Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Minggu, 30 November 2008

Kanzen Setop Produksi


JAKARTA — Produsen motor nasional merek Kanzen, PT Semesta Citra Motorindo, menyetop aktivitas produksi per 1 November hingga pertengahan Desember tahun ini. Langkah ini terpaksa dilakukan Kanzen menyusul melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Direktur Pemasaran PT Kanzen Motor Indonesia (KMI) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) Kanzen Hermawan Lukiyanto menyatakan, rontoknya nilai tukar rupiah membuat ongkos produksi membengkak, sehingga harga jual harus dinaikkan. Ironisnya, KMI tidak dapat menaikkan harga jual karena khawatir harga motor akan sama dengan motor merek Jepang.
“Kalau motor Jepang masih dapat mensubdisi harga ke dealer, sedangkan kami tidak dapat melakukan itu karena masih merintis. Jadi daripada berat, kami memutuskan untuk menghentikan produksi untuk sementara,” paparnya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Pada perdagangan di pasar spot antarbank, Jumat (28/11), rupiah ditransaksikan di level 12.290 per dolar AS melemah dibanding hari sebelumnya di di level 11.975 per dolar AS. Nilai tukar rupiah telah anjlok sekitar 30-40% dari posisi normal di kisaran Rp 9.000-9.200 per dolar AS.
Harga motor Kanzen lebih murah 20-25% dari motor Jepang. Kanzen Taurus yang merupakan motor jenis bebek di jual di harga Rp 9,4 juta sedangkan Honda Revo Rp 12,05 juta.
Dia menuturkan, sekitar 400 karyawan yang bekerja di pabrik Kanzen di kawasan Karawang berkapasitas 120 ribu unit per tahun dirumahkan untuk sementara waktu. Dia memastikan karyawan akan tetap mendapat pembayaran gaji secara penuh.
Kanzen, jelas Hermawan, akan kembali memproduksi motor pada pertengahan Desember untuk menjaga stok di pasar. Angka produksinya jeblok 43% menjadi sekitar 1.000-2.000 unit per bulan dibanding bulan-bulan biasa di kisaran 3.500 unit.
“Kami tetap membangun pasar yang telah kami rintis sejak delapan tahun terakhir. Kami tidak ingin calon konsumen pindah ke motor lain meski kami harus menjual rugi,” paparnya.
Selain dipicu pelemahan rupiah, penghentian produksi juga disebabkan banyaknya motor yang ditarik dealer menyusul ambrolnya harga komoditas primer seperti kelapa sawit dan karet. Ini membuat petani sulit membayar cicilan. Saat ini, sekitar 90% penjualan Kanzen berada di luar Jawa dan sekitar 90% dari jumlah itu dibeli oleh petani karet dan sawit.
Krisis harga komoditas diperburuk oleh seretnya likuiditas di perusahaan pembiayaan (leasing) akibat guncangan perekonomian dunia. Saat likuiditas perbankan mengetat, perusahaan leasing kesulitan memperoleh dana untuk pembiayaan motor.
Dia melanjutkan, KMI akhirnya membuka akses yang seluas-luasnya bagi perusahaan leasing di luar Semesta Citra Dana (SCD) seperti Adira Finance untuk membiayai pembelian motor Kanzen. Tadinya, sekitar 90% motor Kanzen dibiayai oleh SCD.
KMI merevisi target penjualan tahun ini dari 39 ribu menjadi hanya 35 ribu unit, naik 25% dibanding tahun lalu sebesar 29.137 unit. Per September tahun ini, penjualan tercatat mencapai 28.787 unit, melejit 35% dibanding periode sama tahun lalu sebanyak 21.272 unit. “Saya kira tahun depan penjualan akan turun sekitar20-30% karena ada krisis global,” paparnya.

Pangkas produksi
Sementara itu, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menjelaskan, produsen motor nasional akan memangkas produksi dalam dua bulan terakhir tahun ini menyusul mulai melemahnya permintaan. Menurut dia, produksi motor tahun ini 30% di atas proyeksi pabrikan motor yakni sebesar 15%.
Per Oktober 2008, pasar motor melonjak 40% menjadi 5.319.877 unit menjadi 5.319.877 unit dibanding periode sama tahun lalu sebesar 3.787.985. Tahun ini pasar motor diperkirakan akan menyentuh 6 juta unit, naik 27% dibanding 2007 sebanyak 4,7 juta unit. “Produsen akan menurunkan produksi sampai 30% guna menghindari penumpukan stok,” jelasnya.
Di sisi lain, pemimpin pasar di bisnis motor nasional, PT Astra Honda Motor (AHM), belum menurunkan produksi pada bulan ini. “Sejauh ini kami masih melihat perkembangan dan mempertimbangkan rencana produksi bulan depan. Pada Oktober produksi kami sekitar 230 ribu unit,” ujar General Manager Marketing Motorcycle Division AHM Sigit Kumala. (acoy)

Sabtu, 29 November 2008

Serius, Penggodokan Lajur Bagi Sepeda Motor

Jakarta- Belakangan ini, pemerintah melalui departemen perhubungan (dephub) terlihat serius menggodok rancangan untuk mengimplementasikan lajur khusus bagi sepeda motor. Hal itu terlihat dalam workshop Manajemen Keselamatan Transportasi Darat, Kamis (27/11), di Jakarta. Pemrasaran dari Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Harnen Sulistio memaparkan Pedoman Manajemen Prioritas Studi Kasus Lajur Khusus Sepeda Motor. Sementara itu, tim Prof Harnen memaparkan Studi Kebijaksanaan Teknis Penggunaan Sepeda Motor serta Pradesain Lajur Khusus Sepeda Motor. Prof Harnen bahkan membeberkan hasil penelitiannya selama tiga tahun di Malaysia.
Workshop tersebut tampaknya rangkaian dari Rapat Konsultasi "Peningkatan Kepatuhan dan Budaya Tertib Berlalu Lintas bagi Pengguna Sepeda Motor”, pada Selasa (4/11). Tidak tanggung-tanggung, rapat tersebut digelar di Sekretariat Wapres, di Jakarta. Rapat yang dipimpin Deputi Sekretaris Wakil Presiden Bidang Politik itu dihadiri oleh berbagai instansi yakni perwakilan Ditjen Hubdat Dephub, Kepolisian, BPPT, Universitas Indonesia, LIPI, Deperin, dan Dishub Provinsi DKI Jakarta.
Sudah demikian parahkah perilaku pengguna sepeda motor sehingga Wapres turun tangan? Mari kita tengok sejenak pemaparan Prof Harnen.
“Kualitas budaya suatu masyarakat dapat terlihat dari cara berlalu lintas.” Penggalan kalimat Prof Harnen itu menjadi pembuka untuk menelusuri kenapa lahir gagasan harus membuat lajur khusus sepeda motor.
Menurut professor yang meraih gelar Doktor (S3) bidang studi Highway and Trans Eng di Universitas Putra Malaysia pada 2004 itu, dari hasil penelitian di Surabaya, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, Jawa Timur (Jatim), mencuat pernyataan bahwa para pengendara sepeda motor menganggap perlu ada lajur sepeda motor untuk menekan angka kecelakaan di jalan raya. Berkendara di lajur sepeda motor lebih aman, nyaman, tertib, teratur, meningkatkan keselamatan, serta mengurangi kemacetan. Selain itu, jika tujuan penerapan lajur motor tercapai maka masyarakat akan merasakan manfaatnya. Penerapan lajur sepeda motor dalam menurunkan jumlah kecelakaan dinilai cukup efektif. “Jenis lajur bias berupa lajur khusus atau eksklusif atau tidak khusus,” papar pria yang pernah mengikuti Pilkada Bupati Blitar pada 2006.
Terkait penerapan di Jakarta, kata dia, sudah saatnya dilakukan ujicoba. Jika tidak bisa dipaksa dalam jarak yang panjang, ruas lajur sepeda motor bisa dibuat sepotong-sepotong. “Paling tidak kita bisa memisahkan walau sesaat. Hal itu mengingat roda dua tidak konventible dengan roda empat, terlebih dengan truk besar,” tegasnya.
Menurut Suripno, ujicoba untuk menekan penurunan kecelakaan di jalan raya ditetapkan di DKI Jakarta, upaya yang dilakukan salahsatunya termasuk implementasi lajur khusus. ”Upaya ini diharapkan melibatkan seluruh stake holder. Melalui RSA kita ubah paradigma masyarakat bahwa keselamatan dapat diwujudkan melalui usaha. Kecelakaan karena kelalaian kita, bukan takdir bahwa di dalamnya ada takdir karena sudah bersikap hati-hati hal itu bisa saja,” ujar Suripno.
Prof Harnen yang merupakan Guru Besar Universitas Brawijaya memaparkan bahwa berdasarkan penelitian di Surabaya dan Malang, lebar lajur sepeda motor harus nyaman untuk pengendara melakukan manuver. Di sisi lain, jelasnya, perlu dikaji kebutuhan atau potensi yang ada, hal ini terkait dengan manfaat yang diperoleh dibandingkan investasi. Selain itu, perlu sosialisasi yang di antaranya diarahkan kepada masyarakat dan pelaku aktivitas di lokasi lajur sepeda motor.
Jakarta pernah menerapkan lajur sepeda motor pada 2007. Pemberlakuan lajur kiri sebagai ruas berlalulalangnya sepeda motor berlaku pada jam tertentu, namun tidak berlangsung lama. Menurut Kompol Wiwik, dari Polda Metro Jaya, pihaknya bakal menggencarkan penerapan lajur sepeda motor pada 2009. “Kami akan menerapkan dua lajur di sisi kiri jalan yakni untuk sepeda motor dan angkutan umum. Bagi angkutan umum terkait dengan menaikkan dan menurunkan penumpang,” katanya di sela tanya jawab dengan Prof Harnen.
Sementara itu, terkait desain lajur sepeda motor itu sendiri, menurut Prof Harnen, lebarnya sekitar 3 meter dengan pemisah yang bisa berupa pagar pembatas, taman, atau garis lurus. Tergantung situasi lahan yang tersedia. Terkait volume kendaraan, lajur sepeda motor pada ruas jalan diperlukan apabila volume kendaraan mencapai sekitar 850 kendaraan/jam/lajur.
Menimpali masukan dari RSA, Prof Harnen menegaskan, edukasi dan penegakan hukum hendaknya dijalankan simultan karena bisa menjadi obat mujarab untuk jangka pendek dalam menekan angka kecelakaan di jalan raya. Edukasi dipilah yakni ada yang masuk dalam kurikulum sekolah dan gerakan penyuluhan mengenai dampak kecelakaan terhadap kemiskinan. Ia mencontohkan, seorang tulang punggung ekonomi keluarga yang tewas akibat kecelakaan bisa mempengaruhi kondisi ekonomi suatu keluarga. Sedangkan mengenai lajur khusus adalah aspek engineering. “Kami sepakat edukasi dan penegakan hukum. Tanpa hukum yang tegas, mustahil lalulintas bisa tertib. Negara jiran tegas, Eropa juga. Denda yang tinggi bagi pelanggar seperti penggunaan sealbelt dan pengaturan kecepatan berlebihan hal ini perlu dipertimbangkan untuk memberi efek jera,” katanya.
Bagi Prof Harnen, kecelakaan itu bisa diprediksi dan bisa dicegah.
Terkait industri/ATPM, ia menilai, iklan yang menawarkan suatu produk motor memiliki kecepatan luar biasa juga harus diubah. ”Jangan menonjolkan kecepatan. Harus selaras dengan program safety. Iklan televisi juga harus gencar kampanyekan safety riding,” paparnya.
Berdasarkan simulasi keterkaitan kecepatan dengan kecelakaan sepeda motor, Harnen menuturkan, setiap penambahan kecepatan 10 km/jam bakal membuka peluang penambahan kecelakaan hingga 57,30%, sedangkan setiap penambahan lebar lajur sebesar 50 cm bakal menekan angka kecelakaan hingga 29,92%.
Dalam simulasi Prof Harnen terlihat bahwa kecepatan ideal sepeda motor di dalam kota adalah maksimal 40 km/jam.
Beberapa program aksi yang direkomendasikan mencakup pelibatan pemangku kepentingan, meningkatkan pengusaha industri sepeda motor, perbaikan perilaku melalui pendidikan, perbaikan sistem pemberian surat izin mengemudi (SIM), peningkatan kejelasan pandangan pengendara sepeda motor serta penggunaan pakaian pelindung. Selain itu, penegakan hukum dan mengembangkan fasilitas bagi pengguna sepeda motor.
Pentingnya aksi secara terintegrasi diharapkan mampu menekan angka kecelakaan sepeda motor dan membuat lalulintas tidak semrawut lagi. Seperti dituturkan Prof Harnen, kecelakaan sepeda motor berdampak kepada pemiskinan masyarakat. ”Berdasarkan penelitian, kecelakaan lalu lintas di jalan raya berpeluang memiskinkan masyarakat. Di Indonesia, dampak kecelakaan memiskinkan masyarakat mencapai 62,5%. Dampak kecelakaan memiskinkan masyarakat masih belum difahami,” tutur Harnen.
Ia menambahkan, di India bahkan dampaknya mencapai hingga 67%. “Jika kecelakaan bisa dicegah, pemiskinan di masyarakat juga bisa dicegah,” ujarnya. (edo)

Kamis, 27 November 2008

Gak Pake Helm, Denda Rp 1 Juta


Bagi para pengendara sepeda motor keselamatan berkendara secara prinsip dasar adalah meliputi kelengkapan sepeda motor seperti rem, kaca spion, kondisi lampu motor hidup, dan kondisi ban tidak bocor atau kempis. Kemudian, kelengkapan surat-surat seperti surat tanda nomor kendaraan (STNK) dan surat izin mengemudi (SIM) jenis C. Selain itu, bagi pengendaranya harus melengkapi diri dengan helm standar baik itu yang menutup seluruh kepala (full face) atau separuh kepala (half face), serta menggunakan jaket pelindung dan sarung tangan. Dalam keadaan tertentu, seperti berkendara jarak jauh saat touring, sebaiknya menggunakan sepatu lars panjang atau sepatu boot.
Saking seriusnya menekan kecelakaan sepeda motor pemerintah bahkan memasukan penggunaan helm dalam Undang-undang No. 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Pasal 61 ayat (3) dan PP No. 44 tahun 1993 yang mensyaratkan bagi semua pengendara sepeda motor dan penumpangnya untuk memakai helm.
Penumpang yang tidak memakai helm bisa kena pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan, atau denda sebesar Rp 1.000.000 (satu juta rupiah).
Banyak kecelakaan lalu lintas yang membuktikan bahwa pengendara yang tidak memakai helm standar mengalami gegar otak bahkan kehilangan nyawa. Penelitian Kepolisian RI pada tahun 1972 bahkan menemukan fakta bahwa 50% kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa dari pengendara sepeda motor disebabkan oleh luka di kepala. Tren tersebut berlangsung hingga penghujung 2008.
Perjalanan mengkampanyekan wajib menggunakan helm tidak berjalan mulus. Kota yang bisa disebut pelopor adalah Jakarta. Sebagai Ibukota Negara, wajib helm diberlakukan sejak 1985. Namun, tentangan terhadap aturan wajib helm mencuat pada 1987 di Kota Ujung Pandang (Makassar). Unjuk rasa menentang penggunaan helm bagi pengendara dan penumpang yang membonceng bahkan sempat menimbulkan tiga korban jiwa.
Upaya Kepolisian RI dan Departemen Perhubungan untuk mengkampanyekan penggunaan helm memang tak pernah henti. Sepuluh tahun kemudian, pemerintah bahkan sempat membagikan helm gratis bagi pengendara sepeda motor. Tidak saja pemerintah, para agen tunggal pemegang merek (ATPM) dan para dealer juga mengkampanyekan penggunaan helm standar. Mereka bahkan menggelar operasi penukaran helm tidak standar yang populer disebut helm cetok, dengan helm standar. Kampanye seperti itu bergulir dan menguat pada tahun 2008. Terkait helm, pemerintah melalui Departemen Perindustrian (Depperin) bahkan menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Peraturan Menteri Perindustrian Nomor : 40/M-IND/PER/6/2008 tentang Pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua Secara Wajib, menegaskan bahwa seluruh helm yang beredar di Indonesia harus memiliki SNI tersebut. Tak terkecuali helm impor.
Dari kesemua itu, faktor paling penting adalah pengendara harus mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Termasuk berhenti di belakang garis putih di setiap perempatan jalan. Bergerak saat lampu hijau dan berhenti pada saat lampu merah. Tidak saling menyerobot dan menghormati pengguna jalan raya lainnya, terlebih para pejalan kaki. (ed)

Minggu, 23 November 2008

Bertumbuhnya ATPM


Sebelum berdirinya para agen tunggal pemegang merek (ATPM), peran importir umum sangat besar dalam memasarkan sepeda motor ke Tanah Air. Sekitar tahun 1960-an, secara teknis, lebih praktis mendatangkan sepeda motor secara utuh (completely build up/CBU) ketimbang membangun pabrik sendiri. Para pedagang mengimpor dan mengedarkan sendiri hingga ke tangan konsumen. Namun, meski kini bermunculan para ATPM, peran para importir umum atau distributor non-ATPM masih aktif, walau tidak sedominan sebelum hadirnya ATPM.
Saat ini, para ATPM sepeda motor asal Jepang merajai penguasaan pangsa pasar di Tanah Air. Empat ATPM penguasa pangsa pasar teratas meliputi PT Astra Honda Motor (AHM) ATPM Honda, PT Indomobil Suzuki International (ISI) ATPM Suzuki, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) ATPM Yamaha, dan PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) ATPM Kawasaki. Keempat ATPM tersebut menguasai lebih dari 90% pangsa pasar sepeda motor nasional.

Era serbuan motor asal Jepang yang semula dibawa oleh para importir atau distributor umum kian redup ketika para ATPM bermunculan di Tanah Air. Kini, para ATPM memiliki total kapasitas produksi mencapai sekitar 7,5 juta per tahun.
Beberapa ATPM membentuk Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Hingga awal 2008, anggota Aisi meliputi; PT Astra Honda Motor (AHM), pemegang merek Honda, PT Semesta Citra Motorindo (SCM) pemegang merek Kanzen, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) pemegang merek Kawasaki, PT Kymco Lippo Motor Indonesia (KLMI) pemegang merek Kymco, PT Danmotor Vespa Indonesia pemegang merek Vespa, PT Indomobil Suzuki International (ISI) pemegang merek Suzuki, dan PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) pemegang merek Yamaha.

Salah satu persyaratan paling menonjol untuk menjadi anggota Aisi adalah setiap calon anggota harus memiliki fasilitas pembuatan body sepeda motor dan engine compnent.
Saat ini, total kapasitas produksi anggota Aisi mencapai 7,6 juta unit per tahun, jika digabungkan dengan non-Aisi, total kapasitas produksi mencapai sekitar 8 jutaan unit per tahun.
Selain ATPM anggota Aisi pada awal 2007 juga masuk ATPM asal India yakni PT TVS Motor Company Indonesia (TVS) dan PT Bajaj Auto Indonesia (BAI), kemudian PT JRD Bright Motorcycle Industries (JRD) asal Malaysia, dan PT Minerva Motor Indonesia (MMI).
Selain itu, sekitar 80 merek asal Cina juga meramaikan pasar sepeda motor di Indonesia sejak tahun 2000 meski memasuki 2008 sebagian sudah mulai meredup. Beberapa yang bertahan hingga 2008 di antaranya adalah PT Kaisar Motorindo Industri yang memproduksi sepeda motor merek Kaisar. Kemudian, PT Buana Jialing Sakti Motor produsen Jialing. PT Anugerah Cendrawasih Sakti Motor (Happy Motor) dan PT Triangle Motorindo (Viar).
Hanya sepeda motor Kanzen yang mengklaim sebagai sepeda motor nasional dengan teknolologi dan komponen asal Korea. Kanzen diluncurkan pertamakali pada tahun 2000. Sesungguhnya, empat tahun sebelum Kanzen melenggang, mimpi membangun industri sepeda motor yang dibidani anak-anak negeri, sudah mencuat. Adalah PT Timori Putra Bangsa (TPB) milik Hutomo Mandala Putra (Tommy), putera mantan presiden Soeharto, yang menggagas sepeda motor nasional. Proyek yang diawaki 15 insinyur putera-puteri Pertiwi bekerja sepanjang 1996-1998. Mereka mengutak-ngatik Cagiva Motorcycle, Italia untuk menjelma menjadi sepeda motor Timori. Namun, mimpi yang sungguh mulia itu terganjal oleh kerusuhan Mei 1998. TPB pun urung meluncurkan sepeda motor nasional. Kerusuhan Mei 1998 mengguncang Jakarta dan Indonesia. Ratusan jiwa melayang, puluhan pusat bisnis dibakar. Bahkan, kerusuhan itu memaksa Presiden RI kedua, HM Soeharto, harus lengser dari kursi presiden setelah berkuasa selama hampir 30 tahun.Dari sekitar 40 industri perakitan sepeda motor di Indonesia yang masih beroperasi pada 2008, prinsipal asal Jepang masih mendominasi investasi di sektor sepeda motor. Maklum, investasi Jepang secara keseluruhan di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain. Sepanjang tahun tahun 1967 hingga 2007 total jumlah investasi Jepang mencapai sekitar US$ 40 miliar.

(diolah dari berbagai sumber)

Sabtu, 22 November 2008

Pentingnya Komunitas


Industri sepeda motor di Indonesia terus berkembang seiring dengan bertumbuhnya pasar yang sangat pesat dalam lima tahun terakhir ini. Sebagai gambaran, pada 2006 penjualan sepeda motor sekitar 4,4 juta unit kemudian meningkat menjadi sekitar 4,7 juta unit pada 2007 dan bakal berkembang menjadi sekitar 5,8 juta unit pada 2008, sehingga mendorong populasi sepeda motor di Tanah Air menjadi sekitar 43 juta unit. Disisi lain, volume pasar kita tiap tahun di bandingkan dengan negara tetangga di ASEAN masih relatif kecil, jumlah orang yang dapat menikmati perkembangan produk dari industri kendaraan bermotor roda dua ini relatif kecil. Populasi sepeda motor di Indonesia masih berkisar pada 8 orang/unit, sedangkan Thailand dan Malaysia berada masing-masing pada 4 orang/unit dan 3 orang/unit. Ini berarti Indonesia masih mempunyai potensi pasar yang besar untuk berkembang.

Tingginya permintaan sepeda motor di masyarakat kita karena kendaraan tersebut telah menjadi alat transportasi yang andal, efisien dan murah. Di kota-kota besar yang sistem transportasinya masih semrawut sehingga kemacetan merupakan kejadian sehari-hari, sepeda motor masih dianggap sebagai solusi bagi alat transportasi utama yang memadai. Dengan menggunakan sepeda motor, waktu tempuh bisa dihemat, terlebih-lebih konsumsi bahan-bakarnya efisien, selain itu dengan adanya sistem pembiayaan konsumen, harga sepeda motor terjangkau bagi kocek konsumen. Secara keseluruhan biaya operasional sepeda motor jadi lebih murah dibandingkan dengan alat transportasi umum lainnya.

Derasnya permintaan dari konsumen juga tidak terlepas dari agresifnya para agen tunggal pemegang merek (ATPM) mempromosikan produk mereka di berbagai media massa dan memasang reklame di berbagai titik strategis pusat kota. Hal ini menunjukkan bahwa persaiangan antara merek begitu ketat dan masing-masing mencoba untuk menyampaikan pesan keunggulan produknya. Seperti dikemukakan di atas, lembaga pembiayaan konsumen juga gencar menyokong pembelian oleh konsumen, khususnya yang memilih bertransaksi secara kredit dan saat ini telah mencapai 85% dari total pembelian. Dengan semakin majunya pengendalian administratif atas calon konsumen, maka persyaratan kredit dan kecepatan penanganan merupakan salah satu pemicu terus melonjaknya angka penjualan sepeda motor beberapa tahun belakangan ini.

Sebanyak tujuh ATPM yang tergabung dalam Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) kini menguasai hampir 90% pangsa pasar sepeda motor mayoritas menjalin kerja sama dengan prinsipal asal Jepang seperti Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki.
Kehadiran ATPM dengan prinsipal Jepang pada awal 1970-an membawa dimensi lain terhadap bisnis dan pengembangan industri sepeda motor di Indonesia. Total kapasitas yang dimiliki empat ATPM Jepang itu nyaris mendekati 7 juta unit per tahun.
Produk anggota AISI memiliki teknologi dan desain yang menarik konsumen. Selain itu, dengan segudang pengalaman dan bergulirnya waktu, maka penjualan produk para anggota AISI pada umumnya didukung oleh luasnya jaringan pemasaran dan layanan jasa purna jual dan perawatan termasuk ketersediaan suku cadang yang memadai. Hal itu belum mampu ditandingi oleh para ATPM non-anggota AISI yang notabene masih mencari bentuk penetrasi pasar.
Di tengah itu semua, kehadiran komunitas atau klub pengguna sepeda motor menjadi salah satu fenomena tersendiri. Khususnya jika dikaitkan dengan strategi pemasaran para ATPM. Hubungan harmonis antara produsen dan konsumen tidak bisa dibantah bakal menjadi kunci keberhasilan para ATPM melakukan penetrasi pasar.

Kini, upaya ATPM merawat hubungan dengan konsumen salah satunya adalah melalui klub atau komunitas pengguna sepeda motor yang di Indonesia diperkirakan terdapat ratusan bahkan ribuan kelompok pengguna sepeda motor. Hubungan timbal balik yang positif tercipta melalui respons ATPM melalui beragam dukungan, baik material maupun non-material, termasuk pengetahuan mengenai produk dan perkembangan teknologi maupun sosialisasi tentang berkendara dengan baik, selamat, dan aman.

Komunitas pengguna sepeda motor tak bisa disangkal merupakan kelompok konsumen yang loyal pada produk ATPM. Mereka bisa menjadi pemasar yang efektif sekaligus mitra dalam mengembangkan inovasi produk. Para konsumen yang membentuk komunitas suatu produk tertentu pada umumnya memiliki daya kritis terhadap produk yang mereka konsumsi. Analisis terhadap kelebihan dan kelemahan produk menjadi lebih mudah. Walau kadang mencuat subyektifitas yang menempatkan keunggulan di atas kelemahan yang mungkin ada dari produk tersebut. Dengan melihat manfaat-manfaat tersebut ATPM tak bisa begitu saja menelantarkan konsumen mereka.

Buku Industri Sepeda Motor di Tengah Maraknya Klub dan Komunitas Motor karya Edo Rusyanto, wartawan yang sehari-hari bergelut di bidang industri ini, sangat pas membeberkan fakta-fakta fenomena mencuatnya komunitas sepeda motor. Buku ini juga sekaligus menggambarkan interaksi komunitas dengan para ATPM maupun mata rantai lainnya seperti para dealer utama dan dealer-dealer. Sebagai sebuah karya tulis, buku ini layak menjadi bacaan bagi para anggota kelompok sepeda motor maupun para pebisnis terkait dengan industri sepeda motor, termasuk para eksekutif di tubuh para ATPM.


Jakarta, Oktober 2008
Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia


Dr.- Ing. Gunadi Sindhuwinata
Ketua Umum

Bergerak dengan nurani


INDUSTRI sepeda motor bak tak terpisahkan dengan kehidupan masyarakat kota-kota besar di Indonesia. Pabrikan yang mulai hadir pada awal tahun 1970-an terus memacu produksi mereka. Populasi sepeda motor pada 2008 diperkirakan telah mencapai sekitar 42 juta unit. Suatu angka fantastis dibandingkan jenis kendaraan lain di Tanah Air.
Pemain di industri sepeda motor pun terus bertambah. Pabrikan asal Jepang hingga kini menguasai lebih dari 90% penjualan sepeda motor di Indonesia. Selebihnya diperebutkan oleh pabrikan asal Taiwan, India, Cina, Eropa, dan Amerika Serikat. Para pabrikan juga terus menggelontorkan investasi untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Di tengah itu semua, memasuki tahun 2000-an, bermunculan kelompok-kelompok sepeda motor. Mereka menamai kelompok dengan sebutan komunitas (community) atau klub (club). Sepanjang awal 2008, kelompok sepeda motor yang memanfaatkan dunia maya (internet) sebagai sarana komunikasi sedikitnya mencapai 900-an kelompok.
Tren kelompok sepeda motor terus bergulir. Awalnya, kelompok sepeda motor lahir dari sekadar ajang saling bertukar informasi, menyalurkan hobby, dan berwisata bersama. Belakangan kelompok sepeda motor yang didirikan dan dikelola secara serius berkembang menjadi komunitas yang tidak hanya sebagai tempat berkumpul semata. Mereka berkembang menjadi kelompok konsumen yang pada akhirnya bisa menjadi mitra bagi para agent tunggal pemegang merek (ATPM).
BUKU Industri Sepeda Motor di Tengah Maraknya Klub dan Komunitas Sepeda Motor, merupakan hasil penelusuran terhadap kehadiran kelompok sepeda motor di tengah masyarakat. Hasil penelusuran yang dilengkapi dengan riset dan wawancara dengan sejumlah pelaku industri menyiratkan fakta yang luar biasa. Kelompok sepeda motor mampu menjadi mitra yang kuat bagi penetrasi ATPM di pasar otomotif. Hal itu terlihat dengan maraknya kegiatan kelompok sepeda motor yang memasyarakatkan kesadaran untuk berkendara secara aman (safety riding). Substansi kegiatan ini mengingatkan pengendara agar memacu kendaraannya dengan hati nurani. Ingat bahwa kendaraan yang dipacu secara ugal-ugalan bakal merugikan orang lain, dan sudah pasti dirinya dan keluarga tercinta. Nurani yang demikian menempatkan sepeda motor sebagai alat transportasi yang aman. Pada akhirnya, konsumen tidak sungkan membeli sepeda motor sebagai kendaraan yang mendukung mobilitas sehari-hari. Mulai dari keperluan sekolah, bekerja, hingga berwisata.
Akhirnya, semoga kehadiran buku ini mampu menjadi potret bagi kehidupan masyarakat kita, khususnya para pengendara sepeda motor, dan tentunya bagaimana sepak terjang ATPM di pasar otomotif nasional.

Penulis menyadari masih terdapat kelemahan di dalam buku ini. Semoga hal itu bisa mendorong karya jurnalistik yang dilahirkan penulis di masa mendatang, menjadi lebih baik. Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya buku ini. Terlebih bagi isteri dan tiga anak saya yang tercinta di rumah.

Cipayung, November 2008

Edo Rusyanto
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian