Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label penjualan motor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penjualan motor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Januari 2010

Mengais Sisa Para Raksasa?


foto:dok


SUDAH menjadi rahasia umum, ratusan bahkan ribuan sepeda motor yang berseliweran di jalan setiap hari mayoritas adalah besutan prinsipal Jepang. Mereka tergabung dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Ada tujuh pabrikan atau agen tunggal pemegang merek (ATPM) yang tergabung di Aisi yakni produsen Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Kanzen, Vespa, dan Kymco.

Sekadar informasi, empat produsen sepeda motor merek Jepang menguasai sekitar 99% dari pangsa pasar sepeda motor anggota Aisi yang pada 2009 mencapai sekitar 5,8 juta unit. Maklum, para pemain asal Jepang, meski kini sudah bermitra dengan pengusaha domestik, sudah bercokol sejak 30 puluhan tahun lalu. Jaringan mereka, khususnya Honda dan Yamaha, sudah mencapai belasan ribu seantero Nusantara.

Lalu, bagaimana volume penjualan sepeda motor di luar anggota Aisi? Siapa saja mereka?

Di luar anggota Aisi terdapat beragam ATPM dan importir umum, seperti Minnerva, Viar, Torsindo, Piaggio, TVS, Bajaj, Harley-Davidson, dan Ducati.

Segmentasi mereka mulai dari jenis bebek, sport, hingga motor gede (moge) bermesin di atas 500 cc, seperti Harley-Davidson. Sementara itu, empat produsen motor Jepang menguasai segmen bebek, sport di bawah 250 cc, dan jenis yang belakangan melesat penjualannya, skuter outomatic alias skutik.

Volume omzet sepeda motor non Aisi ditaksir mencapai sekitar 500 ribu unit. Jauh di bawah omzet produsen Jepang. “Tahun lalu kami berhasil menjual sekitar 49.800 unit dan tahun ini targetnya sekitar 66 ribu unit,” kata Kristianto Gunadi, presdir PT Minnerva Motor Indonesia (MMI), ATPM sepeda motor Minnerva.

ATPM yang dulunya dikenal sebagai penjual motor Loncin itu, cukup kuat di segmen sepeda motor sport 150 cc, dengan mengusung Minnerva R 150. Belakangan MMI menggandeng Sachs dan membeli desain Meggeli untuk segmen 250 cc.

Sementara itu, produsen Viar yang dikenal sebagai produsen motor cina (mocin) mengaku bisa menjual rata-rata 6 ribu hingga 7 ribu unit per bulan pada 2009 dan bakal menargetkan 15 ribu unit per bulan pada 2010.

Menurut Marketing Division Head PT Triangle Motorindo, produsen motor merek Viar, AZ Dalie, pihaknya memakai strategi harga jual rendah untuk mempertahankan pasar.

Nasib produk sepeda motor asal India yakni TVS dan Bajaj, nasibnya tak jauh berbeda bahkan lebih sedikit lagi. Bajaj diperkirakan hanya melego sekitar 20 ribuan unit, sedangkan TVS menargetkan sekitar 30 ribuan unit.

Beberapa faktor masih kecilnya penjualan sepeda motor non-Jepang itu di antaranya adalah masih sedikitnya jaringan pemasaran, jaringan layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, dan yang paling penting, citra produk non-Jepang masih lemah. Persepsi masyarakat masih menganggap motor Jepang merupakan produk berkualitas dengan harga jual di pasar sekunder masih tetap tinggi. Persepsi itu tentu saja tidak sepenuhnya benar. Namun, tipikal masyarakat kita cenderung menganggap persepsi adalah fakta. Kalau sudah begini, pekerjaan rumah para produsen non-Jepang mesti rajin mengangkat citra mereka sebagai produk yang berkualitas dengan layanan purna jual teratas. Agar tidak sekadar mengais sisa dari para raksasa. (edo rusyanto)

Jumat, 08 Januari 2010

Honda Masih Rajanya Bisnis Motor


foto:david

HONDA memang luar biasa. Sepanjang lima tahun terakhir tak tergoyahkan memimpin pangsa pasar sepeda motor domestik. Pada 2009, Honda menguasai 46,18% pangsa pasar dengan total penjualan sebanyak 2,7 juta unit dan tahun ini menargetkan penjualan sekitar tiga juta unit, jika prediksi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) terwujud yakni penjualan sekitar 5,8 juta unit, itu berarti market share Honda sekitar 51,7%. Dahsyat!!!

Pada 2005, Honda yang di Indonesia diageni oleh PT Astra Honda Motor (AHM) sempat menguasai 52% pangsa pasar dengan total penjualan 2,6 juta unit. Besaran penguasaan pangsa pasar terus melorot walau tetap berada di posisi puncak.

Namun, kewaspadaan AHM semestinya terus ditingkatkan jika melihat rival mereka, yakni PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), agen tunggal pemegang merek (ATPM) Yamaha, yang terus merangsek. Bagaimana tidak, jika pada 2005, YMKI baru menguasai 24% market share, pada 2009 melambung menjadi 45,32%. Suatu pergerakan yang fantastis. Yamaha pun nyaris tak goyah di posisi kedua di gurihnya bisnis sepeda motor. Sekadar ilustrasi, jika memakai harga Rp 10 juta per unit, omzet sepeda motor pada 2009 mencapai sekitar Rp 58 triliun, turun sedikit dibandingkan 2008 yang mencapai sektiar Rp 62 triliun.

Ironisnya, perseteruan Honda dan Yamaha di pasar domestik merontokkan pemain asal Jepang lainnya yakni Suzuki. Penguasaan pangsa pasar Suzuki juga melorot terus. Pada 2005, Suzuki sempat menguasai 21% pangsa pasar alias beda tipis dengan Yamaha yang 24%, namun pada tahun lalu, pangsa pasar Suzuki tersisa 7,48%. Dari segi volume, Suzuki yang di Indonesia diageni oleh kelompok usaha Indomobil, hanya mampu melego sekitar 438.135 unit pada 2009, padahal, pada puncaknya Suzuki mampu menjual 1.092.051 (2005).
Pada 2009, penurunan penjualan yang dialami Honda dan Suzuki justeru tidak dirasakan oleh Yamaha dan Kawasaki. Tahun lalu, total penjualan pasar domestik turun 6% menjadi 5.851.749 unit dibanding 2008 sebanyak 6.215.865 unit. (edo rusyanto)

Selasa, 05 Januari 2010

Minerva Kejar Penjualan 66 Ribu Unit Motor


foto:edo


PT Minerva Motor Indonesia (Minerva), menargetkan penjualan 2010 sebanyak 66 ribu unit atau naik sekitar 32,5% dibandingkan 2009.

“Target kami pada 2010 sebanyak 66 ribu unit, sedangkan pada 2009 sebanyak 49.800 unit atau naik 48% dibandingkan 2008,” tutur Kristianto Gunadi, presdir PT Minerva Motor Indonesia, saat dihubungi di Bangkok, Senin (4/1).

Menurut dia, target penjualan tersebut disesuaikan dengan adanya penjualan sport 150 cc dan penjualan model Minerva Sachs - Megelli 250 cc. “Untuk Jabodetabek, market share sepeda motor sport Minerva sudah mencapai 7,6 %,” tutur Kristianto.

Minerva yang dikenal sebagai salah satu pemain sepeda motor Tiongkok, meski belakangan mayoritas produk mereka didatangkan dari Thailand dan Taiwan. Di luar anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi), Minerva merupakan salah satu produsen yang bertumbuh cukup signifikan.

Sementara itu, terkait rencana Kementerian Perindustrian (Kemenprin) membebaskan bea masuk (BM) sepeda motor asal Tiongkok pada 2012, Kristianto mengaku pengaruhnya tidak signifikan terhadap Minerva. “Hal itu karena main parts Minerva masih dari Thailand danTaiwan , import duty dari Thailand sendiri sudah 0-5%,” tukasnya.

Ia menambahkan, pengaruh bagi pasar domestik, khususnya suku cadang otomotif, akan sangat signifikan, karena industri suku cadang otomotif di Indonesia masih terbatas dan sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan agen tunggal pemegang merek (ATPM). “Sedangkan untuk pasar after market kurang kompetitif . Tapi hal ini akan positif, mendorong industri suku cadang lokal untuk bisa bersaing dan menjadi lebih kompetitif,” paparnya.

Sebelumnya, Kemenprin berniat mengusulkan sepeda motor Tiongkok bebas BM pada 2012. Saat ini BM motor dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) mencapai 35% sedangkan dalam bentuk terurai (completely knock down/CKD) 25% untuk negara most favored nations (MFN).

Penghapusan BM motor Tiongkok merupakan salah satu kompensasi yang ditawarkan pemerintah dalam perjanjian kerja sama perdagangan bebas Asean-Tiongkok (AC-FTA). 27 pos tarif sepeda motor yang tadinya dimasukkan dalam high sensitive list (HSL) atau 0-5% pada 2012 dimajukan ke dalam normal track 2 (NT 2) atau 0% 2012.

Sebanyak 27 pos tarif motor yang ditawarkan meliputi motor CBU dengan kapasitas silinder hingga 250 cc ke atas.

Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika (IATT) Budi Darmadi menilai, daya saing sepeda motor lokal siap berhadapan dengan produk Tiongkok. Sepeda motor produksi lokal, kata Budi, terbukti memiliki daya tahan yang baik didukung dengan luasnya jaringan.

"Ada sekitar 3.000 bengkel resmi ATPM (agen tunggal pemegang merek) yang melayani 3S (sales service spare part). Jadi kita berani untuk head to head dengan Tiongkok," ujarnya, baru-baru ini.

Ia tidak melihat adanya ancaman serbuan motor Tiongkok saat BM dihapuskan pada 2012. Budi menilai, produsen motor Tiongkok saat ini lebih fokus menggarap pasar lokal, ketimbang ekspor. (ed)

Senin, 23 November 2009

Omzet Bisnis Sepeda Motor Rp 65 Triliun



foto:edo


OMZET bisnis sepeda motor pada 2010 diperkirakan meningkat 10% menjadi Rp 65,27 triliun. Angka sebesar itu diperoleh dari penjualan domestik sebesar 6,3 juta unit dan ekspor sebesar 64 ribu unit.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menerangkan, jika harga sepeda motor dipukul rata Rp 10 juta, omzet sepeda motor tahun depan mencapai Rp 63 triliun. Namun saat ini, kata dia, ada beberapa sepeda motor yang harganya di atas Rp 15 juta, namun porsinya tidak terlalu besar.

“Kalau melihat tren pada kuartal IV, pasar tahun depan dapat menembus 6 juta unit atau naik minimal 10% dibanding 2008 sebesar 5,6-5,8 juta unit,” paparnya di Jakarta, Senin (23/11).

Menurut Gunadi, pasar otomotif (motor dan mobil) biasanya meningkat dua kali lipat dibanding pertumbuhan ekonomi. Jika pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi 2010 sebesar 6%, pasar berpeluang tumbuh dua kali lipat sebesar 12%. Selain karena faktor pertumbuhan ekonomi, Gunadi menerangkan, permintaan dari kalangan distributor motor juga terus membaik dalam dua bulan terakhir.

Indikasi peningkatan permintaan terlihat dari realisasi penjualan Oktober 2009 yang mampu mencapai 613.979 unit, meningkat 19% dibanding bulan sama 2008 sebesar 515.123 unit. Ini merupakan pertumbuhan positif pertama sepanjang tahun ini setelah sebelumnya pasar anjlok dalam sembilan bulan berturut-turut.

Berdasarkan data AISI, pasar motor domestik per Oktober 2009 turun 11,4% menjadi 4,75 juta unit dibanding periode sama 2008 sebesar 5,31 juta unit. Penurunan pasar dipicu krisis finansial global yang mengeringkan likuiditas di perusahaan pembiayaan (leasing) pada awal tahun ini. Seretnya dana di perusahaan leasing memukul pasar motor karena 80% pembelian menggunakan skema kredit.

Ekspansi Pasar Ekspor

Sementara itu, tren pemulihan ekonomi dunia mendorong beberapa produsen motor nasional menggenjot ekspor ke beberapa negara Asean mulai tahun ini. PT Minerva Motor Indonesia (MMI) berencana mengekspor Minerva Megelli ke Thailand mulai tahun depan.

“Jumlahnya tidak terlalu banyak. Paling hanya sekitar 200 unit per bulan,” ujar Direktur Utama MMI Kristianto Goenadi.

Dia menerangkan, MMI akan berupaya meningkatkan muatan lokal dari saat ini 20% menjadi di kisaran 30-40%. Hal ini dilakukan untuk memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk (BM) antar sesama negara Asean dalam kerangkan Asean Free Trade Area (AFTA). Dalam aturan ini, suatu motor disebut buatan Asean jika memiliki muatan lokal 40%.

Sebelumnya, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) mulai mengekspor KLX dalam bentuk terurai ke Malaysia dan Filipina pada Oktober lalu dengan volume 500 unit. Hingga akhir tahun ekspor KLX ditargetkan mencapai 1.500 unit.

Di sisi lain, PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) akan mengekspor motor ke Thailand dan Vietnam mulai 2010 setelah sebelumnya mengekspor motor ke Filipina. Volume ekspor SIM ke Filipina sekitar 10 ribu unit per bulan.

Gunadi Sindhuwinata menyatakan, ekspor motor tahun depan kemungkinan dapat kembali ke level 2008 sebesar 64 ribu unit seiring pemulihan ekonomi global. Tahun ini, ujar dia, ekspor motor kemungkinan turun 6% menjadi 60 ribu unit.

Menurut Gunadi, ekspor motor nasional kini mengarah ke beberapa negara-negara berkembang khususnya Asean. Namun, ujar dia, negara tujuan ekspor biasanya sudah memiliki basis produksi yang kuat untuk model-model tertentu.

“Yang dapat kita optimalkan saat ini adalah ekspor bagian-bagian motor seperti ban atau aki,” paparnya. (coy)

sumber; investor daily

Sabtu, 14 November 2009

Yamaha Masih Melenggang di Skutik


foto:edo

FENOMENA scooter automatic alias skutik terus bergulir. Jenis sepeda motor yang satu ini memang fenomenal. Di penghujung tahun 2000-an ini, penguasaan pangsa pasarnya terus menohok.

Pada Januari-Oktober 2009, penguasaan pangsa pasar skutik mencapai 37,7% atau sebanyak 1.789.810 unit dari total pasar sepeda motor domestik sebanyak 4.753.690 unit. Bandingkan dengan 2007 dan 2008 yang masing-masing baru mencapai 17,97% dan 26%. Fantastis!

Penguasa pangsa pasar segmen skutik masih Yamaha. Sepanjang 10 bulan 2009, Yamaha yang di Indonesia diageni oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), menguasai 54,5% pasar domestik dengan penjualan sebanyak 972.609 unit. Angka itu melesat 36,9% dibandingkan periode sama 2008 sebanyak 710.332 unit. Pada periode itu, penguasaan pangsa pasar Yamaha sebanyak 53,99% dari total pasar sebanyak 1.315.591 unit.

Lonjakan penguasaan pangsa pasar Yamaha yang mengusung produk Mio dan Mio Soul itu, boleh jadi juga dipengaruhi oleh nihilnya penjualan pelopor skutik, Kymco. Oktober ini, Yamaha membanderol Mio Rp 11,51 juta untuk jenis jari-jari dan Rp 12,28 juta untuk Mio cast wheel (CW) atau yang populer disebut velg racing. Sedangkan untuk Mio Soul dibanderol Rp 13,4 juta.


Honda Menguntit
Jurus Yamaha menguasai pasar bukan tak dimonitor pesaing. PT Astra Honda Motor (AHM), agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor Honda, terus menguntit dengan membesut varian baru di lini skutik. Honda memiliki tiga peluru yakni Honda Vario CW, Honda Beat, dan yang paling anyar, Honda Vario Techno CBS.

Januari-Oktober 2009, AHM menjual 673.641 unit setara dengan penguasaan pangsa pasar 37,6%. Dibandingkan periode sama 2008, penjualan tersebut naik 61,89% mengingat pada saat itu penjualan Honda sebanyak 416.101 unit, dengan pangsa pasar 31,62%.

Sengitnya persaingan di posisi pertama dan kedua, tak terjadi untuk di posisi ketiga. Pada posisi ini, Suzuki masih anteng nyaris tanpa pesaing yang membayangi. Sepuluh bulan 2009, penjualan Suzuki sebanyak 143.560 unit dengan pangsa pasar 8%. Sementara itu, pada periode sama 2008 penjualan Suzuki sebanyak 184.702 unit, dengan meraih pangsa pasar 14,03%. Suzuki memiliki tiga produk andalan di segmen skutik, yakni Spin, Skywave, dan Skydrive.

Secara kumulatif, selama Januari-Oktober 2009 penjualan skutik domestik naik 36,04% menjadi 1.789.810 unit dibandingkan periode sama 2008 yang sebanyak 1.315.591 unit. (edo rusyanto)

Jumat, 13 November 2009

Motor Sport Yamaha Sulit Digoyah


foto:edo

PENJUALAN sepeda motor sport Yamaha terlalu tangguh digoyah pesaingnya. Sepanjang Januari-Oktober, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor Yamaha, menjual 176.624 unit motor sport. Angka penjualan itu menguasai 45,7% pasar domestik segmen sport.

Honda sebagai rival terdekat Yamaha, sepanjang 10 bulan 2009 mampu menguasai 38,8% pangsa pasar dengan penjualan 150.037 unit.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) menyebutkan, di posisi ketiga Kawasaki yang hanya mampu menjual 37.201 unit dengan pangsa pasar 9,6%. Pada posisi buncit, Suzuki dengan penjualan 22.157 unit dan pangsa pasar 5,8%.


Sulit Goyah
Yamaha terbukti masih sulit digoyahkan di segmen sepeda motor sport. Seperti tag line-nya, Yamaha Selalu di Depan. Walau, hal itu bukan berarti tertutup kemungkinan para kompetitor menyalip bak di sirkuit MotoGP.

Penjualan Yamaha di lini motor sport, Januari-Oktober 2009 naik 37,9% dari 127.997 unit menjadi 176.624 unit. Bandingkan dengan Honda yang di Indonesia di ageni oleh PT Astra Honda Motor (AHM). Penjualan Honda justru merosot 19,3% dari 185.938 unit menjadi 150.037 unit.

Kenapa demikian? Salah satu pemicunya adalah akibat penurunan penjualan Tiger 200 cast wheel (CW) yakni dari 51.025 unit, menjadi 40.113 unit. Selain tentunya, karena AHM tak lagi melego Tiger 200, padahal pada Januari-Oktober 2008, penjualan tipe ini mencapai 8.765 unit.

Sementara itu, Yamaha kian menancapkan kukunya lewat produk Yamaha Vixion. Bayangkan, dari 84.963 unit pada Januari-Oktober 2008 menjadi 155.808 unit pada periode sama 2009, alias naik 83,3%. Luarrr biassaa.

Terlepas dari mengkilapnya prestasi pembalap MotoGP yang disponsori Yamaha, Valentino Rossi yang akhirnya menjuarai MotoGP 2009 setelah memenangi 7 putaran. Penjualan motor sport Yamaha, khususnya Vixion, diduga memikat konsumen karena tampilan dan teknologi injeksinya. Dari segi harga, Vixion lebih murah dibandingkan Honda Tiger yang mencapai Rp 24,7 juta per unit, sedangkan Vixion sekitar Rp 20,5 juta. memang, dari segi kapasitas mesin, Vixion lebih rendah yakni hanya 150 cc, sedangkan Tiger CW 200 cc.

Di segmen yang mendekati, yakni Honda Megapro 160 cc, penjualan Honda masih cukup tinggi meski menurun. Motor yang dibanderol Rp 20,5 juta itu, sepanjang Januari-Oktober 2009 terjual 109.924 unit, turun 12,8% dibandingkan periode sama 2008 sebanyak 126.148 unit.

Di tengah rumors bakal dikeluarkannya model baru motor sport Yamaha maupun Honda, persaingan di segmen sport nampaknya masih cukup sengit.

Pemain lain di bisnis ini, Kawasaki, tergolong cukup kokoh. Pada sepuluh bulan 2009, Kawasaki terjual 37.201 unit, sedangkan periode sama 2008 sebanyak 23.016 unit, alias naik 61,6%. Sementara itu, Suzuki membukukan 22.157 unit, terpangkas 78,1% dibandingkan sepuluh bulan 2008 sebanyak 101.441unit.

Segmen sport memang kue paling kecil dari total bisnis sepeda motor di pasar domestik, hingga Oktober 2009, total penjualan sport 396.379 unit atau hanya 8,1% dari total pasar yang mencapai 4.753.690 unit.

Akankah hingga akhir 2009 Yamaha masih memimpin pasar sepeda motor sport? Kita lihat saja. (edo rusyanto)

Kamis, 01 Oktober 2009

Penjualan Motor Anjlok 36%




Penjualan motor domestik pada September 2009 diperkirakan anjlok 36% menjadi sekitar 400 ribu unit dibandingkan bulan sebelumnya sebanyak 626.478 unit. Pendeknya hari kerja pada bulan lalu membuat aktivitas produksi di pabrik berkurang, sehingga distribusi motor tergerus cukup dalam.
Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menerangkan, hampir seluruh agen tunggal pemegang motor (ATPM) motor meliburkan karyawan sekitar 10 hari pada bulan lalu dalam rangka libur Lebaran. Akibatnya, penjualan September 2009 sulit menyamai torehan penjualan Agustus.
“Puncak penjualan motor tahun ini terjadi pada Agustus lalu. Bahkan penjualan pada Agustus tahun ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah industri motor,” katanya di Jakarta, kemarin.
Selain karena pendeknya hari kerja, Gunadi menerangkan, sebagian masyarakat sibuk mudik pada September. Ini menyebabkan transaksi pembelian motor di dealer berkurang. Kondisi ini dimanfaatkan ATPM untuk meliburkan karyawan.
Gunadi menilai, terpangkasnya penjualan motor pada September tidak perlu dicemaskan. Pasalnya, hal ini merupakan tren musiman yang sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Memasuki Oktober, aktivitas produksi dan penjualan sudah mulai normal ditandai dengan dibukanya showroom dan menggeliatnya aktivitas produksi di pabrik.
Dia melanjutkan, pasar motor sejak semester kedua mulai pulih dari tekanan krisis finansial global. Ini dipicu kian rendahnya bunga kredit dan mulai melonggarnya likuiditas di perusahaan leasing. Saat ini bunga efektif untuk kredit motor mencapai 26-27% dari 34% pada kuartal pertama 2009.
Rendahnya bunga kredit akan mendongkrak pasar motor mengingat sekitar 70-80% pembelian motor menggunakan skema kredit dengan bantuan perusahaan pembiayaan (leasing). ”Motor saat ini merupakan suatu kebutuhan, sehingga bagaimanapun juga masyarakat akan berupaya melakukan pembelian. Motor kini sudah menjadi transportasi murah yang bisa menghemat pengeluaran,” paparnya.
Wakil Presiden Direktur PT Astra Honda Motor (AHM) Johannes Loman dalam kesempatan berbeda menambahkan, pasar motor akan terbantu dengan panen raya petani pada Oktober 2009. “Memang pasar motor akan turun pada September. Namun, berpeluang naik lagi karena ada panen raya,” terangnya.
Berdasarkan hitungan kasar, pasar motor sampai kuartal ketiga tahun ini tercatat turun 14% menjadi 4.118.175 unit dibanding periode sama tahun lalu sebanyak 4.804.510 unit. Hingga akhir tahun ini, AISI memprediksi pasar motor akan mencapai 5,8 juta unit, turun 6,4% dari realisasi penjualan 2008 sebanyak 6,2 juta unit.
Sampai Agustus 2009, Honda masih merajai pasar motor nasional dengan akumulasi penjualan 1.698.558 unit (45,7%), diikuti Yamaha sebanyak 1.683.778 unit (45,3%). Suzuki dan Kawasaki menguntit di belakang dengan penjualan kumulatif masing-masing mencapai 293.439 unit dan 39.521 unit.
Terkait dengan penjualan Yamaha yang kian dekat dengan Honda, Johannes Loman mengaku, Honda lebih memilih berkonsentrasi pada peningkatan produksi model-model yang laris, terutama skutik. Pada Agustus 2009, AHM menambah kapasitas lini produksi skutik dari 60 ribu unit menjadi 100 ribu unit per bulan.
Direktur Pemasaran AHM Julius Aslan menyatakan, tahun ini AHM menargetkan menguasai 43% pasar skutik dari posisi 37% pada semester pertama 2009.(coy)


sumber; Investor Daily

Jumat, 21 Agustus 2009

Bisnis Sepeda Motor Masih Gurih


foto:edo


GURIH bisnis sepeda motor di Indonesia seakan tak pernah sirna. Tiap tahun, kue bisnis ini terus membengkak. Puncaknya pada 2008 yakni 6,2 juta unit. Dengan asumsi harga rata-rata Rp 10 juta per unit, omzet tahun lalu sedikitnya Rp 62 triliun. Hemmmm....kue bisnis yang lezat.
Tahun ini, volume penjualan ditaksir sekitar 5 jutaan unit, dengan asumsi yang sama, omzet 2009 sekitar Rp 50 triliun.
Sepanjang Januari-Juli 2009, volume penjualan sepeda motor versi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) sebanyak 3.091.697 unit naik tipis 0,02% dibandingkan periode sama 2008 sebanyak 3.090.975 unit. Menggunakan asumsi di atas, omzet tujuh bulan 2009 sekitar Rp 30 triliun. Luarrr biasa. Bisa dihitung, berapa besar pajak yang disumbangkan para produsen sepeda motor ke kas negara.
Penikmat lezatnya bisnis sepeda motor sudah barang tentu prinsipal asal Jepang. Merek-merek sepeda motor asal Negeri Matahari Terbit itu, masih merajai pasar domestik. Sebut saja misalnya, Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki.
Prinsipal asal negeri Saudara Tua itu menggandeng mitra membentuk agen tunggal pemegang merek (ATPM). Honda dipegang oleh PT Astra Honda Motor (AHM) yang mayoritas sahamnya dimiliki PT Astra International Tbk. Lalu, Yamaha diawaki oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) sebagai pemasar dan PT Yamaha Motor Manufaktur Indonesia selaku perakit. Sedangkan Suzuki dikawal oleh PT Suzuki Indomobil Motor (SIM), sementara itu Kawasaki dipegang PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI).
Periode tujuh bulan 2009, PT AHM masih unggul dengan volume penjualan 1.406.482 unit, sedangkan di posisi kedua PT YMKI dengan volume 1.404.724 unit.
Secara akumulasi tujuh bulan 2009, volume penjualan anggota Aisi yang mencakup 7 produsen masih didominasi 4 ATPM motor Jepang yang menguasai 99,92%, sedangkan merek lain yakni Kanzen, Kymco, dan Piaggio 0,08%. Sementara itu, jika dibandingkan dengan produsen sepeda motor di luar anggota Aisi, seperti Bajaj dan TVS (India), Harley-Davidson (Amerika Serikat), dan motor Cina seperti Minerva maupun yang lainnya yang ditaksir sekitar 300-an ribu unit, ATPM motor Jepang pun masih unggul.
Selain dinikmati oleh para ATPM, bisnis sepeda motor juga dinikmati oleh pebisnis pembiayaan (multifinance). Tengok saja laba bersih yang berhasil diraup perusahaan sepanjang Januari-Mei 2009 yang mencapai Rp 3,2 triliun, naik sekitar Rp 600 miliar dibandingkan periode sama 2008 yang sebesar Rp 2,6 triliun.
Kontribusi pembiayaan otomotif sekitar 70% dari total pembiayaan konsumsi. Dari total bisnis pembiayaan, sektor konsumsi nyaris sekitar 70%, lebih besar dari leasing maupun pembiayaan anjak piutang.
Maklum, hampir 90% pola pembelian sepeda motor dan mobil menggunakan sistem kredit lewat multifinance. Tak heran jika pemain sektor ini seperti PT Adira Finance, PT Wom Finance Tbk, dan PT FIF, terus berkibar.
Dengan asumsi di atas, maka laba bersih lembaga pembiayaan di sektor otomotif sekitar Rp 1,6 triliun. Maklum, bunga untuk pembiayaan sepeda motor dan mobil per tahun masing-masing sekitar 30% dan 12%.
Bagaimana dengan ATPM sepeda motor? Kita berandai-andai. Ambil saja keuntungan bersih sebesar 10% dari total penjualan, berarti sepanjang Januari-Juli 2009 mereka meraup sekitar Rp 3 triliun. Hemmm....
Melihat gurihnya bisnis otomotif, tentu saja termasuk sepeda motor, memikat para investor asing masuk ke bisnis lembaga pembiayaan. Tak heran jika kemudian sekitar 50,03% saham PT WOM Finance Tbk dikuasai oleh PT BII Tbk yang notabene 97,52% sahamnya dimiliki Maybank, Malaysia. Atau, PT Adira Finance Tbk yang 95% sahamnya digenggam PT Bank Danamon Tbk. Sekitar 67,86% saham bank tersebut dimiliki oleh Temasek, Singapura. Ngomong soal Singapura, lembaga pembiayaan milik PT Astra International Tbk, pemimpin pangsa pasar sepeda motor, yakni PT FIF, sekitar 50,09% sahamnya dimiliki oleh Jardine Cycle & Carriage, Singapura. Astra melalui PT AHM menguasai sekitar 48% pasar sepeda motor Indonesia. (edo rusyanto)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian