Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Kamis, 28 Mei 2009

Mati Deh Gue...



KEMARIN sore ngobrol ngalor ngidul bersama sejumlah bikers. Topiknyaterkait Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ).Seorang teman berseloroh,"Kalau semuanya dibayangi denda duit naikmotor jadi mahal yah."Yang kawan itu maksud ternyata soal ancaman denda yang di antaranajika tidak menyalakan lampu utama, tidak nyalakan lampu sign saat berbelok, tidak memakai helm hingga jika bikers menyebabkan kecelakaan yang menimbulkan korban. Dendanya bervariasi, mulai Rp 250 ribu sampe Rp 12 juta. Nah loh!Teman satunya lagi berujar,"Bukan cuma mahal, loe gak liat, ada ancaman pidana kurungan badan juga."Serasa gak percaya, saya coba baca bolak-balik RUU LLAJ yang disahkan DPR RI di Jakarta, Selasa (26/5). Ehhh...ternyata bener. Segudang bayang-bayang ancaman pidana emang ada, mulai dari ancaman kurungan satu bulan sampe 6 tahun penjara.

Seorang bikers yang lebih muda sontak terperanjat, "Mati deh gue."

Gak tahu maksudnya apa, mungkin karena peliknya ancaman denda dan pidana, atau memang masih suka ugal-ugalan saat berkendara di jalan."Gue kan suka ngebut kalo naek motor," sergahnya lagi.

Buru-buru saya selipkan kelakar,"Tenang aja bro, kata om JK, LebihCepat Lebih Baik." (edo)

Rabu, 27 Mei 2009

Gak Pake Helm, Siap-siap Didenda Rp 250 Ribu

foto: edo

PARA pengendara sepeda motor (bikers) siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Jika kedapatan tidak memakai helm, bakal kena denda paling banyak Rp 250 ribu. Atau dikurung selama satu bulan. Pilih mana? Bayar denda aja kali yah.

Tunggu dulu, kalau pengendara memakai helm, sedangkan pemboncengnya tidak memakai helm, sang pengendara juga bisa kena sanksi itu.

Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) yang disahkan, Selasa (27/5), oleh DPR RI, dalam pasal 106 ayat (8) menegaskan, setiap orang yang mengendarai dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia.

Aturan sanksi bagi bikers yang melanggar pasal itu ada di pasal 291 ayat (1) dan ayat (2). Pada ayat (1) disebutkan setiap orang yang mengendarai sepeda motor tidak mengenakan helm standar nasional Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Terkait boncengers, ada di ayat (2) yakni setiap orang yang mengendarai sepeda motor yang membiarkan penumpangnya tidak mengenakan helm sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (8) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Sebagaimana lazimnya undang undang, pemberlakuan UU LLAJ setidaknya efektif setahun sejak diundangkan, sekaligus menunggu dibuatnya peraturan pemerintah (PP).

Bisa dibayangkan, berapa banyak uang denda yang masuk ke kas negara jika aturan ini diimplementasikan secara tegas. Atau, kata seorang teman, bisa saja terbuka peluang pungli baru. Maklum, populasi sepeda motor di Tanah Air saat ini sekitar 40 juta unit. Kita lihat aja nanti. (edo)

Selasa, 26 Mei 2009

Nggak Nyalain Lampu, Bikers Didenda Rp 250 Ribu

JANGAN main-main soal lampu. Alih-alih, bikers bisa kena denda Rp 250 ribu jika tidak menyalakan lampu utama saat berkendara di jalan.

“Pengendara bisa kena denda jika tidak menyalakan lampu pada siang hari,” tutur Yoseph Umarhadi, ketua Panja Pembahasan rancangan undang undang lalu lintas angkutan jalan (RUU LLAJ), Selasa (26/5).

Dalam UU yang disahkan DPR RI, Selasa, itu disebutkan bahwa pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utama kendaraan yang digunakan di jalan pada malam hari dan kondisi tertentu. Sedangkan bagi pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud ayat tersebut, juga wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

Pada 2007, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengeluarkan peraturan bagi sepeda motor harus berjalan di lajur kiri jalan raya dan harus menyalakan lampu siang maupun malam hari. Aturan harus berjalan di lajur kiri hanya pada jam-jam tertentu yakni di saat pagi hari 07.00-10.00. Setelah itu, para pengendara sepeda motor kembali merangsek ke kiri dan kanan lajur jalan raya. Alasannya, di lajur kiri dipenuhi oleh kendaraan umum dan kendaraan pribadi.

Langkah serupa dilakukan oleh Polres Cianjur, Jawa Barat. Sepeda motor harus menyalakan lampu pada siang hari dan menggunakan helm standar bagi pengendara sepeda motor. "Kegiatan ini merupakan bagian dari Operasi Simpatik Lodaya 2009 menjelang pelaksanaan Pemilihan Presiden dan bertujuan menekan angka kecelakaan lalu lintas serta menumbuhkan kesadaran bagi penguna kendaraan bermotor," kata Kasat Lantas Polres Cianjur AKP Gatot Satrio Utomo di Cianjur, Senin (18/5).
Kegiatan tersebut merupakan upaya cipta kondisi menjelang Pilpres 2009.
”Meski hanya bersifat peringatan dan imbauan, namun tidak menutup kemungkinan kedepannya akan dilakukan tindakan berupa proses tilang bagi para pengendara yang membandel,” katanya, seperti dikutip Antara.
Terkait helm, UU LLAJ menegaskan, pengendara dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm standar nasional Indonesia. Ironisnya, penerapan SNI Wajib untuk helm ditunda hingga tahun depan. (edo)

Ugal-ugalan, Dibui 3 Tahun dan Denda Rp 3 Juta


SELAMAT datang era baru aturan lalulintas dan angkutan jalan (LLAJ). Hak pengguna jalan sedikit lebih dilindungi. Hari ini (Selasa, 26/5), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI meloloskan
rancangan Undang Undang (RUU) LLAJ menjadi UU.
Salah satu butir penting adalah sanksi pidana dan denda bagi pengendara ugal-ugalan yang menyebkan orang lain celaka. "Jika menyebabkan luka ringan pengendara bisa kena sanksi pidana tiga tahun dan denda Rp 3 juta," ujar Yoseph Umarhadi, ketua Panja Pembahasan RUU
LLAJ, seperti dikutip Investor Daily, Selasa.
Menurut Yoseph, jika pengendara mencelakakan orang lain hingga luka berat apalagi menyebabkan orang lain meninggal, sanksinya lebih berat lagi.
Ancaman tersebut mengintai seluruh pengendara, tak terkecuali pengendara sepeda motor (bikers). Artinya, jika kita menabrak dan korbannya menuntut ke pengadilan, siap-siap saja jadi pesakitan. Sudah luka di sekujur badan, harus mendekam di hotel prodeo. Sudah gitu, harus merogoh kocek jutaan rupiah. Nasib...nasib.
UU LLAJ versi baru ini juga mempertegas soal keamanan dan keselamatan di dalam bab xi dan soal kecelakaan lalulintas dalam bab xiv. Kedua bab itu merupakan point baru yang tidak terdapat dalam UU No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintan dan Angkutan Jalan.
Hal baru lainnya dalam UU LLAJ adalah terkait pembentukan unit khusus yang menangani dana preservasi jalan (road fund). Dana road fund diambil dari pajak kendaraan ataupun pajak bahan bakar minyak (BBM).
"Tepatnya 10% dari total pajak kendaraan, bea balik nama, dan pajak BBM," kata Yoseph.
Road fund untuk perawatan jalan, sedangkan dana APBN untuk pembangunan jalan. Hal menarik adalah, jika penanggung jawab perbaikan jalan lalai, kemudian jalan berlubang menimbulkan kecelakaan, ia bisa dikenai sanksi pidana. Pada UU No 14 tahun 1992 terdiri atas 16 bab dan 74 pasal, sedangkan UU LLAJ versi baru mencantumkan 22 bab dengan 326 pasal.
Ya, semoga era baru LLAJ bisa memperkecil pertumbuhan korban kecelakaan di jalan raya. Bayangkan, di Jakarta saja, sepanjang Januari-April 2009, korban kecelakaan yang menimpa bikers naik 55,5%.
Mengerikan. (edo)

Mujizat Itu Masih Ada

Firdan melonjak kegirangan. Bak mendapat rezeki nomplok miliaran rupiah ia bersorak. Riuh. Walau dalam hati. Tak hentinya ia bersyukur. Siang itu ia habiskan dengan menulis. Tentang isi hatinya yang berbunga-bunga.
Sudah sebulan lebih ia merancang perjalanan itu. Niatnya melihat Lombok dari dekat. Melihat danau Kelimutu. Menikmati tiupan angin di sekitar danau. Hemmmm....Indonesia memang Jamrud Khatulistiwa. Serunya dalam hati. Rezeki yang ia peroleh kemarin hanya sebaris kalimat. ”Kamu boleh pergi, aku izinkan. ”Kalimat itu terlontar dari mulut mungil sang kekasih, Lidya.
Bukan karena bagian dari barisan Petasih (pria takut kekasih), tapi ia harus merayu gadis yang ditembaknya saat bertemu dalam sebuah pameran otomotif itu demi rencana yang sudah disusun bersama teman-temannya satu klub. Touring Jakarta-Lombok.
”Aku ingin akhir tahun ini bersama kamu, tahun baruan jadi hambar tanpa mu yang,” rajuk Lidya, suatu senja. Angin sepoi-sepoi pantai Carita, Banten, menjadi saksi, betapa lembutnya gadis 22 tahun itu merajuk manja. Firdan nyaris luluh. Tapi di sisi lain, ia telah merancang perjalanan yang sudah dinantinya sejak tiga tahun terakhir. Hatinya bergolak antara kekasih atau touring?

***
Perjalanan jalur pantai utara (pantura) Jawa, terasa menyesakkan. Teriknya mentari menyebabkan dehidrasi. Ramainya bus dan truk tak mematahkan semangat konvoy 12 sepeda motor sport. Firdan melaju selaku road captain. Sementara Budi selaku sweeper asyik memberi info situasi barisan belakang. Handy talkie yang tak henti diisi informasi menjadi alunan nada yang membakar semangat. Sesekali konvoy terpecah oleh padatnya arus lalulintas di kawasan pasar maupun perempatan jalan. Terpotong traffict light.
Saat istirahat di stasiun pompa bensin umum (SPBU) dekat Kudus, ponselnya berdering. Bergegas ia menjauh untuk mengangkat panggilan. Ia takut komunikasi seluler mengganggu aktifitas pompa bensin.
”Ooooo...kamu say, ada apa?”
“Maaf dik Firdan, ini mamanya Lidya. Mau kasih tahu, Lidya dirawat di rumah sakit.”
”Kenapa tante?”
”Kecelakaan...”
Jawaban singkat dari mamanya Lidya membuat Firdan galau. Budi yang melihat raut wajah Firdan sempat kaget saat Firdan menjelaskan siapa yang telepon.
Situasi menjadi hening. Meski deru suara mesin mobil dan motor menderu lalulalang di sekitar.
”Aku harus kembali ke Jakarta.” Seru Firdan memecah keheningan.
”Ya, kita ngerti kalau tunangan masuk rumah sakit masa kita asyik bersenang-senang,” sergah Budi.

* * *

Deretan jendela putih rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan itu seperti enggan menyapa langkah Firdan. Ini hari kedua Lidya tertidur di atas tempat tidur rumah sakit itu. Melihat kekasihnya dibalut gips pada lengan dan kakinya serta wajah yang ditutupi perban menjelaskan demikian dahsyat kecelakaan yang dialami gadis itu. Firdan hanya duduk tersipu di samping gadis pujaannya. Tunangan yang selalu ia banggakan. Lima bulan lagi mereka akan menikah.
”Ia sedang istirahat. Kondisinya membaik kok,” hibur mama Lidya, melihat Firdan hanya menerawang tanpa sepatah kalimat.
Lidya terkapar ketika pulang kerja. Skutik yang ditumpanginya dicium Suzuki Areo di sisi Jl Sudirman, Jakarta Pusat. Sang pengendara mobil mengaku kaget karena skutik di depannya tiba-tiba mengambil jalur kanan. Belakangan ketahuan bahwa langkah Lidya membanting setir ke kanan karena ada penyeberang jalan yang muncul tiba-tiba. Pandanganya terhalang mobil yang ada di depannya. Takut menabrak, ia banting setir ke kanan. Ironis, ada Areo tersebut. Brukkkk!!! Fatal, Lidya hanya menggunakan helm half face. Ia terluka parah.

***
Firdan ingat kisah novel tentang gadis dari India yang terpaksa memikul beban derita akibat kecelakaan. Duka tak berhenti di situ. Sang pujaan hati berpaling ke gadis yang lebih sempurna. Tak lama sang gadis yang ditinggalkan mengambil jalan pintas. Menjatuhkan diri dari atas gedung. Tewas.
Ingatan itu membuatnya galau. Cintanya tak bertepi untuk Lidya. Tapi, bisakah Lidya menjadi ibu dari anak-anaknya kelak? Bisakah dirinya menerima kenyataan bahwa raut wajah dengan bibir mungil itu telah berubah? Lengan itu tak berfungsi lagi. Kaki jenjang yang selama ini ia curi-curi pandang saat disilangkan oleh pemiliknya, juga tak berfungsi.
”Ehhh...melamun lagi. Aku lihat belakangan ini kamu sering melamun kalau sedang berdua aku.” Suara Lidya menghentakkan lamunan Firdan.
”Ehhh...tidak. Aku sedang memikirkan sebagian pekerjaan yang belum rampung tadi,” jawab Firdan sekenanya.
Belakangan komunikasi mereka menjadi kaku. Firdan goyah melihat kondisi Lidya. Ingin ia mengutarakan isi hati yang sesungguhnya. Tapi ada perasaan bersalah dan tidak tega. Dulu ia amat memujanya.

***

Syntha tak pernah tahu bahwa pria yang mulai akrab melalui jejaring Facebook adalah teman kuliah. Hanya saja beda jurusan. ”Fir, kamu angkatan 2000 yah?” tulis Syntha suatu ketika di dinding Firdan.
Tulisan-tulisan di dinding mereka berdua awalnya hanya basa-basi. Belakangan kian menjurus ke curhat. Komunikasi pun tidak lagi melalui dinding, tapi masuk ke pesan pribadi. ”Aku sedang bimbang Syn,” sebait kalimat dikirim Firdan. Perbincangan pun mengalir, kadang diselingi canda. Hingga suatu ketika.
”Ada sesuatu yang lain dari dirimu Syn,” ungkap Firdan memberanikan diri saat mereka berdua di sebuah cafe di Jakarta Pusat.
Firdan tak menduga ia berani melontarkan kalimat itu. Syntha hanya terdiam. Namun, bahasa yang mencuat dari sorot mata mereka berdua berbicara lain. Ada jalinan kasih. Walau mungkin terlarang.
Sejak senja itu, mereka kerap bertemu. Bercanda. Ke toko buku bersama, sesekali menonton film di bioskop. Firdan terlarut.
Petaka memang tak terduga. Tak pernah ada yang meminta. Seperti yang akhirnya dialami Firdan malam itu. Laju Kawasaki Ninja 250 RR terpelanting saat melakukan manuver di sebuah tikungan. Ia terseret bersamaan dengan Ninja Hitam. Beruntung safety gear lengkap mereduksi kondisi yang lebih fatal. Helm nolan, sarung tangan, sepatu tomskin, dan jaket FLM, melindunginya dari maut.
Kesadaran Firdan baru pulih ketika hari keempat ia meringkuk di atas bangsal rumah sakit. Ingin ia berteriak. Melihat sosok tubuhnya yang kini tak bisa lagi memacu Ninja. Tak bisa lagi kopdar apalagi touring. Kakinya harus diamputasi.

***
”Aku tetap menerima kamu apa adanya Fir,” Suara lirih meluncur dari Lidya.
Firdan tak sanggup berkata-kata. Gadis yang pernah ia sakiti justru masih mau menerima kondisi dia apa adanya. Pria yang dulu berselingkuh dan akhirnya ditinggal pergi selingkuhannya karena cacat, masih berharga di mata Lidya. Nyaris Firdan menitikkan air mata. Ia bendung sekuat hati.
Firdan pernah menyebut Lidya sebagai mujizat yang dilimpahkan Dia. Mujizat yang menuntun hidupnya lebih fokus. Mengarahkan pribadi yang ugal-ugalan di jalan menjadi lebih santun berkendara. Kini, ternyata mujizat itu memang benar ada. (edo)

Untuk seseorang yang di sana...

Bro Lukman Ketua MRC Jakarta

SUASANA temaram di kawasan Mega Kuningan Timur (MKT) IV Jakarta Selatan tak mengurangi semangat awak Minerva Riders Community (MRC) Jakarta. Meski sorenya mendung menggayut, petang itu, Sabtu (23/5), 40-an peserta kopdar tetap semangat untuk menggelar pemilihan ketua region (pilkereg) Jakarta.
“Kandidat yang berhak mengikuti pilkereg tersisa dua orang yakni bro Anjas dan bro
Lukman,” tutur Ian, ketua panitia pelaksana pilkereg, Sabtu.
Jadwal pemilihan yang semula pukul 15.00 WIB ngaret. Sekitar pukul 17.20 WIB baru dibuka. ”Bagi kandidat mesti siap kalah, siap menang. Bagi anggota, siapapun yang menang mari kita dukung agar MRC kian berkibar,” tukas bro Edo, penasihat MRC yang didaulat memberi sambutan.
Kedua kandidat mengaku kaget dan merasa senang mendapat amanah dari anggota MRC region Jakarta. ”Seandainya terpilih, mudah-mudahan saya bisa membuat MRC Jakarta kian solid,” tutur bro Anjas yang mendapat kesempatan pertama melakukan pemaparan visi dan misinya.
Lukman tidak mau kalah. “Saya ingin mencari tempat kopdar baru untuk bedakan kopdar Pusat dan Jakarta, selain itu, safety riding akan diperkuat,” kata dia.
Tanya jawab pun bergulir. Bro Hadi yang sebelumnya adalah Ketua Region Jakarta melontarkan sejumlah pertanyaan mulai dari soal mengembangkan MRC agar lebih maju hingga persoalan uang kas. Bro Ian yang menjadi pemimpin sidang kemudian menjelaskan persyaratan hak memilih. ”Hanya anggota yang memiliki nomor registrasi anggota (NRA) yang berhak memilih,” papar dia.
Dengan peralatan seadanya dan hari telah gelap karena memasuki pukul 18.30 WIB, satu persatu anggota MRC region Jakarta menuliskan pilihannya di atas kertas kecil. Hasilnya? Anjas mengantungi 14 suara dan Lukman 24 suara. Praktis, Lukman menjadi ketua region Jakarta. ” Trims atas kepercayaan yang diberikan kepada saya. Sehebat apapun pemimpin tidak akan jalan jika tidak ada dukungan. Tidak ada superman, yang ada super tim. Mohon bantuan. Semoga saya bisa menjalankan amanah ini,” harap Lukman dalam sambutan sebagai ketua terpilih.
Bro Ian menjelaskan, serah terima pengurus lama akan digelar pada 6 Juni. ”Susunan kabinet harus dah diserahkan ke Pengurus Puat pada 5 Juli, saat kopdar,” jelas Ian.
Inilah demokrasi. Walau total anggota MRC region Jakarta sebanyak 272 orang dan hanya 47 suara yang ikut memilih dalam penyaringan bakal calon, serta hanya 38 yang ikut memilih dua kandidat, sebuah langkah telah ditoreh komunitas sepeda motor besutan Minerva Motor Indonesia (MMI) itu. Selamat untuk bro Lukman dan seluruh MRC region Jakarta. (edo)

Senin, 25 Mei 2009

Roadshow Ala MRC

Kopdar di MRC region Bogor, Tajur.





SEMANGAT menyerap aspirasi anggota menjadi hal mutlak. Itu apabila pengurus organisasi peduli pada konstituennya. Pengurus yang bukan asyik dengan rancangan program tanpa mendeteksi hasrat anggota.
"Sudah saatnya, pengurus pusat menyambangi pengurus region," tukas Irsan, ketua umum (ketum) MRC, Sabtu (23/5) sore di bilangan Mega Kuningan Timur (MKT) IV, Jakarta Selatan.
Langkah awal kabinet Irsan menyambangi pengurus region dibuka dengan mengunjungi region Bogor dan Sukabumi, Sabtu (23/5) dan Minggu (24/5).
Rombongan touring roadshow kali ini melibatkan jajaran elit pengurus pusat yang dipimpin Bro Irsan (ketum), Ian (ketua 1), Rembang (ketua 2), Asep (bendahara), Hadi (humas), Hendra (art&design), Mulyadi (perlengkapan), Nico (kadiv touring), Bedil, dan Edo (Penasihat).
"Kegiatan ini juga jadi perekat silaturahmi," papar Ian, Ketua I MRC Pusat.
Konvoy 9 sepeda motor yang pulang pergi menempuh 371 kilometer (km) itu, membuahkan hasil. Aspirasi yang diutarakan via temu wajah mengalir dengan santai. Mulai soal atribut organisasi, rencana program kerja, hubungan MRC dengan agen tunggal pemegang merek (ATPM), hubungan dengan dealer, hingga penyebaran berkendara yang aman dan selamat (safety riding).
”Dealer komplain ke saya, kenapa anggota MRC tidak semuanya servis ke mereka,” tutur Januar, ketua MRC region Bogor, saat sharing mengenai aspirasi anggota. Menurut dia, hal itu tidak terlepas dari pelayanan dealer yang belum memuaskan riders minerva.
“Kemampuan teknisi dealer mesti ditingkatkan,” ujar Robin, anggota MRC region Bogor.
Pengurus MRC Pusat bersedia menjembatani komunikasi dengan ATPM dan selanjutnya diteruskan ke dealer yang bersangkutan.
Rasa lelah, accident, panasnya cuaca, dan kantuk yang mendera sirna oleh semangat dan
rasa kekeluargaan yang kental. Jamuan ala komunitas bikers sambil lesehan di pelataran parkir maupun kongkow di penginapan bergaya saung di Bandung, justeru kian mengakrabkan para bikers MRC.
MRC memiliki struktur organisasi pusat dan daerah itu yang memiliki beberapa region di antaranya Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Serang, Sukabumi, Bandung, Surabaya, Bali, dan Medan. Total anggota mencapai sekitar 700-an, walau baru berumur satu tahun.

Hapus Blocking
Saat dijemput tim MRC Bandung, konvoy pengurus MRC Pusat amat terbantu. Maklum, saat itu, waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB, padahal rombongan pengurus pusat tersebut belum sempat tidur. Konvoy tersebut menempuh perjalanan dari Jakarta sekitar pukul 19.35 WIB dan kopdar dengan MRC region Bogor di Tajur, Jawa Barat, Sabtu (23/5), pukul 21.30-23.45 WIB. Setelah itu, konvoy melaju ke Cibodas untuk beristirahat sekitar 90 menit.
Sekitar pukul 02.30 WIB, Minggu (24/5), konvoy yang dipimpin bro Irsan, tiba di Kota Baru Parahyangan, Padalarang sekitar pukul 04.30 WIB.
Tim MRC Bandung cukup cekatan mengawal barisan dari Jakarta. Jarak tempuh sekitar 39 km dilahap dalam waktu 40 menit. Luar biasa!
Prestasi itu ternyata harus dibayar dengan aksi memblokir jalan dan memacu kecepatan antara 70-80 kpj. Kecuali saat memasuki kawasan wisata Lembang karena pekatnya kabut yang menghalangi jarak pandang.
“Pola blokir sudah kita tinggalkan karena merampas hak pengguna jalan lainnya,” kata Bro Edo, penasihat MRC Pusat yang juga pengurus Road Safety Association (RSA).
Ungkapan yang dilontarkan saat sharing antara Pengurus Pusat MRC dengan MRC region Bandung di vila Ciateur, Bandung itu, sontak berbekas di benak MRC Bandung. Hal itu terbukti, saat mengawal pulang rombongan MRC Pusat hingga ke jalan Cagak, Subang, konvoy berjalan rapih. Tanpa blocking. Salut!
“Safety riding menjadi isu penting pengurus MRC saat ini, salah satunya adalah dengan mewajibkan melampirkan foto kopi SIM saat calon anggota ingin masuk ke MRC,” tutur Bro Irsan. (edo)

Kamis, 21 Mei 2009

RSA Menjelma Jadi LSM



Suasana rapat RSA, Kamis (21/5), di Jakarta. (foto:edo)


REINKARNASI hal yang lumrah. Bagi sebuah organisasi hal itu merupakan bagian dari dinamika. Hal itu juga terjadi pada Road Safety Association (RSA). Lembaga nirlaba yang concern terhadap kampanye keselamatan berkendara di Indonesia itu, akhirnya merampungkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), Kamis (21/5) sore, di Jakarta.

“Akhirnya rampung sudah AD/ART RSA, semoga kita semua semakin bersemangat,” tutur Rio Octaviano, yang sore itu juga dinobatkan sebagai Ketua RSA untuk periode 2009-2010.

Pembahasan Kamis sore merupakan pertemuan kali ketiga sepanjang April-Mei 2009. Pertemuan pertama dilaksanakan di tempat yang sama dan pertemuan kedua 19 April 2009 di Pasar Motor, Kebayoran, Jakarta Selatan.

Pertemuan ketiga yang dihadiri 7 anggota RSA yakni Rio, Ecko, Edo, Benny, Lucky, Riezha, dan Syamsul, berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga sekitar pukul 15.30 WIB.

Struktur Baru

AD/ART RSA memastikan organisasi yang didirikan pada 15 Desember 2007 di Jakarta itu, memiliki struktur baru yakni Dewan Pembina dan Dewan Pengurus. Dewan Pengurus terdiri atas Rio Octaviano (Ketua), Eko Cahyo Wibowo (Wakil Ketua), Irfan Susanto (Sekretaris), dan Lusi Pujihastuti Oktaviani (Bendahara). Selanjutnya Dewan Pengurus dilengkapi dengan lima divisi yang meliputi; Edo Rusyanto, Benny Novianugroho, dan Edy Cahyono (Litbang), Yudhi Dharma (Kesekretariatan), Nurdiansyah E Siswandhi dan Riezha Agus Susanto (Humas), M Sadaturrachman, M Ridwan, dan M Rahmat Faizal (Kegiatan), serta Lucky Junan Subiakto (Umum).

Sementara itu, dalam jajaran Dewan Pembina terdapat nama Syamsul Ma’arif dan RH Wibisono alias Cak Sontul. “Tiga nama lagi akan dicari nanti, saya sih berharap dari luar RSA saat ini,” papar Syamsul yang juga instruktur safety riding.

RSA yang sebelumnya bernama Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ) bertujuan menciptakan masyarakat pengguna jalan yang santun, saling menghargai, serta mentaati peraturan dan/atau perundangan lalu-lintas jalan.

Guna menindaklanjuti pertemuan Kamis itu, rapat RSA juga menetapkan tiga orang sebagai perumus untuk peraturan organisasi (PO) yakni Rio, Edo, dan Benny. “Pengesahannya nanti pada 30 Juni,” tutur Rio. (edo)

Rabu, 20 Mei 2009

Sirnanya Asa

SOSOKNYA seperti gadis kebanyakan. Ceria, kadang memendam rasa, sesekali berontak.
Tinggal di metropolitan yang kerap dipelesetkan metroprosetan, gadis itu harus lincah bak rusa menghindar terkaman harimau yang mengendap di balik belantara beton. Sesekali, sang rusa berlari.

* * *
Menjelang senja, kala sang surya memperlemah kegarangannya, sang gadis asyik mahsyuk dengan perangkat teknologinya. Era digital menyediakan aneka prasarana penutup kekosongan hati. Jejaring teknologi internet merajut persahabatan kasat mata lewat dunia maya. Dua atribut kondang adalah Yahoo Messenger dan Facebook. Pada dua fitur itu, kerap sang gadis menumpahkan beragam gejolak hati. ”Pagiku indah,hariku cerah..Terimakasih untuk hidup yang baru. Ayo semangat.” Seuntai kalimat ia torehkan di jagat maya. Rangkaian ungkapan yang menyiratkan upaya menggugah diri untuk tetap bersemangat. Kesepian terbayar lewat jejaring teknologi.
”Saya ingin bermanfaat bagi banyak orang.” Sergah sang gadis suatu malam. Banyak asa terbenam dalam benak dia. Fasha, pria yang diajak bicara sang gadis sesekali mengalihkan pandangannya ke arah bintang yang berkedip di atas sana. ”Bagaimana caranya?” Seloroh yang pria.
Sang gadis yang mendapat pertanyaan itu tampak bergairah.
”Banyak. Tapi saya memilih satu cara.”
”Hemmm...”
”Suatu ketika, diusia tigapuluhan, aku harus mapan. Membuka pekerjaan untuk banyak orang. Hebatkan?” Wajah sang gadis berbinar memaparkan impian hatinya.
Sang pria mencoba mencerna impian gadis di depannya yang kini baru jelang 25 tahun. Tangannya meraih gelas teh hangat yang terhidang di meja kedai tepi jalan tanpa tenda itu. Isapan rokok terasa berat. Ada rasa haru atas asa sang gadis. ”Suatu niat mulia.” Gumamnya dalam hati.
”Hei, kenapa melamun.” Goda sang gadis, sambil menikmati kudapan pisang goreng hangat. Dingin udara malam itu lenyap oleh kehangatan perbincangan.
”Aku hanya merenung, sungguh mulia cita-citamu.”
Perbincangan mengalir hingga terhenti karena rintik gerimis kian membesar. Mereka harus menggeser posisi duduk, di bawah tenda. Lewat tengah malam, mereka memutuskan pulang. Gerimis sudah reda.

***
SIANG baru saja merangkak ke senja. Sang gadis tergopoh-gopoh. Tangannya sibuk mencari kunci kamar kos dari dalam tas. Tidak butuh waktu lama, pintu ruangan 3x3 meter itu terkuak. Dengan sedikit keras ia membanting pintu. Penuh emosi. Tubuh rampingnya ia jatuhkan di atas kasur. Tas kulit mungil ia lemparkan ke sisi tempat tidur. Sepatu belum sempat ia lepaskan. Pilihannya justeru meraih bantal bermotif bunga. Menutupi wajah yang kini mulai bersungai air mata.
Kesedihan menggayuti hati. Ia marah. Pria pujaannya didapati memiliki tambatan hati lain. Kepercayaan yang selama ini dibangun luluh lantak. Yang tersisa hanya dusta.
Tak berapa lama, pintu terdengar diketuk. ”Siapa?” tanya sang gadis.
”Aku, Fasha.”
”Untuk apa kemari?”
”Menjelaskan duduk masalah,” jawab suara di balik pintu.
Kemarahan sang gadis tampaknya sudah memuncak. Dirinya bergeming. Sesaat kemudian terdengar langkah kaki, menjauh dari pintu.

***
Kegalauan sang gadis bukan baru sekali. Peristiwa beberapa hari lalu merupakan puncaknya.
Pagi ini ia agak bergegas. Matanya terasa berat. Semalam tidur agak larut. Dalam rasa kantuknya ia menggugah semangat. ”Ayo bersemangat untuk jalani hari yang baru ini. Dia tak pernah menutup mata, telinga, dan hati-Nya untukku.”
Jarum jam menunjukkan pukul 07.27, artinya tersisa 33 menit untuk tiba di kantor. Sang gadis memilih ojek sebagai alternatif. Pagi ini, ada berkas kerja yang harus ia serahkan kepada sang manajer.
”Bang, ada helem buat saya nggak?” sergah sang gadis.
Tukang ojek yang ditanya hanya menggeleng. Justeru melontarkan kata, ”Makanya beli sendiri, mau naik nggak. Cerewet.”
Sang gadis melirik kanan kiri, para tukang ojek lainnya sibuk menawarkan jasa kepada calon penumpang. Bahkan, sesekali saling berebut.
”Mau naik gak? Saya cari penumpang lain nih?”
Tanpa fikir ulang, sang gadis bergegas naik ke atas sadel lusuh motor keluaran awal 2000 itu. Waktu yang tersisa kian tipis untuk tiba di kantor. Suasana hatinya menjadi bertambah panas karena ulah tukang ojek yang menyepelekan vitalnya helm bagi perlindungan kepala. Terngiang di benak sang gadis bahwa korban tewas akibat kecelakaan sepeda motor adalah karena luka di kepala. Korban tidak terlindungi oleh helm yang berkualitas bagus. Panas hati sang gadis bak suasa tengah hari di kosnya. Ia selalu merasa ingin melarikan diri dari kos yang panasnya kayak di sauna. Paling banter ia mendinginkan tenggorokan dengan Dancow strawberry plus Milo, meskipun dari segi warna ia merasa tidak menjanjikan.
Tukang ojek sibuk berkelit di sela semrawutnya ribuan kendaraan jalan raya Jakarta. Sesekali ia mengumpat kesal. Sang gadis kian was-was. ”Bang jangan ugal-ugalan dong.” Pinta dia.
Bukannya mengiyakan sang tukang ojek justeru asyik memacu. Hingga akhirnya. Bruakkkk!!!!

***
Fasha hanya menatap sayu nisan berwarna abu-abu terbuat dari pualam itu. Di bawah sana tergolek gadis yang ia cintai. Gadis yang sesungguhnya pelabuhan hati. Belum sempat ia menerima maaf atas kekeliruan belakangan ini. Tiga hari setelah kecelakaan, sang gadis menderita koma. Luka di kepala membuatnya tak mampu berkata-kata. Hingga akhirnya, sang Khalik memanggilnya.
Fasha tak kuasa menahan derasnya air mata. Ia ingat saat-saat manis. Ketika pertamakali bertemu. Gadis itu gigih dalam bekerja. ”Buat mencari sekarung gandum....” seloroh sang gadis ketika ditanya demikian giatnya bekerja. Padahal, selayaknya gadis lajang, bungsu dari dua bersaudara, meski merantau perhatian orang tua bakal memanjakan. Terlebih sang kakak yang sebenarnya tinggal tak jauh dari kosnya.
Nasib berkata lain, kini, cita-cita sang gadis untuk membuka kesempatan kerja bagi orang lain sudah sirna. Ia tertidur lelap di samping Nya.
Fasha baru saja melangkah beberapa meter ketika terdengar sayup-sayup sapaan yang amat ia hafal. ”Om... helm nya ketinggalan...” ujar seorang gadis kecil menggunakan pita merah di rambutnya. (edo)

Mengerikan, Bikers Tewas Naik 55,5%

foto:edo

JALAN raya menjadi mesin pembunuh. Jalan raya Jakarta dan sekitarnya bak rimba belantara yang berisi hewan buas. Siap menerkam sang rusa yang lengah, letih, dan ceroboh. Tak percaya?
Tengok saja jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas di Jakarta dan sekitarnya naik 55,5%. Angka itu tercatat sepanjang Januari-April 2009 dibandingkan periode sama 2008. Menyedihkan!
Dari total korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor yakni 106 orang, sebanyak 28 orang tewas atau sekitar 26,42%, sebanyak 78 orang luka berat dan ringan (73,58%).
Rusa yang letih menjadi santapan harimau kota yang mengendap di balik belantara aspal Jakarta. Lihat saja, 36,14% korban kecelakaan yang menimpa bikers justeru akibat ditabrak mobil. Mengerikan.
Kecerobohan yang membuat bikers lepas kontrol memicu 18,07% kecelakaan.
Jika pada tiga bulan pertama mayoritas kecelakaan terjadi pada rentang waktu pukul 18.00-24.00 WIB, pada Januari-April 2009, rentang waktu kecelakaan hampir merata 06.00-24.00 WIB. Hanya sebanyak 20,48% yang terjadi pada rentang waktu 00.00-06.00 WIB.

Luka Turun

Agak melegakan, korban yang luka parah dan luka ringan turun sekitar 21,2%.
Dari jumlah kasus kecelakaan terjadi penurunan 2,4%. Pada empat bulan pertama 2009 tercatat 83 kasus kecelakaan yang menimbulkan korban, sedangkan dalam rentang waktu yang sama 2008, jumlah kasus kecelakaan sebanyak 85 kasus.
Angka-angka itu baru dari data yang muncul di http://www.lantas.metro.polri.go.id/ dan diolah penulis. Bagaimana dengan fakta yang tidak tercatat? Wallahuallam bisawab.
Fakta data yang tersaji menunjukkan 84,78% korban akibat kecelakaan adalah para pria, sebanyak 15,22% wanita. Ironisnya, korban kecelakaan yang menimpa usia produktif 20-39 tahun, masih dominan yakni 76,92%. Usia remaja, 10-19 tahun dan rentang usia 40-69 tahun sama-sama sebanyak 11,54%.
Jika melongok sisi usia, mereka yang usia produktif tersebut bisa berefek kepada finansial keluarga yang ditinggalkan. Artinya, terbuka peluang hilangnya sumber pendapatan suatu keluarga. Tentunya jika sang korban adalah tiang ekonomi keluarga. Jika itu yang terjadi, bukan mustahil, laju pemiskinan akibat kecelakaan di jalan raya semakin kencang.
Kawasan jalan di Jakarta Selatan menjadi lokasi kecelakaan yang paling banyak yakni 49,40%, wilayah lainnya mengikuti di belakang yaitu Jakarta Pusat (16,87%), Jakarta Barat (15,66%), Jakarta Timur (7,23%), Jakarta Utara (6,02%), dan lainnya (4,82%).
Jumlah korban kecelakaan yang menimpa bikers selama Januari-April 2009 memang lebih sedikit dibandingkan korban yang melibatkan kendaraan roda empat atau lebih. Pada empat bulan pertama 2009, korban kecelakaan yang melibatkan jenis kendaraan tersebut mencapai 136 orang, sebanyak 30 jiwa tewas sia-sia. (edo)

Selasa, 19 Mei 2009

Setang Nyangkut, Nyawa Melayang

KISAH pilu pengendara sepeda motor (bikers) seakan tak pernah henti. Korban sia-sia terus bergelimpangan. Kesedihan menyerbu tembok tempat keluarga tinggal. Doa-doa mengumandang. Kenapa kita tak coba hentikan semua ini?

Keluarga Mira (26) tahun tahu arti kesedihan. Wanita muda warga Pamulang Timur itu harus berpulang dengan mengenaskan. Ia yang diboncengi oleh Wandi (29), dijemput maut ketika Wandi berniat mendahului truk kontainer di Ring Road sekitar 10 meter sebelum lampu merah Cengkareng arah Cengkareng, Jakarta Barat.

"Kecelakaan terjadi ketika sepeda motor yang dikendarai korban berusaha mendahului truk konatiner dari sebelah kiri, naas sesampainya di TKP stang sepeda motor bersenggolan dengan badan truk yang mengakibatkan Wandi kehilangan keseimbangan dan terjatuh" ujar Iptu Wawan Heriyanto yang menjabat sebagai Kanit Lantas Cengkareng, seperti dilansir http://www.lantas.metro.polri.go.id, Selasa (19/5).

Wandi yang mengendarai sepeda motor Honda Supra X B 6276 NHZ hanya luka-luka. Keduanya di bawa ke RS Tangerang. Mira mengalami luka di kepala dan dada.

Akibat kecelakaan tersebut situasi arus lalu lintas di Jl. Raya Cengkareng sempat macet dan berangsur normal setelah korban dibawa ke RS Tangerang dan barang Bukti dibawa ke Kantor Unit Laka Lantas Polres Metro Jakarta Barat.

Peristiwa Selasa, sekitar 08.50 WIB itu menambah lagi catatan hitam keganasan rimba belantara yang namanya jalan raya. Sepanjang Januari-Maret 2009, jumlah bikers yang meninggal di jalan raya naik sekitar 82% dibandingkan periode sama 2008. Itu baru untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Miris. (edo)

Senin, 18 Mei 2009

Kecelakaan Saat Konvoy


KECELAKAAN pasti menyakitkan. Sepekan terakhir penulis mendapati tiga peristiwa kecelakaan terkait konvoy kelompok atau komunitas sepeda motor. Ketiganya memiliki latarbelakang hampir sama. Kecelakaan dipicu faktor eksternal.

Kecelakaan yang disebabkan oleh faktor eksternal pengendara sepeda motor (biker) bisa berupa lingkungan di antaranya kondisi jalan dan cuaca, serta bisa juga obyek lain yakni manusia atau hewan.

Dua kecelakaan terakhir cukup menarik. Disebabkan oleh obyek manusia yang melintas jalan. Penyeberang jalan yang muncul tiba-tiba di tengah melajunya konvoy kerap menyulitkan bikers untuk bermanuver. Hal itu terbukti ketika teman-teman dari Mailing List Scorpio (Milys) hendak touring ke Lampung, pada pekan kedua Mei 2009. Di tengah jalan, dari sekitar 15 kendaraan, salah satunya terpaksa menabrak penyeberang jalan. “Belakangan kita baru tahu bahwa korban adalah preman yang sedang mabuk,” tutur Bro Sontri, salah satu bikers Milys. Buntutnya, selain akhirnya terpaksa touring ditunda, mereka harus berpatungan mengumpulkan uang guna membiayai korban berobat. Tentu saja, juga harus berurusan dengan pihak kepolisian.

Peristiwa kedua adalah, Sabtu (16/5) pagi yang menimpa konvoy kendaraan motor sport dari Jakarta menuju Sukabumi, Jawa Barat. Baru lepas sekitar 30 km dari Jakarta, konvoy tersebut harus terhenti karena anggota konvoy menabrak pejalan kaki. Bedanya dengan peristiwa pertama, kecelakaan kali ini terjadi pada pagi hari. Peristiwa pertama terjadi pada malam hari.

Apapun dalihnya. Konvoy menabrak pejalan kaki menempatkan bikers pada posisi sang tersangka. Ia harus memikul derita, termasuk mengeluarkan sejumlah dana.

Penulis pernah mengalami peristiwa serupa. Kejadiannya malam hari dan harus memikul beban finansial bagi sikorban, walau penulis juga harus menderita luka-luka.

Stigma di masyarakat kita, pejalan kaki tertabrak motor, maka pengendara sepeda motor bersalah. Jika bikers tertabrak mobil, maka pengendara mobil bakal dihakimi ramai-ramai. Walau, sesungguhnya, bisa saja kesalahan dilakukan oleh penyeberang jalan atau bikers.

Pemicu Kecelakaan

Kembali soal kecelakaan saat konvoy. Penulis kerap merasa bahwa peluang kecelakaan saat konvoy atau group riding, lebih besar ketimbang berkendara sendiri (solo riding). Ada beberapa aspek yang bisa memicu kecelakaan.

Pertama, konsentrasi yang berkurang karena ritme perjalanan yang monoton. Pada kasus ini, kecelakaan yang lebih parah bisa diantisipasi dengan pengaturan jarak aman termasuk menerapkan formasi zig zag.

Kedua, rasa lelah. Kondisi fisik yang tidak prima di antara para peserta konvoy bisa memicu kecelakaan lebih besar. Pola untuk mengantisipasinya bisa dengan pengaturan istirahat yang tepat, seperti per dua jam konvoy dihentikan atau diistirahatkan atau memakan permen karet selama berkendara.

Ketiga, tidak disiplin. Dalam setiap konvoy atau group riding, umumnya disusun formasi petugas mulai dari pemimpin rombongan, pembuka jalan, hingga penyapu. Instruksi dari pemimpin rombongan harus ditaati setiap peserta konvoy. Satu saja anggota konvoy mengabaikan instruksi, membuka peluang kecelakaan lebih lebar.

Keempat, aspek eksternal seperti penyeberang jalan atau kondisi jalan serta cuaca hujan yang memicu licinnya permukaan jalan. Fungsi analisis medan setiap bikers peserta konvoy benar-benar diuji untuk mengantisipasi kecelakaan akibat penyeberang jalan yang muncul tiba-tiba. Kehadiran yang sekonyong-konyong membuat bikers melakukan refleks di antaranya mengerem mendadak atau membanting stir ke arah yang dianggap aman. Dalam kasus ini memang cenderung sulit di antisipasi. Termasuk ketika bikers melakukan solo riding. Seorang teman penulis terpaksa kakinya terlindas bus karena kehadiran obyek secara tiba-tiba saat banting stir. Beruntung setelah dilakukan perawatan tradisional yakni diurut, kaki sang kawan kembali pulih. Tidak ada patah tulang.

Hal terpenting ketika konvoy menghadapi kecelakaan adalah rasa tenang. Pemimpin rombongan atau penanggungjawab perjalanan harus mampu menenangkan anggotanya. Tangani korban kecelakaan sebisa mungkin sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat.

Jika terpaksa memutuskan untuk meneruskan perjalanan, pastikan kondisi bikers yang terlibat kecelakaan memang benar-benar mampu mengendarai motor. Jika memang kelompok konvoy harus dipecah yakni sebagian tetap melanjutkan perjalanan dan sebagian menangani kecelakaan, pemimpin rombongan harus memiliki kepastian konvoy yang dipecah memiliki petugas konvoy yang kompeten. Pada bagian yang paling buruk, perjalanan bisa ditunda dan seluruh anggota konvoy kembali ke rumah masing-masing. (edo)

TVS Motor Rambah Palangka Raya


PT TVS Motor Company Indonesia menambah satu jaringan di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Kini, produsen sepeda motor asal India itu memiliki 104 dealer dengan dukungan 300 bengkel.

“Kami berharap kehadiran kami dapat dimanfaatkan masyarakat untuk dapat langsung mencoba keandalan produk sepeda motor TVS, baik TVS Neo maupun TVS Apache,” ungkap Gunawan Hanung, national sales manager PT TVS Motor Company Indonesia, dalam siaran pers, Sabtu (16/5).

Untuk wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, distribusi sepeda motor TVS dipegang oleh PT Budi Bersaudara Makmur. TVS Motor Company Indonesia berniat membuka empat lagi dealer di Kalimantan sehingga menggenapi jumlah dealer menjadi 13 unit.

Agen tunggal pemegang merek (ATPM) TVS itu memasarkan dua jenis sepeda motor yakni TVS Neo 110 cc dan TVS Apache RTR 160.

PT TVS Motor Company Indonesia merupakan pusat produksi TVS Motor Company India untuk kawasan Asia Tenggara. TVS Indonesia mendirikan pabrik di atas lahan seluas 20 ha di Kawasan Industri Suryacipta City di Karawang Jawa Barat, dengan kapasitas produksi terpasang 300.000 unit sepeda motor. (ed)

Selasa, 12 Mei 2009

Bro Arie Tergelincir

bro arie (kanan)

PETAKA tak pernah kita minta. Bagi pengendara sepeda motor (bikers), petaka akrab karena kendaraan roda dua lebih mudah terpelanting ketimbang kendaraan roda empat atau lebih. Dalam kondisi cuaca hujan deras, permukaan aspal menjadi licin. Seprima apapun ban motor, sedikit saja ada benda mengganjal bakal tergelincir. Bruakkk. Pengendara terpental yang berbuah celaka.
Bro Arie, bendahara Independent Bikers Club (IBC), terpaksa mencium aspal pada Senin (11/5), sekitar pukul 14.30 WIB di kawasan Jl Raya Parung, setelah kompleks perumahan Talaga Kahuripan, Bogor.
"Ada batu dua kepalan orang dewasa menghantam motor, sehingga saya terjatuh," papar pria yang saat kejadian hendak menuju kantor di kawasan Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Belum dapat dipastikan asal muasal sang batu. Menurut Arie yang cedera lecet pada kaki dan memar di sekujur lengan dan kaki, batu tersebut diduga berasal dari proyek pengaspalan jalan di lokasi kejadian. "Itu merujuk pada pernyataan pekerja proyek yang menolong saya," katanya.
Tak pelak, bagian speedometer Yamaha V-ixion biru milik Arie luluh lantak. Stang bengkok, lampu depan lecet, dan tanki bensin penyok.
"Saat kejadian hujan deras dan kecepatan sekitar 60 km per jam," jelas Arie yang setelah kejadian memilih mencari tukang urut untuk meredakan sakit dari memar.
Ia tertolong dari benturan kepala karena mengenakan helm menutup seluruh wajah (full face). Sedangkan sarung tangan sobek karena tergerus aspal. "Saat terjatuh, saya melepas motor dan menghempaskan badan ke kanan jalan," cerita Arie.
Seorang teman menuturkan, refleks bikers saat kecelakaan adalah menghempaskan tubuh ke kanan jalan karena takut tertumpuk dengan motor. "Padahal, bisa memicu tabrakan dari arah belakang dan dari arah berlawanan," jelas sang kawan.
Ya. Banyak anjuran, sekalipun harus menghempaskan diri, pilihlah arah sebelah kiri guna menekan risiko tertabrak kendaraan lain. Kecelakaan memang tak ada yang pernah mengidamkan. Bikers harus kian waspada, terlebih saat cuaca hujan deras. Semoga cepat pulih bro Arie. (edo)

Senin, 11 Mei 2009

21 Jam ke Ujung Genteng


HAMPARAN pasir putih menggoda mata. Riak ombak menerpa sang pasir. Kala kaki menapak, ombak mengejar bak ingin menyapa. Hemmm....rona senja pantai Ujung Genteng selalu menggelora seiring deburan gemuruh di rongga dada.

Perjalanan sejauh 243 kilometer (km) dari Jl Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat ke Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat, amat melelahkan. Kantuk menggelayut di pelupuk mata. Maklum, perjalanan dimulai kala jarum jam menunjukkan pukul 00.12 WIB, Jumat (8/5/2009).
Dinginnya udara malam kian menelusup ketika derai gerimis mengguyur bumi. Roda Yamaha V-ixion merah terasa agak licin ketika melintas di aspal sepanjang Jl Raya Bogor hingga ke Cibadak, Sukabumi. Butuh waktu 9 jam 18 menit untuk menjangkau obyek wisata berpasir putih yang juga terkenal karena penyu hijau-nya.
Konvoy 12 sepeda motor dari beragam merek dan kapasitas mesin meluncur mulus. Satu-persatu titik kumpul (tikum) terlewati. Mulai dari Jl Juanda, Depok saat menjemput Tino dan Wisnu, lalu Jl Raya Bogor, Cimanggis tikum penjemputan Bani, stasiun pompa bensin umum (SPBU) Warung Jambu, Bogor, hingga SPBU 3443113 Cikembang, Sukabumi. Jarak Jakarta-Cikembang sekitar 104 km. SPBU ini menjadi tempat peristirahatan sebelum mengarah ke Pelabuhan Ratu. Udara cerah. Saat jarum jam menunjukkan pukul 04.42 WIB, konvoy yang melintasi jalan berkelok, sesekali berlubang, hutan jati, hutan karet, dan pemukiman, akhirnya memilih mesjid Jami Al-Qudsiyyah Cangehgar, Palabuhan Ratu untuk sholat subuh.
Jalan masih sepi ketika meninggalkan mesjid. Sempat kesulitan mencari pertigaan mengarah ke Ujung Genteng. ”Masih jauh, sekitar tiga jam lagi,” ujar seorang jamaah masjid, saat ditanya waktu tempuh ke Ujung Genteng.
Cuaca gelap menyulitkan pandangan. Setelah ’nyasar’ sekitar 3 km, akhirnya ketemu juga persimpangan itu. Ada dua jembatan, pertama Jembatan Kuning yang kini sudah tidak dipakai lagi dan jembatan baru yang aktif sebagai penghubung Citarik menuju Ujung Genteng.
Hasrat mengunjungi wisata pantai Ujung Genteng sudah menggelora sejak awal 2009.
Eksotiknya pantai dengan karang dan pasir putih, membuat kenikmatan tak pernah henti saat mata memandang. Belum lagi penyu hijau dan kehidupan nelayan dengan segala pernak-perniknya. ”Ujung Genteng bak Bali kecil,” tukas Acoy, ketua Panitia Touring ke-10 Independent Bikers Club (IBC).
Karena itu pula, perjalanan melintasi jalan berkelok dan berlubang sepanjang Kiara Dua menuju Jampang Kulon dan Surade, seakan tak melelahkan. Meski ada jurang di kanan kiri, namun pemandangan hutan dan kebun teh menjadi pengobat mujarab. Setelah bermotor hampir tiga jam, memasuki pukul 09.00 WIB, singgah di mulut Jl Surade Kota. Melepas penat dengan menikmati bubur kacang hijau dan segelas teh manis panas. Istirahat sepanjang 20 menit cukup memulihkan stamina. Aroma pantai terasa sudah mengelayut di seisi kepala, walau jarak Surade-Ujung Genteng masih sekitar 25 km. Pedal gas ditancap terus. Kecepatan bisa dipacu hingga 90 per km per jam. Maklum, jalan lurus dan mulus hingga ke ’gerbang’ kawasan Ujung Genteng.
Usai membayar restribusi Rp 2.000 per orang dan Rp 1.000 per motor, laju V-ixion pun dipacu lagi. Rimbunnya pohon kelapa di sisi jalan, seakan memberi isyarat, pantai sudah dekat. Aroma udara laut menyengat di hidung.
Tak sulit mencari letak Deddy Losmen. Di ujung Jl Ujung Genteng, kami berbelok ke kanan. Memasuki jalan conblock sekitar 300 meter dan jalan berpasir putih, serta sesekali melintasi genangan air keruh berpasir. Di kanan jalan, terlihat beragam penginapan. Sedangkan di kiri jalan, laut biru menghampar.
Deddy Losmen adalah penginapan sederhana. Pengunjung dikenai tarif Rp 350 ribu per malam per satu rumah yang berisi dua kamar. Kapasitas kamar bisa menampung maksimal 4 orang. Memili kamar mandi, ruang pertemuan dan beranda. Deddy Losmen memiliki tiga bangunan, termasuk satu aula. Halaman parkirpun lumayan luas, bisa menampung sekitar 100 motor. Dari beranda losmen, terlihat hamparan pasir putih pantai Ujung Genteng.
Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, saat memutuskan untuk istirahat tidur sekitar tiga jam.

Air Terjun Cikaso
Kabupaten Sukabumi memiliki segudang obyek wisata air terjun. Semuanya terletak di pegunungan. Namun, yang tergolong unik adalah Curug Cikaso atau Air Terjun Cikaso. Jaraknya sekitar 33 km dari Ujung Genteng. Arahnya, kembali menuju jalan masuk Ujung Genteng. Waktu tempuh sekitar 40 menit. Keunikan obyek wisata yang gencar dipromosikan sejak 2002 itu, adalah para pengunjung harus naik perahu untuk menjangkau air terjun. Kawasan ini dikelola oleh pemuda sekitar. ”Namun, kalau retribusi Rp 2.000 per orang masuk kas Koperasi Warga Laksana,” ujar Rizal, pemuda yang ikut mengelola sejak 2007.
Untuk sewa perahu bermesin yang berkapasitas maksimal 10 orang penumpang plus 3 awak itu, setiap pengunjung dikenai tarif Rp 70 ribu per 3 jam. Ada sekitar 25 perahu yang beroperasi setiap hari melayani pengunjung. Berapa lama waktu tempuh berperahu? Ternyata tidak lebih dari 6 menit.
Tiga air terjun yang jatuh dari ketinggian sekitar 30 meter itu benar-benar memberi pemandangan tak membosankan. Air di bawah air terjun berwarna hijau jernih. ”Dalamnya sekitar dua meter,” kata seorang pemandu.
Usai melantik dua calon anggota IBC yakni Supri dan Nasir, kami pun memutuskan untuk menikmati segarnya air terjun. Byurrr mandi bersama. Segar.
Udara panas pantai seakan lenyap di bawah air terjun. Maklum, sepanjang Mei ini, merupakan musim angin selatan. Ombak agak besar. ”Nelayan tidak melaut sejak 5 hingga 25 Mei,” jelas Kusnaidi, seorang pengepul ikan di pantai bagian barat Ujung Genteng. Rasanya masih kurang walau telah menghabiskan sekitar 75 menit bermain air di Curug Cikaso. Bagi pengunjung yang menggunakan sepeda motor agar berhati-hati. Jalan berbatu cadas akan menjamu bikers. Jalan yang memasuki areal parkir itu memanjang sekitar 100 meter. Jika tidak waspada, alih-alih bisa tersungkur. Sedangkan aspal sepanjang 8 km dari pertigaan memasuki kawasan PTPN VIII Cikaso tergolong mulus. Sekitar 1 km jelang curug, agak menurun dan sesekali berlubang. Tak pelak, ban roda depan motor Honda Revo milik Supri harus menjadi korban. ”Ban luar dan ban dalam saya sobek, terpaksa harus ganti baru,” papar Supri yang baru saja dilantik.
Jelang petang. Matahari masih gagah menyinari permukaan laut. Pemandangan matahari terbenam bak goresan maestro pelukis. Banyak wisatawan menghabiskan waktu bermanja-manja di tepi pantai. Ada yang berjalan kaki, bercengkerama dengan pasangan, hingga asyik berenang. Dan tentu saja, tak sedikit yang asyik memotret. Termasuk berpose untuk kenang-kenangan saat kembali ke kota. ”Pantainya indah banget. Asyik untuk dipotret,” ujar Mei Mei Riyanto, seorang pengunjung asal Jakarta. Gadis kelahiran Palembang itu seperti tak bosan berpose di bibir pantai. Bahkan, sambil dibenam pasir. Sesekali ia menyibak rambutnya yang sebahu guna menepis air yang luluh di wajahnya. Hemmm....
Hidangan malam dah tersedia saat usai mandi petang hari. ”Udah dipesenin menu ikan tuh,” ujar Nury, wartawati freelance yang hobby fotografi. Ia menjadi salah satu dari 3 lady boncenger yang ikut ke Ujung Genteng. Wanita berparas ayu itu memang ingin bener menikmati renyahnya ikan laut. ”Tapi agak susah mencari ikan saat ini,” ujar Deddy, sang pemilik losmen yang dimintai mencari menu ikan.
Kusnaidi memang sempat berujar, kebanyakan nelayan menjual ikannya kepada para pengumpul. ”Setelah itu, saya jual ke pabrik pengolahan ikan atau dijual ke Muara Angke, Jakarta,” paparnya. Para pengumpul untung besar. Bayangkan, beli ikan Rp 25 ribu per kg dari nelayan, mereka jual sekitar Rp 60 ribu per kg ke pabrik pengolahan. ”Harga ikan tergantung turun naiknnya dolar AS,” kata Kusnaidi lagi.
Usai santap malam. Niat mengunjungi kawasan konservasi penyu hijau pun digeber. Apa daya, baru saja melaju sekitar 50 meter dari penginapan, hujan deras menerpa kami. Segera semua berbalik arah. Nunggu hujan reda di penginapan. ”Killing time, kita ngobrol yuk,” ajak saya kepada beberapa teman. Jadilah perbincangan sana-sini mengalir sambil menikmati penganan kecil. Hujan tak jua reda. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 WIB. Barulah setengah jam kemudian reda. Tapi semangat menuju lokasi penyu sudah luluh. Mungkin juga karena lelah.
Sekitar pukul 00.00 WIB, Eva dan Mei Mei saya minta istirahat tidur. Nury sudah lebih dulu. Para pria lain sedang asyik bercengkerama sambil menikmati sebatang rokok. Ada juga yang asyik bermain domino.
Lelap membawa saya ke peraduan. Hingga keesokan hari. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 08.00 WIB, saat tukang nasi uduk menjajakan dagangannya di depan pintu penginapan. Lumayan buat ganjel. Harganya Rp 6.000 per bungkus dengan menu telur bulat bersambal.
Masih sempat bermandi pasir dan menikmati segarnya air laut. Namun, sebelumnya jalan-jalan melihat pemukiman nelayan. Ternyata, angin selatan menggoyang perahu nelayan yang diparkir di sisi pantai. ”Hal ini sudah rutin, setiap bulan Mei, ombaknya cukup tinggi,” papar Kusnaidi.
Sekira pukul 12.50 WIB, Sabtu (9/5), konvoy IBC bergegas meninggalkan penginapan. Kembali ke Jakarta. Awan hitam terlihat menggumpal di langit. Baru berjalan sekitar 30 km, Alam selaku sweeper menginformasikan sebagian anggota harus mengisi bensin dan singgah di SPBU setempat. Selaku road captain, saya putuskan berhenti seraya sholat dzuhur di mesjid Ciparay, Jampang Kulon. Waktu menunjukkan pukul 13.50 WIB. Baru saja bergerak sekitar 1 km, hujan pun turun. Tidak ada pilihan. Berhenti menggunakan jas hujan. Hujan rupanya tak henti hingga kami harus singgah di sebuah mesjid untuk menjalankan sholat Maghrib, pukul 18.20 WIB, di kawasan Warung Kiara, Sukabumi. Atau sekitar 90-an km dari Jampang Kulon. Dingin menusuk tulang.
Ganti formasi, Acoy memimpin rombongan. Ironis, kondisi jalan yang licin dan kendaraan yang tidak fit membuat Supri terseok-seok. Tertinggal hampir 5 km di belakang konvoy. Kali ini, saya menemani selaku sweeper. Perjalanan yang melelahkan.
Hujan baru berhenti ketika kami tiba di kawasan Lido, di Jl Raya Sukabumi.
Sesekali bertemu konvoy bikers mengarah ke sukabumi. Mereka memakai light stick, sirene, bahkan strobo. Sabtu itu merupakan hari libur nasional yakni perayaan Waisak, hari besar umat Buddha, tak heran ramai bikers yang berangkat touring.
Perjalanan sepanjang Lido hingga SPBU Padjajaran, Bogor berlangsung mulus. Sesekali tersendat karena keramaian lalulintas di beberapa perempatan jalan, seperti di Cicurug dan Cijeruk. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB ketika masuk SPBU Padjajaran. Kami briefieng ulang untuk rute. Maklum, sebagian anggota konvoy ada yang berbeda arah pulang. Alam dan Irfan menuju arah Parung, sebagian mengarah ke jalan baru Depok, dan sisanya menelusuri Jl Raya Bogor menuju arah Jakarta. Rasa penat terasa membelenggu tubuh ketika memasuki pintu rumah sekitar pukul 23.15 WIB. Lega rasanya, touring ke-10 IBC kali ini rampung dengan selamat. (edo)



foto: by tino dan bani




Rabu, 06 Mei 2009

Strategi Penjualan Melalui Komunitas

SERANG – Minerva Cabang Serang membentuk Minerva Rider Community (MRC) Banten pada Sabtu (3/5), bertepatan dengan ulang tahun pertama MRC tingkat nasional. Pembentukan klub motor ini bagian dari strategi penjualan.
Tjetjep Suhandri, Area Sales Supervisor PT Minerva Motor Indonesia Cabang Banten, mengatakan, anggota MRC di Indonesia baru mencapai 400 orang. Sementara MRC di Banten baru terbentuk karena pemilik motor Minerva masih terbatas.
“Minerva di Banten baru dipasarkan beberapa bulan, jadi pemiliknya belum begitu banyak. Saat ini anggota MRC sekitar 13 orang, berasal dari Serang dan kota lain di Banten,” ujar Tjetjep.
Terbentuknya MRC, menurut Tjetjep, membantu diler Minerva memasarkan produk. Kegiatan komunitas motor, di antaranya konvoi, menjadi ajang sosialisasi serta pembuktian diterimanya Minerva di tengah masyarakat. Anggota MRC didominasi pemilik motor sport Minerva R 150 dan T 200. Dua tipe ini lebih disukai dibandingkan motor bebek atau trail.
Pembentukan MRC mendukung diler Minerva yang pada kuartal kedua 2009 ini menyeriusi segmen pasar motor sport. Ini dibuktikan dengan tidak dipasarkannya motor bebek New Athena CW dam New Super Z CW.
“Motor bebek sementara ini tidak dipasarkan dulu, karena pabrikan Minerva berencana mengeluarkan tipe bebek baru dengan desain orisinil,” ujar Tjetjep.
Mulai tahun ini, lanjut Tjetjep, pabrikan motor Minerva mulai memasarkan tipe motor model sendiri. Motor asal Taiwan yang menggunakan teknologi mesin Jerman ini tengah merintis imej pasar otomotif di Indonesia dengan desain orisinil.
Tjetjep menambahkan, sudah saatnya Minerva tampil percaya diri dengan desain orisinil. Desain tersebut dinilai mampu bersaing dan memikat banyak konsumen. Strategi ini merupakan trik yag dipakai dalam menyiasati persaingan pasar. (lai)
Sumber: Radar Banten, Selasa, 5 Mei 2009



Kaisar Garap Pasar IKM

Produsen motor niaga merek Tiongkok, PT Kaisar Motorindo Indonesia (KMI), mengincar segmen industri kecil dan menengah (IKM) untuk memacu penjualan pada 2009. Pada pertengahan tahun ini KMI akan melepas varian motor niaga baru yang ditujukan bagi pedagang kecil seperti bakso dan roti.

Seiring dengan itu, KMI menargetkan penjualan tahun ini melonjak 40% menjadi 1.000 unit per bulan dibanding tahun lalu 600 unit per bulan.

“Produk yang baru ini merupakan modifikasi dari produk sebelumnya yakni Kaisar Tricycle. Harapannya, penjualan dapat menjadi 1.000 unit sebulan,” ujar Direktur Utama PT KMI Denny Chandra di Jakarta, Selasa (5/5).

Dia menambahkan, KMI mengimpor mesin dalam bentuk terurai dari Tiongkok. Selanjutnya, KMI merakit di pabrik dengan kapasitas terpasang 1.500 unit sebulan. Dia mengaku tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) motor Kaisar sudah mencapai 70%.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Indusrtri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Shinduwinata mengatakan, pasar motor nasional pada tahun ini diperkirakan menyusut 30% menjadi 4,2-4,6 juta unit dibanding tahun lalu sebesar 6,2 juta unit. Industri motor nasional pada tahun ini mendapat tekanan dari krisis likuiditas di perusahaan pembiayaan.

Krisis likuiditas, ujar dia, membuat uang muka pembelian motor dan bunga cicilan membengkak. Hal ini, kata dia, memangkas penjualan motor mengingat sekitar 80% pembelian menggunakan skema kredit. “Imbas krisis keuangan global mempengaruhi daya beli, khususnya mengeringnya likuiditas sehingga menekan penjualan,” papar dia.

Per April 2009, pasar motor nasional anjlok 18,5% menjadi 1.603.810 unit dibanding periode sama tahun lalu sebesar 1.969.340 unit. Pasar motor nasional masih dikuasai oleh merek Jepang dengan porsi sekitar 98%. Sampai April 2009, Honda menjadi pemimpin dengan pangsa pasar 46,2% disusul Yamaha 45,4%, Suzuki tercatat mencapai 7,5% dan Kawasaki sebesar 0,8%. (coy)

Secuil Catatan Kopdarling RSA Mei 2009

BANYAK pengendara sepeda motor (bikers) lupa, kesabaran berpengaruh penting guna cegah kecelakaan. Kesabaran terbangun dari perilaku dan kesadaran diri kita. Mengejar waktu yang menyeret perilaku berkendara ceroboh membuka peluang kecelakaan di jalan raya. Padahal, ”Jumlah bikers yang tewas sia-sia akibat kecelakaan di jalan raya, sepanjang tiga bulan pertama 2009 jumlahnya naik sekitar 82% dibandingkan rentang waktu sama 2008,” tutur Edo, kepala divisi litbang Road Safety Association (RSA), di kawasan Mid Point, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5).
Edo memaparkan data RSA seputar kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di Jakarta dan sekitarnya di hadapan 30-an bikers yang hadir dalam kopi darat keliling (kopdarling) RSA. Pertemuan itu digelar sebulan sekali berkeliling di antara kelompok sepeda motor yang tergabung dalam RSA. Hingga kin ada 70-an kelompok yang bernaung di organisasi yang dibesut 15 Desember 2007 itu. RSA semula bernama Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ).
Kembali soal perilaku sebagai kunci mencegah kecelakaan. Menurut Pak Yani, dari Direktorat Perhubungan Darat Departemen Perhubungan (Dephub), yang utama adalah kesadaran diri kita. ”Safety adalah kebutuhan, untuk diri sendiri, keluarga, dan negara,” papar dia, saat didaulat bicara dalam kopdarling yang kali ini digelar oleh Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC).

Peserta kopdarling kali ini dari beragam kelompok sepeda motor yakni Barac, YVC Tangerang, YVC Indonesia, Tirec, HTML Yogyakarta, Hornet, Independent Bikers Club (IBC), Ever Community, HOC, KHCC, HCST, Detic, S2W, HSJ, SC 225, Milys, YJOC, dan YJOC Jogya
Selain membangun kesadaran tiap individu bikers, kepatuhan terhadap regulasi yang ada seperti undang-undang dan peraturan pemerintah terkait pengaturan lalulintas jalan raya, juga menjadi mutlak. ”Setiap orang punya hak dan kewajiban oleh karena itu diatur supaya nyaman dan tertib yang bermuara ke keselamatan,” papar Syamsul, pendiri RSA.
Ya. Tanpa kepatuhan terhadap peraturan lalulintas mustahil ketertiban bisa tercipta. Mulai dari berhenti di belakang garis setop, tidak naik ke trotoar, tidak menggunakan sirene dan strobo serta tidak menggunakan lampu jarak jauh yang terlalu terang. ”Kita mengacu kepada peraturan, bukan atas suatu kesepakatan belaka. Landasannya adalah aturan hukum,” ujar Rio, sang koordinator RSA.
Dalam situasi berkendara secara kelompok, bagi Syamsul, setiap bikers harus lebih waspada lagi. ”Group riding berpotensi lebih besar menimbulkan kecelakaan ketimbang solo riding,” tukas Agus, dari Depok Tiger Club (Detic).
Karena itu, pengaturan jarak dan penempatan bikers dalam suatu group riding menjadi amat penting. ”Pengendara yang memiliki skill lebih baik diposisikan pada barisan belakang, yang skill di bawahnya ditempatkan di barisan depan,” papar Syamsul.
Kopdarling yang digelar mulai 20.18 WIB itu ditutup 21.34 WIB. Jadwal yang semula ditetapkan 18.30 WIB molor karena permasalahan teknis kelistrikan. Belum lagi miss understanding antara satuan petugas keamanan (satpam) gedung KONI dengan gedung Mid Point. Kopdarling ditutup dengan penyerahan buku karya Edo kepada Pak Yani dan Master YJOC Shasya 249. Satu persatu peserta meninggalkan arena kopdarling. (edo)

Senin, 04 Mei 2009

Penjualan Motor Merosot 29%


Penjualan motor domestik secara wholesales (pengiriman motor dari pabrik ke dealer) sepanjang April 2009 merosot 29% dibanding bulan sama tahun lalu menjadi 385.606 unit dari sebelumnya 542.750 unit. Kontraksi pasar pada bulan lalu merupakan yang tertinggi sepanjang tahun ini.

Direktur Pemasaran PT Astra Honda Motor (AHM), agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Honda, menilai, penurunan pasar yang tajam ini dipicu aksi Honda selaku pemimpin pasar motor nasional mengurangi posisi stok di dealer. Hal ini terbaca dari rendahnya penjualan wholesales Honda yang hanya 155.789 unit, turun 24% dibanding bulan sebelumnya 204.352 unit.

Pemangkasan stok, ujar Julius, demi menyehatkan posisi stok di dealer. Dia mencatat, stok Honda berada di atas satu bulan pada April, sehingga harus diturunkan. “BI Rate memang sudah turun 200 basis poin menjadi 7,5% namun perusahaan leasing belum menurunkan bunga sehingga penjualan belum membaik,” ujarnya, ketika dihubungi di Jakarta, Senin (4/5).

Berdasarkan data yang dihimpun dari beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor, Yamaha berhasil membukukan penjualan tertinggi sebesar 189.082 unit disusul Honda 155.789 unit, Suzuki 36.901 unit dan Kawasaki sebesar 3.834 unit. Kesuksesan Yamaha menggusur Honda di posisi pertama merupakan yang pertama dalam tahun ini.

Tahun 2008, Yamaha menyalip Honda pada Desember. Hal serupa pernah dilakukan Yamaha pada Maret dan Juli 2007.

Wakil Presiden Direktur PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) Dyonisius Beti mengibaratkan persaingan antara Honda dan Yamaha sperti aksi balap Valentino Rossi (Fiat Yamaha) dan Dani Pedrosa (Repsol Honda) di sirkuit Jerez, Spanyol, akhir pekan lalu. Pedrosa yang pada awal pertandingan sempat memimpin akhirnya disalip Rossi di sisa 10 lap balapan.

“Perlahan-lahan Rossi menyusul Pedrosa. Rossi menang dan Yamaha juga ikut menang. Mungkin ini bukan sekedar kebetulan,” paparnya.

Julius Aslan menyatakan, AHM akan menambah pasokan motor ke dealer mulai bulan ini. Namun dia menolak menyebutkan berapa target wholesales Honda bulan ini. “Kemungkinan akan mendekati level Maret,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Astra Honda Motor (AHM), produsen motor Honda, Miki Yamamoto menerangkan, industri motor nasional mengalami kelebihan stok sepanjang kuartal pertama tahun ini. Beberapa produsen motor diduga sengaja memasok motor dalam jumlah banyak ke dealer hanya untuk gengsi semata.

Tingginya stok di pasar membuat para dealer terdorong untuk melakukan praktik banting harga (diskon). Efeknya, nilai jual kembali (resale value) motor dapat anjlok. “Kami tidak ingin hal ini terjadi pada Honda. Yang terpenting bagi kami adalah menjalankan bisnis dengan sehat bukan semata mengejar market share,” ujar Miki.

Pasar motor hingga April 2009 tercatat anjlok 18,5% menjadi 1.603.810 unit dibanding periode sama tahun lalu sebesar 1.969.340 unit. Miki Yamamoto memprediksi penjualan motor tahun ini akan mencapai 5 juta unit, turun 19% dibanding 2008 sebesar 6,2 juta unit. Sedangkan penjualan Honda diprediksi melorot 17% menjadi 2,3 juta unit dibanding 2008 sebanyak 2,8 juta unit.

Per April 2009, penjualan Honda tercatat turun 17% menjadi 740.312 unit dengan pangsa pasar 46,2%. Sedangkan penjualan Yamaha terpangkas 7% menjadi 728.635 unit dengan pangsa pasar 45,4%. Sedangkan pangsa pasar Suzuki tercatat mencapai 7,5% disusul Kawasaki sebesar 0,8%. (coy)

Minggu, 03 Mei 2009

Sekarang, Bisa Perpanjang STNK di Mobil Samsat Keliling

foto:edo

PARA bikers yang hendak memperpanjang masa berlaku surat tanda nomor kendaraan (STNK) kini tidak usah repot-repot ke kantor Samsat di Jl Daan Mogot, Jakarta Barat. Bikers bisa mendatangi lokasi mobil Samsat Keliling terdekat.
Untuk memperoleh pengesahan STNK / Pembayaran Pajak pada Unit Samsat Keliling para bikers pertamakali harus mengisi formulir SPPKB yang sekaligus berfungsi sebagai pernyataan tidak terjadi perubahan Speksifikasi Kendaran Bermotor. Jangan lupa juga membawa STNK dan BPKB Asli.
Lalu tunjukan bukti pelunasan PKB / BBN KB dan SWDKLLJ (SKPD yang telah di Validasi) tahun terakhir.Terkait identitas perorangan para bikers harus menunjukkan tanda jati diri yang sah dan bagi yang berhalangan melampirkan surat kuasa bermaterai cukup. Sedangkan untuk badan hukum harus melampiri salinan akte pendirian, surat kuasa bermaterai cukup dan ditandatangani oleh pimpinan serta dibutuhkan cap badan hukum yang bersangkutan.Sementara itu, untuk intansi pemerintah termasuk BUMN dan BUMD melampiri surat tugas atau surat kuasa bermaterai cukup yang ditanda tangani oleh pimpinan serta dibubuhi cap intansi yang bersangkutan. Mudah kan? Waktunya juga tidak terlalu lama karena pengunjung mobil Samsat Keliling tidak sebanyak di kantor pusat mereka.
Para bikers dapat mengetahui jadwal atau posisi Samsat -SIM keliling dan lainnya tentang lalu lintas atau akan memberikan informasi tentang gangguan lalu lintas, bisa menghubungi 021-5276001 atau SMS 1717 TMC Ditlantas PMJ. (edo)

Jumat, 01 Mei 2009

Bikers Butuh Rubrik Safety Riding

BIKERS MAGZ (BM) cukup jeli. Majalah bulanan yang mengupas kehidupan kelompok sepeda motor itu tergolong baru. Umurnya baru seumur jagung. Tapi, malam itu, Jumat (1/5), majalah di bawah komando Amir Hamzah, mampu mengumpulkan sekitar 200 bikers dari belasan kelompok sepeda motor di Jakarta. Luar biasa.
Putt Putt Café di bilangan Senayan, Jakarta Pusat, sesak oleh para bikers. Halaman parkir café yang menyediakan golf mini itu sesak oleh roda dua tunggangan bikers. Terlihat bikers Independent Bikers Club (IBC), IBLC, Jakarta Ninja Club (JNC), King Club Djakarta (KCDJ), Yamaha V-xion Club (YVC) Indonesia, Minerva Riders Club (MRC), Tiger Jakarta Timur (TJT), Honda Tiger Owner Group (HTOG), Honda Tiger Club Indonesia (HTCI), Yamaha Scorpio Club (YSC), Redzone, Thunder Club Indonesia (TCI), Jakarta Hotelier Bikers Club (JHBC), dan Honda Supra Jakarta (HSJ), serta aktivis Road Safety Association (RSA).
Acara yang baru dimulai pukul 19.45 WIB, meski dalam undangan via telepon bakal dimulai pada pukul 18.30 WIB, dibuka oleh Amir selaku pemimpin redaksi BM. “Kerja sama selama ini antara kami dengan bikers lebih ke kemitraan, saling diuntungkan,” ujar pria yang rajin menyambangi kegiatan bikers itu.
Majalah tersebut memang menampilkan hampir seluruh kegiatan kelompok sepeda motor. Mulai dari touring, bakti social, hingga acara ulang tahun klub. ”Itulah Bikers Magz yang mottonya Brotherhood on The Road,” tutur Adrian, pemimpin umum BM.
Saat ini, majalah berukuran mini setebal 68 halaman itu, mulai terdengar akrab di telinga bikers, khususnya yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. “Jangan mengaku bikers kalau tidak kenal Bikers Magz,” ujar Anang Akbar, pentolah JHBC.
Sontak, lontaran Akbar itu mendapat tepuk tangan riuh dari para bikers. Amir dan Adrian tersenyum.

Rubrik Safety Riding
Edo, ketua IBC yang juga aktifis RSA memanfaatkan kesempatan pertama dalam forum tanya jawab malam itu. ”Bikers Magz semestinya juga menyajikan rubrik safety riding guna mendukung penyebarluasan berkendara yang aman dan selamat. Muaranya agar ikut meredam laju kecelakaan yang menimpa bikers,” papar Edo.
Respons mencuat dari para bikers yang hadir. Termasuk dari Rudy, YVC Indonesia. ” Rubrikasi safety riding juga hendaknya ditambah soal ajakan untuk mematuhi undang-undang atau peraturan seputar jalan raya,” ujarnya.
Bahkan, ”Selain rubrik safety riding dirasa perlu banget. Kalau bisa bikin lomba menulis soal safety riding,” ujar Akbar.
Harapan rubrik yang menyajikan artikel safety riding bukan tanpa alasan. Sepanjang triwulan pertama 2009, jumlah angka kematian bikers akibat kecelakaan lalulintas naik 81,8% dibandingkan periode sama 2008. Setiap bulan, ada 7 nyawa bikers yang mati sia-sia di Jakarta dan sekitarnya. Amat memprihatinkan. Media, seperti BM, menjadi penting untuk mensosialisasikan kepada para pembacanya bahwa berkendara yang aman dan selamat menjadi kebutuhan.
Adrian segera merespons lontaran para bikers mengenai rubrikasi tersebut. ”Kami sudah merancangnya dengan seksama dan segera mewujudkan hal itu dengan Joel dan Jusri,” tukas Adrian yang malam itu sering tersenyum sumringah.
Kumpul-kumpul awak BM dengan para bikers diselingi dengan pembagian doorprize kaos, topi, dan helm. Sedangkan inti acara adalah upaya BM menjaring masukan dengan membagikan kuesioner tentang sebuah prototipe motor. ”Ini adalah motor konsep yang akan ditawarkan kepada para ATPM,” ujar Adrian. Harga motor yang dipertontonkan malam itu Rp 19,9 juta per unit dengan kapasitas mesin 150 cc.
Sekitar pukul 21.00 WIB acara pun rampung ditutup dengan makan malam bersama. (edo)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian