Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto
Tampilkan postingan dengan label atpm. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atpm. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Januari 2010

Gaya Koboi Ngulik Safety Riding


foto:didik


ISU soal keselamatan lalu lintas jalan menjadi topik hangat dalam perbincangan informal Komunitas Blogger Otomotif Indonesia (Koboi), Minggu (10/1), di bilangan Cipete, Jakarta Selatan.

Saya termasuk yang percaya, penyebarluasan informasi lewat tulisan di situs atau blog, bisa memperkecil potensi kecelakaan di jalan. Penekanannya pada peningkatan perilaku yang santun dan saling menghargai. Selain itu, membudayakan tertib alias taat pada aturan. Maklum, kita dihadapkan pada kenyataan kecelakaan sudah merenggut banyak nyawa, setidaknya pada 2008 sekitar 18 ribu jiwa tewas sia-sia di jalan.

Dalam keseharian, tulisan Koboi ada yang fokus utak-atik soal motor atau mobil baru. Ada yang sesekali menyenggol soal keselamatan bersepeda motor (safety riding) di jalan, namun ada juga yang ngulik abis safety riding.

Saat bersua langsung, sontak alur perbincangannya jadi meriah. Tidak semata mengulas teknik safety riding, namun menukik pada perilaku berkendara, dan vitalnya mentaati aturan lalu lintas (lalin) jalan guna mengeliminasi kecelakaan jalan. "Blogger juga bisa menyuarakan soal aturan," papar Ferry Bandoro, blogger asal Bogor.

Bagi Rudi Triatmono, blogger otomotif, upaya penting dalam implementasi safety riding bisa dimulai dengan penegakkan penerbitan surat izin mengemudi (SIM). “Perlu mekanisme yang tidak asal memberikan SIM,” kata dia. Ia juga menyoroti soal budaya keluarga di masyarakat kita yang mengizinkan anak yang belum memiliki SIM untuk mengendarai sepeda motor. “Hal itu keliru,” katanya.

Bagi saya, penegakkan aturan yang konsisten oleh aparat dan kedisiplinan para pengguna jalan untuk mentaati aturan bisa lebih menguatkan upaya mengurangi risiko terjadinya kecelakaan di jalan.

Di sinilah peran strategis para blogger. “Seperti dalam kasus Prita, seruan blogger menggelinding sangat kuat,” papar Arif, jurnalis Tempo yang hadir dalam pertemuan dengan Koboi, Minggu siang itu.

Dalam pandangan AS Nugroho, importir umum Ducati, para blogger bisa membuat gerakan yang tematik terkait penyebarluasan safety riding. “Misalnya bulan ini menyoroti tentang pentingnya pemakaian helm standar, dan bulan berikutnya soal yang lain,” tutur Nugroho.

Ya. Blogger dengan beragam latar belakang, khususnya yang berhimpun dalam Koboi, bisa mengusung tema yang sama soal safety riding agar sepeda motor tidak lagi dituding sebagai biang kerok kecelakaan di jalan. Maklum, hingga kini, nyaris sekitar 70% dari kecelakaan yang terjadi di Indonesia melibatkan sepeda motor.

Triatmono yang memfasilitasi pertemuan Koboi, ATPM dan importir umum, serta para jurnalis, Minggu, mengharapkan sebuah sinergi yang kuat. “Kalau industri sepeda motor maju, perekonomian juga ikut terbantu,” seru Triatmono.

Hadir dalam perbincangan informal, Minggu siang, di Ikan Bakar Cianjur, resto dengan hidangan khas menu Sunda, dari kalangan ATPM atau importir umum adalah Muhib dan Nyoman Kesawa (Astra Honda Motor/AHM), Mieke (TVS Indonesia), AS Nugroho (Ducati Indonesia), dan Evi Nursanti (Sun Motor/Piaggio).
Sedangkan dari kalangan blogger di antaranya Taufik, Trihatmono, Stephen Langitan, Adhi Nugroho, Adet, Ferry, Henry, Andry Berlianto, dan Aryo. Para jurnalis yang hadir Iksan (Detik.com), Agung (Kompas.com), dan Arif. (edo rusyanto)

Kamis, 17 September 2009

Ceras: ATPM Koordinasikan Arus Balik


foto: friadi

RIBUAN sepeda motor bakal bergerak dari Jakarta menuju kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatera. Mereka adalah para pemudik yang ingin merayakan hari Raya Idul Fitri di kampung halaman masing-masing. Departemen Perhubungan (Dephub) bahkan memperkirakan ada sekitar 2,6 juta sepeda motor yang akan dipakai sebagai alat transportasi mudik. Jika masing-masing mengangkut dua penumpang, termasuk pengendara, berarti ada 5,2 juta pemudik yang memanfaatkan sepeda motor sebagai medium bertemu sanak saudara di kampung halaman tercinta.
Laju sepeda motor pemudik bergerak dalam berbagai formasi. Sedikitnya ada tiga kelompok. Pertama, pemudik yang bergerak sendirian atau maksimal dua motor. Kedua, kelompok yang terdiri atas belasan atau puluhan sepeda motor yang dikoordinasikan oleh seseorang yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin kelompok. Dan, ketiga, adalah konvoy mudik bersama yang dikoordinasikan oleh para agen tunggal pemegang merek (ATPM).
Untuk kelompok yang ketiga ini, sudah berlangsung beberapa tahun belakngan ini. Adalah PT Astra Honda Motor (AHM), PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), dan PT Suzuki Indomobil Motor (SIM), yang sudah secara rutin menyelenggarakan mudik bersama. Belakangan juga mencuat pemain kecil seperti PT Minerva Motor Indonesia (MMI) yang menggalang mudik bersama dengan komunitas pengguna sepeda motor tersebut, Minerva Riders Community (MRC). ATPM lain seperti PT TVS Motor Company Indonesia, tidak menggalang mudik bersama, namun menyediakan fasilitas bengkel di posko yang dibentuk di beberapa titik yang dilalui konvoy pemudik. Tentu saja, prioritas adalah untuk para pengguna sepeda motor besutan India itu.
Di luar para ATPM ada juga mudik bersama yang digalang oleh perusahaan non-produsen sepeda motor, seperti yang digelar oleh PT Telkomsel dan PT Gajah Tunggal Tbk.

Siapkan Bus
Mudik bersama yang digalang para ATPM kakap, seperti AHM, YMKI, dan SIM, bisa dibilang cukup memanjakan para pemudik. Beragam fasilitas gratis diberikan oleh ATPM tersebut, di antaranya adalah jaket, sarung tangan, oli, bensin, makanan dan minuman, serta fasilitas potongan harga untuk pembelian spare part, serta service gratis. Di luar itu, ada juga yang memberikan asuransi dan doorprize.
Hal yang tergolong baru adalah penyediaan sarana bus bagi pemudik yang berniat membawa penumpang lebih dari dua orang. ”Kami sediakan 10 bus bagi calon peserta mudik bareng,” ujar Istiyani Susriyati, kepala Honda Customer Care (HC3) PT. AHM.
Sementara itu, YMKI menyediakan lima buah bus. ”Tentunya bagi mereka yang mendaftar lebih dulu, dialah yang mendapatkan fasilitas itu,” papar Indra Dwi Sunda, promotion PT YMKI.

foto:fajar


Keduanya menuturkan, penyediaan bus tersebut terkait dengan perundangan yang ada, yakni sepeda motor hanya boleh mengangkut dua penumpang.
”Kami akan tilang pengendara sepeda motor yang mengangkut lebih dari dua orang termasuk dirinya. Kalau bisa kami sarankan untuk dialihkan ke bus atau kereta. Memang ada yang bisa menerima. Tapi ada juga yang tidak bisa menerima,” ujar Kasat PJR Polda Metro AKBP Ipung Purnomo, dalam diskusi Peran ATPM Mengantisipasi Ledakan Pemudik Sepeda Motor, yang diselenggarakan Center for Safety Riding Study (Ceras), di Jakarta, Rabu (16/9).
Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor (Aisi) yang juga tampil sebagai pembicara dalam diskusi Ceras tersebut, mengatakan, sepeda motor masih menjadi sarana transportasi utama karena sistem transportasi belum bagus. Terkait, program mudik bersama, ia menuturkan, ”Kami punya moral obligation. Kami risau jika sepeda motor dituding biang keladi kemacetan dan penyebab kecelakaan,” papar pria yang juga Presiden Direktur PT Indomobil Sukses International Tbk itu.
Sementara itu, Edo Rusyanto, penggiat safety riding Ceras menegaskan, para ATPM juga semestinya memikirkan untuk mengkoordinasikan arus balik para pemudik. ”Pasti bisa dilakukan oleh ATPM, dengan dikoordinasi, arus balik juga bisa lebih tertib, aman, dan nyaman,” papar Edo.
Korban kecelakaan selama arus mudik dan balik pada 2008 turun dibandingkan periode sama 2007.
Pada 2008 , Ceras mencatat total korban kecelakaan pengendara sepeda motor sebanyak 2.732 orang. Dari angka tersebut, korban meninggal sebanyak 633 orang. Angka tersebut memang menurun dibandingkan 2007 sebanyak 3.784 orang dan korban meninggal 798 orang.
Pada 2009, terang Edo, jika tidak diantisipasi dengan baik, jumlah kecelakaan bisa kembali lagi meningkat. Ini lantaran jumlah pemudik sepeda motor bakal melonjak menjadi 2,6 juta. Tahun lalu, jumlah pemudik sepeda motor sebanyak 2,2 juta. (edo rusyanto)

Kamis, 03 September 2009

Dua ATPM Motor Berhenti Jualan


foto:edo

JAKARTA — Dua agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor berhenti berjualan sejak Juli 2008. Dua merek tersebut adalah Kymco dan Piaggio.
Berdasarkan data distribusi motor ke dealer (wholesales) yang direkap Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Kymco berhenti menjual motor sejak November tahun lalu sedangkan Piaggio sejak Juli 2008. Total penjualan Kymco pada 2008 mencapai 5.106 unit, sementara Piaggio 60 unit.
Ketua AISI Gunadi Sindhuwinata mengakui, dua merek tersebut sudah tidak mengirimkan data penjualan ke AISI. Namun Gunadi tidak mengetahui secara pasti alasan dua merek tersebut. “Saya tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan ini,” katanya di Jakarta, Selasa (1/8).
Berdasarkan penelusuran, Kymco diageni oleh PT Kymco Lippo Motor Indonesia. Kymco memiliki fasilitas perakitan di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat dengan kapasitas produksi sebesar 100 ribu unit setahun. Kymco resmi masuk AISI pada 2002.
Kymco merupakan pionir motor skuter otomatik (skutik) di Tanah Air. Dari situs resmi perusahaan, Kymco memproduksi sembilan model motor, terdiri atas Free LX, Trend SR, Easy JR, Visa, Free MX, Metixa GLX, Metica GS, dan Spike RR.
Gunadi menerangkan, selain tidak mengirimkan data penjualan, Kymco juga belum membayar iuran anggota. Walau begitu, AISI tidak dapat mengeluarkan sanksi karena tidak tercantum dalam aturan organisasi. “Kami tidak memberikan tenggat waktu pada Kymco terkait pembayaran iuran dan juga penyerahan data. Kami sudah tidak berkomunikasi dengan mereka,” katanya.
Di sisi lain, Gunadi mengaku AISI juga sudah tidak menerima laporan penjualan dari Piaggio. Menurut Gunadi, Piaggio saat ini sudah tidak melakukan proses perakitan. Seluruh motor yang dipasarkan diimpor dalam bentuk utuh dari Italia.
“Piaggio termasuk salah satu pendiri AISI karena tadinya melakukan aktivitas manufacturing. Tapi sekarang sudah tidak memproduksi motor lagi,” ujarnya.
Sementara itu, PT Sentra Kreasi Niaga (SKN) selaku distributor Piaggio yang juga menjual Gilera dan Aprillia membantah berhenti berjualan. Hingga kini pihak SKN mengaku masih eksis di pasar nasional.
“Rata-rata penjualan kami per bulan mencapai 35 unit. Pada Agustus lalu kami bahkan bisa menjual 40 unit. Saya tidak tahu apakah rekap data ini disetor ke AISI atau tidak,” kata Manajer Pemasaran SKN Harry Mantovani.
Ia tidak mengetahui apakah data penjualan sudah dilaporkan ke AISI. Ia mengaku bukan berada di divisi publikasi.
Menurut Harry, Piaggio memiliki 11 model yang ditawarkan di harga Rp 30-260 juta. Seluruh motor diimpor dalam bentuk utuh dari Italia. “Karena masih impor, harga motor kami naik Rp 1-3 juta sepanjang tahun ini dibandingkan dengan tahun lalu,” paparnya.
Meski terbilang mahal, motor Piaggio, kata Harry, masih cukup diminati. Pada tahun lalu, kata dia, Piaggio terjual sebanyak 510 unit. Untuk tahun ini SKN menargetkan penjualan mencapai 450 unit.
“Pasar motor kita tahu sedang melemah akibat gempuran krisis global. Hal ini pasti berdampak terhadap penjualan kami. Namun, sejak Juli penjualan mulai membaik,” katanya.
AISI melaporkan, realisasi penjualan motor nasional hingga Juli 2009 mencapai 3.091.697 unit, turun 15% dibanding periode sama tahun lalu sebesar 3.633.071 unit. Hingga akhir tahun, pebisnis motor memperkirakan pasar motor akan mencapai 5,3 juta unit, turun 14,5% dibanding 2008 sebesar 6,2 juta unit. (coy)


sumber: investor daily

Minggu, 30 Agustus 2009

Mudik Bareng ATPM, Siapa Takut?


foto:fajar
AWAL Ramadhan saya mendapat email yang isinya bertanya soal jadwal mudik bareng para agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor. ”Kamu kan punya banyak kenalan di ATPM, sudah ada info soal mudik bareng?” Ujar teman saya.
Mudik merupakan tradisi yang sulit dipisahkan dari masyarakat kita. Saat Hari Raya Idul Fitri atau yang populer disebut Lebaran, tak pelak berbondong-bondong jutaan kaum muslim bergerak ke kampung halaman masing-masing setelah setahun lebih mencari nafkah. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan kata-kata manakala bersilaturahmi di kampung halaman. Penatnya perjalanan bak tak terasa. Berjam-jam di tengah kemacetan dianggap sebagai rutinitas sebelum bersua sanak saudara. Termasuk bagi para pemudik yang menggunakan sepeda motor. Semangat pantang menyerah bergelora menuju nostalgia masa kanak-kanak di desa.
Walau maut mengintai akibat kecelakaan di jalan, jutaan pemudik tak pernah gentar. Pada 2008, sebanyak 2.732 orang menjadi korban kecelakaan sepanjang arus mudik dan arus balik. Dari jumlah itu, sebanyak 616 orang meninggal dunia, selebihnya luka berat dan luka ringan. Ironisnya, jumlah sepeda motor yang terlibat kecelakaan mencapai 836 kendaraan atau 66,4% dari total 1.320 kecelakaan.
Tahun ini pemerintah memprediksi ada sekitar 16,25 juta pemudik atau naik 15% dibandingkan 2008 sebanyak 15,3 juta. Menurut Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal, dari angka tersebut mayoritas pemudik menggunakan angkutan jalan.
Dari total pemudik 2009, sekitar 2,64 juta adalah pemudik yang menggunakan sepeda motor. Pemudik bikers naik 20% dibandingkan 2008. Maklum, tahun ini jumlah korporasi yang menggelar mudik bareng menggunakan bus jumlahnya ditaksir menurun. Alasannya, situasi ekonomi belum pulih seratus persen. Ujungnya, pemudik memilih naik sepeda motor.

Program ATPM
Setahu saya sudah tiga ATPM yang merancang program mudik bersama yakni PT Astra Honda Motor (AHM), PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), dan PT Minerva Motor Indonesia (MMI).
Dua ATPM sudah sejak beberapa tahun sebelumnya menggelar program mudik bersama. AHM misalnya, pada 2008 memberangkatkan sekitar 1.824 peserta, naik dari 1.504 peserta pada 2007, tahun ini produsen sepeda motor berlogo sayap satu itu berniat memberangkatkan 2.500 bikers. Sedangkan Yamaha memberangkatkan 2.000 peserta pada 2008 atau naik 25% dari 1.600 peserta pada 2007. Sementara itu, Minerva berniat memberangkatkan 500 bikers pada 2009.
Program mudik bersama tentu saja memiliki berbagai persyaratan. Ketiga ATPM tersebut memberangkatkan bikers secara serempak pada 18 September 2009. Hanya YMKI yang pemberangkatannya dilakukan dua gelombang yakni 17 dan 18 September.

Mudik Bareng Honda
AHM pada 2009 akan memberangkatkan bikers dari berbagai kota secara serempak dengan rute; Jakarta-Semarang, Jakarta-Yogyakarta, Semarang-Yogyakarta, Surabaya-Yogyakarta, Bandung-Banjar, dan Bandung-Cirebon-Semarang.
Tentu saja peserta program ini adalah pemilik sepeda motor produk Honda.
Setiap bikers harus membayar uang pendaftaran Rp 50 ribu. ”Biaya hanya untuk rute Jakarta-Semarang/Yogyakarta,” tulis pengumuman AHM pada Minggu (30/8). Konvoy bikers akan dikawal polantas dari Mabes Polri.
Fasilitas yang didapat bikers mencakup; gratis asuransi kecelakaan, bensin, jaket, konsumsi, atribut, dan suvenir.
Tidak hanya itu, Honda juga mengiming-imingi hadiah 4 motor honda, handphone, elektronik, dan helm dengan nilai total Rp 100 juta.
Bikers yang berminat bisa memperoleh informasi rinci sekaligus mendaftar setiap hari pukul 09.00-16.00 WIB. Program yang bekerjasama dengan Grup Kompas itu memiliki no hotline Honda 021-5000989 dan Kompas 021-25676000.
Aspek keselamatan berkendara menjadi fokus Honda. ATPM pemimpin pasar sepeda motor di Indonesia itu membatasi peserta per kendaraan maksimal dua orang dan jika penumpang anak-anak, usia minimal 7 tahun.
Sebelum pemberangkatan pada 18 September dinihari, peserta mudik bareng wajib mengikuti brifieng pada 12 September 2009 pukul 10.00 WIB di Ruang Kharisma Gd AHM, Sunter, Jakarta Utara.

Mudik Yamaha
Sama dengan Honda, peserta mudik bersama Yamaha juga harus menunjukkan SIM dan STNK sepeda motor yang masih berlaku. Setiap bikers yang ingin ikut harus membayar biaya pendaftaran Rp 35.000. Pendaftaran dibuka sepanjang 27 Agustus – 10 September 2009 di dealer resmi Yamaha.
Peserta mudik akan diberangkatkan pada 17 dan 18 September 2009, pukul 06.00
dari Pabrik Yamaha di Pulo Jahe Pulogadung, Jakarta Timur.
Uang pendaftaran Rp 35 ribu mendapat kompensasi yang cukup menggiurkan yakni jaket dan sarung tangan, oli Yamahalube, asuransi kecelakaan, uang bensin Rp 30 ribu, free service (jasa) sepanjang 10 – 16 September 2009, dan diskon 10% untuk produk Yamaha fashion. Selain itu, Yamaha menyediakan fasilitas bus untuk ibu dan anak (khusus balita, untuk rute jalur utara dan selatan usia, bagi anak lebih dari 3 tahun membayar penuh). Hal lain yang menarik adalah program tukar tambah helm lama dengan safety helmet Yamaha dengan harga spesial.

Minerva
Sementara itu, ATPM motor Minerva menggandeng komunitas Minerva Riders Community (MRC) untuk melancarkan program mudik bareng tahun ini. Menurut Presdir MMI Kristianto Goenadi, akan melepas para bikers yang ikut mudik bersama menggunakan sepeda motor pada 18 September 2009.
Ia menuturkan, sekitar 500 bikers Minerva akan mudik bareng ke beberapa kota di pulau Jawa.
Semoga peserta mudik bareng dapat lebih berhati-hati saat konvoy, selain mempersiapkan kendaraan sebaik mungkin, para bikers juga diharapkan menjaga staminanya. Maklum, perjalanan darat saat tubuh berpuasa bakal mengurangi konsentrasi saat berkendara. (edo rusyanto)

Kamis, 27 Agustus 2009

Apa Artinya Dua Helm?


foto:edo

TEMAN-TEMAN saya para penggiat berkendara sepeda motor yang aman dan selamat (safety riding) tak pernah lelah. Mereka menyerukan agar pengendara dan penumpang sepeda motor selalu memakai helm saat bepergian. Sekalipun hanya beringsut sekitar 200 meter dari rumah menuju warung di sekitar kompleks rumah. Tapi, kalau cuma 200 meter kenapa harus naik motor? Jalan kaki justru bisa bikin sehat.
Saat ini, setiap konsumen membeli sepeda motor bakal memperoleh satu helm standar dari para agen tunggal pemegang merek (ATPM) melalui para dealer mereka. Dibilang standar karena kualitas dan tampilan helm tersebut tak lebih bagus dari helm yang dijual di toko helm.
Helm dianggap pelengkap dari penjualan sepeda motor. Karena itu, tak heran jika terkesan alakadarnya. Seorang teman saya pernah tertimpa musibah kecelakaan dan bagian wajahnya terluka karena helm standar dari ATPM tidak maksimal melindungi ketika terjadi benturan. Wajahnya harus dijahit dan sang korban harus merogoh kocek jutaan rupiah.
Kebiasaan memakai helm saat berkendara memang harus terus digelorakan. Pada komunitas yang sudah menjadikan helm sebagai tradisi, kampanyekan ditingkatkan kepada pemakaian helm dengan kualitas yang cukup kuat melindungi pemakai saat terjadi benturan.
Kewajiban para ATPM saat menjual sepeda motor kini tak hanya sebatas memberikan helm. Mereka juga harus mensosialisasikan pemakaian helm yang benar kepada calon konsumen. Anjuran agar senantiasa memakai helm saat berkendara dan memakai dengan benar seperti mengaitkan erat-erat tali helm, ukurannya, ada ruang satu jari di dagu. Pakailah helm yang pas di kepala, jangan terlalu ketat dan terlalu longgar. Sosialisasi tak boleh kendur. Kita ingat, tahun 70-an saat sosialisasi dimulai, tiga korban jiwa melayang di Makassar akibat tertembak saat berunjuk rasa antihelm.
Helm yang diberikan ATPM tentu tidak gratis. Komponen biaya helm sudah barang tentu dimasukkan ke dalam harga jual. Belakangan merebak wacana pemberian dua helm, bisa-bisa bertambah lagi komponen biaya yang bakal mengatrol harga jual sepeda motor. Di tengah bayang-bayang UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang memungkinkan pajak progresif, harga sepeda motor bakal kian mahal. Jika agenda terselubung agar semakin melemah volume kendaraan di jagat ini, target tersebut bisa saja kesampaian. Belum lagi jika kenyataannya daya beli konsumen tidak berangsur pulih usai ditempa krisis ekonomi belakangan ini.
Wacana pemberian dua helm memang masih bergulir. Di tengah itu semua, pekerjaan rumah yang masih tercecer adalah membudayakan pemakaian helm itu sendiri. Jika semakin kokoh di benak masyarakat helm amat vital dalam melindungi pengendara, niscaya tak ada beda pemberian satu helm, dua helm, atau lima helm sekalipun. Bikers pasti dengan kesadaran sendiri membeli helm. Dengan asumsi, penambahan helm yang diberikan ATPM mengatrol harga motor, sedangkan model dan kualitasnya mungkin belum sesuai selera konsumen, bisa dipastikan, konsumen lebih memilih membeli sendiri sesuai model yang diinginkan. Satu saja cukup, selebihnya memilih sesuai selera. Kita tahu, selera tak bisa diseragamkan. (edo rusyanto)

Jumat, 21 Agustus 2009

Bisnis Sepeda Motor Masih Gurih


foto:edo


GURIH bisnis sepeda motor di Indonesia seakan tak pernah sirna. Tiap tahun, kue bisnis ini terus membengkak. Puncaknya pada 2008 yakni 6,2 juta unit. Dengan asumsi harga rata-rata Rp 10 juta per unit, omzet tahun lalu sedikitnya Rp 62 triliun. Hemmmm....kue bisnis yang lezat.
Tahun ini, volume penjualan ditaksir sekitar 5 jutaan unit, dengan asumsi yang sama, omzet 2009 sekitar Rp 50 triliun.
Sepanjang Januari-Juli 2009, volume penjualan sepeda motor versi Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) sebanyak 3.091.697 unit naik tipis 0,02% dibandingkan periode sama 2008 sebanyak 3.090.975 unit. Menggunakan asumsi di atas, omzet tujuh bulan 2009 sekitar Rp 30 triliun. Luarrr biasa. Bisa dihitung, berapa besar pajak yang disumbangkan para produsen sepeda motor ke kas negara.
Penikmat lezatnya bisnis sepeda motor sudah barang tentu prinsipal asal Jepang. Merek-merek sepeda motor asal Negeri Matahari Terbit itu, masih merajai pasar domestik. Sebut saja misalnya, Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki.
Prinsipal asal negeri Saudara Tua itu menggandeng mitra membentuk agen tunggal pemegang merek (ATPM). Honda dipegang oleh PT Astra Honda Motor (AHM) yang mayoritas sahamnya dimiliki PT Astra International Tbk. Lalu, Yamaha diawaki oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) sebagai pemasar dan PT Yamaha Motor Manufaktur Indonesia selaku perakit. Sedangkan Suzuki dikawal oleh PT Suzuki Indomobil Motor (SIM), sementara itu Kawasaki dipegang PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI).
Periode tujuh bulan 2009, PT AHM masih unggul dengan volume penjualan 1.406.482 unit, sedangkan di posisi kedua PT YMKI dengan volume 1.404.724 unit.
Secara akumulasi tujuh bulan 2009, volume penjualan anggota Aisi yang mencakup 7 produsen masih didominasi 4 ATPM motor Jepang yang menguasai 99,92%, sedangkan merek lain yakni Kanzen, Kymco, dan Piaggio 0,08%. Sementara itu, jika dibandingkan dengan produsen sepeda motor di luar anggota Aisi, seperti Bajaj dan TVS (India), Harley-Davidson (Amerika Serikat), dan motor Cina seperti Minerva maupun yang lainnya yang ditaksir sekitar 300-an ribu unit, ATPM motor Jepang pun masih unggul.
Selain dinikmati oleh para ATPM, bisnis sepeda motor juga dinikmati oleh pebisnis pembiayaan (multifinance). Tengok saja laba bersih yang berhasil diraup perusahaan sepanjang Januari-Mei 2009 yang mencapai Rp 3,2 triliun, naik sekitar Rp 600 miliar dibandingkan periode sama 2008 yang sebesar Rp 2,6 triliun.
Kontribusi pembiayaan otomotif sekitar 70% dari total pembiayaan konsumsi. Dari total bisnis pembiayaan, sektor konsumsi nyaris sekitar 70%, lebih besar dari leasing maupun pembiayaan anjak piutang.
Maklum, hampir 90% pola pembelian sepeda motor dan mobil menggunakan sistem kredit lewat multifinance. Tak heran jika pemain sektor ini seperti PT Adira Finance, PT Wom Finance Tbk, dan PT FIF, terus berkibar.
Dengan asumsi di atas, maka laba bersih lembaga pembiayaan di sektor otomotif sekitar Rp 1,6 triliun. Maklum, bunga untuk pembiayaan sepeda motor dan mobil per tahun masing-masing sekitar 30% dan 12%.
Bagaimana dengan ATPM sepeda motor? Kita berandai-andai. Ambil saja keuntungan bersih sebesar 10% dari total penjualan, berarti sepanjang Januari-Juli 2009 mereka meraup sekitar Rp 3 triliun. Hemmm....
Melihat gurihnya bisnis otomotif, tentu saja termasuk sepeda motor, memikat para investor asing masuk ke bisnis lembaga pembiayaan. Tak heran jika kemudian sekitar 50,03% saham PT WOM Finance Tbk dikuasai oleh PT BII Tbk yang notabene 97,52% sahamnya dimiliki Maybank, Malaysia. Atau, PT Adira Finance Tbk yang 95% sahamnya digenggam PT Bank Danamon Tbk. Sekitar 67,86% saham bank tersebut dimiliki oleh Temasek, Singapura. Ngomong soal Singapura, lembaga pembiayaan milik PT Astra International Tbk, pemimpin pangsa pasar sepeda motor, yakni PT FIF, sekitar 50,09% sahamnya dimiliki oleh Jardine Cycle & Carriage, Singapura. Astra melalui PT AHM menguasai sekitar 48% pasar sepeda motor Indonesia. (edo rusyanto)

Rabu, 05 Agustus 2009

Kampanye Safety Riding Ala ATPM


foto:dokumen ibc

PARA agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor di Indonesia terus melenggang memenuhi pundit-pundinya. Sejak 30-an tahun lalu, sedikitnya 44 juta unit sepeda motor diserap oleh pasar Indonesia.
Produk sepeda motor merek Jepang masih mendominasi hingga kini. Lebih dari 90% pasar domestik dikuasai merek asal negeri Matahari Terbit itu. Siapa yang tak kenal Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki. Mereka asyik menggenggam pasar di segala segmen sepeda motor.
Setiap merek tersebut melenggang dengan satu ATPM. Sang pemimpin pasar, Honda, dibesut oleh PT Astra Honda Motor (AHM). Pemegang tampuk nomor dua, Yamaha, diusung oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), lalu Suzuki diawaki oleh PT Indomobil Niaga Indonesia (IMNI), sedangkan sibungsu, Kawasaki dikawal PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI).
Meski mereka adu otot merayu konsumen di Nusantara, bisa dipastikan mereka satu barisan di negeri asalnya. Bersatu menyerbu pasar nomor tiga terbesar di dunia setelah Republik Rakyat Cina (RRC) dan India. Tahun 2008, pasar Indonesia menyerap sedikitnya 6,2 juta unit sepeda motor. Tahun ini, diprediksi menurun menjadi sekitar 4,5 juta unit. Maklum, krisis finansial global yang bermula di Negeri Barrack Obama, AS, masih belum reda benar pada 2009. Konsumen banyak mengencangkan ikat pinggang. Terlebih, kebijakan suku bunga pinjaman perbankan yang masih tergolong tinggi untuk pembiayaan sepeda motor yakni berkisar 30-an% per tahun, belum mampu mendukung daya beli konsumen. Jadilah, penjualan 2009 lebih rendah dibandingkan 2008 yang memang merupakan puncak penjualan sepeda motor sepanjang sejarah Indonesia.
Selama konsumen Indonesia menganggap sepeda motor sebagai alat transportasi yang aman dan selamat, sepanjang itu pula penjualan sepeda motor bakal terus menggeliat. Rata-rata lajut pertumbuhannya bisa 20% per tahun. Luar biasa.
Citra sepeda motor sebagai alat transportasi alternatif untuk kegiatan sehari-hari masyarakat terus dipompa oleh para ATPM. Kini, di era menjamurnya kelompok sepeda motor, disadari atau tidak, kelompok tersebut menjadi perpanjangan tangan propaganda yang efektif bagi ATPM. Ada yang menjulukinya sebagai duta merek (brand ambassador) bahkan ada yang menyebutnya sebagai pemasar tidak langsung (soft marketer). Citra yang dibentuk oleh anggota kelompok sepeda motor minimal adalah soal ketangguhan dan kelebihan sepeda motor mereka. Tentu saja menjadi ajang pencitraan gratis bagi ATPM.

Kampanye ATPM

Terkait pencitraan sepeda motor sebagai alat transportasi yang aman dan selamat, tak heran jika para ATPM sejak pertengahan tahun 2000 mulai gencar mengkampanyekan berkendara sepeda motor yang aman dan selamat alias safety riding. Tidak saja ATPM, lewat jejaringnya, yakni para dealer utama maupun dealer di bawahnya, mereka bahu membahu menggelontorkan program safety riding.
Dengan bungkus untuk ikut menekan angka kecelakaan sepeda motor di jalan, program tersebut memperoleh sambutan hingar bingar dari masyarakat, anggota kelompok sepeda motor, kepolisian, departemen perhubungan, hingga kalangan sekolah serta kampus. Maklum, sejumlah ATPM, seperti PT AHM dan PT YMKI, cukup gencar menyasar siswa mulai tingkat dasar hingga lanjutan, bahkan perguruan tinggi.
Wajar saja para ATPM giat mendonasi program safety riding. Tengok saja kocek mereka yang dipenuhi dari hasil penjualan. Pada 2008, AHM mampu melego 2,87 juta unit. Berapa rupiah yang masuk? Dengan asumsi menggunakan rata-rata per unit Rp 10 juta, AHM sedikitnya meraup Rp 28,7 triliun. Fantastis. Bagaimana ATPM yang lainnya? YMKI menjual sekitar 2,46 juta unit (Rp 24,6 triliun), dan IMNI sekitar 793 ribu unit (Rp 7,9 triliun). Omzet sepeda motor tahun 2008 ditaksir sekitar Rp 62 triliun, naik 31,9% dibandingkan 2007 yang ditaksir sekitar Rp 47 triliun.
Andai 1% saja dari pendapatan para ATPM disisihkan untuk sosialisasi dan kampanye safety riding, berarti terkumpul sedikitnya Rp 620 miliar. Suatu angka yang dahsyat.

Perlu Peningkatan
Kembali soal aktifitas ATPM menggelorakan semangat safety riding, memang bukan semata melalui pelatihan atau program edukasi sesaat. Saat konsumen membeli sepeda motor, para ATPM bisa memberikan buku petunjuk mengenai motor yang dilengkapi petunjuk mengenai safety riding, termasuk membagikan helm berkualitas Standar Nasional Indonesia (SNI). Jika sekarang merebak wacana pemberian dua buah helm, rasanya tak berlebihan jika para ATPM menyetujui wacana tersebut. Meski pada ujungnya, bisa saja ATPM membebani biaya pembuatan helm ke dalam harga jual motor.
Langkah ATPM seperti PT AHM yang mendatangkan alat simulasi serta mendirikan pusat pelatihan safety riding, bisa ditiru oleh ATPM lainnya. Namun, dari kesemua program yang digulirkan ATPM baik edukasi, kampanye, pelatihan, dan hiburan musik yang disisipkan pesan safety riding, masih terasa perlunya peningkatan keseriusan. ATPM bisa membuat program yang lebih serius dengan melakukan observasi pascapelatihan atau workshop. Apakah materi yang diberikan diimplementasikan? Atau, lebih ekstrim lagi, tidak menjual sepeda motor kepada seseorang yang belum memiliki surat izin mengemudi (SIM).
Peran ATPM menjadi vital. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) membuka ruang besar bagi peran masyarakat untuk meningkatkan pemahaman akan berkendara yang aman dan selamat. Maklum, dua tahun terakhir, tiga orang tewas akibat kecelakaan di jalan Jakarta. (edo rusyanto)

Sabtu, 25 Juli 2009

Helm SNI Perlu, Benahi Sistem Transportasi Harus Prioritas


foto:edo


”HELM dari ATPM gak dipake karena kualitasnya kurang.”
Pernyataan itu muncul dari Hermanto, pendengar radi Pas FM Jakarta, Sabtu (25/7) pagi. Ia berharap ATPM sepeda motor memberi helm yang bagus sehingga dipakai oleh pengendara sepeda motor (bikers). Namun, terkait kecelakaan, menurut dia, terpenting adalah memperbaiki infrastruktur jalan.
Pas FM Jakarta, edisi Sabtu, pukul 08.00-09.00 WIB, mengangakt topik Pro Kontra Kewajiban ATPM Sepeda Motor Membagikan Dua Helm SNI untuk Cegah Kecelakaan. Diskusi live interaktif yang dipandu Benny Rachmadi itu menghadirkan bikers yang juga pengamat safety riding Edo Rusyanto, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata, dan Ketua Umum Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Murphy Hutagalung.
Gunadi gencar menolak rancangan ketentuan Departemen Perhubungan (Dephub) untuk mewajibakan ATPM motor memberikan dua unit helm bagi pembeli sepeda motor baru. ”Mau dikasih helm dua atau 10 jika tidak ditertibkan pemakaiannya dan infrastruktur jalan tidak dibenahi, kecelakaan bakal terus terjadi,” papar Gunadi yang juga Presdir PT Indomobil Sukses Internasional Tbk.
Menurut dia, pemberian satu helm saat konsumen membeli sepeda motor adalah merupakan sinyal bagi bikers tentang bahaya yang terjadi jika tidak memakai helm saat berkendara. Terkait standard nasional Indonesia (SNI), Gunadi mengaku, pihaknya mendukung upaya pemerintah untuk pemberlakuan SNI Wajib untuk helm dan para bikers wajib memakai helm ber-SNI.
Edo Rusyanto mendesak agar ATPM terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai keselamatan berkendara (safety riding). ”Selain itu, segera ATPM memberikan helm ber-SNI kepada konsumen,” papar pria yang juga ketua Independent Bikers Club (IBC) itu. Ia menggarisbawahi tentang perilaku penggguna jalan, mulai dari bikers hingga pengemudi angkutan umum.
”Perlu edukasi kepada pengemudi angkutan umum mengenai keselamatan berkendara, saat ini perilakunya juga memprihatinkan,” sergah Edo.
Murphy yang membawahi para pengemudi angkutan umum meminta agar pemerintah membenahi infrastruktur dan mekanisme pemberian surat izin mengemudi (SIM). ”Dan yang tidak kalah penting adalah kebijakan yang berpihak kepada pengelola angkutan umum, seperti kemudahan dalam pengadaan sparepart,” papar dia.
Pentingnya helm bagi bikers sudah menjadi hal mutlak. Karena itu, soal kualitas helm yang diberikan oleh ATPM bagi pembeli sepeda motor harus benar-benar diperhatikan. ”Soal kuantitas, dua atau lebih tidak terlalu mutlak mengurangi angka kecelakaan di jalan tanpa edukasi yang gencar dan efektif dari ATPM motor,” papar Edo.
Penggunaan helm ber-SNI bakal segera diimplementasikan seiring ditandatanganinya UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Bahkan, dalam UU tersebut termaktub sanksi kurungan badan satu bulan atau dendan maksimal Rp 250 ribu bagi bikers yang tidak mengenakan helm SNI. Saat ini ada sekitar 15 produsen helm di Tanah Air, serta puluhan pengrajin helm yang secara total memproduksi sekitar 9-10 juta unit per tahun. Departemen Perindustrian mensinyalir, sekitar 30% helm yang diproduksi di bawah standar. (edo rusyanto)

Rabu, 03 Juni 2009

Pasar Motor Melonjak 18%

AISI REVISI TARGET PENJUALAN

Realisasi penjualan motor nasional sepanjang Mei 2009 melonjak 18% menjadi 455.132 unit dibanding bulan sebelumnya sebesar 385.606 unit. Langkah PT Astra Honda Motor (AHM), produsen dan distributor motor Honda, memompa produksi membuat pasar motor dapat terdongkrak signifikan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor, penjualan Honda pada Mei melejit 33,6% menjadi 208.266 unit dibanding April sebesar 155.789 unit. Sebagai pemimpin pasar, produksi Honda sangat menentukan arah pergerakan pasar motor nasional.

Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menilai, penjualan motor mulai menunjukkan tren perbaikan pada bulan lalu. Hal ini didorong oleh kian rendahnya bunga cicilan kredit sebagai imbas dari pemangkasan BI Rate dari 9% menjadi 7%. Selain itu, ekonomi Indonesia ternyata masih mampu tumbuh di tengah tekanan krisis finansial global.

“Saya harap selisih antara bunga kredit dan BI Rate maksimal hanya 2,5% sehingga bunga cicilan mencapai 9%. Dampaknya akan terasa sekali karena mayoritas pembelian dilakukan dengan sistem kredit,” ujar Gunadi di Jakarta, Rabu (3/6).

Gunadi menilai, posisi likuiditas di perusahaan pembiayaan (leasing) juga mulai mengendur. Hal ini membuka ruang bagi perusahaan untuk mendukung penjualan motor. “Saya harap realisasinya dapat lebih cepat,” paparnya.

Ia mengakui, pasar motor Mei 2009 anjlok 16% dibanding bulan sama 2008 sebesar 542.750 unit. Namun kontraksi pasar pada Mei sudah jauh lebih rendah ketimbang April sebesar 29%. Hingga Mei 2009, pasar motor tercatat melemah 18% menjadi 2.058.942 unit dibanding periode sama 2008 sebesar 2.512.090 unit.

Melihat realisasi penjualan hingga Mei 2008, AISI mempertimbangkan untuk merevisi target penjualan tahun ini dari semula turun 30% menjadi hanya 20%. Namun, kata Gunadi, revisi kemungkinan baru keluar pada awal semester kedua.

Tahun lalu penjualan motor mencapai 6.215.865 unit atau tertinggi sepanjang sejarah. Sedangkan tahun ini pasar motor diperkirakan bakal bergerak di kisaran 4,8-5 juta unit. “Pada semester kedua pasar kemungkinan bakal bergerak karena ada sentimen pameran seperti arena Pekan Raya Jakarta yang biasanya dijadikan ajang promosi bagi ATPM,” jelas Gunadi.


Serangan Balik

Sementara itu, Honda berhasil merebut kembali posisi pertama pasar motor nasional dari tangan Yamaha dengan pangsa pasar 46%. Bulan lalu, Yamaha hanya terjual sebanyak 206.992 unit (44%), di belakangnya Suzuki 36.074 unit, Kawasaki 3.500 unit, sedangkan Kanzen 300 unit.

Direktur Pemasaran AHM Julius Aslan sebelumnya menyatakan, Honda memutuskan untuk memangkas distribusi motor dari dealer ke pabrik (wholesales) pada Meri sebesar 24% untuk menyehatkan posisi stok di dealer.

“Pada Mei kami memutuskan untuk kembali menambah distribusi motor untuk menyeimbangkan stok,” jelasnya.

Menanggapi ini, Wakil Presiden Direktur PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) Dyonisius Beti mengungkapkan, fokus utama Yamaha adalah kepuasan para pelanggan. Sepanjang tahun ini, kata dia, Yamaha terus tumbuh dengan konsisten.

“Market share bukan goal (tujuan), tapi impact (pengaruhnya). Kalau kondisi seperti ini terus, Yamaha masalah waktu saja akan memimpin pasar. Kami bisa melihat tren retail sales kami sudah lama memimpin pasar,” papar dia. (coy)

Minggu, 01 Februari 2009

Industri Motor PHK 1.000 Pegawai



Industri motor nasional diprediksi bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 1.000 orang pada 2009. Langkah ini terpaksa dilakukan pabrikan menyusul penurunan pasar motor nasional sebesar 30% menjadi 4,5 juta unit dibanding 2008 sebesar 6,2 juta unit.

Wakil Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Siswanto Prawiroatmojo mengatakan, total tenaga kerja di seluruh lapisan industri sepeda motor nasional sekitar 100 ribu orang. Dia memperkirakan PHK di sektor motor akan terjadi meski jumlahnya tidak massal.

”Kalau diperkirakan PHK bisa terjadi sekitar 5-10% dari total jumlah pekerja,” papar dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Siswanto, selain menekan kinerja produsen motor, anjloknya pasar motor juga akan memukul industri komponen. Akibatnya, produsen motor dan komponen terpaksa memangkas jumlah karyawan untuk mengurangi ongkos produksi.

Siswanto berharap harga komoditas primer seperti kelapa sawit, coklat dan kopi segera bangkit kembali (rebound). Sebab, hal ini akan menguatkan daya beli masyarakat sehingga penjualan motor ikut terkerek.

PHK Kanzen

Sejauh ini PHK telah dilakukan PT Inti Kanzen Motor (IKM) selaku produsen motor Kanzen. Menurut pengakuan Presiden Direktur IKM ARI H Soeroso, Kanzen telah mem-PHK sekitar 120 orang di pabrik dari total 500 karyawan sejak awal tahun ini. PHK dilakukan terhadap karyawan kontrak dan beberapa karyawan tetap. ”Kami menawarkan paket pensiun dini bagi beberapa karyawan tetap,” katanya.

Menurut Ari, produksi Kanzen anjlok 76% menjadi 239 unit dibanding bulan sebelumnya sebanyak 1.000 unit. Ari menilai, pemangkasan produksi pada Desember merupakan hal yang normal. Sebab, dari tren-tren penjualan pada tahun-tahun sebelumnya, penjualan pada bulan itu biasanya cenderung melemah.

Apalagi, kata Ari, perusahaan pembiayaan menaikkan uang muka dan bunga cicilan motor cukup besar sejak Oktober. Hal ini semakin memperparah penurunan penjualan. Selain itu, rontoknya harga komoditas telah memukul daya beli petani di tempat sentra utama pemasaran Kanzen seperti di Sumatera.

Meski produksi turun tajam Desember, kata Ari, Kanzen masih sanggup membukukan penjualan positif pada 2008. Ari mencatat, penjualan Kanzen tahun lalu meningkat 10% menjadi 32.128 unit dibanding 2007 sebanyak 29.137 unit.

IKM, kata Ari, akan menggenjot produksi hingga 323% menjadi 1.000 unit pada bulan ini. Dia memperkirakan total penjualan Kanzen pada tahun ini terpangkas 6,6% menjadi sekitar 30 ribu unit. ”Kami akan melepas beberapa model baru pada tahun ini guna merangsang pasar,” paparnya.

Siswanto Prawiroatmojo yang juga Wakil Presiden Direktur PT Astra Honda Motor, produsen motor Honda, menyatakan, tidak tertutup kemungkinan AHM akan memangkas karyawan jika produksi tidak sanggup menembus 2,1 juta unit. Tahun lalu, penjualan AHM melonjak 33% menjadi 2,8 juta unit dibanding 2007 sebesar 2,1 juta unit.

AHM merupakan pemimpin pasar motor nasional dengan pangsa pasar 46% pada 2008. Tahun ini AHM menargetkan pangsa pasar sekitar 46-48% dari total pasar sebesar 4-5 juta unit. ”Sekenario terburuknya, jika tahun ini perseroan tidak mencapai (produksi) 2,1 juta unit maka akan ada penyesuaian jumlah karyawan sebesar 5% dari total karyawan kami di pabrik,” kata dia.

Total karyawan AHM, kata Siswanto, saat ini mencapai 13 ribu orang dimana sekitar 10 ribu orang di bagian pabrik. Ia menuturkan, AHM telah merampingkan pegawai pada tahun ini. Namun dia membantah jika perampingan dilakukan karena krisis ekonomi. ”Kami sudah tidak memperpanjang kontrak beberapa karyawan (kontrak) yang under perform. Hal ini lumrah dan terjadi setiap tahunnya,” ujarnya. (coy)

Selasa, 27 Januari 2009

AHM Patok Pangsa Pasar 48%


Manajemen PT Astra Honda Motor (AHM) mematok target penguasaan pangsa pasar sepeda motor sebesar 47-48%. Tahun lalu, dari total pasar 6,21 juta unit, pangsa pasar AHM 46,2%.
“Tahun ini kami memperbesar pangsa pasar karena strategi kami makin kuat,” papar Johannes Loman, direktur pemasaran PT AHM, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (27/1).
Salah satu strategi AHM, jelas Loman, adalah dengan memperkuat kualitas layanan jaringan dan memproduksi produk baru yang sesuai ekspektasi konsumen. Sepanjang tahun ini, jelas dia, pihaknya bakal memiliki 13 item produk. Mulai dari segmen sepeda motor bebek, skutik hingga kategori sport. ”Tahun lalu, jumlah item produk kami sebanyak 10 jenis,” papar dia.
Loman memperkirakan, jika pertumbuhan penjualan sepeda motor stabil sepanjang tahun ini, total volume yang diserap pasar bakal mencapai 5 jutaan unit. “Bahkan bisa saja mencapai 6 juta unit,” tegas dia.
Ia menjelaskan, penjualan sepeda motor sepanjang Januari 2009 ditaksir bakal menyentuh angka 425 ribu unit. Sementara itu, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) sebelumnya memperkirakan penjualan sepeda motor nasional pada 2009 sebanyak 4-4,5 juta unit.
Terkait peningkatan kualitas layanan, Loman menjelaskan, PT AHM terus memperbaiki sistem pelayanan di bengkel milik mereka yakni AHASS. ”Saat ini, jaringan AHASS kami mencapai 3.800 unit,” papar dia. Loman menambahkan, jaringan penjualan anak usaha PT Astra International Tbk itu mencapai 1.600 unit, sedangkan jaringan penjualan suku cadang mencapai 6.500 unit.
Menurut dia, sepanjang 2009, pihaknya tidak menggenjot penambahan jaringan. ”Sekalipun ada penambahan jumlahnya tidak banyak. Itupun untuk daerah-daerah yang belum terjangkau (blankspot),” tutur Loman.

Jawa Terbesar
Sementara itu, General Manager Motorcycle Marketing Division AHM Sigit Kumala menambahkan, dari total 2,8 juta unit penjualan AHM pada 2008, kontribusi penjualan terbesar dari kawasan Jabodetabek. ”Di luar itu adalah kawasan Jawa Timur dan Jawa Barat,” jelas Sigit. Sedangkan untuk kawasan Sumatera, kata dia, kontribusinya saat ini sekitar 20% dari total penjualan. Ia menuturkan, saat harga komoditas melambung beberapa waktu lalu, kontribusi penjualan wilayah Sumatera sempat menembus 30%.
Loman menambahkan, pihaknya pada Februari 2009 bakal menaikkan harga sekitar 1%. ”Kenaikkan tidak bisa dibendung karena fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melemah,” ujar dia.PT AHM dikabarkan bakal mengeluarkan tujuh produk baru pada 2009. (edo rusyanto)

Kamis, 15 Januari 2009

Produsen Motor Naikkan Harga Jual

JAKARTA — Produsen motor nasional menaikkan harga jual motor mulai Januari tahun ini. Langkah ini dilakukan guna mengkompensasi melonjaknya biaya produksi akibat pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Selain itu, pabrikan motor merasa perlu menaikkan harga jual menyusul naiknya bea balik nama (BBN) motor.

PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Yamaha, menaikkan harga dua model andalan mereka yakni Mio dan Vixion sebesar 2%. Harga Mio Soul, misalnya, naik dari Rp 12,8 juta menjadi 13 juta, sedangkan harga Vixion naik dari Rp 19,4 juta menjadi Rp 19,7 juta.

Selain YMKI, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) menaikkan harga untuk beberapa produk andalan seperti Ninja 150R dan RR serta Ninja 250R dengan besaran bervariasi. Harga Ninja 150L naik dari Rp 23,4 juta menjadi Rp 24,1 juta, RR naik Rp 500 ribu dari Rp 31 juta menjadi Rp 31,5 juta, Athlete naik Rp 300 ribu menjadi Rp 14,6 juta. Adapun Ninja 250 R sebagai model terlaris Kawasaki naik Rp 1,6 juta dari Rp 44,9 juta menjadi Rp 46,5 juta.

Sementara itu, ATPM Suzuki juga berencana menaikkan harga Shogun series, New Smash series, Spin series, Skywave series, dan New Satria FU150. Harga Thunder 125 akan naik sekitar Rp 1,2 juta.

Wakil Presiden Direktur YMKI Dyonisius Beti menjelaskan, kenaikan harga jual akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun. Kenaikan ini mempertimbangkan laju inflasi yang mencapai 11% dan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar 20%. Selain itu rupiah juga melemah terhadap yen Jepang dari Rp 83 per yen menjadi Rp 122 per yen.

“Jadi sama seperti produk mobil yang saat ini sudah naik 7%, kenaikan motor akan bertahap hingga 15%. Lebih mempercepat pembelian karena harga akan terus naik secara bertahap,” kata dia di Jakarta, Rabu (14/1).

BBN dan Kurs

Manajer Pemasaran dan Riset Pengembangan Produk KMI Freddyanto Basuki menuturkan, biaya bea balik nama (BBN) selalu naik dari tahun ke tahun sehingga harga motor terpaksa direvisi. Hal ini diperparah dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dia menjelaskan, beberapa bahan baku dan komponen motor sebagian masih diimpor. Dia mencontohkan, untuk motor bebek, porsi impor mencapai 30% sedangkan motor sport seperti Ninja 150 porsi impor mencapai 40%. Barang yang diimpor umumnya bagian mesin seperti cam shaft dan aneka bahan baku seperti plastik, alumunium, dan baja khusus.

“Kalau untuk motor impor sepeti Ninja 250, kenaikan harga jual jelas lebih besar,” terangnya.

Basuki mengaku tidak khawatir penjualan Kawasaki akan tertekan menyusul naiknya harga jual. Sebab, dibanding dengan pabrikan motor yang lain, volume Kawasaki masih terbilang kecil. Ini membuat ruang pertumbuhan masih terbuka lebar.

Tahun ini KMI menargetkan penjualan meroket 100% menjadi 90 ribu unit dibanding 2008 sebanyak 46 ribu unit. KMI akan melepas KLX 150 cc yang merupakan jenis motor trail pada semester pertama tahun ini dengan harga jual sekitar Rp 22 jutaan. “Intinya kami akan merangsek ke segmen yang jarang dimasuki pabrikan besar seperti sport premium dan trail,” jelasnya.

Di sisi lain, PT Astra Honda Motor (AHM) sebagai pemimpin pasar motor nasional sejauh ini belum menaikkan harga jual motor. General Manager Marketing Motorcycle Division AHM Sigit Kumala menyatakan, Honda hingga kini masih mempelajari kemungkinan ini. “Kalau rupiah menguat kami tidak akan menaikkan harga, tapi kalau rupiah tetap lemah maka kami akan menaikkan harga,“ ujarnya

Ketua Umum Asosiasi Sepedamotor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata memperkirakan pabrikan sepeda motor akan menaikkan harga jual hingga mencapai 5%. Sama seperti Dyon dan Basuki, Gunadi menilai, kenaikan harga terpaksa dilakukan karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS. (coy)

Sabtu, 06 Desember 2008

Hari Ini JMS Dibuka

RIBUAN warga Jabodetabek memadati hall A dan B, Jakarta Convention Center (JCC). Magnet yang menyedot warga berbondong-bondong, pada Sabtu (6/12), ternyata adalah Jakarta Motor Show (JMS).
Event yang dibuka Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris itu, menghadirkan sejumlah motor paling anyar dari agen tunggal pemegang merek (ATPM) anggota Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Misal, Kawasaki 600 dan 1.400 cc. “Untuk yang 600 cc kemungkinan masuk ke Indonesia pada semester kedua 2009,” ujar seorang penjaga stand Kawasaki.
Panitia JMS menyebutkan, pameran diikuti 70 perusahaan di antaranya 5 ATPM anggota Aisi yakni PT Astra Honda Motor (AHM), PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), PT Indomobil Niaga Indonesia (Imni/Suzuki), PT Kanzen Motor Indonesia (Kanzen), dan PT Kawasaki Motor Indonesia (Kawasaki). Sementara itu, ATPM di luar Aisi adalah Bajaj dan Harley Davidson. Pameran juga menghadirkan beragam stan aksesoris motor seperti helm, box, ban, knalpot, dan oli.
Lomba unjuk produk di ajang yang digelar tiap dua tahun itu,amat kentara. Mulai dari bebek, sport, motor gede (moge), hingga motor konsep, dan yang bakal masuk pasar pada 2009. Suzuki memamerkan 5 motor canggihnya yakni, Biplane, Crosscage, GSVR, SD-01, dan SD-02. kemudian, Honda yang menyodorkan moge DN01, EVO6, Sport Cruiser, dan Honda Blade 110R. pemain nomor dua di industri sepeda motor domestik, Yamaha, memamerkan skuter FC-Dii, T-Max, dan Vega ZR 115 cc. Sementara itu, Kanzen unjuk kemampuan dengan 4 konsep motor yakni, Hybrid, Konsep Sasori, Multi Purpose Motorcycle (MPM), dan Gemini.
Menperin dalam sambutan pembukaannya menyatakan, pasar industri sepeda motor Indonesia saat ini digarap oleh sekitar 40 industri perakitan, 195 industri komponen lapis pertama, 600 industri komponen lapis kedua, 18 ribu authorized sales/service and parts, serta 12 ribu outlet non authorized sales. ”Ada sekitar 400 ribu tenaga kerja yang terserap,” katanya.


Safety Riding
Aisi sebagai penyelenggara JMS juga menggelar seminar sebagai rangkaian program penurunan angka kecelakaan di jalan raya. Seminar pada Kamis (11/12) itu mengambil tema Usaha Menurunkan Tingkat Kecelakaan Sepeda Motor di Jalan Raya. Pembicara yang hadir di antaranya berasal dari Kepolisian RI, akademisi, praktisi, dan pengamat otomotif. Sementara itu, di antara peserta yang diundang adalah komunitas/klub sepeda motor. ”Target kami peserta yang hadir mencapai sekitar 100 orang,” ujar Bunga, panitia dari Dyandra Promosindo.
Aisi juga menggandeng Mabes Polri untuk membuat panduan bagi pengendara sepeda motor (bikers) sebagai pengguna jalan.Menurut Ketua Umum Aisi, Gunadi Sindhuwinata, Sabtu, kerja sama itu sebagai upaya menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas. Maklum, populasi sepeda motor ditaksir mencapai 40 juta unit pada saat ini. Data Depperin menyebutkan, profil pengguna sepeda motor terdiri atas karyawan swasta (29%), wiraswasta (27%), pelajar/mahasiswa (24%), karyawan pemerintah/TNI/Polri (8%), serta lain-lain (2%).Semangat menyebarluaskan safety riding terasa di booth AHM. ATPM nomor wahid di Indonesia itu membuka stand khusus untuk simulasi berkendara yang aman dan selamat, serta membagikan leaflet safety riding. Di sisi lain, di luar areal Hall A dan B yakni di pelataran parkir JCC, AHM membuka booth untuk peragaan safety riding dan sejumlah games.
”Alat simulasi dan leaflet safety riding bagus untuk menambah pengetahuan kita. Hanya saja pegangan di alat simulasi kurang halus,” ujar Supriyanto, pengunjung dari Jakarta Timur.
Sementara itu, Reza, warga Jakarta Timur juga, mengaku niat datang ke JMS karena untuk menambah informasi soal produk motor. ”Saya mencoba alat dari AHM ini karena sangat bermanfaat,” ujar dia.
Namun, dua pengunjung lainnya, yakni Argo dan Oniel, justru merasa sebaliknya. ”Iklim penyebarluasan safety riding masih terasa kurang, semestinya tiap stand mempunyai fasilitas penyebarluasan safety riding,” papar Argo, wiraswasta.
Oniel, yang sehari-hari juga aktif di komunitas KHCC, menilai, secara umum JMS lebih kepada pameran produk baru dan persaingan bisnis. ”Mestinya setiap stand bisa mensosialiasikan safety riding, misalnya stand produk ban bisa menjelaskan bagaimana tingkat kualitas ban yang aman bagi pengendara,” tukas Oniel.
JMS keempat tahun ini mengusung tema Ride Safely, Enjoy Life. (edo)

Minggu, 30 November 2008

Kanzen Setop Produksi


JAKARTA — Produsen motor nasional merek Kanzen, PT Semesta Citra Motorindo, menyetop aktivitas produksi per 1 November hingga pertengahan Desember tahun ini. Langkah ini terpaksa dilakukan Kanzen menyusul melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Direktur Pemasaran PT Kanzen Motor Indonesia (KMI) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) Kanzen Hermawan Lukiyanto menyatakan, rontoknya nilai tukar rupiah membuat ongkos produksi membengkak, sehingga harga jual harus dinaikkan. Ironisnya, KMI tidak dapat menaikkan harga jual karena khawatir harga motor akan sama dengan motor merek Jepang.
“Kalau motor Jepang masih dapat mensubdisi harga ke dealer, sedangkan kami tidak dapat melakukan itu karena masih merintis. Jadi daripada berat, kami memutuskan untuk menghentikan produksi untuk sementara,” paparnya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Pada perdagangan di pasar spot antarbank, Jumat (28/11), rupiah ditransaksikan di level 12.290 per dolar AS melemah dibanding hari sebelumnya di di level 11.975 per dolar AS. Nilai tukar rupiah telah anjlok sekitar 30-40% dari posisi normal di kisaran Rp 9.000-9.200 per dolar AS.
Harga motor Kanzen lebih murah 20-25% dari motor Jepang. Kanzen Taurus yang merupakan motor jenis bebek di jual di harga Rp 9,4 juta sedangkan Honda Revo Rp 12,05 juta.
Dia menuturkan, sekitar 400 karyawan yang bekerja di pabrik Kanzen di kawasan Karawang berkapasitas 120 ribu unit per tahun dirumahkan untuk sementara waktu. Dia memastikan karyawan akan tetap mendapat pembayaran gaji secara penuh.
Kanzen, jelas Hermawan, akan kembali memproduksi motor pada pertengahan Desember untuk menjaga stok di pasar. Angka produksinya jeblok 43% menjadi sekitar 1.000-2.000 unit per bulan dibanding bulan-bulan biasa di kisaran 3.500 unit.
“Kami tetap membangun pasar yang telah kami rintis sejak delapan tahun terakhir. Kami tidak ingin calon konsumen pindah ke motor lain meski kami harus menjual rugi,” paparnya.
Selain dipicu pelemahan rupiah, penghentian produksi juga disebabkan banyaknya motor yang ditarik dealer menyusul ambrolnya harga komoditas primer seperti kelapa sawit dan karet. Ini membuat petani sulit membayar cicilan. Saat ini, sekitar 90% penjualan Kanzen berada di luar Jawa dan sekitar 90% dari jumlah itu dibeli oleh petani karet dan sawit.
Krisis harga komoditas diperburuk oleh seretnya likuiditas di perusahaan pembiayaan (leasing) akibat guncangan perekonomian dunia. Saat likuiditas perbankan mengetat, perusahaan leasing kesulitan memperoleh dana untuk pembiayaan motor.
Dia melanjutkan, KMI akhirnya membuka akses yang seluas-luasnya bagi perusahaan leasing di luar Semesta Citra Dana (SCD) seperti Adira Finance untuk membiayai pembelian motor Kanzen. Tadinya, sekitar 90% motor Kanzen dibiayai oleh SCD.
KMI merevisi target penjualan tahun ini dari 39 ribu menjadi hanya 35 ribu unit, naik 25% dibanding tahun lalu sebesar 29.137 unit. Per September tahun ini, penjualan tercatat mencapai 28.787 unit, melejit 35% dibanding periode sama tahun lalu sebanyak 21.272 unit. “Saya kira tahun depan penjualan akan turun sekitar20-30% karena ada krisis global,” paparnya.

Pangkas produksi
Sementara itu, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menjelaskan, produsen motor nasional akan memangkas produksi dalam dua bulan terakhir tahun ini menyusul mulai melemahnya permintaan. Menurut dia, produksi motor tahun ini 30% di atas proyeksi pabrikan motor yakni sebesar 15%.
Per Oktober 2008, pasar motor melonjak 40% menjadi 5.319.877 unit menjadi 5.319.877 unit dibanding periode sama tahun lalu sebesar 3.787.985. Tahun ini pasar motor diperkirakan akan menyentuh 6 juta unit, naik 27% dibanding 2007 sebanyak 4,7 juta unit. “Produsen akan menurunkan produksi sampai 30% guna menghindari penumpukan stok,” jelasnya.
Di sisi lain, pemimpin pasar di bisnis motor nasional, PT Astra Honda Motor (AHM), belum menurunkan produksi pada bulan ini. “Sejauh ini kami masih melihat perkembangan dan mempertimbangkan rencana produksi bulan depan. Pada Oktober produksi kami sekitar 230 ribu unit,” ujar General Manager Marketing Motorcycle Division AHM Sigit Kumala. (acoy)

Minggu, 23 November 2008

Bertumbuhnya ATPM


Sebelum berdirinya para agen tunggal pemegang merek (ATPM), peran importir umum sangat besar dalam memasarkan sepeda motor ke Tanah Air. Sekitar tahun 1960-an, secara teknis, lebih praktis mendatangkan sepeda motor secara utuh (completely build up/CBU) ketimbang membangun pabrik sendiri. Para pedagang mengimpor dan mengedarkan sendiri hingga ke tangan konsumen. Namun, meski kini bermunculan para ATPM, peran para importir umum atau distributor non-ATPM masih aktif, walau tidak sedominan sebelum hadirnya ATPM.
Saat ini, para ATPM sepeda motor asal Jepang merajai penguasaan pangsa pasar di Tanah Air. Empat ATPM penguasa pangsa pasar teratas meliputi PT Astra Honda Motor (AHM) ATPM Honda, PT Indomobil Suzuki International (ISI) ATPM Suzuki, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) ATPM Yamaha, dan PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) ATPM Kawasaki. Keempat ATPM tersebut menguasai lebih dari 90% pangsa pasar sepeda motor nasional.

Era serbuan motor asal Jepang yang semula dibawa oleh para importir atau distributor umum kian redup ketika para ATPM bermunculan di Tanah Air. Kini, para ATPM memiliki total kapasitas produksi mencapai sekitar 7,5 juta per tahun.
Beberapa ATPM membentuk Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi). Hingga awal 2008, anggota Aisi meliputi; PT Astra Honda Motor (AHM), pemegang merek Honda, PT Semesta Citra Motorindo (SCM) pemegang merek Kanzen, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) pemegang merek Kawasaki, PT Kymco Lippo Motor Indonesia (KLMI) pemegang merek Kymco, PT Danmotor Vespa Indonesia pemegang merek Vespa, PT Indomobil Suzuki International (ISI) pemegang merek Suzuki, dan PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) pemegang merek Yamaha.

Salah satu persyaratan paling menonjol untuk menjadi anggota Aisi adalah setiap calon anggota harus memiliki fasilitas pembuatan body sepeda motor dan engine compnent.
Saat ini, total kapasitas produksi anggota Aisi mencapai 7,6 juta unit per tahun, jika digabungkan dengan non-Aisi, total kapasitas produksi mencapai sekitar 8 jutaan unit per tahun.
Selain ATPM anggota Aisi pada awal 2007 juga masuk ATPM asal India yakni PT TVS Motor Company Indonesia (TVS) dan PT Bajaj Auto Indonesia (BAI), kemudian PT JRD Bright Motorcycle Industries (JRD) asal Malaysia, dan PT Minerva Motor Indonesia (MMI).
Selain itu, sekitar 80 merek asal Cina juga meramaikan pasar sepeda motor di Indonesia sejak tahun 2000 meski memasuki 2008 sebagian sudah mulai meredup. Beberapa yang bertahan hingga 2008 di antaranya adalah PT Kaisar Motorindo Industri yang memproduksi sepeda motor merek Kaisar. Kemudian, PT Buana Jialing Sakti Motor produsen Jialing. PT Anugerah Cendrawasih Sakti Motor (Happy Motor) dan PT Triangle Motorindo (Viar).
Hanya sepeda motor Kanzen yang mengklaim sebagai sepeda motor nasional dengan teknolologi dan komponen asal Korea. Kanzen diluncurkan pertamakali pada tahun 2000. Sesungguhnya, empat tahun sebelum Kanzen melenggang, mimpi membangun industri sepeda motor yang dibidani anak-anak negeri, sudah mencuat. Adalah PT Timori Putra Bangsa (TPB) milik Hutomo Mandala Putra (Tommy), putera mantan presiden Soeharto, yang menggagas sepeda motor nasional. Proyek yang diawaki 15 insinyur putera-puteri Pertiwi bekerja sepanjang 1996-1998. Mereka mengutak-ngatik Cagiva Motorcycle, Italia untuk menjelma menjadi sepeda motor Timori. Namun, mimpi yang sungguh mulia itu terganjal oleh kerusuhan Mei 1998. TPB pun urung meluncurkan sepeda motor nasional. Kerusuhan Mei 1998 mengguncang Jakarta dan Indonesia. Ratusan jiwa melayang, puluhan pusat bisnis dibakar. Bahkan, kerusuhan itu memaksa Presiden RI kedua, HM Soeharto, harus lengser dari kursi presiden setelah berkuasa selama hampir 30 tahun.Dari sekitar 40 industri perakitan sepeda motor di Indonesia yang masih beroperasi pada 2008, prinsipal asal Jepang masih mendominasi investasi di sektor sepeda motor. Maklum, investasi Jepang secara keseluruhan di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan negara-negara lain. Sepanjang tahun tahun 1967 hingga 2007 total jumlah investasi Jepang mencapai sekitar US$ 40 miliar.

(diolah dari berbagai sumber)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian