Info : Silahkan klik di SINI untuk membaca artikel versi wordpress dari Edo Rusyanto

Jumat, 31 Juli 2009

Tips Konvoy Saat Mudik



foto: http://ddhewitte.blogsome.com

Mudik Lebaran membutuhkan persiapan matang bagi para pengendara sepeda motor (bikers). Maklum jarak yang bakal ditempuh puluhan hingga ratusan kilometer (km). Artinya, waktu tempuh bisa mencapai dua hingga belasan jam. Karena itu, butuh fisik dan kendaraan yang prima.
Lebaran Idul Fitri tahun ini jatuh pada 21 September 2009. Dengan jangka waktu yang sekitar 52 hari lagi, para pemudik yang menggunakan sepeda motor bisa lebih mempersiapkan diri lagi.
Merujuk pada pengalaman, beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi; Pertama, pastikan kondisi fisik dalam keadaan sehat. Kedua, servis motor Anda. Hal itu agar memastikan kondisi mesin, ban, rem, hingga komponen dalam kondisi bagus. Ketiga, jangan mengangkut lebih dari dua orang. Terlebih membawa balita. Risiko kecelakaan kian terbuka karena konsentrasi pengendara menjadi terganggu. Keempat, pastikan beban bawaan tidak melebihi bobot sepeda motor. Untuk itu, gunakan jasa pengiriman barang untuk mengirim barang ke kampung halaman. Kelima, bagi peserta konvoy, upayakan dibagi dalam beberapa kelompok, maksimal 10 motor dalam satu kelompok. Keenam, gunakan simbol untuk menandai anggota kelompok yang sama, misalnya berupa pita di lengan. Ketujuh, bagi pemudik yang bergerak malam hari, gunakan jaket atau atribut yang memantulkan cahaya sehingga bisa dilihat oleh pengendara lain. Ketujuh, gunakan alat perlindungan diri (APD) helm, jaket, sepatu, sarung tangan, dan persiapkan jas hujan. Kedelapan, tentukan rute yang akan dilintasi. Seluruh anggota konvoy harus memahami rute tersebut. Kesembilan, tentukan lokasi kumpul (tikum) atau perhentian untuk istirahat atau mengisi bahan bakar. Kesepuluh, bawalah perlengkapan ban dalam, tali kopling, dan P3K serta mencatat no telepon penting darurat seperti no polisi dan rumah sakit.
Kesebelas, untuk perjalanan yang membutuhkan waktu tempuh lebih dari empat jam, beristirahatlah setiap dua jam perjalanan. (edo rusyanto)

Bikers Waspada El Nino


foto:edo
MUSIM panas yang berkepanjangan bakal menambah dehidrasi bagi pengendara sepeda motor (bikers). Terlebih, pada Juli-September biasanya terjadi gejala iklim kering alias El Nino dimana dampak yang terlihat di Indonesia umumnya kemarau kering.
"Kita khawatir karena nantinya akan ada masa kemarau yang panjang, jadi kita harus siap siaga. Masyarakat harus bisa menjaga pola makan dan istirahat yang cukup," ujar Kadinkes Jabar Alma Lucyati, seperti dilansir detikbandung.com, beberapa waktu lalu.

Rasa panas bakal lebih menyengat karena tebalnya jaket, sarung tangan, masker, dan helm. Tenggorokan yang kering, silaunya matahari, dan pekatnya debu menambah sumpek saat berkendara. Tak heran jika emosi mudah tersulut yang berujung kepada perilaku ugal-ugalan saat berkendara.
Kondisi seperti itu menjadi ujian untuk para bikers. Terlebih mereka yang tinggal dan beraktifitas di kota megapolitan Jakarta dan sekitarnya. Termasuk para bikers yang tinggal di kota besar dengan kondisi lalu lintas yang macet seperti Bandung, Surabaya, Medan, dan Makassar.

Apa yang perlu diperhatikan oleh para bikers? Pertama, kondisi kendaraan, misalnya ban. Harus rajin memeriksa tekanan angin. Kedua, tetaplah memakai alat pelindung diri (APD) seperti jaket, helm, sepatu, sarung tangan, masker, pelindung lutut, dan pelindung siku. Upayakan jaket yang mudah menyerap keringat. Masker menjadi penting untuk menahan debu terlalu banyak dihisap oleh paru-paru kita. Ketiga, mengisi bahan bakar pada malam hari, mengingat di siang hari penguapan kian tinggi di tengah teriknya matahari.
Keempat, siapkan obat tetes mata untuk mengurangi iritasi akibat terik matahari. Kelima, bawalah air minum secukupnya dan vitamin c agar tubuh tetap bugar. Keenam, tingkatkan kesabaran agar konsentrasi berkendara tetap terjaga.
Cuaca panas dan angin yang berhembus kencang membutuhkan stamina yang prima. (edo rusyanto)

Selasa, 28 Juli 2009

Sudah 96 Tewas Akibat Kecelakaan


foto:istimewa

KORBAN kecelakaan terus berjatuhan. Januari hingga 28 Juli 2009, tercatat 96 korban tewas di jalan raya. Sebanyak 50 korban tersebut dari kalangan bikers. Sekali lagi, itu baru yang tercatat.
Mereka yang menderita luka ringan, luka berat, hingga cacat tetap jumlahnya lebih banyak lagi, 312 orang.
Data di atas baru catatan kecelakaan yang terjadi di kawasan jalan Jakarta. Korban tewas lebih banyak dibandingkan korban flu babi. Mengerikan.
Pemicu kecelakaan beragam. Mulai dari pengendara yang mengantuk, kelelahan, tidak konsentrasi, kondisi infrastruktur jalan yang buruk, hingga perilaku pengendara yang ugal-ugalan.
Tahun lalu, 18 ribu orang menderita akibat kecelakaan di jalan raya. Tahun ini, Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafi'i Djamal, pada 23 Juni 2009, memprediksi, bisa naik menjadi 19 ribu orang. Walahhh...kok malah bertambah yah? Apakah karena jumlah kendaraan yang terus bertambah?
Apa yang bisa kita lakukan? Para penggiat keselamatan berkendara yang aman dan selamat bagi sepeda motor (safety riding) menyerukan peningkatan disiplin berkendara. Patuhi aturan lalu lintas dan menekan emosi agar berperilaku berkendara yang santun dan bersahabat. Pak Polisi juga menyerukan pentingnya kesadaran masyarakat agar taat pada rambu dan marka jalan. Para aparat pemerintah beramai-ramai meneriakkan slogan, masalah kecelakaan adalah tanggungjawab bersama. Semua unsur masyarakat harus peduli atas keamanan dan keselamatan berkendara.
Apa artinya itu semua? UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan bahkan memuat puluhan ancaman sanksi pidana dan denda bagi para pelanggar lalu lintas. Terlebih bagi pemicu kecelakaan lalu lintas. Sanksi denda terrendah Rp 100 ribu, sedangkan tertinggi Rp 12 juta. Bagaimana sanksi kurungan? Sedikitnya bagi pelaku pelanggaran ringan dikurung satu bulan, lalu bagi mereka yang memicu kecelakaan hingga menimbulkan korban jiwa diancam kurungan enam tahun. Masih nekat ugal-ugalan di jalan? (edo rusyanto)

Jalan Ditutup Demi Kepentingan Umum?


foto:edo

TADI malam di kawasan Jl Raya Ps Minggu arus tersendat. Para pengguna jalan, mulai dari kendaraan pribadi dan angkutan umum harus bersabar. Kecepatan tak lebih dari 10 kpj. Ternyata.....jalan yang memiliki dua lajur dan dipisah oleh median jalan, lajur kanan arah ke Ps Minggu dipakai untuk parkir ratusan motor dan menjadi tempat duduk lesehan masyarakat.
Pada kesempatan lain, ruas jalan di kawasan Gn Bunder, Bogor, tertutup oleh tumpah ruah ratusan manusia dan gerobak dagang. Di sisi jalan berdiri panggung hiburan dengan lengkingan dan liukan artis menyanyikan lagu irama dangdut. Tak sedikit yang ikut bergoyang. Sudah barang tentu, pengguna jalan harus tersendat. Bersabar, jangan sampai menyenggol kerumunan yang menyemut memakan ruas jalan.
Dalam kedua contoh di atas, kemana petugas keamanan yang mengatur lalu lintas? Dari yang saya lihat, mereka memang ada. Bertugas mengatur dengan segenap daya upaya. Namun, tetap saja tak mampu mengurai kemacetan yang luar biasa. Hemmm....
Kita memang harus memiliki rasa toleransi yang tinggi di antara sesama anggota masyarakat. Toleransi juga harus tumbuh di kalangan pengguna jalan. Namun, pertanyaan mencuat manakala mengintip UU No 38 tahun 2004 tentang Jalan, khususnya pasal 12. pada pasal tersebut tertulis; (1) Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang manfaat jalan. (2) Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang milik jalan. (3) Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi jalan di dalam ruang pengawasan jalan.
Kita tahu, UU itu menegaskan bahwa penyelenggaraan jalan ada ditangan Negara. Perizinan pemanfaatan ruang jalan tentu dari instansi yang ditunjuk Pemerintah. Semoga para pemberi izin mensinkronkan antara semua kepentingan masyarakat. Bagi para petugas keamanan, terutama polisi lalu lintas, agar kian bijaksana sehingga mampu mengurai ketersendatan tidak terlalu parah. (edo rusyanto)

Senin, 27 Juli 2009

Motor Premium Diburu Konsumen


foto: Minevers Coffeeshop

MOTOR premium dengan harga di atas Rp 40 juta menjadi buruan penggila motor nasional. Beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor yang memasarkan motor premium kebanjiran order.
PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) ATPM motor Suzuki sukses menjual 71 unit motor premium hingga Juni tahun ini. Angka ini telah melewati torehan penjualan pada tahun lalu sebesar 29 unit.
PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI), ATPM Kawasaki, sukses menjual 5.616 unit Ninja 250R yang dilepas di harga Rp 46,5 juta. Sukses memasarkan Nina 250, Kawasaki termotivasi untuk merakit dua varian moge lainnya, yakni Ninja 650-R dan ER6-R.
Manager Marketing Promotion & Dealer Development SIM Edi Darmawan menyatakan, segmen motor premium sangat terbatas. Meski pasarnya kecil, Suzuki terus berkomitmen untuk terus melepas produk-produk unggulan bagi konsumen. Saat ini Suzuki memasarkan 11 tipe motor premium di antaranya GSX1300R, GSX-R600, GSX1300BK, GSR600, Bandit, Burgman 650, Gemma, DR-Z400S, B-King, JR80, dan LT-Z50.
“Secara total sekitar 10-20 unit per bulannya, penjualan masih didominasi oleh produk GSX-600 (Rp 240 juta) sebagai produk impor terlaris. Mungkin banyak yang bercita-cita menjadi pembalap," paparnya di Jakarta, baru-baru ini.
Pihak SIM berharap kehadiran motor premium dapat mengangkat citra Suzuki di pasar motor Indonesia. Pihak SIM menjamin ketersediaan suku cadang dan layanan purna jual untuk bersaing dengan kalangan importer umum yang juga memasarkan motor impor Suzuki.

Rakit Moge
Sementara itu, KMI berencana merakit Ninja 650-R dan ER6-R pada 2010. Ninja 650 adalah motor gede (moge) dengan fairing, sedangkan ER6 adalah moge telanjang (naked bike)
Manager Marketing & Research Development KMI Freddyanto Basuki mengatakan, KMI kini melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk merealisasikan ini rencana ini. KMI memperkirakan dana untuk merakit moge ini sekitar Rp 2-3 miliar dengan kapasitas 100 unit per tahun.
Dia menuturkan, harga dua moge ini sekitar Rp 130 jutaan jika diimpor dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) dari Thailand. Harga, kata dia, dapat dipangkas menjadi Rp 100 juta jika dapat dirakit di Indonesia. ”Bayangkan saja, motor berkapasitas mesin 650 cc dijual dengan harga segitu, pasti akan bagus permintaannya," tukasnya.
Selain dua ATPM motor Jepang ini, PT Minerva Motor Indonesia (MMI), ATPM Minerva, juga mereguk berkah dari kecenderungan konsumen memburu motor dengan kapasitas mesin di atas 200 cc. Di pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2009, MMI mengandalkan Megelli 250R dan 250M untuk mendulang penjualan.
“Kalau PRJ lalu, kami mampu menjual 1.600 unit, ini diluar espektasi kami yang hanya menargetkan 1.000 unit. Tapi kalau untuk IIMS, kami menargetkan 500 unit lah dalam 10 hari pameran,” papar Sales and Marketing Divisi Head MMI Kristianus J Sarumaha.
MMI melepas Megelli 250M dan 250R masing-masing Rp 26,9 juta dan Rp 28,9 juta. (coy)

sumber; Investor Daily

Perlukah Menghidupkan Sirene?



SATU bulan belakangan ini saya masih menemui konvoy sepeda motor sipil yang menghidupkan sirene. Jenis sepeda motornya beragam. Mulai dari motor kecil, skutik, sport, hingga motor berkapasitas mesin 400 cc ke atas.
Selintas saya perhatikan itu adalah iring-iringan yang bergegas hendak menuju lokasi wisata alias touring atau hendak kembali ke Jakarta usai touring. Kenapa mereka masih menghidupkan sirene? Adakah urgensinya sehingga ’mengganggu’ pengguna jalan yang lain?
Seorang teman berseloroh bahwa mereka menghidupkan sirene sebagai isyarat untuk memberi jalan bagi konvoy mereka. ”Supaya iring-iringan tidak putus dan membuat macet jalan raya,” ujarnya.
Pikiran saya mengembara. Kalau tidak ingin terputus iring-iringannya kenapa tidak diperkecil jumlah peserta konvoy. Membaginya dalam beberapa kelompok.
Setahu saya sirene dibunyikan merujuk pada kondisi yang mendesak. Situasi yang membutuhkan perhatian serius. Bukan untuk bersenang-senang saat menuju lokasi touring. Atau usai bersenang saat mau pulang touring ke kota asal.
Setiap pengguna jalan memiliki hak yang sama. Punya kewajiban yang sama, mentaati aturan lalu lintas. UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dengan tegas menyatakan, sirene digunakan untuk petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, angkutan tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadaman kebakaran, ambulans, unit palang merah dan angkutan jenazah. Mengingat UU tersebut belum memiliki peraturan pemerintah (PP), saya membuka PP No 44 tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi. PP ini pengejawantahan UU LLAJ tahun 1993 yang digantikan oleh UU No 22/2009. Pada PP 44/1993, pasal 75 tertulis bahwa peringatan bunyi berupa sirene hanya boleh dipasang pada kendaraan bermotor milik petugas penegak hukum tertentu, dinas pemadam kebakaran, penanggulangan bencana, kendaraan ambulance, unit palang merah, dan mobil jenazah.
Sirene yang dinyalakan konvoy kelompok sepeda motor terasa berlebihan? (edo rusyanto)

Minggu, 26 Juli 2009

Saat Sang Kobra YVAJ Dideklarasikan



MATAHARI dah tenggelam. Sisa hujan di atas aspal membekas digilas roda-roda. Kawasan Lenteng Agung mulai padat kendaraan. Tiga belas konvoy Yamaha Vixion Adventure Jakarta (YVAJ) membelah rute Lenteng Agung-Depok-Sawangan-Gn Bunder, Bogor.
Sabtu (25/7), udara terasa lembab saat jam menunjukkan pukul 19.15 WIB. Konvoy YVAJ melenggang nyaris tanpa hambatan. Jarak tempuh hampir 67 kilometer (km) dilahap dalam waktu sekitar 150 menit saat kaki menjejak di area Pondok Nikki, Gn Bunder, Bogor. Itupun sempat istirahat sekitar satu jam untuk isi perut di di Cikampak, jalan jelang ke arah Gn Bunder.
Rasa lelah sirna dibalut rasa syukur bisa tiba dengan selamat. Maklum, perjalanan dengan motor sport 150 cc sempat diwarnai kecepatan tinggi, terlebih ketika melintas Jl Sawangan yang memang cukup mulus. Kecepatan rata-rata 80/kpj di wilayah tersebut.
Pondok Nikki terbagi atas dua unit rumah. Tempat kami bermalam terletak di bagian depan dengan halaman rumput yang bisa menampung sekitar 30 unit sepeda motor. Tersedia satu kamar tidur dengan alas matras, serta dapur untuk memasak air minum atau pangangan lain. Di bagian depan rumah terdapat ’saung’ beralaskan anyaman bambu. Cukup asri.
Saat istirahat melepas penat usai perjalanan, sekitar pukul 23.00 WIB tiba tiga orang perwakilan Mio Club Depok (MCD) mereka adalah Henry, Yudi, dan sang lady biker Achie.
Bro Akbar, selaku senior YVAJ membuka forum perkenalan. Maklum seluruh yang hadir malam itu belum sepenuhnya saling kenal. ”Kita ingin menjalin tali persaudaraan,” ujar Akbar. Sontak ditimpali bro Indra dari Yamaha Vixion Club (YVC) Purwakarta dengan anggukan. ”Saya senang bisa hadir di acara Deklarasi YVAJ dan suka dengan visi komunitas ini terutama terkait dengan adventure,” seloroh Indra.
Perkenalan singkat membuat suasana lebih cair. Bro Wibie, sang ketua YVAJ mengucapkan terimakasih atas kehadiran teman dari klub. Ia juga menyinggung soal simbol YVAJ yang memilih ular kobra. ”Ular kobra memiliki makna meski kecil cukup berbahaya dan kuat. Artinya, YVAJ memiliki soliditas yang kuat,” ujar Wibie.
Ular Kobra tak pernah mengusik, namun saat diusik ia mengembangkan lehernya siap mempertahankan diri. Ular yang memiliki nama latin naja sputatrix ini juga bermanfaat bagi kesehatan manusia. Mulai dari obat dalam yakni darah dan empedunya, hingga obat kulit yakni dagingnya. Mungkin YVAJ hadir ingin bermanfaat bagi masyarakat luas. ”Kami menggalang rasa solidaritas di kalangan bikers, tidak mengenal jenis sepeda motornya,” ujar bro Boeray.
Jelang Deklarasi, bro Edo Rusyanto mengisi dengan materi safety riding (SR). Menurut dia, SR amat penting bagi para bikers terlebih para pengguna motor sport yang notabene kerap memacu kendaraan dengan kecepatan di atas 70 kpj. ”Perilaku berkendara harus lebih peduli dengan sesama pengguna jalan lain. Saat konvoy hapuskan sifat arogan,” seru Edo yang juga Kadiv Litbang Road Safety Association (RSA).
Materi lain yang dilontar melalui tayangan audio visual seputar kecelakaan menghipnotis peserta deklarasi. Sesekali mencuat pertanyaan. Ketika memasuki materi data termutakhir korban kecelakaan yang melibatkan bikers di Jakarta. Peserta kian antusias. ”Hingga pertengahan Juli, korban tewas dari kalangan bikers di Jakarta mencapai 50 orang. Itu baru yang tercatat,” tutur Edo yang juga didaulat menjadi Anggota Kehormatan YVAJ.
Sepanjang Januari hingga pertengahan Juli 2009, korban kecelakaan yang melibatkan sepeda motor di Jakarta mencapai 186 orang, sebanyak 50 di antaranya tewas. Sementara itu, korban kecelakaan yang melibatkan kendaraan roda empat atau lebih mencapai 213 dengan korban tewas 42 orang. ”Secara akumulasi korban kecelakaan mencapai 399 orang. Memprihatinkan,” tutur Edo yang juga Ketua Independent Bikers Club (IBC).
Diskusi berlangsung cair, termasuk saat bro Akbar meminta tips menolong orang yang pura-pura menjadi korban kecelakaan namun justru berniat merampas sepeda motor calon penolong. ”Untuk itu lebih baik kita menelepon layanan polisi 112 atau sms ke 1717 untuk memberitahu ada korban kecelakaan, kita menghindari risiko,” papar Edo.
Diskusi baru saja rampung ketika tiga bikers dari Black Knight Community (BKC), SC 225, dan Yamaha Scorpio Club (YSC) Bekasi, tiba di Pondok Nikki. ”Kami sengaja hadir untuk menyaksikan deklarasi teman kami YVAJ,” tutur bro Reza, ketua BKC.
Keakraban dan rasa solidaritas di kalangan bikers terasa kuat sekali. Deklarasi YVAJ yang berdiri 4 April 2009 hari itu juga dibarengi dengan pelantikan 5 calon anggota mereka. Setelah mendapat ritual tengah malam dengan beragam materi, kelima calon anggota itu mendapat pin dan stiker keanggotaan. Pelantikan dilakukan di air terjun Cigamea, sekitar 500 meter dari penginapan. ”Materi yang kami berikan adalah soal sejarah YVAJ, safety riding, dan membangun solidaritas di kalangan bikers,” ujar Akbar.
YVAJ juga akhirnya melengkapi jajaran pengurus untuk periode 2009-2011. tampil sebagai ketua adalah Wibie, wakil ketua Salay, bendahara Chandara, sekretaris Bastian, dan humas Boeray.
Konvoy mengarah pulang pada Minggu (26/7) menjelang tengah hari. Selamat buat YVAJ. Keep safety riding and brotherhood. (edo rusyanto)

Sabtu, 25 Juli 2009

Helm SNI Perlu, Benahi Sistem Transportasi Harus Prioritas


foto:edo


”HELM dari ATPM gak dipake karena kualitasnya kurang.”
Pernyataan itu muncul dari Hermanto, pendengar radi Pas FM Jakarta, Sabtu (25/7) pagi. Ia berharap ATPM sepeda motor memberi helm yang bagus sehingga dipakai oleh pengendara sepeda motor (bikers). Namun, terkait kecelakaan, menurut dia, terpenting adalah memperbaiki infrastruktur jalan.
Pas FM Jakarta, edisi Sabtu, pukul 08.00-09.00 WIB, mengangakt topik Pro Kontra Kewajiban ATPM Sepeda Motor Membagikan Dua Helm SNI untuk Cegah Kecelakaan. Diskusi live interaktif yang dipandu Benny Rachmadi itu menghadirkan bikers yang juga pengamat safety riding Edo Rusyanto, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (Aisi) Gunadi Sindhuwinata, dan Ketua Umum Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Murphy Hutagalung.
Gunadi gencar menolak rancangan ketentuan Departemen Perhubungan (Dephub) untuk mewajibakan ATPM motor memberikan dua unit helm bagi pembeli sepeda motor baru. ”Mau dikasih helm dua atau 10 jika tidak ditertibkan pemakaiannya dan infrastruktur jalan tidak dibenahi, kecelakaan bakal terus terjadi,” papar Gunadi yang juga Presdir PT Indomobil Sukses Internasional Tbk.
Menurut dia, pemberian satu helm saat konsumen membeli sepeda motor adalah merupakan sinyal bagi bikers tentang bahaya yang terjadi jika tidak memakai helm saat berkendara. Terkait standard nasional Indonesia (SNI), Gunadi mengaku, pihaknya mendukung upaya pemerintah untuk pemberlakuan SNI Wajib untuk helm dan para bikers wajib memakai helm ber-SNI.
Edo Rusyanto mendesak agar ATPM terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai keselamatan berkendara (safety riding). ”Selain itu, segera ATPM memberikan helm ber-SNI kepada konsumen,” papar pria yang juga ketua Independent Bikers Club (IBC) itu. Ia menggarisbawahi tentang perilaku penggguna jalan, mulai dari bikers hingga pengemudi angkutan umum.
”Perlu edukasi kepada pengemudi angkutan umum mengenai keselamatan berkendara, saat ini perilakunya juga memprihatinkan,” sergah Edo.
Murphy yang membawahi para pengemudi angkutan umum meminta agar pemerintah membenahi infrastruktur dan mekanisme pemberian surat izin mengemudi (SIM). ”Dan yang tidak kalah penting adalah kebijakan yang berpihak kepada pengelola angkutan umum, seperti kemudahan dalam pengadaan sparepart,” papar dia.
Pentingnya helm bagi bikers sudah menjadi hal mutlak. Karena itu, soal kualitas helm yang diberikan oleh ATPM bagi pembeli sepeda motor harus benar-benar diperhatikan. ”Soal kuantitas, dua atau lebih tidak terlalu mutlak mengurangi angka kecelakaan di jalan tanpa edukasi yang gencar dan efektif dari ATPM motor,” papar Edo.
Penggunaan helm ber-SNI bakal segera diimplementasikan seiring ditandatanganinya UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ). Bahkan, dalam UU tersebut termaktub sanksi kurungan badan satu bulan atau dendan maksimal Rp 250 ribu bagi bikers yang tidak mengenakan helm SNI. Saat ini ada sekitar 15 produsen helm di Tanah Air, serta puluhan pengrajin helm yang secara total memproduksi sekitar 9-10 juta unit per tahun. Departemen Perindustrian mensinyalir, sekitar 30% helm yang diproduksi di bawah standar. (edo rusyanto)

Jumat, 24 Juli 2009

Menkeu Resmikan Pameran Otomotif IIMS 2009


foto:david

HARI ini, Jumat (24/7) pagi, Menteri Keuangan Sri Mulyani meresmikan pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2009. Menkeu mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang urung meresmikan pameran ke-17 itu.
”Para pelaku bisnis otomotif bisa memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan investasi,” kata Sri Mulyani.
Pameran kali ni digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, tahun lalu digelar di Jakarta Convention Centre (JCC).
Menurut Ketua Panitia Pelaksana IIMS 2009 Johnny Darmawan, perhelatan IIMS tahun ini diharapkan dapat mencapai target pengunjung 250 ribu orang dan total transaksi Rp 1,7 triliun. Pameran yang mengusung tema Drive for a Better Life itu, menampilkan 21 merek mobil, 7 merek sepeda motor, serta 124 industri pendukung otomotif. Merek mobil meliputi Hino, Audi, VW, Daihatsu, Isuzu, Mitsubishi, Nissan Diesel, Foton, Hyundai, Toyota, Honda, Proton, Jaguar, BMW, Mercedes Benz, Mazda, Nissan, Suzuki, KIA, dan Cherry. Merek-merek lain seperti Ferrari, Maserati, Lamborghini, Aston Martin, Hummer, Jeep serta unique and exotic cars lainnya juga akan tampil dalam IIMS 2009. Sementara itu, merek sepeda motor yang turut memeriahkan IIMS kali ini antara lain Yamaha, Kawasaki, Honda, Suzuki, Minerva, Piaggio, dan Harley Davidson.
Ketua Umum Gaikindo Bambang Trisulo menuturkan, tema Drive for a Better Life merupakan tekad industri otomotif nasional dalam meningkatkan kehidupan masyarakat ke arah lebih baik, yaitu kehidupan yang berkualitas. Penjabaran dari tema tersebut, jelas dia, bisa dilihat pada tingkat proses dan produksi, industri otomotif menghadapi tuntutan untuk menciptakan inovasi teknologi yang memanfaatkan bahan-bahan ramah lingkungan, dan peningkatan pemakaian kandungan lokal, dan penyerapan tenaga kerja. Sedangkan pada tingkat nilai guna, tambah Bambang, hasil industri otomotif harus mampu meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih baik pengguna dan lingkungannya. ”Kendaraan yang berkualitas tidak hanya dari segi desain yang memenuhi unsur estetika tinggi, namun juga kenyamanan, safety, mobilitas, dan teknologi yang user friendly,” kata dia.
Masyarakat yang hendak berkunjung ke pameran 24 Juli hingga 2 Agustus 2009 dikenai retribusi Rp 20 ribu (Senin-Kamis) dan Rp 30 ribu pada Jumat-Minggu.
IIMS 2009 menggunakan total luas lahan 100.000 m2, meliputi 36.000 m2 area indoor dan 64.000 m2 outdoor. (edo rusyanto)

Kamis, 23 Juli 2009

Persaingan Skutik Kian Ketat


foto:eko sh

Honda Luncurkan Vario Techno

PARA agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor saling memperkuat daya cengkeram di segmen skuter otomatik (skutik). Maklum, tahun ini, segmen tersebut ditaksir melonjak 31% menjadi 2,1 juta unit dibandingkan 2008 sebesar 1,6 juta unit.
Salah satu ATPM yang terus memperkuat penetrasi adalah PT Astra Honda Motor (AHM). ATPM itu meluncurkan Vario Techno CBS 110, di Jakarta, Kamis (23/7). Techno melengkapi jajaran skutik AHM yang sudah lebih dahulu melenggang yakni Vario dan Beat.
Jurus lain yang dikeluarkan AHM adalah dengan menambah kapasitas produksi dari 60 ribu menjadi 100 ribu unit per bulan. Untuk investasi itu, AHM yang merupakan pemimpin pangsa pasar motor domestik merogoh kocek Rp 140 miliar. Saat ini, kapasitas AHM masih di bawah pemimpin pasar skutik, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI). Sepanjang Januari-Juni 2009, Yamaha menguasai 54,4% pangsa pasar atau setara dengan 505.645 unit.
"Mulai Agustus (2009) kami akan menaikkan kapasitas produksi skutik secara bertahap menuju ke 100 ribu unit per bulan. Nanti ke depan akan ditingkatkan lagi sesuai dengan permintaan pasar," kata Direktur Pemasaran AHM Julius Aslan, di Jakarta, Kamis.

Julius, seperti dikutip Investor Daily, menjelaskan bahwa porsi skutik akan menyentuh 40% pada akhir tahun dengan asumsi total pasar motor nasional mencapai 5,3 juta unit. Lompatan penjualan skutik akan menggerus porsi motor bebek dari 65% pada 2008 menjadi 52% pada akhir 2009.
Tahun lalu, penguasaan pasar skutik mencapai sekitar 26% dari total penjualan sepeda motor di dalam negeri. Pada semester pertama tahun ini, penjualan skutik secara nasional mencapai 929 ribu unit atau naik sekitar 27,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 728 ribu unit.

Vario Techno
Senior General Manager Marketing Motorcycle Division AHM Sigit Kumala menuturkan, Honda kini fokus membangun citra di segmen skutik. Tak heran jika ATPM yang memiliki tiga pabrik dengan kapasitas 3 juta unit per tahun itu, merilis Vario Techno yang dilengkapi dengan teknologi comby brake system (CBS).
Vario CBS Techno dibanderol Rp 15,5 juta on the road di Jakarta, sedikit lebih mahal dibandingkan Varian Vario CW sebelumnya Rp 14,85 juta.
Julius menjelaskan, sampai semester pertama tahun ini penjualan skutik Honda melonjak 67%. Pangsa pasar pun terkatrol dari 28,2% menjadi 37%. AHM menargetkan dapat menguasai 43% pasar skutik pascamerilis Vario Techno.
Di pasar domestik, Yamaha yang mengusung Mio dan Soul, berhadapan dengan PT Astra Honda Motor (Honda). Penguasaan pangsa pasar Honda pada Januari-Juni mencapai 36,9% atau setara dengan 343.249 unit, jauh meninggalkan PT Suzuki Indomobil Sales (Suzuki) yang bertengger di 8,7% (80.518 unit).
Honda mengobrak-abrik segmen skutik. Market share-nya menyedot milik Yamaha dan Suzuki. Pada semester pertama 2008, market share Honda baru 28,3%, itu berarti mengambil 1,6% pangsa pasar Yamaha dan edannya, mengambil 5,66% pangsa pasar Suzuki.
Honda melenggang di skutik lewat Vario dan Beat, sedangkan Suzuki mengusung Spin, SkyDrive, dan SkyWave. (edo rusyanto)

Touring ke-11 IBC di Mata Media



DALAM usia yang beranjak tiga tahun pada 30 Desember 2009 nanti, Independent Bikers Club (IBC) terus menggeliat. Layaknya kelompok sepeda motor lain, IBC yang diawaki para jurnalis, menggelar kegiatan touring ke berbagai kawasan wisata di Jawa Barat dan Banten.
Pekan lalu, 17-19 Juli 2009, touring ke-11 IBC diarahkan ke Anyer, Banten. Di kawasan wisata pantai itu, IBC menyelipkan diskusi soal keselamatan berkendara (safety riding). Lima belas orang peserta touring yang berasal dari IBC, Minerva Riders Community (MRC) region Serang, dan Indonesia Bajaj Bikers Club (IBBC) asyik mahsyuk berdiskusi sambil diterpa hembusan angin pantai yang menyegarkan. "Materi diskusi seputar maraknya kecelakaan yang melibatkan sepeda motor hingga soal pentingnya menjaga jarak dalam berkendara," tutur bro Edo Rusyanto, ketua IBC.
Jarak Jakarta-Anyer sekitar 169 kilometer ditempuh dengan penuh kehati-hatian. "Maklum berkendara di malam hari," ujar bro Ardy, sekjend IBBC dalam situsnya. Ya, perjalanan ke Anyer harus menyaksikan empat kali kecelakaan sepeda motor. Salah satunya melibatkan konvoy IBC. Walau tidak menimbulkan luka serius, tak pelak kecelakaan itu memberi shock therapy kepada peserta touring.
Hingga akhir 2009, IBC menjadwalkan satu kali lagi touring. Beberapa lokasi wisata pun masuk dalam daftar seperti Pantai Pamengpeuk, Garut dan Pantai Pangandaran, Ciamis. Keduanya ada di Jawa Barat. (edo rusyanto)

Rabu, 22 Juli 2009

Bikers Siap-siap Kena Pajak


foto:edo rusyanto

PENGENDARA sepeda motor (bikers) dan mobil di Jakarta bakal kena pajak. Tentu saja, saat melintas di jalan-jalan protokol. Selain Jakarta, kota yang layak memajaki pengguna jalan adalah Surabaya, Medan, dan Makassar.
Uang jago modern berbasis elektronik alias electronic road pricing (ERP) itu bakal dipungut oleh pemerintah daerah (pemda). Khusus di Jakarta, saat ini dalam persiapan design engineering detail (DED). “Sistem road pricing untuk menghindari macet,” kata Direktur Keselamatan Transportasi Darat Ditjen Perhubungan Darat Dephub Suripno, seperti dilansir Investor Daily, Rabu (22/7).
Tahun lalu, hasil studi Pacific Consultants International (PCI) menyebutkan, tarif ERP di Jakarta diusulkan sebesar Rp 15 ribu per mobil dan sepeda motor Rp 5 ribu sekali lewat. Sebagai pilot project, pada tahap pertama ERP ini direncanakan akan diterapkan di ruas antara Blok M-Kota, mengikuti rute busway koridor I.
Lalu lintas Jakarta memang terkenal dengan kesemrawutannya. Kemacetan jadi makanan sehari-hari. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan, kerugian akibat kemacetan Jakarta menimbulkan kerugian sekitar Rp 42 triliun per tahunnya. Luarrrr biasa!
Payung hukum untuk menggolkan uang jago di jalan protokol adalah UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).
Di mata Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit, ERP belum tentu sahih mengurai kemacetan lalu lintas jalan. Ia menilai, butuh kebijakan transportasi pendukung lainnya.
Pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Djoko Setijowarno mewanti-wanti pentingnya pembangunan sistem transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau konsumen. Walau, kata dia, Pemprov DKI Jakarta cukup mampu membangun infrastruktur ERP yang di Singapura saja menghabiskan biaya sekitar Rp 1,5 triliun.
Populasi kendaraan di Jakarta saat ini sekitar sembilan juta unit terdiri atas sekitar enam juta sepeda motor dan tiga juta kendaraan roda empat dan lebih. Populasi penduduk sekitar 8,5 juta jiwa dengan panjang jalan sekitar 39 ribu kilometer. (edo rusyanto)

50 Bikers Tewas


foto:istimewa

BERGIDIK membaca angka statistik. Sepanjang Januari hingga 20 Juli 2009 jumlah pengendara sepeda motor (bikers) yang tewas 50 orang. Jauh lebih besar dari pengendara mobil yang tewas akibat kecelakaan yakni 42 jiwa.
Angka-angka itu baru untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Itu pun baru yang tercatat. Artinya, angka tersebut bisa membesar jika semua peristiwa kecelakaan yang melibatkan sepeda motor tercatat dengan baik. Hemmm...fenomena apakah ini?
Pemicu kecelakaan yang melibatkan sepeda motor beragam. Mulai dari bikers yang lepas kontrol sehingga masuk lubang atau menabrak pembatas jalan maupun trotoar, lalu minimnya analisis medan sehingga saat mendahului kendaraan di depannya malah menyerempet atau ditabrak kendaraan dari arah berlawanan, hingga ditabrak mobil dari belakang.
Jika korban tewas saja 50 orang, tentu saja korban luka jumlahnya lebih besar. Data yang diolah dari situs http://www.lantas.metro.polri.go.id/ menyebutkan korban luka mencapai 135 orang. Korban luka mulai dari yang sekadar lecet di jari tangan, patah tulang, hingga gegar otak.
Sepanjang sekitar tujuh bulan 2009, total korban luka dan tewas mencapai 185 bikers. Lebih besar dari kasus flu babi yang hingga kini 172 kasus di seluruh Indonesia. Hemmm...sudah saatnya, setop perilaku ugal-ugalan di jalan. (edo rusyanto)

Selasa, 21 Juli 2009

Empat Kecelakaan Iringi Konvoy


Touring ke-11 IBC (2):

GERIMIS mendera konvoy touring tanpa lelah. Roda sepeda motor berbenturan dengan lubang dan permukaan jalan yang baru dilapisi aspal. Konvoy tak gentar menerobos gelapnya dinihari.
Rombongan 15 sepeda motor dari Jakarta menuju Anyer, Banten itu, bak tak peduli meski terus diguyur hujan. “Target kita pagi sudah sampai di Anyer,” ujar bro Arie Fiantisca, bendahara Independent Bikers Club (IBC), Sabtu (19/7).
Beberapa ruas jalan di kawasan perbatasan Tangerang-Serang rusak cukup parah. Sepeda motor harus super hati-hati jika tidak ingin tergelincir. Sedangkan kendaraan berat seperti truk kontainer dan bus besar sewaktu-waktu bisa memangsa sepeda motor. Benar saja, saat perjalanan baru separuh jalan, David salah satu anggota konvoy tergelincir karena selip. “Permukaan aspal licin dan salah satu sisinya lebih tinggi karena baru dilapis ulang,” ujar bro Edo Rusyanto, ketua IBC.
Setelah dievakuasi dan ditangani klinik 24 jam di Jl Raya Serang KM 18, David bisa melanjutkan perjalanan namun harus dibonceng. Sepeda motornya dititipkan di klinik tersebut.
Baru saja bergerak sekitar 20 menit, iring-iringan menuju pantai Anyer itu menyaksikan benturan antara vespa dengan mobil boks yang melaju ugal-ugalan. Bruakkkk!!! Sang vespa pun oleng, beberapa bagian kendaraan itu terlihat rusak. Bersyukur, penumpangnya tak cedera serius.
Ternyata tidak hanya perjalanan malam atau dinihari yang diincar sang maut di jalan raya. Ketika rombongan touring ke-11 IBC pulang kembali ke Jakarta, Minggu (19/7), selepas kota Serang, menyaksikan dua kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Kecelakaan pertama terlihat amat serius. “Stang motornya sampai mental dan bannya ringsek,” papar bro Rino. Sedangkan kecelakaan kedua terlihat juga menimbulkan kerusakan serius pada sepeda motor korban.
Rute sepanjang 169 kilometer dari Jakarta-Anyer yang ditempuh rombongan touring memang tak mudah dilalui. Setidaknya ada dua kawasan industri yang harus dilintasi oleh pengendara motor. Tak aneh jika harus berpapasan dengan truk kontainer ukuran besar. “Sepanjang beberapa tahun terakhir, sudah 17 teman saya yang tewas dilindas kontainer,” papar bro Dhirex, anggota MRC region Serang. (edo rusyanto)

Bincang Safety Riding di Bibir Pantai Anyer


Touring ke-11 IBC




BANYAK lagu yang diciptakan dengan latar belakang pantai. Tak sedikit pula kisah romantis yang bergulir di pasir putih. Gemuruh ombak, sepoi-sepoinya angin laut, nyiur yang melambai, dan fenomena terbit serta tenggelamnya matahari, menjadi harmoni kehidupan yang membawa inspirasi banyak insan manusia.
Lantas, bagaimana rasanya berdiskusi soal keselamatan berkendara (safety riding) sambil dibelai sepoi-sepoi angin pantai? Dan bagaimana serunya jika diskusi dilengkapi dengan testimoni langsung korban kecelakaan dengan luka memerah sisa insiden beberapa jam sebelumnya?
Independent Bikers Club (IBC) Jakarta mencoba nuansa baru dalam berdiskusi soal safety riding. Lokasi yang dipilih adalah tepi pantai Anyer, Banten, pada Sabtu (18/7). Di penghujung pekan itu, peserta touring yang baru saja menempuh perjalanan sekitar 169 kilometer (km) dari Jakarta, bersimpuh di teras vila sederhana berdinding gedek dan beratap daun kelapa.
Tidak mudah bagi rombongan yang berangkat dari Jakarta, Sabtu (18/7) pukul 01.02 WIB. Setelah menembus hujan deras, rusaknya aspal jalan, lalulalangnya kontainer, truk, dan bus besar, serta ‘ugal-ugalannya’ pengguna jalan yang bermuara pada kecelakaan, konvoy aneka jenis sepeda motor itu baru tiba sekitar pukul 09.21 WIB di vila yang berjarak sekitar 19 km dari Marbella Hotel, Anyer itu. Maklum, perjalanan harus melintasi kawasan industri serta proyek pelapisan jalan.
Keasyikan diskusi dilengkapi kudapan kacang kulit dan segarnya kelapa muda yang baru saja dipetik dari pohonnya. ”Selain agar lebih rileks, diskusi di sela touring ke-11 IBC ini, untuk menyegarkan kembali pemahaman teman-teman soal safety riding,” tutur bro Edo Rusyanto, sang ketua IBC.
Hal paling baru dalam diskusi santai kali ini, kata Edo, adalah terkait sanksi denda dan sanksi pidana yang mengintai bikers seperti tertuang dalam Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang lalu Lintas dan Angkutan jalan (UU LLAJ) yang diteken presiden pada 23 Juni 2009 atau sehari sebelum perayaan Pekan Nasional Keselamatan Jalan 2009 di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.
Peserta diskusi tidak hanya anggota IBC. Tampak hadir juga bikers dari Indonesia Bajaj Bikers Club (IBBC), Jakarta dan Minerva Riders Community (MRC) Region Serang.
“Senang sekali bisa sharing soal safety riding.Kita bisa belajar dari sesama komunitas sepeda motor,” ujar Sekjend IBBC Ardy, yang siang itu antusias menyimak pemaparan bro Edo.
“Perlu kita saling mengingatkan pentingnya perilaku berkendara yang santun,” tegas Edo yang juga Kepala Divisi Litbang Road Safety Association (RSA) itu.
Selain membahas tentang pentingnya alat pelindung diri seperti helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan, obrolan Sabtu siang itu juga mengupas tentang pentingnya kemampuan menghitung jarak aman dalam berkendara sepeda motor.

Testimoni
Bro David Sender yang terjatuh akibat selip di kawasan Industri Cikupa, Tangerang beberapa jam sebelum diskusi menuturkan, dirinya kian meyakini pentingnya helm. “Saat jatuh saya hanya menyebut nama Tuhan,” tukas pria gempal itu. Ia harus terjungkal dari sepeda motor bersama sang kekasih, ketika sepeda motor bebeknya selip saat mendahului sebuah truk. Luka ringan harus diderita pria berkacamata itu. Sedangkan luka cukup besar terlihat di dengkul sebelah kanan.
Maklum, data Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Provinsi Banten mencatat, per Februari 2009, sepanjang 379,2 kilometer dari 889,01 kilometer ruas jalan provinsi di Banten rusak. Di antaranya ruas jalan Cikande-Lebak, yang dipakai untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Labuan Pandeglang dan Teluk Naga Tanggerang.
Pernyataaan David diamini Heriyono, anggota IBC. Pria yang sehari-hari sebagai jurnalis itu berbagi pengalaman soal kecelakaan yang ia alami beberapa waktu lalu. “Luka mengenai dagu saya karena hanya memakai helm half face, sejak itu saya beli helm full face,” tutur Heriyono.
Para peserta diskusi santai yang terdiri atas 15 bikers itu pun larut dalam interaksi yang sesekali diselingi canda tawa dan kepulan asap rokok.
“Pemahaman safety riding akan saya kembangkan pada anak MRC region Serang, supaya lebih safety lagi dalam mengendara sepeda motor,” ujar bro Dadoz, sekretaris MRC region Serang.
Maklum, ancaman sanksi pidana dan denda kini cukup ketat. Misal, berbelok tanpa memberi lampu isyarat bakal dikurung satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu. Manteb to? (edo rusyanto)

Jumat, 17 Juli 2009

Kekerasan di Mega Kuningan



foto: istimewa


Kekerasan di Mega Kuningan

KALI kedua, kawasan tempat para bikers kumpul di mega Kuningan, Jakarta Selatan, dilanda kekerasan bom. Jumat (17/7), sekitar 07.40 WIB, menorehkan catatan kelam bagi Indonesia. Dua ledakan mengguncang Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot Hotel. Keduanya tempat yang ramai dikunjungi warga negara asing. Lima puluhan korban luka-luka dan sembilan orang tewas, termasuk Presiden Direktur Holcim Indonesia Timothy David Mackay (60), sedangkan korban luka di antaranya adalah komisaris PT Freeport Indonesia Adrianto Machribi.
Wikipedia mencatat kali pertama pengeboman terjadi pada 5 Agustus 2003 sekitar pukul 12.45 WIB. Ledakan itu berasal dari bom mobil bunuh diri dengan menggunakan mobil Toyota Kijang dengan nomor polisi B 7462 ZN yang dikendarai oleh Asmar Latin Sani. Ledakan tersebut menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang. Akibat peristiwa itu, Hotel JW Marriott ditutup selama lima minggu dan beroperasi kembali tanggal 8 September 2003.
Kawasan Mega Kuningan kerap menjadi tempat kopi darat (kopdar) para bikers. Maklum kawasan tersebut memiliki tanah lapang yang bisa menjadi tempat parkir para bikers, khususnya di Jl Mega Kuningan Timur IV. Kelompok sepeda motor yang kopdar di kawasan itu di antaranya adalah Minerva Riders Community (MRC) dan Suzuki 2 Wheels.
MRC yang merupakan komunitas pengguna motor sport 150 cc sudah sekitar dua tahun kopdar di Mega Kuningan. Mereka kopdar pada Sabtu sekitar pukul 15.00-20.00 WIB. Terkait ledakan Jumat ini, Ketua MRC Jakarta Lukman Hakim menuturkan, pihaknya tetap berniat menggelar kopdar di kawasan itu.”Kalaupun ada pemindahan lokasi sementara kemungkinan di Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat tetapi kumpul dulu di sekitar MKT4, klo bisa kopdar di tempat biasa ya lanjut tapi klo ga bisa masuk ya kita berangkat bareng ke Taman Suropati jam 4.30 sore, ” tutur Lukman dalam pesan elektroniknya, Jumat siang.
MRC memiliki sekitar 500-an anggota di seluruh Indonesia, sekitar separuhnya adalah anggota region Jakarta.
Sejumlah komunitas sepeda motor pun mengutarakan rasa duka atas kekerasan bom di kawasan Mega Kuningan. ”Mewakili segenap pengurus dan juga seluruh member Yamaha Jupiter Owners Community (YJOC) mengucapkan bela sungkawa atas tragedi bom di Hotel Ritz Carlton dan juga JW Marriot pagi ini, semoga seluruh korban yang meninggal dapat di terima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi musibah ini. Untuk korban yang di rawat semoga lekas sembuh,” tulis Bro Ipank dalam sebuah milis.
Tak ketinggalan, para penggiat safety riding yang tergabung dalam Road Safety Association (RSA) juga turut prihatin. Maklum, kelompok tersebut juga memilih kawasan Mega Kuningan untuk deklarasi setahun lalu. ”Kami turut berduka cita atas terjadinya peledakan bom di Ritz Carlton dan JW Marriot pada hari ini. Semoga amal ibadah almarhum dan almarhumah dapat diterima di sisi Tuhan YME dan bagi keluarga yang ditinggalkan dapat diberikan ketabahan. Semoga situasi bisa cepat kondusif kembali demi kenyamanan dan ketentraman masyarakat yang tinggal di Indonesia,” tulis Eko, wakil ketua RSA, Jumat.
Ungkapan keprihatinan juga meruyak. ” Pengebom terus merusak nama bangsa, padahal hotel itu akan di pakai utk menginap kesebelasan MU pada 20Juli,” tutur Ferdy, anggota MRC dalam pesan elektroniknya.
Ya! Ledakan yang menimbulkan korban jiwa mencoreng nama bangsa. Kita pun berduka. (edo rusyanto)

Beli Honda, Dapat Asuransi Gratis Rp 10 Juta




BIKERS penuh dengan risiko kecelakaan di jalan. Tak heran jika perusahaan asuransi membidik segmen penjualan sepeda motor. PT Asuransi Jaya Proteksi termasuk jeli melihat peluang itu. Jaya Proteksi menggandeng PT Wahana Makmur Sejati, dealer utama sepeda motor Honda untuk wilayah Jakarta dan Tangerang.
Menurut Direktur PT Asuransi Jaya Proteksi Nicolaus Prawiro, setiap pembeli sepeda motor Honda mulai Juli 2009 bakal mendapat perlindungan asuransi kecelakaan diri yakni Rp 10 juta untuk korban meninggal dunia dan Rp 10 juta untuk korban cacat tetap. Besaran santunan cacat tergantung pada jenis cacat yang sudah diatur dalam tabel perlindungan perusahaan tersebut. ”Dengan program asuransi gratis ini diharapkan pengguna sepeda motor Honda dapat merasa aman dan nyaman dalam berkendara,” ujar Nicolaus dalam siaran pers, Kamis (16/7).
Sekitar 53,5% pendapatan perusahaan tersebut diperoleh dari asuransi kendaraan bermotor.
Konsep asuransi bagi sepeda motor juga diberikan oleh PT Asuransi Takaful Umum lewat produknya, Takaful Ansor. Takaful Ansor memberikan manfaat plus, selain melindungi risiko kehilangan atau kecelakaan (total loss only), juga memberikan manfaat asuransi jiwa bagi pemiliknya. Santunan yang diberikan Rp10 juta untuk meninggal dunia karena kecelakaan dan Rp 5 juta untuk meninggal dunia bukan karena kecelakaan.
Kembali lagi soal asuransi gratis bagi pembeli sepeda motor baru Honda, dinilai menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen. ”Wah asyik tuh, bisa-bisa beli motor baru nih gue,” ujar Ryan, seorang karyawan swasta di Jakarta. Ia merasa asuransi gratis itu memberi perlindungan jika terjadi kecelakaan. ”Cuma bagaimana ngurusnya yah? Rumit gak?,” kata dia.
Program asuransi gratis merupakan salah satu dari aneka daya pikat pemasaran perusahaan yang memiliki jaringan 109 dealer dan 362 bengkel AHASS itu. Wahana juga memiliki aneka daya pikat di antaranya program cash back untuk pembelian CS-1 sebesar Rp 500 ribu dan cash back Rp 400 ribu untuk pembelian Honda Supra X 125 Standar. Cash back berlaku untuk pembelian secara tunai atau kredit, meski hanya berlaku pada 1-30 Juni 2009.
Wahana yang berdiri sejak 1972 itu merupakan dealer utama Honda itu, memiliki prestasi penjualan cukup tinggi. Pada 2008, perusahaan tersebut ditargetkan menjual 260 ribu unit motor, naik dibandingkan 2007 yang sebanyak 180 ribu unit. Pada 2006, Wahana sempat menjual 218 ribu unit, meski prestasi terbaik sepanjang lima tahun terakhir adalah pada 2005 yakni sebanyak 260 ribu unit. (edo rusyanto)

Kamis, 16 Juli 2009

Belok Sembarangan Dikurung Satu Bulan




KERAP kita dibuat jengkel jika kendaraan di depan kita tiba-tiba berbelok tanpa memberi isyarat. Kalau sekadar jengkel masih bagus, andai saja berbuah benturan, yakinlah kedua pihak sama-sama dirugikan. Kalau dibumbui emosi, jadilah tarik urat leher yang tidak tertutup kemungkinan jadi tarik otot lengan. Memalukan.
Road Safety Association (RSA), sebuah LSM yang peduli soal keselamatan berkendara menyarakan beberapa tips untuk kita sesaat sebelum berbelok. Tips ini juga penting bagi bikers agar selamat dalam perjalanan.
Pengemudi yang bermaksud untuk membelok harus terlebih dahulu memperhatikan hal-hal yang dapat menjamin keselamatan dan ketertiban lalu lintas jalan:
a. Mengamati dengan cara menoleh dan/atau dengan mempergunakan kaca spion.
b. Sebelum memulai gerakan mengubah arah harus terlebih dahulu memberikan isyarat lampu penunjuk arah.
c. Menempatkan posisi kendaraannya pada lajur atau bagian mendekati luar lajur jalan.
d. Peringatan dengan alat penunjuk arah harus diberikan terus menerus selama berlangsungnya gerakan itu dan segera diberhentikan setelah gerakan itu selesai.
Sekadar informasi, pengendara yang berbelok atau berbalik arah tanpa memberi isyarat lampu penunjuk arah atau isyarat tangan bakal diganjar pidana. UU No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, pasal 294 menegaskan, ancaman pidana penjara satu bulan atau denda Rp 250 ribu.
Masih nekat belok tiba-tiba? (edo rusyanto)

Rabu, 15 Juli 2009

Hati-hati Saat Mendahului



foto:edo rusyanto


NASIB tragis dialami oleh adik teman saya pada Februari 2009. Ia wafat saat hendak menjemput sang kakak di kawasan Pondok Cabe Ilir, Ciputat. Informasi yang saya terima, sang adik kecelakaan sepeda motor. Ia hendak mendahului kendaraan di depannya, namun nasib buruk menghadang. Kendaraan dari arah berlawanan tak memberinya ruang. Brakkk! Kejadian tersebut bukan satu-satunya yang terjadi di Jakarta, apalagi di seluruh Indonesia.
Para ahli berkendara sepeda motor menuturkan, cara mendahului yang aman adalah dengan memiliki kepastian minimal 90% bahwa tak ada aral melintang di ruang yang akan dilewati. Tentu saja mendahului dari sebelah kanan karena negeri kita menerapkan berlalulintas di jalur kiri jalan. Berbeda dengan di Eropa atau Amerika Serikat.
Soal dahulu mendahului, ternyata pemerintah kita ikut campur tangan. Bahkan, sejak tahun 1993 hal itu dituangkan dalam peraturan pemerintah (PP) No. 43/1993, khususnya pasal 52. PP yang menjabarkan Undang Undang No 14 tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. UU tersebut kini diperbahurui oleh UU No 22 tahun 2009 yang diteken Presiden pada 23 Juni 2009.
Kembali soal mendahului, mengacu kepada PP 43/1993, ada beberapa hal yang harus para bikers cermati.
Pertama, harus mempunyai pandangan yang luas dan mempunyai pandangan luas dan mempunyai jarak yang cukup untuk mendahului. Kemudian, mendahului harus lewat kanan, tidak boleh lewat kiri, kecuali di jalur kanan sedang macet, atau hendak belok ke kiri. Ketiga, jangan mendahului kalau kendaraan yang di depan sudah memberikan signal. Hal ini penting, misalnya, mobil depan kita memberi lampu sign kanan, isyarat itu bisa berarti kendaraan tersebut hendak berbelok kanan, atau memberitahu kepada kita; jangan mendahului ada kendaraan dari arah berlawanan. Berbahaya.
Keempat, bikers harus mengurangi kecepatan jika ada kendaraan umum yang menaikkan atau menurunkan penumpang, atau jika ada binatang yang lagi di giring atau kendaraan yang ditarik dengan hewan, atau ada yang sedang menunggang hewan.
Kelima, ini amat penting, tidak boleh melewati kendaraan lain di persimpangan atau persilangan sebidang, selain itu jangan melewati kendaraan yang sedang memberikan jalan kepada pengendara sepeda apalagi pejalan kaki.
Terakhir, kita wajib memberikan ruang gerak kepada kendaraan yang akan mendahului, dan juga harus menjaga kecepatan sehingga bisa dilewati dengan aman. Artinya, saling berbagi dan menghargai sesama pengguna jalan. Ingat, jalan raya milik bersama, bukan sirkuit pribadi. (edo rusyanto)

Senin, 13 Juli 2009

Yamaha Libas Honda




PERISTIWA itu terulang kembali. Yamaha melibas Honda dari segi volume penjualan. Tahun ini, Yamaha meninggalkan Honda pada April dan Juni 2009. Pada April, Yamaha mampu menjual 189.695 unit, sedangkan pada Juni sebesar 218.614 unit. Pada periode itu, Honda masing-masing 155.789 unit dan 216.876 unit.
Selisih penjualan pada April cukup menganga yakni hampir 34 ribu unit, namun pada Juni 2009 selisihnya hanya dua ribu unit. Tahun lalu, Yamaha yang di Indonesia diwakili oleh PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) juga sempat melampaui Honda yang diwakili PT Astra Honda Motor (AHM). Pada Desember 2008, Yamaha terjual 108.991 unit, sedangkan Honda terjual 101.657 unit. Tipis memang.
Memasuki 2009, selisihnya cukup besar. Ada gejala apa? YMKI punya jurus ampuh?
Wakil Presiden Direktur YMKI Dyonisius Beti menjelaskan, kesuksesan Yamaha tak lepas dari peluncuran bebek baru Vega ZR 115 yang diklaim tangguh dengan harga terjangkau. “Vega bukan produk dengan standar biasa karena punya mesin 115 cc dan harganya terjangkau Rp 11,5 juta, irit dan tangguh. Cocok untuk kondisi krisis” ujar Beti, seperti dikutip Investor Daily.
Otot Yamaha ada pada produk skutik dan motor sport. Sementara itu, Honda mengandalkan produk bebek.
Secara kumulatif, sepanjang Januari-Juni 2009, Honda masih unggul tipis yakni mampu menjual sekitar 1,165 juta unit, sedangkan Yamaha sekitar 1,154 juta unit. Di posisi ketiga masih ditempati Suzuki dengan penjualan 198.116 unit.
Direktur Pemasaran AHM Julius Aslan menilai, Yamaha mampu mempersempit jarak dengan Honda karena menjadi pemimpin di pasar skutik. Di segmen ini Honda hanya menguasai 33% pasar. Padahal pasar skutik terus berkembang menggerus porsi bebek. Di segmen skutik, Yamaha 505.645 unit atau setara dengan menguasai 54,4% pangsa pasar, sedangkan Honda hanya 343.249 unit atau setara dengan 36,9%. Tak heran jika berembus kabar, dalam waktu dekat Honda bakal meluncurkan varian skutik baru untuk memperkuat penguasaan pangsa pasar. ”Kita memilih waktu yang tepat untuk meluncurkan produk baru itu,” ujar Kristanto, head of public relation AHM. (edo rusyanto)

Honda, Yamaha, dan Bajaj Siap Bagikan Helm SNI

SEBELUM Lebaran tahun 2009, tiga agen tunggal pemegang merek (ATPM) sepeda motor siap membagikan dua helm SNI gratis bagi pembelian motor baru. "Mereka adalah ATPM Honda, Yamaha dan Pulsar," kata Dirjen Perhubungan Darat, Dephub, Suroyo Alimoeso, akhir pekan lalu, di Kantor Dephub Jakarta.
Seperti dilansir Antara, penegasan itu terkait dengan penolakan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) terhadap rencana pemerintah yang akan mewajibkan produsen memberikan dua helm gratis Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi setiap pembelian sepeda motor baru.
Suroyo menduga, penolakan AISI tersebut karena memenuhi aspirasi dari ATPM lain yang belum siap.
"Padahal, maksud aturan ini adalah untuk sosialisasi UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang baru No 22/2009 yang didalamnya mengatur pengendara sepeda motor di jalan wajib ber-helm SNI," katanya.
Sebagaimana diberitakan, UU LLAJ tersebut mengancam pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm dengan sanksi pidana kurungan satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu.
"Oleh karena itu, melalui aturan ini juga mendidik kepada masyarakat agar menggunakan helm SNI ketika mengendarai sepeda motor," katanya.
Itu semua, tambahnya, berujung pada peningkatan keselamatan di jalan karena korban kecelakaan lalu lintas di jalan, sebagian besar melibatkan sepeda motor. Maklum, populasi sepeda motor terus bertambah, hingga akhir 2008, populasinya sekitar 39 juta, jika ditambah penjualan Januari-Juni 2009, ditaksir mencapai 42 juta unit. Hingga akhir 2009, ditaksir mencapai sekitar 44 juta unit.
Sebelumnya, pemerintah akan mewajibkan produsen sepeda motor Indonesia nantinya membagikan dua helm SNI kepada konsumen pembeli sepeda motor baru.
"Secepatnya ketentuan (wajib bagikan dua helm SNI) itu akan diterapkan," kata Suroyo.
Aturan yang segera diterapkan sebelum masa Angkutan Lebaran 2009 itu, kata Suroyo, sebagai bentuk sosialisasi dari rencana pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP). "Dalam hitungan bulan dan sebelum akhir tahun salah satu PP dari UU LLAJ yang baru sudah keluar," kata Suroyo. (edo rusyanto)

Minggu, 12 Juli 2009

Nekat Boncengan Bertiga, Bisa Dipenjara Satu Bulan

PARA pengendara sepeda motor alias bikers, jangan coba-coba bawa boncengan lebih dari satu kalau tidak mau meringkuk di balik jeruji besi. Kok bisa?
Silakan intip Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), pasal 292. Pada pasal itu dengan tegas dinyatakan pengendara sepeda motor yang mengangkut penumpang lebih dari satu orang bakal diancam sanksi penjara satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu.
Wihhh...kalau saja UU LLAJ itu diterapkan secara tegas, kas negara bakal kebanjiran rupiah. Maklum, dari populasi sekitar 40 juta sepeda motor, mayoritas bikers masih berperilaku ugal-ugalan.
AKBP Subono, Kasilat Subdit Dikmas Ditlantas Polri menyebutkan, masalah keamanan dan ketertiban lalu lintas belum menjadi kepedulian masyarakat. “Hal itu karena pengetahuan dan pemahaman keamanan dan keselamatan lantas masih terbatas,” ujar perwira Polri itu. Di sisi lain, kata dia, masalah kemacetan dan pelangaran lalin bakal berdampak permasalahan yang lain. “Disiplin dan pengetahuan masyarakat tentang lalin masih rendah,” ujarnya.
Jika konsisten diterapkan, bisa-bisa para tukang ojek bakalan tambah kering kantongnya. Lihat saja sekeliling kita, para tukang ojek dengan leluasa mengangkut penumpang lebih dari satu. “Bayarnya sih sama aja mas, kita juga gak enak kalau ada ibu-ibu bawa anak kecil kita suruh sewa dua ojek,” ujar Nasim, seorang tukang ojek di pinggiran Jakarta.
Hemm...antara peraturan dan kebutuhan ekonomi saling berbenturan. Kita lihat saja nanti bagaimana implementasinya. (edo rusyanto)

Astra Honda Targetkan 2,45 Juta Motor


foto:edo rusyanto


PT Astra Honda Motor , agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor Honda, merevisi target penjualan tahun ini dari 2,3 juta unit menjadi 2,45 juta unit seiring terus membaiknya kondisi pasar. Angka ini melemah 12,5% dibanding 2008 sebesar 2,8 juta unit.
Direktur Pemasaran AHM Julius Aslan menerangkan, penurunan BI rate dari 7% menjadi 6,75% pada awal bulan akan menggairahkan pasar motor pada paruh kedua. Turunnya bunga acuan akan mendorong perusahaan pembiayaan (leasing) menurunkan bunga kredit.
Saat ini, kata Julius, suku bunga efektif kredit motor mencapi 29-30% atau turun dibanding Mei sebesar 32%. “Hal ini akan sangat bermanfaat bagi pasar motor karena 70% pembelian motor menggunakan skema kredit. Penjualan kami pastinya juga akan turut terbantu,” paparnya di Jakarta, akhir pekan lalu.
AHM, ujar Julius, tadinya memperkirakan pasar motor bakal anjlok 19% menjadi 5 juta unit tahun ini. Namun proyeksi itu direvisi menjadi 5,3 juta unit melihat tren pergerakan pasar. “Meski asumsi pasar berubah, target pangsa pasar tidak berubah yakni 46%,” ujarnya.
Hingga kini Honda merupakan pemimpin di bisnis motor nasional. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan Honda hingga semester pertama 2009 anjlok 17% menjadi 1,165 juta unit dibanding periode sama 2008 1,405 juta unit.
Pangsa pasar Honda tercatat mencapai 45,8% atau hanya terpaut 0,3% dari rival utama Yamaha yang mampu melego 1,154 juta unit motor sampai semester pertama. Padahal pada akhir tahun lalu selisih pangsa pasar Honda dan Yamaha mencapai 6%. Honda menguasai 46% pasar pada 2008, sedangkan Yamaha hanya 39,7%.

Amunisi Baru
Julius menilai, Yamaha mampu mengejar Honda karena mendominasi di segmen skuter otomatik (skutik) dengan pangsa pasar 54% per Juni. Adapun Honda hanya mampu menguasai 33% pasar skutik. Padahal pasar skutik terus berkembang menggerus porsi bebek (cub).
Data AISI menunjukkan, porsi skutik membengkak dari 26% per Desember menjadi 36,5% pada Juni. Di sisi lain, pangsa pasar bebek terus melorot dari 65,7% menjadi tinggal 54%. Adapun total pasar motor per Juni 2009 turu 16% menjadi 2,546 juta unit.
“Mereka cukup kuat di AT (skutik). Kita tahu skutik trennya terus membesar sehingga kompetitor memanfaatkan fenomena ini. Kami akan coba meningkatkan penjualan di segmen skutik,” ujarnya.
Untuk mempertahankan dominasi pasar, AHM, kata Julius, akan merilis beberapa model baru pada paruh kedua. Sejauh ini AHM baru melepas satu model, yakni Absolute Revo pada kuartal pertama. Tahun lalu AHM melepas lima model baru guna melebarkan jarak dengan Yamaha.
Selain itu, Honda, kata Julius, akan memberikan paket pembelian yang menarik bagi konsumen dengan uang muka dan bunga ringan. Di luar itu, AHM akan aktif mengikuti beberapa pameran seperti Pekan Raya Jakarta dan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2009. “Kami yakin dapat menjualan 3.500 unit motor di PRJ karena pengunjung cukup antusias mengunjungi stand kami,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menyatakan, penjualan motor juga akan terbantu oleh pameran seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Indonesia International Motor Show (IIMS) yang digelar di Kemayoran, Jakarta. “Saya kira pasar akan terus meningkat hingga Lebaran dan akan kembali stabil setelah itu,” paparnya. (coy)


sumber; Investor Daily

Tak Pakai Helm SNI Didenda Rp 250 Ribu



foto:detik.com


MASIH nekat gak pake helm saat mengendarai sepeda motor? Atau masih nekat bawa boncengan yang gak pake helm?
Fakta menyebutkan, mayoritas korban kecelakaan sepeda motor yang meninggal dunia adalah karena luka di kepala. Salah satu pemicunya adalah pengendara atau penumpang tidak memakai helm.
Kalau itu urusan soal kecelakaan, ada lagi urusan yang lain. Denda dan pidana!
Apa-apaan nih?
Coba aja tengok Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) yang disahkan DPR RI pada 26 Mei 2009 dan ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Juni 2009. Pada pasal 291 ayat 1 dengan tegas disebutkan jika pengendara sepeda motor tidak mengenakan helm standar nasional alias standar nasional Indonesia (SNI), bakal dikurung satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu. ”Pada Undang Undang sebelumnya ancaman denda lebih besar, sampai satu juta rupiah,” ujar AKBP Subono, Kasilat Subdit Dikmas Ditlantas Polri, saat menyampaikan materi dalam pelatihan safety riding di PT DNP Indonesia, Sabtu (11/7).
Apa sih helm SNI? Ini dia. Aturan pemerintah itu soal SNI wajib untuk helm tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/Per/6/2008 tanggal 25 Juni 2008. namun, kemudian ditunda setahun dengan alasan untuk melindungi para pengrajin helm di Tanah air.
Pemerintah mengaku, SNI 1811-2007 itu mengacu kepada Japan International Standard dan European Standard. Acuan normatif SNI Helm 1811-2007, menurut pemerintah, adalah; BS 6658:1985-Protective Helmet for Motor Cyclists, specification. EN 960:1994-Headforms for use in the testing of protective helmets ISO 6487:2000, Road vehicles – Measurements techniques in impact tests-instrumentation JIS T 8133:2000-protective helmet for dricers and passangers of motor cycle and mopeds. Rev. 1/add. 21/Rev.4 24September 2002 dari E/ECE/324 dan E/ECE/Trans/505 Regulation No.22, uniform provision concerning the approval of protective helmets and visors for drivers and passangers of motor cycles and mopeds.
Istilah-istilah keren itu bermuara kepada satu persoalan; melindungi pengendara sepeda motor dari ancaman luka akibat benturan saat terjadi kecelakaan. Lantas bagaimana implementasinya di lapangan? Sudah menjadi rahasia umum, label SNI dijiplak oleh para pembuat helm berkualitas rendah. Pemerintah menegaskan, label SNI harus dibuat huruf timbul di helm, selain dapat dilihat, kode SNI juga bisa diraba. (edo rusyanto)

Sabtu, 11 Juli 2009

RSA Gelar Safety Riding Course Untuk DNP




SEJUMLAH karyawan berseragam warna telur asin berdatangan memasuki gedung pabrik di Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur. Sabtu (11/7) waktu baru saja menunjukan pukul 07.26 WIB. Para petugas satpam sibuk menyorotkan alat pendeteksi suhu tubuh ke retina para pekerja pabrik percetakan kemasan produk consumer goods milik penanaman modal asing (PMA) Jepang.
“Jika suhu tubuh mencapai 38 derajat celcius atau lebih, tidak diperkenankan masuk. Mereka diminta berobat atau beristirahat,” papar Wasis, satpam PT DNP Indonesia, saat ditanya kenapa para pekerja harus diperiksa suhu tubuhnya. Pemeriksaan suhu tubuh itu muncul saat kasus flu burung merebak, terlebih ketika mencuat lagi kasus flu babi yang sudah mencapai 52 kasus di Indonesia. Rupanya kedua penyakit flu itu dinilai bakal menghambat produktifitas para pekerja. Sang satpam yang memakai masker itu sibuk mengawasi pekerja yang masuk melalui dua pintu masuk pabrik yang sudah beroperasi sejak 35 tahun lalu itu. Sebagian karyawan berkendara sepeda motor untuk mencapai pabrik tersebut. PT DNP Indonesia memiliki 2.500 pekerja yang tersebar di dua pabrik. Satu pabrik lainnya berada di Karawang, Jawa Barat. “Sekitar 1.800 karyawan berada di pabrik Pulogadung,” ujar Prihono Adhi Nugroho, staff Kaizen Section alias HRD Department DNP.
Pagi itu, aktifis Road Safety Association (RSA) menjejakan kaki di pabrik tersebut guna menjalankan misi safety riding course (SRC) untuk sekitar 30-an karyawan DNP. Mereka dipilih secara acak berdasarkan jarak tempuh dari rumah ke pabrik. “Sebanyak 10 orang dari pabrik di Karawang dan 20-an dari Pulogadung,” jelas Adhi.
Tim RSA yang dipimpin Rio Octaviano membawa delegasi yang meliputi Edo Rusyanto, Benny, Ipank, Yudhi, Riezha, Imel, Lusy, Ndhee, Sontul, dan Lucky. Materi yang disajikan RSA disampaikan oleh Edo, Benny, dan Yudhi, sedangkan Rio berperan selaku moderator. RSA menyampaikan materi Fakta Kecelakaan, Persiapan Berkendara, Basic Riding Skill, Strategi Berkendara, dan Group Riding. Selain itu, RSA juga menggandeng LSM Kompos untuk materi Upaya Pertolongan Saat Terjadi Kecelakaan yang disampaikan oleh Zaenal. Sebagai pelengkap RSA menggandeng Kepolisian RI untuk Sosialisasi UU No 22 tahun 2009, tampil sebagai pembicara adalah AKBP Subono, Kasilat Subdit Dikmas Ditlantas Polri.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB dan berakhir pada pukul 16.55 WIB itu, cukup mendapat respons antusias dari para peserta. ”Kami berharap setelah mengikuti pelatihan ini dapat lebih safety lagi saat touring,” ujar Tedy, ketua DNP Motor Club yang asyik mendengarkan ceramah para pemberi materi.
Sementara itu, Ketua Serikat Pekerja DNP Mahmud mengaku, usai pelatihan kali ini para peserta diharapkan menjadi pionir yang mampu menularkan pengetahuan soal safety riding kepada karyawan lainnya. ”Ini adalah latihan safety riding yang pertamakali digelar PT DNP,” papar Mahmud saat memberikan sambutan pembukaan.
Bagi RSA, seperti dituturkan Rio, program pelatihan seperti ini adalah upaya untuk menyebarluaskan pemahaman safety riding sehingga para bikers tidak harus memikul risiko kecelakaan di jalan raya. ”Kecelakaan tidak saja merugikan sang korban, tapi juga kepada keluarga dan lingkungannya,” tutur Rio.
Dalam pemaparannya, Edo menyodorkan fakta bahwa di Jakarta pada 2008 rata-rata korban meninggal akibat kecelakaan mencapai tiga orang. ”Secara nasional, 32 orang meninggal setiap hari akibat kecelakaan,” papar dia. Benny menuturkan, kecelakaan dapat diminimalisir dengan menerapkan konsep berkendara yang benar. ”Termasuk dalam berkendara secara berkelompok atau group riding,” ujar Benny.
Antusiasme peserta berbuah. Dari hasil penilaian materi pre dan post test, terjadi peningkatan. ”Nilai rata-rata pre test 49,5, sedangkan nilai rata-rata post test mencapai 69,5,” jelas Yudhi.
Sementara itu, peserta juga dibuka wawasannya terkait upaya menolong korban kecelakaan. Mulai dari cara mengangkat korban hingga upaya pertolongan pertama jika korban mengalami gangguan pernafasan. Terkait penegakan hukum, AKBP Subono mengaku, pihaknya tidak memberi toleransi kepada pelanggar lalin. ”Karena itu, jangan coba-coba menyuap Polantas,” tegasnya. Ia membeberkan aneka sanksi denda dan pidana bagi kasus kecelakaan lalin.
”Denda Rp 12 juta jika penyebab kecelakaan menimbulkan kematian atau kurungan 6 tahun,” ungkap Subono. (edo rusyanto)

Jumat, 10 Juli 2009

Urusan Skutik, Yamaha Jagonya




YAMAHA masih merajai segmen scooter automatic (skutik) di Indonesia. Sepanjang Januari-Juni 2009, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (Yamaha) menguasai 54,4% pangsa pasar atau setara dengan 505.645 unit. Walau masih menjadi king of skutik, pangsa pasar Yamaha sesungguhnya turun dibandingkan enam bulan pertama 2008 yang mencapai 56%. Saat itu, Yamaha menjual 416.486 unit.
Di pasar domestik, Yamaha yang mengusung Mio dan Soul, berhadapan dengan PT Astra Honda Motor (Honda). Penguasaan pangsa pasar Honda pada Januari-Juni mencapai 36,9% atau setara dengan 343.249 unit, jauh meninggalkan PT Suzuki Indomobil Sales (Suzuki) yang bertengger di 8,7% (80.518 unit).
Honda mengobrak-abrik segmen skutik. Market share-nya menyedot milik Yamaha dan Suzuki. Pada semester pertama 2008, market share Honda baru 28,3%, itu berarti mengambil 1,6% pangsa pasar Yamaha dan edannya, mengambil 5,66% pangsa pasar Suzuki.
Honda melenggang di skutik lewat Vario dan Beat, sedangkan Suzuki mengusung Spin, SkyDrive, dan SkyWave.
Honda cukup piawai menguasai pasar skutik layaknya mereka menguasai pasar sepeda motor bebek. Pada enam bulan pertama 2009, Honda menguasai 63% pasar bebek.
Kembali soal skutik. Pada Januari-Juni 2009, total segmen ini mencapai 929.412 unit atau sekitar 36,49% dari total pasar yang mencapai 2.546.929 unit. Penjualan skutik terus bertumbuh, pada periode sama 2008, penjualan skutik mencapai 725.268 unit dengan pangsa pasar 23,73%. Pertumbuhan yang luar biasa. ”Saya beli skutik karena praktis dipakai dan tidak capek saat di kemacetan jalan,” ujar Herri, seorang pemakai skutik.
Segmen ini terus menggeliat melibas segmen sport yang pada enam bulan tahun ini 227.124 unit dengan pangsa pasar 8,9%, jauh di bawah bebek yang mencapai 1.390.393 unit (54,6%).
Secara nasional, total penjualan sepeda motor terus meningkat dalam dua bulan terakhir dan bakal terus meningkat hingga akhir tahun. ”Banyak sentimen positif pada semester kedua seperti pemangkasan bunga kredit,” tutur Gunadi Sindhuwinata, ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Sepanjang tahun ini, total penjualan sepeda motor bakal mencapai sekitar lima juta unit. Naik, dari prediksi awal tahun ini yang ditaksir 4,4 juta unit. Namun, berkurang sekitar 15% jika dibandingkan akumulasi 2008 yang mencapai sekitar 6,2 juta unit. (edo rusyanto)

Kamis, 09 Juli 2009

Pasar Motor Terdongkrak Penurunan Bunga


2009, Penjualan Bisa Tembus 5 Juta Unit



Penurunan suku bunga kredit oleh perusahaan pembiayaan (leasing) diperkirakan melambungkan pasar motor pada semester kedua tahun ini. Pemangkasan bunga kredit dinilai sebagai titik balik kebangkitan pasar motor.
Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menerangkan, pasar motor tahun ini diperkirakan mampu menembus 5 juta unit, lebih tinggi dibandingkan dengan prediksi awal sebesar 4,4 juta unit. Tahun lalu penjualan motor nasional mencapai 6,2 juta unit, tertinggi sepanjang sejarah.
“Tadinya kami kira pasar akan ambruk 30% menjadi 4,4 juta unit, namun nyatanya ada banyak sentimen positif pada semester kedua seperti pemangkasan bunga kredit. Penurunan akan mencapai 15% atau sekitar 5 juta unit,” ujarnya ketika dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (9/7).
Ia menjelaskan, penurunan suku bunga membuat konsumen terbantu dalam membeli motor. Sebagaimana diberitakan, sekitar 80% pembelian sepeda motor menggunakan skema kredit. Pasar motor terpuruk tajam ketika bunga kredit membubung diikuti membengkaknya uang muka pada triwulan IV tahun lalu dan triwulan I 2009.
Sebelumnya diberitakan, kalangan perusahaan pembiayaan menurunkan bunga kredit sekitar 1,5-2% guna merespons penurunan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75% dari 7%. Turunnya suku bunga pinjaman perbankan membuat biaya dana perusahaan leasing menurun, sehingga ada ruang untuk memangkas bunga kredit.
Presiden Direktur PT Federal International Finance (FIF) Suhartono mengatakan, bunga pembiayaan FIF saat ini berada pada posisi sekitar 30% dari sebelumnya 32%. “Ke depannya, kami akan terus melakukan penyesuaian jika perbankan tidak membebankan bunga yang terlalu tinggi,” tegas dia.
Presiden Direktur PT Wahana Ottomitra Multiarta Tbk (Wom Finance) Suwandi Wiratno mengatakan, pihaknya juga telah melakukan penyesuaian terhadap bunga pembiayaan sebesar 1,5%.
Berdasarkan data AISI, pasar motor hingga semester pertama tahun ini turun 16,6% menjadi 2.546.929 unit dibanding periode sama 2008 sebesar 3.055.327 unit.
Gunadi menuturkan, penjualan motor nasional pada semester kedua juga akan terbantu oleh pameran seperti Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Indonesia International Motor Show (IIMS) yang digelar di Kemayoran, Jakarta. Beberapa agen tunggal pemegang merek (ATPM) motor menjadikan PRJ sebagai sarana untuk memompa penjualan. Alhasil, penjualan pada Juli diperkirakan tetap stabil dibanding Juni kendati banyak hari libur pada Juli. AISI mencatat pasar motor Juni 2009 mencapai 485.244 unit.
“Saya kira pasar akan terus meningkat hingga Lebaran dan akan kembali stabil setelah itu,” paparnya.

Banting Harga
Selain itu, beberapa dealer motor juga mulai melakukan strategi banting harga untuk merangsang penjualan. Seorang tenaga penjual di dealer Yamaha di kawasan Pondok Kopi, Jakarta Timur, mengaku memberikan diskon Rp 300-800 ribu kepada konsumen untuk semua model.
“Diskon diberikan pada konsumen yang beli tunai maupun kredit. Penjualan sekarang agak lesu dari 300 unit per bulan pada tahun lalu menjadi tinggal 250 unit. Jadi perlu taktik khusus,” katanya. (coy)

Sazkia



ORANG memanggilnya Sazkia. Sebenarnya gadis berusia 23 tahun itu memiliki nama lengkap Trinanti Sazkiananta Putri. Profesinya penari streaptis. Jam kerja mulai pukul 20.00 hingga dinihari. Kecuali ada 'pesanan' khusus, ia memilih Senin sebagai hari libur.
Penghasilan per bulan rata-rata Rp 8 juta. Tak heran penampilannya glamour membalut tubuh seksi setinggi 171 cm.
"Sebenarnya lelah bekerja seperti ini mas," ujar Sazkia suatu malam. Rasa lelah itu karena kerap kali ia harus memberikan 'service' tambahan kepada para pelanggan.
Perbincangan mengalir diselingi kepulan asap rokok putih dari bibir mungil gadis kuning langsat itu.
"Memangnya sudah berapa lama menjadi penari?" tanyaku.
"Hampir dua tahun," seru Sazkia, seraya merapihkan rok mininya.
"Aku diajak teman," sambung dia lagi. Sudah enam seloki ia menyeruput red wine. Alunan musik hip hop membahana. Sebagian tamu di cafe asyik mahsyuk.
Ia pun bercerita kisah awal menjadi penari.
"Saat itu situasinya sulit. Aku terpaksa berhenti menjadi resepsionis di sebuah perusahaan swasta di Bandung."
"Lalu?"
"Pergi ke Jakarta, pingin mengubah nasib. Itupun diajak teman. Katanya jadi kasir di restoran. Gajinya dua kalilipat dibanding resepsionis."
"Bagus dong."
Sazkia berhenti bicara. Ia menerima telepon. Tampaknya dari 'klien'.
"Biasa. Orderan buat bos-bos di pasar saham. Mereka ada pesta kecil perpisahan. Oh ya, sampai mana tadi?" Seloroh gadis yang mengaku kerap menerima order seminggu 3 sampai 4 kali.
"Sampai soal kasir," kataku sekenanya.
"Oh iya. Aku hanya dua bulan jadi kasir. Kenalanku mengajak kerja yang lain. Katanya, bisa lebih bisa dapat banyak uang. Awalnya aku ragu," cerita Sazkia, kini ia duduk mendekat di sampingku. Maklum suara musik hingar bingar.
"Hemmm...," gumamku.
"Hemmm...apa?" tanya dia, sambil melirik genit.
"Ya...penasaran aja."
"Aku akhirnya juga penasaran. Kerja apa sih. Ternyata ya begini jadi penari."
"Bagaimana ceritanya?"
"Saat itu aku kalut. Keluarga kami butuh uang. Kakak dan ayahku kecelakaan. Sepeda motornya ditabrak angkot. Ayahku luka parah di kepala dan kakinya patah. Sedangkan kakakku yang bawa motor juga luka parah," cerita Sazkia dengan intonasi suara sedikit parau.
"Saat itu, ayah dan kakakku sepulang kondangan yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah, keduanya tak memakai helm karena jaraknya dekat," urai dia lagi, seraya meraih gelas ke tujuh.
Sazkia menceritakan, keluarganya harus merogoh kocek hampir Rp 80 juta untuk biaya operasi dan perawatan. "Kami terpaksa cari utangan, termasuk ke rentenir. Sudah hampir dua tahun, belum lunas juga, tahun depan baru akan lunas," sergah Sazkia.
Pikiranku menerawang. Membayangkan pedihnya dampak kecelakaan bagi keluarga miskin.
"Hei...malah bengong! Jadi gak nganterin aku ke Hotel Mulia?" Suara Sazkia membuyarkan lamunanku. Kamipun bergegas. Menerabas Jakarta yang tak pernah pulas didekapan malam. (edo rusyanto)

Shinta Meregang Nyawa Dihantam Trailer

KABAR duka menghiasi bikers Jakarta. Shinta yang mengendarai sepeda motor B 6009 ULW harus menemui ajal saat melintas di depan Terminal Tanah Merdeka arah ke Cilincing, Jakarta Utara. Sepeda motor yang dikendarainya terlibat kecelakaan dengan truk trailer B 9854 EK.
“Sesaat setelah kejadian sopir truk langsung melarikan diri,” ujar Petugas Unit Laka Polres Metro Jakarta Utara, seperti ditulis www.lantas.metro.polri.go.id, Kamis (9/7) pagi.
Dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 08.25 WIB itu, Shinta tidak sendiri. Ia membawa penumpang. Suhartini sang pembonceng menderita luka-luka. peristiwa ini mengingatkan agar penggiat safety riding agar tak lelah mengobarkan berkendara yang santun kepada masyarakat.
Shinta menambah panjang deretan bikers yang tewas di atas aspal. Hingga kini, data yang mencuat di situs Polri menyebutkan 4 bikers yang menemui Sang Khalik, termasuk Shinta. Bagaimana yang luka-luka? Empat orang juga. Duka masih menyelimuti di tengah hiruk pikuk euphoria kemenangan pilpres 2009. Haruskah dilanjutkan? (edo rusyanto)

Selasa, 07 Juli 2009

Iklan KPU, Jepang, dan Safety Riding




SEPANJANG Selasa (7/7), dari pagi hingga malam, televise menayangkan iklan ajakan memilih dalam pilpres 2009. Ada Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, ada ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary, hingga penyanyi rock. Pesannya, mulai dari cara menyontreng kertas suara, lalu mengajak agar menyuarakan hak pilih dan tidak golput, serta menyerukan bahwa tidak ada yang menang dan kalah. “Yang belum terpilih, tetap terhormat.” Kira-kira begitu suara Mardiyanto.
Lalu apa kaitannya dengan para pengendara sepeda motor? Walau, populasi sepeda motor saat ini ditaksir sekitar 40 juta unit dan pemilik sepeda motor adalah warga negara yang sudah dewasa yang memiliki hak pilih, iklan itu tidak terkait langsung dengan kehidupan pengendara sepeda motor (bikers). Apalagi terkait berkendara yang aman dan selamat (safety riding). Tidak ada hubungannya. Lalu?
Ini dia. Dalam bagian akhir iklan selain muncul logo KPU ada terselip grafis bertuliskan Japan dalam warna merah putih. Saya menduga, iklan itu di-support oleh Jepang. Negeri para produsen otomotif. Mulai dari sepeda motor hingga kendaraan roda empat.
Jepang peduli pada pilpres Indonesia? Jawabannya pasti. Saya mereka-reka. Jika pilpres berjalan lancar, aman, dan damai. Roda pemerintahan bakal berjalan mulus. Roda manufaktur dan pertumbuhan ekonomi melaju. Produksi sepeda motor dan mobil terus berjalan. Dan, Indonesia dengan populasi 235 juta menjadi pasar yang menggiurkan untuk Jepang selaku prinsipal; Honda, Yamaha, Suzuki, Kawasaki, Toyota, Nisssan, dan Mitsubishi. Pasar yang subur. Bayangkan saja, pada 2008, penjualan sepeda motor mencapai 6,2 juta unit dan mobil sekitar 607 ribu unit. Dengan asumsi rata-rata harga sepeda motor Rp 10 juta per unit, omzet sepeda motor mencapai sekitar Rp 62 triliun, sedangkan dengan asumsi rata-rata Rp 150 juta per unit, omzet mobil sekitar Rp 91 triliun. Fantasits! Bagaimana tahun ini? Volume sepeda motor ditaksir sekitar 4,2 juta unit, sedangkan mobil sekitar 350 ribu unit. Rata-rata tiap tahun, produk Jepang mendominasi hingga 95% lebih penjualan otomotif di Tanah Air. Luarrrrr biasa.
Kalau begitu, siapa yang tidak tergiur menggenggam pasar Indonesia? Saya yakin, Jepang sangat sadar itu.
Balik lagi soal iklan KPU terkait pilpres 2009. Saya berandai-andai, dukungan Jepang sama kuatnya untuk pembuatan dan penayangan iklan mengenai safety riding di siaran televisi, bakal lebih cepat penyebaran safety riding. Maklum, budaya masyarakat kita lebih suka menonton televisi ketimbang membaca. Sehingga, kampanye audio visual melalui televisi bisa menerobos hingga sendi-sendi masyarakat.
Seharusnya, Jepang, gencar mendukung iklan safety riding di televisi. Akan sangat menguntungkan. Begini ceritanya. Jika kesadaran berkendara yang aman dan selamat mengakar di masyarakat kita yang notabene konsumen produk sepeda motor, maka citra sepeda motor sebagai alat angkut yang aman juga kian menguat. Maklum, tahun lalu, korban meninggal akibat kecelakaan di jalan per hari rata-rata 32 jiwa. Dan, korban bikers mencapai 3 orang per hari.
Dengan citra kendaraan yang aman, orang tua tidak akan sungkan membelikan anaknya sepeda motor karena kendaraan roda dua itu tergolong aman. Buntutnya, penjualan sepeda motor bakal terus melaju. Nah, bukannya prinsipal kian diuntungkan jika volume penjualan membubung terus? Lalu, kenapa tidak mendukung habis kampanye safety riding di televisi? (edo rusyanto)


foto:detik
Related Posts with Thumbnails
 
Copyright 2009 Edo Rusyanto's Traffic. Powered by Blogger Blogger Templates create by Deluxe Templates. WP by Masterplan and Arrange by Ian