonesia sekaligus di Asean.
Seiring dengan itu, Honda Motor Co Ltd selaku prinsipal siap menambah investasi guna memperluas kapasitas produksi model skuter otomatik (skutik). Total kapasitas terpasang Honda saat ini mencapai tiga juta unit, sedangkan kapasitas model skutik sekitar 90 ribu unit per bulan.
Presiden Direktur PT Astra Honda Motor (AHM)—agen tunggal pemegang merek (ATPM) Honda di Indonesia—Miki Yamamoto menerangkan, produksi 25 juta unit dicetak Sabtu (3/10) di pabrik Cikarang dengan model motor Vario Techno CBS. Dengan demikian, Honda berhasil menjadi pabrikan motor dengan volume produksi tertinggi mengalahkan merek lain.
“Capaian ini menunjukkan potensi pasar motor Indonesia sangat besar dan menjanjikan ditandai dengan pertumbuhan penjualan yang fantastis. Ini mendorong kami untuk selalu memberikan produk yang terbaik,” ujar Miki di sela perayaan produksi 25 juta unit Honda di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (15/10).
Menurut Miki, sejak 1971 hingga saat ini, Honda aktif menambah investasi untuk keperluan produksi. Awal tahun ini, ujar Miki, Honda membangun pabrik perakitan velg balap (casting wheel/CW) meski krisis finansial dunia tengah menekan perekonomian nasional. Total investasi yang dikucurkan Honda untuk proyek ini sekitar US$ 30 juta.
Selain membangun pabrik velg CW, lanjut Miki, Honda sukses menambah kapasitas model skutik dari 60 ribu unit menjadi 90 ribu unit per Juli 2009. Investasi proyek ini sekitar Rp 140 miliar. Semua tambahan investasi ini menjadi senjata untuk mengejar target produksi 30 juta unit.
“Dukungan dari berbagai pihak tentunya sangat kami harapkan guna mempercepat produksi 30 juta unit,” jelasnya.

Dominan Bebek

Direktur Pemasaran AHM Julius Aslan optimistis target produksi 30 juta unit dapat dicapai kurang dari dua tahun. Untuk tahun ini saja produksi Honda diperkirakan mencapai 2,6-2,7 juta unit dan diprediksi meningkat sekitar 10% pada tahun depan. Hal ini sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional dari 4,5% menjadi 5,5% pada tahun depan.
”Dengan penjualan di atas 2,7 juta unit pada 2010, kami dapat menambah produksi lima juta unit dalam waktu kurang dari dua tahun,” jelasnya.
Honda, kata Julis, akan merilis beberapa model baru pada tahun depan guna mendongkrak penjualan. Hanya saja dia enggan menyebutkan model-model apa saja yang akan dilansir itu. Selain melepas produk baru, lanjut Julius, AHM akan menggencarkan iklan di beberapa media massa.
”Kami masih akan fokus pada model-model andalan seperti bebek yang porsinya mencapai 60% dari total penjualan, disusul skutik 30%, dan sport 10%,” terangnya.
Di sisi lain, Managing Director Asia and Oceania Honda Motor Co Fumihiko Ike menyatakan, Indonesia merupakan basis produksi nomor dua Honda di dunia setelah India. Pada 2008, kata dia, penjualan Honda Indonesia menyumbangkan 20% dari total penjualan global Honda sebesar 15 juta unit. Adapun India mengontribusi penjualan lima juta unit.
”Memang tahun ini pasar diprediksi turun, tapi berpeluang bangkit kembali pada tahun depan seiring membaiknya perekonomian nasionl,” tuturnya.
Untuk merespons peningkatan pasar di Indonesia, Honda Motor Co kini tengah mengkaji peningkatan kapasitas lini produksi skutik. Dia menilai, pasokan motor skutik Honda di pasar saat ini sangat ketat sehingga konsumen terpaksa menunggu.
Ike memprediksi, total penjualan Honda pada tahun ini turun 15%. Sedangkan penjualan Honda di Indonesia ditaksir turun dibanding 2008 menjadi 2,7 juta unit. Honda merupakan pemimpin pasar di bisnis motor di Tanah Air dengan pangsa pasar 45%. (coy)

sumber; Investor Daily

Sabtu, 10 Oktober 2009

Penjualan Motor Turun 14%


foto:edo

PENJUALAN sepeda motor anjlok sekitar 14% sepanjang triwulan ketiga 2009 dibandingkan periode sama 2008. Hingga akhir September 2009, jumlah sepeda motor yang berhasil dijual anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) mencapai 4.804.510 unit, sedangkan tahun lalu 4.140.394 unit.
Aisi kini memiliki delapan anggota yang terdiri atas agen tunggal pemegang merek (ATPM) Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Kanzen, Kymco, Piaggio, dan TVS.
Khusus TVS, keanggotaannya baru efektif Oktober 2009.
Kembali soal penjualan. Tahun ini, sejumlah produsen menaksir bakal menurun dibandingkan 2008. “Tapi perkiraan bakal menurun sekitar 30% tak terwujud, paling tinggi turun 15%,” kata Ketua Aisi Gunadi Sindhuwinata, belum lama ini.
Awal 2009, para ATPM sempat pesimistis penjualan 2009 bakal jatuh signifikan dibandingkan 2008 yang mampu menjual 6,2 juta unit motor.
Tak heran, jika selama sembilan bulan 2009, penjualan menurun 14%. ”Yamaha menjadi satu-satunya merek yang naik dibanding 2008,” ujar Dyonisius Beti, wakil presiden direktur PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI). Sepanjang Januari-September 2009, penjualan Yamaha naik sekitar 1% dari 1,85 juta menjadi 1,87 juta unit.
Sementara itu, penjualan Honda turun dari 2,24 juta menjadi 1,89 juta unit, sedangkan Suzuki turun dari 639 ribu menjadi 323 ribu unit.
Kondisi triwulan ketiga 2009 amat terbalik dibandingkan periode sama 2008 yang justru meningkat dibandingkan 2007.
Para pengguna sepeda motor tak pernah berkurang. Setidaknya selama lima tahun terakhir. Populasi sepeda motor ditaksir sekitar 60-an juta unit hingga September 2009. Jika setiap orang rata-rata memiliki dua unit, artinya ada 30 juta orang yang menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi. Luarrr biasa.
Hingga akhir 2009, Aisi menaksir penjualan sepeda motor mencapai 5,8 juta
unit, melemah 6,4% dari penjualan 2008 sebesar 6,2 juta unit. Jika data penjualan TVS dimasukkan dalam penjualan 2009, sudah barang tentu pelemahan penjualan menjadi sedikit berkurang. (edo rusyanto)

Rabu, 15 Juli 2009

Hati-hati Saat Mendahului



foto:edo rusyanto


NASIB tragis dialami oleh adik teman saya pada Februari 2009. Ia wafat saat hendak menjemput sang kakak di kawasan Pondok Cabe Ilir, Ciputat. Informasi yang saya terima, sang adik kecelakaan sepeda motor. Ia hendak mendahului kendaraan di depannya, namun nasib buruk menghadang. Kendaraan dari arah berlawanan tak memberinya ruang. Brakkk! Kejadian tersebut bukan satu-satunya yang terjadi di Jakarta, apalagi di seluruh Indonesia.
Para ahli berkendara sepeda motor menuturkan, cara mendahului yang aman adalah dengan memiliki kepastian minimal 90% bahwa tak ada aral melintang di ruang yang akan dilewati. Tentu saja mendahului dari sebelah kanan karena negeri kita menerapkan berlalulintas di jalur kiri jalan. Berbeda dengan di Eropa atau Amerika Serikat.
Soal dahulu mendahului, ternyata pemerintah kita ikut campur tangan. Bahkan, sejak tahun 1993 hal itu dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP) No. 43/1993, khususnya pasal 52. PP yang menjabarkan Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UU tersebut kini diperbahurui oleh UU No 22 tahun 2009 yang diteken Presiden pada 23 Juni 2009.
Kembali soal mendahului, mengacu kepada PP 43/1993, ada beberapa hal yang harus para bikers cermati.
Pertama, harus mempunyai pandangan yang luas dan mempunyai pandangan luas dan mempunyai jarak yang cukup untuk mendahului. Kemudian, mendahului harus lewat kanan, tidak boleh lewat kiri, kecuali di jalur kanan sedang macet, atau hendak belok ke kiri. Ketiga, jangan mendahului kalau kendaraan yang di depan sudah memberikan signal. Hal ini penting, misalnya, mobil depan kita memberi lampu sign kanan, isyarat itu bisa berarti kendaraan tersebut hendak berbelok kanan, atau memberitahu kepada kita; jangan mendahului ada kendaraan dari arah berlawanan. Berbahaya.
Keempat, bikers harus mengurangi kecepatan jika ada kendaraan umum yang menaikkan atau menurunkan penumpang, atau jika ada binatang yang lagi di giring atau kendaraan yang ditarik dengan hewan, atau ada yang sedang menunggang hewan.
Kelima, ini amat penting, tidak boleh melewati kendaraan lain di persimpangan atau persilangan sebidang, selain itu jangan melewati kendaraan yang sedang memberikan jalan kepada pengendara sepeda apalagi pejalan kaki.
Terakhir, kita wajib memberikan ruang gerak kepada kendaraan yang akan mendahului, dan juga harus menjaga kecepatan sehingga bisa dilewati dengan aman. Artinya, saling berbagi dan menghargai sesama pengguna jalan. Ingat, jalan raya milik bersama, bukan sirkuit pribadi. (edo rusyanto)

Jumat, 10 Juli 2009

Urusan Skutik, Yamaha Jagonya




YAMAHA masih merajai segmen scooter automatic (skutik) di Indonesia. Sepanjang Januari-Juni 2009, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (Yamaha) menguasai 54,4% pangsa pasar atau setara dengan 505.645 unit. Walau masih menjadi king of skutik, pangsa pasar Yamaha sesungguhnya turun dibandingkan enam bulan pertama 2008 yang mencapai 56%. Saat itu, Yamaha menjual 416.486 unit.
Di pasar domestik, Yamaha yang mengusung Mio dan Soul, berhadapan dengan PT Astra Honda Motor (Honda). Penguasaan pangsa pasar Honda pada Januari-Juni mencapai 36,9% atau setara dengan 343.249 unit, jauh meninggalkan PT Suzuki Indomobil Sales (Suzuki) yang bertengger di 8,7% (80.518 unit).
Honda mengobrak-abrik segmen skutik. Market share-nya menyedot milik Yamaha dan Suzuki. Pada semester pertama 2008, market share Honda baru 28,3%, itu berarti mengambil 1,6% pangsa pasar Yamaha dan edannya, mengambil 5,66% pangsa pasar Suzuki.
Honda melenggang di skutik lewat Vario dan Beat, sedangkan Suzuki mengusung Spin, SkyDrive, dan SkyWave.
Honda cukup piawai menguasai pasar skutik layaknya mereka menguasai pasar sepeda motor bebek. Pada enam bulan pertama 2009, Honda menguasai 63% pasar bebek.
Kembali soal skutik. Pada Januari-Juni 2009, total segmen ini mencapai 929.412 unit atau sekitar 36,49% dari total pasar yang mencapai 2.546.929 unit. Penjualan skutik terus bertumbuh, pada periode sama 2008, penjualan skutik mencapai 725.268 unit dengan pangsa pasar 23,73%. Pertumbuhan yang luar biasa. ”Saya beli skutik karena praktis dipakai dan tidak capek saat di kemacetan jalan,” ujar Herri, seorang pemakai skutik.
Segmen ini terus menggeliat melibas segmen sport yang pada enam bulan tahun ini 227.124 unit dengan pangsa pasar 8,9%, jauh di bawah bebek yang mencapai 1.390.393 unit (54,6%).
Secara nasional, total penjualan sepeda motor terus meningkat dalam dua bulan terakhir dan bakal terus meningkat hingga akhir tahun. ”Banyak sentimen positif pada semester kedua seperti pemangkasan bunga kredit,” tutur Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Sepanjang tahun ini, total penjualan sepeda motor bakal mencapai sekitar lima juta unit. Naik, dari prediksi awal tahun ini yang ditaksir 4,4 juta unit. Namun, berkurang sekitar 15% jika dibandingkan akumulasi 2008 yang mencapai sekitar 6,2 juta unit. (edo rusyanto)

Kamis, 09 Juli 2009

Pasar Motor Terdongkrak Penurunan Bunga


2009, Penjualan Bisa Tembus 5 Juta Unit



Penurunan suku bunga kredit oleh perusahaan pembiayaan (leasing) diperkirakan melambungkan pasar motor pada semester kedua tahun ini. Pemangkasan bunga kredit dinilai sebagai titik balik kebangkitan pasar motor.
Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menerangkan, pasar motor tahun ini diperkirakan mampu menembus 5 juta unit, lebih tinggi dibandingkan dengan prediksi awal sebesar 4,4 juta unit. Tahun lalu penjualan motor nasional mencapai 6,2 juta unit, tertinggi sepanjang sejarah.
“Tadinya kami kira pasar akan ambruk 30% menjadi 4,4 juta unit, namun nyatanya ada banyak sentimen positif pada semester kedua seperti pemangkasan bunga kredit. Penurunan akan mencapai 15% atau sekitar 5 juta unit,” ujarnya ketika dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan, penurunan suku bunga membuat konsumen terbantu dalam membeli motor. Sebagaimana diberitakan, sekitar 80% pembelian sepeda motor menggunakan skema kredit. Pasar motor terpuruk tajam ketika bunga kredit membubung diikuti membengkaknya uang muka pada triwulan IV tahun lalu dan triwulan I 2009.
Sebelumnya diberitakan, kalangan perusahaan pembiayaan menurunkan bunga kredit sekitar 1,5-2% guna merespons penurunan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75% dari 7%. Turunnya suku bunga pinjaman perbankan membuat biaya dana perusahaan leasing menurun, sehingga ada ruang untuk memangkas bunga kredit.
Presiden Direktur PT Federal International Finance (FIF) Suhartono mengatakan, bunga pembiayaan FIF saat ini berada pada posisi sekitar 30% dari sebelumnya 32%. “Ke depannya, kami akan terus melakukan penyesuaian jika perbankan tidak membebankan bunga yang terlalu tinggi,” tegas dia.
Presiden Direktur PT Wahana Ottomitra Multiarta Tbk (Wom Finance) Suwandi Wiratno mengatakan, pihaknya juga telah melakukan penyesuaian terhadap bunga pembiayaan sebesar 1,5%.
Berdasarkan data AISI, pasar motor hingga semester pertama tahun ini turun 16,6% menjadi 2.546.929 unit dibanding periode sama 2008 sebesar 3.055.327 unit.
Gunadi menuturkan, penjualan motor nasional pada semester kedua juga akan terbantu oleh pameran seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Indonesia International Motor Show (IIMS) yang digelar di Kemayoran, Jakarta. Beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor menjadikan PRJ sebagai sarana untuk memompa penjualan. Alhasil, penjualan pada Juli diperkirakan tetap stabil dibanding Juni kendati banyak hari libur pada Juli. AISI mencatat pasar motor Juni 2009 mencapai 485.244 unit.
“Saya kira pasar akan terus meningkat hingga Lebaran dan akan kembali stabil setelah itu,” paparnya.

Banting Harga
Selain itu, beberapa dealer motor juga mulai melakukan strategi banting harga untuk merangsang penjualan. Seorang tenaga penjual di dealer Yamaha di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur, mengaku memberikan diskon Rp 300-800 ribu kepada konsumen untuk semua model.
“Diskon diberikan pada konsumen yang beli tunai maupun kredit. Penjualan sekarang agak lesu dari 300 unit per bulan pada tahun lalu menjadi tinggal 250 unit. Jadi perlu taktik khusus,” katanya. (coy)

Sazkia



ORANG memanggilnya Sazkia. Sebenarnya gadis berusia 23 tahun itu memiliki nama lengkap Trinanti Sazkiananta Putri. Profesinya penari streaptis. Jam kerja mulai pukul 20.00 hingga dinihari. Kecuali ada 'pesanan' khusus, ia memilih Senin sebagai hari libur.
Penghasilan per bulan rata-rata Rp 8 juta. Tak heran penampilannya glamour membalut tubuh seksi setinggi 171 cm.
"Sebenarnya lelah bekerja seperti ini mas," ujar Sazkia suatu malam. Rasa lelah itu karena kerap kali ia harus memberikan 'service' tambahan kepada para pelanggan.
Perbincangan mengalir diselingi kepulan asap rokok putih dari bibir mungil gadis kuning langsat itu.
"Memangnya sudah berapa lama menjadi penari?" tanyaku.
"Hampir dua tahun," seru Sazkia, seraya merapihkan rok mininya.
"Aku diajak teman," sambung dia lagi. Sudah enam seloki ia menyeruput red wine. Alunan musik hip hop membahana. Sebagian tamu di cafe asyik mahsyuk.
Ia pun bercerita kisah awal menjadi penari.
"Saat itu situasinya sulit. Aku terpaksa berhenti menjadi resepsionis di sebuah perusahaan swasta di Bandung."
"Lalu?"
"Pergi ke Jakarta, pingin mengubah nasib. Itupun diajak teman. Katanya jadi kasir di restoran. Gajinya dua kalilipat dibanding resepsionis."
"Bagus dong."
Sazkia berhenti bicara. Ia menerima telepon. Tampaknya dari 'klien'.
"Biasa. Orderan buat bos-bos di pasar saham. Mereka ada pesta kecil perpisahan. Oh ya, sampai mana tadi?" Seloroh gadis yang mengaku kerap menerima order seminggu 3 sampai 4 kali.
"Sampai soal kasir," kataku sekenanya.
"Oh iya. Aku hanya dua bulan jadi kasir. Kenalanku mengajak kerja yang lain. Katanya, bisa lebih bisa dapat banyak uang. Awalnya aku ragu," cerita Sazkia, kini ia duduk mendekat di sampingku. Maklum suara musik hingar bingar.
"Hemmm...," gumamku.
"Hemmm...apa?" tanya dia, sambil melirik genit.
"Ya...penasaran aja."
"Aku akhirnya juga penasaran. Kerja apa sih. Ternyata ya begini jadi penari."
"Bagaimana ceritanya?"
"Saat itu aku kalut. Keluarga kami butuh uang. Kakak dan ayahku kecelakaan. Sepeda motornya ditabrak angkot. Ayahku luka parah di kepala dan kakinya patah. Sedangkan kakakku yang bawa motor juga luka parah," cerita Sazkia dengan intonasi suara sedikit parau.
"Saat itu, ayah dan kakakku sepulang kondangan yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah, keduanya tak memakai helm karena jaraknya dekat," urai dia lagi, seraya meraih gelas ke tujuh.
Sazkia menceritakan, keluarganya harus merogoh kocek hampir Rp 80 juta untuk biaya operasi dan perawatan. "Kami terpaksa cari utangan, termasuk ke rentenir. Sudah hampir dua tahun, belum lunas juga, tahun depan baru akan lunas," sergah Sazkia.
Pikiranku menerawang. Membayangkan pedihnya dampak kecelakaan bagi keluarga miskin.
"Hei...malah bengong! Jadi gak nganterin aku ke Hotel Mulia?" Suara Sazkia membuyarkan lamunanku. Kamipun bergegas. Menerabas Jakarta yang tak pernah pulas didekapan malam. (edo rusyanto)

Selasa, 07 Juli 2009

Pasar Motor Semester I Anjlok 17%



Realisasi penjualan motor nasional sepanjang semester pertama 2009 anjlok 17% menjadi 2.538.909 unit dibanding periode sama 2008 sebesar 3.055.327 unit menyusul tergerusnya daya beli masyarakat akibat krisis ekonomi dunia. Krisis membuat harga komoditas rontok tajam dan bunga cicilan kredit membengkak, sehingga penjualan motor turut terpangkas.
Meski begitu, pasar motor nasional terus mengalami tren penjualan positif dari bulan ke bulan. Berdasakan data yang dihimpun dari beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor papan atas, penjualan motor pada Mei meningkat 4% menjadi 477.224 unit dari Mei 457.650 unit.
General Manager Marketing & Product Development Division PT Astra Honda Motor (AHM) Sigit Kumala menyatakan, pasar motor kian membaik dalam tiga bulan terakhir. Salah satu pendorongnya, ujar dia, adalah pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) oleh Bank Indonesia. Pada awal bulan ini BI menurunkan BI Rate dari 7% menjadi 6,75%.
Dia menjelaskan, penurunan BI Rate otomatis akan memaksa perusahaan pembiayaan (leasing) menurunkan bunga kredit di level konsumen. Saat ini, kata dia, bunga cicilan turun dari 33-34% menjadi 27-28%. “Kondisi ini akan meringankan konsumen karena sekitar 80% pembelian motor menggunakan skema kredit,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/7).
Presiden Direktur PT Adira Finance Tbk Stanley Setia Atmadja menyatakan, perusahaan leasing tidak dapat langsung memangkas bunga kredit guna merespons penurunan BI Rate. Sebab, biaya dana di perbankan juga tidak dapat langsung turun. “Kalau biaya dana turun, dalam dua bulan ini saya pikir bunga kredit bisa turun. Memang agak terlambat karena perlu penyesuaian,” jelasnya.
Manajer Pemasaran PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) 2W Edi Darmawan menambahkan, pasar motor dalam tren menguat hingga September dipicu sentimen Lebaran. “Kami harap ada kenaikan permintaan pada bulan puasa pada September tahun ini. Setelah itu pada Oktober baru sedikit turun,” katanya.
Senada dengan Sigit, Edi menilai tren penurunan suku bunga dapat mengangkat pasar motor pada semester kedua. Dia berharap suku bunga cicilan dapat terus turun sehingga dapat memompa penjualan.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menyatakan, AISI akan merevisi target penjualan motor nasional dari turun 30% menjadi hanya turun 20% seiring makin membaiknya penjualan. Namun, kata Gunadi, revisi kemungkinan baru keluar pada awal semester kedua.
“Pada semester kedua pasar kemungkinan bakal bergerak karena ada sentimen pameran seperti arena Pekan Raya Jakarta yang biasanya dijadikan ajang promosi bagi ATPM,” jelas Gunadi.

Honda Kuasai Pasar
Di sisi lain, Honda masih menjadi pemimpin pasar motor nasional dengan volume penjualan 216.876 unit (45,4%) pada Juni disusul Yamaha 210.614 unit (44,1%). Suzuki menguntit di posisi ketiga dengan volume penjualan 42.425 unit (8,9%) dan Kawasaki 7.009 unit (1,5%). Pangsa pasar kumulatif (year to date) Honda mencapai 45,9% dan Yamaha 45,1%. (coy)

sumber; invetor daily, selasa (7/7)

Kamis, 02 Juli 2009

‘Perlu Dikaji Lagi, Sepeda Motor Masuk Tol’


foto:istimewa


Para operator jalan tol yang tergabung dalam Asosiasi Tol Indonesia (ATI) meminta pemerintah mengkaji kembali kebijakan yang membolehkan sepeda motor masuk tol. Salah satu alasannya adalah tingginya investasi yang dibutuhkan untuk membuat jalur khusus bagi pengguna sepeda motor.Ketua ATI Fatchur Rochman mengatakan, kebijakan yang tertuang dalam PP No 44 Tahun 2009 tentang Perubahan atas PP No 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol tersebut memang sudah lazim terjadi di luar negeri yang memiliki fasilitas jalan tol, seperti Malaysia atau Tiongkok. Namun, kebijakan yang lazim di luar negeri belum tentu bisa diterapkan di Indonesia, terkecuali jembatan Suramadu yang memang didesain juga bagi sepeda motor.

“Kami bukan tidak sepakat dengan kebijakan itu. Kami cuma menilai kebijakan itu perlu dikaji lagi karena banyak hal yang harus dipertimbangkan dan diperhatikan, terutama tingginya investasi yang diperlukan,” kata Fatchur kepada Investor Daily, di Jakarta, Selasa (30/6).

Pemerintah menerbitkan PP No 44 Tahun 2009 pada 8 Juni 2009, dua hari sebelum peresmian jembatan Suramadu. Penerbitan PP tersebut memang dilatari pengoperasian jembatan Suramadu yang memang memberikan jalur khusus bagi pengguna sepeda motor selain kendaraan roda empat.

Awalnya, banyak pihak mengira PP 44/2009 hanya mengatur pengecualian bagi sepeda motor di jembatan Suramadu. Pasal 1a dari PP itu menyebutkan bahwa pada jalan tol dapat dilengkapi jalur jalan tol khusus kendaraan bermotor roda dua yang secara fisik terpisah dari jalan tol yang digunakan bagi roda empat.

Menurut Fatchur, apabila memang kebijakan tersebut benar-benar diimplementasikan, itu hanya bisa berlaku bagi tol-tol yang dibangun pada masa mendatang. Tol-tol yang sudah ada (existing) tidak mungkin mengadopsi kebijakan tersebut karena sudah telanjur didesain untuk kendaraan roda empat. Sedangkan jalan tol yang bersifat elevated dan berada di dalam kota sangat tidak mungkin dibangun jalur khusus roda dua karena keterbatasan konstruksi dan lahan.

Fatchur mengungkapkan, tingginya investasi bukan hanya karena diperlukannya lahan tambahan untuk membuat jalur khusus itu, namun juga karena untuk jalur sepeda motor butuh perlakuan khusus demi menjaga keamanan dan kenyamanan penggunanya. Misalnya dengan membuat pagar pemisah dengan pengguna kendaraan roda empat.

Dia melanjutkan, kalaupun ditetapkan kebijakan itu hanya berlaku bagi tol-tol yang dibangun di masa mendatang, itu diyakini tidak akan dijalankan oleh para investor tol. Sebab, dengan pembuatan jalur khusus dibutuhkan investasi yang besar. Saat ini membangun tol tanpa jalur khusus sepeda motor pun sulit direalisasikan karena minimnya dana para investor.

“Kecuali pembebasan lahan dilakukan pemerintah, mungkin sekalian konstruksinya, sehingga investor cukup mengoperasikannya,” jelas dia.

Senada dengan itu, Direktur Pengembangan dan Niaga PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) Fernando Jeffry Sitohang mengatakan, banyaknya sepeda motor di Indonesia sangat tidak memungkinkan seluruhnya bisa masuk jalan tol. Di sisi lain, penggunaan sepeda motor yang umumnya sebagai alternatif untuk menghindari kemacetan akan cenderung digunakan dengan kecepatan tinggi.

“Di jalan tol, peluang sepeda motor untuk bermanuver sangat kecil. Bukan hanya karena terbatasnya jalur yang disediakan, tapi juga karena adanya faktor pembatas berupa angin, hujan, hingga kelicinan jalan. Kalau dipaksakan, jumlah kecelakaan di jalan tol akan meningkat pesat,” ujar dia.

Kriteria Khusus

Sementara itu, Dirjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum (PU) Hermanto Dardak mengatakan, kendati PP No 44 Tahun 2009 itu berlaku umum, tidak serta semua jalan tol diperbolehkan dilalui sepeda motor. Hanya jalan tol yang memenuhi kriteria keselamatan dan dapat mendukung peningkatan aksesibilitas dan mobilitas dalam rangka efisiensi ekonomi, yang bisa dilalui sepeda motor.

”Pada hakikatnya jalan tol untuk kendaraan roda empat. PP No 44 Tahun 2009 membolehkan sepeda motor menggunakan jalan tol yang memang memenuhi kriteria tertentu,” jelas dia, kemarin. (Tri Listiyarini)


Sumber; Investor Daily

Rabu, 01 Juli 2009

Bikers Tewas di Jalan Naik 29%

foto:istimewa



Semester Pertama 2009:





MENGENASKAN! Jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas di jalan Jakarta dan sekitarnya, pada semester pertama 2009 naik 29%, dibandingkan periode sama 2008. Mayoritas korban yakni 38,46%, akibat ditabrak oleh mobil seperti bus, metromini, dan truk.
Sementara itu, jumlah total korban tewas akibat kecelakaan yang melibatkan sepeda motor angkanya bertambah 34,4%. Pada enam bulan 2009, jumlah bikers yang tewas 40 orang dan 3 pejalan kaki. Korban dari pejalan kaki tertabrak sepeda motor karena melintas jalan secara tiba-tiba. Pada periode sama 2008, korban bikers 31 orang dan pejalan kaki 1 orang.
Angka-angka yang diolah dari http://www.lantas.metro.polri.go.id/ juga menyimpulkan korban yang menderita luka-luka mencapai 123 orang atau turun 15,8% dibandingkan semester pertama 2008 sebanyak 146 orang.
Pada 2009, korban tewas merupakan 34,9% dari total kecelakaan, sedangkan pada 2008 sebanyak 21,3% dari total.






Usia Produktif
Korban kecelakaan sepanjang Januari-Juni 2009 mayoritas adalah usia produktif yakni 20-39 tahun. Dari total korban kelompok usia ini mencapai 68,42%, selebihnya usia di bawah 20 tahun dan di atas 40 tahun.
Besarnya angka usia 20-39 tahun ditaksir karena mayoritas pengguna sepeda motor adalah usia muda.
Laju pemiskinan dari jalan raya kian cepat jika sang korban adalah sumber ekonomi keluarga. Setidaknya, bagi korban yang luka ringan, terlebih luka parah, harus mengeluarkan sejumlah dana untuk pengobatan. Belum lagi waktu yang hilang selama masa penyembuhan. Bagi korban meninggal dunia, praktis sumber ekonomi keluarga hilang sama sekali. Untuk selamanya. Maklum, mayoritas korban yakni 84,51% adalah pria, sedangkan wanita 15,49%.
Pemicu kecelakaan yang kita ketahui adalah faktor pengendara, kendaraan, jalan atau infrastruktur, dan kondisi cuaca atau alam. Kecelakaan yang menimpa bikers mayoritas akibat tertabrak mobil yakni 38,46%. Sedangkan faktor internal pengendara seperti kondisi fisik yang menurun dan perilaku berkendara, menyebabkan bikers lepas kontrol menjadi pemicu kedua terbesar yakni 14,62%.
Sementara itu, dari segi waktu, mayoritas kejadian kecelakaan terjadi pada pukul 06.00-12.00 WIB yakni 31,54%. Boleh jadi mengingat pada rentang waktu itulah aktifitas masyarakat Jakarta dimulai. Mereka yang berangkat sekolah, kuliah, bekerja hingga berdagang, dimulai pada pagi hari. Sedangkan rentang waktu pulang kerja yakni pukul 18.00-24.00 WIB merupakan area waktu terbesar kedua terjadinya kecelakaan yakni 26,92%.
Daerah mana saja yang rawan kecelakaan? Ternyata wilayah Jakarta Selatan merupakan yang paling tinggi yakni 46,15%. Di belakangnya Jakarta Pusat dan Jakarta Barat masing-masing 18,46%, selebihnya Jakarta Timur dan Jakarta Utara.
Akankah kita mendiamkan terus bergelimpangan bikers menjadi korban kecelakaan di jalan? (edo rusyanto)

Senin, 29 Juni 2009

2011, ATPM Luncurkan Motor DLO

foto:edo rusyanto

PRODUSEN sepeda motor di Indonesia kini berkutat mempersiapkan produk day light on (DLO). Jenis sepeda motor ini memungkinkan lampu utama motor otomatis menyala saat mesin motor dihidupkan. Lampu utama motor menyala terus sepanjang motor dihidupkan.

“Paling cepat dua tahun dari saat ini. Sekarang produsen siap meneliti motor DLO,” ujar Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menuturkan, anggota Aisi yang terdiri atas delapan agent tunggal pemegang merek (ATPM) sudah siap meneliti.

Produk sepeda motor DLO terkait dengan pemberlakuan kewajiban bagi sepeda motor untuk menghidupkan lampu pada siang dan malam hari. Kewajiban tersebut tertuang dalam Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) yang disahkan DPR RI pada 26 Mei 2009.

Menurut Gunadi, saat ini para produsen meneliti kemampuan batere dan instrumen kelistrikan sepeda motor.

UU LLAJ yang disahkan 26 Mei 2009 mewajibkan pengendara sepeda motor menghidupkan lampu utama pada siang dan malam hari. Ancaman denda maksimal Rp 250 ribu atau kurungan badan maksimal satu bulan, jika pengendara mengabaikan aturan tersebut.

Sementara itu, Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM) Kristanto menyatakan, pihaknya juga sedang mempersiapkan produk tersebut. "Jika itu pemerintah memberlakukan aturan itu kami siap mendukung," tegas dia. AHM adalah pemimpin pasar sepeda motor di Tanah Air.

Menurut Kristanto dan Gunadi, aturan menghidupkan lampu siang hari berlatarbelakang demi keselamatan pengendara di jalan.

Bagi Ketua Road Safety Association (RSA) Rio Ovtaviano, menyalakan lampu bisa membuat sepeda motor terlihat oleh pengendara mobil. "Sehingga potensi kecelakaan bisa dikurangi," ujar Rio. Menyalakan lampu menjadi salah satu bagian dari berkendara yang aman dan selamat (safety riding).

Tahun ini, volume penjualan sepeda motor di pasar domestik ditaksir sekitar 4,6 juta unit, lebih rendah dibandingkan 2008 yang mencapai 6,2 juta unit. Dengan asumsi rata-rata harga per unit Rp 10 juta, omzet sepeda motor ditaksir sekitar Rp 46 triliun pada 2009. Pencapaian itu lebih baik sedikit dibandingkan 2007 yang berkisar 4,5 juta unit. (edo rusyanto)

Selasa, 23 Juni 2009

Lalu-lintas Indonesia, Pengendara Sepeda Motorkah Biang Keladinya?



Diterbitkan : 22 Juni 2009 - 3:54pm Oleh Feba Sukmana



Menurut data terbaru WHO, 61% dari korban kecelakaan lalu-lintas yang meninggal di tempat adalah pengendara bermotor roda dua. Selain sering dituduh ugal-ugalan, para pengendara motor juga sering tidak mematuhi peraturan lalu-lintas. Benarkah faktor pengendara menjadi alasan satu-satunya di balik tingginya tingkat kecelakaan motor?

Tidak Disiplin
AKBP Nanang, Kepala Subdir Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, dan Edo Rusyanto, Ka. Div litbang Road Safety Association (RSA) sekaligus penasihat Minerva Riders Community (MRC) sepakat, faktor pengendara memang faktor terbesar yang mengakibatkan kecelakaan. AKBP Nanang menyatakan, kedislipinan di antara pengendara bermotor sangat memprihatinkan: "Para pengendara kendaraan bermotor, khusunya roda dua, tidak disiplin. Mereka kerap melakukan pelanggaran lalu-lintas. Dan pelanggaran lalu-lintas biasanya adalah awal kecelakaan di jalan."

Ia menyatakan pengendara bermotor sering sekali melanggar rambu-rambu lalu-lintas. Hal ini diamini Edo Rusyanto: "Pengendara sepeda motor punya kecenderungan melanggar aturan, misalnya, dengan mendahului kendaraan di depannya tanpa perhitungan." Edo tidak menampik kalau memang masih banyak pengendara sepeda motor yang 'bandel': "Bandel dalam arti, tidak pakai helm. Yang lebih parah, bandel karena melanggar peraturan, seperti naik ke trotoar dan tidak mengindahkan lampu merah."

Penegakan Hukum
Padahal, kata Edo lagi, UU lalu-lintas terbaru lebih keras ketimbang UU tahun 1992. "Contohnya, jika pengendara sepeda motor menabrak orang sampai meninggal, bisa didenda 12 juta atau dikurung 4 tahun. Sekarang pertanyaannya, bagaimana aparat hukum secara tegas mengimplementasikan UU ini, meskipun tentu saja di sisi lain, kesadaran pengguna jalan harus dipenuhi dulu."

Aparat kepolisian lalu-lintas yang suka 'main belakang' juga jadi batu sandungan untuk menegakkan UU dan kedisiplinan pengendara sepeda motor. Ketika dikonfrontasi soal aparat yang suka 'berkompromi' AKBP Nanang membantah tegas: "Sudah jelas aturannya, ketika ada pelanggaran, kita harus mengadakan penegakan hukum. Soal penegakan hukum tersebut, kita sudah tidak bisa toleransi lagi. Kalau toh memang ada [polisi yang main belakang, red] itu oknum. Kita sudah menindak tegas." Ia menjamin, oknum polisi yang menyalahgunakan wewenang akan ditindak tegas.

Mulai dari diri sendiri
Dan untuk menanggulangi angka kecelakaan motor yang makin tinggi, Edo menekankan, jangan gantungkan semuanya pada pemerintah dan jangan andalkan aparat. Pengendara bermotorlah yang terutama harus memberdayakan diri dan bertanggungjawab atas keselamatan diri sendiri: "Pertama, taati peraturan, kedua lengkapi diri Anda dengan skill dan alat perlindungan. Yang paling sederhana dan penting, helm yang berkualitas," katanya mengimbau pengguna kendaraan roda dua.

SUMBER:
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/lalu-lintas-indonesia-pengendara-sepeda-motorkah-biang-keladinya

Senin, 22 Juni 2009

Sepeda Motor (Tak) Perlu Masuk Tol?

foto:istimewa

SEPEDA motor bisa masuk jalan tol bukan cerita baru. Ingat kisah jembatan tol Rajamandala? Jembatan yang menghubungkan Cianjur dan Kabupaten Bandung dan membentang di atas Sungai Citarum itu, memungut Rp 500 per sepeda motor sekali melintas.

Baru-baru ini, 10 Juni 2009, pemerintah mengizinkan motor melintas di tol Jembatan Suramadu. Tarifnya Rp 3.000, lebih murah dibandingkan sepeda motor diangkut oleh Ferry yang dikenai tarif Rp 6.000.

Jembatan sepanjang 5,4 km itu, menghubungkan Surabaya dan Madura. Legalitas untuk itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 44 tahun 2009 tentang Jalan Tol yang merevisi PP No 15 tahun 2008.

Selama ini, berita sepeda motor melintas di jalan tol secara 'ilegal' kerap kita temui. Baik itu sepeda motor berkapasitas mesin besar milik polisi dan polisi militer yang sedang bertugas mengawal, maupun yang sedang tidak bertugas. Atau dalam kondisi force majeure karena jalan arteri dilanda banjir seperti di ruas tol Cawang-Priok dan tol JORR Simatupang.

Kembali soal legalitas PP No 44 tahun 2009, menurut Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Nurdin Manurung, aturan itu berlaku dengan prasyarat di ruas tol tersebut dibuat lajur khusus. Seperti yang ada di jembatan Suramadu, lajur motor selebar 3 m dan diberi pembatas.

Ke depan, sepeda motor bisa masuk ke seluruh jalan tol?

KECEPATAN

Laju sepeda motor di Jembatan Suramadu dibatasi maksimal 40 km/jam. Pembatasan kecepatan itu terkait dengan faktor keamanan akibat terpaan angin laut. Posisi lajur motor ada di kanan kiri jembatan. Lajur mobil ada di tengah jembatan yang menghabiskan dana Rp 5 triliun itu.

Diizinkannya motor melintas di jembatan itu, tak terlepas dari sikap pemerintah mengakomodasi masyarakat Madura dan Surabaya yang hilir mudik mencari nafkah, belajar, dan silaturahmi. Terlebih, tarif tol lebih rendah ketimbang motor naik ferry yang dipatok Rp 6 ribu per motor.

Bagaimana dengan jalan tol lainnya? Bisa jadi kecepatan sepeda motor bisa dipacu secepat-cepatnya. Terlebih persepsi pengguna jalan saat masuk tol adalah untuk mempersingkat waktu tempuh.

Misalnya saja saat Jembatan Rajamandala masih jadi jalan tol, kecepatan sepeda motor bisa mencapai 80 km per jam. Di jembatan yang dibangun pada 1975 oleh Waskita Karya, dengan panjang total 222 m dengan bentang tengah 132 m dan ke dua bentang samping 45 m, para pengendara sepeda motor bisa melaju kencang tanpa risiko terpaan angin terlalu kencang. Kini, jembatan tersebut sudah tidak menjadi jalan tol lagi.

Kontur jalan di luar kedua jembatan tol itu, umumnya berupa jalan di tengah kota atau jalan yang membelah perbukitan seperti tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Total panjang jalan tol di Indonesia saat ini sekitar 640 km, masih rendah dibandingkan total jalan nasional yang mencapai 35 ribu km. Sekitar 90% jalan tol berada di Pulau Jawa yang memiliki sekitar 210 juta penduduk, dengan populasi sekitar 70% dari total populasi sepeda motor di Tanah Air yang mencapai 50 juta unit.

Risiko kecelakaan semakin terbuka lebar jika lajur khusus sepeda motor hanya sekitar 3 m. Dengan mentalitas pengendara yang suka saling mendahului dengan kecepatan tinggi, misalnya 80 km per jam, boleh jadi risiko benturan kian terbuka lebar. Seorang teman sempat menyeletuk, “Bakal menjadi ajang pembataian baru.” Semoga tak terjadi. (edo rusyanto)

Rabu, 10 Juni 2009

Yamaha Jagonya Motor Batangan


foto:edo

YAMAHA memang luarrrr biasssa. Sepanjang Januari-Mei 2009 masih mengangkangi penjualan di segmen sepeda motor backbone alias batangan. Penguasaan pangsa pasar Yamaha di pasar domestik sekitar 49,4% atau setara dengan 83.786 unit. PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) mengusung tiga merek untuk segmen ini yaitu RX King, V-ixion, dan Scorpio. Bagaimana dengan sang kompetitor?
PT Astra Honda Motor (AHM) menguasai 45,1% atau setara dengan 76.596 unit, sedangkan Suzuki sekitar 5,5% alias sebanyak 9.288 unit. Honda mengusung Megapro dan Tiger, sedangkan Suzuki menjagokan Thunder.
Total penjualan motor batangan milik anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) sepanjang lima bulan pertama 2009 sebanyak 169.760 unit, atau sekitar 8,3% dari total penjualan 2.061.685 unit.
Balik lagi soal Yamaha. Di segmen batangan, andalan mereka yakni Yamaha V-ixion meluncur dengan deras. Bayangin aja, motor 150 cc ini terjual rata-rata hampir 14.441 unit per bulan dengan total penjualan 72.206 unit. Honda Megapro menguntit dengan rata-rata 10.715 unit per bulan atau totalnya 53.578 unit.
Penampilan Yamaha V-ixion dinilai lebih menarik, ramping, futuristik, dan memiliki persepsi bisa dipacu lebih cepat dibandingkan pesaingnya, termasuk Honda Megapro yang memiliki daya 160 cc. Rasanya, kalau soal kecepatan, secara teknis Megapro lebih unggul. Hanya persoalan persepsi semata.
Bagaimana produk batangan Yamaha yang lainnya? Memang tidak terlalu bagus. Misalnya Scorpio. Jika pada 2008 rata-rata penjualan per bulannya mencapai 3.167 unit atau totalnya mencapai 38.015, saat ini, sepanjang Januari-Mei 2009, hanya 1.514 unit per bulan. Menurun drastis!!!
Terlebih Yamaha RX King, hanya terjual rata-rata per bulan 801 unit alias sebanyak 4.006 unit.
Tak heran jika YMKI dikabarkan ancang-ancang membesut Fazer 250 cc. Mungkinkah untuk menggantikan Scorpio yang mulai jenuh? Hanya waktu yang bisa menjawab.
Untuk penjualan total seluruh tipe mulai dari motor bebek, sport, dan skutik, Honda masih merajai dengan penguasaan pangsa pasar 46% atau sebanyak 948.578 unit. Di belakangnya Yamaha dengan pangsa pasar 45,4% ( 935.627 unit), dan Suzuki dengan pangsa pasar 7,6% ( 155.691 unit). Di luar ketiga produsen itu, hanya memperebutkan sisa-sisa pasar. Termasuk produsen di luar Aisi, seperti motor Cina, India, Eropa, dan Amerika Serikat. (edo rusyanto)

Selasa, 26 Mei 2009

Nggak Nyalain Lampu, Bikers Didenda Rp 250 Ribu

JANGAN main-main soal lampu. Alih-alih, bikers bisa kena denda Rp 250 ribu jika tidak menyalakan lampu utama saat berkendara di jalan.

“Pengendara bisa kena denda jika tidak menyalakan lampu pada siang hari,” tutur Yoseph Umarhadi, ketua Panja Pembahasan rancangan undang undang lalu lintas angkutan jalan (RUU LLAJ), Selasa (26/5).

Dalam UU yang disahkan DPR RI, Selasa, itu disebutkan bahwa pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan yang digunakan di jalan pada malam hari dan kondisi tertentu. Sedangkan bagi pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud ayat tersebut, juga wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

Pada 2007, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengeluarkan peraturan bagi sepeda motor harus berjalan di lajur kiri jalan raya dan harus menyalakan lampu siang maupun malam hari. Aturan harus berjalan di lajur kiri hanya pada jam-jam tertentu yakni di saat pagi hari 07.00-10.00. Setelah itu, para pengendara sepeda motor kembali merangsek ke kiri dan kanan lajur jalan raya. Alasannya, di lajur kiri dipenuhi oleh kendaraan umum dan kendaraan pribadi.

Langkah serupa dilakukan oleh Polres Cianjur, Jawa Barat. Sepeda motor harus menyalakan lampu pada siang hari dan menggunakan helm standar bagi pengendara sepeda motor. "Kegiatan ini merupakan bagian dari Operasi Simpatik Lodaya 2009 menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden dan bertujuan menekan angka kecelakaan lalu lintas serta menumbuhkan kesadaran bagi penguna kendaraan bermotor," kata Kasat Lantas Polres Cianjur AKP Gatot Satrio Utomo di Cianjur, Senin (18/5).
Kegiatan tersebut merupakan upaya cipta kondisi menjelang Pilpres 2009.
”Meski hanya bersifat peringatan dan imbauan, namun tidak menutup kemungkinan kedepannya akan dilakukan tindakan berupa proses tilang bagi para pengendara yang membandel,” katanya, seperti dikutip Antara.
Terkait helm, UU LLAJ menegaskan, pengendara dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm standar nasional Indonesia. Ironisnya, penerapan SNI Wajib untuk helm ditunda hingga tahun depan. (edo)

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian