Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Selasa, 31 Maret 2009

30 Kebiasaan Buruk Bikers


foto: edo


Belakangan menyeruak (lagi) komentar bernada miring terhadap pengendara sepeda motor di Jakarta. Paling populer adalah tudingan bahwa pengendara sepeda motor sebagai biang keladi kesemrawutan jalan raya. Apakah demikian faktanya?
Meski tidak seluruhnya benar, kerap kita menemui perilaku berkendara yang cenderung mengabaikan keselamatan berkendara (safety riding).
Berikut ini adalah beberapa perilaku buruk pengendara sepeda motor (bikers) yang kerap dicibir pengguna jalan lainnya. Karena itu, tidak ada salahnya jika kita bersama-sama menghilangkan sifat buruk di bawah ini.

1. Saat di lampu merah, menerabas garis putih dan zebra cross.
2. Saat di lampu merah, menerabas, bergerak sebelum lampu hijau.
3. Menggunakan trotoar sebagai jalan pintas di tengah kemacetan.
4. Menggunakan knalpot bersuara bising, padahal motornya bukan motor besar.
5. Menyalip dari kiri jalan tanpa memperhatikan kendaraan lain.
6. Berbelok tanpa menyalakan lampu sign.
7. Berboncengan lebih dari dua orang.
8. Membunyikan klakson yang memekakan telinga, terlebih di tengah kemacetan.
9. Saat hujan deras, berteduh di bawah kolong jembatan secara bergerombol yang memakan ruas jalan.
10. Berkendara dengan kecepatan tinggi di tengah keramaian lalulintas jalan raya.
11. Berkendara sambil merokok.
12. Berkendara sambil menelepon.
13. Berkendara membawa anak kecil di bagian depan dan belakang.
14. Aksi balapan liar di jalan umum.
15. Berkendara sambil menggunakan earphone untuk mendengarkan musik keras-keras.
16. Saat berkonvoy, menghalangi (blocking) ruas jalan milik pengguna lain.
17. Saat berkonvoy, menghalau dan menghalangi pengguna jalan lainnya.
18. Saat berkonvoy, membunyikan sirine dan menyalakan lampu strobo.
19. Menggunakan lampu bercahaya terang pada bagian belakang dan depan.
20. Tidak menyalakan lampu pada malam hari.
21. Berkendara melambat atau bergerombol melihat insiden kecelakaan di jalan raya.
22. Melarikan diri dan tidak bertanggung jawab saat terlibat kecelakaan.
23. Menerabas pintu halang perlintasan kereta api.
24. Pengendara dan pembonceng tidak menggunakan helm saat bermotor.
25. Pembonceng tidak memakai helm saat berkendara.
26. Berkendara dengan alas kaki sendal jepit.
27. Menggunakan jas hujan ponco yang lebar.
28. Motor tidak memiliki kaca spion.
29. Mengangkut barang berlebihan sehingga menganggu keseimbangan pengendara.
30. Melawan arus kendaraan.

Semoga dengan kita tidak melakukan 30 perilaku di atas, kondisi lalu lintas di jalan raya kian tertib.
Sudah saatnya, kita bersahabat dan santun di jalan. (edo)

Porsi Motor Bebek Terpangkas 14%


Porsi sepeda motor bebek terhadap total pasar nasional terpangkas 14% dari 64% per Desember 2008 menjadi hanya 50% per Februari 2009. Derasnya penetrasi motor skuter otomatik (skutik) membuat pasar bebek terus tergerus.

“Porsi skutik langsung melompat dari 26% pada Desember 2008 menjadi 33% per Februari,” ujar General Manager Motorcycle Marketing Division PT Astra Honda Motor (AHM), agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Honda, Sigit Kumala, di Jakarta, baru-baru ini.

Data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) menyebutkan, total pasar motor per Februari 2008 mencapai 782.323 unit. Dengan demikian penjualan motor skutik sampai Februari tahun ini mencapai sekitar 258 ribu unit.

Sigit melanjutkan, porsi skutik terus membengkak sejak tiga tahun lalu. Dia mencatat, porsi skutik pada 2006 hanya mencapai 8% kemudian naik menjadi 18% pada 2007. Porsi skutik terus meningkat menjadi 26% pada akhir 2008.

Sigit menjelaskan, skutik kian diminati karena lebih mudah untuk digunakan ketimbang bebek. Atas dasar ini, kalangan anak muda memilih skutik sebagai sarana transportasi. Apalagi, ujar dia, kaum perempuan kebanyakan memilih skutik sebagai motor pilihan mereka.

Sigit memperkirakan, porsi skutik akan mencapai 35% akhir tahun ini. Dari jumlah itu, AHM mengincar sekitar 45% pasar skutik dengan andalan Vario dan Beat. Pangsa pasar AHM di skutik tahun lalu meningkat menjadi 38% dari sebelumnya 26% dengan rata-rata penjualan 30 ribu unit untuk Beat dan Vario per bulan.

Suzuki menjadi korban kebringasan Honda. Pangsa pasar Suzuki di skutik menciut dari 15% menjadi 5%. Sedangkan pemimpin pasar di skutik, Yamaha, pangsa pasarnya turun dari 57% menjadi 56%.

Di lain sisi, porsi bebek terus menunjukkan tren penurunan. Bahkan di saat kondisi krisis seperti saat ini, papar Sigit, daya beli konsumen sulit menjangkau bebek segmen high end. Akibatnya, papar dia, kontribusi bebek high end merosot dari 21% menjadi 15%. “Daya beli melemah sehingga konsumen menggeser pembelian ke bebek low end,” paparnya.

Meski porsi bebek terus mengecil, Sigit meyakini, dalam beberapa bulan mendatang porsi bebek berpotensi membengkak. Sebab, beberapa produsen motor mulai agresif membombardir segmen ini. AHM, misalnya, telah melepas Absolute Revo 110 pada awal tahun ini. “Kontribusi bebek dalam beberapa bulan bisa balik lagi ke 60% karena kita baru distribusi Revo bulan lalu,” jelasnya. (coy)

Senin, 30 Maret 2009

Suzuki Incar 15% Pasar Motor

foto: detikcom

Agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Suzuki, PT Indomobil Niaga International (IMNI), mengincar 15% pasar motor nasional menyusul dilepasnya motor skuter otomatik (skutik) Skydrive Dynamatic. IMNI menargetkan Skydrive dapat terjual sebanyak 12 ribu unit per bulan.

“Dengan adanya tambahan model baru, kami yakin pangsa pasar kami dapat naik,” ujar 2W Marketing Department Head IMNI Morio Omanyuda di Jakarta, Senin (30/3).

Pangsa pasar Suzuki per Desember 2008 tercatat mencapai 12,7%, anjlok dibandingkan dengan posisi akhir 2007 sebesar 13,5% dengan angka penjualan 793.758 unit. Pangsa pasar terus merosot hingga mencapai 6,6% pada Februari 2009.

Tahun ini, ujar Morio, Suzuki menargetkan penjualan mencapai 700 ribu unit dengan asumsi pasar motor mencapai 4,7 juta unit. Dari jumlah itu, sekitar 350 ribu unit penjualan Suzuki akan diisi oleh skutik sedangkan sisanya oleh bebek dan sport.

Morio berkilah, turunnya pangsa pasar disebabkan manuver IMNI yang mengurangi iklan di televisi sejak November 2008 seiring adanya resesi ekonomi global. Namun memasuki April 2009, ujar Morio, Suzuki akan kembali agresif beriklan di media massa guna mempromosikan Skydrive.

Morio melanjutkan, di segmen skutik, Suzuki menargetkan pangsa pasar mencapai 15% dari sebelumnya 13,4% pada 2008. Saat ini, kata Morio, hanya Suzuki yang memiliki tiga portofolio di segmen skutik yakni Spin, Skywave dan Skydrive. Sedangkan kompetitor seperti Yamaha dan Honda hanya memiliki dua portofolio di segmen skutik.

Spin, ujar dia, ditujukan bagi segmen low end, Skydrive segmen menengah dan Skywave untuk konsumen high end. Skydrive dilepas di harga Rp 13 jutaan. “Rencananya kami akan melepas beberapa model lagi tahun ini,” tukas dia.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata mengatakan, seiring perkembangan jaman, konsumen cenderung menginginkan motor yang praktis dalam aktivitasnya. Dalam dua tahun belakangan, pangsa pasar skutik terhadap pasar motor nasional terus menunjukan peningkatan.

”Tahun ini, peningkatan pangsa skutik akan terus berlanjut. Untuk itu akan banyak merek yang lebih konsentrasi menggarap segmen ini,” jelasnya.

Ekspor

Di sisi lain, Gunadi menyatakan, ekspor motor pada 2008 tercatat sebanyak 60.000 unit atau sekitar 1% dari total pasar sebesar 6,2juta unit. Sementara untuk mobil, lanjut dia, ekspor tahun lalu hampir 100.000 unit dibandingkan pasar mobil 607.000 unit.

”Bahkan ekspor mobil seluruh merek saat ini sudah mencapi total 77 negara di seluruh dunia, jauh meninggalkan ekspor motor. Kami tidak mengandalkan ekspor untuk menggenjot produksi,” kata dia yang juga Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Interasional Tbk, induk perusahaan IMNI. (coy)

Bikers Peduli Situ Gintung








BENCANA jebolnya tanggul Situ Gintung, Cireunde, Tangerang Selatan–Banten, Jumat (27/3), sekitar pukul 03.30 WIB, menelan hampir 100 jiwa penduduk di sekitar kawasan itu. Lebih dari 100 jiwa dikabarkan hilang dan puluhan lainnya luka-luka. Bencana menorehkan luka di sanubari kita.
Di tengah gelombang bantuan dan sumbangan dari partai politik, pejabat, serta masyarakat, sekelompok anggota kelompok pengguna sepeda motor (bikers), juga sibuk merapatkan barisan. Ikut andil membantu sesama yang sedang menderita.
“Alhamdulillah bantuan dan donasi sudah didistribusikan langsung kepada korban Situ Gintung,” tutur Lucky Junan Subiakto, pengurus Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC), seperti tertera dalam catatan dinding Face Book pria bertubuh gempal itu.
Menurut dia, walau tidak seberapa, ia berharap bantuan itu dapat berarti banyak bagi penerimanya. “Atas nama YJOC kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu,” kata dia.
Sementara itu, Minerva Riders Community (MRC) juga ikut ambil bagian. Puluhan kardus bantuan yang di antaranya adalah mie kemasan dan air mineral, terpaksa diangkut dengan gerobak. Sebagian barang yang dibawa dengan sepeda motor R 150 tidak bisa menerobos ke lokasi posko. ”Bantuan kami sebar ke dua posko bencana, yakni Posko Bencana Rakyat Peduli dan Posko Peduli PKS di belakang Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ),” ujar Hadi W, wakil ketua MRC region Jakarta, mewakili keluarga besar MRC.
Ia mengaku trenyuh melihat keadaan Situ Gintung dan para korban bencana air bah tersebut. “Keadaan di Situ Gintung cukup memprihatinkan,” papar Hadi yang datang bersama sekitar 17 anggota MRC, Minggu (29/3) siang.
Pada bagian lain, bikers dari Komunitas Boeaya Motor, Jakarta Bikers Merah Putih (JBMP), dan Ikatan Motor Indonesia (IMI) DKI Jakarta mendirikan Posko bantuan untuk korban di Situ Gintung. “Posko kami terletak di depan Ruko LIA Ciputat setelah jembatan Pasar Jumat,” tutur Indra dalam surat elektroniknya.
Menurut dia, posko tersebut menyalurkan bantuan dari warga yang ingin berderma. Ia menjelaskan, bantuan yang diperlukan dan sangat mendesak saat ini antara lain mie instan, air mineral, nasi bungkus, selimut, dan pakaian layak pakai.
Beberapa klub dan komunitas sepeda motor juga berancang-ancang. Independent Bikers Club (IBC) salah satunya. “Kami bakal masuk ke lokasi dan mengirim bantuan sepekan setelah kejadian karena saat ini sudah banyak yang membantu,” papar Edo Rusyanto, ketua IBC, Senin (30/3).
Ia menjelaskan, anggota IBC telah mengunjungi lokasi yang porak poranda tersebut dan menginventarisasi kebutuhan yang bisa dibantu. “Kemampuan kami juga terbatas, karena itu bantuan yang ingin disalurkan agar tepat sasaran dan sesuai kebutuhan penerima,” tegasnya.

Bencana jebolnya Situ Gintung meluluhlantakan ratusan rumah yang terletak di bawah danau tersebut. Bahkan, pemukiman yang berjarak sekitar 1-3 kilometer juga terkena banjir lumpur.
Tanggul buatan Belanda tahun 1932-1933 tersebut diperkirakan menghancurkan perumahan warga di Kampung Poncol dan Kampung Gintung. ”Sekitar 300 rumah yang ada di wilayah itu rusak dan hancur,” tulis Kompas (Sabtu, 28/3). Butuh miliaran bahkan triliunan rupiah untuk memperbaiki infrastruktur yang ada. Pemerintah berjanji memberikan bantuan Rp 15 juta untuk setiap rumah yang rusak terkena bencana.
Bencana menyisakan kepiluan bagi keluarga yang kehilangan sanak family. Hingga Minggu (29/3), sudah 99 korban meninggal dunia ditemukan. (edo)
foto: dok MRC

Jumat, 27 Maret 2009

7 Jam di Gunung Bunder

"BAGAIMANA kalau kita ditilang polisi?" Lalu..."Bagaimana menyadarkan pengendara motor yang ugal-ugalan di jalan raya?"

Lantas..."Apa saja dasar aturan agar tertib berlalulintas?"

Pertanyaan di atas bukan terlontar di dalam ruang pelatihan atau penyuluhan berkendara yang aman dan selamat (safety riding) seperti yang digelar Road Safety Association (RSA). Bukan pula dalam diskusi kopdar keliling RSA yang dilaksanakan sebulan sekali di Jakarta.

Pertanyaan itu meluncur dari Ferry, ketua Minerva Riders Community (MRC) Region Bogor dan Robby, pengurus MRC kota hujan itu. Pertanyaan meluncur di sela menyantap mie rebus dan nasi goreng serta teh dan kopi hangat di Gunung Bunder, Bogor, Kamis (26/3), siang.

Kontan saja Rio, koordinator RSA yang didampingi Eko, wakil koordinator dan kepala-kepala divisi RSA, Edo, Dito, dan Rieza, serta Sontul, salah satu founder Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ), cikal bakal RSA, menjawab dengan lugas. Sesekali ditimpali para ketua divisi. RSA bikin diskusi safety riding di kawasan wisata itu?


***

Udara dingin menyelusup di balik jaket sintetis, ketika Yamaha V-ixin merah dipacu hampir 100 kilometer per jam (kpj). Kamis (26/3), sekitar 05.59 WIB, harus bergegas dari Cibubur, Jakarta Timur menuju stasiun pompa bensin umum (SPBU) Jl Tb Simatupang, depan Gedung Antam, Jakarta Selatan.

Pagi itu, libur nasional hari besar umat Hindu, Nyepi. Jalanan terasa lengang. Saat melintas kawasan Cijantung, terlihat segala usia sedang lari pagi. Bahkan ada yang membawa hewan kesayangannya. Di halaman sebuah perkantoran, terlihat puluhan ibu-ibu sedang senam pagi diiringi musik. Hemmm...hidup sehat di tengah polusi yang mendera Jakarta.

Butuh waktu sekitar 20-an menit tiba di SPBU yang terkenal karena dilengkapi gerai penjual kopi dan donat serta anjungan tunai mandiri. Sesekali juga berpapasan dengan pria pengendara sepeda. Mereka bersepeda bersama. Menikmati libur sambil berolahraga.

Di SPBU telah berkumpul Rio, Dito, dan Sontul. Mereka tiba lebih dulu karena memang sebelumnya disepakati berkumpul pukul 06.00 WIB. Kami berniat melakukan perjalanan ke Gn Bunder, Bogor. Tak lama kemudian, Rieza tiba. Sedangkan Syamsul meminta agar jika tidak tiba 07.15 WIB, ditinggalkan saja. Roki dan Edy, tidak ada kabar. Ponselnya tidak menyahut saat dipanggil.

Pukul 07.25 WIB, kami berangkat melintas Jl Margon Raya, Depok sekaligus menjemput Eko yang menunggu di Pesona Kayangan.

Sebelumnya, di Jl Raya Lenteng Agung, Jaksel, kami sempat singgah membeli pelumas rantai di Efendi Motor. Sedangkan Rio sekaligus membetulkan lampu remnya yang sempat tidak berfungsi.


* * *

Sepanjang jalan melintasi kawasan Cikaret dan Pemda Bogor, sempat berpapasan dengan rombongan kampanye dari Partai Golkar. Sekitar pukul 08.28 WIB, tiba di tikum SPBU Warung Jambu, Bogor. Sambil istirahat, menunggu rekan-rekan dari MRC Bogor. Selang beberapa menit, muncul Bro Ferry. MRC diajak Bro Edo untuk memandu rute baru menuju Gn Bunder. Tak berapa lama kemudian muncul Bro Robbik dan Bro Akew bersama boncengernya Nuy.

Perjalanan sempat tersendat di kawasan Pasar Ramayana, Bogor, sebelum menuju Ciomas dan jalan menuju Curug Nangka. Jalan yang menanjak dan berlubang serta banyaknya angkot, membuat kecepatan rombongan agak tersendat. Setelah melewati Pamijahan dengan jalannya yang berkelok dan menanjak, akhirnya sekitar pukul 10.21 WIB, rombongan tiba di Gn Bunder.

Dalam perjalanan, sesekali Bro Edo mengambil gambar dengan handycam.


Setelah ngobrol-ngobrol soal safety riding dan berbagai permasalahan seputar sepeda motor, rombongan bergerak ke Pemandian Air Panas. Kali ini, Nuy, membantu mengambil gambar saat rombongan menelusuri hutan pinus dan hutan damar di kawasan wisata yang dikelola Perum Perhutani itu.

Sekitar 10 menit, rombongan tiba di gerbang Pemandian Air Panas. Jarum jam menunjukkan 12.25 WIB. Tim dari MRC Bogor memilih untuk menunggu di parkiran sepeda motor dekat gerbang pemandian.

Jarak menuju pemandian dari pintu gerbang sekitar 350 meter. Namun, karena tingkat kemiringannya hampir mencapai 45 derajat, perjalanan terasa melelahkan. Untung saja terhibur oleh pemandangan nan hijau dan suara gemericik air sungai. Setiap pengunjung dikenai tiket masuk Rp 2.000, lebih murah dibandingkan tiket masuk kawasan yang sebesar Rp 4.000 per orang, sedangkan untuk setiap motor dikenai Rp 2.000.

Saat tiba di areal pemandian air panas yang memiliki fasilitas pancuran, kolam anak dan dewasa, serta pemandian private, kawasan itu juga menyediakan pemandian gratis di sungai yang berbatu. Hanya saja, airnya tidak panas seperti dipemandian yang tarifnya mulai Rp 2.000 hingga Rp 5.000. Banyak wisatawan yang memilih mandi disungai.

Bro Eko yang memang memiliki janji untuk pertemuan keluarga, akhirnya pamit lebih dulu kembali ke Jakarta, sekitar pukul 13.05 WIB.

Di sela istirahat, bro Syamsul menelepon menanyakan situasi di Gn Bunder sekaligus siapa saja yang ikut touring kali ini. Walau sinyal seluler timbul tenggelam di area pemandian air panas,

Syamsul masih bisa menjelaskan kenapa dirinya tidak bisa ikut. Menurut dia, dirinya terpaksa tidak ikut karena anaknya sakit dan ia baru bisa istirahat tidur pada pukul 03.30 WIB. Rio sempat menanyakan soal draf AD/ART RSA. Namun, akhirnya bro Edo bilang siap menyusun drafnya sekembali dari Gn Bunder.

Perjalanan kembali ke gerbang pemandian lebih melelahkan. Maklum, harus menanjak. Sempat Rio, Edo, dan Sontul beberapa kali istirahat. Sedangkan Rieza dan Dito melenggang. Tiba lebih dulu di gerbang.

Jarum jam menunjukkan pukul 14.51 WIB, saat hendak meninggalkan kawasan pemandian untuk menuju Jakarta. Baru sekitar 500 meter dari pemandian, hujan turun deras. Rombongan terpaksa berteduh di sebuah gubuk di pinggir jalan. Sambil menunggu hujan reda, kami memilih memesan teh dan kopi hangat di warung depan gubuk berteduh. Obrolan pun mengalir. Dari soal motor, safety riding, hingga persoalan asmara. Hujan tak kunjung reda. Akhirnya rombongan RSA bertekad menerabas hujan. Maklum, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.20 WIB. Sedangkan rombongan MRC Bogor memilih menunggu hujan reda karena mereka tidak membawa jas hujan.





Praktis perjalanan menuju Jakarta agak melambat karena hujan deras dan jalan yang menurun licin tertimpa air hujan. Sekitar pukul 18.15 WIB, kami mampir di warteg Darmaga,Bogor untuk mengisi perut. Makanan dan minuman cukup menghangatkan tubuh ketika kami berangkat lagi menuju Jakarta sekitar pukul 18.45 WIB. Jalur yang ditempuh adalah lewat Jl Raya Parung menuju Jl Raya Bogor. Rombongan berpisah, ketika Dito berbelok di Pal, Cimanggis. Kemudian, Edo berbelok di Cibubur. Rieza, Sontul, dan Rio terus hingga akhirnya mereka berpisah di perempatan Pasar Rebo. Rio terus menuju Kalimalang. (edo)

foto-foto: rio octaviano

SNI Wajib Helm Ditunda Setahun


PEMERINTAH menunda selama setahun penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk helm, dari semula 25 Maret 2009 menjadi 25 Maret 2010.

Pengunduran jadwal itu, menurut Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris, Jumat (27/3), di Jakarta, untuk memberi kesempatan kepada perajin agar memproduksi helm sesuai SNI.

Sementara itu, Dirjen Industri Agro dan Kimia Depperin Benny Wachjudi, seperti dilansir Investor Daily, (Jumat, 27/3), mengatakan, perpanjangan waktu penegakan hukum (law inforecement) dilakukan untuk membantu para perajin helm agar tidak menghentikan kegiatan produksinya. Dalam kurun waktu itu, pemerintah dan perajin helm yang berskala industri kecil dan menengah (IKM) akan mencari solusi yang terbaik.

SNI wajib untuk helm tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/Per/6/2008 tanggal 25 Juni 2008.

SNI tersebut, menurut Depperin, mengacu kepada standar Japan International Standard dan standar Eropa. Seluruh helm yang diperdagangkan di Indonesia, harus memiliki SNI.

Menperin mengaku, aturan mengenai SNI wajib helm tidak tergesa-gesa dan tanpa sosialisasi.
Pemerintah menetapkan SNI wajib helm untuk meningkatkan keselamatan pengendara motor di Tanah Air. Selain itu, SNI wajib helm bertujuan untuk menekan produk impor yang menggerus kinerja produsen domestik.

Pemerintah pusat hingga kini sulit memantau kesadaran perajin helm di beberapa daerah akan pentingnya SNI. Sebab, pembinaan izin perajin dilakukan oleh pemerintah daerah. Salah satu solusinya, kata Benny, adalah membangun kerja sama antara produsen helm yang telah memiliki SNI dan yang belum.

Ketua Perhimpunan Perajin Helm Indonesia (PPHI) Abed Nego, seperti dikutip Investor Daily, mengatakan, molornya penerapan SNI membuka peluang bagi perajin helm untuk tetap berproduksi. PPHI akan meminta bantuan pemerintah untuk melakukan penyuluhan ketentuan SNI wajib helm.

”Saat ini kami bersyukur masih bisa diberi kesempatan bernafas. Kami harap akan ada solusi yang terbaik bagi semua pihak, khususnya industri kecil,” ujarnya.

Dia menjelaskan, saat ini ada sekitar 100 perajin helm di seluruh Indonesia. Setiap hari, IKM helm rata-rata bisa memproduksi sekitar 500 unit. Helm yang diproduksi, jelas dia, menyasar pada konsumen kelas bawah.

”Tenaga kerja kami jika dijumlahkan secara keseluruhan bisa mencapai 5.000 pekerja. Jadi industri ini cukup banyak menyerap tenaga kerja, ini yang mau kita jaga,” papar dia.

Saat ini, produksi helm di Tanah Air berkisar 9-10 juta unit per tahun. Sebagian produsen juga telah mengekspor produk mereka ke pasar Eropa. (edo)

Selasa, 24 Maret 2009

MENGENAL ATPM SEPEDA MOTOR (1)

PT Astra Honda Motor (AHM)


Pionir para agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor adalah PT Astra Honda Motor (AHM). Pemegang lisensi motor honda itu pertama muncul pada 11 Juni 1971 dengan nama PT Federal Motor. Saat itu, Federal Motor hanya merakit, sedangkan komponennya diimpor dari Jepang dalam bentuk terurai (completely knock down/CKD). Saat berdiri, kemampuan produksi hanya 1.500 unit, namun melesat menjadi 30 ribu unit pada 1972.

Jenis sepeda motor yang diluncurkan pada 1971 adalah Honda C70 bermesin 4 tak 70cc dengan transmisi 3 kecepatan. Saat itu pendiri PT Astra International Tbk, William Soerjadjaja meluncurkan sendiri sepeda motor pionir milik AHM tersebut.

Kebijakan pemerintah yang menetapkan pembuatan komponen harus dari dalam negeri mendorong PT Federal Motor memproduksi berbagai komponen sepeda motor Honda melalui beberapa anak perusahaan. foto: eko hilman


Pada 31 Oktober 2000, PT Federal Motor dan Honda Investment merger
menjadi PT Astra Honda Motor (AHM). Penggunaan nama resmi PT AHM dimulai sejak 2001. Selain sebagai ATPM, AHM memiliki aktifitas, manufaktur, perakitan, dan distributor sepeda motor Honda.


Perusahaan yang kini bernaung di bawah Grup Astra International itu memiliki tiga pabrik perakitan. Pabrik pertama didirikan pada 1971 di Sunter I, Jakarta Utara. Melihat perkembangan permintaan, pada 1996 atau setahun sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia, AHM mendirikan pabrik kedua di Pegangsaan, Jakarta. Berbarengan dengan permintaan sepeda motor yang sempat mencapai puncaknya pada 2005 yakni mencapai 5 juta unit, AHM mendirikan pabrik ke-3 di Cikarang, Bekasi Jawa Barat pada 2005. Untuk investasi pabrik ketiga di Cikarang itu, AHM merogoh kocek sekitar US$ 140 juta. Maklum, kapasitas pabrik tersebut mencapai 1 juta unit. Kini, dengan ditopang tenaga kerja yang andal serta fasilitas mesin-mesin produksi mutakhir, AHM mampu memproduksi 3 juta unit sepeda motor setiap tahunnya.


Perusahaan yang 50% sahamnya dimiliki PT Astra International Tbk dan sebesar 50% dikuasai Honda Motor Co., Ltd, Jepang itu, didukung sekitar 14.004 ribu tenaga kerja terampil. AHM bahkan mampu memproduksi sekitar 8.000 unit motor per hari. AHM hingga awal 2008 didukung oleh 1.600 dealer penjual, 3.800 layanan service, dan 6.500 gerai suku cadang di seluruh Indonesia.



Jenis Produksi


Hingga Maret 2009, jenis produksi AHM terdiri atas 9 tipe yang meliputi sepeda motor bebek (underbone) yakni Honda Blade, Honda Absolute Revo 110 (110 cc), Honda Supra X 125 R (125 cc), dan Honda Supra X 125 PGM-FI (125 cc). Kemudian sepeda motor sport yang mencakup Honda Mega Pro (160 cc) dan Honda Tiger (200 dan 250 cc), serta Honda City Sport1 (125 cc). Terakhir, skuter otomatis (skutic) yakni Honda Vario (110 cc) dan Honda Beat (110 cc).


Sejak kehadirannya pada 1971, AHM pada 1996 mencapai produksi ke-5 juta, pada 2003 mencapai produksi ke-10 juta unit, pada November 2007 telah mencapai produksi ke 20 juta, dan menargetkan produksi ke 30 juta unit pada 2010.


Di luar Jepang, selain Indonesia, produksi ke 20 juta juga dicapai oleh Honda di India. India yang berpopulasi sekitar 400 juta jiwa itu, mencapai produksi ke-20 juta lebih dahulu dibandingkan Indonesia. Namun, untuk kawasan Asean, prestasi AHM merupakan yang pertama memproduksi 20 juta unit motor. Jumlah produksi itu merupakan lompatan besar, mengingat pada 1996 total produksi AHM baru mencapai 5 juta.


Produksi sepeda motor AHM tidak hanya dipasarkan di dalam negeri. Pada 1990, AHM sempat mengekspor Honda Win ke Republik Rakyat Cina. Pada 2008, volume ekspor AHM diperkirakan sekitar 3.000 sepeda motor.


AHM terus berkembang dan didukung oleh belasan ribu jaringan distribusi seantero Nusantara. Di sisi lain, ratusan usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi mitra pemasok komponen. Hingga kini, kandungan lokal sepeda motor Honda mencapai sekitar 90%. Sebagian kecil masih diimpor yakni karburator dan beberapa bagian mesin sepeda motor.


AHM yang menguasai sekitar 46% pangsa pasar sepeda motor di Indonesia juga telah merengkuh berbagai penghargaan. Beberapa di antaranya adalah The Best in Achieving Total Customer Satisfaction dari lembaga riset pemasaran Frotier dan Majalah Swa (2001,2004, dan 2005), penghargaan serupa juga diterima dari Majalah Swa dan Mars (2004 dan 2005), Indonesian Customer Loyalty Award dari Majalah Swa dan Mars (2005), dan The Company With The Best Image dari Frontier.


Pada 2008, penjualan AHM melesat 34,2% menjadi 2.874.576 unit dibandingkan 2007. Tahun 2008, penguasaan pangsa pasar AHM sebesar 46% dari sekitar 6,2 juta unit. (edo rusyanto)



Polisi Tilang 2.635 Kendaraan Kampanye

Kepolisian Daerah Metro Jaya (Polda Metro Jaya) menilang 2.635 kendaraan peserta kampanye bahkan 83 sepeda motor disita karena tidak dilengkapi dengan surat kendaraan. "Dilihat dari asal partai, maka semua partai yang mengerahkan massa pasti ada yang kena tilang karena melanggar lalu lintas," ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono, kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (24/3).
Kapolda Metro Jaya berjanji akan tetap konsisten dalam menindak semua peserta kampanye yang melanggar lalu lintas.
Kendaraan yang ditilang tersebut merupakan peserta kampanye selama 8 hari yang berlangsung sejak 16 Maret. Kampanye terbuka berlangsung hingga 5 April 2009.
Kapolda menjelaskan, pihaknya belum menemukan peserta kampanye yang terlibat kecelakaan lalu lintas. "Ada memang 64 kecelakaan di jalan raya saat kampanye tapi itu dari aktivitas rutin warga dan bukan peserta kampanye," katanya, seperti dilansir Antara. Wahyono sangat menghargai kerja sama dan hubungan baik antara polisi dengan partai politik termasuk panitia kampanye hingga angka kecelakaan dapat ditekan hingga nol padahal masa kampanye sudah melewati seperti dari jadwal. "Panitia kampanye selalu kerja sama dengan polisi dalam mengatur massa termasuk rute dan jenis kendaraan yang dipakai," ujar dia. Untuk mengamankan massa, Polda Metro Jaya telah membentuk 11 posko di sejumlah lokasi yang akan menjadi jalur peserta kampanye dan mereka berwenang termasuk memberikan tilang. Sikap tegas polisi ditunjukkan kepada massa yang melanggar lalu lintas dengan memberikan surat tilang ataupun teguran. "Kami tidak melihat dari partai mana dia. Siapa saja yang tidak pakai helm ya akan ditilang. Yang naik ke atap bus, ya akan dtilang dan diturunkan," ujar Wahyono . Bahkan, seorang penyelenggara pemilu dan seorang caleg di Jakarta terpaksa ditilang karena tidak memakai helm. Hidup polisi. (ed)

Senin, 23 Maret 2009

Yamaha Jual 550 Ribu Unit



Penjualan sepeda motor Yamaha mencapai sekitar 550 ribu unit pada triwulan pertama dari target penjualan sepanjang tahun ini sekitar 2,4 juta unit atau sama dibandingkan tahun lalu.

"Tahun ini kami fokus pada segi kualitas. Munculnya tipe-tipe baru dari varian lama diharapkan dapat mendongkrak penjualan di tahun ini, tentunya dengan harga yang hampir sama," kata Wakil Presiden Direktur PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) Dyonisius Betti, pada kunjungan grup band Slank ke pabrik tersebut, di Pulo Gadung, Jakarta, Senin (23/3).
Ia mengakui, meski permintaan masyarakat terhadap sepeda motor cenderung turun tahun ini, namun penjualan Yamaha masih stabil bila dibandingkan tahun lalu.
Ia memperkirakan, penjualan sepeda motor akan kembali tumbuh seiring dengan menurunnya suku bunga kredit yang mencapai 1,5 sampai 3% sejak awal Maret 2009 untuk pembelian sepeda motor secara kredit.
"Seiring sudah mulai diturunkannya suku bunga oleh Bank Indonesia, YMKI juga menurunkan suku bunga pada leasing dan diharapkan hal tersebut dapat kembali menggairahkan pasar sepeda motor di Indonesia," katanya, seperti dilansir Antara.
Untuk memperkuat penetrasi pasar sepeda motor di Indonesia, YMKI selaku Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) Yamaha telah membangun perluasan pabrik sepeda motor kedua di Karawang, Jawa Barat, dan membuat pusat pelatihan untuk teknisi sepeda motor dari seluruh Asia Tenggara dengan biaya Rp 946 miliar.
"Perluasan pabrik ini adalah sebagai salah satu investasi jangka panjang YMKI melihat Indonesia adalah salah satu pangsa pasar terbesar untuk sepeda motor di Asia," kata Dyonisius.
Menanggapi rencana peluncuran tipe sepeda motor baru untuk menggairahkan pasar, ia mengatakan pada semester ke-2 tahun ini akan ada beberapa tipe baru yang akan diluncurkan mulai dari tipe skutik (sepeda motor otomatik), bebek , hingga motor sport.
"Bahkan akhir 2009 kami akan mengeluarkan produk terbatas dari Yamaha RX King, serta Yamaha R 6," katanya.
Selama ini, YMKI hanya memasarkan sepeda motor sport 250 cc seperti Yamaha tipe R 6 secara terbatas sesuai permintaan, karena pasarnya sangat kecil. Namun, lanjut dia, tidak tertutup kemungkinan pasokan sepeda motor impor itu akan ditingkatkan, bila pasar membesar.
Pada kunjungan grup band Slank yang khusus datang untuk penyaksikan pembuatan sepeda motor Yamaha, Wakil Presdir YMKI, Dyonisius Beti juga menyerahkan 10 sepeda motor Vega ZR edisi terbatas yang diberi tanda tangan kelompok musik tersebut pada sisi kiri maupun bagian kanan sepeda motor.
Sepeda motor dengan edisi terbatas itu akan menjadi hadiah undian bagi penonton konser musik "Konvoi Cinta Damai Slank dan Yamaha" yang di gelar di 10 kota di Indonesia belum lama ini. (ed)


Produsen Minta Penangguhan SNI Wajib Helm

Produsen helm skala menengah kecil yang tergabung dalam Perhimpunan Perajin Helm Indonesia (PPHI) meminta pemerintah menangguhkan pemberlakuan regulasi wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) produk tersebut.

Ketua PPHI Abed Nego menjelaskan, UKM produsen helm keberatan dengan Peraturan Menperin No 40/M-IND/Per/6/2008 tentang pemberlakuan SNI helm pengendara kendaraan bermotor roda dua. "Sekitar 100 UKM produsen helm mulai menghentikan produksi akibat regulasi itu," ujarnya di Jakarta, Senin (23/3).

Pemberlakuan regulasi wajib SNI helm motor, lanjut dia, dilakukan tanpa sosialisasi kepada UKM. "Tapi, toko dan distributor helm justru menghentikan order kepada kami karena takut dirazia pemerintah," ujarnya.

Menurut dia, UKM sulit memenuhi persyaratan SNI wajib helm motor mengingat keterbatasan modal. Karena itu, sebelum regulasi itu efektif diberlakukan mulai 25 Maret 2009, PPHI meminta Depperin membina UKM produsen helm. "Jika tidak, kami terancam setop produksi sehingga sekitar 5.000 pekerja langsung maupun tidak langsung di sektor ini bisa dirumahkan," ujarnya.(dry)

Minggu, 22 Maret 2009

TMII Tergenang

HUJAN deras mengguyur Jakarta, Minggu (22/3), siang. Hujan yang disertai angin kencang melanda rute perjalanan menuju ke kantor di Jl Sudirman, Jakpus. Pukul 15.00 WIB, rute Jl Raya Cipayung, Jl Ceger, Jl Raya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jl Raya Pd Gede, Psr Hek, Jl Ry Bogor Kramat Jati, dan Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur, hujan deras. Bahkan, di Jl Raya TMII genangan air menutup kedua ruas jalan. Sistem drainase di kanan kiri jalan tidak berfungsi. Banyak sepeda motor yang terperangkap. Satu dua terpaksa didorong karena air masuk ke knalpot bahkan mesin. Air mencapai knalpot sepeda motor jenis bebek. Beruntung sebagian pengendara yang memutuskan untuk berteduh di halte mulut jalan tersebut. Kecepatan melambat hanya sekitar 10 km/jam.
Tak terlihat petugas polisi lalulintas (polantas) mengatur jalan. Sesekali saya teriakan kepada pengendara motor yang hendak melintasi Jl Raya TMII agar berbalik arah.
Memasuki Jl Raya Kalibata, hujan rintik-rintik. Laju Yamaha V-ixion 150 cc bisa dipacu 80 km/jam. Masih terlihat sejumlah pengendara berteduh di halte bus. Rute Jl Gatot Subroto, Jl HR Rasuna Said, Jl Prof Dr Satrio, hingga Jl Semanggi, hujan dah reda. (edo)

Akhirnya, Polisi Razia Konvoy Kampanye

foto: dok.suara pembaruan



CONTRENG SCTV, Minggu (22/3), pukul 11.00 WB, menayangkan razia konvoy kendaraan bermotor roda dua para simpatisan parpol dalam pemilu legislatif. Contreng adalah tayangan berita yang dibuat SCTV saat pemilu legislatif saat ini, disiarkan setiap jam, semacam Breaking News, milik Metro TV.
Motor yang melintas di depan kantor Polsek Temanggung, Jawa Timur (Jatim), digelandang masuk ke kantor itu. Kemudian diperiksa kelengkapan suratnya dan langsung ditilang bagi yang tidak lengkap serta berkonvoy tanpa helm. Akhirnya, ratusan simpatisan Parpol Gerindra yang siang itu berniat kampanye harus berurusan dengan polisi. Sebagian tidak memiliki surat tanda nomor kendaraan (STNK) ataupun surat izin mengemudi (SIM), namun ironisnya, mayoritas tanpa mengenakan helm.
Pada bagian lain tayangan Contreng itu, ratusan massa simpatisan PKNU memprotes penilangan temannya. Polsek Temanggung kewalahan menerima kedatangan massa itu. SCTV tidak menyebutkan apakah pengendara yang ditilang itu akhirnya dilepaskan.
Sementara itu, massa Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang hendak menuju lokasi kampanye di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (22/3), siang, terpaksa berurusan dengan petugas Polres Jakarta Timur (Jaktim) saat melintas di Jl MT Haryono, Jaktim. Sejumlah simpatisan PKB yang berkendara motor tanpa helm dan tidak memiliki SIM ditilang. Sebagian massa yang kedapatan tidak memiliki SIM tidak bisa memberi argumen yang kuat. Sedangkan yang kedapatan tanpa helm mengaku helmnya hilang dicuri orang. ”Kami menilang peserta kampanye yang melanggar aturan lalulintas,” kata AKP Adri Furiyanto, wakasatlantas Polres Jaktim. (ed/sctv)

Sabtu, 21 Maret 2009

Notulensi Rapat Pengurus RSA




Tempat : Jl Casablanca, Jaksel
Hari/Tanggal : Jumat/ 20 Maret 2009
Waktu : 20.00-22.30 WIB
Peserta :
Rio (koordinator)
Eko (wakil koordinator)
Edo (kadiv litbang)
Ridwan (kadiv kegiatan)
Rocky (div kegiatan)
Ditto (kadiv)
Rieza (kadiv humas)
Samsyul (advisor RSA)

=======================================================

1). Pelatihan P4K

RSA selaku penyelenggara dengan menggandeng seorang dokter sebagai pembicara.
Peserta dari kalangan korporasi sebanyak 30 orang sekali kegiatan.
Apabila peserta dari korporasi tidak memadai, RSA akan melibatkan anggota komunitas/kelompok sepeda motor yang bernaung di RSA.
Setiap perusahaan diharapkan mengirim 4 wakil selaku peserta.
Syarat peserta di antaranya meliputi;
Pengendara sepeda motor.
Memiliki persyaratan berkendara SIM dan STNK.
Pria dan wanita.
Wajib mengikuti hingga selesai.
Karyawan perusahaan.
Peserta diundang.

Kegiatan bakal dilaksanakan pada minggu kedua Mei 2008 dengan asumsi Maret dan April mulai mencari sponsor.

Peserta mulai diundang jika pada pertengahan April mulai ada lampu hijau dari calon sponsor untuk mendukung kegiatan ini.

Calon sponsor;
Djarum
Shell
Pizza Hut
Perusahaan kurir

Apabila hingga akhir April tidak ada sponsor yang mendukung, kegiatan akan diundur.

Note: Bentuk kegiatan dan materi P4K selengkapnya bisa dilihat di proposal.


2). Pendataan ulang anggota RSA

Seluruh komunitas atau kelompok sepeda motor diperkenankan menjadi anggota RSA dengan cara mendaftar dalam milis RSA.
Pengurus yang ada saat ini merupakan organ pelayan anggota yang tercatat di milis RSA Indonesia atau FSRJ.


3). SRC CMNP

Terkait tawaran dari PT Citra Marga Nusapala Persada (CMNP) untuk menyelenggarakan SRC, RSA bakal memastikan ulang dengan pihak CMNP mengenai apa saja kebutuhan mereka.
Jadwal ketemu akan dirancang oleh Eko pada Selasa (24/3).
Dalam pertemuan awal itu, harus disiapkan materi soal SR, jadwal kegiatan.
Materi yang ditawarkan kepada CMNP terdiri atas tips untuk berkendara yang aman sehari-hari dan pemeliharaan sepeda motor. Metode presentasi multimedia, dialog, games, dan kuis interaktif.
Mengenai pembiayaan kegiatan tersebut disesuaikan dengan anggaran CMNP.
RSA tidak mengkomersialkan kegiatan SRC tersebut.

4). Laporan kegiatan di Boeaya Motor

RSA hadir atas undangan komunitas tersebut untuk berbagi mengenai safety riding.
Kegiatan tersebut dihadiri anggota Boeaya Motor dan simpatisannya di Pamulang, Tangerang, Sabtu (14/3).
Respons peserta cukup antusias bahkan mencuat gagasan untuk menggelar kopdarling di komunitas tersebut.

5). Kelengkapan divisi RSA

Untuk tambahan divisi litbang diusulkan Benny (Pulsarian).
Untuk tambahan divisi humas diusulkan Ndee Siswandhi (Pulsarian).
Koordinasi dengan calon pengisi divisi tersebut diserahkan kepada kepala divisi masing-masing yakni Edo dan Rieza.
Divisi sekretariat juga butuh backup mengingat Fordy waktunya juga padat.
Lokasi sekretariat untuk alamat surat-menyurat tetap di Kalimalang, sedangkan untuk posko RSA diusulkan di Casablanca.


6). Touring RSA
Sebagai upaya meningkatkan keakraban dan kebersamaan pengurus RSA, diusulkan agar digelar touring pengurus pada Kamis (26/3).
Tujuan touring ke Gn Bunder, Bogor, Jawa Barat.
Selaku PIC bro Edo yang selanjutnya juga merinci rencana kegiatan tersebut.

7). Soal SNI Helm
RSA melihat bahwa regulasi tersebut sebagai bagian upaya pemerintah melindungi warga negaranya dengan mendorong produsen membuat helm yang berkualitas baik sehingga mampu melindungi kepala pemakai helm terlindung dari potensi celaka ketika terjadi benturan.
Tidak ada korelasi aturan yang menyebutkan bahwa pengendara yang tidak memakai helm tanpa SNI akan ditilang oleh aparat polisi.
RSA mensosialisasikan gerakan moral menggunakan helm standar saat berkendara kepada para pengendara sepeda motor.

8). Kerja Sama Artikel SR dengan Motorrev

Bro Edo yang memiliki kesempatan menulis secara reguler mengenai safety riding di majalah Motorrev terinspirasi untuk melibatkan RSA secara lembaga bekerja sama dengan majalah tersebut untuk mengisi rubrik SR.
Untuk itu dijajaki cobranding. RSA mengisi rubrikasi tersebut, maka logo RSA ada di majalah dan sebaliknya logo Motorrev ada di website.
PIC artikel diemban Bro Edo.


Jakarta, 20 Maret 2009

Jumat, 20 Maret 2009

Makin Meruyak, Bermotor Tanpa Helm

JALAN raya kian semrawut. Hari kelima kampanye pemilihan calon legislatif, Jumat (20/3), jalan raya di Jakarta sejak pagi dipadati simpatisan partai politik (parpol). Kian siang dan sore hari kian banyak simpatisan parpol memadati jalan raya.

Maklum, hari ini, giliran dua parpol besar berkampanye yakni Partai Keadilan Sosial (PKS) dan Partai Demokrat. PKS menggelar kampanye di Blok S, Jakarta Selatan. Sedangkan Partai Demokrat memilih Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, sebagai lahan kampanye. Tidak tanggung-tanggung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, hadir di Senayan. PKS mendatangkan Hidayat Nurwahid, ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang juga anggota Dewan Syuro PKS.

Mobilisasi simpatisan kedua parpol itu amat kentara. Para caleg mengerahkan seluruh potensinya. Partai Demokrat mengklaim mengerahkan 130-an ribu simpatisan, sedangkan PKS ribuan massa. Tak heran, di jalan raya seperti Jl Raya Bogor yang menuju Cilitan, lalu Jl Dewi Sartika, Jl Kalibata, Jl Pasar Minggu, Jl Gatot Subroto, Jl Tendean, hingga kawasan Senayan, massa tumpah ruah. Bus dan mikrobus sewaan dipadati penumpang, mobil pribadi, dan ribuan sepeda motor memadati jalan raya.

Ironisnya, masih banyak ditemui simpatisan parpol yang mengendarai sepeda motor tanpa menggunakan helm. Di satu sisi, para polisi lalulintas (polantas) juga mendiamkan saja. Tidak ada pengendara yang ditilang. Pemandangan seperti itu terlihat di perempatan Jl Gatot Subroto dan Jl HR Rasuna Said, Jaksel. Beberapa Polantas hanya memberi isyarat tangan agar pengguna jalan bergerak ketika lampu hijau. Para simpatisan Demokrat terus melaju dengan sepeda motornya. (ed)

Rabu, 18 Maret 2009

Tanpa SNI, Dilarang Jualan

SELURUH helm bagi pengendara sepeda motor yang diproduksi dan diperjualbelikan di Tanah Air, sejak 25 Maret 2009 harus memiliki nomor Standar Nasional Indonesia (SNI). Jika masih ditemukan helm tanpa SNI bakal dimusnahkan atau direekspor.
Pemerintah mengaku, SNI 1811-2007 itu mengacu kepada Japan International Standard dan European Standard.
Acuan normatif SNI Helm 1811-2007, menurut pemerintah, adalah;
BS 6658:1985-Protective Helmet for Motor Cyclists, specification.
EN 960:1994-Headforms for use in the testing of protective helmets
ISO 6487:2000, Road vehicles – Measurements techniques in impact tests-instrumentation
JIS T 8133:2000-protective helmet for dricers and passangers of motor cycle and mopeds.
Rev. 1/add. 21/Rev.4 24September 2002 dari E/ECE/324 dan E/ECE/Trans/505 Regulation No.22, uniform provision concerning the approval of protective helmets and visors for drivers and passangers of motor cycles and mopeds.
Proses pengajuan surat SNI ditaksir butuh 41 hari kerja di luar hari pengujian. Sedangkan untuk lembaga sertifikasi resmi yang ditunjuk pemerintah ada 5 instansi yakni;
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Pusat Standardisasi, Depperin, Jakarta.
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro)-B4T, Bandung.
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Baristand, Medan.
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Jogya Product Assurance-BBKKP, Yogyakarta.
Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Baristand, Surabaya.
Sedangkan laboratorium penguji yang ditunjuk adalah; Balai Besar Bahan dan Barang Teknik (B4T), Bandung.
SNI berlaku hanya bagi helm yang diproduksi sejak diberlakukannya peraturan menteri perindustrian No 40/M-IND/PER/6/2008 yang efektif mulai 25 Maret 2009.
Sekadar informasi, Asosiasi Industri Helm Indonesia dari total produksi helm sekitar 7,5–9 juta unit per tahun, 20-30% produk yang beredar di pasar diduga nonstandar.
Berdasarkan data Depperin, selama ini hanya 7 dari 15 perusahaan helm skala besar yang mengajukan Sertifikat Produk Pengguna Tanda (SPPT) SNI. Ketujuh perusahaan itu antara lain PT Tara Citra Kusuma, PT Danaheti Motor Industry (DMI), dan PT Tara Kusuma Indah (TKI). (ed)

Polisi Bakal Tilang Pelanggar Lalin Saat Kampanye?

SUDAH tiga hari kampanye terbuka digelar. Selama itu pula, konvoy simpatisan parpol berkendara motor seenaknya. Memang tidak semua. Namun, terlihat bagaimana sebagian dari mereka mengacuhkan aturan pemakaian helm. Belum lagi ada yang memasang atribut bendera dengan tiang penyangga dari kayu atau bambu di motor. Atribut itu membuka risiko terjadinya kecelakaan karena bisa jadi mengganggu keseimbangan sang pengendara.
Kampanye pemilu untuk pemilihan DPR, DPRD, dan DPD berlangsung mulai 16 Maret hingga 5 April 2009. Konvoy simpatisan dengan menggunakan sepeda motor tentu bakal lebih marak. Tayangan televisi menyajikan pengendara yang membonceng anak kecil di bagian depan motor. Tanpa helm. Bagaimana sikap polisi? "Kami tidak akan memberikan toleransi. Jika melanggar lalu lintas mereka akan kami tilang," kata Kepala Polres Kediri, AKBP Benjamin di Kediri, Jawa Timur, Senin (16/3).
Ia menilai, pelanggaran lalu lintas tidak dapat diberi toleransi, walaupun memasuki kampanye terbuka. Sehingga, seperti dikutip Antara, pihaknya akan tegas dan tidak memandang sebelah mata para peserta kampanye terbuka.
Semoga sikap kepolisian Kediri diterapkan di seluruh jajaran kepolisian di Tanah Air. Terlebih di Jakarta. (ed)

Selasa, 17 Maret 2009

Utilisasi Industri Motor 58%


Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata, mengatakan, utilisasi industri sepeda motor di Tanah Air pada 2009 ditaksir hanya 58%. "Tahun 2008 kapasitas produksi yang terpakai mencapai 84% dengan total produksi 6,3 juta unit. Tahun 2009 kami perkirakan turun 30-40%," kata Gunadi pada seminar Prospektif Bisnis 2009 di Jakarta, Selasa (17/3). Menurut dia, jika dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai US$ 1.600 per kapita per tahun atau sekitar Rp 1,5 juta per bulan, ternyata sulit bagi masyarakat untuk bisa mengkredit sepeda motor. "Jika dilihat GDP ternyata memang tidak ada sisa lagi uang untuk kredit motor setelah kenaikan harga BBM," ujar Gunadi, seperti dilansir Antara. Ia mengharapkan selain pemerintah memperhatikan stimulus fiskal juga dapat memperhitungkan stimulus moneter. Selain memberikan keringanan pajak dan penanggungan Bea Masuk dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga perlu diperhatikan tingkat suku bunga pinjaman bank. "Pemerintah harus memperhatikan BI Rate dan suku bunga perbankan karena sangat berpengaruh pada daya beli". Ia mengatakan, saat ini Indonesia memiliki 16 unit perakitan sepeda motor, 236 unit industri penunjang, dan 8.005 unit dealer atau bengkel sepeda motor. Dengan jumlah investasi mencapai US$ 7 miliar sektor ini mampu menyerap 308.100 tenaga kerja. Saat ini, Gunadi mengatakan, total kapasitas terpasang industri sepeda motor Indonesia mampu memproduksi 7,5 juta unit kendaraan. Dengan kondisi itu Indonesia menjadi pemain nomor satu di Asean dan nomor tiga di dunia setelah Cina dan India. (ed)

Pasar Motor Turun 15%



Pasar motor nasional sepanjang triwulan pertama 2009 diprediksi menurun 15% menjadi 1.212.601 dibanding periode sama tahun lalu sebanyak 1.426.590 unit. Penurunan penjualan sepeda motor disebabkan masih rendahnya harga komoditas primer dan krisis likuditas di perusahaan pembiayaan.
Belum rebound-nya harga komoditas seperti kelapa sawit dan karet membuat daya beli masyarakat di luar Jawa tak kunjung membaik. Hal ini diperparah dengan tingginya bunga cicilan di kisar 32% per tahun.
Demikian rangkuman pendapat dari Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata dan General Manager Motorcycle Marketing Division PT Astra Honda Motor (AHM) Sigit Kumala di Jakarta, Selasa (17/3).
Gunadi menerangkan, perbankan nasional saat ini lebih cenderung menempatkan dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ketimbang menyalurkan kredit ke pebisnis maupun perusahaan leasing. ”Saya dengar total dana yang diparkir di SBI mencapai Rp 200 triliun. Ini jumlah yang sangat besar. Kalau dikucurkan untuk pembiayaan otomotif dampaknya sangat signifikan,” paparnya.
Hingga Februari 2009, pasar motor tercatat anjlok 16,5% menjadi 782.323 unit dibanding kurun waktu serupa 2008 sebanyak 937.844 unit.
Menurut Gunadi, industri otomotif nasional baik motor maupun mobil membutuhkan dana sekitar Rp 70 triliun untuk menopang pembiayaan. Saat ini sekitar 70-80% pembelian otomotif menggunakan skema kredit dengan bantuan perusahaan leasing. Likuiditas yang mengetat otomatis menekan kinerja penjualan otomotif.
Gunadi yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional Tbk menilai, kebutuhan akan motor sebagai sarana transportasi masih besar. Namun hal ini tidak ditunjang dengan adanya likuiditas di perusahaan leasing akibat seretnya pinjaman dari pihak perbankan. Efeknya, perusahaan leasing memutuskan untuk mencari dana di pasar dengan menerbitkan obligasi.
PT Indomobil Finance, misalnya, menerbitkan obligasi Rp 500 miliar untuk mendukung pembiayaan mobil dan motor. ”Respons pasar cukup bagus,” paparnya. Indomobil Finance adalah anak usaha Indomobil yang bergerak di pembiayaan sepeda motor dan mobil.
Sementara itu, Sigit Kumala menerangkan, rontoknya harga komoditas membuat daya beli masyarakat terpukul. Padahal pada tahun lalu harga kelapa sawit dan karet melonjak tajam sehingga membuat pasar motor bergairah.
Dia mencatat, penurunan penjualan terjadi di sejumlah daerah yang memiliki basis komoditas yang kuat seperti Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan. Selain itu, jelas dia, kondisi perekonomian makro yang masih belum bersahabat ikut menekan laju pertumbuhan pasar.
”Interest rate (bunga kredit) di lembaga keuangan untuk produk motor masih tinggi dikisaran 32% per tahun,” papar dia.
AISI memperkirakan pasar motor bakal mengalami kontraksi 30% pada tahun ini menjadi sekitar 4 juta unit dibanding tahun lalu sebesar 6,2 juta unit. Pasar motor pada 2008 merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah dengan lonjakan pertumbuhan sebesar 32% dibanding 2007 sebanyak 4,7 juta unit. (coy)

Helm Rp 10 Ribu


TERIK matahari tak mengusik Iwan meladeni pembeli. Puluhan helm aneka warna-warni menggelitik mata calon konsumen. Di bagian depan lapak pria usia 30-an tahun itu, terpampang tulisan 'Helm Rp 10.000'. Hemm...murah nih.
Lapak itu digelar di atas pelataran parkir sebuah toko di pinggir Jl Dewi Sartika, Jakarta Timur. Jajaran helm dibanderol beragam, mulai Rp 10 ribu, Rp 12 Ribu, Rp 15 ribu, hingga Rp 40 ribu. Tidak ada kode standar nasional Indonesia (SNI), department of transportation (DOT) apalagi SNELL. "Saya ngambilnya langsung dari pabrik di Tangerang, Banten," tutur Iwan, Selasa (17/3).
Dengan lincah ia meladeni tawar menawar harga helm. Jenis helm yang dibanderol Rp 40 ribu unit bisa ditawar menjadi Rp 31 ribu. "Kalau yang cetok harga pas mas, Rp 10 ribu," katanya.
Ia menjelaskan kepada konsumen bahwa yang jenis cetok tidak aman bagi pengguna helm. Cetok adalah helm yang hanya melindungi separuh kepala dan tidak memiliki pelindung wajah. "Bukannya saya minta dibeli yang mahal, mending beli yang Rp 40 ribu. Bisa untuk jalan ke luar kota," papar pria yang mengaku sudah satu tahun berjualan helm.
Helm cetok yang dijual Iwan selain berbahan mudah pecah, juga tidak memiliki pengait untuk 'meng-klik' agar helm terpasang erat-erat. Untuk memakainya, konsumen harus membuat simpul. Agak repot. "Saya beli helm cetok untuk pembonceng mas," ujar seorang pembeli.
Iwan mengaku mampu menjual sekitar 40-50 unit per hari. "Kebanyakan helm cetok," kata dia. Bagaimana marginnya? "Sekitar Rp 3 ribu hingga Rp 5 ribu per unit," katanya.(ed)

Senin, 16 Maret 2009

Kampanye vs Safety Riding

MULAI hari ini, (Senin, 16/3), jalan-jalan di kota besar Indonesia bakal dipadati konvoy simpatisan partai politik. Ratusan bahkan ribuan pengendara sepeda motor dan mobil, termasuk bus, berseliweran di jalan raya. Maklum, pemilu 2009 diikuti oleh 36 parpol.

Ada aroma arogansi. Makin menyemut konvoy, makin eksis sebuah parpol. Kita tak mempermasalahkan hal itu selama berlangsung damai.

Kampanye terbuka yang melahirkan konvoy itu, juga menyajikan pemandangan mengiris hati. Terdapat peserta konvoy bermotor yang tidak menggunakan helm. Sekalipun menggunakan, bukan helm standar. Pemandangan seperti itu terlihat di Jl KH Mas Mansyur, Jakarta Pusat, Senin siang. Simpatisan salah satu parpol itu, bahkan memasang bendera di bagian belakang motor mereka dengan ukuran yang lebih besar dari sepeda motornya. Ironis.

Pada sisi lain, stasiun televisi menyajikan gambar konvoy simpatisan di Jakarta dan Makassar.

Memang belum dijumpai kasus pelanggaran marka jalan dan aksi terabas lampu merah maupun naik trotoar jalan.

Simpatisan parpol yang mengendarai sepeda motor tanpa helm, bukan saja berpotensi mencelakakan dirinya sendiri. Tapi juga bakal merugikan keluarga mereka. Kecelakaan yang menimbulkan korban luka, apalagi korban jiwa, tentu bakal menyedot biaya tidak sedikit. Pada tingkat yang lebih fatal, sumber pendapatan keluarga bisa hilang sama sekali ketika korban kecelakaan meninggal dunia. Kecelakaan memiskinkan rakyat.

Lantas, dapat apa sang simpatisan dari parpol yang didukungnya? (ed)

Minggu, 15 Maret 2009

Laskar Penambal Ban Jakarta

DENYUT kehidupan kota metropolitan Jakarta tak pernah henti. Jakarta seakan tak pernah tidur. Aktifitas warganya bergerak 24 jam. Sebagian masih mengais sisa rezeki di sektor informal hingga dinihari. Di antaranya adalah para penambal ban.
Jasa tambal ban menjadi solusi bagi pengendara motor yang tertimpa musibah. Jumat (13/3), pukul 00.43 WIB, Pak No, masih meringkuk di atas bangku kayu di bawah atap terpal di sebuah gang, tepi Jl Raya Gatot Subroto. Nyamuk berseliweran mencari mangsa yang bisa dihisap darahnya. Di samping pria kelahiran Pekalongan 80 tahun lalu itu, tertera papan bertuliskan 'tambal ban motor'.
Pak No harus bangun ketika saya menyapanya untuk meminta jasa bapak beranak 9 itu. Sontak pria yang gemar berkelana itu memeriksa bocornya ban belakang Yamaha V-ixion keluaran 2008.
Di bawah temaram lampu pijar, ia mulai mengeluarkan aneka kunci dari kotak butut yang ditaruh di atas aspal. Di sampingnya tersedia ember kecil warna hitam yang berisi air separuh air dan pompa angin tangan.
Gerakan Pak No sudah tak secekatan saat muda. Sesekali kunci di tangannya terjatuh. Selain cahaya yang temaram, pandangan Pak No juga tampaknya kurang awas. Pria yang memasang tarif Rp 8 ribu untuk sekali menambal itu, akhirnya tak kuasa meminta bantuanku untuk memasang ban. Belum usai sampai di situ, ia pun meminta bantuan untuk memompa ban. Duh, Pak No, untung saja ketemu pelanggan sabar.
Hampir sekitar 40 menit, rampung juga penggantian ban dalam. Ia mematok Rp 35 ribu untuk ban dalam merek Yokomato, yang belakangan ketahuan merek ban dalam kurang bermutu.
Perlahan meninggalkan tempat praktik tambal ban milik Pak No yang diapit Hotel Crowne Plaza dan Plaza Semanggi, Jakarta Pusat. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 00.31 WIB.
Belum lagi setengah jam, ketika memasuki kawasan Cijantung, Jakarta Timur, ban belakang yang baru diganti, kempes lagi. Sempat menggerutu dalam hati. Sekitar 3 menit, akhirnya menemui tambal ban. Kali ini tampaknya lebih profesional. Ada kompresor dan alat tambal ban yang dibuat dari bekas setrika listrik. Benar saja, pria berlogat Sumatera Utara yang saya taksir berusia 40-an, dengan cekatan memeriksa ban dalam V-ixion merah. Ia menemukan satu paku menancap di ban belakang. Paku yang tidak ditemui oleh Pak No. Kurang dari 15 menit, proses menambal dituntaskan oleh pria pemilik tambal ban di sisi Jl Raya Bogor dekat Cijantung itu. Dua uang pecahan lima ribu rupiah dikembalikan empat ribu rupiah. Wah lebih murah nih, gumam dalam hati.
Usai mengucapkan terimakasih. Langsung saja tancap gas menuju rumah. Jarum jam 01.15 WIB saat tiba di depan rumah. (ed)

Selamat Ulang Tahun Boeaya Motor

foto:dok rio


BOEAYA Motor. Sekilas mencerminkan kumpulan pengguna motor yang garang. Karena boeya atau buaya, adalah tergolong hewan yang ganas. Pemakan daging.

Ternyata persepsi itu keliru. Komunitas sepeda motor yang dirikan pada 4 Maret 2005 itu, justru memiliki kepedulian yang tinggi kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan lewat kegiatan sosial. Mereka memiliki tujuan menjaga perdamaian antar manusia dan lingkungan. Mulia.

Terkait hal itu, dalam mensyukuri ulang tahun ke-4 yang digelar pada 14-15 Maret 2009 di Pamulang Square, Kabupaten Tangerang, Banten, Boeaya Motor (BM), menggelar beberapa program sosial.

Menurut Ketua Panitia Acara Ultah BM dan Launching BISOF, Kastoebi Jr, mereka menggelar donor darah, menggalang pengumpulan buku-buku cerita anak, serta pakaian bekas layak pakai dan pakaian baru. “Kami juga akan meluncurkan (launching) Bikers Social Forum (Bisof),” tutur Kastoebi.

Forum tersebut, jelas dia, dibentuk oleh tiga komunitas di Jakarta Selatan yaitu Bintaro Tigers Club (Bintic), Big Shafa Riders Community (BSRC), dan BM.

Pria yang juga ketua umum BM itu, menjelaskan, ide Bisof mencuat ketika mereka menggalang bantuan kemanusiaan bagi korban kebakaran di Kamal Muara, Jakarta Utara pada 2008. Saat itu, ada tujuh kelompok sepeda motor. Mereka menggalang pengobatan gratis untuk 300 jiwa, menghimpun 1.200 buku tulis anak, dan ribuan alat tulis sekolah yang disumbangkan ke Sekolah Kamal Muara yakni sekolah swadaya dari masyarakat setempat untuk tingkat TK dan play group. Namun, dari tujuh kelompok tadi, mengerucut menjadi hanya tiga kelompok sepeda motor.

Selain itu, BM yang mengesahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) di Gunung Bunder, Bogor, pada 12-13 Mei 2007 itu, menggelar diskusi mengenai berkendara motor yang aman dan selamat (safety riding). “Acaranya kami gelar di Lt.2 Indoor food court Pamulang Square,” tutur Kastoebi.

Acara yang dimulai pukul 10.30 hingga 11.30 WIB itu, diikuti anggota BM dan beberapa bikers lainnya.

“Diskusi berjalan dengan sangat kooperatif dan sangat aktif, kamipun terlena dengan suasana tersebut, jarang ada klub yang sedemikian tertarik dengan masalah peraturan dan attitude berkendara,” ujar Rio Octaviano, koordinator Road Safety Association (RSA) selaku narasumber dalam diskusi yang digelar Sabtu (14/3).

Menurut Rio, seperti dikutip dari http://digitalmbul.com, diskusi diisi dengan sharing mengenai safety riding yang didominasi oleh sosialisasi peraturan dan attitude berkendara.

BM yang mengambil filosofi buaya sebagai hewan setia dan mampu beradaptasi di dua alam itu, tampaknya tetap solid dalam menekuni safety riding dan kegiatan sosial. Selamat ulang tahun bro. (ed)

Kamis, 12 Maret 2009

SNI Wajib Helm Berlaku Akhir Maret


JAKARTA—Regulasi wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk helm kendaraan bermotor roda dua akan berlaku efektif mulai 25 Maret 2009. Aturan tersebut ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 40/M-IND/Per/6/2008 tentang Pemberlakuan SNI Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua Secara Wajib.

Dalam peraturan tersebut, seluruh helm yang diperdagangkan di dalam negeri harus diproduksi sesuai dengan ketentuan SNI. Jika tidak, produk helm nonstandar baik dari dalam maupun luar negeri akan dimusnahkan atau direekspor.

Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris menerangkan, produsen helm domestik wajib mengikuti ketentuan tersebut. Departemen Perindustrian akan mensosialisasikan aturan tersebut. “Jika produsen helm mengabaikannya, bisa terkena sanksi administratif ataupun pencabutan izin usaha,” paparnya di Jakarta, Kamis (12/3).

Menurut dia, pemberlakuan SNI wajib untuk produk helm itu bertujuan untuk untuk melindungi masyarakat dari aspek keamanan dan keselamatan. Peraturan itu berlaku untuk helm pengendara motor roda dua (SNI 1811-2007) dengan pos tarif HS No. 6506.10.10.00.

“Dengan dikeluarkannya peraturan itu, semua produk helm motor roda dua wajib memenuhi ketentuan SNI yang ditandai oleh pencantuman tanda berupa embos,” kata Fahmi.

Aturan tersebut, lanjut dia, tidak hanya berlaku bagi para produsen besar, tapi juga berlaku bagi industri helm skala kecil dan menengah. Bagi produsen dalam negeri yang belum melaksanakan SNI, pemerintah akan melakukan pembinaan dan diberi waktu untuk segera mengajukan Sertifikat Produk Pengguna Tanda (SPPT) SNI.

“Jika tetap tidak patuh, produsen akan terkena sanksi administratif berupa pencabutan izin usaha. Jika masih beroperasi, aktivitas produksi mereka bisa dianggap ilegal,” tegasnya.

Data Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI) menunjukkan, dari total produksi helm sekitar 7,5–9 juta unit per tahun, 20-30% produk yang beredar di pasar diduga nonstandar. Ketua Umum AIHI John Manaf menerangkan, produsen lokal saat ini kesulitan bersaing dengan barang-barang impor dari Tiongkok. “Produk impor cenderung banting harga hingga 35%,” katanya.

8 Perusahaan Terancam

Berdasarkan data Depperin, selama ini hanya 7 dari 15 perusahaan helm skala besar yang mengajukan SPPT SNI. Ketujuh perusahaan itu antara lain PT Tara Citra Kusuma, PT Danaheti Motor Industry (DMI), hingga PT Tara Kusuma Indah (TKI). “Itu berarti, 8 perusahaan lainnya perlu segera mendaftarkan SPPT SNI, jika tidak ingin diberi sanksi,” ujar Direktur Industri Kimia Hilir Depperin Tony Tanduk.

Menurut dia, pemerintah masih memberikan toleransi waktu dua bulan agar produsen segera mengikuti aturan wajib SNI. “SNI wajib yang dikeluarkan pemerintah mengacu pada Japan International Standard dan European Standard,” katanya.

John Manaf menambahkan, pada kuartal IV 2008 produksi helm nasional menurun seiring dengan pelemahan pasar motor domestik. Dengan demikian, produksi helm nasional pada tahun lalu hanya mencapai 7,2 juta unit atau menurun 20% dari sekitar 9 juta unit pada 2007.

Selain penurunan penjualan di pasar domestik, Direktur PT Tara Citra Kusuma Hendry Tejakusuma menjelaskan, ekspor produk helm perseroan ke Amerika Serikat, Jerman, Italia dan negara-negara di kawasan Uni Eropa lainnya diprediksi menyusut 10% dari 500.000 unit menjadi 450.000 unit pada tahun ini. “Pasar motor di negeri-negeri itu juga merosot sehingga permintaan helm melemah,” paparnya.(dry)

Rabu, 11 Maret 2009

Depperin kaji pajak kendaraan

KABAR bakal melemahnya penjualan otomotif pada 2009 direspons agresif oleh departemen perindustrian (depperin). Lembaga perpanjangan tangan pemerintah itu dikabarkan sedang menggodok penurunan nilai jual kendaraan bermotor (NJKB) dari 10% menjadi 5%. NJKB itu berlaku untuk kendaraan roda empat dan kendaraan roda dua.

Sebagaimana diberitakan, volume penjualan mobil pada 2009 bakal melemah sekitar 30% dibandingkan 2008 yakni menjadi sekitar 400-an ribu unit. Demikian pula dengan penjualan sepeda motor yang ditaksir bakal menurun dari 6,2 juta unit pada 2008 menjadi sekitar 4,5 juta unit pada tahun ini.

Menurut Direktur Alat Transportasi Darat dan Kedirgantaraan Ditjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin Panggah Susanto, penurunan NJKB ini merupakan salah satu upaya mencari solusi dalam menghadapi permintaan pasar otomotif yang melemah. "Untuk menstimulasi pasar dicarikan jalan. Salah satunya pajak yang
bisa turun diupayakan diturunkan," katanya, seperti dikutip Bisnis Indonesia, Rabu (11/3).
Dia mengungkapkan penurunan NJKB ini dikaji untuk diterapkan hanya pada kendaraan baru. Dengan demikian, lanjutnya, jika kebijakan ini ditetapkan, masyarakat akan mengeluarkan jumlah uang yang lebih sedikit saat membeli mobil atau motor baru.
NJKB merupakan dasar perhitungan pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaran bermotor (BBN-KB). Sayangnya, pemerintah belum memutuskan besaran persentase penurunan NJKB. (edo)

Ribuan Pengendara Motor Ditilang

MASIH saja terjadi perilaku ugal-ugalan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain di jalan raya Jakarta. Polda Metro Jaya pun tak tinggal diam. Operasi Patuh Jaya digelar mulai Minggu (8/3). Sepanjang tiga hari operasi tersebut, 1.882 pengendara sepeda motor kena tilang. Jenis pelanggaran terbesar adalah melawan arus lalu lintas dan melanggar marka jalan. Melawan arus merupakan perilaku yang bisa membahayakan pengguna jalan lainnya. Umumnya, dalih melawan arus adalah untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh.
Secara keseluruhan dalam tiga hari Operasi Patuh Jaya, polisi menilang 3.485 pengguna jalan.
”Selain itu, ada 1.325 kendaraan angkutan umum yang ditilang. Kami menyita SIM (surat izin mengemudi) sebanyak 1.373 lembar dan 2.060 lembar STNK (surat tanda nomor kendaraan). Jumlah sepeda motor yang ditahan 42 unit dan angkutan umum sepuluh unit,” kata Kepala Subdirektorat Pendidikan dan Rekayasa Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Kanton Pinem, seperti dikutip Kompas, Rabu (12/3).
Perilaku ugal-ugalan tidak hanya milik pengendara sepeda motor. Tak sedikit mobil pribadi dan angkutan umum yang masuk ke jalur busway. Tidak cukup di situ, bahkan ketika tersendat di jalur busway, mereka memotong separator masuk ke jalur arteri. Memalukan.
Dalam operasi kali ini, Polda Metro Jaya juga memasang banyak spanduk imbauan agar pengguna jalan berperilaku tertib dan berdisiplin. Di antara spanduk yang dipasang di berbagai perempatan jalan itu, tertera imbauan agar menggunakan helm standar.(edo)

Selasa, 10 Maret 2009

Lawan Arus, Hajar Trotoar


JALAN raya jadi belantara tak bertuan. Sepanjang Selasa (10/3) sekitar pukul 09.30 WIB, jalan di sekitar TMII Jakarta Timur menuju Kramat Jati, Jakarta Timur, persisnya di kawasan depan Tamini Square, mirip sirkuit. Di tengah antrean panjang kendaraan, pagi itu sejumlah pengendara sepeda motor berperilaku ‘anarkis’. Mereka melawan arus, mengambil jalur dari arah berlawanan hanya demi memangkas antrean.

Pagi itu, kendaraan para urban yang hendak berangkat kerja ke pusat kota Jakarta, baik yang hendak masuk ke jalan tol maupun melewati jalan arteri, Jl Raya Bogor menuju Cililitan, bergerak tersendat-sendat. Pemandangan demikian merupakan rutinitas. Namun, ulah melawan arus kendaraan yang sudah dipisah oleh separator menjadi suatu pemandangan memilukan. Apakah sudah demikian parah mentalitas pengendara sepeda motor di Jakarta?

Ya. Memang sudah kronis mentalitas mencari jalan pintas. Pasalnya, pemandangan selanjutnya adalah puluhan sepeda motor yang melabrak garis putih dan zebra cross di perempatan lampu merah. Kondisi kian semrawut, ketika gerombolan sepeda motor yang sudah melabrak marka jalan itu, bergegas menerabas lampu merah. Belum juga traffic light berwarna hijau, gerombolan tadi langsung tancap gas.

Jelang perempatan Pasar Hek yang mempertemukan dengan Jl Raya Bogor arah ke Kramat Jati, aksi labrak garis putih dan zebra cross terulang lagi. Bahkan, varian pelanggaran lalulintas bertambah. Kali ini, sejumlah pengendara sepeda motor dengan gagah berani naik ke trotoar. Mereka bak pahlawan kesiangan menyelinap di atas trotoar, memangkas waktu. Luar biasa. Budaya tak tahu malu dipertontonkan dengan gamblang. Padahal, tertib di jalan raya mencerminkan budaya disiplin suatu masyarakat. Ironisnya, semua terjadi di tengah upaya Kepolisian Daerah Metro Jaya (Polda Metro Jaya) menggelar Operasi Patuh 2009.

Kemanakah nurani pengendara sepeda motor yang melanggar aturan lalu lintas itu? Adakah terlintas di benak mereka bahwa pelanggaran itu berpotensi mencelakakan diri sendiri dan orang lain? (edo)

Persaingan City Sport Kian Ketat


Perebutan penguasaan pangsa pasar sepeda motor segmen sport perkotaan (city sport) pada 2009 kian ketat. Para agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor memperkuat jurus meminang calon konsumen.

Selain itu, para ATPM, khususnya asal Jepang, berlomba-lomba meningkatkan volume penjualan.

"Kami berkeinginan mencapai pangsa pasar 48-50% dari total pasar untuk segmen CS 1," tutur General Manager Marketing Motorcycle Division PT Astra Honda Motor (AHM) Sigit Kumala, kepada Investor Daily, di Jakarta, Selasa (10/3).

Ia menambahkan, hingga kini, PT AHM telah menjual 88 ribu unit Honda CS1.

Guna merangkul calon konsumen, PT AHM melontarkan jurus menjemput bola mendatangi perusahaan yang memiliki segmen sesuai dengan CS1 yakni para profesional di perkotaan. Program yang diberi label Konvoy Seru, Lunch Bareng Sambil Jajal Kehebatan Honda CS 1 tersebut bakal digelar di tiga kota besar yakni Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Sebagai pembuka, program dimulai Selasa, menggandeng komunitas pengguna CS1 dan karyawan PT Indosat Tbk. "Kami diajak Astra Honda Motor untuk menularkan pengalaman seputar mengendarai CS1," papar Rizal, ketua pelaksana harian Honda City Sport Team (HCST), di Jakarta. HCST yang memiliki sekitar 1.200 anggota digandeng AHM untuk mendongkrak citra motor berkapasitas 125 cc itu.

"AHM menawarkan ke komunitas motor di kantor-kantor untuk menjajal CS1, kemudian ditutup dengan makan siang," ujar Judhy Goutama, senior manager Promotion & Network Development Department Marketing & Product Development Division PT AHM.

Menurut dia, HCST memiliki pengetahuan yang bisa dibagikan kepada calon konsumen. "Terpenting adalah pencitraan mengenai motor ini," kilah Judhy, ketika disinggung soal keterkaitan program dengan target mendongkrak penjualan.


Tiga Varian

Segmen sport perkotaan saat ini diramaikan oleh beberapa varian di antaranya adalah Honda CS1, Kawasaki Athlete, dan Suzuki Satria.

Pada 2008, dari total 166.293 unit penjualan city sport, Honda CS1 yang baru diluncurkan April 2008, menguasai 52,2% pangsa pasar. Pemimpin pasar sebelumnya, yakni Suzuki Satria menguasai 43,6% dan Kawasaki Athlete menguasai 4,2%. (lihat tabel)

Konsumen di level ini umumnya membeli sepeda motor atas pertimbangan kualitas dan gaya hidup. Karena itu, proses pembelian umumnya didahului dengan membandingkan kualitas tiap produk.

Hampir semua ATPM optimistis volume penjualan mereka dapat bertumbuh. "Pada 2009 target kami sekitar 40 ribuan, sedangkan 2008 sekitar 30 ribuan," ujar Manajer Pemasaran dan Pengembangan Riset PT Kawasaki Motor Indonesia Freddyanto Basuki, saat dihubungi Selasa. Sedangkan untuk Kawasaki Athlete, pada 2008 terjual sebanyak 6.891 unit. Produk ini merupakan pemain nomor buncit dalam segmen sport perkotaan karena baru diluncurkan Mei 2008.

Dari segi harga, tiga varian segmen sport perkotaan cukup bersaing. Kawasaki Athlete dibanderol Rp 14 juta, sedangkan Honda CS1 dibanderol sekitar Rp 17 juta, dan Suzuki Satria sekitar Rp 17 juta. (ed)

Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian