Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Rabu, 13 Januari 2010

Mengais Sisa Para Raksasa?


foto:dok


SUDAH menjadi rahasia umum, ratusan bahkan ribuan sepeda motor yang berseliweran di jalan setiap hari mayoritas adalah besutan prinsipal Jepang. Mereka tergabung dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Ada tujuh pabrikan atau agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang tergabung di Aisi yakni produsen Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Kanzen, Vespa, dan Kymco.

Sekadar informasi, empat produsen sepeda motor merek Jepang menguasai sekitar 99% dari pangsa pasar sepeda motor anggota Aisi yang pada 2009 mencapai sekitar 5,8 juta unit. Maklum, para pemain asal Jepang, meski kini sudah bermitra dengan pengusaha domestik, sudah bercokol sejak 30 puluhan tahun lalu. Jaringan mereka, khususnya Honda dan Yamaha, sudah mencapai belasan ribu seantero Nusantara.

Lalu, bagaimana volume penjualan sepeda motor di luar anggota Aisi? Siapa saja mereka?

Di luar anggota Aisi terdapat beragam ATPM dan importir umum, seperti Minnerva, Viar, Torsindo, Piaggio, TVS, Bajaj, Harley-Davidson, dan Ducati.

Segmentasi mereka mulai dari jenis bebek, sport, hingga motor gede (moge) bermesin di atas 500 cc, seperti Harley-Davidson. Sementara itu, empat produsen motor Jepang menguasai segmen bebek, sport di bawah 250 cc, dan jenis yang belakangan melesat penjualannya, skuter outomatic alias skutik.

Volume omzet sepeda motor non Aisi ditaksir mencapai sekitar 500 ribu unit. Jauh di bawah omzet produsen Jepang. “Tahun lalu kami berhasil menjual sekitar 49.800 unit dan tahun ini targetnya sekitar 66 ribu unit,” kata Kristianto Gunadi, presdir PT Minnerva Motor Indonesia (MMI), ATPM sepeda motor Minnerva.

ATPM yang dulunya dikenal sebagai penjual motor Loncin itu, cukup kuat di segmen sepeda motor sport 150 cc, dengan mengusung Minnerva R 150. Belakangan MMI menggandeng Sachs dan membeli desain Meggeli untuk segmen 250 cc.

Sementara itu, produsen Viar yang dikenal sebagai produsen motor cina (mocin) mengaku bisa menjual rata-rata 6 ribu hingga 7 ribu unit per bulan pada 2009 dan bakal menargetkan 15 ribu unit per bulan pada 2010.

Menurut Marketing Division Head PT Triangle Motorindo, produsen motor merek Viar, AZ Dalie, pihaknya memakai strategi harga jual rendah untuk mempertahankan pasar.

Nasib produk sepeda motor asal India yakni TVS dan Bajaj, nasibnya tak jauh berbeda bahkan lebih sedikit lagi. Bajaj diperkirakan hanya melego sekitar 20 ribuan unit, sedangkan TVS menargetkan sekitar 30 ribuan unit.

Beberapa faktor masih kecilnya penjualan sepeda motor non-Jepang itu di antaranya adalah masih sedikitnya jaringan pemasaran, jaringan layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, dan yang paling penting, citra produk non-Jepang masih lemah. Persepsi masyarakat masih menganggap motor Jepang merupakan produk berkualitas dengan harga jual di pasar sekunder masih tetap tinggi. Persepsi itu tentu saja tidak sepenuhnya benar. Namun, tipikal masyarakat kita cenderung menganggap persepsi adalah fakta. Kalau sudah begini, pekerjaan rumah para produsen non-Jepang mesti rajin mengangkat citra mereka sebagai produk yang berkualitas dengan layanan purna jual teratas. Agar tidak sekadar mengais sisa dari para raksasa. (edo rusyanto)

2 komentar:

syaid mengatakan...

artikelnya menarik, trus kepengen apresiasi..

tapi posting komennya ga praktis..

Edo Rusyanto mengatakan...

trims atas atensinya, banyak yg kasih saran ke saya agar memakai wordpress agar interaksinya lebih simple. sekarang sedang proses migrasi nih. salam

Posting Komentar

Terimakasih atas kunjungan sahabat ke blog ini, Silahkan tinggalkan komentar,kritik dan saran dibawah ini. Untuk menghindari SPAM mohon isi kata verifikasi sebelumnya,trims.

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian