Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Selasa, 30 Juni 2009

Selamat Hari Jadi ke 63 Pak Polisi

foto: istimewa

SEGUDANG pekerjaan rumah (PR) masih menumpuk memasuki usia ke 63 tahun Kepolisian RI, Rabu, 1 Juli 2009. Mulai dari mengungkap kasus kriminalitas hingga menata dan menegakkan aturan lalu lintas jalan.

Motto melayani, mengayomi, dan melindungi bak senjata makan tuan. Maklum, dengan jumlah personil hanya sekitar 377 ribu orang, polisi kita keteteran melaksanakan motto tersebut. Penduduk Indonesia yang harus dilayani kini mencapai 235 juta jiwa, artinya, satu polisi melayani 623 orang. Padahal, idealnya satu polisi melayani 250 orang.

Beratnya beban polisi memang cukup tinggi. Seperti dilansir www.komisikepolisianindonesia.com, setiap harinya mereka harus menyelesaikan kasus kriminal paling sedikit sekitar 14.000 kasus.Sedangkan anggaran penyelidikan dan penyidikan tindak pidana sangat terbatas yaitu Rp 552 miliar untuk 2009.
Namun untuk program pemeliharaan Kamtibmas hingga masyarakat menjadi aman Polri memperoleh anggaran Rp 5 triliun. Anggaran ini untuk menggelar operasi kriminal dan menciptakan kondisi aman hingga mampu mengeleminasi tindak kejahatan.
Polri yang pada 2009 memperoleh dukungan anggaran Rp 24.816.713.972, selain untuk pembangunan materil dan fasilitas Polri, dana tersebut untuk pelayanan publik dan birokrasi, serta pelayanan keamanan.

Bagaimana lini lalu lintas? Dengan asumsi sekitar 60% adalah polisi lalu lintas (Polantas), maka satu polisi melayani sekitar 1.039 orang. Jauh dari ideal.

Lalu, bagaimana sibuknya polantas di Jakarta? Jumlah polantas di Jakarta sekitar 4.408 orang. Dengan populasi kendaraan yang mencapai 9,9 juta unit, satu polisi menangani 2.245 kendaraan. Betapa mumetnya seorang polantas.

Taruhlah kendaraan yang lalu lalang di jalan-jalan Jakarta separuh dari populasi yakni sekitar 4,5 juta unit, setiap polantas mengawasi sekitar 1.122 kendaraan.

Kecelakaan

Tingginya angka kecelakaan lalin membuat kita semua bergidik. Pada 2007, setiap hari korban tewas mencapai 32 orang. Sementara itu, korban tewas di Jakarta, setiap hari mencapai 3 orang.

Angka statistik menjadi tak bercerita manakala sekadar penghias laporan rutin. Angka-angka itu menjadi bermakna ketika menyadari bahwa pembunuh sadis ada di depan mata kita. Namanya, jalan raya.

Melihat keberadaan polantas yang terbatas di Jakarta sudah selayaknya kita sebagai pengguna jalan memberdayakan diri sendiri. Mari kita sandarkan nasib kita kepada kemampuan berkendara yang memadai dan saling menghargai pengguna jalan. Sudah pasti kita juga menyerahkan segala hal kepada Maha Pencipta.

Perilaku berkendara yang santun dan mentaati aturan lalin menjadi mutlak. Hanya itu yang kita bisa lakukan di tengah segala keterbatasan aparat keamanan kita. Bagi bikers yang terhimpun dalam kelompok sepeda motor, tak perlu menunggu esok hari. Mulai hari ini, menjadi panutan pengguna jalan lain. Bersahabat, santun di jalan. (edo rusyanto)

Senin, 29 Juni 2009

2011, ATPM Luncurkan Motor DLO

foto:edo rusyanto

PRODUSEN sepeda motor di Indonesia kini berkutat mempersiapkan produk day light on (DLO). Jenis sepeda motor ini memungkinkan lampu utama motor otomatis menyala saat mesin motor dihidupkan. Lampu utama motor menyala terus sepanjang motor dihidupkan.

“Paling cepat dua tahun dari saat ini. Sekarang produsen siap meneliti motor DLO,” ujar Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menuturkan, anggota Aisi yang terdiri atas delapan agent tunggal pemegang merek (ATPM) sudah siap meneliti.

Produk sepeda motor DLO terkait dengan pemberlakuan kewajiban bagi sepeda motor untuk menghidupkan lampu pada siang dan malam hari. Kewajiban tersebut tertuang dalam Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) yang disahkan DPR RI pada 26 Mei 2009.

Menurut Gunadi, saat ini para produsen meneliti kemampuan batere dan instrumen kelistrikan sepeda motor.

UU LLAJ yang disahkan 26 Mei 2009 mewajibkan pengendara sepeda motor menghidupkan lampu utama pada siang dan malam hari. Ancaman denda maksimal Rp 250 ribu atau kurungan badan maksimal satu bulan, jika pengendara mengabaikan aturan tersebut.

Sementara itu, Corporate Communication PT Astra Honda Motor (AHM) Kristanto menyatakan, pihaknya juga sedang mempersiapkan produk tersebut. "Jika itu pemerintah memberlakukan aturan itu kami siap mendukung," tegas dia. AHM adalah pemimpin pasar sepeda motor di Tanah Air.

Menurut Kristanto dan Gunadi, aturan menghidupkan lampu siang hari berlatarbelakang demi keselamatan pengendara di jalan.

Bagi Ketua Road Safety Association (RSA) Rio Ovtaviano, menyalakan lampu bisa membuat sepeda motor terlihat oleh pengendara mobil. "Sehingga potensi kecelakaan bisa dikurangi," ujar Rio. Menyalakan lampu menjadi salah satu bagian dari berkendara yang aman dan selamat (safety riding).

Tahun ini, volume penjualan sepeda motor di pasar domestik ditaksir sekitar 4,6 juta unit, lebih rendah dibandingkan 2008 yang mencapai 6,2 juta unit. Dengan asumsi rata-rata harga per unit Rp 10 juta, omzet sepeda motor ditaksir sekitar Rp 46 triliun pada 2009. Pencapaian itu lebih baik sedikit dibandingkan 2007 yang berkisar 4,5 juta unit. (edo rusyanto)

Minggu, 28 Juni 2009

Bro Tommy MRC ‘Mencium’ Aspal

foto:istimewa

LANGIT cerah. Arus lalu lintas pada Minggu (28/6) di Jl Raya Bogor Pasar, sekitar ujung Jl Djuanda, Depok, cukup ramai. Baru saja usai mengisi Pertamax untuk Vixy merah. Harganya masih Rp 6.000 per liter. Pagi itu, sekitar pukul 09.50 WIB, solo riding menuju titik kumpul (tikum) rombongan Minerva Riders Community (MRC) di SPBU Warung Jambu, Bogor. “Kita masuk Warung Jambu sekitar jam 10.00,” tulis Bro Irsan, ketum MRC, menjawab pertanyaan via SMS dari saya.Tujuan akhir adalah MRC Sukabumi. Hari itu merupakan jadwal kopi darat keliling (Kopdarling) MRC yang kini memiliki sekitar 400-an anggota tersebar di belasan kota di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya ikut rombongan Pengurus Pusat MRC untuk roadshow ke pengurus MRC Bogor dan MRC Bandung. Selain berbincang mengenai dinamika organisasi pengguna motor besutan PT Minerva Motor Indonesia (MMI) itu, yang amat menarik buat saya adalah saat giliran membawakan materi berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Biasanya saya manfaatkan untuk bertukar pikiran mengenai bagaimana implementasi safety riding plus tetek bengek-nya. Hati agak berdebar setelah memeriksa ponsel. Ada panggilan tidak terjawab dari Bro Irsan. Sontak, saya telepon. “Pak Edo, kami kecelakaan, cukup parah. Sekarang ada di klinik Bidan Jenda, Lenteng Agung,” ujar Bro Irsan dengan nada cemas.Saya segera berputar arah. Belakangan saya dapat info, konvoy MRC Depok yang sedianya bergabung sudah tiba di tikum Warung Jambu. Tim MRC yang tertimpa musibah adalah konvoy MRC Jakarta dan Pengurus Pusat. Setelah menerabas ramainya Jl Djuanda pada Minggu pagi karena disesaki oleh pasar kaget di kanan kiri jalan, akhirnya saya melintasi Jl Margonda dan menikmati tersendat-sendatnya lalin di sekitar kampus Universitas Indonesia mengarah ke Jl Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Hampir sekitar 30 menit, akhirnya tiba juga di Klinik Bidan Jenda, itupun setelah bertanya ke seorang penjaga warung di sebelah kampus IISIP. Wajah Bro Irsan tampak semrawut. Ia tidak sendiri. Seingat saya ada Niko, Dani, Hendra, Jay, dan Ardian serta sepupu Niko. ”Bro Tommy dibawa ke RSUD Pasar Rebo, Jaktim,” ujar Bro Irsan.Ia menuturkan, kronologis terjadinya kecelakaan. Menurut Hendra, Bro Tommy ada diurutan ketiga. ”Urutan pertama Efan lolos, bro Ardian diurutan kedua juga lolos, tapi Tommy tidak sempat menghindar, ia terpelanting, melayang dan mencium aspal,” jelas Hendra. ”Padahal, konvoy kita pakai formasi zigzag,” tambah Irsan. Kecelakaan dipicu oleh munculnya dua penyeberang jalan yakni Ida dan seorang kerabatnya. Keduanya terserempet motor Tommy. ”Sekarang ditemani isteri Dani diantar tukang ojek untuk diurut,” jelas Irsan.Bro Tommy menderita lecet di tangan dan luka di wajah. ”Bibir sobek dan mengeluarkan darah, juga di pelipis,” jelas Hendra. Menurut Irsan, Klinik Bidan Jenda tak bisa menjahit luka di pelipis yang cukup dalam. Luka di bibir sempat dijahit klinik kecil tersebut.Setelah berkoordinasi, akhirnya saya dan bro Irsan menuju tukang urut tempat Ida dan kerabatnya mendapat pertolongan. Terlihat lebam di wajah Ida dan kerabatnya, sebagian lecet terlihat di tangan Ida. ”Sudah diurut dan engsel di lutut sudah dibetulkan oleh tukang urut,” tutur Kristi, isteri Dani yang menemani kedua wanita yang berniat ke Lebak Bulus tersebut.


Kualitas Helm

Luka yang diderita Bro Tommy tak akan serius apabila dilindungi oleh helm berkualitas. Saya lihat helm full face yang penuh bercak darah itu, rusak di bagian depan, terutama di sekitar bagian mulut. Kemudian di bagian atas pecah membentuk serpihan dan runcing. ”Bagian itu yang melukai pelipis,” sergah Bro Irsan.Helm menjadi vital bagi pengendara sepeda motor. Penelitian Kepolisian RI tentang kecelakaan menyebutkan, sekitar 90% korban meninggal akibat luka di kepala. Artinya, pengendara sepeda motor butuh helm yang mampu melindungi diri dari benturan ketika terjadi kecelakaan.”Padahal, semalam bro Tommy ingin membeli helm bagus di PRJ, tapi harus indent,” ujar Bro Irsan.”Tommy juga sebetulnya punya helm yang bagus, tapi hari ini ia pakai helm yang kualitasnya rendah,” ujar Bro Hadi, mantan ketua MRC Jakarta di RSUD Pasar Rebo. Bro Irsan akhirnya memutuskan untuk menunda kopdarling di Sukabumi. ”Anehnya, semalam kami juga dapat info rombongan MRC Bogor yang menuju Anyer juga terlibat kecelakaan. Konvoi menabrak penyeberang jalan yang tidak terlihat karena suasana gelap malam hari,” kata dia.Dalam waktu tidak terlalu lama, kecelakaan konvoi menabrak penyeberang jalan sudah terjadi beberapa kali. Sebelumnya, sejumlah pengendara dari HTML juga tertimpa musibah di sekitar kampus Gunadarma dan konvoi Milys di sekitar Tangerang, Banten. Ya! Helm berkualitas menjadi penting untuk melindungi kita. Semoga lekas pulih bro Tommy. (edo rusyanto)

Sabtu, 27 Juni 2009

Sinetron Anti Safety Riding?

foto:edo


Dira, mahasiswi di Jakarta, awalnya gadis pendiam dan kutu buku. Penampilan berambut sebahu dan berkacamata, membuatnya cupu (culun punya), dalam bahasa remaja metropolis Jakarta berarti tidak menarik. Belakangan Dira lebih agresif memikat pria teman kuliahnya. Namun, hanya sekadar pacar. Ia pun berhasil menggandeng pacar, teman kampusnya.
Potret kehidupan Dira adalah roh dari sinetron Cara Cari Pacar, yang ditayangkan SCTV, sekitar pukul 10.57 WIB, Sabtu (18/4/2009).
Kisah Dira bergulir hingga suatu ketika diceritakan, ia sedang berjalan kemudian berpapasan dengan dua pengendara sepeda motor sport. Pengendara pertama menunggangi motor sport 150 cc warna hitam, lengkap dengan perlindungan keselamatan berkendara (safety gear) seperti helm, jaket, dan sepatu. Pengendara kedua, sama-sama anak muda, dengan tambahan boks di sepeda motor warna merah miliknya. Namun, ia tidak menggunakan helm. Hanya menggunakan ikat kepala dari semacam syal.
Baju Dira kotor, ia marah-marah. Dia menganggap klub dan genk motor sama saja.
Pelaku adalah anggota klub motor Peace Brotherhood yang kebetulan saat itu berdua dengan Doni, sang ketua klub yang langsung meminta maaf sekaligus saling berkenalan. Belakangan digambarkan Dira dan Doni keliling naik motor sport. Dira tidak memakai helm bahkan Doni melepas helmnya dipegang Dira.

Potret Masyarakat
Sinetron Cara Cari Pacar, baru satu dari ratusan sinetron yang ditayangkan stasiun televisi kita. Padahal, seperti diakui banyak kalangan, sinetron bisa mempengaruhi para pemirsanya. Bahkan, pemirsa meniru perilaku dalam adegan sinetron.
Itukah persepsi sineas kita terhadap kehidupan kelompok sepeda motor? Kenapa para pemilik stasiun TV tidak peduli terhadap pentingnya pemakaian helm saat berkendara motor? Padahal, UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) mewajibkan pemakaian helm saat bersepeda motor. Sanksinya? Denda sebanyak-banyaknya Rp 250 ribu dan sanksi kurungan badan satu bulan.
Persoalan paling mendasar adalah, kenapa stasiun televisi dan rumah produksi menyebarluaskan pelanggaran hukum sebagai hal yang biasa?
Seorang aktor senior yang dimintai komentarnya mengaku bahwa para aktor dan aktris tak berdaya karena tuntutan skenario. Jika sudah diminta sutradara agar berkendara tanpa helm, maka sang aktor tak kuasa menolak. ”Tapi hal itu karena tuntutan stasiun televisi agar ratingnya terdongkrak,” ujar dia.
Aktor lainnya mengaku, ”Supaya wajah pemain terlihat oleh penonton.”
Walah...masalah bisnis dan estetika sinetron ternyata menggerus kepentingan berkendara yang aman dan selamat. Helm, sebagai pelindung kepala, dianggap menghalangi kepentingan para pemodal meraup keuntungan dari tayangan sinetron? Sampai kapan? (edo rusyanto)

Kamis, 25 Juni 2009

Data Kecelakaan RI Bermasalah

Sumber: Investor Daily, Kamis (25/6)

Departemen Perhubungan (Dephub) mengakui keakuratan data kecelakaan nasional bermasalah akibat penyajian data oleh setiap instansi terkait selalu berbeda. Jika hal tersebut tidak segera dibenahi, dikhawatirkan upaya penurunan tingkat kecelakaan di jalan akan terhambat.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mencontohkan, data yang dilansir Asian Development Bank (ADB) menyebutkan kecelakaan di jalan raya Indonesia mencapai 30 ribu per tahun. Sedangkan data yang dilansir Kepolisian RI pada 2008 menyebutkan kecelakaan di jalan raya hanya 18 ribu.

“Ada persoalan data kecelakaan karena setiap instansi menyajikan data yang berbeda. Karena itu, telah ada kesepakatan agar data kecelakaan nasional dikeluarkan Pusat Informasi Kepolisian RI. Data itu yang jadi referensi untuk upaya penurunan tingkat kecelakaan,” kata Menhub, usai membuka Pekan Nasional Keselamatan Transportasi Jalan (PNKTJ), di Jakarta, Rabu (24/6).

Menurut Menhub, disepakatinya Pusat Informasi Kepolisian RI sebagai penerbit satu-satunya data kecelakaan transportasi secara nasional, sudah sejalan dengan amanat Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) yang disahkan DPR pada 26 Mei 2009.

Sebelumnya, Ketua Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia Giri Suseno juga mengeluhkan Indonesia yang hingga kini belum memiliki data kecelakaan resmi versi pemerintah setiap tahunnya. Beberapa instansi pemerintah memang mengeluarkan data kecelakaan, namun hasilnya selalu berbeda.

Giri Suseno juga mengatakan, sejauh ini selalu muncul perbedaan data antara instansi pemerintah terkait, yakni Kepolisian RI dan Jasa Raharja. Departemen Perhubungan pun tidak memiliki data kecelakaan. Padahal, pada 2004, Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gajah Mada (UGM) telah berani mengeluarkan kompilasi data yang menyebutkan bahwa jumlah kematian di jalan raya Indonesia mencapai 30 ribu orang per tahun, sekitar 65% di antaranya adalah pengguna motor usia produktif.

Dalam kesempatan itu, Menhub mengatakan, jumlah kecelakaan transportasi jalan untuk tahun ini diperkirakan meningkat menjadi 19 ribu kasus. Sekitar 70% di antaranya melibatkan sepeda motor. Kendati kasus atau kejadian meningkat, jumlah kematian atau fatalitas menurun.

“Makin besarnya kontribusi sepeda motor dalam kasus-kasus kecelakaan di jalan raya, hendaknya peningkatan jumlah sepeda motor menjadi pertimbangan dalam pendataan kasus-kasus kecelakaan. Bahkan, bila perlu ke depan dibuat semacam indeks angka kecelakaan per sekian ratus ribu kendaraan bermotor,” papar dia.

Kendati penambahan jumlah sepeda motor berkontribusi besar bagi kecelakaan di jalan raya, lanjut Menhub, bukan berarti hal tersebut bisa langsung diatasi dengan pembatasan penjualan sepeda motor. UU LLAJ pun hanya mengatur pengontrolan jumlah kendaraan di jalan raya dengan menggunakan instrumen batas emisi, guna menekan tingkat kecelakaan di jalan raya.

“Sesuai UU LLAJ, untuk mengurangi tingkat kecelakaan adalah dengan mengurangi tingkat kelalaian pengguna kendaraan. Misalnya, pengendara kendaraan roda empat wajib beristrahat setiap empat jam dan setiap dua jam bagi pengendara sepeda motor,” jelas dia.

Sudah Diteken

Menhub juga mengungkapkan, UU LLAJ yang baru telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. UU itu kini tinggal menunggu penomoran dari Sekretariat Negara.

Menurut Menhub, disahkannya UU itu tidak hanya akan memproteksi kepentingan Dephub dan Polri, tetapi juga semua potensi kekuatan nasional. Selain itu, semua instruksi presiden untuk mengurangi jumlah kecelakaan transportasi jalan telah diakomodasi dalam UU itu. (neh)

Rabu, 24 Juni 2009

Pemerintah Dinilai Kurang Peduli Soal Keselamatan Berkendara

Rabu, 24/06/2009 17:05 WIB

Bagja Pratama - detikOto

Jakarta - Pekan Nasional Keselamatan Jalan, yang baru saja diresmikan hari ini di Theater Tanah Airku, Taman Mini Indonesia Indah, Rabu, (24/6/2009) ternyata masih menimbulkan kekecewaan pada sebagian pihak.Sebut saja Road Safety Association (RSA), selaku Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkutat dalam soal keselamatan berkendara, mengaku kecewa karena minimnya kepedulian pemerintah terhadap isu tersebut.Kesimpulan tersebut karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang direncanakan akan hadir, membatalkan niatan tersebut, karena kesibukan SBY, sehingga digantikan Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal."Kita jadi mempertanyakan kepedulian pemerintah terhadap isu keselamatan berkendara ini," ujar Litbang RSA Edo Rusyanto di sela-sela acara peresmian Pekan Nasional Keselamatan Jalan tersebut.RSA menggambarkan, ketika pertama kali digelar pada tahun 2007 lalu, Presiden sempat hadir, kemudian tahun 2008, menurun jadi wakil Presiden. "Dan sekarang malah nggak ada yang hadir?" ujarnya.Padahal, peran SBY sebagai publik figur sangat diharapkan bisa membantukesadaran masyarakat akan pentingnya keselamatan berkendara.Sehingga, kedepannya RSA mengharapkan pemerintah untuk lebih serius terhadap isu keselamatan berkendara ini. RSA pun meminta ada tindakan yang nyata setelah peresmian ini."Yang penting itu setelah ini, kita mau apa? kalau cuma seremoni saja, tidak akan menyentuh sampai kalangan bawah," ujar Ketua Umum RSA Rio Octaviano menimpali.RSA menambahkan, daripada menghabiskan uang hanya untuk menggelar acara seperti ini, lebih baik uang tersebut dibelikan helm sebanyak mungkin, untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat di luar sana."Kan masih banyak yang tidak mampu membeli helm standar nasional," ujarnya.Sehingga kedepannya, perlu dukungan dari semua pihak untuk memberikan kesadaran akan pentingnya keselamatan berkendara.Karenanya, melalui ketua umumnya, Giri Suseno, Pekan Nasional Kesematan Jalan ini kedepannya akan coba merangkul semua pihak, agar program kampanye tersebut dapat berjalan dengan baik."Salah satunya, mereka akan merangkul kami (RSA. Red). Jadi kami yang mengurusi masyarakat secara langsung, sedangkan mereka lebih pada tingkatan regulasinya, kita lihat saja," ujarnya.( bgj / ddn )

sumber; http://oto.detik.com/read/2009/06/24/170506/1153436/648/pemerintah-dinilai-kurang-peduli-soal-keselamatan-berkendara

Diplomasi Sendratari, Tekan Kecelakaan?


"Tidakkah kamu lihat korban-korban bergelimpangan karena kecelakaan? Bukan lagi soal siapa salah dan benar. Seberapa besar di antara kita saling menghargai? Sejauhmana kebijaksaan kita berbenah diri ketika nyawa manusia menjadi taruhannya."

SUARA lantang itu mengalir dari seorang penari di Teater Tanah Air Ku, TMII, Jakarta. Sendratari berdurasi 46 menit yang dibiayai Departemen Perhubungan (Dephub) menghipnotis ratusan tamu Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) 2009 yang dibuka Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafii Djamal, Rabu (24/6), pukul 09.34 WIB.

Gemuruh tepuk tangan dan sorak penonton terasa membahana di teater yang memiliki kelengkapan teknologi maju berstandar internasional itu.

Pada bagian lain, dialog menceritakan pentingnya menggunakan helm saat berkendara sepeda motor. Semua pesan keselamatan itu dikemas dalam sendratari yang menampilkan seni Jawa, Melayu, Aceh, Muslim, dan populer.

”Masalah keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama. Tak mungkin hanya bisa diselesaikan oleh satu instansi. Harus gerak bersama, sinergi, untuk membangun budaya keselamaatan,” ujar Menhub dalam sambutannya. Karena itu PNKJ kali ini mengambil motto ’Keselamatan jalan tanggung jawab kita semua.’

Ia mengaku, amat sulit menihilkan angka kecelakaan yang hingga kini menelan korban hampir 18 ribu orang pada 2008.

Pada PNKJ 2009 yang bertema ’Sedikit empati dapat menyelamatkan orang lain’, menurut Ketua Panitia PNKJ Giri Suseno, pihaknya merangkul lima instansi yakni Dephub, Depkes, Departemen PU, Kepolisian, dan Depdiknas. ”Perlu kebersamaan untuk mengggalang keselamatan di jalan,” papar mantan Menhub itu.

Giri yang juga ketua Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia itu menuturkan, seluruh kekuatan masyarakat dan pemerintah diharapkan bahu membahu menyebarluaskan pemahaman keselamatan berkendara. Gerakan itu juga merasuk ke generasi muda. ”Komunitas bikers (roda dua) dan komunitas pengguna kendaraan roda empat telah membentuk Road Safety Association (RSA). Mereka juga telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang membantuk tercapainya keselamatan di jalan,” tutur Giri saat menyampaikan laporan ketua panitia.

Seremonial yang semula diharapkan dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu, berlangsung meriah. ”Acaranya OK. Pesannya cukup bagus, tapi saya kecewa karena Presiden tidak hadir,” ujar Ardi, salah seorang peserta dari komunitas sepeda motor Indonesia Bajaj Bikers Community (IBBC).

Menurut Menhub, "Bapak Dr H Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan salam hormat dan maaf tidak dapat hadir karena kesibukan beliau menjalankan tugas-tugas kenegaraan lainnya."

Sumber di kalangan dekat Istana menyebutkan, hari itu Presiden berkunjung ke kantor Harian Kompas dan Kantor Majalah Tempo. Pada PNKJ 2007, SBY sempat membuka dan memberi sambutan, sedangkan PNKJ 2008 dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla.

Sulit Turunkan Kecelakaan

Kegiatan seremonial itu harus dilengkapi kegiatan nyata. ”Terpenting apa yang akan dilakukan setelah ini,” ujar Rio Octaviano, ketua RSA. Hal itu diamini oleh Ditto, pengguna sepeda motor yang hadir di acara tersebut. ”Kita butuh program nyata,” ujar pria yang gemar touring dengan sepeda motor itu.

Seremonial berbiaya ratusan juta rupiah itu memang belum mampu mengerem laju angka kecelakaan di jalan. "Tahun ini diperkirakan angka kecelakaan meningkat menjadi 19 ribu kasus,” ujar Jusman.

Terbukti, di tengah hingar-bingarnya seremonial PNKJ 2009, pada hari itu di luar gedung Teater Tanah Airku, sedikitnya ada lima kasus kecelakaan. Di Jakarta, seorang Polantas harus dirujuk ke RS Polri Kramat Jati karena kecelakaan tunggal di Jl Gatot Subroto, sedangkan sebuah mobil Suzuki Carry bermuatan kaca terguling di Jalan Tol Jakarta arah Tangerang KM 23. kecelakaan yang menelang korban jiwa terjadi di Semarang, Jawa Tengah. Sebuah truk yang mengangkut bawang merah seberat lima ton, mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Tol ruas Jatingaleh, Semarang, menyebabkan satu orang tewas. Korban tewas dalam kecelakaan tersebut merupakan pemilik bawang merah, Warisno (37). Sementara itu, pengemudi truk, Muhammad Nizar (48), warga Jalan Perum Cendana Tulungagung, dan kernet truk, Mujiono (47), mengalami luka ringan.
Seremonial PNKJ yang ditutup sekitar pukul 11.40 WIB itu, diakhiri dengan pembagian helm gratis bagi para tamu. Helm untuk anak-anak itupun diserbu para tamu.”Helmnya sumbangan dari sponsor,” ujar seorang staf Dephub.(edo rusyanto)

Selasa, 23 Juni 2009

Lalu-lintas Indonesia, Pengendara Sepeda Motorkah Biang Keladinya?



Diterbitkan : 22 Juni 2009 - 3:54pm Oleh Feba Sukmana



Menurut data terbaru WHO, 61% dari korban kecelakaan lalu-lintas yang meninggal di tempat adalah pengendara bermotor roda dua. Selain sering dituduh ugal-ugalan, para pengendara motor juga sering tidak mematuhi peraturan lalu-lintas. Benarkah faktor pengendara menjadi alasan satu-satunya di balik tingginya tingkat kecelakaan motor?

Tidak Disiplin
AKBP Nanang, Kepala Subdir Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, dan Edo Rusyanto, Ka. Div litbang Road Safety Association (RSA) sekaligus penasihat Minerva Riders Community (MRC) sepakat, faktor pengendara memang faktor terbesar yang mengakibatkan kecelakaan. AKBP Nanang menyatakan, kedislipinan di antara pengendara bermotor sangat memprihatinkan: "Para pengendara kendaraan bermotor, khusunya roda dua, tidak disiplin. Mereka kerap melakukan pelanggaran lalu-lintas. Dan pelanggaran lalu-lintas biasanya adalah awal kecelakaan di jalan."

Ia menyatakan pengendara bermotor sering sekali melanggar rambu-rambu lalu-lintas. Hal ini diamini Edo Rusyanto: "Pengendara sepeda motor punya kecenderungan melanggar aturan, misalnya, dengan mendahului kendaraan di depannya tanpa perhitungan." Edo tidak menampik kalau memang masih banyak pengendara sepeda motor yang 'bandel': "Bandel dalam arti, tidak pakai helm. Yang lebih parah, bandel karena melanggar peraturan, seperti naik ke trotoar dan tidak mengindahkan lampu merah."

Penegakan Hukum
Padahal, kata Edo lagi, UU lalu-lintas terbaru lebih keras ketimbang UU tahun 1992. "Contohnya, jika pengendara sepeda motor menabrak orang sampai meninggal, bisa didenda 12 juta atau dikurung 4 tahun. Sekarang pertanyaannya, bagaimana aparat hukum secara tegas mengimplementasikan UU ini, meskipun tentu saja di sisi lain, kesadaran pengguna jalan harus dipenuhi dulu."

Aparat kepolisian lalu-lintas yang suka 'main belakang' juga jadi batu sandungan untuk menegakkan UU dan kedisiplinan pengendara sepeda motor. Ketika dikonfrontasi soal aparat yang suka 'berkompromi' AKBP Nanang membantah tegas: "Sudah jelas aturannya, ketika ada pelanggaran, kita harus mengadakan penegakan hukum. Soal penegakan hukum tersebut, kita sudah tidak bisa toleransi lagi. Kalau toh memang ada [polisi yang main belakang, red] itu oknum. Kita sudah menindak tegas." Ia menjamin, oknum polisi yang menyalahgunakan wewenang akan ditindak tegas.

Mulai dari diri sendiri
Dan untuk menanggulangi angka kecelakaan motor yang makin tinggi, Edo menekankan, jangan gantungkan semuanya pada pemerintah dan jangan andalkan aparat. Pengendara bermotorlah yang terutama harus memberdayakan diri dan bertanggungjawab atas keselamatan diri sendiri: "Pertama, taati peraturan, kedua lengkapi diri Anda dengan skill dan alat perlindungan. Yang paling sederhana dan penting, helm yang berkualitas," katanya mengimbau pengguna kendaraan roda dua.

SUMBER:
http://www.rnw.nl/id/bahasa-indonesia/article/lalu-lintas-indonesia-pengendara-sepeda-motorkah-biang-keladinya

Senin, 22 Juni 2009

Sepeda Motor (Tak) Perlu Masuk Tol?

foto:istimewa

SEPEDA motor bisa masuk jalan tol bukan cerita baru. Ingat kisah jembatan tol Rajamandala? Jembatan yang menghubungkan Cianjur dan Kabupaten Bandung dan membentang di atas Sungai Citarum itu, memungut Rp 500 per sepeda motor sekali melintas.

Baru-baru ini, 10 Juni 2009, pemerintah mengizinkan motor melintas di tol Jembatan Suramadu. Tarifnya Rp 3.000, lebih murah dibandingkan sepeda motor diangkut oleh Ferry yang dikenai tarif Rp 6.000.

Jembatan sepanjang 5,4 km itu, menghubungkan Surabaya dan Madura. Legalitas untuk itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 44 tahun 2009 tentang Jalan Tol yang merevisi PP No 15 tahun 2008.

Selama ini, berita sepeda motor melintas di jalan tol secara 'ilegal' kerap kita temui. Baik itu sepeda motor berkapasitas mesin besar milik polisi dan polisi militer yang sedang bertugas mengawal, maupun yang sedang tidak bertugas. Atau dalam kondisi force majeure karena jalan arteri dilanda banjir seperti di ruas tol Cawang-Priok dan tol JORR Simatupang.

Kembali soal legalitas PP No 44 tahun 2009, menurut Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Nurdin Manurung, aturan itu berlaku dengan prasyarat di ruas tol tersebut dibuat lajur khusus. Seperti yang ada di jembatan Suramadu, lajur motor selebar 3 m dan diberi pembatas.

Ke depan, sepeda motor bisa masuk ke seluruh jalan tol?

KECEPATAN

Laju sepeda motor di Jembatan Suramadu dibatasi maksimal 40 km/jam. Pembatasan kecepatan itu terkait dengan faktor keamanan akibat terpaan angin laut. Posisi lajur motor ada di kanan kiri jembatan. Lajur mobil ada di tengah jembatan yang menghabiskan dana Rp 5 triliun itu.

Diizinkannya motor melintas di jembatan itu, tak terlepas dari sikap pemerintah mengakomodasi masyarakat Madura dan Surabaya yang hilir mudik mencari nafkah, belajar, dan silaturahmi. Terlebih, tarif tol lebih rendah ketimbang motor naik ferry yang dipatok Rp 6 ribu per motor.

Bagaimana dengan jalan tol lainnya? Bisa jadi kecepatan sepeda motor bisa dipacu secepat-cepatnya. Terlebih persepsi pengguna jalan saat masuk tol adalah untuk mempersingkat waktu tempuh.

Misalnya saja saat Jembatan Rajamandala masih jadi jalan tol, kecepatan sepeda motor bisa mencapai 80 km per jam. Di jembatan yang dibangun pada 1975 oleh Waskita Karya, dengan panjang total 222 m dengan bentang tengah 132 m dan ke dua bentang samping 45 m, para pengendara sepeda motor bisa melaju kencang tanpa risiko terpaan angin terlalu kencang. Kini, jembatan tersebut sudah tidak menjadi jalan tol lagi.

Kontur jalan di luar kedua jembatan tol itu, umumnya berupa jalan di tengah kota atau jalan yang membelah perbukitan seperti tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Total panjang jalan tol di Indonesia saat ini sekitar 640 km, masih rendah dibandingkan total jalan nasional yang mencapai 35 ribu km. Sekitar 90% jalan tol berada di Pulau Jawa yang memiliki sekitar 210 juta penduduk, dengan populasi sekitar 70% dari total populasi sepeda motor di Tanah Air yang mencapai 50 juta unit.

Risiko kecelakaan semakin terbuka lebar jika lajur khusus sepeda motor hanya sekitar 3 m. Dengan mentalitas pengendara yang suka saling mendahului dengan kecepatan tinggi, misalnya 80 km per jam, boleh jadi risiko benturan kian terbuka lebar. Seorang teman sempat menyeletuk, “Bakal menjadi ajang pembataian baru.” Semoga tak terjadi. (edo rusyanto)

Minggu, 21 Juni 2009

Jakarta 482

foto: edo rusyanto

Sebuah catatan bikers

FALATEHAN atau Fatahillah dan Jan Pieterszoon Coen pasti terkaget-kaget melihat kota Jakarta di usia ke 482 tahun. Fatahillah selaku pendiri Jayakarta (Jakarta) tak bisa membayangkan bahwa lima abad kemudian, Jakarta penuh hutan beton dan ratusan ribu kendaraan lalulalang setiap hari.
Jan Pieterszoon Coen yang menjabat Gubernur Jenderal Batavia pada usia 31 tahun, barangkali tak membayangkan, pada Januari 2009, penduduk Jakarta sekitar 8,51 juta jiwa dengan populasi sepeda motor sekitar 5,1 juta unit.
Maklum, saat Fatahillah berjaya pada 1527 dan JP Coen berkuasa pada 1619-1623 dan 1627-1629, wajah Jayakarta atau Batavia masih dihiasi hutan lebat dan jernihnya kali Ciliwung. Alat transportasi populer adalah perahu dan sado alias delman. Alat transportasi massal yang cukup populer yakni trem baru dikenal pada 1869, itupun baru pada 1881 menggunakan mesin uap.
Jakarta pada 2009 adalah kota dengan seabreg persoalan sosial. Sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia, Jakarta berhias sedemikian rupa. Termasuk soal transportasi darat. Mulai dari infrastrukturnya seperti jalan arteri, jalan tol, rel kereta api, jembatan layang, underpass, hingga angkutan laut dan sungai. Moda transportasinya paling lengkap di Indonesia. Mulai dari bus kota, minibus, angkutan kota, kereta api, taksi, bajaj, bemo, ojek sepeda dan motor, perahu, hingga angkutan carteran, termasuk carteran helikopter.

Semrawut dan Kecelakaan
Meski demikian, wajah kesemrawutan lalu lintas jalan tak pernah terpecahkan.
Gubernur DKI Jakarta saat ini, Fauzi Bowo yang populer disapa Foke menuding sepeda motor sebagai salah satu biang kemacetan lalu lintas jalan. Para penggede Jakarta merujuk pada data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta. Saat ini pengguna sepeda motor di DKI Jakarta tercatat 5.136.619 unit. Dan pertambahannya setiap hari mencapai 1.035 unit. Boleh jadi karena pertumbuhan ekonomi Jakarta tergolong cukup tinggi dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Pada 2009, Foke memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jakarta mencapai 5,5-5,6%. Bahkan sempat menembus 10,17% pada 1994, namun sempat minus ketika kerusuhan membakar Jakarta, yakni -17,49% pada 1998. Ketika itu, Jakarta membara seiring lengsernya Presiden Soeharto dan meruyaknya krisis ekonomi di regional.
Di sisi lain, saat ini infrastruktur jalan yang ada hanya 6% atau 39 kilometer persegi dari luas wilayah DKI Jakarta yang mencapai 650 kilometer per segi. Pertumbuhannya? Ternyata hanya 0,01% per tahun sehingga idealnya peredaran sepeda motor di DKI Jakarta sekitar satu juta unit. Maklum, data Dinas Perhubungan DKI Jakarta menunjukkan, pertambahan jumlah kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 1.117 per hari atau sekitar 9% per tahun. Jika tak segera ada pembenahan pola transportasi, tahun 2014 Jakarta diperkirakan macet total.
Jakarta dikepung kota satelit di sekitarnya seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang. Warga keempat kota tersebut cukup banyak yang mencari nafkah di Jakarta. Para urban bergerak masuk Jakarta menjelang matahari terbit dan kembali ke peraduan menjelang petang dan tengah malam. Terus berputar setiap hari.
Serbuan para urban itu ikut menambah beban jalan Jakarta. Meski sudah dipelototi sekitar 500 kamera cctv, upaya mengurai kesemrawutan lalu lintas jalan masih tersendat-sendat.
Usut punya usut, faktor lain yang punya andil terjadinya kemacetan lalu lintas jalan adalah mentalitas pengendara. Baik itu pengendara sepeda motor (bikers), pengendara mobil pribadi, maupun pengendara angkutan umum. Mentalitas mencari jalan pintas menyebabkan para pengendara saling mendahului, naik trotoar, naik penyeberangan jalan, bahkan menerabas lampu merah. Para penggguna jalan seakan tak pernah jera. Padahal, menurut data Dirlantas Polda Metro Jaya, kasus kecelakaan pada 2008 tercatat 5.965 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.080 orang tewas, 2.443 luka berat dan 4.029 ringan. Kasus kecelakaan naik 9,71% (528 kasus) dibandingkan 2007 sebanyak 5.437 kasus.
Pada 2007 rata-rata yang tewas sepanjang hari di Jakarta 2,97 jiwa, pada 2008 sebanyak 2,95 jiwa, turun 0,46%. Justru korban luka naik 6,41% menjadi 6.472 orang dari 6.082 korban pada 2007. Bagaimana pada 2009? Sejak 1 Januari hingga 21 Juni 2009 jumlah korban sudah sebanyak 347 orang, sebanyak 79 di antaranya tewas. Sedangkan kasus kecelakaan yang menimbulkan korban mencapai 211 kasus kecelakaan, sebanyak 120 melibatkan sepeda motor.
Khusus mengenai ulah pengendara sepeda motor (bikers), Jakarta seakan tak pernah tertidur. Bayangkan, saat ini ada ribuan komunitas atau kelompok sepeda motor di Jakarta. Belasan lokasi dijadikan arena balap liar setiap akhir pekan.
Aksi sejumlah kelompok sepeda motor maupun aktifis berkendara yang aman dan selamat (safety riding) bak bisikan di tengah gemuruh mesin para pelanggar lalu lintas maupun bergelimpangannya korban di jalan.

Basis produksi
Sejak awal tahun 1970-an, Jakarta dikenal sebagai basis produksi sepeda motor paling banyak. Dari total kapasitas produksi sepeda motor di Tanah Air yang mencapai 7,5 juta unit per tahun, sekitar 5,2 juta unit tersebar di Jakarta. Di antaranya adalah sekitar 2,1 juta milik PT Astra Honda Motor (AHM) yakni tersebar di Sunter dan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Total kapasitas AHM mencapai 3 juta unit per tahun, sebanyak 900 ribu unit terpasang di pabrik ketiga AHM di Cikarang, Jawa Barat.
Selain itu, PT Yamaha Motor Manufacturing Indonesia (Yamaha) yang memiliki kapasitas terpasang 3,2 juta unit per tahun, sebanyak 2,8 juta unit berada di Pulogadung, Jakarta Timur.
Itulah Jakarta. Di usianya ke 482 tahun hari ini, Senin, 22 Juni 2009, Jakarta juga memiliki Gubernur yang gemar menaiki motor gede (moge). Bang Foke mengendarai motor Harley Davidson tipe Sportster Nightster 1200 cc berpelat B 6363 BWO. Selamat ulang tahun Jakarta! (edo rusyanto)

Sabtu, 20 Juni 2009

Kenapa Minta Prioritas di Jalan?

foto:edo


PERDEBATAN masih menghangat. Sesekali diwarnai nada suara tinggi.

“Konvoi motor yang mau touring lebih baik menggunakan pengawalan resmi dari kepolisian,” sergah seorang bikers sambil tak hentinya menghisap rokok. Asap mengepul ditiup angin. Untungnya di ruang terbuka.

Sedangkan bikers lainnya menimpali. “Dengan pengawalan resmi, kita bisa mendapat prioritas jalan.”

Walahhhh....perbincangan rupanya seputar perlu tidaknya rombongan touring mendapat prioritas jalan. Didahulukan ketimbang pengguna jalan lainnya.

Saya jadi teringat pernyataan rekan saya di Road Safety Association (RSA) Indonesia. ”Sekarang ini sudah harus diubah paradigmanya. Konvoi harus menghargai pengguna jalan lain, jangan minta perhatian atau prioritas dari pengguna jalan lain,” seloroh rekan saya yang tergolong gaek dalam urusan touring. Jam terbangnya sudah tinggi. Urusan jelajah kota bukan sekadar di Pulau Jawa. Touringnya sudah menyeberang ke Pulau Sumatera.

Kembali soal siapa yang perlu mendapat prioritas saat di jalan. Apakah konvoi touring yang dikawal petugas kepolisian juga harus mendapat prioritas?

Saya buru-buru melongok aturan yang ada. Peraturan Pemerintah (PP) No 43 tahun 1993, khususnya pasal 65, ternyata cukup jelas. Pemakai jalan yang wajib didahulukan ada tujuh. Pertama, kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas. Kedua, ambulance mengangkut orang sakit. Ketiga, kendaraan untuk memberi pertolongan pada kecelakaan lalu lintas. Keempat, kendaraan Kepala Negara atau Pemerintah Asing yang menjadi tamu Negara.

Lalu kelima, iring-iringan pengantar jenazah. Keenam, konvoi, pawai atau kendaraan orang cacat. Dan terakhir, kendaraan yang penggunaannya untuk keperluan khusus atau mengangkut barang-barang khusus.

Usai bolak-balik membaca PP itu, saya juga penasaran membongkar Rancangan Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (RUU LLAJ) yang disahkan DPR RI pada 26 Mei 2009. Pada pasal 134 disebutkan pengguna Jalan yang memperoleh hak utama untuk didahulukan mencakup, pertama, kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas. Kedua, ambulans yang mengangkut orang sakit. Ketiga, kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas. Keempat, kendaraan Pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia. Lalu, kelima, kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara. Keenam, iring-iringan pengantar jenazah. Dan terakhir, konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Nah loh?!

Ternyata bedanya, dalam RUU LLAJ itu ditambahkan soal kendaraan Pimpinan Lembaga Negara RI dan konvoi untuk kepentingan tertentu. Sedangkan yang hilang dari peraturan sebelumnya adalah konvoi orang cacat.

Kok nggak ada kategori untuk konvoi peserta touring kelompok sepeda motor yah? Atau masuk ke dalam konvoi untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas kepolisian RI?

Kalau ya masuk ke bagian tersebut, konvoi touring menjadi rombongan orang egois dong. Konvoi itukan tujuannya untuk bersenang-senang. Kenapa tidak berlaku tertib. Antre dan jangan arogan. Lalu, kenapa harus dikawal segala? Nah...yang ini saya belum punya jawaban yang pas. Ada yang tahu? (edo rusyanto)

Jumat, 19 Juni 2009

Tiap Hari Bertambah 16 Ribu Motor


SETIAP hari sepeda motor yang bisa dibikin oleh produsen kita mencapai 20.574 unit. Luarrrr biasaaa!
Tahun 2008, penjualan sepeda motor di Tanah Air sebanyak 6,2 juta unit atau 16.986 unit per hari. Bandingkan dengan produksi mobil yang mencapai 1.663 unit per hari atau sekitar 607 ribu unit pada 2008.
Sepanjang Januari-Mei 2009, jumlah motor yang terjual mencapai 13.856 unit per hari, sedangkan penjualan mobil sebanyak 1.066 unit per hari.

Rata-rata pertumbuhan penjualan mobil dan motor setiap tahun bisa menembus 20%. Fantastis!
Tak heran jika populasi sepeda motor bisa mencapai 50 juta unit pada saat ini. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia, setelah Cina dan India.
Apa artinya itu semua? Mari kita tengok yang paling dekat. Jalan-jalan di Indonesia makin penuh oleh motor dan mobil. Maklum, pertumbuhan pembangunan jalan rata-rata per tahun di bawah 5%. Bahkan, khusus di Jakarta, pertumbuhan jalan di bawah 1%. Tak pelak, pengamat memprediksi pada 2015, lalu lintas jalan Jakarta kian amburadul.
Universitas Indonesia menaksir, kemacetan Jakarta menimbulkan kerugian sekitar Rp 43 triliun per tahun.
Selain kemacetan, problem lain yang membuat miris adalah meruyaknya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, luka ringan, dan luka parah.
Angkanya? Korban jiwa rata-rata 3 orang per hari. Mengerikan. Kecelakaan masuk dalam 10 besar penyebab kematian di Indonesia. Badan kesehatan dunia (WHO) menyebutkan, 65% korban kecelakaan di Indonesia adalah para pengendara sepeda motor (bikers).
Sebagian orang menilai, makin bertambah kendaraan maka kasus kecelakaan ikut merangkak naik. Pararel.
Apakah artinya jika dibatasi volume produksi kendaraan jumlah kecelakaan juga ikut berkurang? (edo rusyanto)

(Semua) Korban Kecelakaan Punya Hak Santunan?

foto: edo rusyanto


Puluhan ribu korban kecelakaan di jalan. Mayoritas menderita luka, selebihnya, tewas. Ironisnya, mayoritas adalah pengendara sepeda motor alias bikers.Negara punya perangkat untuk mengurangi pedihnya menjadi korban kecelakaan. Di situlah, petugas PT Jasa Raharja harus tampil. Melayani para korban, sedikit meringankan beban luka dan imbas finansial. Uang santunan dari Jasa Raharja adalah uang masyarakat. Uang kita juga yang dikutip saat perpanjangan surat tanda nomor kendaraan (STNK).Bagaimana kita memproses santunan dari Jasa Raharja? Jangan bandingkan dengan korban kecelakaan bus yang menelan korban jiwa hingga puluhan atau korban kecelakaan pesawat terbang yang langsung menjadi komoditas berita media massa. Peristiwa kecelakaan seperti itu pasti buru-buru dipakai petinggi Jasa Raharja untuk dompleng publikasi bahwa mereka sudah 'bekerja'. Prosesnya menjadi mudah bahkan ada kecenderungan BUMN itu menjemput bola. Bagaimana prosedurnya jika bikers tertimpa kecelakaan? Hemm...memang lumayan panjang, tengok saja http://www.jasaraharja.co.id/page.cfm?id=9. Hal yang perlu diingat hak santunan menjadi gugur / kadaluwarsa jika permintaan diajukan dalam waktu lebih dari 6 bulan setelah terjadinya kecelakaan dan tidak dilakukan penagihan dalam waktu 3 bulan setelah hak dimaksud disetujui oleh Jasa Raharja. Ribet ya?Santunan yang berhak diterima korban kecelakaan sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.37/PMK.010/2008 tanggal 26 Februari 2008 untuk korban meninggal dunia sebesar Rp 25 juta, catat tetap (maksimal) Rp 25 juta, lalu biaya rawatan (maksimal) Rp 10 juta dan biaya penguburan Rp 2 juta. Mulai hari ini, setiap bikers hendaknya kian waspada dan memahami hak perlindungan di luar asuransi yang sudah dimiliki masing-masing. Setidaknya, Jasa Raharja bisa sedikit meringankan beban derita sang korban maupun keluarganya. (edo rusyanto)

Selasa, 16 Juni 2009

Pekan Nasional Keselamatan Jalan 2009



Mengandalkan Tanggungjawab Masyarakat

Pemerintah kembali menggaungkan perlunya masyarakat mempunyai tanggungjawab atas keselamatan di jalan. Untuk itu, pemerintah menggelar seremonial Pekan Nasional Keselamatan Jalan (PNKJ) 2009.
Namanya juga seremonial, isinya ada pagelaran tari, musik, dan teater. Tempat peresmiannya pun di Teater Tanah Airku, TMII, Jakarta, pada 23 Juni 2009.
"Insya Allah diresmikan oleh Presiden SBY," kata Giri Suseno, ketua p
anitia PNKS 2009, di Jakarta, Selasa (16/6).
Giri Suseno, yang juga mantan Menhub itu, menjelaskan, target kegiatan PNKS untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat bahwa semua punya tanggungjawab atas keselamatan di jalan. Bukan tanggungjawab salah satu instansi. Karena itu, slogan tahun ini adalah Sedikit empati dapat menyelamatkan orang lain. "Penekanannya ada dua yakni edukasi dan penanganan korban pasca-kecelakaan," ujar Giri.
Sedangkan Suripno, direktur Keselamatan Transportasi Keselamatan
Jalan Dephub, mengatakan, saat ini target PNKJ adalah membangun komitmen bersama dalam bentuk deklarasi bersama dan diimplementasikan. ”Tahap selanjutnya adalah menurunkan angka kecelakaan,” kata dia.

PNKJ kali ini adalah kali ketiga, setelah yang pertama digelar pada 2007. Kala itu peresmian dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kegiatan kedua digelar tahun lalu dimana yang meresmikan adalah Wapres Jusuf Kalla.

Seremonial PNKJ tidak mampu menekan angka kecelakaan. Sekadar gambaran, di Jakarta, menurut data Dirlantas Polda Metro Jaya, angka kecelakaan 2008 tercatat 5.965 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 1.080 orang tewas, 2.443 luka berat dan 4.029 ringan. Kasus kecelakaan naik 9,71% (528 kasus) dibandingkan 2007 sebanyak 5.437 kasus.

Pada 2007 rata-rata yang tewas sepanjang hari di Jakarta 2,97 jiwa, pada 2008 sebanyak 2,95 jiwa, turun 0,46%. Justru korban luka naik 6,41% menjadi 6.472 orang dari 6.082 korban pada 2007. sedangkan tahun ini, muali 1 Januari hingga 13 Juni 2009 jumlah korban sudah sebanyak 332, sebanyak 77 tewas. Sedangkan kasus kecelakaan yang menimbulkan korban mencapai 204 kasus kecelakaan, sebanyak 115 melibatkan sepeda motor dan 89 melibatkan mobil.

Giri menjelaskan, kegiatan PNKJ bersifat nasional. “Sudah 20 22 provinsi siap berpartisipasi dan sektor swasta untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan

yang telah dilakukan sejak April hingga Juli 2009,” katanya.

Selain itu, akan dilakukan donasi 1.000 helm SNI untuk anak per provinsi. ”Helm ini untuk anak-anak karena selama ini kurang diperhatikan, anak-anak juga perlu memakai helm,” kata dia.

Saat disinggu mengenai perlunya figur aparat keamanan yang memberikan contoh kepada masyarakat dan perlunya aparat bertindak tegas, Giri mengaku, Global Road Safety Partnership (GRSP) Indonesia atau Gotong Royong Selamatkan Pemakai jalan Indonesia, menerapkan konsep gotong royong. “Termasuk dari aparat keamanan,” katanya.

Enam Langkah

Giri menjelaskan, PNKJ merujuk pada resolusi PBB nomor :A/Res/60/5 tanggal 1 Desember 2005 mengenai " Improving Global Road Safety " yang pada intinya agar setiap negara dan masyarakat nasional maupun internasional lebih meningkatkan kepedulian di bidang keselamatan jalan. PBB memperbaharui dengan Resolusi No 62/244, 25 April 2008, yang isinya mempertegas rekomendasi World Report on Road Traffic Injury Prevention dan kerjasama inisiatif di bidang keselamatan jalan.

Menurut Suripno, terkait oleh itu, Presiden SBY pada 2007 telah menginstruksikan enam langkah terkait keselamatan jalan. “Saat ini telah diperkuat oleh UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang disahkan 26 Mei 2009,” ujar dia.

Instruksi yang diberikan SBY itu mencakup pembentukan wadah koordinasi antar instansi untuk mewujudkan keselamatan transportasi jalan. “Sesuai UU wadah itu berbentuk Forum Komunikasi,” katanya. Kedua, perlunya cetak biru Program Keselamatan semua instansi terkait. Kemudian, membangun sistem informasi keselamatan transportasi jalan. Keempat, merumuskan sumber pendanaan yang dapat membiayai program keselamatan secara berkelanjutan. “Hingga kini, masalah sumber pendanaan masih belum jelas. Karena itu memanfaatkan sumber-sumber yang ada di antaranya pendapatan pemda dari pajak kendaraan bermotor,” jelas Suripno.

Langkah kelima adalah melakukan pendidikan berlalulintas secara dini dan keenam adalah mensosialiasikan perilaku berlalu lintas yang baik terkait hukum lalu lintas serta etika berlalu lintas. (edo rusyanto)

Senin, 15 Juni 2009

5 Tewas, Boncenger Harus Lebih Waspada

foto:istimewa


PENUMPANG sepeda motor (boncenger) harus lebih waspada saat berkendara. Sepanjang 1 Januari sampai 15 Juni 2009, dari lima kasus tabrakan yang melibatkan sepeda motor, sang boncenger tertimpa paling naas. Tewas. Sang pengendaranya (bikers), luka atau luka parah.
Pada periode tersebut, dari 115 kasus kecelakaan sepeda motor yang menimbulkan korban di Jakarta dan sekitarnya, 39 jiwa melayang sia-sia. Sedangkan 111 orang menderita luka ringan dan luka parah. Itu baru dari kasus yang tercatat dan dipublikasikan di http://www.lantas.metro.polri.go.id/.
Kembali soal boncenger. Empat kasus menunjukkan, ketika terjadi benturan antara sepeda motor dengan kendaraan lain, boncenger terlontar dan terlindas roda bus atau truk kontainer. Satu kasus, sang boncenger terlontar dan membentur aspal.
Melongok empat kasus tersebut memperlihatkan bahwa saat terjadi benturan, boncenger lebih mudah terlontar karena tidak memiliki pegangan yang kokoh. Atau tidak berpegangan dengan kokoh. Sedangkan sang bikers berpegangan pada stang motor. Karena itu, dalam setiap kesempatan ngobrol soal safety riding, kerap mencuat anjuran agar boncenger berpegangan erat dengan bikers. Tubuh penumpang dan pengendara seakan menyatu. Faedahnya, ketika terjadi benturan, tubuh boncenger tidak mudah terlontar. Ada yang memiliki ide lain? (edo rusyanto)

Moge dan Mocil

foto:edo


AWAL pekan ini mencuat lagi sorotan terhadap perilaku pengendara sepeda motor besar. Pengendara motor (bikers) mencacimaki dan memukuli seorang pengendara mobil, di kawasan Cisarua, Bogor. Kasusnya kini ditangani Polsek Cisarua, Bogor.

Di belantara persepedamotoran, ada istilah motor gede (moge). Istilah ini cukup kondang. Tampilannya amat mencolok. Dari segi tongkrongan, kapasitas mesin motor kelompok ini mulai dari 400 cc hingga 1.000 cc. Bentuknya yang tambun tentu amat mencolok mata jika berseliweran di jalan. Dari sisi pengguna, saat ini mayoritas dari mereka adalah masyarakat berkocek tebal. Maklum, harga moge, terlebih besutan Eropa dan Amerika Serikat (AS), paling murah Rp 300 juta. Hemmm...Tak heran penggunanya dari level pengusaha, pejabat, selebritas, hingga para pensiunan jenderal.

Di luar moge, populasi paling dominan di Tanah Air adalah sepeda motor berkapasitas mesin 100-250 cc. Jika 400 cc keatas dijuluki moge, semestinya kelompok ini dijuluki motor kecil (mocil). Dari populasi sepeda motor yang ditaksir sekitar 50 juta unit, kelompok ini bisa mencapai 99%.

Sinisme terhadap pengendara (bikers) moge beraroma kecemburuan sosial ekonomi. Tak pelak, sedikit saja perilaku menyimpang, seperti memukul pengendara mobil, mereka menjadi komoditas pemberitaan. Santapan empuk pers.

Dalam kasus arogansi pengguna jalan, sejatinya bukan monopoli bikers moge, bikers mocil pun amat meruyak. Termasuk pengendara mobil pribadi dan angkutan umum.

Arogansi mocil yang menimbulkan korban luka bahkan korban jiwa, sempat mencuat di pemberitaan media massa seperti yang terjadi di Bandung, Subang, dan Garut. Sedangkan arogansi mocil juga terlihat saat konvoy. Meminta prioritas jalan dan menutup jalan.

Emosi Tersulut

Persoalannya, kenapa emosi mudah disulut? Tekanan ekonomi, sulitnya hidup karena krisis finansial global menyeret anarkisme? Semrawutnya lalu lintas jalan membuat bikers tak sabaran, sehingga mencoba mencari jalan pintas menerbas aturan lalin? Lalu ketika terjadi benturan, menjadi api kecil yang menyulut bensin emosi terpendam?

Para psikolog dan ahli ilmu sosial mungkin bisa menjelaskan secara ilmiah.

Sebagai pengguna jalan yang sehari-hari menggunakan sepeda motor kecil, penulis menghirup aroma mudahnya para bikers terprovokasi. Tak heran jika angka korban kecelakaan di jalan di Jakarta dan sekitarnya terus membubung. Sepanjang Januari-Juni ini saja, sudah 77 korban jiwa dan 254 korban luka ringan dan parah. Itu baru angka yang tercatat.

Arogansi bersemayam di mana-mana, bikers mocil, moge, mobil pribadi, dan angkutan umum. Sampai kapan ini berlarut? (edo rusyanto)

Kejujuran Mengungkap Jejaring Sosial

Resensi Buku: Situs Gaul, Gak Cuma Buat Ngibul


MENULIS dengan jujur kadang sulit. Ada saja niatan membelokkan fakta dengan harapan dan opini pribadi. Lebih sulit lagi, menulis sesuatu yang ilmiah menjadi popular. Enak dibaca.
Merry Magdalena, punya bakat untuk menulis keduanya: Jujur dan Enak dibaca. Hal itu ia buktikan dalam buku terbarunya Situs Gaul, Gak Cuma buat Ngibul!
Ia dengan gamblang membuka sisi gelap dan sisi terang jejaring sosial dunia maya. Sebuah entitas yang kini mengoyak sedikitnya 10% aktifitas kehidupan masyarakat kota. Artinya, kalau 24 jam kehidupan sehari, maka paling gak 2,4 jam dihabiskan menggunakan fasilitas dunia maya untuk berinteraksi. Termasuk transaksi membeli buku, baju, bahkan (maaf) obat kuat.
Dunia maya bisa menjadi ajang interaksi dominan bagi sebagaian masyarakat kota yang ‘kesepian’ di tengah padatnya aktifitas mereka. Via dunia maya, seseorang merajut persahabatan, asmara, ekonomi bisnis, hingga interaksi politik. Seseorang yang mendapat kesulitan berinteraksi face to face untuk merajut asmara, tertolong oleh jejaring sosial. Ia bisa melatih untuk ’berbicara’ dengan calon sang kekasih. Walau saat kopi darat (kopdar) yakni istilah untuk bertemu face to face selain berkomunikasi via internet, latihan berbicara tadi seringkali tidak efektif. Walau, ada juga yang sukses. Penulis bahkan dengan jujur menyebut, dirinya mendapat pujaan hati tertolong dunia maya.
Urusan merintis bisnis dan urusan politik juga dibeberkan oleh Merry. Ia membeberkan lewat testimoni para tokoh-tokoh penting seperti Irfan Setiaputra, CEO Cisco Indonesia dan Nukman Luthfie, CEO Virtual.co.id. Soal Barack Hussein Obama juga diulas. Termasuk bagaimana Obama memiliki tiga juta teman di fasilitas jejaring Face Book-nya.
Sebenarnya, buku ini bisa lebih dahsyat lagi mengorek sebuah sisi interaksi masyarakat tertentu yang memanfaatkan internet atau jejaring sosial. Misal saja, komunitas atau klub sepeda motor yang kini meruyak di tengah kita. Pada 2008, setidaknya ada 900-an kelompok sepeda motor yang memanfaatkan internet sebagai ajang interaksi. Dari dunia maya mereka menggerakkan roda organisasi, menautkan silaturahmi, dan melahirkan ide besar. Termasuk memperluas berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Maklum, populasi sepeda motor kita sedikitnya mencapai 50 juta unit, alias hampir 25% populasi penduduk kita.

Perbedaan
Buku terbitan PT Gramedia Pustaka Utama tahun 2009, juga mengulas perbedaan tiap situs jejaring sosial. Termasuk apa saja yang harus diperhatikan oleh setiap pengguna internet. Penulis dengan lugas membongkar kelemahan yang mungkin menimpa pengguna internet jika tidak berhati-hati. Bisa jadi korban pemerasan oknum penjahat.
Buku setebal 175 halaman dan dicetak di atas kertas koran itu, sedikitnya membuka pencerahan buat kita bahwa masa depan kehidupan masyarakat kita makin paper less. Bahkan, bisa jadi kian individu. Semua asyik di depan monitor pc, laptop, dan mobile phone.
Enak dibaca? Penulis meruntutkan penulisan dari mulai memperkenalkan apa saja itu situs jejaring sosial, lalu manfaatnya, kelemahannya, hingga testimoni. Beragam tips yang disodorkan juga bisa dijajal. Siapa tahu mujarab untuk cari jodoh. Testimoni dari beberapa tokoh dicoba memperkuat semua tips atau fakta yang diulas penulis. Walau mengambil contoh hanya dari beberapa bagian sisi kehidupan masyarakat, buku ini masih tergolong lumayan untuk dibaca. Pembaca cukup merogoh kocek Rp 30 ribu, sudah bisa mengantongi segudang tips bergaul di dunia maya. Mau? (edo rusyanto)

Minggu, 14 Juni 2009

Pekik Safety Riding di Pantai Ancol

RIBUAN orang memadati pantai Carnaval, Ancol, Jakarta Utara. Minggu (14/6), sekitar pukul 12.55 WIB, mereka menatap panggung berukuran raksasa sekitar 30x20 meter. Terik matahari seakan tak meruntuhkan semangat mereka menyimak ‘ceramah’ tentang berkendara yang aman dan selamat (safety riding/SR).
Ya. Diterpa sepoi angin pantai laut Jawa, para karyawan perusahaan ekspress yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspress Indonesia (Asperindo) masih asyik menyimak. Walau, dari sekitar 11 ribu yang diperkirakan hadir dalam Gebyar Asperindo 2009, mayoritas sudah beringsut dari areal seputar panggung. Sebagian menikmati rekreasi pantai dan fasilitas lain di kawasan wisata tersebut. Mereka telah dihibur aneka rasa musik, mulai dari pop barat seperti lagu-lagu The Beatles, hingga pop nasional serta beberapa lagu rock. Tak lupa selingi pengundian doorprize dan diiming-imingi doorprize utama nonton MotoGP di Jerman.
Hemmm...apa masih menarik materi SR di tengah terik matahari? Sempat bertanya-tanya dalam hati, ketika tim Road Safety Association (RSA) yang dipimpin sang ketua Rio Octaviano, dewan pembina Syamsul Maarif, ketua dan divisi litbang RSA Edo Rusyanto dan Benny, serta divisi humas Yudhi Bewok, memasuki pelataran pantai Carnaval.
Pertanyaan itu terbantahkan, ketika Syamsul membuka ‘ceramah’ dari atas panggung tentang keberadaan RSA sebagai LSM yang peduli kepada SR. Ia memperkenalkan tim yang datang siang itu.
Edo membuka materi penyuluhan seputar tingginya angka kecelakaan yang diderita pengendara sepeda motor (bikers). “Kenapa terjadi kecelakaan?” Pertanyaan pembuka dilontarkan Edo ke para penonton yang sontak dijawab dengan riuh. “Karena tidak pakai helm” ada juga yang menjawab lantang, “Helmnya tidak diklik dan hanya memakai helm cetok.”
Sepintas, peserta siang itu memahami pentingnya perlindungan diri saat berkendara. Edo melanjutkan dengan pemaparan data sepanjang Januari hingga 13 Juni 2009. “Sudah 39 jiwa bikers yang tewas di jalan Jakarta dan sekitarnya,” papar Edo. Pria yang juga ketua Independent Bikers Club (IBC) itu juga memaparkan jumlah korban luka berat dan ringan.
“Secara total, baik itu bikers, driver maupun pejalan kaki, korban yang luka dan tewas mencapai 311 korban, 77 diantaranya tewas,” jelas Edo.

PERAGAAN
Syamsul yang dedengkotnya RSA menyambung materi dengan pemaparan teknis SR. Mulai dari cara mendahului yang aman, cara pengereman, hingga pentingnya memeriksa kondisi sepeda motor sebelum berkendara. “Jangan sampai kita menambah jumlah korban kecelakaan,” papar pria yang juga penggiat SR di Honda Tiger Mailing List (HTML) itu. Bagi Syamsul, mengingat kecelakaan berpotensi merugikan secara ekonomi terhadap korban terlebih jika korban adalah tiang ekonomi keluarga, maka sebagai lelaki yang bertanggung jawab, sudah semestinya bikers berkendara dengan menerapkan kaidah SR.
Pemaparan Syamsul mengenai teknis berkendara diperagakan oleh Benny dan Yudhi. Benny dengan Yamaha 400cc-nya meliuk bersama Yudhi yang memakai Yamaha V-ixion 150cc. Mereka memperagakan cara mendahului yang salah dan yang benar. Juga cara berputar serta pengereman yang efektif.
Sebelum usai, Rio melontarkan harapan agar bikers lebih peduli kepada SR.
“Materinya tidak membosankan, hanya terlalu cepat,” ujar Boeray, salah seorang panitia yang juga menyimak ‘ceramah’ RSA.
Sementara itu, panitia sekaligus peserta lainnya, Teddy bahkan memiliki ide agar dibuat suatu forum yang lebih intens. “Kita bisa rancang kegiatan pelatihan yang lebih serius bagi anggota Asperindo,” ujarnya.
Matahari masih di ubun-ubun saat tim RSA meninggalkan Pantai Carnaval, Ancol. Tiga puluh lima menit waktu yang terpakai siang itu terasa amat singkat. Setidaknya, satu lagi virus SR tertanam di benak masyarakat, khususnya warga Asperindo yang hari itu merayakan ulang tahunnya ke dua puluh tiga tahun. (edo rusyanto)

Sabtu, 13 Juni 2009

Dicari, Capres dan Cawapres Peduli Keselamatan di Jalan

CAPRES dan cawapres jangan melulu obral janji. Siapkan konsep yang konkret. Kami mencari figur yang serius tangani sistem transportasi jalan yang aman, nyaman, dan selamat. Sekadar gambaran, di Jakarta dan sekitarnya, sepanjang Januari hingga 13 Juni 2009 korban yang tewas sudah mencapai 77 jiwa. Sebanyak 39 bikers dan 38 pengendara roda empat. Bagaimana yang luka parah dan luka ringan? Jumlahnya lebih besar, 254 korban, terdiri atas 144 korban akibat kecelakaan yang melibatkan roda empat dan 110 melibatkan sepeda motor.Jangan anggap remeh kecelakaan di jalan! Fakta menyebutkan, lebih dari 60% korban kecelakaan menimbulkan ekses ekonomi kepada korban dan keluarganya. Sistem angkutan barang dan jasa menjadi tersendat. Imbas lain, produktifitas ekonomi menjadi awut-awutan. Secara nasional, angka pertumbuhan kecelakaan di jalan terus merangkak naik setiap tahunnya. Belum lagi, kerugian ekonomi akibat kemacetan di jalan yang ditaksir mencapai sekitar Rp 43 triliun per tahun.
Apa yang kamu bisa lakukan wahai Capres dan Cawapres? Kami rindu sistem transportasi yang aman, nyaman, dan selamat. Tentu saja terjangkau oleh kantong masyarakat. Benar, saat ini RUU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) sudah disahkan DPR RI pada 26 Mei 2009, tapi bagaimana kelanjutannya? (edo rusyanto)

Jumat, 12 Juni 2009

AMX Investasi Rp 800 Miliar

RINTIS BISNIS RITEL ONDERDIL MOTOR


PERITEL suku cadang dan aksesoris motor, PT Auto Maximum Motor (AMX Motor), siap menanam investasi Rp 800 miliar dalam lima tahun ke depan. Dana sebesar itu akan digunakan untuk membangun 1.000 gerai AMX di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jakarta dan Surabaya.

Sebagai tahap awal, AMX membuka 30 gerai secara serempak di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada tahun ini. Selanjutnya, AMX akan membuka 100 gerai pada tahun ini dengan total investasi sekitar Rp 80 miliar hingga akhir tahun ini. Investasi untuk membuka satu gerai toko mencapai Rp 800 juta.

“Kami akan cari sendiri pembiayaan 100 gerai. Kami sudah berdiskusi dengan beberapa bank swasta dan pemerintah untuk terlibat dalam pembiayaan. Ada beberapa yang sudah tertarik,” ujar Komisaris AMX Rocky Sugih usai peresmian pembukaan cabang perdana AMX di Kalimalang, Jakarta, Rabu (10/6).

Rocky mengakui, investasi yang dikucurkan AMX cukup besar. Bahkan, kata dia, sejumlah pihak terkejut dengan keberanian AMX. Namun, kata dia, AMX melihat potensi bisnis suku cadang dan aksesoris motor sangat cerah.

Potensi Pasar

Berdasarkan data yang dilansir AMX Motor, total populasi motor nasional pada 2008 tercatat sebanyak 50,8 juta unit. Pada tahun yang sama, jumlah bengkel resmi yang diusung agen tunggal pemegang merek (ATPM) tercatat 10.321 unit. Sedangkan bengkel nonresmi sebanyak 30.251 unit. Sekitar 70% bengkel ada di Jawa dan Bali.

Tahun lalu penjualan sepeda motor berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) membukukan rekor tertinggi dengan angka penjualan 6,2 juta unit. Pasar sepeda motor Indonesia berada di posisi ketiga setelah Tiongkok dan India. Sedangkan untuk produksi, Indonesia bertengger di posisi keempat setelah Jepang, Tiongkok, dan India.

“Penduduk Indonesia 225 juta orang dengan pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Ada 50% penduduk usia produktif yang dapat dijadikan basis pasar,” kata Direktur Operasional AMX Andreas R Junaidy.

Andreas melanjutkan, tingginya populasi sepeda motor membuat bisnis suku cadang cukup cerah. Ini didasari usia teknis sepeda motor yang dapat mencapai tujuh tahun, sehingga membutuhkan suku cadang untuk kelangsungan operasional.

AMX, kata Rocky, kemungkinan bakal menjalin kemitraan dengan investor lain guna mewujudkan target 1.000 gerai pada 2014. AMX berencana menjadi pemimpin di bisnis suku cadang dan aksesoris motor dalam beberapa tahun mendatang. “Kami membidik Jawa Timur dan Bali untuk mengembangkan sayap karena perputaran uang di wilayah itu nomor dua setelah Jakarta,” jelasnya.

Menurut dia, AMX menargetkan pendapatan setiap toko mencapai Rp 250 juta per bulan. Saat ini AMX telah menjalin kerja sama dengan 80 pemasok lokal yang memproduksi 100 merek. Dari kerjasama itu, AMX dipasok 2.000 jenis spare part maupun aksesoris, seperti helm, ban, pelindung cat, dan pelindung badan.

AMX menangani penjualan suku cadang merek AHM, YGP, SGP, Aspira sampai Indopart. Perseroan menjamin harga barang AMX lebih kompetitif ketimbang pusat onderdil lain, seperti di Otista, Jakarta Timur dan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Direktur Utama AMX Andi Haryoko menambahkan, AMX mengutamakan kedekatan dengan calon pembeli dalam membangun gerai. Untuk wilayah Jakarta Timur, gerai AMX terdapat di wilayah Kalimalang, Pondok Kopi, dan Jatiwaringin. “Kami menawarkan konsep modern ritel atau swalayan, sehingga konsumen yang datang bisa bebas memilih part atau aksesoris yang tepat untuk mereka,” jelasnya. (coy)

2009, TVS Targetkan Lego 40 Ribu Unit

Pabrik TVS Indonesia di Karawang, Jawa Barat


PT TVS Motor Company Indonesia (TVS) menargetkan penjualan sepeda motor sebanyak 40 ribu unit sepanjang 2009. Sejak Desember 2007 hingga Mei 2009, agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor asal India itu berhasil melego 16 ribu unit sepeda motor.

“Sekitar 60% adalah produk sepeda motor bebek,” tutur Nurlida ‘Mieke’ Fatmikasari, Corporate Communications TVS Indonesia, kepada Investor Daily, di Jakarta, Jumat (12/6).

Optimisme tersebut, lanjut dia, disokong oleh peluncuran produk baru mereka yakni sepeda motor bebek 125 cc TVS Rockz. “Target untuk TVS Rockz pada 2009 sebanyak 10 ribu unit,” jelas Mieke.

Direktur Sales and Marketing TV Indonesia K Vijaya Kumar, saat peluncuran TVS Rockz di Kawasan Industri Suryacipta City di Karawang, Jawa Barat, Rabu (10/6), menuturkan, pihaknya optimis dengan segala kelebihan Rockz, produk tersebut dapat diterima dengan baik oleh konsumen di Indonesia.

Ia menjelaskan, pihaknya memfokuskan TVS Rockz 25 cc untuk pasar kawula muda dan para eksekutif muda yang sukses. Motor tersebut dilengkapi fitur Integrated Music System (IMS), Peredam Canister yang merupakan pionir di kategori 125 cc. TVS mematok harga Rp 13,7 juta untuk tipe TVS Rockz pelek racing dan Rp 12,7 juta untuk tipe pelek jari-jari.

Selain TVS Rockz 125 cc, produsen sepeda motor tersebut merangsek pasar Indonesia dengan dua produk andalan lainnya yakni TVS Neo 110 dan Apache RTR 160 cc. “Pada Juli 2009 kami juga berniat meluncurkan Apache versi facelift,” tegas Mieke.

Sampai saat ini TVS Indonesia memiliki 115 dealer di wilayah Jadetabek, Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu, TVS juga didukung oleh 350 bengkel kemitraan.

Terkait investasi, menurut Mieke, pihaknya telah menambah investasi sebesar US$ 40

juta, semula mereka telah menanamkan investasi US$ 50 juta. ”Sehingga total menjadi

US$ 90 juta,” papar dia. TVS Indonesia memiliki kapasitas produksi terpasang 300.000 unit

motor per tahun. (edo)

Rabu, 10 Juni 2009

Belajar dari Mereka

foto:edo


HUJAN mengucur deras dari langit. Aspal menjadi licin. Angkutan umum terseok-seok, di bagian lain pengendara sepeda motor melamban. Jaga konsentrasi, daripada tergelincir mencium aspal? Tapi masih ada yang memacu bak melenggang di sirkuit. Konyol.

Siang ini, Jakarta hampir merata diguyur hujan. Sambil menanti hujan reda, vixy merah diparkirkan di depan warung kaki lima penjaja nasi uduk. Sebagian celana, jaket, helm, dan sepatu kuyup oleh air hujan saat melangkah masuk ke warung tenda di pinggir jalan itu.

Uppss...ternyata ada juga beberapa bikers berteduh. Mereka juga sudah kebasahan. Sebagian memilih menunggu sambil menyantap lele goreng, sebagian ayam goreng. Lumayan isi perut.
Pilihan saya jatuh pada segelas teh manis hangat. Sekadar mengurangi rasa dingin. Maklum siang itu sudah santap siang di rumah.

Hampir tak ada yang istimewa, hingga...."Bisa pinjam koreknya dik?" Suara lelaki setengah baya.

Kami pun sama-sama menikmati kepulan rokok kretek. Sebuah komoditas yang mampu menyumbang Rp 40 triliun untuk kas negara. Walau lebih dari 4.000 zat kimia beracun yang masuk ke tubuh perokok ketika mengisap sebatang kretek. Menimbulkan aneka penyakit.

"Nunggu ujan berhenti membosankan," tiba-tiba lelaki yang menunggang motor bebek itu bicara lagi.

"Iya," Jawabku sekenanya karena asyik mantau email dan pesan di face book dari nokia 9300.

"Pelindung kaki dan jaket septi-nya bagus dik," celoteh bapak itu. Rupanya orang ini memperhatikan safety gear yang saya kenakan. Rasanya tidak sopan jika menimpali omongan sambil mengetik di ponsel. Saya pun berpaling menatap wajah sang bapak yang saya taksir berusia lima puluhan tahun. Banyak kerut di keningnya. Cerminan memikul kerasnya beban hidup di Jakarta.

"Minggu lalu anak saya kecelakaan motor," seru lelaki itu lagi. Wah...menarik nih. Gumam dalam hati.

"Lalu," jawabku.

"Tak ada yang menolong karena takut, kejadiannya malam hari, orang Jakarta mending ngurusin dirinya sendiri daripada orang lain," kata dia. Tadinya ingin protes, tapi bapak itu keburu melanjutkan.

"Akhirnya ada yang menolong. Seorang pedagang asongan dan sopir angkot, mereka membawa anak saya ke rumah sakit," tatapan sang bapak menerawang. Terbersit rasa iba.

"Lantas?"

"Penjaga di ruang darurat awalnya enggan menolong sebelum ada jaminan," ujar lelaki itu sambil menyeruput kopi hitam dari gelas. Tangannya terlihat sedikit bergetar.

"Rumah sakit mahal. Tapi saya bersyukur pedagang asongan tadi dan sang sopir angkot berani bertanggung jawab," ceritanya lagi dengan intonasi sedikit bergetar.

"Berapa rumah sakit minta jaminan?" Tanya saya.

"Itulah dik, sang pedagang asongan mengeluarkan seluruh uang recehan yang ia dapat hari itu, ada Rp 143 ribu, sopir angkot ada Rp 215 ribu," paparnya.

Uang segitu mana cukup dan pasti pihak rumah sakit menolak. Namun, sela sang bapak, para penolong anaknya ngotot. Mereka minta rumah sakit menolong dulu sang korban, urusan biaya bisa dipikul belakangan. "Ini soal nyawa manusia!" Bentak mereka, ujar sang bapak menirukan dialog saat itu. Beruntung, lanjut si bapak, ada seorang ibu yang sedang menjenguk suaminya dirawat di situ mau membantu. Terkumpullah uang satu juta dua ratus ribu.

"Akhirnya anak saya yang berlumuran darah ditangani dik," kisah bapak itu. Sorot mata sang bapak terlihat sayu.

"Bagaimana kondisi anak bapak sekarang?" tanya saya penasaran.

Sang bapak tidak langsung menjawab, ia mengisap dalam-dalam sisa rokok kretek di jarinya."Meninggal. Karena terlambat ditangani petugas rumah sakit."

Tak mudah saya mengajukan pertanyaan lagi. Suasana senyap beberapa saat, walau di luar sana suara mobil dan motor lalulalang. Rintik hujan masih memainkan irama alam yang dramatis.

"Makanya saya bilang pelindung lutut, jaket dengan pelindung sikut, dan helm punya adik ini amat bagus buat perlindungan," tiba-tiba sang bapak angkat bicara lagi.

Ia pun bertutur, saat kecelakaan sang anak yang berusia 18 tahun, tidak memakai jaket, sepatu, dan helm. "Boro-boro pelindung lutut dan siku, kami gak mampu beli dik," ujar lelaki itu.

Saya cuma terdiam. Hingga sang bapak itu beringsut meninggalkan warung karena hujan tinggal sisa rintik-rintik. Langit Jakarta masih terlihat gelap. Sayup-sayup lagu U Rise Me Up, Josh Groban bak menyayat dari Ipod. (edo rusyanto)

Cililitan, 10 Juni 2009

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian