Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Sabtu, 31 Januari 2009

Kopdarling RSA di Pulsarian (Bagian kedua-Habis)



Terkait soal latah mengatur barisan atau konvoy, bagi pria yang bekerja di BUMN itu, perlu ditegakkan disiplin diri para peserta konvoy. Sudah wajib penerapan prosedur standar berkonvoy yakni membentuk kepanitian dan petugas konvoy. Mulai dari yang memimpin (road captain) hingga petugas sapu bersih (sweeper) yang menjaga barisan dari belakang. Prosedur standar haru diikuti oleh seluruh peserta, termasuk oleh senior.
Persiapan yang matang sebelum konvoy juga bakal membantu barisan menjadi lebih tertib. Perencanaan mencakup tujuan, rute, dan agenda apa yang akan dilakukan ketika tiba di tempat tujuan konvoy. Ia mengingatkan agar pengaturan waktu tidak terlalu mepet. Harus ada pengaturan jadwal istirahat yang cukup, terlebih jika menempuh perjalanan jauh hingga ratusan kilometer. Pemimpin rombongan juga diupayakan agar orang yang mampu membuat keputusan demi keamanan dan kenyamanan grup. Terkait perlu tidaknya memberi sinyal ketika di tikungan jalan. Syamsul menuturkan, setiap pengendara harus mampu membuat prediksi. Bisa saja mengurangi kecepatan, selanjutnya kembali ke kecepatan normal. Karena itu, dalam konvoy perlu dipertimbangkan keahlian berkendara (skill). Upaya menghindari accident ketika menemui tikungan terlebih yang berlubang, salah satunya adalah dengan memberi jarak di antara anggota konvoy. Upayakan konsentrasi tetap penuh terhadap jalan yang akan dilintasi, karena itu jangan memaksakan diri memberi sinyal tangan maupun kaki jika ternyata mengganggu konsentrasi berkendara yang justeru membahayakan diri. Sangat mutlak bagi tiap pengendara untuk mampu membaca kondisi sekitar. Ada baiknya sebelum bepergian mempelajari kondisi jalan yang bakal dilewati. Bikers juga harus mencaritahu tipikal pengguna jalan lainnya area itu dan mencermati rambu yang ada. Intinya, kata Syamsul, jaga jarak dalam konvoy dan kenali kondisi jalan.
Sharing dari Syamsul disimak secara antusias oleh peserta kopdarling. Waktu telah memasuki pukul 21.07 WIB. Gerimis masih saja turun. Bahkan ada indikasi bakal membesar.

Lampu Menyilaukan
Sang moderator, Rio mempersilakan peserta kopdarling menyimpulkan sendiri sharing yang terlontar dalam forum malam itu. Sekaligus mengajak, para bikers yang hadir dari berbagai komunitas di antaranya adalah Pulsarian, Thunder Riders Community (TRC). AN TV Riders Club (ARC), Yamaha Vixion Club (YVC), dan Yamaha Jupiter Owners Club (YJOC), untuk kembali sharing.
Bikers dari Pulsarian melontarkan topik mengenai lampu bercahaya terang atau lampu high intensity discharge (HID). Lampu jenis itu, kini kita temui dalam beragam warna cahaya yakni putih, biru, dan ungu. Ironisnya, lampu tersebut cenderung menyilaukan mata pengendara lainnya. Sang bikers meminta input bagaimana menghadapi lampu yang menyilaukan mata tersebut. Topik itu ditimpali Meli dari Pulsarian. Menurut dia, pemakai lampu yang terang mestinya di barisan depan saat berkonvoy di malam hari. Sedangkan untuk mengatasi kebosanan berkonvoy yang bisa membuat ngantuk, Meli milih di posisi barisan belakang.
Nde Siswandhi menimpali, bahwa dirinya sangat membenci lampu HID yang menyilaukan mata. Ia menyarankan, agar bikers tidak memasang di sepeda motornya. Terkait soal mengatasi rasa kantuk, bagi pria lajang itu, kecepatan jangan melebih 70 kpj. Dan, road captain harus bisa membaca kondisi sehingga tahu kapan mempercepat atau memperlambat konvoy.
Anggota Pulsarian lainnya menimpali bahwa dirinya memakai lampu HID karena pernah terjatuh gara-gara lampu standar sepeda motornya tidak mampu menerangi jalan sehingga ia tidak melihat separator jalan di kala hujan.Dalam berkonvoy, ia minta ditempatkan di bagian belakang dan jaraknya tidak terlalu rapat. Ia mengaku, tidak ingin arogan dalam berkonvoy dan bukan bertujuan gaya-gayaan dalam memakai HID.
Suasana malam kian dingin ketika rintik gerimis kian membesar. Bro Eko dari RSA menimpali bahwa penggunaan lampu sebenarnya sudah diatur dalam peraturan pemerintah. Intinya, lampu tidak boleh menyilaukan pengguna jalan. Pria pengendara sepeda motor Yamaha RX King itu, mengajak para bikers menggunakan lampu standar yang dibuat oleh pabrikan sepeda motor. Sedangkan soal mengatasi rasa kantuk saat berkonvoy, intinya ia mengajak agar para bikers membuat manajemen yang efektif ketika memutuskan untuk berkonvoy. Salah satu solusi adalah, ketika kantuk menyerang, konvoy harus berhenti untuk beristirahat. Atau, jika kondisi jalan memungkinkan seperti kondisi jalan yang lurus, bisa saja menambah kecepatan sepeda motor. Terkait penggunaan lampu bagi kendaraan, PP No 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi, telah mengaturnya dan melarang penggunaan lampu yang menyilaukan mata. Aturan itu termaktub dalam pasal 29 hingga 31 PP tersebut.

Terkait istirahat dalam mengatasi kantuk, Roki dari komunitas vespa Partisi juga punya pengalaman serupa. Ia membeberkan bagaimana menjadi pengawal konvoy touring kelompok sepeda motor Inuk Lady Bikers Club (ILBC). Menurut dia, tiap 45 menit, konvoy berhenti untuk beristirahat mengingat dalam rombongan terdapat anggota yang belum memiliki pengalaman bepergian jauh menggunakan sepeda motor. Soal permen, termasuk permen karet, dinilai cukup membantu untuk menghalau rasa kantuk.
Di sela sharing, ketika jarum jam memasuki pukul 21.26 WIB, tiba-tiba rombongan ARC dan TRC.
Sontak, sang moderator, Rio, meminta peserta yang baru datang untuk memperkenalkan diri.
Kenmada, penasihat ARC langsung membuka dengan ucapan terimakasih atas kesempatan untuk bisa hadir dalam kopdarling RSA. Ia juga memperkenalkan rombongan yang dipimpinnya termasuk ketua baru ARC. Menurut dia, kelompoknya memang baru berdiri dan harus banyak belajar mengenai berkonvoy dan safety riding. ARC mengandalkan anggotanya yang telah aktif di komunitas di luar ARC.Kenmada melontarkan sejumlah pertanyaan yakni apakah diperbolehkan blocking? Dan penggunaan lampu strobo dan sirene.
Sebelum sharing mengenai hal itu, Zulham YVC 180 yang datang bersama YVC 182 menyuarakan soal safety riding yang bersifat kejam. Menurut dia, YVC yang masih awam soal safety riding menerapkan sikap bahwa safety riding harus dimulai dari diri sendiri lalu orang lain. Terkait soal penggunaan sinyal bagi dia, harus dikomandoi oleh road captain sedangkan anggota konvoy sebisa mungkin menghindari lubang yang ada.
Rio yang sedari awal memoderatori kopdarling kali ini, rupanya tidak bisa memendam hasrat berbicara. Ia tergelitik soal perilaku blokir dan penggunaan sirene dan strobo oleh para bikers. Bahkan, Rio bertanya soal adanya anggota Pulsarian yang memperoleh izin menggunakan strobo dan sirene dari aparat di Yogyakarta. Menurut dia, hal itu bisa menjadi bahan diskusi di RSA maupun ketika berinteraksi dengan aparat berwenang. Soal blokir, kata pria yang juga aktif di komunitas roda empat daihatsu itu, aturannya sudah jelas yakni hanya bisa dilakukan oleh aparat yang berwenang. Masyarakat sipil tidak boleh. Salah satu solusi untuk menghindari penumpukan konvoy adalah dengan membuat pemberangkatan bertahap atau kelompok touring (klotur).
Di sela sharing soal safety riding, bro Ikbal, TRC 325 mengundang para bikers untuk ikut turnamen futsal yang digelar dalam rangka hari jadi ke 4 TRC pada Maret 2009. Ia yang mengaku salut melihat kekompakan bikers yang masih bertahan di tengah gerimis, mengundang 60-80 komunitas untuk berpartisipasi dalam lomba yang memperebutkan hadiah total Rp 6 juta. Komunitas atau klub yang ikut turnamen dikenai biaya Rp 125 ribu per tim. Satu kelompok hanya diperkenankan mengirim satu tim.
Di penghujung sharing, bro Tasha dari YJOC menuturkan, soal lampu hazard dan flip flop setiap klub hendaknya mengimbau anggota tidak menggunakan lampu tersebut. YJOC, kata dia, menertibkan dengan mengiimbau kepada anggota agar melepas lampu tersebut.
Rio menegaskan, lampu hazard hanya diperkenankan untuk kendaraan roda empat atau lebih. Kecuali memang ada produk tertentu dari ATPM sepeda motor seperti pada produk Kymco.
Gerimis makin membesar ketika jarum jam memasuki 21.48 WIB. Sebelum pertemuan ditutup Rio, bro Edo membagikan buku karyanya kepada perwakilan klub atau komunitas yang hadir. Sepuluh buku yang dibawa bro Edo terasa kurang karena masih ada yang belum kebagian. (edo rusyanto)
foto:dokumen rio

Kopdarling RSA di Pulsarian (Bagian pertama)


UDARA dingin merambat pelan menyelusup tangan, kaki, dan wajah. Maklum, malam itu, gerimis menerpa Jakarta. Perjalanan dari kantor di gedung Aryadutta Suites, Jl Jend Sudirman ke Taman Surapati, Jakarta Pusat, meski tidak lebih dari 10 kilometer, harus menemui beberapa genangan air di jalan beraspal. Jakarta masih berlubang.
Sepeda motor ku pacu agak cepat selepas fly over Casablanca yang mengarah ke Jl Mas Mansyur, persisnya ketika melintas di depan Hotel Le Meridien, di Jl Jend Sudirman. Laju sepeda motor sebelum kawasan itu hanya bergerak rata-rata 40 kilometer per jam (kpj). Kepadatan lalulintas (lalin) mencapai puncaknya. Jumat (30/1), pukul 20.01 WIB, menjadi pilihan para pencari nafkah di Jakarta, baik warga Jakarta maupun para urban untuk meninggalkan kantor untuk kembali ke temat tinggal mereka di Depok, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Debotabek).
Di ujung Jl Jend Sudirman, persisnya di bundaran Hotel Indonesia, kepadatan kendaraan mulai menumpuk, berbelok kanan menuju Jl Tanjung lalu ke Jl Teuku Umar hingga akhirnya memasuki kawasan Taman Surapati. Taman yang dibangun tahun 1926 oleh penjajah Belanda itu terlihat temaram. Usai mencari pintu masuk ke areal taman, akhirnya menemui trotoar yang diganjal paving block sehingga motor bisa melewati trotoar taman yang bentuknya lebih tinggi sekitar 5 cm dari jalan aspal.
Waktu memasuki pukul 20.20 WIB ketika rampung melepas helm, body protector di siku dan kaki. Rintik gerimis masih mendera. Lampu taman temaram. Di sisi taman tampak berjejer rapih terparkir puluhan sepeda motor Bajaj Pulsar. Ya. Malam ini, merupakan acara kopi darat keliling (kopdarling) Road Safety Association (RSA). Komunitas pengendara sepeda motor yang beranggotakan sekitar 70-an klub/komunitas sepeda motor di Jabodetabek. RSA fokus peduli kepada permasalahan keselamatan berkendara (safety riding) di jalan raya.
Kopdarling kali ini giliran Pulsarian, komunitas pengguna sepeda motor Pulsar, untuk menjadi tuan rumah. Komunitas pengguna Pulsar 180 dan 200 cc itu, didirikan pada 1 Maret 2007. Hingga kini, anggotanya sudah lebih dari 350 bikers.
Suasana di taman yang sebelumnya bernama Bisschoplein itu, layaknya taman-taman kota. Di sudut-sudut bangku taman tampak pasangan muda-mudi yang asyik bercengkerama, lalu para penjaja minuman ringan, rokok, dan permen asyik mengais rezeki. Namun, Taman Surapati malam ini terasa ’sesak’ oleh bikers. Walau, pada malam-malam tertentu di kawasan itu memang menjadi tempat kopdar komunitas sepeda motor. Selain Pulsarian, ada juga komunitas pengguna sepeda motor Kawasaki Ninja dan Honda Tiger yang mangkal di taman yang berhadapan dengan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta.
Malam terus berlalu. Jadwal kopdarling yang tercantum pukul 19.00 WIB, ternyata belum dimulai sama sekali. Tampak anggota Pulsarian asyik berbincang-bincang. Setelah celingukan mencari pengurus RSA, akhirnya melihat bro Ecko, Syamsul, dan Sontul. Mereka juga sibuk sendiri dengan perbincangannya. Usai bersalam-salaman ala bikers, ikut nimbrung dengan mereka. Rasa haus mendorong untuk memanggil pedagang asongan. Usai meneguk air kemasan dan lenyapnya rasa haus, sebatang rokok mulai dinyalakan. Sama dengan Ecko dan Syamsul. Melanjutlah perbincangan ngalor-ngidul. Sekitar pukul 20.32 WIB berdatanganlah pengurus RSA lainnya yakni Rio bersama nyonya, Eddy, Ridwan, Rieza, dan Boyke.
Di sela perbincangan tuan rumah menyajikan cemilan bolu, risol plus sambal dan aqua gelas. Perbincangan masih kangen-kangenan. Misal soal rute menuju ke Taman Surapati, masalah kerjaan kantor, hingga soal jual beli motor dan mobil.
Barulah ketika jam menunjukkan pukul 20.41 WIB, Nde Siswandhi, pengurus Pulsarian membuka kopdarling. Lewat pengeras suara (toa), Nde mengucapkan rasa terimakasih Pulsarian kepada RSA. Setelah sedikit menyinggung keberadaan RSA yang peduli pada masalah safety riding, Ndee meminta perwakilan RSA membuka kopdarling kali ini. Saya selaku salah satu bagian RSA didaulat menyampaikan sepatah dua patah kata sebagai prolog. Meluncurlah ucapan terimakasih RSA kepada Pulsarian yang berkenan menjadi lokasi kopdarling. Saya juga menyinggung sedikit mengenai RSA yang terbuka bagi siapa saja untuk mendiskusikan masalah safety riding. RSA merupakan komunitas nirlaba yang secara bergiliran keliling ke tempat kopdar anggotanya. Perbincangan saat kopdarling bertemakan soal safety riding. Sebelum di tempat Pulsarian, bulan sebelumnya kopdarling di tempat Honda Riders on Internet (Hornet) di Bulungan, Jakarta Selatan. Kebetulan saat itu, topik kopdarling salah satunya adalah membahas program safety riding goes to school (SRGTS) yang digagas Independent Bikers Club (IBC) menggandeng RSA.
Usai saya melontarkan kata pembuka, Rio selaku Dewan Pengarah RSA melanjutkan dengan memperkenalkan siapa saja jajaran RSA yang hadir dalam kopdarling kali ini.

Pola Berkendara Dalam Konvoy
Waktu sudah bergulir masuk pukul 20.46 WIB ketika Rio mulai membuka sharing mengenai berkendara dalam kelompok (group ride) alias berkonvoy. Rio mengajak sekitar 50-an bikers yang hadir malam itu, khususnya anggota Pulsarian untuk sharing saat berkonvoy termasuk soal jatuh dari motor.
Setelah tunjuk-tunjukkan, siapa yang harus bicara, muncullah Pitung anggota Pulsarian. Ia menceritakan soal pengalamannya touring bersama. Pitung menuturkan soal perilaku latah ikut mengatur barisan konvoy. Sikap itu mencuat dari anggota rombongan yang merasa cukup berpengalaman atau senior di komunitas tersebut.Meski sesungguhnya sudah ada petugas yang ditentukan dalam konvoy. Senior itu menjadi petugas seperti dalam membuka jalan dan blocking. Ironisnya, petugas yang sudah ditunjuk kesulitan untuk mengingatkan sang senior agar instruksi tidak overlapping. Pitung minta advise, bagaimana menghadapi hal seperti itu.
Perbincangan mengalir. Yopie dari Pulsarian melanjutkan sharing. Ia meminta input mengenai group riding yang sebenarnya agar peserta konvoy bisa saling menghargai pengguna jalan.
Sharing ketiga dalam sessi pertama mencuat dari Boggy, anggota Pulsarian. Pria yang berperawakan tinggi besar itu melontarkan soal bagaimana ketika berbelok di tikungan dan menemui lubang, apakah perlu memberi sinyal atau tidak kepada barisan di belakang kita? Bagaimana sebaiknya agar tidak membahayakan konvoy.
Suasana sharing yang mengasyikan kerap diselingi deru mesin sepeda motor dan mobil yang melintas di kawasan jantung Jakarta itu.
Rio selaku moderator perbincangan meminta Syamsul dari RSA untuk berbagi pengalaman. Syamsul yang juga pelopor safety riding di komunitas Honda Tiger Mailing List (HTML) itu membuka sharing dengan ungkapan rasa senang bisa bertemu komunitas Pulsarian. Pria berkacamata yang banyak memakan asam garam soal safety riding itu, beranggapan jika berbicara mengenai teori dalam pertemuan kali ini ibarat mengajari ikan berenang.
Bagi Syamsul yang populer dengan sebutan Allan itu, komunitas atau klub ketika berkonvoy (group riding) sesungguhnya sedang melakukan praktik marketing bagi kelompoknya. Masyarakat bisa menilai suatu kelompok saat berkonvoy dari atribut yang dikenakan, seperti jaket atau stiker yang melekat di kendaraan. Di tengah pergerakan masyarakat yang kian kritis, ketika melihat perilaku menyebalkan dari iring-iringan kelompok sepeda motor bakal menyuarakan ketidaksukaannya melalui media massa. Karena itu, bagi Syamsul, pelaku konvoy harus menjaga citra. Saling menghargai di antara sesama pengguna jalan dan tidak arogan. Pernyataan Syamsul diamini peserta kopdarling yang berseru setuju. (edo rusyanto/bersambung)

Jumat, 30 Januari 2009

Krisis Global Dongkrak Penjualan Motor Bebek



Krisis ekonomi global diperkirakan mendongkrak penjualan motor bebek sepanjang tahun ini. Masyarakat akan memilih motor bebek karena harganya lebih murah dan irit bahan bakar.
Seiring dengan itu, PT Astra Honda Motor (AHM) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) sekaligus produsen motor Honda memutuskan melepas model bebek terbaru mereka Revo 110 cc. Peluncuran Revo 110 menandakan dihentikannya produksi Supra Fit X 100 dan Revo 100.
General Manager Motorcycle Marketing Division AHM Sigit Kumala menyatakan, tahun ini porsi motor bebek terhadap total pasar diperkirakan meningkat dari posisi 63% pada 2008 menjadi sekitar 65%. Total pasar motor pada 2008 tercatat melonjak 32,5% menjadi 6.215.865 unit.
Berdasarkan analisis AHM, pasar motor tahun ini diperkirakan merosot 20-35% menjadi sekitar 4-5 juta dipicu krisis likuiditas di perusahaan pembiayaan sebagai imbas resesi ekonomi global. Namun tidak tertutup kemungkinan pasar motor akan stagnan jika kondisi makro ekonomi membaik.
Menurut Sigit, tambahan penjualan di segmen bebek dipicu amblesnya penjualan motor sport. Dia memperkirakan porsi motor sport terhadap total pasar akan terpangkas dari 8% menjadi sekitar 7% pada tahun ini.
“Dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, pasar motor sport biasanya akan mengalami kontraksi terparah saat krisis karena harganya lebih mahal,” paparnya usai peluncuran Revo 110 di Jakarta, Jumat (30/1).
Sigit menegaskan, lewat Revo 110, AHM menargetkan pangsa pasar di segmen bebek meningkat dari 51,9% menjadi 53% pada 2008. Dia mencatat, penjualan bebek Honda pada tahun lalu mencapai 2,033 juta unit. Selain mengandalkan Revo, AHM memiliki Blade 110 dan Supra 125 di segmen bebek.
AHM menetapkan harga Revo 110 spoke Rp 11,6 juta, Revo 110 CW Rp 12,9 juta, dan Revo 110 Deluxe Rp 13,5 juta.

Kuasai 52%

Direktur Pemasaran AHM Johannes Loman menyatakan, Revo 110 memiliki patform yang sama dengan Blade. Penjualan Revo 110, kata Loman, ditargetkan mencapai 70 ribu unit per bulan, naik 12% dibanding model lawas sebanyak 60 ribu unit per bulan. Sedangkan penjualan Blade ditargetkan mencapai 30 ribu unit per bulan. Dengan demikian, total penjualan Revo dan Blade mencapai 1,2 juta unit setahun.
“Kami menargekan dua model ini dapat menguasai sekitar 52% pasar bebek di bawah 125 cc. Di kelas bebek di atas 125 cc, kami menguasai sekitar 60% pasar lewat Supra 125,” tegas Loman.
AHM, kata Loman, memutuskan untuk menaikkan kapasitas mesin Revo dari 100 ke 110 cc karena terbukti mampu meningkatkan tenaga dan menekan konsumsi bahan bakar. Tenaga yang dihasilkan Revo 110 16% lebih besar ketimbang versi lawas, sedangkan konsumsi bahan bakar terbukti 5% lebih hemat ketimbang model lama.
Tahun ini, tandas Loman, AHM mengincar 46-48% pasar motor nasional. Hasil ini akan melanggengkan dominasi Honda sebagai pemimpin pasar motor nasional. Pada 2008, penjualan Honda melejit 34,2% menjadi 2.874.576 unit dengan pangsa pasar 46%. (coy)

Masih Saja Melabrak Lampu Merah


SIANG ini, sekitar pukul 12.45 wib, jalan raya TMII dari arah gerbang pusat rekreasi itu menuju perempatan garuda, jalanan ramai lancar. Jelang pusat perbelanjaan Tamini Square, situasi lalulintas lebih padat. maklum, di depannya adalah lampu merah (lamer). Lampu menyala merah. Semua berhenti. Mobil dan motor tertib. Namun, beberapa detik kemudian, situasi berubah. Satu per satu, pengendara sepeda motor bergerak. Mereka melintasi garis putih dan zebra cross. Tua muda, sipil dan polisi, hingga anggota klub sepeda motor. Walahhh...ada apa ini. Kendaraan dari arah pintu tol Taman Mini yang menuju Pd Gede sudah berlalu. Gantian yang dari arah Pd Gede ke arah tol maupun ke arah Ps Hek. Terakhir, kendaraan dari arah Hek menuju Taman Mini. Belum juga lampu menyala hijau, grup motor yang melabrak garis putih dan zebra cross, langsung bergerak. Menerabas lamer. Duh..untung gak ada kecelakaan.
Sepeda motor ku pacu ketika lampu hijau. Sekitar 300 meter dari lamer tadi, kami menemui lamer lagi. Memang tidak ada garis putih maupun zebra cross, namun saaat itu lamer berwarna merah. Gerombolan sepeda motor kembali beraksi. Mereka menerabas. Hanya bisa mengelus dada.
Perjalanan berlanjut hingga sekitar 1 km kemudian menemui lamer Ps Hek. Kejadian serupa di lamer depan Tamini Square, terulang. Motor berlomba-lomba menerabas garis putih, zebra cross, dan lamer warna merah dilabrak. Kali ini, kendaraan dari arah berlawanan terpancing emosinya. Mereka menyalakan klakson sebagai wujud protes. Memekakan telinga.
Kenapa setiap orang demikian tega mengambil hak orang lain. Berhenti melewati garis putih, melabrak zebra cross, hingga melabrak lamer yang saat itu berwarna merah. Sudah demikian parahkah perilaku pengendara sepeda motor di Jakarta. Kenapa jika terburu-buru tidak berangkat lebih awal? Apakah karena tidak ada petugas polisi sehingga melabrak aturan? Duh bangsa ku, kapan negeri ini mau tertib? (edo rusyanto)

Selamat Datang Revo 110

PERSAINGAN bisnis sepeda motor segmen bebek kian ketat. PT Astra Honda Motor (AHM) mempersempit ruang gerak kompetitor dengan meluncurkan Honda Revo 110, Jumat (30/1), di Jakarta.
Menurut sumber di AHM, Revo 110 yang diluncurkan Jumat ini terdiri atas tiga varian yang terbagi dalam versi CW dan spoke. Sang Revo baru ini adu otot langsung dengan Yamaha Vega.
Segmen bebek masih mendominasi penjualan sepeda motor di Tanah Air. Dari sekitar 6,2 juta unit pada 2008, kontribusi bebek sedikitnya mencapai 70-an persen. Angka yang luar biasa. Selain harganya terjangkau yakni rata-rata sekitar Rp 12 juta, motor bebek lebih mudah digunakan oleh seluruh anggota keluarga.
Kembali soal Revo 110. Dengan hadirnya motor tersebut, praktis Honda Fit terhapus. AHM tidak lagi memproduksi Honda Fit. Jenis Revo 110 yang ditawarkan dalam tiga warna yakni silver, hitam, dan merah itu, ditargetkan mampu terjual 100 ribu unit sebulan atau 1,1 juta unit dalam setahun. Selamat datang Revo 110. (ed)

Selasa, 27 Januari 2009

Motor Masuk Busway


PAGI tadi, Selasa (27/1), Jakarta diguyur hujan. Cuaca mendung sudah terlihat ketika sekitar pukul 09.07 WIB keluar meninggalkan rumah di kawasan Munjul, Cipayung, Jakarta Timur. Perjalanan menuju Hotel Sun Lake, Sunter, Jakarta Utara pagi itu amat melelahkan. Rute yang ditempuh mulai dari Munjul, Ceger, TMII, hingga Pasar Hek masih aman-aman saja. Namun, jelang Pasar Kramat Jati, rintik gerimis berubah menjadi hujan deras. Terpaksa, Yamaha V-ixion dipinggirkan mencari tempat berteduh.
Jas hujan yang sudah disiapkan sejak dari rumah secara cepat langsung melapisi jaket kulit hitam yang saya pakai.
Perjalanan pun dilanjutkan. Suasana pasar Kramat Jati pagi itu tergolong ramai. Setiap kendaraan yang melintas terpaksa memperlambat lajunya. Lepas pasar, kondisi lalulintas (lalin) masih sama. Tersendat. Maklum, perempatan Cililitan merupakan salah satu simpul masuknya urban ke dalam kota Jakarta. Antrean kendaraan, mulai mobil pribadi, sepeda motor, dan angkutan umum cukup memanjang.
Hujan masih turun membasahi seluruh tubuh. Dingin yang menggigit terpaksa diabaikan. Laju motor tersendat lagi di kawasan depan Kampus UKI, Cawang. Ratusan bahkan ribuan kendaraan tumpah ruah. Kendaraan merayap. Memasuki kolong fly over lalu menuju perempatan Kali Malang. Di kanan jalan, lajur busway sudah dipadati mobil pribadi dan sepeda motor. Muncul kecurigaan. Jangan-jangan ada sesuatu di kiri jalan. Benar saja. Lajur untuk kendaraan lambat, termasuk sepeda motor, ternya digenangi air. Drainase di sisi jalan amat buruk sehingga air meluap. Praktis, sepeda motor tidak bisa melewati lajur itu. Kondisi serupa terjadi juga menjelang gedung Mandom di sisi by pass, Sunter, Jakarta Utara. Sepeda motor beramai-ramai memasuki ruas busway. Tidak ada petugas yang menjaga.
Hampir pukul 11.00 WIB ketika motor saya parkirkan di tempat parkir hotel Sun Lake. Jas hujan sudah basah kuyup. Kondisi genangan air sudah menyusut sehingga motor bisa melewati lajur itu. (ed)

AHM Patok Pangsa Pasar 48%


Manajemen PT Astra Honda Motor (AHM) mematok target penguasaan pangsa pasar sepeda motor sebesar 47-48%. Tahun lalu, dari total pasar 6,21 juta unit, pangsa pasar AHM 46,2%.
“Tahun ini kami memperbesar pangsa pasar karena strategi kami makin kuat,” papar Johannes Loman, direktur pemasaran PT AHM, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (27/1).
Salah satu strategi AHM, jelas Loman, adalah dengan memperkuat kualitas layanan jaringan dan memproduksi produk baru yang sesuai ekspektasi konsumen. Sepanjang tahun ini, jelas dia, pihaknya bakal memiliki 13 item produk. Mulai dari segmen sepeda motor bebek, skutik hingga kategori sport. ”Tahun lalu, jumlah item produk kami sebanyak 10 jenis,” papar dia.
Loman memperkirakan, jika pertumbuhan penjualan sepeda motor stabil sepanjang tahun ini, total volume yang diserap pasar bakal mencapai 5 jutaan unit. “Bahkan bisa saja mencapai 6 juta unit,” tegas dia.
Ia menjelaskan, penjualan sepeda motor sepanjang Januari 2009 ditaksir bakal menyentuh angka 425 ribu unit. Sementara itu, Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) sebelumnya memperkirakan penjualan sepeda motor nasional pada 2009 sebanyak 4-4,5 juta unit.
Terkait peningkatan kualitas layanan, Loman menjelaskan, PT AHM terus memperbaiki sistem pelayanan di bengkel milik mereka yakni AHASS. ”Saat ini, jaringan AHASS kami mencapai 3.800 unit,” papar dia. Loman menambahkan, jaringan penjualan anak usaha PT Astra International Tbk itu mencapai 1.600 unit, sedangkan jaringan penjualan suku cadang mencapai 6.500 unit.
Menurut dia, sepanjang 2009, pihaknya tidak menggenjot penambahan jaringan. ”Sekalipun ada penambahan jumlahnya tidak banyak. Itupun untuk daerah-daerah yang belum terjangkau (blankspot),” tutur Loman.

Jawa Terbesar
Sementara itu, General Manager Motorcycle Marketing Division AHM Sigit Kumala menambahkan, dari total 2,8 juta unit penjualan AHM pada 2008, kontribusi penjualan terbesar dari kawasan Jabodetabek. ”Di luar itu adalah kawasan Jawa Timur dan Jawa Barat,” jelas Sigit. Sedangkan untuk kawasan Sumatera, kata dia, kontribusinya saat ini sekitar 20% dari total penjualan. Ia menuturkan, saat harga komoditas melambung beberapa waktu lalu, kontribusi penjualan wilayah Sumatera sempat menembus 30%.
Loman menambahkan, pihaknya pada Februari 2009 bakal menaikkan harga sekitar 1%. ”Kenaikkan tidak bisa dibendung karena fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih melemah,” ujar dia.PT AHM dikabarkan bakal mengeluarkan tujuh produk baru pada 2009. (edo rusyanto)

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian keempat-habis):











SUARA dering telepon di kamar hotel membangunkan kami. Suara di ujung telepon menyebutkan jadwal sarapan dan jadwal keluar hotel. Minggu (25/1), pagi itu sekitar pukul 08.00 WIB, badan terasa lebih ringan. Segar rasanya walau tidur sekitar 5 jam. Maklum, sehari sebelumnya hanya tidur 2 jam. Setelah cuci muka dan menyantap pisang goreng sisa semalam, saya dan Jun meluncur menuju restoran Koi, Grand Seriti. Kami memasuki ruangan restoran yang tergolong luas itu tepat pukul 08.30 WIB dan nantinya keluar pada pukul 09.50 WIB. Menu sarapan di restoran bervariasi, mulai dari menu Indonesia, Eropa, hingga menu Asia. Saya memilih menikmati omelet (telur dadar dengan isi aneka sayuran dan daging), sosis, mie goreng, dan nasi goreng plus jus punch. Usai makan, sambil menghabiskan dua batang rokok, kami ngobrol dengan seorang teman dari Jakarta.
Matahari kian meninggi saat kami meninggalkan hotel. Sempat berpose sebelum meluncur. Seorang satpam menjadi korban kami untuk memotretkan dua bikers narsis dari Jakarta. Kami melenggang meninggalkan hotel pada 11.15 WIB. Dari Jl Hegarmanah kami melintasi Cihampelas, niatnya menuju Gedung Sate, gedung pusat pemerintahan kota Bandung. Gedung yang dibangun pada 27 Juli 1920 oleh penjajah Belanda itu menjadi ikon kota Bandung yang kini berpopulasi sekitar 2,3 juta jiwa.
Sepanjang Cihampelas yang terkenal dengan pusat jeans, lalin macet total. Kecepatan motor kami hanya 20/kpj. Harus cermat meliuk-liuk di sela beragam kendaraan pribadi yang didominasi pelat B. Puluhan bahkan ratusan kendaraan parkir di sisi jalan yang berjajar aneka toko, mulai factory outlet, resto, kerajinan hingga jeans. Terlihat juga kendaraan bus pariwisata pelat A (Banten) parkir sambil menurunkan wisatawan domestik (wisdom). maklum pekan ini libur panjang karena Senin (26/1) libur nasional Imlek, hari tahun baru Cina.
Perjalanan menuju Gedung Sate macet. Persis di atas jembatan Pasupati, Jun memberitahu bahwa Minggu pagi hingga pukul 12.00 WIB di sekitar gedung tersebut digelar pasar kaget. Praktis jalan di sekitarnya macet total. Jadilah niat kami batal ke sana dan balik kanan menuju Lembang.
Memasuki Jl Setiabudi menuju Lembang lalin macet. Lagi-lagi kendaraan wisdom memadati jalan yang menuju kawasan rekreasi Lembang. Kali ini mobil berpelat B juga mendominasi namun ada juga pelat A,E (Cirebon), KB (Kalimantan),bahkan BK (Sumatera). Cuaca cerah bahkan cenderung terik. Hingga jelang Jl Raya Lembang kemacetan masih terasa. Di kiri kanan jalan aneka spanduk kampanya calon legislatif (caleg) untuk DPRD dan DPR, ramai menghiasi trotoar demikian juga aneka bendera partai.
Lepas Rumah Sosis, pusat jajanan aneka sosis, jalan ramai lancar, motor kami bisa berpacu 40-60 kpj. Terlihat satu-dua delman melintas mengangkut penumpang dari dan menuju pasar. Angkutan tradisional itu harus bersaing dengan angkutan perkotaan yang bertenaga mesin.
Kami melepas penat di alun-alun diklat Lembang. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk membeli rokok, panganan kecil, dan air mineral. Pukul 12.45 WIB kami berangkat lagi menyusuri Lembang menuju gunung berapi, Tangkuban Perahu. Sekitar 16 menit, persisnya pukul
13.01 WIB, kami tiba di gerbang tempat rekreasi populer tersebut. Sempat berfoto-foto sebentar. Kami dikenai tarif tiket masuk Rp 33 ribu terdiri atas Rp 12.500 untuk masing-masing pengunjung dan Rp 4 ribu untuk tiap motor.



Di sela berfoto, kami melihat rombongn calon karyawan PT Perumka Bandung yang sedang digembleng latihan dasar militer oleh anggota TNI dari Pusdik Bandung. Menurut seorang instruktur, latihan di bawah rerimbunan hutan pinus di dekat gerbang itu ada 300 calon karyawan dari total 600 calon karyawan lapangan Perumka. Petugas di pintu gerbang mengatakan, jarak dari gerbang menuju kawah sekitar 5 km. Hampir 14 menit kami istirahat. Persis pukul 13.15 WIB, kami berangkat menuju kawah.
Jalan berkelok menanjak sepanjang 5 km. Sekitar 3 km berlubang dan berbatu, sesekali kami juga menemui kumbangan air berwarna coklat. Sempat kami berpapasan dengan beberapa wisatawan yang berjalan kaki dari arah kawah dan beberapa pengunjung yang berpose mengambil gambar di tengah jalan. Kecepatan hanya bisa dipacu 20/kpj. Kanan kiri jalan dipenuhi pohon pinus. Pucuknya meliuk-liuk ditiup angin di sela semerbak belerang yang meluncur dari atas kawah. Jelang 2 km ke kawah semerbak belerang kian menyengat di tengah sejuknya udara pegunungan.
Sementara itu, di pelataran parkir bus wisata yakni sekitar 1,2 km ke kawah, tampak terlihat belasan bus sedang parkir. Penumpang bus harus berjalan kaki menuju kawah. Jalan setelah lokasi parkir lebih mulus. Jalan tetap menanjak dan berkelok. Saat itu sudah mulai turun kabut. Terlihat antrean kendaraan pribadi mengekor skitar 1 km jelang parkiran kawah Upas, Ratu, dan Baru. Tampak petugas areal wisata sibuk mengatur kendaraan yang hendak naik maupun turun dari kawah.



Domas yang aktif
Setelah mencari tempat parkir yang nyaman, tepat 13.45 WIB, kami tiba di parkiran menuju kawah Domas, di bawah kawah Ratu. Kabut yang turun sudah berubah jadi gerimis. Di sekitarnya marak pohon mangarasa. Tumbuhan yang mirip pohon bakau itu pucuknya yang berwarna merah muda bisa menjadi lalapan dan obat sakit perut. Ribuan pengunjung tampak terlihat. Mereka sibuk menikmati pemandangan dan ada juga yang membeli cindera mata seperti topi bulu dan kalung batu.



Tangkuban Perahu memang cukup populer. Hal itu terlihat dari banyaknya wisatawan mancanegara (wisman) yang asyik menikmati pemandangan nan indah di gunung yang terletak sekitar 30 sebelah utara kota Bandung. Gunung yang wujudnya merupai perahu terbalik itu berada di ketinggian 2.084 meter dari atas permukaan laut. Menurut hikayat, Tangkuban Perahu terbentuk karena kesaktian Sangkuriang. Pria yang mencintai Dayang Sumbi gagal memenuhi permintaan calon pasangan hidupnya itu yakni membuat perahu dalam satu malam. Belum rampung perahunya, kokok ayam dah berbunyi yang berarti sang fajar bakal hadir. Karena marah, perahu tadi ditendang dan akhirnya menjadi gunung. Pastinya, gunung berapi yang terakhir meletus pada 1910 itu, memiliki 9 kawah baik yang aktif maupun yang sudah tidak aktif. Kawah-kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Upas, Domas, Baru, Jurig, Badak, Jurian, Siluman, dan Pangguyungan Badak. Kawah Ratu merupakan yang terbesar.
Menurut Esih alias ibu Meri, pemilik warung di depan kami memarkir motor, pengunjung Tangkuban Perahu amat ramai di hari libur. Kawasan yang dibuka untuk umum sejak pukul 6 pagi dan tutup jam 5 sore ini memang sudah terkenal.
Ia mengaku mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp 50-100 ribu per hari. Sedangkan biaya operasi tergolong lumayan besar yakni uang sewa lahan sekitar Rp 2 juta per tahun dan pungutan kebersihan dan keamanan yang jumlahnya Rp 2 ribu dan Rp 10 per hari. Di warungnya, Esih menjual aneka minuman ringan dan bir, mie instan, telur, dan sendal jepit. Warung itu beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Esih yang sudah berdagang sekitar 18 tahun di areal itu menyebutkan bahwa para pengunjung datang dari berbagai kota.
Niat untuk menyambangi kawah Domas, kawah paling eksotik karena masih aktif dan bisa memasak telur di atas kawah, terpaksa diurungkan karena turun hujan. Terlebih, waktu tempuh menuju kawah membutuhkan sekitar 30 menit dengan jalan yang cukup terjal. Akhirnya, kami memutuskan segera meninggalkan Tangkuban Perahu karena khawatir hujan kian deras sehingga perjalanan memikul risiko yang lebih tinggi. Tepat 15.00 WIB, ketika dingin kian menusuk, meninggalkan parkiran kawah Domas, menuju Jakarta.
Sekitar 25 menit dari Tangkuban Perahu, curah hujan kian deras. Kami memutuskan merapat ke warung di sisi jalan mengarah Subang.Sekitar 10 menit kami beristirahat sambil mampir ke toilet untuk buang air kecil.
Istirahat di warung pinggir jalan tanjakan Emen, tanjakan sepanjang 10 km dari arah Sariater, kami sempat menghirup segelah teh dan kopi hangat dengan ditemani sebatang rokok. Sementara itu, hujan kian deras. Di jalan, berlalu lalang motor dan kendaraan lain. Jalan licin, sesekali terlihat sepeda motor yang tersendat sehingga harus didorong. Sedangkan kebun teh di sisi kanan jalan tampak berkilau mendapat siraman segar air hujan.
Saat meninggalkan warung, hujan kian deras. Jadilah perjalanan diiringi curah hujan. Kondisi jalanan menurun dan cukup panjang, berliku. Jalan mulus, namun kecepatan hanya 20-40 kpj. Melihat jejeran nanas di warung pinggir jalan, hati kami tergoda. Setelah menawar, kami membeli 6 nanas seharga Rp 30 ribu.
Laju perjalanan kami tidak masuk ke kota Subang, melainkan belok kiri di pertigaan Wanayasa. Lalin di rute ini tidak seramai jalan utama. Bahkan cenderung sepi. Jalan mulus, berkelok, dengan pematang sawah di kanan kiri jalan. Dalam kondisi hujan kami masih mampu memacu motor di kecepatan 40-70 kpj.
Perjalanan kali ini cukup melelahkan. Guyuran hujan membuat perut kian keroncongan. Pukul 17.36 WIB, kami singgah di rumah makan Soto Sadang Asli, Purwakarta. Mengingat hujan sudah reda, kami istirahat melepas jas hujan kemudian makan soto ayam. Tepat pukul 19.01 WIB kami meluncur menuju Cikampek. Sempat tertipu rambu lalin karena posisi penempatan yang menurut kami tak lazim. Dari arah pertigaan Cikampek sebelum rel KA, kami melihat rambu lalin yang terbuat dari papan. Rambu tersebut tertulis arah Jakarta belok kiri, namun belokan ke kiri ada dua, mengingat rambu itu berada di tengah-tengah kedua belokan itu, kami memilih belokan yang kedua setelah menyeberang rel KA. Namun, ternyata itu keliru. Terpaksa balik kanan lagi.
Perjalanan dari Cikampek menuju Bekasi cukup mulus, walau sebagian ada yang bergelombang dan tidak memiliki penerangan jalan. Di ruas jalan ini agak banyak bus sedang dan truk yang melintas. Setelah sekitar dua jam berpacu, pada 21.01 WIB kami tiba di pertigaan Kalimalang menuju ke arah Bekasi Barat. Kami akhirnya menelepon bro Rio yang memang sudah janjian untuk singgah. Bro rio tinggal di perumahan Mutiara Gading Timur, Bekasi Timur. Kami disuguhi air jeruk hangat di kedai pecel lele di ruko depan kompleks Mutiara Gading Timur. Selanjutnya kami mampir ke rumah bro Rio. Sang nyonya ikut menyambut kedatangan kami. Meluncurlah kopi hangat dan kacang garing. Di sela perbincangan soal perjalanan duo touring, melintas tukang mie tek tek. Jun dan rio pesan mie tek tek goreng, sedangkan saya versi rebus. Sekitar 23.15, kami berpamitan. Saya menuju rumah di Cibubur, sedangkan Jun ke Pasar Hek, Jakarta Timur, tempat tongkrongan teman-temannya. Jarum jam tepat pukul 00.10 wib, ketika saya memarkir motor di rumah. (edo rusyanto)

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian ketiga):


SUASANA kota Bandung malam itu diguyur hujan. Setelah sepanjang siang istirahat dan berputar-putar kota. Jun beli bahan celana panjang di Pasar Baru, Bandung. Malam itu saya dan Jun bersiap menuju tempat pertemuan (kopi darat/kopdar) Minerva Riders Community (MRC) Region Bandung di Jl Gatot Subroto.
Waktu menunjukkan pukul 20.05 WIB saat kami siap-siap meluncur. Hujan yang mengguyur Bandung membuat laju Vixy merah dan Srigala hitam berkisar di 40-60 kilometer per jam (kpj) saat menelusuri jalan-jalan di kota Bandung. Maklum ruas jalan dari Jl Hegarmanah ke Jl Gatot Subroto masih cukup ramai. Mobil berpelat B (nomor pelat Jakarta) berseliweran di tengah kota. Mobil-mobil itu berpenumpang tua dan muda, rombongan keluarga, pasangan kekasih, hingga sekumpulan teman kongkow, ramai memadati pusat kuliner hingga factory outlet (FO) yang menjajakan pakaian dan aksesoris.
Penelusuran V-ixion dan Pulsar melintas dari Hegarmanah, Sukajadi, Pasupati hingga akhirnya merapat di Bandung Super Mall (BSM) selaku titik kumpul (tikum) penjemputan oleh tim MRC region Bandung. Di tengah hujan yang sudah berubah menjadi gerimis, kami berteduh di depan pos polisi BSM. Sejumlah bikers juga berteduh disitu. Ada tiga petugas polisi yang duduk di pos itu. Peneduh ada yang asyik menghisap rokok, menyeruput minuman ringan bahkan ada yang asyik mahsyuk bercengkerama. Untuk yang ini tampaknya pasangan kekasih, terlihat dari posisi diri yang berhimpitan dan saling berpegangan tangan. Jadi iri.
Usai membuka helm dan membersihkan kacamata yang tersiram air hujan, saya telepon bro Budy, ketua MRC region Bandung. Setelah menyampaikan informasi bahwa posisi di tikum, selang lima menit muncul bro Sansan, menungang Minerva R 150 warna merah. Sansan menyalami saya dan selanjutnya memandu ke tempat kopdar yang sehari-harinya adalah dealer Trimitra Bandung. Penjualan motor Minerva di Bandung ditaksir sekitar 200 unit per bulan.
Jarum jam menunjukkan 20.35 WIB di pelataran parkir berjajar rapih lima minerva R 150, motor yang tongkrongannya mirip Honda CBR itu populasinya kian bertambah. Sepanjang 2008 sedikitnya terjual sekitar 80 ribu unit. Luar biasa. Maklum, motor yang dibanderol Rp 15,5 juta per unit itu, masih diimpor dari Cina.
Di sisi lain halaman dealer juga bertengger dua unit mobil khusus pengangkut motor. Usai melepas jas hujan, helm, jaket, dan safety gear body protector, kami memasuki ruangan lantai dasar dealer. Tampak berkumpul bro Asep dengan pacarnya, bro Sansan dan tiga bikers lainnya. Belakangan datang lagi satu bikers bersama pacarnya, mereka tampaknya sedang asyik membahas atribut MRC. Mereka berniat membuat jaket MRC Bandung. Belakangan, setelah dijelaskan bahwa MRC mengenal satu jenis atribut jaket, mereka mengurungkan niat membuat jaket dengan desain sendiri. Bro Budy memaparkan kondisi termutakhir region Bandung. Hingga sabtu (24/1), pionir MRC Bandung ada 8 orang dengan leader bro Budy. Pria asal Palembang yang sudah menetap sekitar 6 thn di Bandung itu mengaku gemas dengan riders minerva R 150. Menurut dia, banyak riders tapi sedikit yang mau berhimpun di MRC. Kemungkinan penyebabnya adalah ketidaktahuan dan belum ada inspirator yang memobilisasi.
Sisa-sisa udara dingin diguyur hujan menjadi hangat karena perbincangan yang mengasyikan mengenai kehidupan berkomunitas. mulai dari soal atribut, registrasi, HUT, hingga safety riding dan helm cetok. Perbincangan di selingi dengan makan malam berupa nasi timbel plus ayam dan tahu goreng. Kenikmatan bertambah dengan hadirnya lalapan dan sambal.
Perbincangan masih seru ketika jam memasuki pukul 23.30 dan kami berpamitan. Pasalnya, besok (Minggu, 25/1) perjalanan masih panjang. Kembali ke Jakarta. Kami meluncur kembali ke hotel. Hujan sudah reda, hanya gerimis kecil. Tanpa jas hujan, kami menelusuri jalan-jalan kota Bandung menuju hotel. Lumayan dingin. Jalanan kini lebih lengang dibandingkan saat pergi ke Jl Gatot Subroto.
Kami singgah ke Circle K Dago untuk membeli sebungkus rokok dan sebotol air mineral. Di halaman parkir jaringan convenience store yakni toko yang menjual makanan dan minuman untuk dikonsumsi di tempat milik Circle K Stores Inc. Amerika Serikat (AS) itu, tampak sejumlah pemuda yang sedang berteduh. Sementara itu, beberapa calon pembeli juga berdatangan dan silih berganti ke toko yang di Indonesia lisensinya dipegang PT Circleka Indonesia Utama itu. Eksterior dan interior Circle K memiliki satu standar di seantero jagat. Dari sekitar 5.900 toko di dunia, toko di Dago, Bandung itu juga memiliki penampilan yang bersih dan memiliki penerangan yang gemerlap. Maklum, toko yang buka 24 jam itu harus menimbulkan rasa nyaman dan aman. Meski, pada beberapa tahun lalu di Bandung sempat terjadi pengrusakan toko sejenis oleh gank motor yang mengejar lawannya. Saat itu, sang penyerang melihat lawan mereka masuk ke toko sehingga kemudian melempari toko tersebut dengan benda-benda keras.
Dari Circle K kami meluncur ke hotel dan tiba pukul 00.12 WIB. Tiba di pelataran hotel Gran Seriti gerimis masih menerpa wajah. Setelah membersihkan diri saya terlelap saat jam melewati pukul 02.00 WIB. (edo rusyanto/bersambung)

Senin, 26 Januari 2009

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian kedua):



UDARA dingin yang menyelusup ke dalam jaket mengiringi perjalanan Cibogo-Cianjur-Rajamandala-Cipatat-Padalarang. Apalagi, Sabtu (24/1), dinihari itu situasi lalu lintas (lalin) amat sepi. Jalanan lancar sehingga sepeda motor bisa dipacu dalam kecepatan 80-90 kilometer per jam (kpj). Ada beberapa ruas yang kerusakannya agak menganggu yakni ruas setelah Gunung Mas, Puncak. Sekitar 500 meter memasuki kawasan kebun teh tersebut, ada bagian jalan yg berlubang. Ironisnya cukup lebar dan posisinya di tikungan. Hal itu mengagetkan bikers. Saat itu posisi saya sedang beriringan dengan bikers lain yang jumlahnya sekitar 20-an motor. Untung keseimbangan para bikers cukup baik shingga kecelakaan dapat dihindari. Kondisi jalan yang rusak di jalur Puncak juga ditemui di dekat restoran Rindu Alam. Hanya saja lebih kecil dibandingkan di bawah.
Hawa dingin pegunungan menelusuk di sela jaket dan menerpa lebih deras di bagian kaki. Sementara itu, rintik-rintik embun dari kabut menerpa kaca helm. Untung saja kabut tidak berbuah gerimis sehingga motor bisa dipacu stabil 80-90/kpj.
Ruas jalan Puncak Pass-Cipanas-Cianjur cukup mulus, sesekali ada jalan yang bergelombang, namun relatif mudah dilewati berbeda dengan gelombang di Tajur, Bogor.
Selepas kota Cianjur menuju Padalarang, perjalanan juga cukup lancar. Sisi kanan dan kiri banyak pesawahan, namun karena hari masih gelap, pemandangan indah itu tidak dapat dinikmati. Jarum jam menunjukkan pukul 05.02 WIB.
Perjalanan dari Cianjur hingga jembatan Rajamandala, dulunya jalan tol, cukup mulus dan memanjang lurus. Motor bisa dipacu 80-90 kpj. Jembatan yang berada di perbatasan Cianjur dan Kabupaten Bandung itu dibangun awal 1980-an. Pada zaman penjajahan Belanda, warga yang hendak menuju Bandung maupun sebaliknya, harus melintasi Sungai Citarum dengan perahu.
Langit mulai agak terang saat melintas di kawasan bukit kapur Cipatat. Di kanan kiri jalan terlihat warung-warung penjual kerajinan dan peuyeum, yakni penganan khas Jawa Barat yang terbuat dari ketela. Rasanya manis-manis asam.
Sementara itu, lalin mulai agak ramai lancar. Sejumlah pengendara motor dari warga sekitar mulai terlihat melintas.




Banyak Helm Cetok
Sekitar pukul 06.22-06.40 WIB, kami beristirahat di warung kecil pinggir Jl Raya Cimahi, Bandung. Persisnya setelah melintasi pertemuan jalan arteri dengan gerbang tol Padalarang. Jika dari arah Padalarang, pengendara sepeda motor harus belok kanan menuju Cimahi sebelumnya akhirnya masuk ke dalam kota Bandung. Di tempat istirahat tersebut kami menikmati sebatang rokok dan segelas kopi plus bakwan goreng dan lontong. Sambil meluruskan kaki dan melemaskan otot lengan setelah berkendara hampir dua jam.
Lalulintas di Jl Raya Cimahi mulai ramai. Pelajar berangkat ke sekolah. Buruh ke pabrik. Karyawan swasta ke kantor. Banyak pelajar terlihat naik motor, ada yang sendiri dan ada yang berboncengan. Ironisnya, masih ada yang tidak menggunakan helm, baik itu boncengannya atau pengendaranya. Sekalipun pakai helm, ada yang masih memakai helm tidak standar alias helm cetok.
Usai istirahat, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini situasi lalin sudah amat ramai. Bandung menggeliat. Kami sempat ’nyasar’. Ketika itu, di sebuah pertigaan di Jl Raya Cimahi, situasi lalin padat merayap. Tiba-tiba di depan ada petugas polisi yang memerintahkan kami belok ke kiri karena bagi pengendara yang ingin lurus harus mengambil lajur tengah. Praktis kami terbawa ke kiri jalan, padahal semestinya rute kami adalah lurus. Setelah berputar arah, itupun harus bertanya dahulu kepada petugas polisi, kami melanjutkan ke rute yang benar.
Memasuki pukul 07.05 WIB akhirnya kami tiba di jembatan layang Pasteur-Surapati (Pasupati). Jembatan yang menggunakan teknik cable stayed itu diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 12 Juli 2005. Teknik jembatan gantung jembatan Pasupati mirip dengan jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura (Suramadu) di Jawa Timur. Suramadu masih tahap pembangunan, ditaksir bakal rampung tahun depan. Pasupati adalah jalan layang dan jembatan sepanjang sekitar 2,3 km yang melintasi jalan Pasteur-Cikapayang– urapati di pusat kota Bandung. Jembatan yang 100% pembiayaannya dari pinjaman pemerintah Kuwait (KFAED), pada saat malam hari kerap digunakan para remaja Bandung berkongkow ria. Kami sempat berpose mengambil gambar di jembatan yang dibangun mulai 22 Maret 1999 dan selesai Juni 2005 itu. Bergantian kami saling berpotret. Kami tidak sempat foto berdua. Sesekali pengendara motor dan mobil yang melintas menoleh ke arah kami. Mungkin dipikirnya, norak amat tuh orang.
Puas mengambil gambar sebagai bukti singgah di Pasupati, kami meluncur ke bekas kampus Jun yakni Universitas Padjajaran (Unpad). Jun bernostalgia. Kami masuk ke gang kecil pemukiman di Jl Dipati Ukur, persisnya Harpancur II. Jarum jam menunjukkan pukul
07.40 WIB saat kami masuk warung ibu May. Menurut Jun, warung itu merupakan tempat favorit saat kuliah selama empat tahun di Unpad. Bu May membuatkan kami teh manis hangat. Perbincangan mengalir ke masa-masa manis Jun kuliah hingga kondisi termutakhir mengenai teman-teman kuliah jun. Ada yang sudah kerja di kantoran hingga wiraswasta buka makanan. Terselip cerita, ternyata pacar Jun jalan dengan mahasiswa lain. Ironis.
Istirahat kami di warung itu menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Dan, kami memutuskan sarapan nasi kuning di sisi lain Jl Dipati Ukur, persisnya di depan kampus Unikom, Bandung. Setelah memarkirkan motor di tepi jalan, saat menengok jarum jam terlihat sudah memasuki pukul 08.18 WIB. Waktu yang kami habiskan di warung pinggir jalan itu hingga pukul 08.44 WIB. Nasi kuning, sesuai namanya, nasi yang berwarna kuning dengan lauk pauk tahu goreng, ayam goreng, dan gorengan.Dengan lahap kami menyantap menu pagi itu. Maklum, sedari subuh perut sudah keroncongan. Sisa-sisa mie goreng dan telur goreng saat mau berangkat dari Jakarta sudah tuntas.
Makan di pinggir jalan itu ditemani suara tapak kaki kuda dan rombongan mahasiswa-mahasiswi Unikom yang berseragam putih hitam. Tampaknya hari itu mereka hendak ujian.
Perjalanan kami lanjutkan menuju hotel tempat kami beristirahat. Jarum jam menunjukkan 09.01 WIB, saat kami tiba di Hotel Grand Seriti, Jl Hegarmanah, Bandung. (edo rusyanto/bersambung)

Perjalanan Jakarta-Bandung-Tangkuban Perahu (bagian pertama):

MALAM masih pekat. Mata masih berat karena kantuk menggelayut di pelupuk mata. Maklum, baru sekitar dua jam mata terpejam. Meski sudah tiba di rumah pukul 23.00 WIB, namun seperti malam-malam lainnya, mata sulit terpejam. guna mengundang kantuk, terpaksa membuka notebook dan menghidupkan internet speedy-nya Telkom. Sempat membalas beberapa email dan browsing sejumlah informasi, akhirnya kantuk datang juga.
Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 02.00 WIB ketika Ade Jun, reporter Koran Investor Daily yang bertugas di desk bursa, menelepon ke ponsel saya. Namun, belum sempat terjawab sudah keburu mati. Sontak saya telepon balik. Rupanya dia ingin memastikan titik ketemu dan jam pertemuan.
Sabtu (24/1), pukul 03.00 WIB rencananya saya dan Ade Jun meluncur ke Bandung, Jawa Barat. Inilah perjalanan pertama saya menggunakan sepeda motor ke kota yang berjarak sekitar 220 kilometer dari Jakarta itu.
Semula, perjalanan menuju Bandung itu akan ditempuh sendirian. Setelah mencari teman perjalanan tidak kunjung dapat, tiba-tiba sekitar pukul 22.30 WIB, Ade Jun menawarkan diri untuk menemani. Rupayanya, dia juga ingin ngetes Pulsar hitam 180 cc. Motor teknologi India itu masih berumur beberapa bulan dalam tunggangan Ade Jun yang berperawakan tinggi besar.
Sekira pukul 02.50 WIB kami bertemu di kawasan Arundina, Cibubur, Jakarta Timur. Titik kumpul (tikum) itu hanya berjarak sekitar 2 km dari rumah saya. Ade Jun sedang asyik menikmati sebatang rokok dengan ditemani segelas kopi, ketika saya dengan Yamaha V-ixion merah 150 cc menghampiri dia yang duduk di rombong rokok pinggir jalan.
Kami berkoordinasi mengenai rute dan titik istirahat. Usai konsolidasi dan menetapkan rute yakni Jl Raya Bogor-Cisalak-Simpang Depok-Cilodong-Cibinong-Kedung Halang-Wr Jambu-Baranang Siang-Tajur-Ciawi-Cibogo, kami langsung meluncur sekitar pukul 03.05 WIB.
Di tengah udara malam yang menusuk tulang, terlebih Ade Jun belum sempat tidur sepanjang hari itu, perjalanan dua sepeda motor itu melaju dengan tenang. Baru sekitar 2 km dari tikum, persisnya di lampu merah (lamer) Cibubur, yakni pertigaan Cibubur-Jl Raya Bogor, kami terhalang oleh puluhan para pembalap liar. Puluhan sepeda motor dengan suara knalpot bising menutup jalan raya tersebut. Para pengguna jalan lainnya harus bersabar menunggu mereka start untuk saling balapan. Motor yang terlibat bervariasi mulai jenis bebek hingga sport. Para pesertanya mayoritas anak muda. Ironisnya, mayoritas tidak menggunakan helm, jaket, apalagi sarung tangan. Bahkan, ada yang memakai sandal.
Setelah tersendat oleh kerumuman pembalap liar tadi, kami memacu kecepatan penuh yakni sekitar 80-90 kilometer per jam (kpj).
Selepas Cibubur menuju Pasar Cisalak, perjalanan agak tersendat, karena dinihari itu aktifitas di pasar sayur-sayuran Cisalak sudah berdenyut. Melewati kawasan itu, kondisi jalan amat mulus dengan aspal jalan yang baru dilapis ulang serta ada pelebaran jalan. Sedangkan garis pembatas juga masih terlihat putih cemerlang karena tampaknya baru dicat oleh Dinas PU Pemda Bogor. Praktis sepeda motor bisa dipacu antara 80-90 kpj.

Cakar Ayam Masih Ada
Dari Cibubur ke Cibogo, Bogor, suasana jalan lengang, kendaraan bisa dipacu 80-100/km. Namun, menjelang Ciluar, Bogor, masih ditemui kondisi aspal yang sedang dirapihkan yakni dikeruk dengan alat berat menyerupai tanah yang dicakar oleh ayam makanya disebut cakar ayam. Ada dua cakar ayam yakni di Ciluar dan Kedung Halang. Sepeda motor yang melintas di atas cakar ayam harus memperlambat lajunya jika tidak ingin tergelincir. Kami pun memperlambat dan coba konsentrasi penuh agar tidak oleng. Maklum, sebelum menemui cakar ayam, laju kami masih cukup tinggi. Saat melintas di Baranang Siang, terminal bus Bogor, kami berpapasan dengan konvoy touring asal Jakarta. Selintas terlihat tulisan komunitas sepeda motor matic yang diproduksi PT Astra Honda Motor (AHM). Kami saling memberi salam via klakson dan lambaian tangan. Maklum, kecepatan kami mampu dipacu tinggi karena hanya dua motor, sedangkan mereka saya taksir sedikitnya 15 motor.
Laju sepeda motor agak dikurangi ketika mendekati simpangan Ciawi-Sukabumi. Dari arah Jl Tajur, kami menemui jalan yang bergelombang. Akibatnya, laju motor dikurangi guna menghindari guncangan yang terlalu mengganggu posisi duduk. Hikmahnya, rasa kantuk jadi sedikit terusir karena guncangan tadi.
Sekitar pukul 04.05 kami tiba di stasiun pompa bensin umum (SPBU) nomor 34.16706, Cibogo, Bogor. Kami mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax yang harganya Rp 5.925 per liter. V-ixion merah diisi sekitar 6 liter karena sisa sebelumnya masih ada. Kapasitas tangki 12 liter kini telah terisi penuh. Demikian pula Pulsar hitam. Full tanki.
Guna menghilangkan kepenatan, kami mampir ke toilet, menghisap sebatang rokok, dan minum air mineral. Istirahat dengan menikmati udara malam kami sempat menyasikan rombongan touring dari arah Jakarta maupun sebaliknya. Mulai dari jenis motor bebek, sport hingga choper (motor besar). Dinihari itu, suasana jalan lengang maklum jarum jam menunjukkan sekitar 04.20 WIB, ketika kami meninggalkan SPBU Cibogo. (edo rusyanto/bersambung)

Kamis, 22 Januari 2009

Honda Bantah Obral CS1

JAKARTA — PT Astra Honda Motor (AHM) selaku agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Honda membantah telah mengobral bebek sport andalan mereka, City Sport 1 (CS1). Manajemen AHM mengklaim tidak pernah mendorong pada dealer untuk melakukan diskon besar-besaran untuk CS-1.

“Mungkin saja dealer sedang kesulitan keuangan. Perlu dibuktikan lebih jauh adanya diskon CS1 sebab kami tidak pernah melakukan hal itu,” ujar General Manager Motorcycle Marketing Division AHM Sigit Kumala ketika dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (22/1) malam.

Sigit mengakui penjualan CS1 terus melemah dari bulan ke bulan. Namun penurunan penjualan, kata dia, bukan hanya dialami oleh CS1 melainkan juga dialami oleh model lain. Krisis dana di tubuh perusahaan pembiayaan (leasing) membuat uang muka pembelian motor dan bunga cicilan melonjak.

Akibatnya, penjualan semua segmen termasuk CS1 ikut terpangkas. Bahkan AHM gagal memenuhi target penjualan bulanan motor ini sebesar 15 ribu unit sampai akhir tahun. Level penjualan tertinggi, kata Sigit, hanya mencapai sekitar 12 ribu pada November. Namun pada Desember penjualan CS-1 terjun ke 8.000 unit.

Sepanjang 2009, kata Sigit, AHM menjual sekitar 86.859 unit CS1. Dengan penjualan sebesar ini, CS1 sukses menggusur Suzuki Satria di pucuk pimpinan bebek sport hanya dalam tempo 8 bulan sejak diluncurkan pada April 2008. CS1 menguasai 52% pasar disusul Suzuki Satria sebesar 43%, sedangkan sisanya diisi oleh Kawasaki Athlete.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah dealer di Jakarta mengobral CS1 karena seretnya penjualan model ini. Sebagian dealer menyatakan pihak Wahana Artha selaku main dealer Honda di Jakarta dan Tangerang juga memberikan subsidi Rp 1 juta untuk CS1. Stok CS1 kini menumpuk di sejumlah dealer sehingga perlu segera cepat dihabiskan.

“Di dealer kami, CS1 dilepas dengan uang muka (down payment/DP) hanya Rp 1 juta saja,” ungkap Abdul dari dealer Nusantara Surya Sakti, Slipi.

Sigit mengaku uang muka terendah untuk CS1 saat ini mencapai Rp 1,8 juta. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang setelah Lebaran yakni sekitar Rp 3 juta. Saat itu, kata Sigit, suku bunga masih tinggi dan dana di perusahaan leasing sangat terbatas. Namun seiring penurunan BI rate, bunga cicilan dan DP perlahan mulai turun. AHM tengah berupaya menekan DP ke kisaran Rp 1,5 juta untuk memacu penjualan.

AHM, kata Sigit, akan berupaya menggelar berbagai kegiatan untuk memompa penjualan CS1. Namun Sigit enggan menyebutkan secara detil kegiatan yang dia maksud. “Intinya kami mencoba adakan berbagai kegiatan agar penjualan CS1 dapat minimal menembus 10 ribu unit,” tandasnya.

Honda merupakan pemimpin di pasar motor nasional dengan pangsa pasar 46% pada 2008. Volume penjualan Honda pada tahun lalu mencapai 2,8 juta unit, naik 33% dibanding 2007 sebesar 2,1 juta unit. (coy)

Senin, 19 Januari 2009

Minerva Siapkan 6 Produk Baru

PT Minerva Motor Indonesia (MMI), produsen sepeda motor Minerva, bakal merilis enam produk baru sepanjang 2009. Selain itu, produsen yang menggandeng Sachs Jerman itu berniat mengembangkan 500 jaringan distribusi dan bengkel di seluruh Indonesia.

” Di antara produk baru kami adalah Sachs Madass X Road 250 cc dan motor sport 250 cc,” tutur Kristianto Goenadi, presiden direktur MMI, kepada Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, keenam produk baru MMI tersebut akan memasuki pasar secara bertahap. Pada April bakal diperkenalkan jenis supermoto, sport, dan sport full fairing. Kemudian, pada Juni jenis Sachs X- Road 250, Agustus jenis XTC dan Madass 250.

Kristianto optimistis permintaan sepeda motor, khususnya jenis sport, masih bertumbuh sepanjang 2009. Saat ini, MMI mengandalkan Minerva R 150 untuk jenis sport. Motor berkapasitas mesin 150 cc itu dilepas dengan harga Rp 15,5 juta on the road.

Pangsa pasar sepeda motor jenis sport di Tanah Air masih tergolong kecil dibandingkan jenis bebek dan skutik. Dari total sekitar 6,2 juta unit penjualan sepeda motor pada 2008, jenis sport ditaksir hanya sekitar 10%. Selebihnya adalah jenis bebek (70%) dan skutik (20%).

Menurut Kristianto, meski segmen motor sport tergolong kecil, permintaannya masih bertumbuh. Ia mencontohkan, jenis R 150 pada 2008 mampu terjual rata-rata 4-5 ribu unit per bulan. ”Pada 2009, kami memasang target penjualan R 150 mencapai 10 ribu unit per bulan,” tukas dia.

Pada 2007, total penjualan MMI mencapai 47 ribu unit, kemudian bertambah menjadi 86 ribu unit pada 2008.

Terkait kerja sama dengan Sachs Jerman, Kristianto menuturkan, pihaknya mengembangkan pabrik di Thailand. ”Kerja sama tersebut juga melibatkan produsen sepeda motor Thailand yakni Tiger. Dari Indonesia kami memasok tiga jenis komponen di antaranya CDI dan ban,” ujar dia.

Pabrik Sachs di Jerman tersebut, tambahnya, untuk memasok kebutuhan sepeda motor di kawasan Asia Pasifik. ”Produk Sachs yang sudah kami pasarkan saat ini yakni Sachs Madass 125 akan dikembangkan dengan inovasi baru,” paparnya.

Dia menambahkan, MMI terpaksa menaikkan harga jual Sachs Madass 125 dari Rp 13,950 juta menjadi Rp 16,9 juta.

Sementara itu, terkait pengembangan jaringan, menurut Kristianto, pihaknya menyediakan anggaran sekitar Rp 50 miliar. ”Dana itu untuk penyeragaman desain showroom minerva sachs di Jabodetabek. Total biaya satu jaringan Rp 200 juta, namun kami sharing dengan mitra,” tutur Kristianto. (ed)

10 Jam, Api Membakar Depo BBM Plumpang

Mata ini sempat terbelalak. Minggu (18/1/09) malam sekitar pukul 22.10 WIB saat sedang melongok situs http://www.detikcom.com/ melihat berita Kebakaran Landa Depo Pertamina Plumpang. Dalam berita yang ditayangkan pukul 21:28 WIB itu, situs tersebut mengutip seorang warga yang mengetahui perihal kebakaran.
Kontan saja terlintas, wah jangan-jangan pasokan BBM jenis premium dan pertamax bakal menipis nih. Benar saja, beberapa jam kemudian berseliweran pesan singkat (SMS) yang menyebutkan bahwa segera beli BBM malam itu karena besok kemungkinan SPBU bakal kekurangan pasokan akibat kebakaran di Plumpang. Stasiun TV pun ada yang menayangkan pantauan ke sejumlah SPBU. ”Kami lihat terjadi antrean di sejumlah SPBU yang kami pantau,” lapor reporter TV yang ditayangkan langsung oleh stasiun TV. Maklum, kapasitas Depo Plumpang setara dengan pasokan 40% kebutuhan BBM di Jabodetabek dan 20% untuk kawasan pulau Jawa.
Hemmm...ada apa nih? Apakah Depo Plumpang disabotase lantaran pemerintah dah menurunkan harga BBM hingga tiga kali?
Kebakaran yang sempat membuat panik warga sekitar depo, terlebih pemukiman hanya berjarak sekitar 50 meter dari depo, berlangsung hingga 10 jam hingga akhirnya padam. Sekitar 30 pemadam kebakaran kerepotan memadamkan api. Sejumlah pejabat tinggi mulai Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo hingga Komisaris Utama Pertamina Soetanto yang juga mantan Kapolri, malam itu berbondong-bondong mengunjungi depo yang memiliki 24 tanki raksasa. Tujuh di antaranya adalah tanki berisi premium berkapasitas 15 ribu kiloliter. Kebakaran hebat malam itu ternyata hanya membakar tanki no 24. Menurut manajemen Pertamina, tanki itu hanya berisi 5 ribu liter alias sepertiga dari kapasitas.
Kebakaran selama 10 jam itu (api berkobar mulai pukul 21.20 WIB dan padam sekitar 07.00 WIB) meludeskan tanki. Menyibukkan puluhan petugas pemadam kebakaran maupun aparat keamanan, serta menimbulkan kepanikan warga sekitar depo. Belum lagi pengguna jalan yang saat itu melintas di kawasan depo. Kemacetan merajalela. Tak terbayang jika api meluas melahap 23 tanki lainnya. Wajah Jakarta bakal mirip Baghdad saat diserang imperialis AS beberapa tahun lalu. (ed)

foto: kompas

Minggu, 18 Januari 2009

IBC Punya Tujuh Pasangan Pengantin (Tropy Buat Aan)

Cuaca Jakarta mendung. Pagi itu, Minggu (18/1/09), jarum jam menunjukkan pukul 10.08 WIB. Lalulintas di Jl TB Simatupang, persisnya di SPBU dekat Departemen Pertanian suasananya cukup ramai. Sejumlah pengendara sepeda motor dan mobil asyik antre mengisi bahan bakar. Kenapa SPBU Deptan? Ya. Semestinya area pompa bensin itu menjadi titik kumpul (tikum) sebagian anggota IBC yang hendak menuju rumah bro Siddieq alias Aan.
Hari itu, IBC punya hajatan mini yakni penyerahan Trophy Bergilir Pernikahan IBC. Kali ini, trophy diberikan kepada bro Aan yang menikahi wartawati, Sri Rezeki di Madiun beberapa waktu lalu. Saat itu, tim IBC tidak bisa hadir pada resepsi di Madiun.
Kembali ke Jl TB Simatupang. Saat celingukan mencari bro Bani dan bro Hadi yang janjian di SPBU tersebut, ponsel berdering. Bro Bani rupanya. “Posisi dimana bro?” tanya Bani. “Di SPBU bro,” ujar saya. Percakapan berlanjut, rupanya bro Bani dah melintasi SPBU dan berada sekitar 200 meter dari lokasi. Akhirnya kami bertemu. Bro Bani menyebutkan bahwa bro Hadi sedang menuju tikum. Selang 15 menit, bro Hadi muncul. Tidak tanggung-tanggung. Berempat. Suzuki Spin pinky bro Hadi membawa empat penumpang, dua anak dan satu isteri. Mengingat bawaan bro Hadi cukup sesak, akhirnya kue dan satu anak bro Hadi hijrah ke Suzuki Tornado bro Bani. He..he...nggak ada yang hijrah ke Yamaha Vixion merah. Asyik.
Perjalanan berlanjut menelusuri Jl TB Simatupang mengarah ke Lebak Bulus, lalu ke arah Ciputat. Rombongan tiga sepeda motor berhenti sesaat di depan Carrefour Ciputat. Di sana telah menanti bro Ogenk dan bro Irfan. Keduanya memang sedari tadi menanti di lokasi tersebut. Loh? Kemana bro Rio? “Bro Rio dah melenggang dan bahkan dah tiba di rumah Aan,” ujar Bani. Ya, sudah. Lanjut.
Perjalanan sempat tersendat karena situasi jalan di sekitar Ciputat memang cukup ramai, walau menurut Bro Aan, jika hari Minggu kondisi tersebut tergolong sepi dibandingkan hari-hari kerja. Hemm...lumayan. kini, rombongan yang sudah bertambah dua merapat sesaat di Kantor Kecamatan Pamulang. Maklum, di sana dah menanti bro Toidin, simpatisan IBC bersama isteri dan anaknya. Bro Toidin sudah sejak sekitar pukul 10.00 WIB menanti di tikum tiga perjalanan IBC kali ini. Toidin bercerita, dia sempat kena hujan kecil saat menanti di tikum itu. Kini, rombongan menjadi enam sepeda motor dengan jumlah penumpang 11 orang.
Jelang Villa Pamulang, komplek kediaman Aan, kami sempat bertanya-tanya. Rumah bro Aan no berapa yah? He he he...lucu juga, dah jalan jauh-jauh gak tahu no rumahnya.
Setelah sempat bertanya-tanya, akhirnya rumah bro Aan ketemu juga. Persis di depan halamannya, bro Aan menyambut kami bersama bro Rio. Suara gerisik daun bambu diterpa angin dan desiran air sungai di depan rumah bro Aan di Pamulang, Banten itu membuat rasa lelah menjadi sirna.
Usai melepas atribut helm, jaket, sarung tangan, sepatu, dan boddy protector di lengan dan kaki, tubuh ini di istirahatkan di teras rumah Bro Aan. Hingga akhirnya, sekitar pukul 12.15 WIB, tuan rumah mempersilakan para tamu menikmati hidangan. Ada buah rambutan dan duku. Ada kue bawaan basah dan akhirnya santap siang.
Hidangan yang digelar di atas daun pisang menampilkan menu ayam goreng dan teri asin serta lalalapan dengan sambal khas masakan sunda ludes di terkam. Apalagi tempe goreng dan peyek kacang menambah air liur menetes deras. Andai ada bro Sontri. Hemmm...
Di sela santap siang, berdatanganlah sist Tya dan suami, Bakhtiar. Kemudian bro Gianto beserta anak dan isteri, lalu bro Heru dan bro Arie.
Rampung makan siang, penyerahan Trophy Bergilir Pernikahan IBC diserahkan dari sist Tya ke bro Aan. Sayangnya, isteri bro Aan sedang bertugas liputan ke Tual, Maluku.
Acara berlanjut dengan sharing mengenai arti kebersamaan di tubuh IBC. Dalam perjalanan di usia ketiga tahun, ternyata IBC melahirkan tujuh pasangan baru. Maksudnya, 7 anggota IBC melepas masa lajangnya di tengah-tengah perjalanan IBC. Enam pasangan sudah menerima trophy yakni; pasangan Effendi dan Rafika yang menikah di Manado, 19 Januari 2007, Ali Andreas dan Ellisa (Cilacap, 8 Juli 2007), Alam dan Vera (Jakarta, 29 Agustus 2007), Nanang dan Nia (Tangerang, 31 Agustus 2007), Aan dan Sri Rezeki (Madiun, 21 Oktober 2007), dan Fathiyah & Bakhtiar (Jakarta, 12 Juli 2008). Segera menyusul menerima trophy adalah bro Nasier pada Sabtu (31/1/09).
”Trophy bergilir adalah alat untuk merekatkan kebersamaan di IBC,” jelas bro Edo, ketua IBC. Ya. Trophy hanya alat. Kebersamaan yang dibangun bisa langgeng jika anggota IBC memiliki rasa saling menghargai dan kesetiakawanan yang kuat.
Penyerahan trophy di rumah sang pengantin kali ini merupkan yang pertama. Penyerahan sebelumnya dilakukan di lokasi touring atau tempat resepsi pernikahan.
Usai penyerahan trophy dan foto bersama. Rombongan IBC akhirnya meninggalkan kediaman bro Aan sekitar pukul 14.15 WIB. Sebagian pulang ke rumah masing-masing, sebagian langsung kerja ke kantor. Bravo IBC! (ed)

Kamis, 15 Januari 2009

Produsen Motor Naikkan Harga Jual

JAKARTA — Produsen motor nasional menaikkan harga jual motor mulai Januari tahun ini. Langkah ini dilakukan guna mengkompensasi melonjaknya biaya produksi akibat pelemahan rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Selain itu, pabrikan motor merasa perlu menaikkan harga jual menyusul naiknya bea balik nama (BBN) motor.

PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI), agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Yamaha, menaikkan harga dua model andalan mereka yakni Mio dan Vixion sebesar 2%. Harga Mio Soul, misalnya, naik dari Rp 12,8 juta menjadi 13 juta, sedangkan harga Vixion naik dari Rp 19,4 juta menjadi Rp 19,7 juta.

Selain YMKI, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) menaikkan harga untuk beberapa produk andalan seperti Ninja 150R dan RR serta Ninja 250R dengan besaran bervariasi. Harga Ninja 150L naik dari Rp 23,4 juta menjadi Rp 24,1 juta, RR naik Rp 500 ribu dari Rp 31 juta menjadi Rp 31,5 juta, Athlete naik Rp 300 ribu menjadi Rp 14,6 juta. Adapun Ninja 250 R sebagai model terlaris Kawasaki naik Rp 1,6 juta dari Rp 44,9 juta menjadi Rp 46,5 juta.

Sementara itu, ATPM Suzuki juga berencana menaikkan harga Shogun series, New Smash series, Spin series, Skywave series, dan New Satria FU150. Harga Thunder 125 akan naik sekitar Rp 1,2 juta.

Wakil Presiden Direktur YMKI Dyonisius Beti menjelaskan, kenaikan harga jual akan dilakukan secara bertahap hingga akhir tahun. Kenaikan ini mempertimbangkan laju inflasi yang mencapai 11% dan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar 20%. Selain itu rupiah juga melemah terhadap yen Jepang dari Rp 83 per yen menjadi Rp 122 per yen.

“Jadi sama seperti produk mobil yang saat ini sudah naik 7%, kenaikan motor akan bertahap hingga 15%. Lebih mempercepat pembelian karena harga akan terus naik secara bertahap,” kata dia di Jakarta, Rabu (14/1).

BBN dan Kurs

Manajer Pemasaran dan Riset Pengembangan Produk KMI Freddyanto Basuki menuturkan, biaya bea balik nama (BBN) selalu naik dari tahun ke tahun sehingga harga motor terpaksa direvisi. Hal ini diperparah dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dia menjelaskan, beberapa bahan baku dan komponen motor sebagian masih diimpor. Dia mencontohkan, untuk motor bebek, porsi impor mencapai 30% sedangkan motor sport seperti Ninja 150 porsi impor mencapai 40%. Barang yang diimpor umumnya bagian mesin seperti cam shaft dan aneka bahan baku seperti plastik, alumunium, dan baja khusus.

“Kalau untuk motor impor sepeti Ninja 250, kenaikan harga jual jelas lebih besar,” terangnya.

Basuki mengaku tidak khawatir penjualan Kawasaki akan tertekan menyusul naiknya harga jual. Sebab, dibanding dengan pabrikan motor yang lain, volume Kawasaki masih terbilang kecil. Ini membuat ruang pertumbuhan masih terbuka lebar.

Tahun ini KMI menargetkan penjualan meroket 100% menjadi 90 ribu unit dibanding 2008 sebanyak 46 ribu unit. KMI akan melepas KLX 150 cc yang merupakan jenis motor trail pada semester pertama tahun ini dengan harga jual sekitar Rp 22 jutaan. “Intinya kami akan merangsek ke segmen yang jarang dimasuki pabrikan besar seperti sport premium dan trail,” jelasnya.

Di sisi lain, PT Astra Honda Motor (AHM) sebagai pemimpin pasar motor nasional sejauh ini belum menaikkan harga jual motor. General Manager Marketing Motorcycle Division AHM Sigit Kumala menyatakan, Honda hingga kini masih mempelajari kemungkinan ini. “Kalau rupiah menguat kami tidak akan menaikkan harga, tapi kalau rupiah tetap lemah maka kami akan menaikkan harga,“ ujarnya

Ketua Umum Asosiasi Sepedamotor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata memperkirakan pabrikan sepeda motor akan menaikkan harga jual hingga mencapai 5%. Sama seperti Dyon dan Basuki, Gunadi menilai, kenaikan harga terpaksa dilakukan karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS. (coy)

Catatan Persaingan Motor 2008: Honda Tak Tertandingi

IBARAT pertandingan di sirkuit balap, laju mesin PT Astra Honda Motor (AHM) melesat meninggalkan lawan-lawannya dalam bisnis penjualan sepeda motor. Jika ada 12 putaran, pada 2008, AHM nyaris memimpin di setiap putaran. Sempat terlewati di satu putaran, namun tak menggoyahkan nilai akhir.

Omzet bisnis sepeda motor tergolong menggiurkan. Penjualan setiap tahun ditaksir sedikitnya mencapai Rp 50 triliun. Angka itu belum termasuk penjualan aksesoris maupun komponen. Wajar saja jika empat agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor asal Jepang amat gencar merambah pasar Indonesia. Kini, populasi sepeda motor mencapai sekitar 40 juta unit. Sebuah angka yang fantastis dibandingkan dengan alat transportasi lainnya.

Pemimpin pangsa pasar sepeda motor masih digenggam oleh PT AHM, ATPM sepeda motor Honda. Sepanjang 2005-2008, PT AHM menjadi market leader dengan pangsa pasar antara 45,4% hingga 52,4%. Pada posisi kedua, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (PT YMKI), ATPM motor Yamaha, berada di posisi kedua dengan pangsa pasar antara 22,5% hingga 39,1%. (lihat tabel)

Pertarungan PT AHM dengan PT YMKI sempat sengit saat produk Yamaha sempat mencuri posisi pertama pada Maret dan Juli 2007. Meski pada akhirnya, pada 2007, pangsa pasar PT AHM bertengger di posisi atas (45,4%), sedangkan PT YMKI (39,1).

Kejadian serupa sempat terjadi pada Desember 2008. PT YMKI menyodok dengan dengan total penjualan 194.423 unit, sedangkan PT AHM sebesar 173.849 unit. Lagi-lagi, meski mencuri satu putaran, posisi Honda tak tergoyahkan. Total penjualan Honda sepanjang 2008 ditaksir mencapai 2,8 juta unit dengan pangsa pasar 46,2%, sedangkan pangsa pasar Yamaha 39,7%.

Menurut Direktur Pemasaran PT AHM Johannes Loman, peristiwa Desember 2008 terjadi karena pihaknya menurunkan stok. Hal serupa juga menjadi alasan ketika Yamaha menempati posisi pertama pada Maret dan Juli 2007. ”Pengurangan stok merupakan strategi agar tidak terjadi penumpukan,” ujar Loman.

Sementara itu, General Manager Divisi Pemasaran dan Pengembangan Produk PT AHM Sigit Kumala menambahkan, pihaknya sengaja mengurangi produksi untuk mengantisipasi gejala perlambatan pasar.

Persaingan 2009

Tahun ini, persaingan memperebutkan kue bisnis sepeda motor semakin ketat. Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata menaksir, penjualan sepeda motor akan menurun sekitar 27% menjadi sekitar 5 juta unit dibandingkan 2008. Pemicunya, krisis finansial global yang terjadi saat ini bakal menurunkan daya beli konsumen.

Di sisi lain, harga jual sepeda motor juga mulai merangkak naik seiring melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan masih membumbungnya suku bunga perbankan. Maklum, lebih dari 85% penjualan sepeda motor di Tanah Air menggunakan pola kredit.

Jurus tiap ATPM dalam meraih simpati calon konsumen pada 2009 tidak bakal jauh berbeda dengan pola sebelumnya. Mulai dari meluncurkan produk baru hingga memberi keringanan uang muka untuk kredit.

Di tengah persaingan ATPM Jepang, yang harus diwaspadai adalah ATPM non-Jepang seperti Bajaj (India), TVS (India), dan Minerva (Tiongkok). Ketiga ATPM tersebut mulai mencuri hati konsumen. Ketiga ATPM tersebut merayu pasar dengan harga sedikit lebih murah untuk di kelasnya. Bahkan, Minerva membuat produk yang mirip dengan produk Jepang, dengan harga yang jauh lebih murah. (edo rusyanto)

Selasa, 13 Januari 2009

Liputan Bikersmagz Soal Buku Edo

Sabtu, 10 Januari 2009

2008, Penjualan Motor Cetak Rekor Tertinggi


Penjualan sepeda motor pada 2008 cetak rekor tertinggi sepanjang sejarah yakni 6,2 juta unit. Penjualan pada 2008 bertumbuh 32% dibandingkan 2007.
Puncak penjualan sepeda motor sempat mencapai 5.089.425 unit pada 2005. setelah itu, menurun 4 .470.722 unit pada 2006 karena kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata 125% pada September 2005. namun, penjualan kembali merangkak naik pada 2007 yakni menjadi 4.713.895 unit.
Beberapa faktor pendorong meningkatnya penjualan pada 2008 adalah pertama, murahnya uang muka pembelian kredit bahkan ada yang berani mematok Rp 500 ribu dan mudahnya persyaratan kelengkapan administrasi yang hanya berupa kartu keluarga (KK) dan rekening listrik. Kedua, melonjaknya harga-harga komoditas di pasar internasional yang mendorong daya beli di dalam negeri. Ketiga, konsumen memilih menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi ketimbang moda angkutan umum yang belum nyaman dan aman.
Di luar ketiga faktor itu, gencarnya pemanufaktur atau agen tunggal pemegang merek (ATPM) memasang iklan di berbagai media massa, khususnya televisi. Iklan menjadi salah satu pemicu calon konsumen memutuskan untuk membeli sepeda motor. Sementara itu, maraknya komunitas atau kelompok sepeda motor juga turut memicu penjualan. Bagaimana bisa? Kelompok sepeda motor disadari atau tidak menjadi ’pemasar’ ATPM karena menyebarluaskan semangat kebersamaan dalam berkendara. Termasuk penyebarluasan kelebihan sepeda motor bahkan memicu loyalitas pada merek tertentu.
Bagaimana dengan penjualan sepeda motor pada 2009? Sejumlah kalangan memprediksi penjualan bakal tetap melenggang. Prosentase pertumbuhannya memang ditaksir bakal berkurang dibandingkan pertumbuhan 2008.
Sepeda motor masih menjadi alternatif sebagai sarana transportasi bagi masyarakat kebanyakan. (edo)

Sepekan, Sepeda Motor Renggut 4 Nyawa


Mengerikan! Sepanjang 1-10 Januari 2009, empat nyawa melayang sia-sia akibat kecelakaan sepeda motor di Jakarta. Sementara itu, korban luka berat dan ringan mencapai tujuh orang.
Dua nyawa yang melayang adalah pengendara sepeda motor (bikers) dan dua lainnya adalah pejalan kaki. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari http://www.lantas.metro.polri.go.id/, dari delapan kasus kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, mayoritas penyebab timbulnya korban adalah bikers menabrak pejalan kaki (37,5%). Dalam kasus ini, dua korbannya meninggal dunia.
Ironisnya, dalam salah satu kasus, yakni kejadian yang menyebabkan Rosiati (37 thn) meninggal dunia, di Jl Pemuda, depan toko keramik Candra, Jakarta Timur, sang bikers yang menabrak Rosiati langsung kabur.
Faktor pemicu kecelakaan lainnya masing-masing berkontribusi 12,5% adalah motor nabrak motor, motor ditabrak mobil, bikers lepas kontrol, dan motor nabrak separator serta satu kasus belum diketahui pemicunya.
Dari sisi waktu kejadian, kecelakaan yang melibatkan sepeda motor mayoritas terjadi pada petang hingga tengah malam yakni 18.00-24.00WIB sebanyak 50%. Kemudian tengah malam hingga pukul 06.00 WIB. Dalam rentang waktu tersebut, jumlah kecelakaan mencapai 37,5%. Sementara itu, pukul 06.00-12.00 WIB hanya berkontribusi 12,5%.
Diperkirakan, pada rentang waktu yang dominan menimbulkan kecelakaan tersebut, bikers dalam kondisi lelah sehingga kurang kontrol dalam berkendara. (edo)
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian